Anime Festival Asia Indonesia 2013

Jadi, ceritanya, pada hari Sabtu tanggal 9 September minggu lalu, aku berkesempatan untuk main ke acara Anime Festival Asia Indonesia 2013 yang dilangsungkan di JCC.

…Sebenarnya, pengalamannya enggak sepenuhnya bisa dibilang menyenangkan. Apalagi berkesan. Tapi karena ada hal-hal tertentu yang kayaknya perlu aku ungkapkan/luruskan/sampaikan sesudah kunjunganku ke sana, aku terpikir untuk menuliskannya di sini.

Jadi bagaimana baiknya aku memulainya ya?

Sebelumnya, biar kujelaskan kalau sebenarnya aku malas ke acara-acara kayak begini. Mungkin ini faktor usia. Bukannya fisikku udah reyot saking tuanya (atau gendutnya) aku ato gimana sih (Paling belakangan aku kurang tidur. Man, kelopak mataku ampe berlipat). Cuma kayak, aku lagi di masa-masa saat acara-acara kayak gini teramat sulit buat dijadiin prioritas. Ada banyak hal lebih penting yang mesti kuurus.

Tapi kemudian, seorang temanku—sebut saja D, kayak pemburu vampir yang punya kuda cyborg itu—kemudian menginfokan kalau fripSide bakal hadir dalam konser I❤ Anisong di acara ini.

Aku spontan saja langsung “APAAAAAAAA?!” dan setengah mati mengupayakan agar bisa datang ke acara ini.

fripSide adalah grup yang membawakan sebagian besar lagu pembuka untuk seri anime To Aru Kagaku no Railgun. Mungkin engga beresonansi buat semua orang, tapi kebanyakan irama dan lirik lagu-lagu mereka bagiku beneran keren (walau mungkin aku juga bakal biasa saja sebelum nemu mindset yang tepat dari lagu-lagunya).

Mereka memiliki imej yang sudah terlanjur agak sulit dipisahkan dari To Aru Kagaku no Railgun. Ada banyak referensi terhadap seri itu dalam setiap performa maupun video mereka. Sehingga makanya, aku sempet agak engga percaya pas D pertama mengatakannya. Maksudku, emang mereka dikenal di sini? Apa orang-orang di sini tahu mereka siapa? Penggemar To Aru Kagaku no Railgun di sini perasaan juga enggak sebanyak itu.

Tapi pas kulihat di situs web AFA, mulutku ternganga karena mereka beneran bakal tampil. Mungkin ada hubungannya soal bagaimana ‘Sister’s Noise’, single baru mereka yang juga digunakan sebagai lagu pembuka seri To Aru Kagaku no Railgun S yang baru, secara keren sempat menempati peringkat 1 di Oricon Chart.

Selama seminggu aku lalu kayak berjuang buat bisa dapet tiket—yang lumayan sulit berhubung aku sibuk dan seharian di kantor (dan ternyata juga sulit karena aku males ke bank).  Aku lupa sama sekali soal keenggananku ke tempat ramai, perasaan kalo aku udah terlalu tua, dsb. Yang kepikiran itu cuma satu: aku pengen nonton fripSide. Dan karena itu pula aku sama sekali enggak nyiapin diri buat ngantisipasi hal-hal lain yang kemudian kutemukan di sana.

Di sisi lain, berhubung dia tinggal di kota berbeda, D pernah mengajakku ketemuan di AFA tahun lalu. Tapi sayang, pada tahun itu aku belum punya cukup alasan dan motivasi dan uang untuk datang. Sayangnya lagi, pada tahun ini justru D yang tak bisa datang. Jadi, dari satu sisi, aku merasa bertanggung jawab perlu datang ke AFA untuk mewakili D juga.

Oke, yang satu itu mungkin sebenarnya agak bohong.

Tapi aku punya sepupu yang berstatus(?) sebagai seorang wota. Dan karena kedekatanku dan pengharapan yang kubagi bersama dialah, aku merasa beneran terdorong untuk datang.

