Zone of the Enders

Mungkin ini waktu yang pas untuk membahas Zone of the Enders.

Aku agak sibuk dengan berbagai urusan. Jadi sebenarnya aku lagi enggak yakin baiknya menulis soal apa. Tapi berhubung aku sudah lama enggak nulis soal game (sebenernya, aku lebih lama lagi enggak nulis soal tokusatsu sih), aku merasa mungkin ada enaknya kalau aku menulis soal ini. Walau secara pribadi, menurutku ini bukan sesuatu yang sebenarnya menarik-menarik amat…

Bagi yang belum tahu, Zone of the Enders merupakan seri mecha yang berawal dari game aksi berjudul sama keluaran pengembang Konami.  Seri ini sempat menuai perhatian karena diproduseri tak lain oleh Hideo Kojima, tangan dingin di balik kesuksesan seri aksi spionase Metal Gear Solid. (Di samping kenyataan game pertamanya disertai demo dari Metal Gear Solid 2: Sons of Liberty.)

Pertama keluar di tahun 2001, aku sebenarnya pelu waktu lumayan lama untuk tahu tentangnya. Salah satu alasannya mungkin karena anehnya, kelihatannya hampir enggak banyak(?)orang yang membicarakannya selama waktu itu juga.

Di tahun 2005, aku sempat mengobrol dengan temanku secara selintas soal telah munculnya game kedua seri ini (yang aslinya keluar di tahun 2003), yakni Zone of the Enders: The 2nd Runner. Game ini di Jepang dikenal juga dengan judul aslinya, yaitu Anubis: Zone of the Enders, dan desas-desus mengatakan kalau game ini jauh lebih bagus dari game pertamanya yang kabarnya pun cuma kudengar selintas; menyempurnakan segala aspek gameplaynya yang sebelumnya masih cacat.

Aku baru saat itu mulai tahu kalau Z.O.E. itu sebuah game aksi, dan dalam permainannya, kita mengendalikan sebuah robot dalam setting luar angkasa. Soal karakter, cerita detilnya, bentuk permainannya, dan sebagainya, aku sama sekali belum tahu. Tapi walau begitu, pada titik inilah aku benar-benar mulai penasaran, terutama sehubungan dengan jeleknya hasil akhir Gundam SEED Destiny, sehingga aku jadi agak haus dengan cerita-cerita mecha lain yang bagus.

Sayangnya, berhubung baik game pertama maupun keduanya sama-sama keluar di konsol Sony PlayStation 2, aku dan temanku tetap belum memainkannya karena enggak ada satupun dari kami yang punya konsol tersebut.

Masih didorong rasa penasaran, enggak tahu kenapa, info tentang Z.O.E. di Internet juga kudapati terbatas. Lebih tepatnya, tersamar sih. Tapi soal ini akan kujelaskan nanti.

Di kurun waktu sama, aku juga dengar desas-desus kalau adaptasi animasinya sempat keluar. Enggak tanggung-tanggung, diproduksi oleh studio Sunrise, yang telah lama menyandang status sebagai studio spesialis anime mecha. Tapi seri-seri anime inipun kelihatannya tak sampai menjadi sesuatu yang benar-benar menonjol.

Sampai akhirnya tahun 2007 tiba, Persona 3 FES keluar. Aku akhirnya merasa punya cukup alasan buat membeli PS2. Aku dan temanku sempat dengan keras kepala masih enggan mencoba Z.O.E., karena bersikeras ingin memainkan game pertamanya dulu yang entah kenapa begitu susah dicari. Tapi masuk tahun 2010, kami akhirnya nyerah. Lagi-lagi memasuki fase ‘bosen memainkan yang sudah ada’, kami akhirnya memainkan The 2nd Runner juga.

Lalu bertentangan dengan keyakinan konyol kami selama ini, kesan pertama yang kami dapetin begitu mencoba game ini ternyata adalah, “…Untung game kesatunya enggak aku mainin.”

