Beet the Vandel Buster

…Kalian tahu, kepopuleran Shingeki no Kyojin dalam setengah tahun terakhir ini sempat membuatku mikir: rasanya, tema ‘kota-kota bertembok’ bukan pertama kalinya kutemui di seri itu. Baru belakangan, sesudah aku mengubek-ubek beberapa berkas pekerjaanku yang lama, aku sadar bahwa tema tersebut pernah kutemui sebelumnya dalam satu anime lain. Judul anime tersebut adalah Beet the Vandel Buster (‘Beet, sang pembasmi Vandel), atau yang juga dikenal dengan judul Jepangnya, Boken Ou Beet (‘Raja Petualangan Beet’).

Anime ini pertama keluar pada September tahun 2004 dan dengan total 52 episode. Durasinya yang selama setahun penuh lumayan mengindikasikan tingkat kepopulerannya. Ceritanya dibuat berdasarkan seri manga berjudul sama karya Sanjo Riku sebagai penulis naskah dan Inada Koji selaku penggambar dan diterbitkan di majalah Monthly Shonen Jump (yang sekarang sudah diganti perannya oleh Jump SQ) semenjak tahun 2002. Nama kedua pengarang itu yang menjadi salah satu pendorong ketertarikan utamaku terhadap seri ini. Keduanya adalah pengarang seri manga Dragon Quest: Dai no Daibouken yang dulu kugemari sewaktu kecil. Lalu dari judulnya, mungkin kalian bakal langsung sadar kalau ini seri yang lebih ditujukan buat anak-anak.

Sebenarnya, aku tak langsung tahu tentang keterlibatan kedua sensei di atas. Aku tak menyadarinya pas awal. Awalnya, bahkan kukira ini seri yang (mungkin karena judulnya) bahkan hampir sama sekali enggak akan kulirik. Tapi kemudian… apa ya? Ada sesuatu di bawah sadarku yang secara perlahan ‘mengarahkanku’ ke seri ini.

Mungkin sesuatu yang naluriah gitu.

Saat itu, di pertengahan akhir tahun 2006, aku dan seorang temanku sedang berdiri bersebelahan sembari melihat daftar anime-anime baru yang sudah keluar. Lalu secara hampir bersamaan, sembari mengernyit, kami sama-sama bertanya, “Hei, tau Beet the Vandel Buster ini tentang apa, enggak?”

Yah, pokoknya pengalamannya kira-kira kayak begitu.

Tapi seriusan. Awalnya aku benar-benar enggak sadar.

Aku baru mulai mencari info tentang seri ini sesudah melihat banyaknya elemen RPG Jepang yang ada di dalam ceritanya. Ada soal monster. Ada soal level up(!). Ada soal senjata-senjata sakti. Lalu aku pertama mengikuti seri ini bahkan tanpa tahu apa-apa tentangnya sebelumnya sama sekali.

Ditambah lagi, bahkan temanku berkomentar kalau ini jenis seri yang sebenarnya punya banyak potensi buat jadi enggak bagus. Tapi buat jenisnya, Beet the Vandel Buster beneran termasuk seri yang bagus. Aku normalnya bakal mempertanyakan apakah premis cerita kayak begini bakal berhasil. Tapi kenyataannya, Beet memang terbukti menjadi salah satu seri anime fantasi aksi paling efektif yang aku tahu.

Menuju Cakrawala Hitam

Cerita Beet berlatar di sebuah dunia fantasi serupa abad pertengahan dicampur industri yang disebut Zaman Kegelapan. Di masa ini, makhluk-makhluk jahat yang menggunakan Kekuatan Kegelapan (meiryoku?) yang disebut Vandel bermunculan dan mulai menggerakkan para monster untuk membunuhi manusia-manusia di muka bumi.

Bagi para Vandel, menciptakan penderitaan bagi manusia adalah raison d’etre mereka. Di ujung dunia, ada suatu tempat yang disebut Hotel Vandel (atau Kediaman Sihir Kegelapan) yang dikelola Vandel berwujud kelinci bernama Shagie, di mana para Vandel akan dianugrahi uang sekaligus permata ‘Bintang’ berdasarkan banyaknya manusia yang berhasil mereka bunuh dan banyaknya kota yang berhasil mereka hancurkan. Jumlah permata Bintang ini akan menentukan tingginya kedudukan yang dipunyai seorang Vandel. Lalu uang yang mereka peroleh mereka pergunakan untuk membeli monster-monster dari Ensiklopedi Monster, yang akan mereka gunakan kembali dalam tindak-tanduk mereka meneror manusia.