Daftar Acara

Kalau kupikir lagi, selain nonton fripSide, apa yang kuharapkan dengan datang ke sana sebenernya sederhana. Aku pengen nemu hal-hal menarik yang sebelumnya enggak aku tau. Lalu kalo bisa nambah kenalan dengan ngobrol-ngobrol.

Lalu jadinya, adik perempuanku menemaniku berangkat (ya, aku mentraktir dia buat semua biayanya) karena di samping dititip belanjaan di Creator’s Hub, dirinya juga pengen nonton Kalafina.

Tapi enggak. Semua pengharapanku di atas sama sekali enggak kewujud.

Yeah, aku teramat bersyukur bisa nonton fripSide. Terutama karena mereka tampil pertama di konser. Tapi… Tapi…!

…Aku enggak beli Gunpla. (PADAHAL ADA MODEL MG RX-78 GUNDAM VERSI 3!)

…Aku enggak beli Figma. (PADAHAL ADA FIGMA YUZURIHA INORI YANG DIDISKON 40%!)

…Aku enggak dapet tanda tangan siapa-siapa.

…Ternyata CD album atopun single fripSide enggak ada yang jual.

…Sepupuku gagal ketemuan dengan mantan(?) gebetannya karena dia pulang duluan.

…Adikku gagal ngedapetin belanjaan titipan teman-temannya di Creator’s Hub karena kami berhasil masuknya siang.

…Sepupuku gagal beliin Gunpla yang dititipin oleh temannya karena juga engga dijual. (Dia dititipin mokit SD Gundam.)

…Temenku yang mestinya menemaniku di sini pada akhirnya ga dateng dengan galau karena mesti jadi panitia suatu acara kemahasiswaan di kampusnya. (Dia jadi dosen, btw.)

…Udah hampir engga ada yang tersisa begitu kami sampai di stand Shingekyo ataupun Madoka Magica.

…Lalu aku dan adikku gagal nonton Kalafina karena mesti ngejar travel untuk bisa pulang.

… …

OTL

Tempatnya penuh. Itu kesan pertamaku akan AFA 2013.

Tempatnya luar biasa penuh.

Aku bersyukur banyak hal dilancarkan untukku dan adikku selama perjalanan kami di sana. Tapi, uh, intinya pengalamannya enggak semenyenangkan yang mungkin kami harapkan. (Sebagian besar karena salah kami juga sih. Tapi kalian tahu maksudku.)

Untuk membeli makanan atau ke toilet mesti berjuang. Saat memasuki wilayah Creator’s Hub untuk melihat-lihat barang dagangan independen, belum apa-apa aku sudah disapu ombak manusia yang bikin aku kebawa arus. Aku mikir, gila! Apa-apaan ini? Aku tahu kepadatan penduduk Indonesia termasuk tinggi. Tapi apa yang kayak ginian beneran mungkin terjadi di Jakarta?!

Parahnya stand-stand penjual makanan dijajarin persis di depan pintu masuk ke wilayah itu.

Untuk navigasi kita di mana aja bener-bener susaaaaaaaaaaaaaah!

Lalu karena saking penuhnya, sama sekali enggak ada kesempatan atau peluang buat berhenti sejenak di suatu tempat dan ngajak-ngajak ngobrol orang-orang yang kira-kira ramah.

Sebelum berangkat, aku sempat ngekhayal. Kalau aku dateng ke Moe Moe Kyun Maid Café di sana, begitu mereka menyambutku dengan “Okaerinasai, Goshuujin-sama!” aku bakal menjawab “Tadaima.” dengan suara bass nan lembut, sembari memasang tampangku yang ter-cool, dan kemudian para maid terkyaa-kyaa.

Tapi WTF. Itu enggak mungkin terwujud! Enggak dalam kondisi kayak kemarin!

Aku juga dengan begonya enggak bawa kamera! Padahal bukan cuma orang-orang cosplay. Figur-figur Gunpla keren serta Figma dan Nendoroid yang dipajang-pajang di etalase juga bisa kufotooo! Kalo pake kamera hape doang enggak akan cukupppppp! (Uh, bukan berarti aku punya kamera juga sih—oya, aku belum ngulas Photo Kano.)

