Date A Live II

Date A Live II belum lama ini berakhir dengan jumlah episode sebanyak 10.

…Yea, aku juga dengar ada lumayan banyak penggemar yang mengeluh soal kenapa jumlah episodenya cuma segini. Kurasa ini keluhan pertama yang bakalan muncul. Tapi apa boleh buat.

Pertama ditayangkan pada musim semi tahun 2014, dan kali ini diproduksi oleh studio Production IMS , seri ini menjadi musim tayang kedua dari adaptasi anime seri light novel komedi romantis karya Tachibana Koushi dengan ilustrasi orisinil buatan Tsunako. Seri ini kudengar lumayan sukses semenjak musim tayang pertamanya keluar pada tahun sebelumnya, jadi memang sudah jadi hal yang diharapkan kalau season keduanya bakalan muncul. Penyutradaraannya masih dilakukan oleh Motonaga Keitarou, dengan alur yang cukup setia pada seri novelnya, ceritanya berlangsung segera sesudah musim tayang pertamanya berakhir.

Mungkin patut kucatat kalau season kali ini makin banyak unsur aksinya juga…

Sore wa, sore wa, hatenai tabi…

Season kedua anime ini mengadaptasi cerita dari buku lima sampai tujuh dari seri novelnya, dengan karakter-karakter Seirei (Spirit) yang kali ini diketengahkan adalah Yamai Bersaudara, Kaguya dan Yuzuru (benama kode: Berserk), yang sebelumnya merupakan satu kesatuan; serta sang bintang idola yang bagi Shido dkk tak disangka identitasnya, Izayoi Miku (bernama kode: Diva).

Aku enggak merasa terlalu perlu masuk ke detil. Sebab, walau masih dibuka dengan misi-misi kencan yang sang tokoh utama, Itsuka Shido, harus jalani untuk menyegel kekuatan mereka, cerita pada season ini berkembang menjadi sesuatu yang jauh melebihi itu.

Seperti yang aku bilang, adegan-adegan aksinya bertambah banyak. Lalu itu terutama karena sebagian besar konflik berawal dari keterlibatan dua karakter baru: Isaac Rey Pelham Westcott dan Ellen Mira Mathers. Keduanya merupakan eksekutif dari DEM Industries, perusahaan penyedia peralatan tempur anti-Seirei Realizer kepada pasukan AST yang di dalamnya, teman sekelas Shido, Tobiichi Origami tergabung.

Keduanya memiliki minat dan kepentingan terhadap kemampuan penyegelan yang Shido miliki, yang berawal pada keingintahuan akan identitas sesungguhnya Yatogami Tohka; Seirei pertama yang Shido segel, yang mereka sadari tiba-tiba saja muncul dalam kehidupan Shido pada suatu titik.

Isaac, atau Ike, digambarkan sebagai direktur misterius yang nampaknya mengetahui kebenaran sesungguhnya tentang kaum Seirei; makhluk-makhluk dari dimensi lain yang kerap membawa bencana berskala besar bersama kemunculan mereka. Sedangkan Ellen adalah asisten Ike yang teramat setia padanya. Seperti Origami, Ellen juga merupakan seorang Wizard yang menggunakan Realizer, namun kekuatannya jauh, jauh, jauh lebih kuat. Mungkin setara dengan para Seirei sendiri? Karenanya, membawa pertanyaan tersendiri tentang siapa identitas mereka sesungguhnya…

DEM menjadi entitas terpisah dari organisasi rahasia Ratatoskr yang memayungi upaya-upaya Shido, namun memiliki sumber daya dan kemampuan yang lebih dari setara dengan mereka. Dan ceritanya memuncak saat Shido akhirnya terpojok, harus menyelamatkan Tohka seorang diri, bahkan tanpa dukungan Ratatoskr maupun para Seirei lain, menyusul kegagalan terakhirnya dalam menyegel kekuatan Miku.

Ganbaru tte nandarou?

Untuk sebuah seri yang premis awalnya sejak enggak terlalu serius, aku seriusan terkesan dengan perkembangan seri ini. Selain karena ada plot menarik di dalamnya, walau masih ada sejumlah kelemahan pada plot dan sejumlah pertanyaan enggak terjelaskan, untuk sebuah seri dengan protagonis datar dan semula lebih menonjolkan fanservice, Date A Live II itu kayak punya banyak perkembangan enggak disangka yang terjadi.

