Buddy Complex

Salah satu hutang ulasan yang belum kulunasi kurasa adalah Buddy Complex.

(Sisanya meliputi pembahasan soal game-game Persona serta seri manga Gundam 00I. Maafkan aku. Keduanya bukan ulasan yang mudah kubuat.)

Ini… sebenarnya salah satu kasus anime mecha ‘aneh/anomali’ yang kutemui.

Pertama keluar pada musim semi tahun 2014 dengan total episode sebanyak 13, perilisan seri mecha ini langsung menyusul musim tayang kedua dari Valvrave the Liberator yang baru berakhir pada musim sebelumnya. Buddy Complex diumumkan sebagai anime ‘aksi mecha tradisional’ baru khas studio Sunrise. Waktu dengar itu, aku mikir, berarti konsepnya sama dengan ide awal Valvrave? Tapi nuansa cerita yang dimiliki keduanya lumayan beda.

Tahun 2013 kembali diisi dengan cukup banyak anime mecha. Ada seri-seri macam Eureka Seven AO serta Ginga Kikoutai Majestic Prince. Sehingga setelah mengeluarkan Valvrave, Sunrise seakan tak mau kehilangan momentum dengan membuat Buddy Complex juga, yang sekaligus mengiringi penayangan paruh kedua Gundam Build Fighters. Tapi sampai seri ini muncul, hampir enggak ada kabar apapun tentang kemunculannya sebelumnya. Dalam artian: biasanya kabar tentang suatu seri anime baru bakal muncul ke publik sekitar setengah tahun sebelum penayanganannya. Soal Buddy Complex, cuma ada berita kalau pada Oktober 2013, Sunrise mengurus lisensi hak cipta baru soal logo dan namanya. Keterangan soal karakter, cerita, dan sebagainya, sampai sebulan sebelum penayangannya sama sekali enggak ada.

Ini ‘keanehan’ yang pertama. Ada kesan kalau seri ini dimunculkan secara dadakan. Apalagi enggak biasanya ada seri mecha—dari sebuah studio dengan citra besar sebagai pembuat anime mecha—yang diperlakukan kayak begini. Jadi di satu sisi, itu juga salah satu hal yang membuat penasaran.

Keanehan yang kedua? Hmm, seri ini punya sedikit ketimpangan dalam kualitasnya.

Sutradaranya ngomong-ngomong adalah Tanabe Yasuhiro.

Setelah kuperiksa, ini menjadi debut pertama beliau sebagai sutradara. Terlepas dari hasil akhirnya, sulit untuk tak mengakui betapa dirinya sebenarnya berkemampuan.

Time Tunnel

Buddy Complex pada dasarnya bercerita tentang bagaimana sang tokoh utama, seorang pemuda atletis penyuka bola basket berusia 16 tahun bernama Watase Aoba, terlempar dari masa kini di tahun 2014 ke masa depan di tahun 2088 dan terlibat dalam perang besar yang berlangsung antara dua kubu besar: Free Pact Alliance (atau Confederate Treaty of Liberty Alliance, ‘Jiyuu Jouyaku Rengou’, ‘Aliansi Pakta Merdeka’) dan Zogilia Republic (‘Republik Zogilia’).

Di masa depan, ceritanya telah ditemukan suatu mineral baru bernama nectoribium yang mengubah landasan teknologi sekaligus struktur perpolitikan dunia. Zogilia muncul sebagai negara baru di sekitar Asia Tengah dan Eropa Timur, yang dengan deposit mineral nectoribium mereka yang besar, secara perlahan tapi pasti menjadi kekuatan politik yang mendominasi.

Free Pact Alliance terbentuk sebagai aliansi negara-negara yang hendak menjadi ‘harapan terakhir dunia’ untuk melawan dominasi Zogilia. Lalu di awal cerita, dengan keunggulan pasokan sumber daya nectoribium yang Zogilia miliki atas Aliansi—yang diperlukan dalam produksi robot-robot tempur raksasa yang disebut Valiancer—Aliansi berada pada pihak yang terdesak.

