Gatchaman Crowds

Aku sudah agak lama menunda-nunda pembahasan tentang Gatchaman Crowds. Alasannya karena enggak lama sesudah penayangannya, aku mendengar rumor yang agak enggak biasa.

Jadi ceritanya, sang sutradara, Nakamura Kenji, yang cukup dikenal karena pernah menyutradarai Tsuritama, [C]: Control, dan seri misteri supernatural Mononoke yang melejitkan namanya, sempat melakukan kesalahan perhitungan dalam masa produksi seri itu. Beliau salah menghitung durasi waktu keseluruhan seri, sehingga ada satu adegan penentuan dalam klimaks cerita di episode terakhir yang terlewat dimasukkan selama masa penayangan seri ini.

Perbaikan kemudian dilakukan, dan adegan hilang ini tentu saja jadi dimasukkan sesudah versi DVD/Blu-raynya keluar. Tapi rumor tentang adegan hilang ini sempat mengusik rasa ingin tahuku. Karena ingin tahu dulu tentang seri ini secara menyeluruh, yah, aku menunggu sampai ada kejelasan lebih soal adegan itu seperti apa.

Sebenarnya, perbedaan di akhirnya memang tak terlalu kentara. Tapi memang ada yang ‘klik’ di kepalaku begitu memahami beberapa hal yang sebelumnya tersamar berkat adanya adegan itu.

Terlepas dari semuanya, aku memang mengikuti seri ini pada paruh kedua tahun 2013 lalu. Alasan utamanya adalah karena dulu waktu masih kecil, aku sempat menyukai seri animasi Gatchaman yang darinya seri ini dibasiskan.

Buat yang belum tahu, Gatchaman pertama dibuat pada tahun 1972 oleh studio Tatsunoko Production. Seri tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak anime superhero keluaran mereka yang banyak mengetengahkan adegan aksi dan robot, macam Casshern dan Hurricane Polymar. Lalu, walau aku tak begitu ingat ceritanya berhubung aku menontonnya sewaktu masih kecil, Gatchaman itu keren.

Beneran, seriusan, keren.

Konsep Gatchaman yang semula mengetengahkan suatu kelompok rahasia yang melindungi bumi dari ancaman serbuan alien yang menggunakan kombinasi antara ninjutsu dan teknologi. Mereka menggunakan kostum-kostum bermotif burung. Lalu saat benar-benar terancam, mereka juga memiliki kendaraan-kendaraan canggih yang dapat bergabung untuk melawan mesin tempur penghancur yang digunakan oleh musuh-musuh mereka.

Aku tak begitu yakin soal apa yang aku harapkan waktu dengar bahwa seri Gatchaman akan mendapatkan reimaging dalam bentuk Gatchaman Crowds. (Pengumuman ini kalau enggak salah keluar bersamaan dengan pengumuman soal film tokusatsu live action Gatchaman, yang meski berkesan awal keren, agak gimanaa gitu saat kau sampai ke akhir.) Kurasa aku membayangkan sesuatu yang berkesan tragis dan penuh pengorbanan?

Tapi singkat kata, Gatchaman Crowds berakhir sebagai sesuatu yang teramat sangat jauh dari segala ekspektasiku.

Gunting dan Buku Catatan

Gatchaman Crowds (arti ‘crowds‘ kurang lebih adalah ‘kerumunan’) berlatar di awal musim panas tahun 2015.

Kota Tachikawa, metropolis kedua sesudah Tokyo yang Jepang miliki, secara diam-diam dilindungi oleh kelompok rahasia bernama Gatchaman dari intervensi makhluk-makhluk asing dari luar Bumi; yang terkini adalah dari ancaman makhluk-makhluk kubus yang mengabduksi orang yang disebut MESS.

Gatchaman menggunakan pakaian pelindung khusus yang digerakkan oleh teknologi alien. Pakaian mereka ditenagai oleh suatu kekuatan spiritual yang disebut NOTE, yang mewujud sebagai buku notes yang masing-masing anggotanya punyai. Timnya sendiri terdiri atas gabungan antara manusia dan alien, mereka dipimpin sosok misterius bernama J. J. Robinson yang membimbing para Gatchaman lewat misi-misi yang ditentukan oleh serangkaian ‘ramalan’ menggunakan burung-burung origami.