Adegan-adegan aksinya kali ini lebih banyak. Kita akhirnya diperlihatkan kenapa orang enggak jelas seperti Kannazuki Kyouhei dipercaya menjadi orang kedua sesudah Itsuka Kotori di kapal induk Fraxinus. Ada lebih banyak konflik yang terjadi. Tim pendukung di kapal induk yang selama ini membantu Shido dari balik layar kali ini lebih berperan. Ada adegan pemandian air panas! Ada adegan konser!

Dan apa aku udah ngomong kalau adegan-adegan aksinya lebih banyak?

Man, biasanya aku enggak suka anime-anime fanservice tapi Date A Live benar-benar jadi satu pengecualian. Mungkin karena mereka enggak mengabaikan aspek-aspek lainnya juga?

Dari suatu acara wisata sekolah yang berujung pada suatu pertaruhan nyawa di tengah badai, sampai ke acara festival multisekolah yang berujung pada kerusuhan massal dan pertempuran di atas langit kota yang secara ajaib tak menelan korban jiwa, aku bisa sedikit menerima jumlah episode Date A Live II yang sedikit karena ceritanya memang lebih seru dibandingkan yang pertama.

…Tapi tetap seru dalam arti relatif ya.

Ini tetap bukan anime yang bakal diminati semua orang. Apalagi bahkan buat ukuran seri sejenisnya, budgetnya kelihatan enggak gede-gede amat. Tapi kalau kau termasuk salah satu yang bisa menyukai season pertamanya, kau bisa terkesan pada seri ini.

Intinya, berhubung konsepnya dari awal emang enggak nyasar tinggi-tinggi amat, kau enggak perlu terlalu mengeluhkan soal kelemahan-kelemahan yang seri ini punya.

Shido memperoleh sejumlah perkembangan berarti di seri ini. Demikian juga Tohka, yang sebelumnya hanya terkesan sedikit airhead dan mudah salah paham. Origami, bagi beberapa orang, mungkin disepakati (secara kurang adil?) tak memperoleh cukup banyak screen time. Kisah yang menjadi latar belakang Izayoi Miku mungkin tak mengesankan, tapi aku suka bagaimana kehadirannya dibawa masuk ke dalam cerita. Lalu lebih lanjut tentang hubungan masa lalu antara Shido dan Takamiya Mana masih belum juga terungkap. Yamai bersaudara semula kukira hanya bakal menjadi karakter pelengkap, tapi keduanya, dengan kekuatan angin mereka, ternyata menjadi karakter menarik juga dengan sifat mereka yang berlainan (Yuzuru adalah yang lebih datar di antara keduanya, bisa dilihat dari bentuk mata mereka, dengan Astral Dress Yuzuru memiliki jubahnya di ‘atas’ sementara yang Kaguya di ‘bawah’).

Hal lain yang paling aku suka dari seri ini adalah bagaimana hal-hal seperti janji, bahkan yang terkesan sepele juga, diingatkan (dengan agak didramatisir?) agar tak dipandang remeh. Sekalipun yang kau ucapkan gegabah, saat kau sudah segitu berusaha untuk memenuhinya…

KAU MEMANG SUDAH SEHARUSNYA SETENGAH MATI BERUSAHA MEMENUHI SETIAP JANJI YANG KAU BUAT!

Cih, menyamai protagonis anime harem aja kebanyakan orang masih enggak becus.

Eniwei, aku benar-benar tak menyangka bakal menemukan adegan ala Macross beserta Itano Circus-nya di seri ini.

Kelihatannya ceritanya mentok sampai ke titik ini karena sudah lumayan menyusul seri-seri novelnya.

Pada saat ini kutulis, buku terbaru adalah buku kesepuluh, Sedangkan buku delapan dan sembilan yang mendahuluinya nyambung ceritanya dalam satu arc. Buku sepuluh ini juga akan mengetengahkan Origami sebagai heroine utama, dan karenanya aku menduga bakal ada perkembangan cerita penting di sini.

Melihat perkembangan seri anime ini, aku tak terkejut dengan bagaimana film layar lebar menjadi langkah berikutnya yang para produsennya ambil.

Hmm. Aku penasaran dengan siapa Seirei tertawan yang dicari Tokisaki Kurumi.

Kelihatannya ini waktunya aku balik ke Baka Tsuki.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: C+; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+


About this entry