Reaching Out to Touch the Sun

Sebenarnya, The 2nd Runner bukan game Z.O.E. pertama yang aku mainin sih. Yang pertama adalah Zone of the Enders: The Fist of Mars, atau yang juga dikenal sebagai Zone of the Enders: 2173 Testament, sebuah game spin-off bergenre SRPG ala Super Robot Taisen yang dirilis untuk GameBoy Advance.

Aku sempat memainkannya di sekitar tahun 2006. Tapi alasan aku cerita panjang-panjang soal keluhanku kayak gini adalah karena bahkan sesudah aku menamatkan game itupun, rasanya tetap enggak banyak yang aku ketahui tentang seri Z.O.E..

Mungkin itu ada hubungannya dengan betapa poin-poin latar dan permainan Z.O.E. itu sebenarnya simpel. Tapi karena waralabanya tak begitu dikembangkan atau bagaimana, intepretasi orang terhadap latar dunianya entah bagaimana malah jadi agak berbeda-beda…

Kembali ke pengalamanku memainkan The 2nd Runner, mengingat pengalamanku memainkan Metal Gear Solid 2: Sons of Liberty sebelumnya, aku berasumsi kalau seenggaknya aku bakal mendapat porsi ‘ringkasan cerita sebelumnya’  seperti yang ada di MGS 2.

Asumsiku ternyata enggak salah. Tapi… entah ya. Semula kukira yang ngerasa gini cuma aku aja. Tapi ternyata enggak.

Soalnya ternyata cerita di game Z.O.E. pertama itu enggak bagus.

Sekali lagi, aku (dan temanku) pada akhirnya bersyukur karena enggak memainkan game yang pertama.

Kalian tahu, kan MGS 2: Sons of Liberty dirilis sebelum The 2nd Runner. Begitu memulai permainan di MGS 2, ada semacam fitur yang menyampaikan ringkasan cerita dari MGS yang pertama. Ringkasan cerita ini dibeberkan dalam bentuk suatu draft buku yang dibikin oleh salah satu tokohnya gitu, yang lumayan menarik bahkan bagi mereka yang sudah namatin MGS karena isi ringkasannya sekalian membuka tabir soal kesudahan nasib beberapa karakternya sesudah kejadian dalam game pertama.

Kukira, ringkasan cerita di The 2nd Runner juga bakal kayak gitu. Tapi enggak. Sama sekali enggak. Yang disuguhi malah semacam kumpulan klip video dari event-event penting(?) yang berlangsung di sepanjang game pertama yang terus terang, entah kenapa, kayak cuma nekenin kalau cerita di game pertama itu emang cuma segitu.

Idenya enggak jelek sih. Tapi ujung-ujungnya kayak bikin kita pengen teriak, “Hah? CUMA GINI DOANG?!”

Garis besar cerita Z.O.E. kira-kira begini.

Pada penghujung abad kedua puluh dua, umat manusia menemukan suatu mineral baru berenergi tinggi bernama Metatron yang ditambang di Callisto, salah satu satelit yang dimiliki planet Jupiter. Mineral ini yang kemudian membuka terobosan-terobosan baru dalam bidang penjelajahan luar angkasa. Orang-orang mulai bisa membangun koloni-koloni pemukiman di permukaan planet Mars, dan telah membangun stasiun-stasiun luar angkasa dengan orbit mengitari Jupiter. (Lumayan mirip dengan premis Gundam.)

Namun, suatu krisis sosial kemudian timbul. Pemukiman-pemukiman di luar angkasa ini menjadi semacam pemukiman ‘buangan’ bagi orang-orang Bumi. Sebutan bagi orang-orang yang tinggal di koloni-koloni ini adalah Ender, yang digunakan orang-orang Bumi untuk menyebut (dengan merendahkan) semua orang yang tinggal di luar angkasa, dan sebagai gantinya digunakan pula orang-orang di Mars untuk merendahkan orang-orang yang tinggal di Jupiter.

