Kyoukai no Kanata

Kyoukai no Kanata, atau yang juga dikenal dengan judul Beyond the Boundary (‘di balik cakrawala/perbatasan’),  diangkat dari seri novel karangan Torii Nagumo dengan ilustrasi buatan Kamoi Tomoyo, yang diterbitkan dan kemudian diadaptasi ke bentuk animasi oleh studio Kyoto Animation pada musim gugur tahun 2013. Buku pertama dari seri novelnya terbit pada pertengahan tahun 2012, sedangkan buku ketiganya baru keluar pada bulan Oktober 2013 lalu. Animenya sendiri terdiri atas 12 episode dan disutradarai oleh Ishidate Taichi, dengan skenario ditulis oleh Hanada Jukki, dan musik ditangani oleh Nanase Hikaru. (Studio KyoAni kelihatannya memang menerbitkan sendiri seri-seri novel yang memenangkan penghargaan mereka, seperti pada kasus Free!/High Speed! yang lalu.)

Kalian yang hobi ngikutin blog ini mungkin tahu kalau musim gugur tahun 2013 merupakan musim tayang dengan banyak sekali anime baru yang menarik. (Ya, aku tahu aku luar biasa banyak kerjaan belakangan.) Tapi Kyoukai no Kanata bagiku sejak awal menjadi salah satu yang paling menonjol. Sekali lagi, aku bilang ‘menonjol’ ya, bukan ‘bagus.’ Kayak ada sesuatu yang istimewa di dalamnya. Makanya, selama durasi masa tayangnya, betapapun sibuknya aku, aku selalu mencoba mengikuti perkembangannya.

Aku bilang ‘kayak’ soalnya belum tentu kalian juga bakalan merasakan ‘sesuatu yang istimewa’ itu. Kalaupun aku disuruh menjelaskannya juga, aku enggak yakin kalau aku bakalan bisa.

Pastinya, kualitas presentasinya benar-benar kuat. Visualnya tajam. Efek-efek istimewa yang ditampilkan saat adegan-adegan aksinya itu keren. Musiknya enak didengar. Ini terus terang merupakan salah satu anime dengan pengarahan visual paling baik yang aku tahu.

Lalu animasi lagu pembuka maupun penutupnya benar-benar berkesan, walaupun seperti yang kemudian kulihat, nuansanya memang enggak selalu ‘masuk’ ke dalam cerita yang episode bersangkutan tengah tampilkan. Frame pertama yang menampilkan kaca jendela kereta yang berlapis embun, yang kemudian menggeser fokus dengan menampilkan pantulan wajah karakter utama wanita, Kuriyama Mirai, sebelum kemudian menampilkan saat-saat kereta yang ditumpanginya keluar dari terowongan, benar-benar keren.

Memang ini subjektif. Tapi kalau aku mesti menyebutkan apa yang menyebabkan Kyoukai no Kanata terasa begitu berkesan episode-episode pertamanya, maka itu pasti adalah pemaparan hubungan yang terjalin antara dua individu yang sebenarnya sama-sama terasing dan kesepian, yakni Mirai, yang sudah kusebutkan di atas, bersama sang karakter utama cowok, Kanbara Akihito.

“Fuyukai desu.”

Kyoukai no Kanata mengetengahkan kehidupan orang-orang berkekuatan istimewa yang berprofesi sebagai Ikaishi (kira-kira berarti ‘pemburu alam roh’), yang mengemban tanggung jawab untuk memburu makhluk-makhluk supernatural yang disebut Youmu (‘dreamshade,’ atau ‘bayangan mimpi’), yang konon merupakan perwujudan dari emosi-emosi negatif manusia.

Berlatar di sebuah kota tertentu yang tak terlalu besar, Kanbara Akihito ceritanya adalah seorang manusia separuh Youmu (Han-Yo), yang merupakan keturunan campuran antara Youmu dan manusia. Terlepas dari status keturunannya yang memberkahinya dengan semacam keabadian dan kekebalan terhadap luka, Akihito menjalani hidup sebagai seorang remaja kelas 2 SMA normal (yang nampaknya memiliki kesukaan teramat berlebih terhadap cewek-cewek berkacamata).

Di sekolahnya, Akihito berkawan baik dengan kakak beradik dari keluarga Nase yang mengepalai seluruh Ikaishi di wilayah mereka: yakni Nase Mitsuki yang seangkatan dengan Akihito; serta Nase Hiroomi, kakak lelaki Mitsuki yang setahun lebih tua. Ketiganya tergabung dalam Klub Sastra yang diketuai Mitsuki, dan keseharian mereka sepintas dipenuhi oleh candaan.

