Danganronpa: The Animation

Yang suka Danganronpa: Kibou no Gakuen to Zetsubou ni Kokousei (atau yang belakangan juga dikenal sebagai Danganronpa: Trigger Happy Havoc) sebenarnya bukan aku, melainkan adikku. Buat beberapa lama aku sempat tertarik dengan ceritanya. Tapi berhubung gamenya pertama dirilis untuk konsol portabel Sony PSP, dan akunya terlanjur sibuk sehingga enggak sempat menyentuh game-game macam begini, aku belum kesampaian memainkannya. Baru sesudah adaptasi animenya, Danganronpa: The Animation, keluar aku akhirnya berkesempatan melihat seperti apa ceritanya.

Bagi kalian yang penasaran soal kenapa ada motif pistol dan peluru di sepanjang durasi animenya, itu karena game aslinya bukan sekedar game teks di mana kita tinggal ‘pilih-memilih.’ Dalam gameplaynya, ada kursor yang dengan cepat harus kita ‘bidikkan’ ke temuan-temuan petunjuk di layar maupun ke kata-kata yang mungkin mengandung kecurigaan dari karakter-karakter lain. Jadi selain sebagai visual novel, Danganronpa juga ada semacam elemen ‘tembak-menembak’, dan kesempatan yang kita punya untuk melakukan bidikan yang tepat selain durasi waktu juga bergantung pada banyaknya ‘peluru’ kesempatan yang kita punya.

Gamenya sendiri (yang memang termasuk kreatif) dikembangkan oleh Spike Chunsoft dan pertama dirilis pada tahun 2010. Adaptasi animenya yang berjumlah 13 episode dibuat oleh studio (relatif baru) Lerche dan pertama mengudara di musim panas tahun 2013. Kishi Seiji berperan sebagai sutradara, dan Uezo Makoto menangani naskah.

Buat yang penasaran, Danganronpa merupakan gabungan kata ‘dangan’ (‘peluru’) dan ‘ronpa’ (bantahan). Judulnya mengindikasikan bagaimana para karakter di ceritanya harus saling berdebat soal pembunuhan dengan kecepatan tinggi karena dikejar batas waktu.

Beat the twisted evil things

Gampangnya, cerita Danganronpa kira-kira begini.

Sejumlah siswa SMA baru di Perguruan Kibougamine dikurung di sekolah mereka oleh sesosok misterius dan sadis bernama Monokuma, yang berwujud seekor beruang yang putih setengah dan hitam setengah. Monokuma, yang menyebut dirinya sebagai ‘kepala sekolah’ mereka, memaksa para murid baru ini untuk memainkan suatu permainan keji di mana mereka harus membunuh salah seorang teman mereka, dan bisa lolos tanpa ketahuan dalam sesi-sesi penyelidikan yang kemudian berlangsung.

Pada awalnya, hanya sebagian kompleks sekolah yang bisa mereka jelajahi. Tapi bersama setiap pembunuhan yang terjadi, ada lebih banyak bagian sekolah yang bisa mereka akses.

Bersama setiap pembunuhan, sesudah suatu sesi penyelidikan yang lama waktunya telah ditetapkan, suatu sesi pengadilan yang disebut Gakyuu Saiban (‘pengadilan kelas’) kemudian dilakukan. Selama sesi ini, para murid harus membahas temuan-temuan mereka, menemukan siapa di antara mereka yang bersalah, dan akhirnya melakukan voting soal apa yang bersangkutan benar-benar bersalah atau tidak.

(Mereka yang diputuskan bersalah akhirnya akan dieksekusi/dihukum mati, btw.)

Satu hal yang membuat situasinya unik adalah kenyataan bahwa Kibougamine merupakan sekolah ‘super elit’ yang hanya menerima siswa-siswa ‘super berbakat’ dalam bidang-bidang tertentu. Jadi (walau penggambarannya agak komikal dan absurd), seluruh karakter yang terlibat di seri ini sama-sama memiliki kelebihan ‘super’ dalam suatu bidang.