Para manusia di masa ini berlindung di dalam kota-kota bertembok besar yang mana gerbang-gerbangnya (yang berwajah dan bisa berbicara) melindungi mereka dari ancaman para monster. Namun melawan para Vandel, harapan para manusia untuk selamat jatuh pada orang-orang berkemampuan khusus yang disebut Buster, yang menggunakan Kekuatan Langit (‘tengeki’) untuk melindungi para manusia.

Ciri khas seorang Buster terdapat pada senjata-senjata istimewa yang disebut Saiga yang merupakan perwujudan dari ‘roh’ mereka. Sebuah Saiga terbentuk melalui Kekuatan Langit dan biasanya dengan sendirinya akan diperoleh seorang Buster begitu mereka menginjak level 30 ke atas.

…Enggak, kalian enggak salah baca.

Serupa dengan para Vandel (atau lebih tepatnya, kayak di game-game RPG), seorang Buster akan diberi penghargaan uang dan dinilai levelnya berdasarkan tingkatan pengalaman yang mereka punyai. Level seorang Buster akan dirajah secara ajaib dengan angka-angka romawi oleh para Appraiser di tiap-tiap desa yang mampu ‘melihat’ melalui bola mata pengalaman-pengalaman masa lalu mereka.

Boken Ou Beet berfokus pada petualangan sekelompok Buster yang dipimpin seorang pemuda berusia lima belas tahun bernama Beet yang telah bertekad untuk mematahkan dominasi kaum Vandel sekaligus mengakhiri Zaman Kegelapan.

Suatu insiden telah membuat Beet mewarisi kelima Saiga dari suatu kelompok Buster elit yang disebut Zenon Warriors (‘Zenon no Senshi’), yang dahulu kala sangat diidolakan Beet. Para anggotanya, yang dipimpin Buster legendaris bernama Zenon, telah mengorbankan nyawa sekaligus Saiga mereka demi melindungi dan menyelamatkan Beet di masa lalu saat Vandel berbintang lima bernama Raja Tragedi Belltorze menyerang kota tempat tinggal Beet waktu itu.

Dimotivasi rasa bersalah sekaligus cita-citanya pribadi, Beet kemudian berkelana dari kota tempat tinggalnya untuk berlatih menjadi Buster hebat.

Emotion

Porsi utama cerita seri ini diawali dengan kepulangan kembali Beet ke desa tempat tinggalnya tiga tahun sesudah lenyapnya Beltorze dan para Zenon Warriors, pertemuan kembalinya dengan Poala, sahabat semenjak kecilnya, yang juga telah memperoleh rajah dan bertekad menjadi Buster sepeninggal Beet (dan untuk suatu alasan telah didesas-desuskan di kalangan para Buster sebagai gadis yang akan menjadi istri Beet), serta konfrontasi keduanya dengan Mugain, Vandel yang belakangan itu mengancam keselamatan desa mereka. Selanjutnya, Beet dan Poala berkelana di bawah nama kelompok Beet Warriors yang baru untuk mengumpulkan kawan dan mengakhiri Zaman Kegelapan.

Plotnya memang terbilang sederhana. Tapi walau belum mencapai tarafnya Dai no Daibouken, ada cukup banyak detil di dalam ceritanya yang membuatnya menarik. Para monsternya, baik dari yang berstatus Vandel maupun para kroco, sama-sama ‘berkarakter.’ Mereka kayak punya cara menyerang, temperamen, serta kelemahan mereka masing-masing. Mungkin agak susah dibayangkan kalau belum dilihat sendiri. Tapi intinya, aku enggak heran saat melihat bagaimana dunia fantasi di mana Beet bernaung teramat menarik perhatian anak-anak lelaki.

Lalu walau ceritanya sederhana, perkembangan plotnya enggak segampang itu.

Ada kenyataan seputar bagaimana Beet dan Zenon rupanya memiliki hubungan kakak beradik, yang tampak dari bagaimana  Beet mewarisi keanehan fisiologis kakaknya yang membuat dirinya hanya bisa tidur (secara agak tiba-tiba) sekali setiap tiga hari. Ada soal stigma negatif yang para Buster miliki karena dipandang hanya akan menolong bila ada imbalan. Lalu hubungan antar karakternya, baik antara sesama Buster atau bahkan sesama Vandel, tanpa membuat ceritanya menjadi terlalu gelap, tidak terjadi begitu saja tanpa konflik.

Ada juga dilema dengan kenyataan bagaimana Beet telah mempunyai lima buah Saiga sekalipun dirinya belum mencapai level 30. Ditambah lagi dengan kenyataan dirinya belum pandai menggunakan tengeki, yang padahal menjadi sumber pembentukan setiap Saiga dari dalam diri setiap Buster.

