Puela Magi Madoka Magica Movie 3

Kalau aku memikirkannya sekarang, terlepas dari ketenarannya, enggak banyak di sekitarku yang menggemari Puella Magi Madoka Magica .

Apa karena gaya desain karakternya ya? Sekalipun penulis skenarionya adalah Urobuchi Gen? Lingkunganku memang bukan lingkungan otaku, cuma sebatas kalangan yang sesekali memperhatikan perkembangan anime-anime baru saja. Tapi seriusan. Ini mulai membuatku penasaran. Sebab aku jadi enggak punya teman ngobrol untuk bicara tentangnya.

Gimanapun, aku berkesempatan melihat movie ketiganya belum lama ini. Berjudul lengkap Mahou Shoujo Madoka Magica Gekijouban: Hangyaku no Monogatari atau Puella Magi Madoka Magica Movie: Rebellion (subjudulnya berarti ‘pemberontakan’), film layar lebar ini, singkat cerita, melanjutkan akhir cerita di seri TV-nya. Jadi berbeda dibandingkan dua film sebelumnya, materi cerita yang diangkat dalam film ini adalah materi yang benar-benar baru.

Aku, tentu aja, kayak sebagian orang lain, sempat ngerasa kalau film ketiga ini sebenarnya enggak perlu, berhubung cerita asli yang disampaikan lewat seri TV-nya bisa dibilang sudah tuntas. Ada banyak kan sekuel yang kayak nambah-nambahin cerita secara enggak perlu? Aku kuatirnya film ketiga ini nanti juga bakal kayak gitu. Tapi buset, film ketiga ini beneran keren. Pantas BD/DVD-nya harganya mahal. Pantas orang-orang dulu mengantri untuk menontonnya di bioskop.

Ada penuntasan yang lebih tuntas ketimbang penuntasan tuntas di seri TV-nya yang udah tuntas.

Uh, intinya, penutup seri ini benar-benar keren. Walau buat menangkap makna ceritanya secara menyeluruh, ada baiknya kau udah melihat kedua filmnya yang sebelumnya. Atau seenggaknya, udah mengikuti cerita di seri TV-nya dulu sampai tamat.

Holy Quintet

Masih berlatar di kota Mitakihara yang menjadi latar cerita-cerita sebelumnya, kita diperkenalkan kembali pada empat sekawan Kaname Madoka, Miki Sayaka, Sakura Kyoko, dan kakak kelas mereka, Tomoe Mami, yang sama-sama sebenarnya menjalani kehidupan ganda sebagai mahou shoujo yang melindungi para penduduk kota setiap malam dari ancaman makhluk-makhluk menakutkan yang disebut Nightmare .

Suatu hari, sekolah mereka kedatangan seorang murid baru bernama Akemi Homura. Memperhatikan cincin yang merupakan perwujudan Soul Gem yang Homura miliki, Madoka dan kawan-kawannya seketika menyadari bahwa Homura ternyata adalah seorang mahou shoujo juga, dan Mami ternyata memang telah menantikan saat untuk bisa memperkenalkan dirinya.

Homura, yang berkacamata, serta sedikit pemalu dan ceroboh, dengan cepat bisa akrab dengan Madoka dan kawan-kawannya. Tapi ada suatu keterikatan khusus yang dirasakannya khusus saat bersama Madoka. Ada rasa nostalgia aneh yang Madoka rasakan juga terhadapnya, yang ia ungkapkan seperti perasaan ingin bertemu sejak dulu…

Mereka yang sudah mengikuti perkembangan seri ini sejak dulu pasti mengetahui rangkaian deja vu yang mereka rasakan ini maknanya apa. Sebab sekitar sebulan semenjak kepindahannya ke Mitakihara, Homura mulai menyadari adanya hal-hal aneh berkenaan kota tempat tinggal barunya tersebut yang nampaknya belum disadari oleh teman-temannya yang lain.

Desain Arsitektur dan Buku Bergambar

Kayak biasa, aku enggak tega ngasih spoiler soal perkembangan ceritanya. Sebab seriusan, perkembangannya emang benar-benar bagus. Mungkin kebanyakan penggemar sudah menebak kalau film ketiga ini pada dasarnya bercerita tentang bagaimana Homura tak bisa menerima keputusan pilihan Madoka pada akhir film yang lalu (karena itu dirinya ‘memberontak’ terhadap sistem yang dibuatkan Kyubey?). Itu enggak salah sih. Tapi seperti yang kubilang di atas, perkembangan yang terjadi itu enggak cuma itu.

