Inari, Konkon, Koi Iroha

Tentang anime-anime di musim dingin 2013-2014, aku terus terang enggak bisa cerita banyak. Seperti yang mungkin sebagian udah tahu, musim tayang itu di awal-awal terkesan lesu. Ada sejumlah judul menonjol (seperti Houzuki no Reitetsu dan Nisekoi), tapi enggak ada ‘bom’ yang bisa kena ke semua orang gitu (Sword Art Online sejauh ini mungkin adalah ‘bom’ dengan luas cakupan paling gede, tapi yang berkekuatan terbesar kelihatannya adalah Attack on Titan).

Singkat kata, ini salah satu musim langka ketika aku dan hampir semua temanku memperhatikan judul yang beda-beda.

Lalu untuk kasusku, secara beneran enggak keduga, yang dengan rajin kuperhatikan adalah Inari, Konkon, Koi Iroha.

Kami-sama ni Sasayaite…

Inari, Konkon, Koi Iroha (‘Inari, Konkon, dan Dasar-dasar Cinta’) atau InaKon dibuat berdasarkan manga karya Yoshide Morohe yang diserialisasikan di majalah Young Ace terbitan Kadokawa Shoten.

Mungkin di antara kalian ada yang nyadar kalo ya, Young Ace adalah majalah seinen. Jadi kenyataan kalau aku menyukai cerita tentang percintaan remaja SMP yang diserialisasikan di sebuah majalah seinen sedikit banyak telah menegaskan aku telah menjadi orang seperti apa.

Oke, sebenarnya… yang bikin kenyataan ini lebih menyakitkan lagi adalah karena belum lama ini aku dapat pemikiran kalau pembagian genre ini ada supaya orang-orang dapat berpikir sesuai strata lingkungannya. Anak-anak lelaki cowok mesti bersikap selayaknya anak-anak lelaki cowok dan karenanya yang mereka baca adalah manga shonen! Kalau seorang lelaki dewasa kebanyakan baca komik-komik shonen, maka dia bakal dapat kecendrungan buat jadi terlalu berdarah panas atau bahkan kurang ajar pada saat semestinya dia hormat ke bos atau dosen walinya! Tapi kenyataannya, memang aku telah lupa kalau ada manga-manga seinen yang di dalamnya enggak ada karakter utama pria dewasa-nya sama sekali. Kayak, seri ini misalnya.

Heck, aku bahkan lupa. Seri-seri karya Kitoh Mohiro juga banyak yang nampilin karakter-karakter anak-anak yang bahkan belum sepenuhnya remaja. Tapi materi ceritanya enggak ada cocoknya sama sekali buat anak-anak.

Tapi, kembali ke apa yang sudah kusinggung di atas, InaKon mengangkat tema perasaan suka yang tumbuh di antara anak-anak usia SMP. Memang bukan tema satu-satunya sih. Tapi ceritanya lumayan beranjak dari sana.

Tokoh utama seri ini adalah Fushimi Inari, seorang gadis baik hati namun agak ceroboh dan enggak sepenuhnya bisa dibilang cantik. Inari diam-diam memendam rasa suka terhadap teman sekelasnya, Tanbabashi Kouji, seorang anak lelaki ramah yang pandai bermain basket dan diam-diam pekerja keras. Tapi Inari tak memiliki keberanian untuk mendekatinya. Di samping itu, kecerobohannya, sebagaimana kemudian terbukti, kerap kali membuahkan hasil-hasil ‘tak terduga’…

Sampai Inari suatu ketika bertemu secara langsung dengan Uka-no-Mitama-no-Kami, tokoh utama seri ini yang satu lagi. Uka-sama adalah dewi berwujud perempuan muda berusia dua puluh tahunan yang cantik, yang bersemayam di Kuil Inari di dekat rumahnya, yang ingin membalas budi atas pertolongan yang Inari berikan terhadap seekor anak rubah yang hampir tenggelam pada saat Inari terlambat ke sekolah. Anak rubah tersebut ternyata salah satu di antara sejumlah pelayan Uka-sama yang juga berwujud rubah (kitsune). Lalu Uka-sama selama ini memang telah lama mengawasi Inari semenjak dirinya kecil, sesuatu yang kelihatannya memang telah menjadi bagian dari takdir Inari. Lalu ia ingin bisa membantu Inari yang saat itu tengah tertekan sesudah melihat kedekatan yang kelihatannya tumbuh antara Tanbabashi dengan seorang teman sekolahnya yang lain, Sumizome Akemi, yang populer dan teramat cantik.