Beet terbilang kuat dengan kelima Saiga di dalam dirinya, yang terdiri atas:

  • Excellion Blade; pedang cahaya dengan motif sayap milik Zenon, yang sekaligus menjadi perlambang seri ini; disebut-sebut sebagai Saiga terkuat yang pernah dikenal yang konon sekaligus meningkatkan kemampuan si penggunanya.
  • Burning Lance; tombak berkekuatan api yang diwarisinya dari Laio, anggota Zenon Warriors paling akrab dengannya, yang memiliki kekuatan untuk dapat memanjang.
  • Cyclone Gunner; pistol berkekuatan angin milik Alside yang pendiam dan kemudian Beet ketahui mampu berubah bentuk sesuai keadaan.
  • Crown Shield; perisai berkekuatan air milik Cruss yang disebut-sebut sebagai perisai terkuat di dunia; memiliki kekuatan penyembuhan dan dapat berubah bentuk menjadi bola baja.
  • Boltic Axe; kapak raksasa berkekuatan petir yang sebelumnya digunakan oleh Bluezam yang berbadan tinggi besar, yang teramat berbahaya karena mampu menghasilkan gelombang kejut setiap kali diayun.

Tapi Beet sendiri juga bukan jenis karakter ‘dewa’ yang tak mempunyai kelemahan. Belum semua Saiga di atas telah bisa Beet gunakan dalam pertarungan apalagi kuasai.

Dan ceritanya emang seru. Benar-benar seru dan bisa keren dengan cara-cara yang enggak terbayangin. Ada banyak desain monster yang unik sekaligus orisinil. Lalu tantangan-tantangan yang Beet dan kawan-kawannya memang menarik.

Memang di dalamnya ada banyak elemen RPG. Tapi eksekusi cerita di Beet the Vandel Buster bener-bener bagus. Enggak ada perasaan aneh sama sekali dengan semua sistem leveling dan permainan antar elemennya.

Maka dari itu, elemen-elemen petualangan dan perkembangan karakternya benar-benar jadi lumayan terasa, dan kurasa itulah yang membuat seri ini menjadi salah satu yang paling menarik untuk anak-anak pada masanya.

Adakah Saiga di dalam hatimu?

Adaptasi anime dari Beet the Vandel Buster memasukkan filler lumayan banyak ke dalam ceritanya. Tapi mengingat materi komiknya sendiri yang terbit secara bulanan, ini enggak bisa dikatakan sebagai hal yang buruk. Perjalanan Beet dan Poala diperpanjang dan ada lebih banyak hal di tengah perjalanan yang mereka hadapi.

Ini bahkan mungkin enggak akan disadari oleh mereka yang tak membaca komiknya. Tapi karakter Jiiku, yang berkelana di bawah bendera Jiiku Warriors bersama si kembar Ryuku (spesialis air) dan Raku (spesialis api) dan menjadi semacam sahabat sekaligus rival bagi Beet (Saiga: Blaster Edge, semacam pedang tebal yang memiliki fungsi ganda sebagai senapan), adalah karakter khusus yang hanya muncul di versi anime. Jiiku tampil sebagai karakter yang lumayan menarik dengan harga dirinya yang tinggi sekaligus masa lalunya sebagai seseorang yang pernah ditolong oleh Zenon dan kawan-kawannya sewaktu kecil.

Selain soal filler, seperti sejumlah anime lain yang diangkat dari manga, ada bagian-bagian cerita dengan pemuluran-pemuluran waktu dalam adegan-adegannya. Tapi mengingat statusnya sebagai tontonan hari libur untuk anak-anak, ini bukan hal yang sepenuhnya buruk.

Bicara soal teknis, visual anime ini termasuk yang lumayan untuk masanya. Mengingat usianya, kurasa kalian takkan menemukan versi video dengan layar melebar. Tapi warna dan efek-efeknya, mulai dari kekuatan Saiga-Saiga Beet maupun tengeki-tengeki api yang dilepaskan Poala, masih lumayan bisa dinikmati terakhir kali aku melihat.

Audionya termasuk lumayan. Sebagian besar lagu pembukanya dibawakan oleh grup musik SunSet Swish yang tengah mulai tenar di masa itu (mereka juga membawakan soundtrack buat Ookiku Furikabute, Code Geass, serta Bleach). Tapi lagu penutup pertamanya yang dibawakan oleh Mizuki Nana menjadi salah satu penutup anime paling berkesan; ditampilkan gimana satu per satu Vandel yang Beet hadapi di seri ini memandang wajah Beet dan kawan-kawannya yang penuh luka pertarungan secara bergantian melalui sebuah bola kaca. Jadinya menurutku benar-benar keren.

