No Game No Life

Juni sudah berlalu. Sekarang sudah mau musim tayang baru lagi. Tapi kayak biasa, aku masih saja sibuk dan malas mengetik soal hal-hal baru.

Melihat lagi ke belakang, musim semi 2014 merupakan season yang menarik juga.

Serius, ada banyak judul anime bagus di musim kali ini.

Kalau aku mesti menunjuk salah satu di antara semua yang ada, menurutku No Game No Life (harfiahnya kira-kira berarti, ‘enggak ada permainan, enggak ada kehidupan’) menjadi seri yang paling menonjol.

Aku sebenarnya sudah cukup lama tahu soal NGNL. Pengarang seri novelnya yang asli, Kamiya Yuu, sebelumnya lebih dikenal sebagai ilustrator (terutama untuk Itsuka Tenma no Kuro Usagi karangan Kagami Takaya). Lalu kabarnya beliau mengalami cedera yang membuatnya ‘kurang sehat’ sehingga untuk sementara perlu libur dari menggambar. Lalu dari sana beliau mencoba menulis ide ceritanya sendiri yang sebelumnya dipersiapkan untuk manga. Tapi intinya, itu semua ternyata cuma alasan dan akhirnya beliau membuat ilustrasinya sendiri untuk versi novel seri ini, dan pada akhirnya juga, berhubung dia malas membuat adegan pertarungan, dibuatnya dunia yang di dalamnya tak ada adegan pertarungan sama sekali dsb dsb.

Tapi terlepas dari itu semua, ini seri yang kembali aslinya diterbitkan di bawah label MF Bunko J, yang saat ini kutulis sedang rajin mengeluarkan adaptasi anime dari buku-buku mereka. Jumlah total episodenya sebanyak 12 dan produksi animasinya dibuat oleh studio Madhouse.

(…Omong-omong, sori, enggak, aku enggak ngikutin Mekaku City Actors yang cukup di-hype sebelumnya. Aku ngerti kalau cerita dan deretan musik aslinya teramat bagus. Tapi sejak awal aku belum tertarik untuk tahu lebih jauh tentangnya saja.)

We are Mavericks

Singkat ceritanya sekali, berhubung ada lebih banyak dari ceritanya yang terlihat, NGNL dibuka dengan perkenalan terhadap kakak beradik Sora dan Shiro. Mereka kakak beradik yang cukup berbeda usianya dari satu sama lain. Sora sebagai si kakak cowok sulung berusia remaja, sementara Shiro sebagai adik perempuan yang berbadan mungil untuk usianya yang masih SD.

Mereka adalah pasangan gamer legendaris dalam segala macam bentuk permainan. Mereka dikenal dengan rekor mereka yang tak pernah kalah, sampai-sampai nama mereka telah menjadi urban legend. Tak banyak yang benar-benar diceritakan tentang latar belakang mereka pada awalnya sih. Keduanya disebut hanya dikenal secara luas sebagai “   “, dibaca Blank atau Kuuhaku (‘kosong, polos’), yang merupakan salah satu alternatif cara membaca nama mereka saat penulisannya digabungkan.

Walau demikian, pada kenyataannya… baik Sora maupun Shiro sama-sama adalah pasangan NEET dan hikkikomori yang kerjaannya hanya mengurung diri di rumah dan bermain game. Mereka telah sama-sama menyerah terhadap kehidupan nyata. Diimplikasikan bahwa keduanya sebenarnya adalah anak-anak teramat cerdas. Terutama Shiro, yang jelas-jelas mempunyai kemampuan kalkulasi dan analitis yang terbilang jauh melampaui kemampuan manusia normal. Tapi hal-hal buruk mereka alami dalam interaksi mereka dengan masyarakat dan akhirnya menjadikan mereka… uh, seperti demikian.

Intinya, mereka jadi saling bergantung terhadap satu sama lain. Seandainya mereka terpisahkan, mereka sama-sama akan mengalami nervous breakdown.

…Lalu suatu hari, mereka dikirimi email misterius yang menantangi mereka ke sebuah permainan catur lewat internet. Lalu mereka menang. Lalu tahu-tahu saja dari dalam kamar mereka, mereka tengah jatuh dari langit sesudah dipindahkan ke suatu dunia lain, oleh seorang anak misterius yang belakangan mereka ketahui bernama Tet.

Di dunia baru yang mereka datangi ini, yang namanya permainan akan menentukan dan bisa mempertaruhkan segala-galanya. Lalu Tet, yang menyebut dirinya sebagai dewa, mengatakan pada Sora dan Shiro kalau mungkin dunia inilah yang sebenarnya lebih pantas untuk mereka berdua.