Lalu meski aku bisa ngeliat wujud Suenaga Mirai di mana-mana, enggak sedikitpun aku ngeliat sosok Danny Choo! Siaaaaaaaaaaaaaaal!

Aku sempat kepikir buat bawa duit 5 juta sebelum berangkat, tau. LIMA JUTA. Tapi kemudian, sisi dewasa dan realistis dalam diriku berpikir, “Enggak! Kamu enggak boleh ngabisin duit sebanyak itu buat hal-hal gaje kayak gini!” dan makanya aku enggak beli apa-apa dan malah hampir enggak bisa pulaaaaaang! Dan walo aku tau itu semua buat kebaikanku sendiri, aku tetep aja KESEL ama diriku sendiri. Mana sepanjang acara kemarin, seakan buat mengkhianati resolusiku sendiri, aku nyari-nyari ATM buat narik uang. Tapi ATM dari bank tempat aku jadi nasabah berusaha kayak gimanapun enggak bisa ketemu…

O…TL

Aku seriusan jadi merasa kayak orang bego.

Bicara soal cosplay, aku tahu puncaknya adalah pada hari Minggu malam keesokan harinya. Tapi pas aku datang, lumayan banyak juga cosplay keren kelihatan. Kebanyakan cosplay tahun ini berpusar di sekeliling Shingeki no Kyojin sih.  Ada seorang cewek sangat cantik yang secara teramat pas cosplay sebagai Mikasa Ackerman. Ada pasangan bapak-bapak dan ibu-ibu yang secara ngejutin juga cosplay sebagai bagian scouting legion (Ngeliat mereka, kayaknya aku ga bisa ngeluh lagi soal gimana aku udah ketuaan.). Kalau aku enggak salah lihat, ada perempuan paruh baya yang kayaknya juga datang dengan di-cosplay oleh anaknya. Ada seorang cowok teramat sangaaat besar yang cosplay secara ‘imut’ sebagai Kaname Madoka. Ada cewek yang sekilas enggak menonjol yang dengan telat kusadari memakai cosplay sangat apik dari Sengoku Nadeko. Ada seorang cewek di antara para cosplayer yang pakai baju biasa tapi karena saking mungil dan manisnya kusangka dirinya sedang cosplay. Lalu yang mengejutkanku, bahkan ada yang cosplay sebagai Zeheart Gallette—tampangnya sama sekali enggak mirip, tapi ekspresi keras yang dia pasang sewaktu aku ngelihat dia lumayan pas. (Enggak. Kali-kali masih ada yang nanya, aku enggak ngeliat siapapun cosplay sebagai Katsura Hinagiku.)

Berhubung venue-nya nyambung dengan Indonesian Game Show, aku ngeliat lumayan banyak pengunjung yang membawa-bawa tas kertas gede League of Legends. Secara menyebalkan, venue sebelah tempat IGS diadakan itu sedang enggak bisa kuakses. Walau adikku sempat cerita kalau dirinya sempat berhasil nyusup ke sana. (Padahal yang ngebanggain diri karena main MGS selama ini itu aku…) Kayaknya aku juga sempat ngeliat seseorang cosplay sebagai Two Face-nya Batman. Aku jadi bertanya-tanya, apa ada acara cosplay juga di IGS? Omong-omong, cosplay dia keren. Jadi pemandangan saat orang tersebut narik tangan seorang cewek bule cantik melintasi area depan AFA benar-benar jadi terasa sureal.

Asal kalian tahu, wilayah Senayan sekitar situ terkena macet sampai malam di sekitar sana gara-gara event-event tersebut. Ada dua event lain, yakni pameran oceanografi serta pameran franchise Indonesia yang juga hari itu diadakan di JCC. Jadi mungkin bisa kalian bayangin ramainya tempat itu kayak apa.