Mereka yang mendapati diri terkurung meliputi:

  • Enoshima Junko; gadis remaja gyaru modis yang dikenal sebagai model fashion ‘super’ level SMA. Perilakunya khas seorang gyaru yang agak berharga diri tinggi dan seenaknya.
  • Oogami Sakura; siswi pendiam, berbadan besar, dan berotot kekar yang merupakan ahli bela diri ‘super’ level SMA. Keluarganya memang memiliki sebuah dojo bela diri.
  • Yamada Hifumi; siswa otaku gemuk yang agak penakut yang dikenal sebagai ahli pembuat doujinshi ‘super’ level SMA. Kelihatannya juga hobi mengumpulkan poster dan aksesoris idola-idola tertentu.
  • Celestia Ludenburg; gadis kalem berpakaian gothic lolita yang dikenal sebagai penjudi ‘super’ level SMA. (Perangainya terkadang berubah bila ada sesuatu yang tak berjalan sesuai perhitungannya.)
  • Fujisaki Chihiro; seorang anak pemalu berbadan kecil yang merupakan programmer ‘super’ level SMA. Sering terlihat dengan membawa laptop.
  • Kuwata Leon; seorang pemuda berangasan yang dikenal sebagai bintang bisbol ‘super’ level SMA (walau diindikasikan sebenarnya ia inginnya menjadi rocker).
  • Ishimaru Kiyotaka; siswa teramat disiplin dan rapi yang berpegang teguh pada peraturan, dikenal sebagai disipliner ‘super’ level SMA. Tampangnya agak mirip seorang perwira.
  • Maizono Sayaka; gadis cantik yang menjadi anggota suatu grup idola terkemuka, sehingga dikenal sebagai bintang idola ‘super’ level SMA. Ramah terhadap semua orang dan memiliki intuisi lumayan tinggi.
  • Fukawa Touko; gadis muram berambut kepang yang sangat memperhatikan citra diri, namun sesungguhnya adalah novelis best seller dan dikenal sebagai sastrawan ‘super’ level SMA. Memiliki bakat sebagai stalker.
  • Asahina Aoi; gadis periang berkulit coklat yang dikenal sebagai perenang ‘super’ level SMA. Gemar terhadap donat.
  • Oowada Mondo; remaja berdarah sangat panas yang menjadi anggota geng motor ‘super’ level SMA. Gaya rambut dan cara hidupnya sangat menonjolkan maskulinitas.
  • Hagakure Yasuhiro; remaja pemalas yang belakangan dikenal di kalangan cenayang, sehingga dikenal sebagai cenayang ‘super’ level SMA. Karena pernah tak naik kelas beberapa kali, dirinya yang paling tua usianya di antara mereka.
  • Kirigiri Kyouko; gadis pendiam, tenang, dan bersarung tangan yang karena suatu sebab dikenal sebagai ??? ‘super’ level SMA. Belakangan terkuak dirinya kehilangan sebagian ingatan masa lalunya.
  • Togami Byakuya; lelaki dingin yang merupakan pewaris perusahaan konglomerat ternama keluarganya, yang karenanya dikenal sebagai pewaris ‘super’ level SMA. Perhitungan dan waswas dalam memandang segala sesuatu.
  • Naegi Makoto; seorang siswa SMA kebanyakan yang kelihatannya diterima di Kibougamine semata karena keberuntungannya, sehingga dikenal punya kemujuran ‘super’ level SMA. Dirinya yang menjadi tokoh utama.

Monokuma dengan segala cara berusaha memaksa murid-murid ini melakukan pembunuhan. Ia terutama melakukannya lewat manipulasi informasi dan permainan pikiran soal apa-apa yang boleh diketahui oleh Naegi dan kawan-kawannya. Dunia luar terisolir dari mereka. Lalu Monokuma tampil sebagai sosok yang nampak seakan tak bisa hancur ataupun ditentang.

Tapi seiring perkembangan cerita, Naegi tumbuh menjadi orang yang memiliki andil terbesar dalam memecahkan misteri-misteri yang ada. Lalu seiring terjalinnya persahabatan antara dirinya dan teman-temannya yang tersisa, terkuak semakin banyak pula keganjilan tentang status Perguruan Kibougamine, berapa jumlah orang yang terkurung, serta tentang kenyataan soal diri mereka sendiri.