Aoba terlempar dari masa lalu saat mengetahui bahwa teman sekelasnya, seorang gadis cantik bernama Yumihara Hina, pada hari pertama masuk sekolah seusai berakhirnya liburan musim panas, ternyata berasal dari masa depan.

Hina rupanya memiliki misi untuk melindungi Aoba dari seorang pembunuh bertopeng yang datang ke masa lalu menggunakan sesosok robot raksasa (yang belakangan diketahui adalah sebuah Valiancer) dengan maksud semata-mata untuk membunuh Aoba. Dalam kekacauan yang terjadi, suatu portal cahaya muncul di atas lautan saat Hina mencoba melindungi Aoba dengan Valiancer miliknya sendiri. Aoba singkat cerita kemudian mendapati dirinya terbawa ke masa depan bersama Hina.

Namun bersama sirnanya Valiancer miliknya, sosok Hina secara misterius perlahan lenyap dari kokpit yang mereka tumpangi, dengan kata-kata misterius yang ditinggalkannya pada Aoba: “Dio menunggumu…”

Saat berikutnya Aoba membuka mata, dirinya telah berada dalam situasi di tengah pertempuran, persis di dalam kokpit senjata baru yang dikembangkan Free Pact Alliance: sebuah Valiancer canggih bernama Luxon. Markas di mana senjata baru ini dikembangkan tengah diserang oleh pasukan Valiancer dari pihak Zogilia. Lalu teknologi Coupling System baru yang Luxon—dan Valiancer pasangannya, Bradyon—miliki, ternyata menjadi harapan terakhir Aliansi untuk membalikkan keadaan.

Empather Waveform

Coupling System yang ditampilkan dalam Buddy Complex ibarat sinkronisasi gelombang otak antara pilot dari dua Valiancer. Dalam hal ini, Luxon dan Bradyon, walau nantinya ada juga yang lain. Lalu sinkronisasi ini yang kemudian menghasilkan peningkatan luar biasa dari kemampuan tempur melalui ‘penyatuan’ kesadaran kedua pilotnya sendiri.

Coupling System ini pada awal cerita hanya dapat bertahan selama 300 detik. Namun selama 300 detik itu, Luxon dan Bradyon akan mengalami perubahan bentuk signifikan yang ditandai dengan membukanya aeroscale masing-masing, terciptanya efek-efek cahaya, serta peningkatan gila-gilaan dari kecepatan sekaligus akurasi mereka, sampai ke taraf yang mana keduanya saja sudah lebih dari cukup untuk menghabisi puluhan Valiancer musuh dalam sekejap.

Tantangan yang sistem ini miliki diceritakan meliputi sulitnya menemukan pasangan pilot yang memiliki gelombang otak yang cocok, serta pandangan bahwa hasil penelitian ini tidak cukup signifikan sehingga belum dipandang serius oleh para petinggi Aliansi sendiri.

Sederhananya, pada titik inilah Aoba kemudian bertemu dengan pemuda sebayanya yang kelak akan menjadi partner Buddy-nya, Jyunyou Dio Weinberg, pemuda arogan yang sekaligus merupakan pilot muda terbaik yang dimiliki Aliansi. Namun Dio, yang memiloti Bradyon, menaruh kecurigaan besar tentang siapa dan apa maksud kedatangan Aoba. Terutama sesudah pilot yang harusnya mengemudikan Luxon ditemukan telah tewas dalam pertempuran yang terjadi.

Tapi dihadapkan tanpa banyak pilihan lain, Aoba pada akhirnya diterima untuk bergabung sebagai awak kapal induk Cygnus, yang dikomandoi seorang pria yang berkesan malas namun sebenarnya sangat kompeten bernama Kuramitsu Gengo.

Cygnus, yang memiliki motif menyerupai angsa putih, merupakan kapal induk baru keluaran Aliansi yang tercipta untuk mewadahi Valiancer yang memiliki Coupling System ini. Teknologi yang melandasinya berada di bawah pengawasan kepala peneliti muda yang cantik, Elvira Hill.