Perjalanan aku dan adikku untuk bisa tiba dan masuk ke sana juga enggak benar-benar bisa dibilang mudah. Begitu tiba di Jakarta, hal pertama yang keluar di mulutku adalah “Ini… di manaaaa?!” karena tempat pemberhentian angkutanku berbeda sama sekali dari yang terakhir kuingat. Kami ngelewatin berbagai halangan dan rintangan sebelum bisa sampai JCC dan akhirnya memperoleh tiket. Hujan sempat turun, bahkan sebelum kami masuk. Lalu antrian ternyata masih lumayan panjang bahkan sesudah jam 12!

…Aku enggak akan menyebutnya sebagai cobaan sih. Maksudku, aku pernah ngalamin hal-hal lebih gila dari ini. Tapi…

Aku kayak jadi mikir-mikir lagi soal aku ke sana sebenernya mau ngapain.

You see, bahkan semua merchandise dan sebagainya itu sudah… enggak ‘sengefek’ itu lagi bagiku. Sesudah datang ke AFA kemarin, aku kayaknya jadi ngerti gimana perasaan Madarame Harunobu sesudah ia wisuda dari universitasnya.

Kayaknya aku juga perlu cerita soal gimana sinyal hape di sana benar-benar jelek. Entahlah. Mungkin ada semacam interferensi sinyal gila-gilaan yang tengah dilakukan oleh agensi mata-mata manaa gitu. Maka dari itu aku lumayan bersyukur aku enggak ampe benar-benar terpisah dari adikku dan sepupuku, dan di penghujung hari akhirnya tiba di rumah dengan selamat.

No Rant, No Life

Bicara soal stand-stand lain yang ada di sana, ada promosi lumayan mengesankan seputar Love Live! School Idol Project (kudengar animenya lumayan sukses). Itu letaknya di sekitar stand Bushiroad, jadi tentu aja ada promo untuk permainan-permainan kartunya juga, yang di antaranya meliputi Cardfight! Vanguard dan Weis… Weis… Weiss Schwarz?

Ada wilayah Tamashii Nation, yang secara keren memajang Gunpla dan SIC. Aku menyempatkan diri mengambil kartu nama dan flyer mereka, kali-kali suatu waktu ntar aku atau teman-temanku punya kesempatan buat menekuni kembali dunia plamo. Kayak yang sudah kusinggung, aku menyesal enggak membawa kamera ‘layak’ dengan fitur zoom yang memungkinkanku untuk memotret mainan-mainan keren ini.

Ada sederet mesin gachapon di sekitar sana yang juga sempat dicoba oleh adikku. (Dia dapet figur seseorang dari Tales of the Abyss kalo ga salah.)

Lalu tentu pula ada stand-stand para penyedia tontonan anime yang meliputi Animax (tentu saja), Daisuki.net, serta Anibee. Kita bisa melihat sejumlah promo dari anime-anime yang sedang dan akan tayang di saluran-saluran tersebut. Tapi mungkin soal ini baiknya juga kubahas secara terpisah.

Aku sempat mengunjungi main stage-nya. Tapi soal itu kuceritain di waktu lain deh.

Aku juga sempat mampir ke stand Elex/MnC/Level Comics, dan lagi-lagi aku galau karena enggak bawa cukup uang. Ada lumayan banyak komik baru sebenernya yang ingin kubeli (Berhubung turnover komik-komik sekarang cepat dan aku jarang sempet ke toko buku, Shingekyo edisi lokal masih belum kubeli juga.) Tapi pada akhirnya aku harus berpuas diri dengan melihat-lihat saja.

Ngomong-ngomong soal enggak bisa beli, buat para butler di stand Re:ON Comics, mohon maaf pada akhirnya aku enggak jadi beli edisi satu dan duanya. Aku dengan telat nyadar kalau uangku ternyata enggak cukup. Lalu ada sejumlah karya ori yang sebenernya ketarik kubeli di stand Anime & Manga Haven di Creator’s Hub. Mohon maaf pula karena akhirnya aku enggak melakukan pembelian.

