Accel World – FBiS + BSoD

Sesudah melihat adaptasi anime Accel World sampai tamat, aku membaca kelanjutan cerita di versi novelnya belum lama ini.

Terjemahan bahasa Inggrisnya, seperti yang sebelumnya pernah kubilang, bisa ditemukan di situs Baka-Tsuki. Namun berhubung seri LN ini (beserta seri ranobe Sword Art Online yang sama-sama juga dikarang Kawahara Reki) telah dilisensi oleh Yen Press, aku enggak tahu sampai kapan terjemahan tersebut akan bertahan di sana. Karena itu, sesudah menunda-nunda untuk sekian lama, aku akhirnya memotivasi diriku untuk baca selagi sempat.

…Mungkin sebelumnya aku pernah bilang. Saat-saat aku lama enggak ngepost itu biasanya dikarenakan aku disibukkan karena satu dan lain hal. Lalu saat-saat aku sibuk itu, aku biasanya baca-baca apa yang ada di situs Baka-Tsuki lewat hape. Dan, yah, lanjutan cerita Accel World menjadi salah satu dari sejumlah hal yang aku baca belakangan ini.

Adaptasi animenya yang dulu pernah kuulas mencakup cerita dari buku 1 sampai buku 4 (ditambah sejumlah cerita pendek yang dimuat di buku 10 yang secara kronologis berlangsung di waktu yang sama). Jadi kubaca saja apa-apa yang sudah diterjemahkan mulai dari buku 5 sampai buku 8. Terjemahan untuk buku 6 dan buku 7 pada akhirnya enggak tuntas. Jadi yang kubaca sampai ‘tuntas’ cuma buku 5 dan buku 8.

Buku 5 bersubjudul Floating Bridge in Starlight (‘jembatan terapung di bawah cahaya bintang’) ini berlatar waktu tak lama sesudah klimaks konfrontasi Legion Nega Nebulas melawan Dusk Taker. Sedangkan buku 8 yang bersubjudul Binary Star of Destiny (‘bintang biner takdir’; ‘biner’ bisa diartikan ‘berpasangan’) ternyata berlangsung benar-benar tak lama sesudahnya.

Berhubung sudah ada beberapa bab yang telah diterjemahkan pada buku 6 dan 7, menghubungkan ‘titik-titik yang hilang’ lumayan mudah. Lalu pada setiap bab, Kawahara-sensei (karena tuntutan format majalah?) secara singkat mengungkapkan apa-apa yang telah terjadi di bab-bab terdahulu, sehingga pikiran pembaca enggak keputus begitu saja tanpa tahu ceritanya telah nyampe mana. Jadi proses membaca secara sporadis ini ternyata enggak sesusah bayanganku.

New Stages

Floating Bridge in Starlight mengetengahkan soal sebuah event khusus yang terjadi di dunia yang dipercepat, sehubungan dengan  diiekspornya teknologi social camera yang sebelumnya digunakan di Jepang untuk aplikasi di orbital elevator Hermes Cord yang untuk beberapa waktu telah dibangun.

Di akhir cerita pada buku sebelumnya, Sky Raker alias Kurasaki Fuuko, salah satu anggota inti dari Legion hitam yang terdahulu, atas dorongan sang tokoh utama, Arita Haruyuki, berhasil dibujuk Kuroyukihime untuk kembali bergabung dalam Nega Nebulas. Tapi bergabung kembalinya Raker masih belum berarti telah pulihnya trauma dan rasa bersalah yang membebaninya sebelumnya, yang tercermin pada masih cacatnya kaki Duel Avatarnya.

Haruyuki secara tak disangka menyimpulkan secara tepat kalau ekspor teknologi social camera di atas ternyata dapat berdampak pada Brain Burst. Lalu, begitu mengetahui bahwa dengan ini, dunia yang dipercepat dapat merambah sampai ke luar angkasa, ia mendapat gagasan tentang bagaimana cara memperbaiki hubungan Fuuko dan Kuroyukihime kembali…

Tapi dalam prosesnya, sesuatu terjadi.