Pada suatu hari sepulang sekolah, Akihito melihat seorang gadis manis berkacamata berdiri di tepi pagar pembatas atap sekolahnya, seolah-olah hendak bunuh diri. Dengan panik cepat-cepat Akihito mengejarnya ke lantai atas. Tapi secara mengejutkan, gadis tersebut, yang belakangan Akihito ketahui bernama Kuriyama Mirai, kemudian bersalto melompati pagar pembatas tersebut dan menggunakan kekuatannya dalam mengendalikan darah untuk membunuh Akihito—yang berakhir dengan kegagalan berkat keabadian yang Akihito miliki.

Karena memandang Akihito sebagai Youmu (para Ikaishi punya kemampuan untuk mendeteksi aura mereka), Mirai, yang ternyata seorang Ikaishi yang baru pindah ke kota tersebut, berulangkali mencoba membunuh Akihito. Tapi upayanya tersebut tentu saja selalu gagal. Sehingga Akihito, beserta Mitsuki, lambat laun mulai memandang segala tindak-tanduk Mirai lebih seperti gangguan daripada ancaman.

Mirai rupanya berasal dari garis keturunan yang terasing karena kekuatan yang diwarisinya dalam menggunakan darah—yang memberinya kemampuan bertarung teramat besar tapi menggunakan kekuatan hidupnya sendiri sebagai bayaran (mungkin dalam RPG seperti job class Dark Knight?)—terbilang terlarang di kalangan Ikaishi, dan bahkan membuatnya untuk waktu lama dipandang sebagai ‘monster.’ Mirai hidup sebatang kara di kamar kontrakannya, dengan pemasukan sebagai Ikaishi yang teramat pas-pasan. Blog maupun Twitter-nya selalu terkena flame karena kerjanya di Internet cuma mengeluh soal kemalangan-kemalangan hidupnya. Namun, berhubung Mirai merupakan seorang megane bishoujo alias ‘gadis berkacamata yang cantik,’ Akihito kemudian mencoba membuka diri terhadap Mirai dan berulangkali mengajaknya bergabung ke dalam Klub Sastra.

Sekitar empat episode awal Kyoukai no Kanata secara benar-benar apik memaparkan soal kehidupan Akihito, Mirai, dan orang-orang di sekeliling mereka.

Para Ikaishi digambarkan mampu melihat dan merasakan apa-apa yang tak dapat diinderai manusia lain. Lalu secara berkala mereka ‘berburu’ untuk memberantas Youmu-Youmu yang mengancam kehidupan manusia (para Youmu yang punya kecerdasan seperti manusia ada beberapa, namun termasuk langka). Youmu yang berhasil dikalahkan akan menjatuhkan Batu Youmu, lalu Batu Youmu ini yang akan diserahkan Ikaishi untuk dinilai oleh seorang ahli dan kemudian ditukarkan dengan uang.

Sifat keras kepala Akihito akhirnya membuat Mirai mengizinkannya membantunya menemukan Youmu yang kira-kira cukup berharga untuk membantu melunasi biaya sewa kamarnya. Lalu segala sesuatunya kemudian dimulai dari sana.

Ada dua bagian cerita besar yang diketengahkan dalam anime Kyoukai no Kanata. Pertama adalah soal ancaman Youmu yang disebut sebagai Utsuro no Kage (Hollow Shadow, ‘bayangan kosong’), yang mampu merasuki tubuh para korbannya dan memiliki andil teramat besar dalam sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu Mirai. Lalu kedua adalah datangnya masa tenang bagi para Youmu yang disebut ‘Nagi’, yang kemudian menjadi pembuka jalan bagi munculnya Youmu yang rupanya selama ini bersemayam di dalam diri Akihito, Kyoukai no Kanata, yang disebut-sebut merupakan Youmu berkekuatan teramat besar yang pernah membawa kehancuran atas dunia.

Lalu seiring perkembangan cerita, perlahan terungkap kalau sebenarnya ada sisi lain di balik segala sesuatu yang tampak. Terutama menyangkut soal sikap orang-orang dalam kehidupan Akihito serta alasan sesungguhnya di balik kedatangan Mirai ke kota mereka.

Yume no Akashi

Kalian tahu kaidah show not tell?