“Padahal kamu cuma seorang Steph!”

Alkisah, pada zaman dahulu kala di dunia lain ini, ada banyak ras yang (kalau aku tak salah) masing-masing mewakili satu dewa, saling berseteru dan berperang dengan satu sama lain. Pembantaian dan pertumpahan darah besar-besaran secara berkelanjutan terus terjadi. Sampai Tet, sang dewa permainan, yang sebelumnya bersikap netral dalam konflik ini, menjadi satu-satunya yang masih tersisa sesudah para dewa lainnya saling mengalahkan satu sama lain. Tet pun akhirnya berkuasa dan mengambil tahta sebagai sang dewa tunggal.

Tet selanjutnya menerapkan 10 Aturan yang singkatnya menghapuskan segala bentuk kekerasan dari dunia ini—dalam artian, setiap makhluk takkan bisa berbuat kekerasan sekalipun mereka menginginkannya. Segala konflik harus diselesaikan lewat permainan, di mana kedua belah pihak sama-sama mempertaruhkan hal berharga mereka masing-masing yang keduanya nilai setara.

Apa yang dipertaruhkan?

Bisa apa saja asal kedua pihak sepakat.

Apa permainan yang dimainkan?

Bisa apa saja—secara harfiah benar-benar apa saja—asal kedua belah pihak sepakat, walau ada ketentuan bahwa pihak yang ditantang berhak untuk menentukan permainan apa yang akan dimainkan.

Lalu oh, segala bentuk kecurangan diperbolehkan asalkan tidak ketahuan.

Ajaibnya, hal-hal tak konkrit seperti ‘tindakan’ dan ‘janji’ dan bahkan ‘perasaan’ dan ‘ingatan’ pun bisa dipertaruhkan. Semuanya menjadi mungkin berkat kuasa ajaib yang ’10 Perintah’ miliki, yang dianggap berlaku begitu kedua belah peserta permainan menyetujui syarat dan ketentuan permainan melalui pernyataan “Aschente!” Karena itu, bila kau sudah janji ngasih celana dalam yang lagi kau pakai ke lawanmu bila kalah permainan misalnya, saat kau kalah, ada suatu kuasa misterius yang bakal menyebabkanmu melakukannya seenggan apapun kamu.

Di dunia ajaib yang dihuni oleh ras-ras ‘cerdas’ selain manusia ini, seperti para Old Deus yang menjadi sosok-sosok dewa lama, kaum elf yang menguasai sihir, ras manusia bersayap Fyugel yang teramat haus ilmu pengetahuan, sampai ke kaum separuh binatang yang membentuk negeri dengan luas terbesar di dunia ini; masing-masing negara berseteru melawan satu sama lain memperebutkan pengaruh dalam permainan. Namun umat manusia, yang di dunia ini dikenal sebagai Imanity, karena memiliki fisik lebih lemah, dan tak memiliki suatu keistimewaan khas seperti yang dimiliki ras-ras lainnya, kini terdesak sebagai ras yang paling tertindas dengan peringkat paling bawah. Mereka menjadi bulan-bulanan ras-ras lain. Mereka memiliki wilayah kekuasaan yang paling kecil (walaupun sebelumnya luas), serta kini terpusat hanya di satu negara, yaitu Elkia.

Singkat cerita, raja Elkia baru saja wafat. Dan beliau meninggalkan wasiat agar siapa penerusnya ditentukan lewat permainan.

Dan tentu saja, Kuuhaku tak pernah mundur dari tantangan, serta tak kalah dalam permainan apapun.

Smart Phone-nya Berguna

Terlepas dari kesan awalnya yang mungkin bagi sebagian orang agak muluk-muluk, kesan pertamaku terhadap NGNL sendiri adalah perasaan terkhianati.

Aku merasa terkhianati!

Anime yang paling kuantisipasi di musim ini sebenarnya adalah Mahouka Koukou no Rettousei, yang adaptasi animasinya kebetulan dibuat oleh studio yang sama. Aku mengharapkan anime Mahouka dibuat dengan benar-benar bagus, agar seenggaknya enggak kalah dari anime Sword Art Online yang keluar tahun lalu. Tapi saat pertama aku melihat episode satu NGNL, jelas terlihat betapa sebagian besar sumber daya studio ini malah lebih dicurahkan ke anime ini ketimbang Mahouka!

Wajar saja, aku kecewa. Aku hampir-hampir merasa marah, mengingat statusku sebagai penggemar novel-novel Mahouka, sementara seri NGNL buatku saat itu cuma satu judul yang premisnya lumayan tapi enggak aku minati-minati amat. Tapi makin ke sini, makin aku pahami landasan keputusan Madhouse. Selain karena jumlah episodenya yang lebih sedikit, NGNL memang punya potensi daya tarik visual yang jauh lebih besar sih.