Kemudian, sesuatu tersebut membawa Haruyuki dan teman-temannya berhadapan kembali dengan Acceleration Research Society, orang-orang misterius yang turut memiliki andil dalam terlahirnya monster bernama Dusk Taker.

Incarnation

Buku 5 sebenarnya bisa dibilang merupakan awal sebuah arc besar baru di Accel World, berhubung cerita buku 6 sampai buku 8 secara mulus sambung-menyambung. Dunia para Burst Linker—yang mampu mempercepat kinerja pikiran berkat game misterius Brain Burst yang tertanam dalam Neuro Link mereka—secara bertahap terus digambarkan semakin membesar. Hubungan-hubungan lama yang pernah ada antar para karakter kemudian terungkap. Lalu aku benar-benar salut terhadap Kawahara-sensei dengan semua penggambaran ini.

Aku agak enggak enak bila mengungkapkan ceritanya di sini. Soalnya menurutku pribadi, ceritanya benar-benar keren.

Pemaparan tentang teknologinya benar-benar menarik. Padahal itu dipaparkan dengan cara yang menurutku termasuk sederhana.

Aku akhirnya ngeh terhadap sejumlah tema aneh yang beliau sampaikan dalam buku-buku sebelumnya. Ada para karakter yang kepribadiannya terkesan tak wajar karena mereka berada pada keadaan psikologis abu-abu antara anak-anak dan dewasa sebagai dampak dari Brain Burst. Lalu ada tema tentang anak-anak yang terlantar dan kehilangan kasih sayang karena terlalu dipercayakan pada perkembangan teknologi. Lalu tentu saja, resiko sebenarnya dari kehilangan semua ingatan terkait Brain Burst apabila poinnya habis, yang meliputi regresi kepribadian mereka yang telah dipercepat pendewasaannya, serta kemungkinan hilangnya hubungan-hubungan persahabatan yang telah mereka bentuk di dunia yang dipercepat ini.

Satu misteri besar yang diperkenalkan adalah mulai disinggungnya ketiadaan social camera di kompleks Istana Kekaisaran, yang memunculkan teka-teki soal apakah lokasi counterpart-nya di Unlimited Neutral Field di dunia yang dipercepat sebenarnya dapat dimasuki atau tidak.

Pada buku-buku 6 ke atas disinggung pula soal bagaimana keempat pintu masuk ke lokasi Istana dijaga oleh empat sosok Enemy yang hanya bisa digambarkan sebagai semacam superboss pada game-game biasa (mereka terdiri atas Genbu, Seiryu, Suzaku, dan Byakko—diambil dari nama hewan-hewan legendaris penjaga empat mata angin). Lalu ternyata pernah ada rumor-rumor mencuat kalau kemungkinan lain untuk menuntaskan Brain Burst tak lain adalah keberhasil memasuki lokasi ini. Nega Nebulas generasi pertama ternyata hancur dalam upaya penyerbuan mereka ke Istana ini, yang terjadi sebagai reaksi para anggotanya atas tindak pemberontakan yang Kuroyukihime lakukan sebagai Black Lotus. Lalu para Elements, empat sosok Burst Linker yang dikenal ‘legendaris’ karena seakan mewakili empat unsur dasar di alam, rupanya juga adalah wakil-wakil pemimpin yang pernah tergabung di bawah Black Lotus. Sky Raker rupanya pernah dikenal sebagai salah satu dari mereka. Lalu meski ingatan Haruyuki tentangnya disamarkan, Aqua Current, yang dikisahkan sempat menjadi bodyguard Haruyuki, juga merupakan salah satu dari mereka.

Perkembangan yang sudah agak tertebak di klimaks buku 5 tentunya adalah pengungkapan kalau enhanced armament Disaster Armor—yang  dulu menuai kekacauan di Legion merah, Prominence—ternyata kini tertanam dalam diri Silver Crow, alias Haruyuki. Tapi apa yang benar-benar mengejutkanku adalah dampak perkembangan tersebut, yang melandasi keseluruhan arc ini.

