Goth

Belum lama ini, di sela-sela kesibukanku(?), melalui situs baca online langgananku, aku membaca versi manga dari Goth karya Otsuichi. Hanya terdiri atas satu buku, ceritanya singkat, padat, dan jelas; sehingga kuanggap cocok untuk mengisi waktu luang.

Oke, mungkin ceritanya sebenarnya memang enggak sejelas itu sih. Aku juga curiga apa sebenarnya ada hal-hal penting tersamar yang tanpa sengaja aku lewatkan.

Tapi terlepas dari semuanya, adaptasi manganya yang dipenuhi artwork hitam putih teramat kontras ini dibuat oleh Oiwa Kenji (apa ini orang yang sama dengan yang membuat adaptasi manga dari NHK ni Youkoso!? Namanya mirip.). Lalu sebagai seri manga pendek yang kurasa diterbitkan di majalah dengan jumlah halaman yang tertentukan, aku lumayan terkesan dengan bagaimana adaptasi ini bisa menyampaikan keseluruhan(?) inti cerita yang kurasa perlu disampaikan dari novelnya.

Alasan aku ngomong gini karena…

Kurasa mending aku menceritakannya dari awal.

Aku lupa persisnya tahun berapa. Kurasa pertengahan tahun 2000an, di situs Baka-Tsuki sempat terpampang upaya untuk menerjemahkan versi novel Goth sebelum judul tersebut dilisensi dan kemudian diterbitkan di Amerika oleh Tokyopop. Aku belum tahu banyak tentang novel tersebut waktu itu. Apalagi seingatku di dalamnya tak ada ilustrasi apa-apa yang ditampilkan. Kalau aku ngelihat ke belakang sekarang, kurasa keputusan pelisensian novel tersebut enggak bisa dibilang buruk—sehubungan selama waktu lumayan lama si penerjemah di Baka-Tsuki kayaknya enggak ngalamin kemajuan apa-apa dalam penerjemahannya.

Terlepas dari semuanya, meski aku lumayan skeptis pada awalnya, aku mencoba membaca satu-satunya bab yang telah diterjemahkan waktu itu.

Bab tersebut juga berjudul Goth. Sesuai nama manga ini.

Sebelum ada yang salah pengertian, Goth merupakan novel one-shot yang bisa diceritakan merupakan kumpulan cerita pendek yang berdiri sendiri-sendiri seputar hubungan antara si tokoh utama—seorang remaja pria yang aku enggak yakin apa pernah disebut namanya—dengan seorang teman sekolahnya, seorang gadis cantik berambut hitam panjang lurus yang teramat penyendiri (dan diam-diam memiliki sebuah bekas luka sayatan pada pergelangan tangannya), Morino Yoru.

Si tokoh utama, di balik sikap cerianya di hadapan kawan-kawannya dan keluarganya, sebenarnya menyembunyikan jati diri sebagai sosiopat. Lalu orang yang kemudian mengetahui jati dirinya sebagai sosiopat ini, walau mungkin secara enggak langsung, adalah Morino. Besar kemungkinan karena Morino pun adalah orang yang agak sejenis dengannya juga.

Aku bilang agak, soalnya mereka enggak persis kayak gitu juga sih.

Si tokoh utama ceritanya memang kejiwaannya udah kayak ‘gitu’ dari sananya. Kalaupun ada alasannya—berhubung baik novel maupun manganya diceritakan dari sudut pandang dia—keliatannya alasan tersebut sudah sepenuhnya dia lupain. Tapi Morino situasinya agak berbeda.

Kalau diibaratkan, mereka seperti dua orang yang kebetulan berpapasan di tempat yang sama atau dalam arah yang sejalur, tapi masing-masing sebenarnya memiliki tempat asal dan tempat tujuan yang sama sekali berbeda.

Tapi balik lagi ke soal ceritanya, Goth pada dasarnya memaparkan pengalaman-pengalaman si tokoh utama bersama Morino pada saat mereka terlibat dengan pelaku-pelaku kriminal di sekitar mereka.

Kalau aku menceritakannya gitu doang, kayaknya itu belum cukup menarik sih. Tapi aku serius bila mengatakan kalau, saat aku pertama kali membaca terjemahan apa yang ada pada situs Baka-Tsuki waktu itu, ada sesuatu dalam ceritanya yang istimewa. Ada sesuatu dalam narasinya yang gila sekaligus mencekam gitu. Padahal penyampaiannya cuma sebatas melalui kata-kata. Intinya, walau plotnya sederhana, ceritanya memberi efek memukau yang sama sekali enggak disangka.

Efek itu tentunya agak hilang pada versi manganya.

Tapi plotnya, walau kubilang sederhana, pada dasarnya memang menarik. Nuansanya macabre gitu, dan lumayan terkait dengan hal-hal suram sekaligus kematian. Lalu bahkan walau kau sudah membayangkan apa yang akan kau temui pun, tetap saja beberapa bagian cerita Goth akan mengundang pembacanya ke wilayah-wilayah tak disangka yang cuma bisa kubilang benar-benar aneh.

Seperti yang belakangan aku tahu, dengan narasinya yang kayak gitu, pantas saja Goth memenangkan Penghargaan Misteri Honkaku dan nama Otsuichi-sensei kemudian melambung sebagai salah satu penulis horor/fantasi muda paling berbakat di Jepang.

Kalau dilihat dari satu sudut pandang, Goth bahkan bisa dibilang merupakan cerita yang romantis. Morino, karena segala ketertarikannya, secara berulang akan terancam nyawanya di tangan seorang pembunuh berantai, kemudian secara berulang pula si tokoh utama akan jadi pahlawan yang menyelamatkannya. Tapinya, sebagaimana yang bisa dilihat pada bab pembuka manganya, alasan si tokoh utama akhirnya melakukan apa yang dia lakukan sama sekali enggak puitis.

Dengan segala kepura-puraannya, si tokoh utama sebenarnya termasuk karakter keren yang cukup bikin aku terkesan.

Versi manga Goth kelihatannya memang tak memaparkan semua episode yang tercantum di novelnya. Namun plot kronologis digunakan untuk menggantikan alur maju-mundur agak membingungkan di novelnya. Lalu kita pun bisa melihat seperti apa rupa si tokoh utama bersama Morino, beserta imaji-imaji kematian suram yang sanggup mereka lihat di sekeliling mereka.

Efeknya mungkin tak semendalam materi awalnya. Lalu bahkan dalam tahun-tahun belakangan, Goth tetap menjadi sesuatu yang dihargai hanya sebatas oleh kalangan niche yang tahu tentangnya saja. Tapi bagaimana hal-hal sederhana di dalamnya kemudian dikembangkan menjadi sesuatu yang teramat mendalam benar-benar mengesankan.

Makna judulnya sendiri baru disampaikan agak belakangan, dengan cara yang bikin aku tertegun sekaligus mengangkat alis pada saat yang sama.

Buat kalian yang sudah tahu tentang judul ini, aku sebenarnya ingin bertanya. Apa ada di antara kalian yang pernah menjalin hubungan seperti yang tokoh utama miliki dengan Morino?


About this entry