Sedikit uang yang kubawa akhirnya kubelanjain untuk membeli album Eir Aoi dan Asian Kung Fu Generation di stand Sony Music. Eir Aoi masih baru mulai dikenal pada AFA tahun lalu. Tapi pada tahun ini, sesudah tampil membawakan lagu-lagu untuk seri-seri Fate/Zero, Sword Art Online, dan Kidou Senshi Gundam AGE,  aku agak dibuat penasaran dengan perkembangannya. Daripada merdu, suaranya menurutku lebih terkesan kayak ‘kuat’, membuat dia terkesan jadi semacam Saber-class ketimbang Caster-class.

Err, eniwei, soal AKFG, dari dulu aku memang penggemar berat mereka. Dari dulu aku emang berharap bisa nemu album mereka yang ori, dan setelah sekian tahun, akhirnya kutemuin satu di sini. Album ini adalah album lama dari pertengahan dekade 2000-an, yang kebetulan memiliki beberapa lagu favoritku macam Loop&Loop.

Teringat soal Sword Art Online, franchise ini masih tetap populer walau perhatian terhadapnya belakangan agak tertutup oleh Shingekyo. Di standnya, dipajang model replika dari tiga pedang yang dulu digunakan Kirito dan Asuna selama di Aincrad. Bentuk ketiga pedang itu benar-benar keren, dan berhubung bentuknya panjang, aku sempat kesulitan mengambil foto-foto kenangannya agar kekerenannya tak hilang.

Untuk suatu alasan, ada juga stand Sonic the Hedgehog di AFA. Di sini ditampilkan riwayat landak berkecepatan suara yang jadi maskot pengembang game SEGA, dan sekaligus sedikit mempromosikan soal game-game barunya. Aku sempat bertanya-tanya, apa mungkin stand ini salah posisi dan mestinya ditempatkan di IGS? Gimanapun, Sonic termasuk karakter game dengan sejarah yang menarik—dia sempat menjadi saingan kepopuleran Mario dalam perang konsol game di paruh awal tahun 90an. Tapi ketenarannya agak meredup pada tahun-tahun belakangan, dan belum ada lagi gamenya yang telah menyamai kehebatan game-game 2D-nya di zaman dulu.

Satu stand lagi yang kayaknya perlu kusebutkan adalah hadirnya stand Bima Satria Garuda. Di stand ini dipromosikan berbagai mainan serta karakter dari seri tokusatsu baru yang menjadi proyek bersama antara pihak TV lokal (RCTI) dan Jepang ini. Banyak juga orang yang memperoleh topeng Bima yang mereka kenakan sepanjang acara. Aku ngelihat sendiri orang-orang tertentu yang kayaknya ngiler karena pengen punya juga.

…Sebenarnya, soal Bima, udah ada beberapa teman yang telah memintaku untuk membahasnya. Tapi kalau kalian melihat sendiri berbagai tanggapan di forum-forum soal episode-episodenya yang awal, mungkin kalian bisa bayangin alasan kenapa aku belum juga melakukannya.

Kau tahu, aku menulis sebagai hobi. Lalu karena gemar mengikuti perkembangan anime, standarku akan sebuah cerita bagus mungkin agak… lain dibandingkan kebanyakan orang. Makanya, aku benar-benar berharap skenario cerita Bima bakalan bisa lebih seru dalam perkembangannya ke depan. Soalnya, dalam standarnya yang sekarang, masih ada celah lumayan kebuka buat studio tokusatsu lain untuk masuk dan menjalin kerjasama dengan pihak lokal yang lain pula.

Pangsa pasarnya menurutku emang ada sih.

Soal akting, aku enggak akan terlalu mempermasalahkan sih. Soalnya elemen aksi dan perkembangan cerita akan jadi yang lebih kuperhatikan dalam seri-seri tokusatsu.

Ijime? Dame!

