Hikaru ga Chikyuu ni Ita Koro… … – Aoi

Sesudah menamatkan Bungaku Shoujo, Nomura Mizuki dan partnernya, ilustrator Takeoka Miho, memulai seri baru berjudul Hikaru ga Chikyuu ni Ita Koro… … (‘saat Hikaru masih ada di dunia/bumi’, karena suatu alasan, dua elipsis di belakangnya kelihatannya penting). Pertama diterbitkan oleh Famitsu Bunko pada tahun 2011, saat ini kutulis, seri ini sudah terbit sampai… berapa ya? Enam buku? Pastinya, ceritanya kayaknya hingga saat ini kutulis masih berlanjut.

Kayak biasa, aku pertama tahu tentang seri ini melalui terjemahan Bahasa Inggris buku pertamanya di Baka-Tsuki. Aku juga agak telat tahunya. Baru belakangan aku sadar kalau seri ini mungkin tak mendapat banyak publikasi karena pembaca yang memperhatikannya mungkin baru para penggemar lama Nomura-sensei saja.

Ada kabar yang mengatakan kalau seri ini dianggap kalah menarik dibandingkan Bungaku Shoujo karena ceritanya enggak se-‘menyayat hati.’ Berhubung aku, tentu aja, belum baca Bungaku Shoujo ampe tamat, aku enggak bisa ngasih perbandingan sih. (Dibandingkan dengan animenya juga, kudengar anime Bungaku Shoujo hanya mengangkat konflik di pertengahan serinya, dengan sedikit mencomot bagian akhir sebagai penutup. Intinya, ada banyak banget hal yang kita, kalau enggak baca novelnya, enggak akan tahu.) Tapi ceritanya sendiri lumayan sejenis dengan Bungaku Shoujo; ini jenis cerita drama yang mengangkat romantika dan kepahitan kehidupan. Nuansa cerita Hikaru juga kelihatannya lebih cocok buat cewek sih. Lalu secara agak mengejutkan, ceritanya secara teknis bisa masuk ke dalam kategori genre harem.

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

Cerita dibuka dengan sebuah adegan pemakaman.

Akagi Koremitsu, seorang siswa SMA kelas satu dengan tampang turunan yang lumayan galak, mendatangi acara pemakaman teman sekolahnya, Mikado Hikaru, yang meninggal akibat kecelakaan.

Koremitsu sebenarnya hampir-hampir tak mengenal Hikaru. Mereka hanya pernah sekali berpapasan, dan itu pun bertukar hanya beberapa patah kata.

Koremitsu, ceritanya, karena sebuah insiden di awal tahun ajaran, jadi tertunda masuk ke sekolah. Baru sesudah ia akhirnya bisa masuk menjelang Golden Week, sebuah rumor aneh ternyata telah menyebar, yang menyebutkan soal bagaimana dirinya merupakan seorang berandalan legendaris yang terlambat masuk sekolah karena masuk rumah sakit sesudah menghajar habis-habisan tokoh-tokoh terkuat di lingkungannya. Singkatnya, Koremitsu jadi dijauhi dan ditakuti karena alasan-alasan yang di luar kekuasaannya. Lalu hanya Hikaru seorang, yang pada hari pertama Koremitsu sekolah, kemudian menyapanya.

Hikaru adalah pemuda tampan populer yang setahu Koremitsu berasal dari kelas lain. Lalu saat Hikaru pertama melihat bagaimana Koremitsu telah bersekolah lagi sesudah pulang dari rumah sakit, Hikaru langsung menyapanya dan berkata kalau ada sesuatu yang nanti ingin ia tanyakan.

Tapi tak dinyana, pada akhir hari itu, Hikaru terlibat kecelakaan.

Didorong rasa penasaran urusan apa sekiranya yang Hikaru punyai dengan dirinya, Koremitsu, yang yakin kalau dirinya belum pernah mengenal Hikaru sebelumnya, menyempatkan diri untuk menghadiri pemakamannya.

Namun ternyata… ternyata… Hikaru adalah orang yang jauh melebihi apa yang ia kira.

Koremitsu memang telah mendengar soal reputasi Hikaru sebagai seorang playboy. Tapi reputasi ini ternyata jauh, jauh, jauh melebihi bayangannya. Sebab di pemakaman Hikaru, yang bisa Koremitsu lihat cuma cewek, cewek, dan cewek. Mereka semua menangisi kematian Hikaru dengan air mata berurai dan mata sembab. Lalu usia mereka pun beragam. Mulai dari yang sebaya Koremitsu, lalu yang berusia dua puluh tahunan, yang berusia tiga puluh tahunan, sampai bahkan ada yang masih SD.

Keheranan Koremitsu baru sempat terpecah saat salah seorang perempuan di antara kerumunan itu, dengan ditahan seorang perempuan lain, masuk ke tempat tersebut sembari memaki-maki. Perempuan itu menyumpahi Hikaru, dan meneriakkan tentang bagaimana ia bisa meninggal begitu saja sebagai pembohong.