Maka dimulailah perjalanan Aoba bersama kawan-kawan barunya di sebuah dunia yang baginya familier sekaligus asing, dalam upaya mereka untuk bisa lolos dari kejaran pasukan Zogilia, yang dipimpin komandan sekaligus pilot as, Alfried Gallant.

Di sisi lain, Elvira semakin menyadari betapa tingginya kecocokan gelombang otak Aoba dengan Dio. Saat keduanya berpasangan dalam Valiancer masing-masing, kecocokan yang melebihi segala bayangannya ini berujung pada berbagai keajaiban yang Coupling System tak disangka akan dapat perlihatkan.

Cinta yang Ingin Ditemukan Kembali

Kurasa dari sana, mungkin kalian sudah bisa bayangkan ide awal dari konsep Buddy Complex itu seperti apa.

Berhubung aku sudah enggak tahan ingin mengeluarkannya, biar kusebutkan saja kesan-kesan pribadiku dulu.

  • Kayak ada upaya untuk membangun innuendo antara Aoba dan Dio. (Bentar, kalian ngerti ‘innuendo’ itu apa kan?)
  • Walau sekilas tak mengesankan, dengan desain karakter umum agak bulat dan desain mecha yang agak kotak, visualnya sebenarnya lebih berhasil dari yang mungkin kau semula bayangin sesudah dianimasiin.
  • Fanservice-nya minim.
  • Tak ada adegan konfrontasi dominan ataupun koreografi yang beneran keren. Tapi eksekusi adegan-adegan mechanya termasuk efektif dan bagus.
  • Plotnya… kurang menarik.
  • Karakterisasinya kurang bagus.
  • Keseluruhan karakternya relatif mudah disukai.
  • Walau mungkin terkesan maksa bagi sebagian orang, tempo ceritanya enggak pernah sampai terburu-buru.
  • Salah satu kru di anjungan bernama Soeharto.
  • Musik latar yang diaransemen oleh Katou Tatsuya terbilang keren.
  • Ahaha, aku bisa ngelihat pengaruh anime-anime mecha Sunrise yang lawas di animasi lagu pembukanya!

Selebihnya, hampir semua karakternya buatku terbilang menarik dan simpatik.

Selain soal penemuan-penemuan lebih lanjut tentang Coupling System, cerita berkembang dengan tumbuhnya konflik seiring bertemu kembalinya Aoba dan Hina. Namun Hina yang ditemui Aoba kali ini ternyata berada di pihak Zogilia, dan bahkan menggunakan nama berbeda, yakni Hina Ryazan. Di samping itu, dirinya tak memiliki ingatan apa-apa tentang Aoba, walau ia kebingungan karena Aoba mengetahui begitu banyak hal tentang dirinya.

Seperti kebanyakan cerita sains fiksi lain tentang perjalanan waktu, solusi tentang teka-teki ini sebenarnya sederhana sih. Tapi rincian lengkapnya, yang baru terungkap pada episode terakhir, mungkin agak lebih dalam dari yang kau kira…

Alfried Gallant (Valiancer: Alsiel) tampil sebagai karakter antagonis karismatik ala Char Aznable yang dibebani misi untuk memperoleh teknologi baru Aliansi. Dirinya yang memimpin kapal induk Trident, dan nantinya, Vajra, dalam melakukan pengejaran terhadap Cygnus. Kehebatan Coupling System membuat misi itu di luar dugaan menjadi sulit bahkan bagi dirinya sendiri. Tapi bahkan dengan demikian pun, dirinya tetap berulangkali menjadi lawan tangguh lewat berbagai strategi yang dijalankannya.

Menjadi saingan Alfried di pihak yang sama, adalah perwira khusus dari Biro Administrasi Zogilia, Margaret O’Keefe. Dirinya tampil sebagai pengawas misi Alfried. Namun kekalahan telaknya di tangan Aoba dan Dio kemudian mengubah posisinya dalam perpolitikan militer Zogilia.