Cerita dalam animenya hanya mencakup kira-kira sampai manga buku ketujuh (dari dua belas buku yang mana seri manga ini kemudian menggantung). Tepatnya, tak lama sesudah konfrontasi Beet dan kawan-kawannya dengan Grineed, Vandel berbintang tujuh penguasa Cakrawala Hitam yang senantiasa berusaha bersikap cool, yang telah menetapkan Beet sebagai sasaran sebagai bentuk metode kerjanya untuk menghapus Buster-Buster menjanjikan sebelum mereka tumbuh dan berkembang. Ceritanya terputus persis sesudah reuni kembali Beet dan kawan-kawannya dengan BB Milfa (seorang gadis cantik yang dibalik sikap genitnya, adalah seorang Broad Buster, Buster dengan level di atas 40 yang telah diberi wewenang untuk menangani para Buster yang bertindak melenceng. Saiga miliknya adalah bilah penjepit raksasa Lightbolt Grasper yang berkekuatan petir). Ceritanya terputus saat Beet dan kawan-kawannya baru hendak memulai perjalanan mereka melintasi laut menuju Gransista, ibukota para Buster, di mana mereka akan menuntaskan kasus pengkhianatan yang pernah dilakukan Kissu, sahabat lama Beet yang memiliki bakat luar biasa dalam menggunakan tengeki, yang bahkan pada level di bawah 30 telah mampu menggunakan kelima elemen tengeki sekaligus.

Tapi, meski agak terputus secara menggantung (kelihatannya kabar soal bagaimana manganya kemudian hiatus baru terdengar di pertengahan masa tayang) ada juga sejumlah perkembangan cerita, bahkan pada episode-episode filler, yang menurutku pribadi menjadi benar-benar keren. Beet secara menyeluruh tetap menjadi salah satu seri paling berkesan yang aku tahu.

Adegan penutupnya juga benar-benar keren, dengan bagaimana sesudah kekalahan Grineed, ada hadiah yang kemudian ditawarkan kepada Vandel manapun yang berhasil membawa kepala Beet—–yang  memicu persaingan baru antar para Vandel berbintang tujuh yang kini tinggal enam—-dan bagaimana sosok(-sosok?) misterius pencipta Vandel ditampakkan di akhir seri, saat Vandel pengelola Vandel Hotel, Shagie yang bertelinga kelinci dan tak kalah misteriusnya, akhirnya bertemu kembali dengannya setelah sekian lama.

Seakan menjadi pengakuan atas kepopulerannya, bahkan sempat dibuat season lanjutannya, Beet the Vandel Buster Excelion. Tapi lebih lanjut soal itu, mungkin akan kuceritakan setelah menontonnya sendiri.

Soal Excelion, sekalipun statusnya memang sebagai filler, sebenarnya aku sudah terlanjur agak kecewa dari awal berhubung tak semua karakter berperan dari musim sebelumnya akan tampil kembali.

Salah satu yang secara mencolok absen adalah karakter pendiam dan penyendiri bernama Slade, yang menjadi semacam rival Beet dengan Saiga-nya, tombak angin Silent Glaive yang tak terlihat. Meski sebelumnya datang dan pergi, ia telah dipandang oleh fans sebagai bagian tak terpisahkan dari Beet Warriors yang juga dipandang terdiri atas lima orang.

Terlepas dari semuanya, berhubung hingga kini manganya masih belum berlanjut, masih belum jelas pula bagaimana masa depan seri ini. Dengan telah tumbuhnya target penggemar awalnya dari usia anak-anak, mungkin saja status seri inpun sampai akhir pun bakal terputus kayak begini.

Manga ini hiatus konon karena sakitnya Inada-sensei. Aku tak tahu detilnya sih. Tapi kalau membaca penuturan beliau pada manga buku 11, ada cedera tangan yang sempat beliau alami yang kemudian membuatnya khawatir soal karirnya sebagai manga-ka.

Beet adalah sebuah seri yang menunjukkan sejauh apa sikap pantang menyerah bisa membuatmu maju. Yang seriusan bikin aku kagum adalah bagaimana pesan penting ini bisa tersampaikan dengan cara yang lugas dan tak terlampau ribet.

Manganya tak buruk walau yang pertama kusukai adalah animenya sih.

Yah, kalau kalian tertarik dengan hal-hal kayak begini, mungkin ada baiknya kalian coba melihatnya sendiri.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: C-; Visual: B; Audio: B; Perkembangan: B; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B+


About this entry