Valvrave the Liberator (Season 2)

Ada lumayan banyak kejutan pada musim gugur tahun 2013 lalu. Tapi salah satu kejutan terbesar kurasa adalah bagaimana cour kedua dari Valvrave the Liberator ternyata berakhir jauh lebih bagus dari perkiraan.

Melanjutkan akhir sangat menggantung dari season sebelumnya, yang berakhir pada musim semi tahun yang sama, episode 13 mengetengahkan konklusi serangan pasukan Dorssia atas Module 77 serta bagaimana Tokishima Haruto dan sisa kawan-kawannya dari Perguruan Sakimori akhirnya tiba di wilayah netral Bulan dan memperoleh suaka.

Season kali ini, yang mencakup kedua belas episode dari 13 sampai 24, berlatar setengah tahun kemudian dan memaparkan perjalanan Haruto bersama sebagian kecil kawannya yang terlibat dengan unit-unit Valvrave menuju Bumi. Maksud perjalanan mereka yang semula adalah untuk menjalin hubungan lebih lanjut dengan negara saingan Dorssia, ARUS.  Namun intervensi lebih lanjut dari pasukan Dorssia sekali lagi telah mengubah perjalanan mereka menjadi suatu perjuangan hidup dan mati.

Terdampar di Bumi tanpa sekutu, dengan hanya bisa mengandalkan kepemimpinan L-Elf serta kelima unit Valvrave yang mereka punya, cerita berkembang dengan bagaimana Haruto dan kawan-kawan kemudian mengungkap lebih banyak tentang Proyek VVV yang telah menghasilkan Valvrave, sekaligus mengetahui soal keberadaan kaum Magius yang selama berabad-abad telah berada di balik seluruh pemerintahan yang ada di Bumi melalui Majelis Seratus Satu yang mereka bentuk.

Kaiho

Terlepas dari… uh, kayak gimana season pertamanya, aku kembali mengikuti Valvrave murni karena penasaran ke mana lagi ceritanya akan dibawa. Sebagaimana yang mungkin kebanyakan penggemar udah lihat, anime-anime yang naskahnya dipenai oleh Okouchi Ichirou sama-sama memiliki kecendrungan buat ‘meluber’ ke mana-mana. Valvrave sebelumnya udah ngejutin banyak orang dengan perkembangan ceritanya yang kayak gitu ditambah durasinya yang jauh lebih pendek dari yang disangka.

Tapi, secara enggak disangka, season keduanya ini itu bagus. Jauh lebih bagus dari season yang pertama.

Secara ajaib masih nyambung dengan kedua belas episode pertama. Secara ajaib juga masih memiliki nuansa cerita yang enggak jauh beda. Tapi secara lebih ajaib lagi jauh lebih bisa ditolerir ketimbang season sebelumnya.

Mungkin ceritanya lebih terarah gitu. Pada dasarnya ada rangkaian situasi berbahaya yang harus diatasi oleh Haruto, L-Elf, dan kawan-kawan mereka. Lalu mereka menghadapi ancaman dan bahaya bukan hanya dari luar, tapi juga dari dalam.

Adegan-adegan mengejutkan yang terasa didramatisasi (atau bahkan lebay) seperti pada season pertama masih ada. Tapi apa ya? Perkembangannya kayak jauh lebih bisa diterima gitu. Dan memang jadinya seru. Tahu-tahu aja Valvrave jadi seri yang bisa bikin kita masuk ke dalam tiap episodenya gitu, dan secara murni jadi ingin tahu soal perkembangan ceritanya bakal kayak gimana.

Aku enggak pengen terlalu spoiler. Tapi meski prosesnya berlangsung sporadis, ada perkembangan karakter yang lumayan tersampaikan di season kali ini. Perkembangan ini terutama, tentu saja, tentang hubungan antara Haruto dan L-Elf yang sekali lagi harus bekerjasama di antara rahasia-rahasia yang menaungi mereka. Status Haruto dan sesama pilot Valvrave yang sudah ‘bukan manusia’ beberapa kali terkuak. Lalu L-Elf menghadapi konfliknya sendiri saat takdir mempertemukannya kembali dengan Lisellote, ‘putri cahaya’ Dorssia yang telah diperkenalkan pada musim sebelumnya.