Singkat cerita, karena suatu komplikasi keadaan, Uka-sama kemudian menganugrahi Inari sebagian kekuatan dewinya, yang kemudian memungkinkan Inari untuk berubah wujud menjadi siapapun yang ia mau (melalui kata-kata ajaib ‘Inari, Konkon…! ‘ yang Uka-sama dan Inari sepakati bersama).

Pendeknya, Inakon kemudian berkisah tentang keseharian Inari sesudah ia dianugrahi kekuatan berubah wujud tersebut. Kon, anak rubah gaib yang ditolongnya, kemudian ditugaskan oleh Uka-sama untuk menemani dan mengawasi Inari. Lalu kehidupan Inari yang kini diwarnai urusan para dewata dan kemampuannya berubah wujud kemudian bermula.

Meski kekuatan dewata tersebut pertama diberikan Uka-sama karena situasi yang memaksa, lambat laun Uka-sama pun menikmati persahabatan yang tumbuh antara dirinya dan Inari, sebab berkat kekuatan tersebutlah Inari kini bisa melihat dan berbicara dengan Uka-sama secara ‘normal.’ Inari yang ceria dan selalu berniat baik sedikit banyak menjadi teman mengobrol yang mengisi hari-hari Uka-sama, yang sebenarnya agak kesepian karena komplikasi situasinya sendiri (sesudah sempat terpikat dengan dunia manusia, Uka-sama kini telah kecanduan bermain otome game) dan pada saat cerita ini terjadi, sedang menolak untuk pulang ke alam para dewata di Takamagahara.

Namun dalam upaya-upayanya untuk menolong dirinya sendiri sekaligus orang-orang di sekitarnya, Inari kerap menggunakan kekuatan perubahan wujud tersebut lebih sering dari yang Uka-sama duga, tanpa mengetahui bahwa perbuatan tersebut mengandung konsekuensi semakin pudarnya eksistensi Uka-sama…

Alasan Aku Berada di Sini

Normalnya, aku kurang begitu bisa menikmati cerita-cerita yang mengangkat tema soal kedewataan (habis, semuanya punya kecendrungan untuk menuntaskan masalahnya lewat deus ex machina sih). Tapi InaKon membuatku bisa terpikat karena banyak alasan lain.

Pertama, kualitas teknis seri ini luar biasa bagus. Production value-nya jelas-jelas terlihat tinggi. Gambar-gambar latarnya memiliki detil yang segitu terincinya sampai-sampai mengingatkanmu pada foto. Memang tak disebutkan secara eksplisit, tapi InaKon kelihatannya berlatar di Kyoto, di mana Kuil Inari pusat, Fushimi Inari-taisha, berada (ya, nama kuilnya sama dengan nama karakter utama seri ini, dan dikisahkan itu kenapa ia sering diejek tentangnya waktu masih anak-anak; dan ya, lagi, Kuil Inari yang ditandai oleh patung-patung rubah di dalamnya memang ada beberapa macam dan tersebar di seluruh Jepang). Karenanya, pemandangan-pemandangan yang dihadirkan lewat seri ini benar-benar berkesan eksotis.

Audionya beneran keren. Hampir semua karakternya berbicara dengan logat Kansai, dan aku belum pernah nemu anime lain yang begitu kental logat Kansai-nya sebelum anime ini. Aku agak malu ngakuin ini, tapi aku juga cukup jatuh cinta pada musiknya. Di samping BGM-nya, lagu pembukanya dibawakan oleh penyanyi pop May’n dan berjudul ‘Kyou ni Koiiro.’ Aku biasanya bukan penggemar May’n, tapi itu satu lagu yang waktu pertama kudengar langsung membuatku membuka mata karena aransemennya begitu pas dengan frame-frame yang ditampilkan di animasi pembukanya. Sedangkan lagu penutupnya yang dibawakan Sakamoto Maaya berjudul ‘Saved’ juga dengan bagus menggambarkan kesenduan yang Uka-sama rasakan.

Alasan berikutnya InaKon memikat adalah karena, yah, ini… termasuk seri yang beneran kerasa positif. Apa ya? Penuh warna? Penuh perasaan? Sederhana sekaligus gampang dicerna? Kira-kira gitu.