Masuk ke soal teknis, aspek yang menurutku benar-benar bagus dari Kyoukai no Kanata adalah bagaimana seri ini berusaha untuk nge-show berbagai hal penting dari ceritanya ketimbang nge-tell. Haah, ngejelasinnya agak susah. Intinya, adalah soal gimana sejumlah implikasi cerita dipaparkan lebih secara visual dan perkembangan adegan ketimbang lewat dialog atau kata-kata narator. Pada beberapa titik, cara penyampaian ini ‘kena’ melalui visual-visual yang keren serta eksekusi yang benar-benar bagus. Tapi pada kebanyakan titik lain—lagi-lagi mungkin karena faktor durasi—jadinya enggak.

Ini terutama paling kerasa pada beberapa adegan dialognya sih. Sebagian adegan dialognya itu terasa aneh gitu, yang baru kita ngeh maksudnya sesudah kita memahami konteks dari apa-apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sialnya, kita kerap kali ngeh soal konteksnya itu cuma belakangan pada episode berikutnya, dan jadinya itu kayak numbuhin jarak antara kita yang nonton dengan apa-apa yang sebelumnya terjadi.

Tapi terlepas dari semuanya, sebagaimana yang bisa diharapkan dari studio animasi KyoAni, Kyoukai no Kanata merupakan salah satu seri paling stabil dari musim lalu. Sulit buatku, dan juga buat teman-temanku, buat enggak memperhatikannya.

Ada percepatan tempo yang terjadi pada pertengahan seri yang benar-benar membuat sisi aspek dramatis yang begitu pas di awal-awal seri menjadi hilang. Tapi buat cerita yang yang sepertinya ‘dipadatkan’ pada episode-episode terakhir, Kyoukai no Kanata tetap berakhir menjadi sesuatu yang masih termasuk bagus dibanding yang kebanyakan.

Adegan-adegan aksinya seru dan benar-benar enak dilihat. Mirai dengan pedang darahnya yang dapat memadat dan bisa beracun memang mendapat paling banyak sorotan. Tapi karakter-karakter lainnya punya porsi keren mereka sendiri-sendiri, walau sayangnya penjabaran soal teknis kemampuan masing-masing memang enggak terlalu banyak dijelaskan. Nase bersaudara memiliki kemampuan ngebentuk semacam kurungan energi dengan berbagai macam bentuk aplikasi. Hiroomi tampil khas dengan syalnya karena kepekaan berlebihnya terhadap udara dingin. Lalu Mitsuki memiliki semacam makhluk peliharaan bernama Yakiimo yang menjadi andalannya dalam melawan Youmu.

Campuran antara humor dan keseriusan dalam ceritanya memang enggak selalu menyatu. Tapi para karakter dan hubungan antara mereka benar-benar berkesan. Akihito dan Hiroomi menjalin hubungan persahabatan aneh berlandaskan fetish mereka masing-masing. Masa lalu Mirai mengejar lewat kedatangan Inami Sakura, adik perempuan mendiang sahabat karibnya. Lalu hadir seorang lelaki misterius bernama Fujima Miroku dari Asosiasi Ikaishi yang mendatangi kakak perempuan Hiroomi dan Mitsuki, kepala keluarga Nase, Nase Izumi, untuk suatu kepentingan tertentu.

KENN, pengisi suara Akihito, pada beberapa titik kayak berhasil seorang diri mempengaruhi keseluruhan mood cerita. Aku terkesan dengan perkembangan kemampuannya semenjak perannya sebagai Jil di animasi Tower of Druaga serta sebagai Judai Yuuki di Yu-Gi-Oh GX. Ditambah lagu lagu tema pembuka maupun penutupnya sama-sama benar-benar keren.

Mungkin memang ada lumayan banyak pertanyaan yang sampai akhir tersisa dan tak terjawab. Tapi kalau kalian suka cerita-cerita yang memiliki karakter-karakter simpatik, apalagi yang dipadu dengan adegan-adegan aksi penuh efek khusus yang enak dilihat mata, maka seri ini jadi salah satu yang kurekomendasikan.

Aku sebenarnya enggak bisa mengatakan kalau ini seri yang memuaskan. Mungkin malah sebaliknya, dalam beberapa arti lumayan mengecewakan. Tapi aku enggak akan menyangkal kalau seri ini mengesankan.

Perlu dikaji beberapa kali agar bisa nangkep semuanya. Mungkin enggak akan sampai dibuat season keduanya. Tapi semua yang disampaikan pada akhirnya kurasa berhasil disampaikan.

(Buat yang mau tahu, ya, Minori Chihara yang jadi seiyuu Mitsuki adalah yang menyanyikan lagu pembukanya.)

Penilaian

Konsep: B; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B-


About this entry