Pemerintahan Bumi mulai bertindak sewenang-wenang dengan menetapkan undang-undang yang eksploitatif serta aturan pajak yang menindas orang-orang luar angkasa. Lalu di samping keunggulan fisik mereka karena hidup dalam tarikan gravitasi normal Bumi, orang-orang Bumi yang diwakili militer UNSF juga unggul karena memiliki pengembangan termutakhir dari robot-robot berawak yang disebut Laborious Extra-Orbital Vehicle atau LEV.

Pemberontakan terhadap tirani Bumi akhirnya dilakukan oleh berbagai grup berbeda. Kelompok pemberontak terbesar dan dipandang paling berpengaruh adalah BAHRAM. Seiring dengan berubahnya Mars menjadi pusat konflik, BAHRAM, melalui kerjasama dengan pihak-pihak lain, kemudian mempelopori suatu jenis mecha baru yang lebih mutakhir dari LEV karena ditenagai Metatron, yang dikenal dengan sebutan Orbital Frame.

Bersama penemuan dan implementasi Orbital Frame, arah berkembangnya peperangan mulai berubah secara dramatis.

Dua game Z.O.E. di PS2 pada dasarnya berpusar pada dua Orbital Frame yang sama-sama terlibat sesuatu yang disebut Proyek Aumaan, yakni Jehuty, mecha utama seri ini, serta ‘kembaran’ yang menjadi tandingannya, Anubis. (Nama keduanya, beserta nama sejumlah mecha lainnya di seri ini, diangkat dari mitologi Mesir kuno.)

Berlatar di Antilia, suatu koloni luar angkasa yang berada di orbit Jupiter, game pertama Z.O.E. mengisahkan penemuan Jehuty secara tanpa sengaja oleh seorang anak lelaki berusia 13 tahun bernama Leo Stenbuck di suatu fasilitas UNSF, saat Antilia tiba-tiba diserang BAHRAM. Sesudah menyaksikan sendiri betapa kejamnya BAHRAM dalam upaya mereka ‘memerdekakan’ Antilia, di bawah bimbingan A.D.A. (baca: eida), program A.I. canggih bersuara feminin yang terintegrasi di dalam Jehuty; Leo memutuskan menjadi runner (pengemudi) Jehuty agar bisa melindungi koloni asalnya dari pasukan BAHRAM.

Bala bantuan muncul dengan kedatangan kapal induk UNSF, Atlantis, yang dipimpin seorang wanita bernama Elena Weinberg. Elena ternyata adalah kekasih Alan, runner seharusnya dari Jehuty yang tewas dalam serangan BAHRAM. Meski terguncang karena mendapati yang berada di kokpit Jehuty bukanlah kekasihnya, melainkan bocah ingusan yang tak ia kenal, Elena pada akhirnya berusaha melakukan yang terbaik untuk membimbing Leo menuju Atlantis agar bisa lolos dari konflik yang berlangsung di Antilia.

Sesudah terlibat langsung dalam berbagai upaya menghentikan BAHRAM, kengototan Leo untuk mencegah korban jiwa secara perlahan mengubah A.D.A. dari yang sebelumnya dingin dan mengutamakan efisiensi menjadi lebih ramah dan simpatik. Namun keengganan Leo untuk membunuh bahkan lawan-lawannya juga menarik perhatian Viola Gyune, komandan wanita BAHRAM yang ditugaskan telah memperoleh Jehuty, yang sekaligus menjadi runner teramat tangguh dari Orbital Frame Neith.