Bicara soal konsernya, acaranya secara tepat waktu dimulai sekitar pukul 18.30. Aku, adikku, dan sepupuku di jam segitu sudah duduk manis di kursi yang tersedia. Seluruh area AFA sudah mulai sepi dan kebanyakan orang sudah beranjak pulang. Tapi kesepian itu juga agak membawa kesedihan karena kebanyakan dagangan yang dijual juga sudah enggak ada.

OTL

Eniwei, aku enggak tahu soal sepupuku, tapi aku dan adikku sebenarnya sama sekali bukan jenis orang yang rajin nonton konser (Aku pernah ke Java Jazz sebelumnya sih.). Di kepalaku masih tiba-tiba suka muncul pikiran “This is stupid.” Tapi aku tetap aja terlonjak dari kursi dan langsung nge-woot sembari mengayun-ayunkan lightstick saat diumumkan (di sela-sela lagu ‘Game Over’ Hatsune Miku) kalau fripSide yang mendapat giliran tampil paling pertama.

Nuansa nyanyiannya agak berbeda ketimbang kalau mendengar rekaman lagu-lagunya. Mungkin efek dari sound system-nya. Tapi tetap aja merupakan sebuah pengalaman tersendiri bisa menonton mereka secara langsung.

Mereka membuka pertunjukan dengan ‘Level 5 – Judgelight’ yang menjadi lagu pembuka kedua musim tayang pertama To Aru Kagaku no Railgun. Disusul dengan beberapa lagu lain seperti ‘Heaven is a Place on Earth’ dari Hayate no Gotoku, satu lagu relatif baru dari adaptasi anime Da Capo III, serta tentu saja ‘Only My Railgun’ yang mengawali ketenaran mereka.

Sekali lagi di pikiranku muncul pertanyaan, “Apa iya di sini mereka setenar ini?” Tapi belakangan kutahu sendiri, dan terindikasi lewat percakapan yang mereka lakukan dengan audiens di sela-sela nyanyian, kayaknya memang cuma segelintir orang sepertiku yang alasan utamanya datang ke AFA adalah karena mereka. (Nanjo Yoshino-san, maaf, yang hafal lirik ‘Only My Railgun’ di sini emang belum banyak! >.<)

Aku agak kepikiran karena Waka-chan dan Sousuke (ya, dia cowok), dua penari latar yang tampil di sepanjang giliran fripSide, masing-masing cosplay sebagai Misaka Mikoto (yang berambut pendek, dia tokoh utama di To Aru Kagaku no Railgun) dan Shirai Kuroko (yang berambut kuncir dua, dia ceritanya adalah sahabat terdekat Misaka)—dua karakter yang aku tak yakin di sini sudah bisa dibilang dikenal.

Tapi menurut sepupuku, sesudah konser kemarin, sejumlah temannya mulai suka pada fripSide juga. Jadi kurasa bagiku ini suatu hal baik.

Aku agak kecewa karena mereka tak membawakan lagu-lagu dari single terbaru mereka, ‘Eternal Reality’ (yang belakangan jadi lagu pembuka kedua To Aru Kagaku no Railgun S). Tapi mereka menutup pertunjukan mereka dengan ‘Sister’s Noise’, dan pada titik ini aku bisa dibilang ‘puas’ sebab alasan utama kedatanganku telah tercapai.

Selain Kalafina, band yang sebenarnya memperoleh sorotan utama di konser ini adalah Baby Metal. Mereka grup yang sebenarnya masih asing buatku. Tapi sepupuku (dan teman-temannya) kelihatannya heboh sendiri soal AFA tahun ini semata-mata karena mereka.

Err, sesudah melihat sendiri pertunjukan mereka kemarin, kurasa aku bisa paham alasannya.

Mereka grup yang mengkombinasikan irama-irama metal keras dengan keimutan dan usia (sangat?) muda para personilnya. Mereka tampil all out tanpa jeda lama selama giliran mereka.

Merekalah alasan sesungguhnya para wota berkumpul di sini!

Kebetulan posisi kursiku persis di sebelah salah satu wota. Lalu aku lumayan terkejut saat melihat betapa kondisi mentalnya berubah begitu Baby Metal tampil.

