Ping Pong the Animation

Kalian tahu, aku bukan penggemar ping pong. Aku bahkan hampir enggak tahu apa-apa tentang ping pong. Dulu aku pernah main tenis. Tapi aku yakin itu hampir enggak ada mirip-miripnya dengan tenis meja. Bahkan itu bisa dibilang semacam olahraga yang lain sama sekali.

…Tapi aku ngikutin seri Ping Pong the Animation, pada musim semi 2014 lalu. Dikeluarkan oleh studio Tatsunoko Production dan terdiri atas 11 episode, ini seri yang bagiku dari awal aku tahu bakal keren. Salah satu alasannya karena keterlibatan sutradara Yuasa Masaaki di dalamnya.

Aku pertama tahu tentang beliau dari mengikuti anime komedi romantis Youjo-Han Shinwa Taikei. Tapi soal itu mending dibahas di tempat lain.

Setelah sampai di sini, aku agak enggak yakin baiknya ngejabarin Ping Pong gimana. Seri anime ini diangkat dari manga berjudul sama karya Matsumoto Taiyou, yang bahkan pernah dibuat film layar lebarnya juga. Walau begitu, aku seriusan belum pernah tahu tentang seri ini sebelumnya. Aku belakangan sadar kalau ini memang bukan jenis seri yang akan ‘meledak.’

Gaya gambar Matsumoto-sensei terbilang realis (apa ini istilah yang tepat?), dan maka dari itu aku kemudian maklum kenapa Yuasa-sensei yang jadi menyutradarainya. Di samping itu, walau cukup berdarah panas sebagai sebuah seri olahraga, ada nuansa drama kehidupan yang lumayan kental di dalamnya.

Maksudku kental di sini itu benar-benar kental. Tapi adegan-adegan tenis mejanya juga tetap seru untuk diikutin.

Gaya gambar realis ini yang membuatnya seakan terimbangi oleh gaya animasi khas yang dibuat Yuasa-sensei, yang terus terang sangat mengandalkan animasi tangan dan sama sekali tidak moe, dan terang-terangan takkan dipandang menarik oleh sebagian orang.

Namun terlepas dari gaya visualnya yang unik, kalau kau suka drama, dan kau mencoba mengikuti ceritanya, sekedar mencoba saja, mungkin kau juga bakal memandang kalau eksekusi ceritanya termasuk luar biasa.

Seperti Metronome

Berlatar di suatu kota yang sempat kusangka bernuansa agak 1970-an (walau belakangan diperlihatkan ada teknologi modern dan hal-hal canggih lainnya juga di sana), Ping Pong bercerita seputar perkembangan dua orang teman semenjak kecil di SMA Katase, Hoshino Yutaka yang berjulukan Peco, serta Tsukimoto Makoto yang berjulukan Smile. Keduanya sama-sama menjadi anggota klub tenis meja di sekolah mereka, dan keduanya juga telah mendalami olahraga ini semenjak mereka kecil.

Singkat ceritanya sekali, keduanya dikisahkan berbakat. Tapi Peco yang ceria dan banyak gaya mulai arogan dan nyata-nyata tak bisa berkembang di lingkungannya saat ini. Lalu Smile, yang sangat pendiam dan pasif dan tanpa ekspresi—sangat berkebalikan dengan nama panggilannya, tak memiliki semangat juang untuk menjadi lebih baik dan selalu mengalah terhadap Peco.

Porsi cerita utama dibuka dengan kedatangan seorang pemain asing dari China bernama Kong Wenge ke SMA Tsujidou, sebuah SMA yang tak menonjol dalam tahun-tahun terakhir, dan pelatihnya berharap bisa memperbaiki prestasi mereka dengan mengundang Wenge, yang sekalipun remaja, telah menjadi pemain profesional.

Hanya saja, situasi Wenge ke Jepang lebih karena suatu pengusiran ketimbang lainnya. Hanya dengan ditemani seorang penerjemah yang kelihatannya merupakan satu-satunya orang yang bersimpati padanya, diimplikasikan drinya tak diperbolehkan pulang sampai dirinya berhasil ‘menaklukkan’ Jepang. Semula, begitu melihat tingkat permainan di Tsujidou, Wenge yang memancarkan aura percaya diri merasa ini akan menjadi tantangan mudah. Tapi…

…Singkat cerita, Peco dan Smile, pada hari kedatangan Wenge, membolos latihan di sekolah mereka dan datang ke Tsujidou demi melihat seperti apa Wenge secara langsung. Lalu saat dengan gegabah ia menantangnya, Peco mendapat pelajaran pahit soal kekalahan secara telak. Kejadian inilah yang kemudian menjadi titik balik bagi keduanya.

Di sisi lain, pelatih tenis meja di SMA Katase, seorang pemain profesional veteran tua bernama Koizumi Jo, mulai menyadari bakat terpendam yang Smile miliki (beliau juga guru bahasa Inggris, jadi mungkin itu alasan kenapa kadang tingkahnya agak aneh). Iapun mencoba mengambil tindakan-tindakan untuk mengasahnya. Tapi untuk itu ia harus mempelajari hubungan masa lampau unik apa yang Smile dan Peco sekiranya punyai.