Bahasan utamanya yang tentang relationship mungkin enggak akan cocok buat buat sebagian orang. Demikian pula dengan pola gimana Inari kerap tak langsung menyadari akibat dari setiap tindakan yang diperbuatnya. Tapi hal-hal tersebut termasuk alasan yang membuat kita bisa menyukai seri ini.

Intinya kayak tentang berbuat salah dan mau meminta maaf sesudahnya.

Akui aja, aku tahu ada sebagian di antara kalian yang begitu kesusahan buat menyesal dan minta maaf.

Intinya lagi, ini seri yang benaran manis.

Dari animasi pembukanya sendiri kalian bisa menilai, Inari dan dua kawan dekatnya, Sanjou Keiko yang tomboi dan perkasa serta Marutamachi Chika yang gemuk dan agak otaku, kelak akan bisa bersahabat dekat dengan Sumizome. Kakak lelaki Inari yang SMA, Fushimi Touka, yang sedikit chuunibyou, sinis, tapi menjadi satu-satunya yang tahu tentang segala urusan kedewataan adiknya, perlahan akan dekat dengan Uka-sama (adegan saat ia berusaha mengungkapkan hal ini ke kedua orangtua mereka membuatku ngakak). Kakak lelaki Uka-sama, Outoshi-no-Kami, yang bishounen tapi terobsesi dengan adiknya, akan diikat Uka-sama pada malam festival di sudut kuil. Lalu tentu saja, Inari akhirnya akan bisa makin dekat dengan Tanbabashi…

Berjumlah total 10 episode, studio Production IMS kerasa banget telah berjuang dalam membuat seri ini. Sutradaranya, Takahashi Toru, termasuk salah satu nama baru yang mesti kuingat mulai sekarang. Demikian pula Oozura Naomi, seiyuu (yang kelihatannya) pendatang baru yang mengisi suara Inari.

Negai goto

InaKon bisa dibilang merupakan semacam throwback terhadap seri-seri mahou shoujo zaman dulu, dekade 80-90an, tentang anak-anak gadis yang membantu orang-orang di sekeliling mereka dengan kemampuan mereka berubah wujud (kayak Minky Momo atau Himitsu no Aka-chan?). InaKon memang seperti itu sih. Hanya saja, seperti yang kubilang, bukan cuma itu tema yang diangkat.

Seperti biasa, untuk seri-seri yang kusukai, aku memeriksa materi asalnya, yakni manganya. Lalu aku lumayan terkejut melihat perbedaannya. Cerita garis besarnya memang masih sama sih, walau ada banyak subplotnya yang disesuaikan. Tapi nuansanya itu… beneran berbeda.

Manganya, singkat kata, adalah manga seinen. (Bentar, apa kalian bisa ngerti kalo aku cuma pake ungkapan ini?) Sedangkan adaptasi animasinya dibuat dengan nuansa lebih lembut, terutama dengan ditandai gambar-gambar bunga yang menghiasi gambar potret Inari dan Uka-sama, membuatnya agak berkesan lebih shoujo. Hasilnya, dalam suatu polling yang dilakukan berdasarkan gender pada musim lalu, InaKon sama-sama menempati posisi sebagai salah satu anime yang cukup banyak ditonton baik dalam daftar penonton cowok maupun penonton cewek.

Manganya sendiri belum terlalu panjang, baru ada sekitar 6 atau 7 volume, dan sampai sekarang masih berlanjut. Cerita di animenya memang tamat. Tapi kalian yang jeli pasti juga menyadari kalau Kon masih belum menampakkan wujud manusianya seperti yang ditampilkan di pembukanya.

Karakter-karakter lain meliputi sang dewi kepala (tentu saja), Amaterasu Oumikami; sahabat dekat Uka-sama yang lebih muda, salah satu dewi pilar, Omiya-no-Me-no-Kami alias Miya-chan; ibu Uka-sama, Kamu-Ouichi-Hime yang bermasalah dengan kelakuannya yang tak mau pulang; serta ayahnya, Susanoo-no-Mikoto yang, hmm, karismatik.

Sekali lagi, eksekusi anime ini terbilang sangat baik. Ada perhatian luar biasa yang diberikan terhadap detil, lalu di samping adegan yang berlangsung, ditampilkan pula hal-hal lain berlangsung di latar belakang.

Kalaupun berakhir di sini, aku tak bermasalah sih. Tapi aku enggak bisa engga sedikit berharap adaptasi anime ini kelak akan ada kelanjutannya.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-


About this entry