Soal Baby Metal, aku beneran terkesan dengan performa mereka. Seluruh gerakan tarian mereka enerjik (dan selayaknya pertunjukan metal, kelihatannya mengandung semacam simbolisme tertentu). Aku memperhatikan gimana mereka terus menampilkan senyum di sepanjang tarian mereka. Lalu tema lirik lagu-lagunya kayaknya berbau hal-hal sederhana yang lumayan riil ketimbang kesangaran pekat sih. Jadi kurasa karena itu mereka dikenal.

(Omong-omong, ada seorang cowok muda di deret VIP yang kuperhatikan hanya diam sendirian di sepanjang acara. Aku menduga dia wartawan. Dan kayak yang sepupuku kemudian ceritakan, aku agak menghela nafas saat membayangkan hasil pemberitaan acara ini di media-media lokal.)

Terlepas dari semuanya, pada titik inilah aku dan Imouto-chan mesti pamit.

Kelihatannya ortu kami salah paham soal jam berapa kami pulang. Dan kayaknya nyawaku terancam karena udah ngebawa adikku ke luar kota dengan cara kayak gini. (Bagi yang mau tau, adikku seorang eks-semi-hikkikomori mungil yang belakangan agak jadi fujoshi dan memiliki statistik 30% oppai dan 70% pettan, jadi kurasa kalian bisa mengerti kenapa ortuku kuatir.)

Memang berat sih.

Kami sempat berpikiran untuk ngeliat penampilan satu laguuuu aja dari Kalafina begitu giliran Baby Metal usai.

Tapi…

Tapi kemudian muncul tamu enggak keduga berupa grup idola Dempagumi yang tampil sebagai acara kejutan di konser ini.

…Begitu nyampe di luar ruang konser, aku dan adikku langsung: |||OTL

Yah, ya sudahlah.

Sekali Lagi Tentang Blog Ini dan Apa yang Kemudian Terjadi

Bagi yang masih belum tahu, sekali lagi, walau kadang aku ngebahas perkembangan berita-berita terbaru, blog ini lebih berupa blog pribadi ketimbang blog info terbaru soal anime yaaa. Jadi maaf karena bahasan lebih banyak soal acara AFA tahun ini enggak akan dan enggak bisa kutulis.

Mengikuti kebijakanku untuk enggak memposting gambar, aku juga engga akan memposting foto-foto yang kuambil di sana sehubungan gimana aku juga enggak berhasil dapet foto-foto yang bagus.

Ada beberapa situs lain yang lebih kurekomendasiin buat berita-berita kayak gini, seperti duniaku.net dan Jurnal Otaku Indonesia di www.jurnalotaku.com. Kalian bisa ngecek ke sana untuk kabar-kabar yang lebih up-to-date.

Eniwei, di akhir cerita, meski aku memang malas mendatangi acara-acara ramai begini, acara AFA kemarin bisa dibilang lumayan berkesan. Aku enggak… nyesel mendatanginya. Tapi ada beberapa hal yang kukuatirin setelah ke sana di saat yang sama.

Aku dan adikku kembali ke rumah sekitar tengah malam. Beberapa hari berikutnya, aku mulai mengetik ini. Dan beberapa hari berikutnya lagi, D dan temanku yang enggak jadi dateng kembali ngegalau soal gimana mereka enggak jadi dateng.

Jadi mungkin dalam beberapa arti, ini kayak bisa jadi semacam pelajaran bahwa untuk segala sesuatunya, mungkin dateng biasanya akan selalu lebih baik daripada engga.

Met ketemu lagi di AFA tahun berikutnya. Kalau ada cukup alasan, mungkin aku akan dateng lagi.

(Apa? AFA Singapura? Enggak! Aku enggak punya uang! Sekalipun ada Egoist dan Lisa tampil, aku enggak akan dateng!)

(…Omong-omong DJ yang ngemix lagu-lagu anime di depan gedung itu beneran keren.)


About this entry