Di samping itu, selain Hina (Valiancer: Fortuna, dan nantinya, Karura), ada tiga perwira muda lain di skuadron yang sama yang setia terhadap Alfried. Mereka meliputi Bizon Gerafil (Valiancer: Nebirous, dan nantinya, Nergal) yang merupakan teman masa kecil Hina; Tarjim Vasily (Valiancer: Ogre) yang pemberani, setia, namun agak congkak, serta Lasha Hakkarainen yang halus dan sopan (Valiancer: Krishna).

Di pihak Aliansi sendiri, asisten Elvira yang sedikit pemalu, Nasu Mayuka, tampil menjadi salah satu karakter menonjol sebagai orang pertama yang mempercayai asal-muasal Aoba. Diindikasikan bahwa dirinya menyimpan perasaan terhadap Aoba, yang diwarnai kekhawatiran seandainya Aoba kembali ke zamannya semula.

Komandan Kuramitsu juga menarik. Terutama terkait interaksinya dengan wakilnya yang lebih muda dan serius, Lene Kleinbeck. Hubungan kayak begini sebenarnya sudah enggak asing sih, tapi tetap lumayan menarik untuk dilihat lagi.

Elvira mendapat porsi sorotannya soal hubungannya dengan Alessandro Fermi, mentor tuanya yang sekaligus merupakan pencetus awal teori tentang Coupling System.

Demikian pula Dio, yang memiliki konflik dengan ayahnya semenjak mendiang ibunya tewas dalam perang.

Nah, masalah yang Buddy Complex punyai… aku enggak yakin gimana cara yang tepat buat mengatakannya sih. Tapi walau dengan karakter-karakter menarik kayak begini, pembangunan suasana serta penulisan naskahnya agak…

Entah ya.

Antara kurang konflik yang benar-benar penting sekaligus ada kesan dibuat-buat?

Mudahnya, sekalipun eksekusi seri ini tak benar-benar bisa dibilang jelek—bahkan agak berkesan retro, dalam artian bagus, karena banyak mengingatkanku akan seri-seri anime mecha zaman dulu dengan jenis konflik yang diangkatnya—kayak ada terlalu banyak hal yang meragukan tentang ceritanya. Seperti soal sikap Aoba yang melawan protokol kemiliteran, saat hendak membantu adik perempuan Dio, Fiona, dalam menemui kakaknya. Demikian pula dengan karakterisasi Hina. Lalu soal hubungan antar karakter yang diangkat, seperti saat datangnya sang rekrutan baru, kenalan lama Dio, Fromm Vantarhei (Valiancer: Beryl Explorer, walau ia juga sempat menjadi pasangan Coupling bagi Dio dan Aoba juga). Rasanya kayak para karakter perempuannya agak terlalu gampang terpikat oleh para cowok tampan!

…Aku enggak percaya aku baru mengatakannya.

Mungkin juga itu faktor usiaku juga sih. Kurasa kalau aku lebih muda, mungkin aku enggak akan terlalu mempermasalahkan kekurangan-kekurangan ini.

Beralih ke sisi-sisi postifnya, aku cukup menyukai hal-hal sederhana seperti soal hubungan yang Elvira miliki dengan komandan pilot, Lee Conrad (Valiancer: Beryl Commander), yang senantiasa menjaga keselamatan anak-anak buahnya. Ketertarikan antara sahabat Mayuka yang selalu ceria, Anessa Ronsetti terhadap Fromm juga kuanggap menarik. Tapi ada sejumlah perkembangan lain yang agak sulit untuk bisa kuterima…

Jadi, kayak, sebagai rival(?) Aoba, Bizon adalah karakter cowok tampan yang telah lama memendam perasaan terhadap Hina. Dan dirinya melakukan kesalahan dalam melakukan pendekatannya, yang singkatnya, membuatnya jadi semakin kasar dan terburu-buru. Ya, dia terbawa-bawa oleh perasaannya. Sebagai sesama cowok, aku bisa ngerti, kayak, “Yah, wajar aja ‘kan?” Berhubung sikap Hina yang peragu-ragu seperti itu. Tapi Bizon kemudian jadi harus membayar teramat, amat, amat, sangat mahal akibat kesalahannya ini.