Viola, yang memandang Leo sebagai lawan langka yang setara dengannya, terus berusaha memprovokasi Leo untuk membunuh dirinya; termasuk dengan menembak Celvice Klein, teman perempuan yatim piatu yang selama itu berusaha Leo lindungi. Leo akhirnya berhasil mengalahkan Viola—dengan yang bersangkutan mengancam akan membunuh semua orang terdekat dengan Leo apabila Leo mencoba-coba untuk menyelamatkannya; dan dalam prosesnya menyaksikan perubahan yang dialami Neith sebagai dampak reaksi Metatron terhadap keadaan mental Viola.

Dikejar waktu karena luka pada tubuh Celvice, Leo dan Celvice akhirnya mencapai Atlantis. Namun pada saat yang sama, mereka langsung diserang oleh dalang sesungguhnya dari penyerangan ke Antilia, Nohman, alias Ridley Hardiman, kolonel BAHRAM yang dari tempat lain telah berhasil memperoleh Anubis, sasarannya yang sesungguhnya, yang dipandangnya sebagai Orbital Frame yang ‘sempurna.’

Merasa tak lagi memerlukan Jehuty karena telah memperoleh Anubis, Nohman hendak menghancurkan Jehuty dan menjadi lawan terakhir yang harus Leo hadapi untuk bisa lolos dari Antilia hidup-hidup.

Jehuty menjadi bulan-bulanan karena tak bisa mengimbangi fitur Zero Shift yang memungkinkan Anubis bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Namun berkat dukungan Atlantis, Leo dan kawan-kawannya berhasil selamat dan lolos dari Antilia bersama-sama.

Dengan terungkapnya peran Jehuty dan Anubis yang sesungguhnya, yakni sebagai komponen penggerak benteng luar angkasa Aumaan yang tengah dibangun di Mars; dalam satu adegan terakhir sebelum Leo meninggalkan kokpit, A.D.A. menuturkan misi sesungguhnya yang rupanya telah terprogram di dalam dirinya: yakni untuk melontarkan runner-nya dari dalam kokpit dan meledakkan Jehuty begitu dirinya sampai dibawa ke Aumaan.

Travelling Beyond the Bounds

Sebenarnya, lumayan terasa kalau ada banyak hal yang berusaha diangkat dalam Z.O.E.. Terlepas dari pola permainannya yang bisa agak repetitif, ada tema-tema sains-fiksi menarik yang diangkat, seperti hubungan antara manusia dan teknologi, serta isu-isu rasisme.

Cerita pada game pertama tersampaikan lewat segmen-segmen percakapan pendek ala percakapan codec di MGS dan animasi-animasi tiga dimensi yang kalau dilihat sebenarnya enggak bisa dibilang bagus. Tapi kalau kalian tertarik dengan ceritanya setelah hanya mendengar pemaparanku, bersiap-siap saja untuk kecewa. Bukan hanya karena durasinya yang ternyata pendek. Tapi juga karena ada banyak hal di dalamnya yang benar-benar terasa aneh, yang mungkin karena tak sampai digali sedalam semestinya. (Sifat Leo di game ini, sejujurnya, tak bisa dibilang berkesan, dan bahkan bagi sebagian orang mungkin akan terkesan menyebalkan.)

Bicara soal gameplay-nya, agak sulit menjabarkan pola permainan Zone of the Enders bila belum melihatnya sendiri. Kita pada dasarnya mengendalikan Jehuty dari sudut pandang orang ketiga dengan satu tombol analog untuk menggerakkan Jehuty ke delapan arah dalam satu bidang. Sedangkan pergerakan ke atas dan ke bawah biasanya dilakukan dengan tombol analog satunya, yang kita lakukan bersama pengaturan suatu kotak bidikan yang sekaligus juga mengatur sudut pandang kamera. Ada satu tombol serang. Bergantung pada jarak antara kita dengan lawan bidikan yang ‘terkunci’ pada kotak bidikan kita, serangan kita dapat berupa satu tembakan energi Shot biasa atau satu tebasan yang dapat kita rangkai dari pedang sinar Blade Arm.