Merasa tak memiliki hubungan apa-apa dengan semua ini, ditambah lagi merasa tak nyaman karena secara mencolok menjadi satu-satunya cowok di antara semua cewek, ditambah lagi lagi ia semakin yakin kalau Hikaru pasti tak ada hubungan apa-apa dengan dirinya, Koremitsu kemudian pulang setelah memberikan penghormatan terakhirnya ke keluarga jenazah.

Namun di tengah perjalanannya pulang, Koremitsu terus merasa ada suara yang memanggil-manggil namanya…

“Kau pembohong!”

Singkat cerita, saat Koremitsu mandi pada sore hari itu, ia mendapati arwah Hikaru ternyata tengah melayang-layang di atas kepalanya.

Singkat ceritanya lagi, karena aku beneran setelah satu jam mikir enggak bisa nemuin cara lebih baik lagi buat mengatakannya, Hikaru yang sopan dan selalu tersenyum dan lemah lembut dan suka sekali menggunakan sifat-sifat bunga sebagai perumpamaan itu memohon pada Koremitsu—yang cenderung kasar dan sama sekali tak berpengalaman menghadapi cewek, karena latar belakang keluarganya yang telah dilanda banyak kasus perceraian—untuk memenuhi janji-janji yang belum sempat dipenuhinya pada salah seorang gadis yang pernah berhubungan dengannya.

Saotome Aoi. Itulah nama gadis tersebut. Ia adalah gadis yang Koremitsu sempat lihat berteriak-teriak saat pemakaman. Ia seorang kakak kelas di sekolah mereka, SMA Heian. Lalu dirinyalah orang yang konon dulu telah ditunangkan dengan Hikaru sejak kecil, dan pastilah orang yang paling tersakiti dengan semua tingkah Hikaru dalam bermain perempuan.

Baik Koremitsu maupun Hikaru akhirnya sepakat kalau mungkin janji-janji itulah yang masih menahan arwah Hikaru untuk tetap ada di dunia.

Tak memiliki banyak pilihan, terutama karena sifat penyendirinya membuatnya terganggu dengan arwah Hikaru yang selalu melayang-layang tanpa pernah bisa jauh darinya (termasuk bila ke WC), Koremitsu, dengan dukungan Hikaru, akhirnya berusaha melakukan PDKT ke Aoi demi menyampaikan pesan-pesan yang telah ditinggalkan oleh Hikaru padanya. (Hanya Koremitsu seorang yang bisa melihat dan mendengar roh Hikaru, btw.)

Tapi… Aoi ternyata adalah seorang ojou-sama. Dirinya berasal dari keluarga dan lingkungan yang lumayan terlindungi. Sehingga tentu saja upaya Koremitsu gagal total. Koremitsu—lagi-lagi—kembali menjadi sasaran begitu banyak kesalahpahaman dalam upayanya mendekati Aoi. Lalu pernyataan Koremitsu bahwa ia memiliki pesan yang telah ditinggalkan melaluinya oleh Hikaru tentu saja menuai banyak keskeptisan. Karena semasa hidupnya, Hikaru dikenal hanya dekat dengan para wanita.

Para pria, sebaliknya, tentu saja, bisa dikatakan membencinya.

Sehingga Aoi, sekalipun sifat dasarnya polos, bahkan menolak keberadaan Koremitsu mentah-mentah akibat pengaruh orang-orang di sekelilingnya.

Di tengah keputusasaan yang melanda, Koremitsu dan Hikaru kemudian tanpa sengaja mengetahui kalau gadis cantik tapi bersorot mata tajam yang duduk di sebelah Koremitsu di kelas, Shikibu Honoka, yang biasanya selalu sibuk main ponsel dan memiliki semacam hubungan saling mencurigai dengan Koremitsu, ternyata tak lain adalah Purple-Hime—novelis ponsel terkenal yang belakangan itu juga membuka layanan konsultasi cinta.

Kembali, setelah serangkaian kesalahpahaman dan kebuntuan, sesudah melihat sendiri kegigihan Koremitsu, Honoka, yang mulai tumbuh rasa penasarannya, mencoba untuk sedikit banyak mendukung Koremitsu dengan memberinya saran-saran. Barulah dari sana situasi mulai menemukan titik terang.

Hanya saja…

Janji-janji Lampau

Seperti yang mungkin bisa kau bayangkan dari cerita buatan Nomura-sensei, plotnya menampilkan sisi-sisi ‘gelap’ yang agak lebih banyak dari yang sempat kukira. Cerita di buku pertamanya ini masih terbilang ringan sih. Tapi keabnormalan hubungan-hubungan yang Hikaru miliki, serta kemungkinan bahwa wafatnya Hikaru sebenarnya bukanlah sebuah kecelakaan, sudah diindikasi pada beberapa titik.