Hero Kenzan!

Kesebelas episode Ping Pong merangkum masa dua tahun Peco dan Smile terlibat dalam kejuaraan Interhigh tenis meja Jepang. Ada lumayan banyak nuansa kehidupan sekaligus humor dalam ceritanya yang mungkin takkan ditangkap oleh sejumlah orang. Tapi seriusan, menurutku ini seri yang benar-benar keren.

Walau aku mengatakannya demikian, Kong hanyalah pemicu, dan bukanlah tokoh antagonis utama di seri ini.

Tokoh antagonis utamanya adalah lelaki yang pernah menjadi juara nasional, Kazama Ryuuichi yang berjulukan Dragon dari SMA Kaio yang sangat spartan regime tenis mejanya (semua anggotanya berkulit coklat matang karena latihan dan berkepala botak). Kazama, yang pikirannya hanya terfokus soal bagaimana menjadi juara, dibeking oleh perusahaan penyedia peralatan olahraga Poseidon yang banyak mengimplementasi teknologi termutakhir.

Ada banyak jalinan konflik yang muncul. Lalu penceritaan semuanya benar-benar efektif dan matang. Ceritanya bukan cuma ke soal persaingan dan perjuangan saja. Apa ya, ceritanya juga mulai mengupas banyak hal soal menerima kenyataan dan arti kerja keras.

Pelatih Koizumi mulai banyak melihat masa lampau dirinya sendiri dalam situasi Smile. Ia dilanda konflik tentang bagaimana ia bisa membuat Smile lebih terbuka. Terlebih saat Smile mulai tenar, orang-orang dari Kaio secara terang-terangan datang ke sekolahnya untuk mendukung Smile agar pindah ke sana.

Ada seorang pemain entah dari mana yang kalah sesudah melawan Smile dan memutuskan untuk melakukan perjalanan pencarian jati diri.

Ada seseorang bernama Sakuma Manabu yang dijuluki Akuma yang merupakan teman masa kecil Smile dan Peco juga, kini tergabung bersama Kaio, dan bertekad untuk bisa menaklukkan keduanya.

Tapi lebih dari itu, ada hal-hal tak biasa seperti kenapa Smile dalam kesunyiannya seakan terobsesi dengan heroisme, atau soal kenapa sebelum setiap pertandingan, Kazama nampak selalu mengurung diri di kamar mandi.

Yeah, ini seri soal perjuangan dan kerja keras. Tapi agak lebih berat ke melihat ke belakangnya daripada melihat ke depan. Dan itu enggak salah, sebab aku pun sempat mikir, “Walau tenis meja itu olahraga yang akan mengasah reaksi saraf sampai tingkat dewa, ini tetap cuma tenis meja!” Tapi para karakter di sini, untuk alasan mereka masing-masing, benar-benar cinta tenis meja. Lebih dari sekedar soal apa ini hobi atau bukan. Tenis meja itu seakan bisa jadi segalanya.

Aku seriusan kagum dengan bagaimana obsesi ini bisa digambarkan secara sedemikian wajar. Karena terus terang, ini kayak sisi kehidupan yang belum pernah kukenal sebelumnya.

“Aku mau menangis sebentar.”

Seri ini berakhir secara keren dengan semacam epilog yang memaparkan bagaimana kesudahan para karakter setelah turnamen Interhigh yang menentukan takdir banyak orang itu. Dan… uh, walau tenis meja beberapa kali digambarkan seakan sebagai segalanya bagi sebagian orang, tetap saja diperlihatkan bahwa olahraga ini bukan satu-satunya hal yang ada di dunia ini.

Entah ya. Ini kesan yang jarang diperlihatkan dalam kebanyakan seri olahraga yang ada.

Oke, itu mungkin agak susah dipahami. Tapi kalian ntar bisa ngerti sesudah melihatnya sendiri.

Ini seri yang menarik dan termasuk memuaskan untuk diikuti. Ada saat-saat tertentu dalam sebelas minggu terakhir ketika aku agak galau. Tapi menonton ini kayak bisa menarik semua perhatianku dan membuatku fokus kembali pada apa-apa yang semestinya penting.

Selain karena ceritanya, eksekusinya memang sebrilian itu. (Adegan-adegan saat Kong berbicara Mandarin tetap dipertahankan! Bahkan logat Mandarin-nya saat ia mulai bicara bahasa Jepang tetap ada!)

Katayama Fukujurou (Siapa orang ini? Aku belum pernah denger namanya sebelumnya!) juga berperan mengesankan sebagai Peco. Peco itu karakter yang beneran enggak biasa dan agak sulit dibayangkan sebagai tokoh utama. Dia awalnya bukan karakter yang bisa disukai. Tapi ke belakang-belakangnya dia jadi keren!

Akhir kata, ini seri yang bisa dikatakan benar-benar dalam.

Man, mungkin aku mesti lebih sering nyari seri-seri macam ini.

(Aku belum lama ini nyadar kalau manganya bergenre seinen dan diserialisasikan dari tahun 1996-1997. Pantas di dalamnya ada nuansa retro yang muncul.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: X; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A


About this entry