Cukup berkesan. Cuma agak susah buatku untuk menjelaskannya. Soalnya struktur ceritanya terlapis dan sayang buatku untuk membeberkannya.

Aku mesti setuju soal gimana sesudah segala yang sudah terjadi dalam cerita, lumayan masuk akal bila bagian cerita ini (seandainya memang telah ditulis sejak awal) dibikin terpisah dari cerita di seri TV. Sebab sesudah semua pembeberan yang terjadi, fokus ceritanya memang telah sedikit bergeser dari Madoka ke Homura.

Secara teknis, segala hal yang membuat seri ini keren kembali hadir di film ini. Arsitektur perkotaan Mitakihara yang modern dan inorganik ditampakkan kontras dengan warna-warni cerah para karakternya, adegan-adegan aksi sangat keren yang dipadu dengan efek-efek memikat, nuansa misteri yang kental, konflik antar pribadi, serta gambar-gambar abstrak aneh bergaya kolase yang secara pas lumayan mengingatkan akan mimpi buruk. Bisa dibilang semua elemen tersebut memuncak penyajiannya di film ini.

Aku perhatikan tungkai-tungkai para karakter kelihatannya dibuat agak lebih panjang dibanding sebelumnya. Tapi ini bisa diterima karena untuk semakin mempertegas adegan-adegan pergerakan. Ada… adegan perubahan wujud di film ini yang lumayan mencolok. Jadi kalian bakal ngerti sendiri begitu lihat adegan ini.

Tapi di samping visualnya yang keren, yang paling memikatku itu audionya sih. Penataan BGM-nya benar-benar luar biasa. Itu kayak… benar-benar menghanyutkan dan menarikmu masuk ke dalam dunia para mahou shoujo yang kayak mimpi ini. Ada denting-denting aneh dan penataan yang…

Man, aku ga bisa gambarin.

Intinya gitu. Soal akting para seiyuu-nya, mereka masih tetap keren seperti sebelumnya.

Oya, dan sebuah lagu baru dari Kalafina kembali jadi penutup yang bagus.

Megami to Akuma

Aku sedang agak suntuk saat berkesampaian menonton ini. Aku mengantuk, ingin tidur, dan sedang pengen melupakan semua. Tapi begitu ini kuputar, apa ya, hampir kayak terhipnotis, semua lelahku kayak hilang gitu. Fokusku terarah. Lalu rasa penasaran dan terkesima membuatku berhasil sepenuhnya masuk ke dalam cerita.

Aku tetap menonton ini secara mencicil sih, berhubung akunya emang kecapekan. Tapi aku jadi bisa bayangin sememukau apa film ini (bagi para penggemarnya) seandainya ditontonnya di bioskop saat pertama kali rilis.

Suka apa enggaknya kau pada film ini kurasa akan kembali tergantung pada sesuka apa kau terhadap seri ini. Tapi kalau sudah jadi penggemar, ini film yang beneran bagus. Sangat direkomendasikan untuk tak dilewatin.

Karakter baru yang muncul adalah makhluk misterius baru bernama Bebe, yang sepanjang film ini, dengan setia menemani Mami. Tapi dalam perkembangannya, penggemar manapun takkan ada yang gagal mengenali siapa dirinya sebenarnya…

Akhir ceritanya agak membingungkan saat pertama kulihat. Tapi sesudah kupikirkan, dan mempertimbangkan adegannya yang paling terakhir, aku bisa menerima dan memahami maksudnya apa. Akhir ceritanya memang enggak sememukau akhir cerita sebelumnya sih. Lalu bagi beberapa penggemar, mungkin bakal kerasa agak maksa. Tapi menurutku ini penutup yang pas buat seri ini, karena bisa bikin kau terenyuh juga.

Aku enggak tahu apa masih bakal ada sekuel buat seri ini atau enggak. Kayaknya engga sih, soalnya bila masih ada yang diteruskan sesudah akhir kayak gini, kurasa jadinya bakal benar-benar maksa. Kesimpulannya mungkin enggak benar-benar jelas buat semua orang, tapi tetap ada banyak bagian dalam ceritanya yang masih bisa jadi bahan renungan yang bagus.

Makanya, aku ingin mengobrolkan soal ini dengan seseorang. Tapi orang yang menggemari seri ini di sekelilingku hampir enggak ada.

Jadi, yah, kau tahu maksudku.

SHAFT berhasil melampaui perkiraan lewat film ini. Sekali lagi aku berhasil dibuat salut oleh mereka.

Pastinya, mereka yang mengharapkan ‘lebih banyak’ dari seri TV dan kedua film Madoka bisa cukup terpuaskan dengan film ini.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+


About this entry