Shining Hearts: Shiawase no Pan

…Setiap manusia, pada suatu titik dalam hidup mereka, besar kemungkinan pasti pernah melakukan suatu hal aneh yang mereka sendiri pun tak pahami atau mengerti.

Dalam kasusku, menonton Shining Hearts: Shiawase no Pan, misalnya. (Atau juga dikenal sebagai Shining Hearts: Bread of Happiness. Subjudulnya berarti: ‘roti kebahagiaan.’)

Sebenarnya aku agak malas membahas tentang yang satu ini. Cuma sudah kelamaan aku enggak nulis sesuatu di blog, dan kebetulan saja judul ini sedang menjadi judul yang pertama muncul di kepala.

Seperti yang sudah kusinggung, aku benar-benar enggak paham kenapa aku bertahan mengikuti seri satu ini. Mungkin rasa penasaran menjadi salah satu motivasi yang kupunya. Tapi kukira rasa penasaran semata takkan cukup membuatku berhasil melakukan salah satu hal yang sebelumnya kukira enggak mungkin ini. Soalnya, jujur saja, seri ini menurutku cuma bakal dipandang menarik oleh suatu kalangan yang benar-benar tertentu saja. Aku enggak begitu bisa menjelaskannya. Tapi lebih lanjut soal ini akan aku coba singgung lagi di bawah.

Diproduksi oleh Production I.G. dan pertama ditayangkan pada musim semi tahun 2012 dengan jumlah episode total sebanyak 12, ini… benar-benar merupakan salah satu anime paling enggak menonjol yang karena satu dan lain hal baru beres kuikuti belum lama ini.

Seperti yang mungkin sebagian orang tahu, anime ini diangkat dari game Sony PSP Shining Hearts keluaran Sega, yang termasuk bagian dari waralaba RPG Shining milik mereka. Gamenya sendiri keluar di penghujung tahun 2010, dan termasuk mencolok berkat desain karakter atraktif buah pena Tony Taka.

Sebagai catatan, aku mengikuti seri ini tanpa ada pengetahuan sama sekali tentang gamenya, dan baru mulai buka-buka web dan cari-cari informasi tentangnya belakangan.

Mind Over Emotion

Shining Hearts berlatar di sebuah pulau bernama Wyndaria.

Di pulau ini, seorang pemuda bernama Rick Elwood, yang nampaknya dahulunya seorang ahli pedang, ditemukan terdampar di pantai tanpa ingatan pada suatu hari, dan kini bekerja di toko roti La Couer bersama tiga orang gadis: Airy Ardit, Amil Manaflare, dan Neris Filiam. Keseharian mereka damai dan tenteram, dan roti yang mereka buat teramat disukai oleh para penduduk pulau.

Namun pada malam-malam tertentu, saat bulan purnama berwarna merah, hal-hal aneh kerap terjadi. Lalu saat keesokan paginya seorang gadis lain yang juga kehilangan ingatannya bernama Kaguya didapati terdampar di pantai, penemuan tersebut menjadi awal dari rangkaian kejadian yang berlangsung di pulau ini.

…Aku pengen cerita lebih banyak. Tapi lebih dari itu, aku enggak yakin mesti berkata apa. Sebab dalam durasi 12 episode yang Shiawase no Pan miliki, ada sedikit sekali ‘cerita’ yang dimiliki seri ini. Sebagian besar cerita yang ditampilkan adalah seputar kehidupan damai yang ada di pulau ini, di mana Rick dan kawan-kawan bertemu dengan berbagai penghuni pulau—yang urusannya kerap berhubungan seputar roti.

Ada subplot tentang karakter dwarf pandai besi bernama Hank yang menemukan semacam automata berbentuk manusia perempuan yang berusaha dibangunkannya. Lalu ada juga suatu subplot lain terkait pertemuan Rick dengan pemilik toko barang antik, seorang gadis kucing bernama Xiaomei, yang sesungguhnya adalah pencuri kawakan Black Tail. Tapi lebih dari itu benar-benar tak banyak yang bisa diceritakan sampai ke klimaks yang berhubungan dengan Kaguya dan kalung permata miliknya.

Singkat ceritanya sekali, Wyndaria ternyata merupakan semacam persimpangan di batas-batas antar dunia. Lalu dari waktu ke waktu, sebagaimana diceritakan oleh Madera, nenek-nenek pembuat roti yang menjadi mentor bagi Rick dan lainnya, akan ada orang-orang terdampar yang sebenarnya berasal dari dunia lain, macam Rick dan Kaguya, serta sebelum mereka, Airy, Anil, dan Neris sendiri.