Sebagai satu-satunya orang yang pernah berhasil melawan pengaruh negatif yang dibawa Disaster Armor, Haruyuki diberi kesempatan hidup oleh para Raja Warna Murni (Seven Kings of Pure Colour), yang memberi tenggat waktu bagi Silver Crow untuk menyingkirkan Disaster Armor yang mengutukinya. Kuroyukihime telah memiliki gagasan untuk membantunya dalam hal ini, dan itulah yang melandasi pertemuan Haruyuki dengan Shinomiya Utai alias Ardor Maiden, seorang anak kelas 3 SD tuna wicara berpembawaan mandiri, yang merupakan satu lagi anggota lama Nega Nebulas yang pernah tergabung di dalam Elements.

Namun, pada akhir penyerbuan ke Istana Kekaisaran tiga tahun lampau, Ardor Maiden—seperti Aqua Current dan anggota Element terakhir—ternyata terperangkap dalam fenomena kematian berulang akibat takluk di Unlimited Neutral Field persis di hadapan gerbang Suzaku. Sehingga, untuk bisa menggunakan kekuatan purifikasi khususnya demi menyingkirkan Disaster Armor, Silver Crow, Black Lotus, Sky Raker, Cyan Pile (alias Mayuzumi Takumu) dan Lime Bell (alias Kurashima Chiyuri) harus melakukan misi penyelamatan hidup mati dengan menyerang gerbang yang dijaga Suzaku dan, memanfaatkan kemampuan terbang yang dimiliki Silver Crow, entah bagaimana meloloskan Ardor Maiden dari sana.

Pada saat yang sama, keberadaan Incarnate System—yang memungkinkan peningkatan kemampuan sebuah Duel Avatar dengan menggunakan tekad, imajinasi, serta emosi sekaligus trauma sebagai bahan bakar; yang secara diam-diam dikuasai dan dirahasiakan oleh para Raja—akhirnya terbeberkan secara luas sesudah insiden di Hermes Cord. Lalu ada suatu pihak misterius yang secara diam-diam mulai membagi-bagikan jalan pintas untuk menggunakan sistem ini, dan sekali lagi mendatangkan kekacauan pada dunia yang dipercepat…

Di masa saat mereka masih dikenal sebagai ‘pemain’…

Begitu aku tiba di akhir menggantung di buku kedelapan, aku tiba pada kesimpulan yang mengejutkan: aku enggak pernah menyangka kalau aku akan menyukai Accel World sedalam ini.

Aku pernah bilang kalau aku lebih suka Accel World dibandingkan Sword Art Online karena implikasi ke dunia nyatanya lebih banyak. Tapi alasannya enggak cuma itu.

Accel World bagiku itu seriusan, teramat sangat keren.

Mungkin ini agak susah kebayang. Tapi aku beneran dapat sejumlah pelajaran hidup yang enggak kusangka dari membaca seri ini. Soal move on dalam menyerima kenyataan. Soal bekerja keras. Soal menerima masa lalu. Soal menanggapi apa yang telah terjadi dengan kebencian atau enggak. Lalu, yang paling berkesan (mungkin karena dibawakan oleh anak manis seperti Utai), soal rasa hormat terhadap makhluk-makhluk lain yang kemudian berujung pada rasa syukur terhadap kehidupan.

Ceritanya, sejujurnya, berkembang jauh lebih dalam dari yang kusangka. Ada pembeberan soal seperti apa interior Istana, yang di dalamnya menyembunyikan sejumlah petunjuk tentang awal mula Brain Burst. Lalu ada kilas balik berkesan tentang awal mula Disaster Armor tujuh tahun sebelumnya, yang terjadi pada masa-masa saat dunia yang dipercepat masih muda.

Narasinya menurutku terbilang enak dibaca. Pembangunan suasananya sesudah kau terbiasa cukup memikat. Lalu adegan pertempuran terakhir melawan Suzaku di batas langit itu kereeeeeeeen!

Man. Memang patut disesalkan bila proyek penerjemahannya diulang lagi dari awal. Tapi aku enggak menyesal membaca apa yang ada sampai sejauh ini.

Mungkin bila bukunya jadi diterbitkan oleh Yen Press, aku akan mencoba memesannya lewat Amazon.

…Kau tahu, aku bersyukur bukan cuma aku saja yang ternyata suka seri ini.


About this entry