Never Say Never

Aku tertarik dengan anime Danganronpa selain karena adikku, tapi juga karena Mikage Eiji-sensei, pengarang seri Utsuro no Hako to Zero no Maria, pada suatu wawancara yang diterjemahkan beberapa bulan sebelumnya di buku-sebelum-buku-terakhir Hakomari, menyatakan bahwa dirinya juga tertarik untuk mengikutinya. Walau aku enggak lagi mengikuti Meitantei Conan, pada dasarnya aku memang suka cerita-cerita misteri. Tapi seri ini terbukti menjadi tak terlalu berat di misteri sejauh yang aku harapkan sih.

Sekali lagi, mungkin karena masalah durasi, dan ditambah dengan jumlah karakter yang banyak, aspek penyelidikan dan pemecahan misteri di anime Danganronpa tak terlalu disorot. Maksudku, hal-hal kayak penemuan petunjuk, munculnya misteri, serta pemaparan motif pelaku, jadinya tak banyak dipaparkan ketimbang seri-seri misteri lain. Yang lebih banyak dilihat adalah interaksi di antara para karakter—yang menurutku terpapar dengan lumayan baik. Mungkin karena banyaknya seiyuu veteran yang berperan di dalamnya. (Mereka  juga menyuarakan karakter-karakter yang sama di game.)

Eksekusi ceritanya juga lebih ngefokusin pada pemaparan plot. Temponya jelas jadi enggak sebagus di gamenya sih. Tapi inti ceritanya lumayan berhasil tersampaikan. Lalu, agak mirip kasus di Devil Survivor 2: The Animation, yang menjadi tonjolan sesungguhnya di seri ini jelas adalah aspek presentasinya.

Di atas, aku sempat menyinggung soal bagaimana pembunuh yang ketahuan bersalah kemudian dihukum mati oleh Monokuma. Cara-cara hukuman matinya itu…

Uh.

Aku enggak nyaman ngomong begini, tapi adegan-adegan itulah yang menjadi daya tarik utama seri anime ini yang sesungguhnya. Lebih baik enggak kusinggung lebih banyak agar lebih penasaran.

Sebelum aku lupa, musiknya menurutku termasuk keren. Aku suka lagu penutup maupun pembukanya. Lalu bahkan ada lagu yang dinyanyikan Monokuma juga di dalamnya. (Yang mengisi suara Monokuma dulunya mengisi suara Doraemon btw.) Jenis musiknya mengingatkanku pada soundtrack pada Persona 4: The Animation. Ada warna hiphop dan techno. Tapi mungkin itu cuma aku saja.

Seperti yang telah menjadi kekhasan Kishi-sensei, ada banyak permainan CG yang menarik di seri ini. Motif peluru di dalam gamenya dihadirkan dengan lumayan akurat. Bagi yang belum paham, kesannya memang jadi keju sih. Tapi di sisi lain itu salah satu daya tariknya yang lain.

Akhir kata, ini satu lagi seri di mana Kishi-sensei lagi-lagi gets the job done dalam mengadaptasi sebuah game menjadi anime dengan hanya 13 episode. Aspek ceritanya jadi terkompromikan. Tapi sebagian besar konten utama gamenya berhasil tersampaikan dengan pacing yang lumayan.

Danganronpa: The Animation lumayan bisa membuat aneh pada beberapa titik. Para karakternya dengan sengaja dibuat stereotipikal dan dengan sengaja pula dibuat aneh. Lalu karena ceritanya memang dipampatkan, ditambah plotnya yang aslinya memang simpel, ini bukan sesuatu yang dengan mudah akan kurekomendasikan ke orang. Tapi hasil akhirnya keren. Beneran keren.

Kalau kita beruntung, mungkin game sekuelnya juga akan dianimasikan suatu saat nanti.

Seri ini tak memberiku apa yang semula kuharapkan. Otakku tak memperoleh latihan pengamatan dan deduksi. (Aku tahu aku bisa saja mulai membaca Meitantei Conan lagi. Tapi…) Tapi kerjaanku lagi banyak belakangan, dan di akhir, seri ini tetap menjadi pengalihan perhatian yang bagus saat aku berusaha mencerna sejumlah hal. Aku tetap terkesan pada adegan akhir saat Naegi dan kawan-kawannya melangkahkan kaki ke dunia luar yang masih tersisa. Jadi kurasa seri ini boleh juga.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: B+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B+ (dalangnya Junko)

Junko, dunia hancur, semua sempat dihapus ingatannya


About this entry