Kaguya adalah semacam sosok istimewa yang bersama kalungnya, ternyata memiliki semacam kekuatan besar. Automata yang Hank temukan, Queen, rupanya akan bereaksi terhadap kembalinya kesadaran Kaguya yang sebelumnya berada di ambang batas koma. Lalu Rick, yang merasa terbagi, antara identitas sesungguhnya sebagai seorang pejuang yang bergelut dalam perang dan identitas masa kininya sebagai pembuat roti, harus mengambil keputusan saat armada kapal canggih yang mencari-cari Kaguya akhirnya menjadi ancaman terhadap keselamatan seluruh Wyndaria.

Hah? Di gamenya ada pulau-pulau lain?!

…Terus terang, enggak banyak rincian tentang ceritanya yang bisa ditemukan di animenya. Siapa dan apa Kaguya sebenarnya tak pernah benar-benar dijelaskan. Hanya intinya, dirinya dikejar oleh sepasukan manusia kadal yang menggunakan armada kapal canggih yang memiliki semacam kekuatan untuk mengendalikan bayangan. Karenanya, aku bisa bilang, apa yang menjadi sorotan utama di Shiawase no Pan mungkin—sekali lagi, mungkin—benar-benar adalah para karakternya dan kehidupan sehari-hari yang mereka jalani.

Soal aksi?

Kalau… memang itu yang kalian cari, aku benar-benar sarankan agar kalian mencari judul lain.

Pulau Wyndaria yang menjadi latarnya tak diragukan merupakan pulau yang indah. Pantai dan lautan menjadi pemandangan utamanya. Lalu ada hutan dan pegunungan subur serta pedesaan yang para penduduknya ramah. Ada banyak karakter yang sebenarnya mungkin bisa dibilang menarik di sana-sini. Tapi biasanya, tak ada hal benar-benar ‘berarti’ terkait dengan mereka.

Beberapa karakter lain yang bisa dibilang sedikit berperan meliputi: Lagnus, sang pangeran Wyndaria, yang ‘mengatur’ agar Rick dapat tampil sebagai pelindung pulau tersebut; Rufina, adik perempuan Lagnus, yang sedikit banyak membantu Rick dan kawan-kawannya; serta Dylan, pemimpin kelompok pelaut (bajak laut?) yang pertama mengetahui tentang ancaman armada kapal yang memburu Kaguya.

Proses perkembangan karakternya sendiri juga… tak benar-benar bisa dibilang mulus.

Pertanyaan yang kerap diangkat memang seputar soal apa sebenarnya yang Rick mau lakukan untuk masa depannya. Tapi soal ini, ada sedikit perkembangan karakter yang Rick peroleh saja mungkin sudah lebih dari cukup untuk disyukuri.

Soalnya, ketiga gadis di sisinya yang menjadi sorotan utamanya di sini…

Ugh, jadi, aku kemudian memutuskan untuk mencari info tentang gamenya. Lalu aku agak terkejut dengan beberapa perbedaan yang ada.

Aku enggak terkejut karena adanya perbedaan-perbedaan sendiri. Macam perbedaan yang ada itu yang membuatku agak terkejut.

Di gamenya, Airy, Amil, dan Neris diceritakan bersaudara (Um, struktur wajah mereka memang mirip sih). Sedangkan di animenya hanya diperlihatkan kalau mereka hidup dan tinggal bersama. (Nama-nama belakang mereka berbeda.) Cuma, di samping perbedaan pada penampilan mereka, sifat ketiganya itu hampir sama gitu. Kayak, benar-benar nyaris sulit untuk dibedakan.

Sekali lagi, bukan tampang. Melainkan sifat.

Ketiganya bersikap dengan cara yang nyaris sama di sekitar Rick. Ada perbedaan-perbedaan minornya dikit sih. Tapi sifat ketiganya sedemikian tidak memiliki ciri khas sehingga kadang kita bahkan sulit membedakan masing-masing dari mereka.

Yeah, ini termasuk kasus yang agak enggak biasa.

Lalu ketiadaan elemen romansa(!) di sini pun sama sekali tak membantu.

Dalam gamenya, hanya ada satu di antara Airy, Amil, dan Neris yang bisa kita pilih untuk mendampingi kita di toko roti. Jadi sama sekali tak seperti di animenya, di mana ketiganya ada untuk mendampingi Rick sekaligus. Lalu kekhasan roti yang mereka buat berbeda. Demikian pula dengan cara mereka mendukung kita saat mereka menjadi party member.