Ada semacam tombol charge yang bila ditahan dalam keadaan diam, akan mengumpulkan tenaga untuk melepaskan satu tembakan Burst Attack berukuran besar. Bila tombol tersebut ditekan sembari menyerang jarak dekat, tebasan Blade Arm akan memberi dorongan lebih pada musuh. Bila kita menekan tombol charge sembari bergerak, Jehuty akan bermanuver dengan kecepatan tambahan. Bila kita bergerak dengan menekan tombol charge sembari menahan tombol serang, Jehuty dapat mengunci musuh-musuh yang dilewatinya untuk diserang sekaligus dengan menggunakan Homing Laser, yang akan terlepas begitu tombol serang kita lepas. Setiap serangan dengan menggunakan tombol charge ini akan menghabiskan suatu meteran energi yang bisa terisi dengan menyerang lawan secara biasa.

Sepanjang permainan, kemampuan Jehuty akan level up seiring dengan jumlah lawan yang dikalahkannya.

Konsep permainannya benar-benar menarik, lalu gameplay-nya menghasilkan adegan-adegan pertempuran sinematis yang bisa terasa keren.

Grafisnya lumayan sederhana kalau harus kunilai sih. Tapi nuansa permesinan ‘organik’ yang eksotis (yang sebagian dirancang Yoji Shinkawa, desainer mekanik dan karakter untuk seri MGS) dan bentuk aneh musuh-musuh kita yang kadang abstrak lumayan memberi kesan yang agak unik.

Game keduanya, The 2nd Runner, menghadirkan peningkatan besar-besaran dalam segala aspek.

Ada fitur baru bernama Grab yang memungkinkan Jehuty untuk ‘meraih’ benda-benda di dekatnya (termasuk musuh), yang kemudian dapat digunakannya sebagai perisai ataupun senjata, baik jenis yang ‘dihantam’ ataupun yang ‘dilontar’. Fitur ini memberikan variasi teramat besar dalam permainan, seiring dengan kombinasinya dengan fitur Subweapon, yang merupakan sederetan serangan alternatif yang dapat Jehuty pelajari seiring dengan perkembangan cerita. Kita bisa membekukan pergerakan musuh-musuh dengan menebar Geyser, agar mereka bisa kita tangkap dan hantamkan ke satu sama lain. Ada sesuatu bernama Gauntlet yang di balik kesederhanaannya dalam hanya ‘mendorong’ musuh, mampu menghasilkan kerusakan tak terduga bila musuh didorongkan sampai menabrak dinding. Jehuty juga bisa mengeluarkan meriam sinar teramat panjang yang sebelumnya tersimpan dalam kantong dimensional Vector Trap miliknya.

Tempo permainannya secara umum juga kelihatannya bertambah cepat, menjadikan The 2nd Runner jenis game yang enggak susah, tapi bisa lumayan menuntut kesabaran sampai kau mengerti manuver-manuver apa persisnya yang harus kau lakukan di tiap segmen—terutama dari segi soal kapan kau perlu bertahan memakai perisai.

Gamenya juga relatif lebih panjang, meski tak sampai benar-benar bisa dibilang ‘panjang’. Permainannya cukup intens dan variatif untuk bisa menyedot perhatian dari awal sampai akhir.

Change is What We All Await…

Bicara soal cerita, The 2nd Runner berlatar dua tahun sesudah game yang pertama. Menggantikan Leo, tokoh utama kali ini seorang pekerja tambang sinis dengan masa lalu agak rumit bernama Dingo Egret.

Di Callisto, salah satu satelit bulan Jupiter, Dingo menemukan tanda-tanda pembacaan Metatron di LEV-nya, yang tak terbaca sewaktu ia dan kawan-kawannya sebelumnya bekerja di sana. Pembacaan tersebut membawa Dingo pada Jehuty, yang sebenarnya dengan enggan telah Leo damparkan dua tahun sebelumnya demi mencegah A.D.A. melakukan misi bunuh dirinya ke Aumaan, yang sekaligus membuat dirinya dan seluruh awak kapal Atlantis membangkangi perintah para petinggi mereka di UNSF.