Tapi berbeda jauh dari apa yang ditampilkan dalam seri orisinilnya, suatu kelesuan/kemalasan/apatisme melanda para anggota Gatchaman terkini. Mereka harus beraksi secara rahasia, dengan memanfaatkan sesuatu bernama Amnesia Effect yang menghapus ingatan orang-orang yang sempat menyaksikan mereka, sehingga pengetahuan orang awam tentang para Gatchaman hanya terbatas pada kabar-kabar burung dan urban legend. Ditambah lagi karena mereka hanya boleh mengurusi persoalan terkait para alien, ini membuat pekerjaan mereka seakan tak dihargai tanpa rasa terima kasih. Masing-masing dari mereka seakan telah mencapai titik jenuh. Sebagian bahkan merasa peran mereka sebagai Gatchaman sebagai sesuatu yang tak layak dijalankan.

Namun semuanya berubah saat J. J. Robinson memutuskan untuk merekrut seorang gadis muda eksentrik (yang teramat sangat suka terhadap stationary dan alat-alat tulis) bernama Ichinose Hajime.

Crowds and the City

Singkat cerita, kedua belas episode Gatchaman Crowds mengisahkan berbagai persoalan dan perubahan yang tim Gatchaman lalui semenjak bergabungnya Hajime. Bergabungnya Hajime segera memicu konflik, karena cara pendekatannya terhadap segala sesuatu sama sekali berlawanan dengan metode kerja para Gatchaman selama ini.

Sebagai foil terhadap Hajime, hadir kakak kelasnya, sesama Gatchaman bernama Tachibana Sugane. Sugane adalah seorang pemuda ‘lurus’ yang menekuni kendo dan memiliki cara berbicara dan cara berpikir seperti samurai. Keterikatannya terhadap aturan kemudian disadarinya membuatnya lupa soal apa sebenarnya persoalan yang asli, dan hal itu yang kemudian disadarinya seiring dengan waktu sesudah beraksi beberapa lama bersama Hajime.

Pada awalnya, keeksentrikan Hajime dipandang menyebalkan—dan maksudku di sini benar-benar menyebalkan—yang membuat Sugane dan beberapa anggota lain berasumsi terhadapnya dengan cara yang salah. Paiman, makhluk alien serupa panda mungil yang cerewet dan menjadi pemimpin ‘resmi’ dari Gatchaman sekarang, yang paling bereaksi terhadapnya. Namun langkah-langkah yang Hajime ambil di waktu yang sama kemudian menyadarkan Paiman akan kepengecutannya sendiri, sekalipun dirinya memiliki kekuatan yang dapat ia gunakan.

Para karakter Gatchaman lain meliputi O.D., seorang pria alien kemayu yang menyatakan bahwa dirinya merupakan Gatchaman menyedihkan karena tak bisa mengakses wujud Gatchaman-nya sendiri (belakangan terungkap karena wujud Gatchaman-nya benar-benar terlampau kuat sampai-sampai bisa menghancurkan satu planet sendiri); Utsutsu, seorang gadis alien pemuram yang mampu menciptakan klon-klon dari dirinya sendiri dan serta menyerap dan memberikan kekuatan kehidupan; serta Hibiki Jou, pegawai negeri muda lulusan Universitas Tokyo yang keputusasaan dan rasa kosongnya terhadap dunia juga mulai berubah semenjak bertemu Hajime.

Dunia di mana Gatchaman Crowds berlatar digambarkan sebagai semacam dunia ‘datar’ yang masyarakatnya tergila-gila oleh suatu jaringan sosial bernama GALAX.

Karakter penting lain di seri ini adalah Ninomiya Rui, pemuda jenius yang menciptakan jaringan sosial itu dengan bantuan kecerdasan buatan bernama X, yang berupaya membangun dunia lebih baik lewat GALAX bahkan tanpa adanya superhero.

Namun niat baiknya dipelintir lewat kehadiran suatu entitas alien bernama Berg Katze, yang merupakan musuh lama para Gatchaman dari masa lalu, yang dengan kemampuannya berubah wujud dan mempermainkan pikiran dan persepsi manusia, berkeinginan untuk membawa seisi alam semesta menuju kehancuran.

“Gatcha!”