Buatku mungkin malah agak kayak jauh lebih mahal dari seharusnya?

Padahal di sisi lain, ada karakter antagonis lain yang mungkin lebih patut menderita. Seperti Wilhelm Hahn, sesama murid Professor Fermi yang membelot ke Zogilia sesudah penelitiannya tak ditanggapi, yang ternyata adalah jenis orang yang sama sekali tak berkeberatan buat menghalalkan segala cara.

Apa ya? Rasanya agak gimanaaa gitu.

“Slava Zogilia!”

Ada sejumlah kekurangan lain yang cerita Buddy Complex miliki sih. Kekurangannya benar-benar ada di sisi cerita. Lalu kekurangan-kekurangan ini bukan kekurangan-kekurangan kentara yang biasanya bakal segitunya merusak. Namun kekurangan-kekurangan ini, masalahnya, ada banyak. Lalu walau berpotensi, karakter-karakter seperti Tarjim dan Lasha juga akhirnya tak banyak dieksplorasi. Mereka tak punya banyak konflik dengan para pilot Valiancer dari Cygnus, misalnya. Tapi kalau itu sih mungkin juga disebabkan karena masalah durasi.

Kalau bicara soal teknis, ini jenis seri yang solid kok. Baik secara visual maupun audio seri ini memenuhi. Memang tak ada adegan klimaks yang benar-benar memukau atau membuat kita menahan nafas. Tapi penataan segala sesuatunya sedemikian apiknya, sampai-sampai segala hal kecilnya—kalau kau memang jenis penonton yang memperhatikan—bisa sampai menarik perhatian. (Walau memang kehebatan Luxon dan Bradyon membuat daya tarik Valiancer lain jadi tertutupi sih, makanya enggak ada bahasan soal mecha kali ini.)

Cerita dibuka dengan terbukanya portal waktu yang membuka jalan bagi Aoba ke masa depan, dan kembali ditutup dalam adegan terakhir yang menjelaskan kurang lebih sebagian besar hal. Sepanjang waktu itu, Aoba mengikuti teman-teman barunya di Cygnus melarikan diri dari Jepang, singgah agak lama di pangkalan Aliansi di Hawaii, sebelum terlibat dalam upaya terakhirnya menolong Hina lewat penyerangan markas Zogilia di Alaska. Di saat yang sama, mereka juga harus berhadapan meriam nectoribium berkekuatan dahsyat bernama kode Gorgon, yang menjadi sasaran utama mereka. (Enggak, jadi meski ada pengaruh Gundam dalam ceritanya, enggak ada latar pertempuran di luar angkasa.)

Untuk sebuah seri mecha dengan cakupan segini, durasi 13 episode bagi sebagian penggemar mungkin bakal terasa ngepas, atau bahkan kurang. Hasil akhirnya enggak ngepas banget dalam hal ini sih. Memang ada sejumlah hal yang belum terjelaskan, tapi resolusi untuk sebagian besar masalah sedikit banyak telah diberikan.

Sebagai penutup seri ini, dua episode spesial, Buddy Complex Kanketsu-hen – Ano Sora ni Kaeru Mirai de telah diumumkan akan tayang pada musim gugur nanti.

Berhubung bukan penayangan season baru, nampaknya ini telah menjadi indikasi betapa Buddy Complex termasuk salah satu seri keluaran Sunrise yang agak ‘kurang.’ Konsepnya kurang matang. Karakterisasinya kurang didalami. Penyusunan naskahnya kurang efektif bila dibandingkan dengan durasi. Tapi walau demikian, seri ini tetap enggak jelek-jelek amat kok. Aku tahu beberapa orang tertentu yang bisa tak mempermasalahkan kekurangan-kekurangannya, dan berakhir teramat menyukai seri ini.

Aku pribadi merasa ini seri yang cocok untuk mereka yang menggemari tontonan aksi yang ringkas dan ringan. Tapi mungkin untuk lebih jelasnya kalian pastikan sendiri.

Penilaian

Konsep: D+; Visual: A-; Audio: A-; Perkembangan: C-; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B-


About this entry