Dua tokoh utama perempuan di musim lalu, Sashinami Shoko dan Rukino Saki pada musim kali ini tak tampil sebanyak sebelumnya. Cinta segitiga yang terbentuk antara keduanya dan Haruto memuncak dengan cara yang lumayan enggak disangka seiring dengan pembeberan konsekuensi sepenuhnya dari penggunaan Valvrave secara berlebih. Shoko sendiri terpisah dari main cast karena kewajibannya sebagai perdana menteri. Sedangkan hubungan antara Saki dan Haruto, beserta kaitannya dengan kilasan-kilasan soal Kekaisaran Galaksi di masa depan yang secara berkala dibeberkan…

Gyah. Aku enggak tahu apa baiknya aku mengatakannya apa enggak.

Intinya, jumlah penggemar Saki ternyata lumayan banyak. Sehingga terus terang aku pribadi rada enggak yakin apakah penyelesaian subplot ini sepenuhnya bisa dikatakan memuaskan apa enggak.

Balik lagi ke pokok bahasan. Seperti yang tersirat pada animasi pembuka dan penutupnya, suguhan utama plot di musim tayang ini adalah hubungan antara Haruto dan L-Elf. Hasil akhirnya mungkin tertebak, tapi tetap lumayan seru buat diikuti bagi kebanyakan orang. (Pastinya enggak bikin kita ngomong “Dafuq.” kayak sebelumnya.)

Satu subplot menonjol lain adalah bagaimana H-Neun dari kelompok Karlstein mulai mengendus keanehan pada jati diri Cain. Tindakannya ini berujung pada perpecahan yang lumayan enggak disangka di kelompok A-Drei dan kawan-kawannya. Masa lalu yang mengikat mereka terungkap. Lalu ada drama dan kebimbangan yang lumayan banyak.

Menyinggung soal Cain, dia beneran menjadi tipe penjahat anime mecha Sunrise klasik, yang sangat menjadi duri dalam daging dari awal sampai akhir. Dirinya berhasil memperoleh Valvrave Unit 2 yang di dalamnya bersemayam Prue, sosok anak lelaki yang menjadi pasangan dari makhluk virtual Pino yang berada dalam Valvrave milik Haruto. Lalu sosoknya yang seakan menjadi nemesis L-Elf benar-benar terkesan tak terkalahkan dari awal hingga akhir.

Kalian masih ingat soal bagaimana waktu pertama muncul dulu Valvrave disebut bakal jadi anime mecha klasik? Yah, aku enggak tahu soal keklasikannya. Tapi aku kayak tiba-tiba nyadar soal betapa ada lumayan banyak elemen klise yang dimainkan secara menarik. Seperti soal karakter Q-Vier yang berujung menjadi karakter maniak khas yang diperankan Kaji Yuki, misalnya. Jadi walau ini jelas bukan anime mecha tradisional kayak yang kebanyakan orang tahu, mungkin klasik kayak gitu yang mereka maksud.

Sebuah Tempat Berlindung

Beralih ke soal teknis, kualitas presentasi Valvrave masih setara, kalau enggak melebihi, musim tayang pertamanya.

Desain mecha masing-masing Valvrave yang disebut-sebut ‘susah’ untuk dibikin unik itu mulai terbayarkan melalui adegan-adegan aksi mecha yang walau mungkin enggak banyak, masih terbilang memuaskan.

Masing-masing Valvrave mendapatkan tambahan perlengkapan… sial, aku lupa namanya, yang berbentuk seperti aksesoris crossbow yang dipasang pada kedua tangan dan kaki, dan dapat melepaskan komponen-komponen seperti burung. Alat ini secara efektif telah lebih mengatasi masalah penimbunan panas pada masing-masing Valvrave dan bahkan dapat digunakan sebagai senjata serang melalui tinju dan tendangan.

Valvrave juga mendapat tandingan seimbang dari Dorssia melalui pengembangan mecha-mecha humanoid Kirshbaum. Dengan bentuk menyerupai mecha-mecha Annihilator yang berbentuk kapal udara hanya saja dapat berubah wujud, mecha-mecha ini dikembangkan melalui hasil penelitian Dorssia terhadap Valvrave Unit 2, dan menjadi lawan-lawan berbahaya bagi para Valvrave selama dipiloti oleh para personil Karlstein.

Visualnya masih keren. Satu hal khusus yang membuat musim tayang kali ini lebih kusukai ketimbang musim tayang pertama adalah bagaimana latar ceritanya enggak melulu terpaku di satu tempat seperti di Module 77. Padang berbatu tandus, kota bersalju, sampai permukaan bulan menjadi latar-latar eksotis yang mesti ditembus Haruto dan kawan-kawan di sepanjang cerita.

