Puella Magi Madoka Magica Movie 1+2

Ngebahas soal main stage AFA ID 2013 lalu, pada dua hari pertama sempat diputar kedua film dari proyek Mahou Shoujo Madoka Magica Gekijouban. Film pertama bertajuk Hajimari no Monogatari atau Beginnings (‘awal mula’). Sedangkan film kedua bersubjudul Eien no Monogatari, atau Eternal (‘abadi’ atau ‘keabadian’). Kedua film berdurasi rata-rata dua jam dan cakupan ceritanya bila digabung sepenuhnya meliputi ketiga belas episode seri TV yang ditayangkan pada awal tahun 2011 lalu.

Bagi yang belum tahu (walau aku agak susah percaya kalau ada yang belum tahu), seri Mahou Shoujo Madoka Magica adalah anime bergenre mahou shoujo yang dengan sukses mendobrak segala pakem mahou shoujo yang sebelumnya ada. Proyek besar studio SHAFT ini dibuat lewat kerjasama antara sutradara Shinbo Akiyuki (yang telah dikenal karena sentuhan narasinya yang nyentrik), penulis skenario Urobuchi Gen (yang menuai ketenaran sebagai penulis cerita Fate/Zero), serta desainer karakter Ume Aoki (yang membuat seri manga Hidamari Sketch).

Seri ini mempunyai segala elemen yang lazimnya ada dalam cerita mahou shoujo, tapi berakhir begitu berbeda dari seri mahou shoujo manapun yang pernah ada. Para karakternya imut, adegan-adegan aksinya keren, visualisasinya menyeramkan serta ceritanya gelap dan bahkan tragis. Lalu akhir ceritanya benar-benar memuaskan sekaligus menyentuh.

Aku sudah mengulas tentang seri ini sebelumnya. Jadi aku agak malas membahas soal ceritanya lagi. Tapi keseluruhan ceritanya enggak berubah, dan pastinya, semua karakter lama: Kaname Madoka, Akemi Homura, Tomoe Mami, Miki Sayaka, serta Sakura Kyoko; sama-sama tampil kembali.

Tapi walau ceritanya masih sama, aku tetap akan merekomendasikan untuk menonton kedua film layar lebar ini, soalnya kedua film ini bukanlah film kompilasi.

Sekali lagi, kedua film ini bukan film kompilasi!

Ini kali pertama aku merasa begini. Ceritanya sama. Alur adegan-adegannya sama. Tapi aku merasa seperti sedang melihat sebuah tontonan yang sama sekali baru dan belum pernah kulihat sebelumnya. Hampir seluruh animasinya terasa seperti dibuat dari awal.  Lalu walau aku sudah tahu soal apa-apa selanjutnya yang akan terjadi, kedua film ini tetap benar-benar bisa kunikmati. Ini persis seperti penceritaan ulang sebuah cerita yang sama tapi dengan cara yang berbeda.

Tapi mungkin ini ada hubungannya dengan telah lamanya sejak aku menonton seri TV-nya juga sih…

Kalau boleh dikatakan, kedua film ini bisa semacam versi extended dari seri TV-nya. Adegan-adegannya agak diperpanjang dan diperbaiki agar lebih jelas penyampaiannya. Lalu sejumlah adegannya diperkeren dan dijabarkan agar lebih gamblang (walau aku sempat bingung soal kenapa adegan mimpi Madoka yang teramat keren di awal seri TV jadi ditiadakan dan hanya disebut selintas untuk versi ini).

Pada film kedua, karakter Madoka dan Mami sama-sama tampil lebih banyak. Jadi ada kepuasan tersendiri menyaksikan aksi lebih banyak dari Madoka dengan busur dan panahnya. (Fufu, kalian yang sudah mengikuti seri TV-nya pasti tahu maksudku.)

Beginnings memaparkan cerita sampai ke pertengahan konflik seputar Miki Sayaka, dan berakhir menggantung dengan cara keren dengan diiringi lagu ‘Magia’-nya Kalafina. Seperti yang terkesan di lagu pembuka baru untuk kedua film ini yang dibawakan duo ClariS, kedua film ini juga seakan mengangkat lebih dalam seputar hubungan Madoka dengan sang murid pindahan misterius yang menjadi tokoh antagonis, Akemi Homura.

Tapi ada suatu kesan tertentu yang bikin aku merasa kalau tetap lebih baik jika kalian mengikuti seri TV-nya dulu sebelum menonton kedua film layar lebar ini. Walau enggak harus juga sih. Soalnya sepanjang seri TV, kita kayak dibikin bertanya-tanya soal cerita ini sebenarnya tentang apa dan bakal dibawa ke mana. Sedangkan pada kedua film ini, jawaban pertanyaan-pertanyaan itu sudah disiratkan sejak awal, dan makanya bagi penonton baru jadinya mungkin enggak sekeren itu lagi.

(Sekali lagi, seluruh adegannya terasa berbeda. Tapi sekali lagi juga, mungkin itu cuma aku.)

Alasan sesungguhnya kenapa proyek film ini dibuat terletak pada dibuatnya film ketiga, Hangyaku no Monogatari, atau Rebellion (‘pemberontakan’), yang akan membeberkan kelanjutan kisah sekaligus kepastian nasib para Mahou Shoujo di atas. Film ketiga ini baru muncul di bioskop-bioskop Jepang pada bulan-bulan ini dan cerita pada film ketiga itu jelas sama sekali baru.

Ada sedikit cuplikan tentangnya pada akhir film kedua, dan telah dipastikan akan adanya kontrak Mahou Shoujo baru yang dibuat Kyubey dengan salah seorang tokoh di sana…

Oya. Aku belum ngebahas soal hal-hal teknisnya.

Keren.

Itu aja.

Efek itungan mundur dan tirai diangkat di awal dan akhir kedua film bener-bener keren. Lalu itu… aktingnya Chiwa Saito di sana… damn. Cara dia ngucapin sejumlah baris dialognya dia di sana aja udah bisa ngaduk emosi buatku dan ngebikin air mataku ngeleleh. (Dirinya menikah belum lama ini btw. Selamat menempuh hidup baru!)

Dramatisasi adegan-adegannya benar-benar dipertahankan. Walau beberapa adegan di film kedua, yakni pembeberan terakhir yang diungkap Madoka soal apa sesungguhnya yang terjadi, serta dilema yang Madoka hadapi berkenaan ibunya, malah jadi muncuat agak tiba-tiba bila dibandingkan dengan di seri TV-nya. Tapi kalau dicermati sampai akhir, maksudnya tetap bisa tersampaikan.

Ngomong-ngomong soal itu juga, bu guru wali kelas Madoka mendapat porsi tayang lebih banyak

Eniwei, ini sekali lagi sebuah tayangan keren yang bikin aku nyesel enggak beli merchandise Madoka apapun selama AFA kemarin. Kalau kau suka Madoka Magica, ini tetap direkomendasikan sekalipun kau pernah mengikuti seri TV-nya.

(Aku agak kaget bila ada yang enggak suka seri ini sih. Tapi ya sudahlah.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: A+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A


About this entry