Seperti seri-seri lain yang disutradarai Nakamura Kenji, Gatchaman Crowds termasuk seri di mana hal-hal penting di dalamnya lebih banyak diungkap secara teselubung/tersirat daripada langsung. Selain karena… uh, betapa ‘ajaibnya’ Hajime, ini salah satu alasan kenapa seri ini tak termasuk seri yang akan kurekomendasikan ke banyak orang.

Ada fokus lebih yang diberikan kepada perkembangan para karakternya. Termasuk pada para antagonis dan sampingannya, dalam hal ini Rui dan bahkan Perdana Menteri Sugiyama. Lalu ini jelas-jelas berbeda sangat jauh dibandingkan seri orisinilnya yang terbilang simpel dan penuh aksi.

Jadi, sedikit mengesampingkan wujud Gatchaman Paiman, kalian-kalian yang berharap bisa melihat pesawat-pesawat canggih menyatu dan dan melepaskan serangan G-Phoenix ke benteng musuh kurasa bakal kecewa. Tapi sebagai gantinya, mungkin ada hal berharga lain yang bisa kalian dapatkan. Andaikan kalian bisa mengikuti dan memahami seri ini.

Selebihnya, dari segi teknis, ini seri yang sepenuhnya dua dimensi dan digambar pakai tangan. CG difokuskan lebih pada wujud Gatchaman dari Hajime dan kawan-kawannya, yang terus terang mengingatkanku akan desain karakter sentral dari OVA Karas yang memang beneran keren.

Seperti yang kusinggung di atas, adegan-adegan aksinya meski ada bisa dibilang agak terbatas. Lalu adegan-adegan kekerasan yang terjadi kelihatannya lebih banyak disiratkan agar tak tampak terlalu keras.

Ini jenis seri yang terbilang membosankan secara umum. Sekali lagi, seri yang seriusan enggak akan gampang aku rekomendasi. Tapi saat kalian ngeh soal apa-apa yang berlangsung di dalamnya, kalian mungkin bakal terkesan dan merasa tergugah.

Audionya cukup keren. Uchida Maaya tampil luar biasa sebagai Hajime dalam seri ini. Demikian pula Miyano Mamoru sebagai Berg Katze yang bisa kebanci-bancian dan menakutkan secara sekaligus.

Di balik semua keanehannya, Hajime memang jadi karakter utama yang seakan menggerakkan keseluruhan cerita. Enggak gampang menyadarinya karena memang tak ditampilkan langsung. Tapi cara Hajime berekspresi dan menatap, di sela-sela berbagai tingkah anehnya, bisa begitu menampilkan kematangan tersembunyi yang ia punyai, yang secara perlahan tapi pasti membuatnya diakui sebagai pemimpin teman-temannya yang lain.

Soal adegan hilang yang kusinggung di atas, itu menyangkut konfrontasi terakhir yang Hajime lakukan untuk menangani Berg Katze. Itu adegan yang agak bikin ‘deg!’ andai saja diceritakannya secara baik pada versi TV-nya. Itu beneran salah satu kasus di mana ada cara-cara lain selain tinju dan aksi yang bisa digunakan untuk menaklukkan lawan, mengingat betapa tak warasnya karakter Berg Katze.

Akhir kata, meski aku bisa menghargai segala sisi baik yang seri ini punya, aku sempat skeptis terhadap tanggapan yang orang-orang akan berikan. Maksudku, meski mengupayakan sesuatu yang benar-benar berbeda, sudah jelas ini bukan seri yang kelihatannya bakal populer. Tapi kemudian sudah diumumkan kalau musim kedua untuk seri ini telah mendapat lampu hijau, dengan judul sementara Gatchaman Crowds Second. Lalu ada teman perempuanku yang secara tiba-tiba suatu hari mulai menyenandungkan nyanyian Hajime yang “Gatcha, Gatcha, Gatchaman…” dan pada titik itu mesti kuakui kalau man, mungkin akupun belakangan telah terlalu menyepelekan humanity.

Tapi sudahlah. Setelah kupikir ulang, teman perempuanku di atas sejak dulu memang penyuka seri-seri buatan Nakamura Kenji.

Penilaian

Konsep: X; Visual: B; Audio: B; Perkembangan: B+; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+


About this entry