Airy yang berpakaian sebagai biarawati lebih banyak men-support kita dengan mantera-mantera penyembuh mengingat statusnya sebagai priestess. Amil yang berambut coklat terang memiliki kelas sebagai magician dan mendukung kita dengan kekuatan sihirnya. Sedangkan Neris yang berambut gelap adalah archer yang akan menolong kita dengan busur dan panahnya. Soal latar belakang ketiganya dalam animenya, hanya Airy saja yang disinggung memiliki kaitan dengan gereja yang kerap dikunjunginya, tempat anak-anak yatim piatu diasuh dan dirawat. Selebihnya, tak banyak yang kita kenali dari diri mereka.

Bahkan dalam gamenya, ketiganya sama-sama diisi suaranya oleh Itou Kanae. Baru pada animenya, Itou-san dibantu oleh Aizawa Mai sebagai Neris dan Mikami Shiori sebagai Airy.

Masih berkaitan dengan mekanisme gamenya, Kaguya dalam game dikisahkan selain kehilangan ingatan, juga telah kehilangan emosinya. Lalu seperti yang dikisahkan dalam animenya, roti buatan Rick entah mengapa berdampak besar terhadap pemulihannya.

Ringkasnya, ada sistem terkait ‘hati’ yang Rick harus bisa penuhi yang kaitannya kembali ke hubungan antar orang. Kita mesti bisa berhubungan baik dengan para NPC (Salah satu kuncinya, di samping dengan berhati-hati memilih jawaban, adalah dengan membuat roti.). Lalu dari sana kita memperoleh ‘hati’ yang diperlukan untuk membuat roti khusus yang Kaguya sukai. Seberapa banyak emosi Kaguya yang berhasil kita pulihkan berdampak pada kalung batu roh miliknya, yang kemudian menjadi ‘kunci’ untuk membuka pintu ke dunia-dunia lain yang selanjutnya bisa Rick jelajahi.

Yah, kurang lebih seperti itu. (Makanya, game ini dinamai Shining Hearts.)

Tapi, yah, cakupan animenya sama sekali tak sampai ke sana. Animenya berpusar sepenuhnya di Wyndaria, dan sampai akhir cerita aku bahkan enggak tahu kalau ada pulau-pulau lain. Bahkan karakter-karakter antagonis(?) di gamenya, macam Maxima Enfield yang memiliki kaitan misterius dengan Kaguya, serta Mistral Nerace yang memimpin bajak laut Serace dalam mencari kalungnya; tak dimunculkan sama sekali dalam anime ini. (Padahal dari segi desain mereka sama-sama sosok perempuan menarik.)

Where is my self?

Singkat cerita, Shiawase no Pan bisa diumpamakan separuh healing anime dan separuh lagi… fanservice? Tapi entahlah. Aku juga tak yakin.

Dari segi presentasi, seri ini sama sekali tak buruk. Visualnya indah. Audionya mengalun secara baik. Tapi penggarapannya secara umum mungkin bakal dinilai ‘malas’ oleh sebagian orang. Jadi secara umum, seri ini benar-benar bakal dipandang tak menarik. Ada cukup banyak hal yang mungkin bisa membuatmu mengernyit di seri ini.

Ini merupakan adaptasi anime kedua dari game yang termasuk seri Shining. Yang pertama adalah Shining Tears X Wind, yang mengadaptasi cerita dari game Shining Tears dan Shining Wind yang saling berhubungan. Salah satu alasan aku mengikuti Shiawase no Pan adalah karena sebelumnya aku tak sempat mengikuti seri pendahulunya ini. Jadi aku cukup penasaran dengan seperti apa hasilnya. Terutama mengingat desain karakter orisinil di Tears x Wind juga dibuat oleh Tony Taka.

Kalau boleh kusimpulkan, mereka yang benar-benar tertarik pada Shiawase no Pan adalah mereka yang tertarik oleh latar cerita di Wyndaria, serta mereka yang ingin lihat hasil animasi dari desain karakter Tony Taka.

Sebagai materi pembelajaran sendiri, Shiawase no Pan menurutku kasus yang menarik. Kayak, sebenarnya ada banyak materi dari gamenya yang bisa digarap. Tapi kenapa jadinya cuma sesuatu kayak gini ya? Kelihatannya ini jauh berbeda dibandingkan Shining Tears X Wind yang keluar tahun 2007 dulu. Apalagi jumlah episodenya sama. Apa iya karena budget dan biaya?

Yah, akhirnya aku membereskannya sih. Tapi secara pribadi, sekarang aku berpikir, apa mungkin alasan aku berhasil sebenarnya karena dampak desain chara Tony Taka saja?

Ya sudahlah.

Penilaian

Konsep: C-; Visual: B+; Audio: B; Perkembangan: D+; Eksekusi: B-; Kepuasan Akhir: C-


About this entry