Tentang audionya, kurasa aku enggak perlu bicara banyak. Duet T. M. Revolution dan Mizuki Nana masih menyaingi ketenaran soundtrack Attack on Titan pada tahun ini. Lalu—ini sesuatu yang baru kerasa agak belakangan juga—para pengisi suara memainkan peran mereka secara benar-benar bagus. Kimura Ryohei memainkan perannya sebagai L-Elf secara benar-benar keren, terutama pada episode yang mengetengahkan pertemuan kembali L-Elf dengan Lisellote. Itu benar-benar jadi salah satu episode anime mecha terbaik yang akan aku ingat.

Satu hal lagi yang aku baru agak hargai belakangan itu menyangkut perkembangan karakter Haruto dan L-Elf sendiri. Keduanya itu… berkembang. Tapi enggak pernah sampai melewati kapasitas karakter mereka yang terbayang gitu. Memang enggak sedahsyat kayak… Simon dalam Tengen Toppa Gurren Lagann misalnya. Berhubung Haruto yang diperankan Ohsaka Ryota sampai akhir tetap jadi anak SMA biasa yang enggak berbakat memimpin ataupun terlatih dalam menghadapi bahaya. Tapi—mengesampingkan dulu semua perkembangan situasi aneh yang pernah lewat—kelihatan ada pertumbuhan cukup besar dari sisi kedalaman tekadnya gitu. Ini hal simpel tapi beneran kerasa. Lalu hal serupa juga bisa dikatakan pada adegan saat L-Elf akhirnya memandang Haruto sebagai seseorang yang setara dengannya.

Kurasa Matsuo Kou benar-benar berhasil memperlihatkan kepiawaian teknisnya sebagai sutradara bahkan saat harus menangani sesuatu yang enggak stabil kayak Valvrave. Aku seriusan salut padanya. Sebab bahkan perkembangan cerita yang kalo logikanya masih aneh aja bisa tak lagi terasa lebay sesudah beliau yang menangani.

Tunggu. Atau mungkin itu karena akunya yang sudah terbiasa aja?

ERUERUFUUUU!

Isi pikiran si penyusun ceritanya agak susah ditebak. Tapi aku lumayan menghargai tamatnya Valvrave karena lumayan berkesan retrospektif dibanding kebanyakan anime belakangan. Ada begitu banyak hal yang terjadi di ceritanya. Lalu di penghujungnya, kita kayak dikasih tamat yang membuat kita rada mikir apakah semua yang udah terjadi itu benar-benar layak dijalani atau enggak.

Aku enggak akan spoiler apa-apa. Tapi biar kubilang saja bahwa walau tamatnya mungkin ‘menyakitkan’ bagi beberapa orang, tamatnya menurutku masih terbilang memuaskan.

Kesannya serupa tapi agak berbeda dari tamatnya Code Geass sih, yang mana para karakternya berulangkali berbuat kesalahan tapi kemudian bangkit secara berkelanjutan. Tamat Valvrave itu jenis yang bikin kita tercenung tanpa ilfil. Sayangnya, di saat yang sama masih ada juga kesan yang bikin kita pengen cepet-cepet berlalu dan enggak memandang lagi ke belakang.

Intinya, seri ini berakhir sama sekali enggak sesampah awalnya kok. Nuansa ceritanya yang semakin serius jelas membuat season kali ini lebih terasa seperti seri mecha. Lalu setiap episodenya membeberkan poin plot penting tanpa membuang waktu sama sekali.

Begitu Valvrave tamat, aku seriusan ngerasa aku bakalan agak depresi kalau bukan karena masih adanya anime-anime mecha baru yang bakal bisa kunantikan di musim-musim depan. Untungnya Buddy Complex (yang benar-benar terbukti merupakan anime mecha tradisional) akan mulai ditayangkan pada musim dingin 2014 ini. Disusul pada musim semi oleh Captain Earth keluaran BONES yang dipegang oleh staf yang dulu menangani Star Driver. Ditambah lagi Fafner: Exodus yang telah lumayan lama dinanti pada musim gugur.

Tapi walau begitu, kurasa kau benar-benar enggak akan menyesal bila bertahan mengikuti judul yang satu ini. Seenggaknya, kau bakalan punya topik yang bakal rame diomongin seandainya diangkat sebagai bahan obrolan.

Blitzendegen!

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-


About this entry