Agak susah menjelaskannya. Tapi aku ngerti gimana NGNL dipandang sebagai judul yang seru untuk digarap.

Mulai dari penggambaran dunia fantasi Disboard yang unik dengan pemandangan bidak-bidak catur raksasanya di kejauhan, pilihan filter warna-warnanya yang terang yang teramat sesuai dengan desain khas para karakternya, dan bahkan sampai ke lagu pembuka ‘this game’ yang sangat mengesankan yang dibawakan Suzuki Konomi. Kualitas presentasi dan eksekusinya bahkan di episode satu saja sudah saking kerennya sampai aku lupa untuk marah.

Aku sebutkan saja di awal: NGNL merupakan salah satu anime yang kualitasnya begitu memukau dari awal hingga akhir. Terlepas dari apakah kau bisa nyaman dengan premis ceritanya atau enggak, ini tetap salah satu anime paling luar biasa dengan kualitas akhir enggak keduga yang aku tahu.

Dan yeah, karena itu bagi sejumlah orang, NGNL mutlak memenangkan persaingan sebagai anime favorit mereka untuk musim ini.

Visualnya keren (ada beberapa orang yang awalnya mungkin ngerasa kurang cocok dengan gaya desain karakter Kamiya-sensei, tapi seriusan di animenya ini cocok dan hasilnya keren). Karakter-karakternya berkesan. Ada banyak parodi dan referensi enggak disangka yang bikin ngakak terhadap seri-seri lain yang sudah ternama. Memang agak teramat berat di sisi fanservice dan aspek keotakuannya sih, tapi ini diimbangi dengan kualitas cerita dan presentasi yang cukup jauh di atas rata-rata.

Eh? Kesanku soal ceritanya sendiri?

Ugh, apa iya ceritanya penting? Walau memang seru untuk diikuti sih. Memandang lagi ke belakang, aku memang puas terhadap banyak hal. Pandangan Sora dan Shiro terhadap dunia nyata sebagai kusoge lumayan thought provoking. Lalu untuk beberapa lama aku sempat merenung apakah seri ini hanya sebuah cerita tentang eskapisme belaka atau sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.

Lalu… memang mesti diakui, ada banyak sekali kejutan yang berlangsung dalam ceritanya.

Banyak sekali.

Yah, pada akhirnya terserah pada masing-masing orang untuk memandangnya bagaimana sih. Tapi buatku sendiri aku coba ambil sisi terbaiknya.

Terutama dalam soal fokus dan berpikir sistematis dalam mengatasi masalah. Dalam soal kemauan untuk berusaha sendiri tanpa terlalu bergantung pada orang lain. Dalam soal bagaimana mempertahankan agar sebuah cerita bisa tetap all ages dengan cara-cara sangat licik. Lalu soal percaya pada diri sendiri dan percaya bahwa tak ada pemecahan yang benar-benar tidak mungkin. Lalu juga soal betapa berharganya ilmu pengetahuan…

Terlepas dari itu, sutradaranya yang berhasil mengeluarkan segala yang terbaik dari seri novelnya adalah Ishizuka Atsuko yang namanya mungkin sebaiknya diingat. Sedangkan komposisi serinya disusun oleh Hanada Jukki (damn, ternyata dia sehebat ini!).

Ini benar-benar anime luar biasa, dan aku jarang-jarang memuji sebuah seri sampai segininya.

Agak jarang juga ada karakter sampingan seperti Stephanie Dola yang meski cuma sampingan, bisa begitu berulangkali mencuri spotlight.

Singkatnya, ini jenis yang buat lebih jelasnya, lebih baik dilihat sendiri. Serius, kalau kau seorang cowok, ini salah satu anime yang kusarankan untuk dilihat. Lalu kalau kau seorang cewek… yah, mungkin seenggaknya kau bisa menghargainya.

Ini bukan anime yang ceritanya sedalam itu. Tapi ini serius bisa jadi sesuatu yang sangat berkesan.

Tak perlu sampai ada sih. Tapi bila perkembangan cerita di buku-bukunya lebih jauh, kayaknya asal dengan staf yang sama, sebuah season 2 bisa diminati. Apalagi mengingat apa yang dianimasikannya baru cerita dari tiga buku pertama saja.

Eh? Soal novelnya sendiri? Euh, agak jarang untuk kasusku, entah kenapa untuk kali ini aku jauh lebih terkesan pada animenya.

Sudahlah. Jangan terlalu dipikirin.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B+; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+


About this entry