Salah satu hal berkesan pada ceritanya adalah bagaimana Koremitsu dan Hikaru sama-sama menemukan sahabat pertama mereka pada diri satu sama lain. Lalu, dengan kepahitan khas Nomura-sensei yang biasa, kesannya gimanaa gitu saat kita sadar kalau masih ada hal-hal tertentu tentang masa lalu(hidup)nya yang belum Hikaru ungkapkan, karena keinginannya untuk tak menyusahkan Koremitsu.

Yah, hal-hal tersebut pastinya ntar bakal diungkap pada buku-buku ke depannya sih.

Cuma, yah, aku pribadi lumayan skeptis soal apa aku bakal membacanya hingga akhir. Sama kayak kasus Bungaku Shoujo, aku enggak yakin apa aku bakal menemukan terjemahannya secara tuntas (kurasa aku memang mesti belajar bahasa). Sekali lagi, berhubung ini sesuatu dari Nomura-sensei, mungkin kalian ngerti kalau kendalanya bukan cuma dari segi ada apa engganya terjemahannya aja.

… (Kenapa aku malah ngejadiin nama pengarangnya sebagai alasan gini?)

Tapi terlepas dari itu, berhubung temanya (kayaknya) lebih ringan, kurasa seri ini memang bakal lebih gampang diikuti ketimbang Bungaku Shoujo. Lebih gampang diikuti, walau mungkin enggak sampai menyamai kepopulerannya juga.

Ini seri penerus yang benar-benar patut diikuti untuk kalian-kalian di luar sana yang membaca seri Bungaku Shoujo sampai tamat dalam bahasa aslinya.

Hikayat

Aku agak telat menyadarinya, tapi seri ini juga sebenarnya dibuat berdasarkan Genji Monogatari,  karya sastra klasik Jepang yang kalau aku enggak salah disebut sebagai salah satu ‘novel’ paling awal yang pernah dibuat. Aku pernah dengar namanya, tapi sama sekali belum tahu apa-apa tentang ceritanya sebelum aku membaca novel ini.

Inti cerita Genji Monogatari adalah soal beragam petualangan cinta salah seorang putra kaisar yang telah terbuang tapi teramat tampan yang dikenal dengan nama Hikaru Genji.

Si Mikado Hikaru di Hikaru jelas-jelas merupakan referensi atas Genji. Lalu demikian pula tokoh-tokoh lain, seperti Saotome Aoi yang merupakan referensi atas Aoi-hime, istri pertama Genji, dan Koremitsu yang merupakan referensi atas karakter minor namun memiliki peran menyentuh bernama sama yang merupakan sahabat terdekat dan asisten Genji. Sedikit pengecualian dari hal ini adalah Shikibu Honoka, yang merupakan referensi terhadap Murasaki Shikibu, nama wanita yang konon menjadi penulis Genji Monogatari. Dan mungkin karena itu, walau Honoka agak mengingatkan kita akan Kotobuki Nanase dari Bungaku Shoujo, dia bisa menjadi karakter yang jauh lebih mudah kita sukai. Sekalipun dia masih agak salah paham tentang sejumlah hal, kita langsung pengen ngedukung dia agar bisa sukses bersama Koremitsu.

…Uh, sudahlah.

Balik ke inti pembahasan, sekali lagi, buku pertamanya masih memiliki nuansa relatif ringan. Ada latar belakang sejumlah karakter yang sekalipun serius, masih agak bikin kita ketawa. Tapi ke sana-sananya ceritanya tetap sepertinya akan makin berat. Menilai dari cerita asli di Genji Monogatari juga (walau aku dengar Nomura-sensei juga akan mengadopsi plot dari suatu karya klasik lain), kayaknya akan ada lumayan banyak muatan psikologis yang diangkat, di samping beragam intrik dan misteri.

Sekali lagi lagi, mengingat adegan-adegan bromance berkala antara Koremitsu dan Hikaru (salah satu hal keren dari narasinya adalah gimana Hikaru sepenuhnya lenyap bila karakter POV-nya bukan Koremitsu btw), ini seri yang kayaknya lebih bakal bisa diminati oleh cewek sih. (Enggak, aku sama sekali enggak terganggu olehnya kok.) Tapi aku ketarik ama seri ini. Aku mungkin bakal agak malas mengikutinya, tapi aku ketarik.

Ilustrasi-ilustrasi yang dihadirkan oleh Takeoka-sensei benar-benar masih cantik dengan sapuan-sapuan warnanya yang khas. Satu hal yang patut diperhatikan adalah bagaimana desain masing-masing sampul dibuat menyerupai motif cetakan-cetakan balok kayu ukiyo-e zaman dulu.

Sial. Aku benar-benar udah dewasa sekarang. Udah waktunya aku ngatur diri buat belajar bahasa Jepang secara serius.


About this entry