Bersama penemuan tersebut, situasi berubah genting seiring dengan kemunculan tiba-tiba pasukan BAHRAM yang juga mengejar jejak Jehuty.

Mengambil alih kemudi Jehuty sesudah LEV penambangannya hancur, dalam upaya melindungi teman-temannya, Dingo berhadapan dengan Ken Marinaris, perwira perempuan BAHRAM yang menggunakan Orbital Frame Ardjet.

Mengalahkan Ardjet dan memperhatikan kapal induk tempat Ken kembali, Dingo tiba-tiba menyadari bahwa Ken bekerja untuk Nohman, bekas atasannya sewaktu dirinya masih terlibat dengan BAHRAM dulu.

Dingo rupanya dulu pernah bekerja sebagai salah satu runner elit BAHRAM di bawah perintah Nohman, dengan Viola sebagai rekan satu timnya. Beberapa tahun sebelumnya, Dingo dan anak-anak buahnya dijebak Nohman dalam suatu misi pengantaran Metatron yang ternyata memang disengaja agar diintersepsi oleh pasukan UNSF. Hanya Dingo seorang yang bertahan hidup, dengan teman-temannya mengorbankan nyawa mereka agar dirinya selamat. Semenjak peristiwa itu, Dingo hidup dalam pelarian dari BAHRAM dengan dikejar rasa bersalah. Metatron yang diperoleh UNSF dalam misi itulah yang rupanya kemudian dipergunakan untuk membangun Jehuty dan Anubis.

Memanfaatkan Jehuty, Dingo mengejar Ardjet ke kapal induk tersebut dengan harapan dapat mengkonfrontasi Nohman. Namun Dingo kemudian berhadapan dengan Orbital Frame bernama Nephtis, yang rupanya dikemudikan oleh Viola A.I., suatu kecerdasan buatan yang memiliki ingatan dan kepribadian mendiang Viola, namun telah diprogram secara khusus menjadi petarung berdarah dingin dengan tujuan tunggal untuk memburu Jehuty.

Meski berhasil menaklukkan Nephtis, seperti halnya Leo, Dingo tak sanggup mengimbangi Anubis yang dikemudikan Nohman, karena besarnya kemampuan yang Anubis miliki dibanding Jehuty.

Tertawan oleh Nohman, Nohman kemudian menawari Dingo satu kali kesempatan untuk bekerja di bawahnya lagi. Dingo balik menuntut Nohman untuk bertanggung jawab atas kematian teman-temannya dulu. Menanggapi penolakan Dingo, Nohman dengan darah dingin kemudian memberondongi Dingo dengan peluru; meninggalkan hanya Ken seorang diri sebagai saksi.

Barulah beberapa bulan sesudah kejadian itu, porsi permainan sesungguhnya diceritakan dimulai.

Tersadar dari koma dan mendapati dirinya kembali berada di dalam kokpit Jehuty, Dingo kemudian mengetahui bahwa dirinya secara diam-diam telah diselamatkan Ken yang memanfaatkan wewenangnya di BAHRAM untuk mengganti seluruh organ tubuh Dingo yang rusak dengan organ-organ artifisial.

Ken kemudian membeberkan bahwa dirinya sebenarnya adalah mata-mata UNSF. Untuk itu ia ingin memanfaatkan kemampuan Dingo untuk membawa Jehuty dalam sebuah misi yang mendukung perlawanan UNSF dalam perang yang berlangsung di Mars.

Situasi di Mars rupanya telah berubah drastis dengan pasukan UNSF kini dalam keadaan terdesak. Aumaan yang sebelumnya masih dibangun kini tak lama lagi akan mulai beroperasi.

Dingo semula menolak karena baik BAHRAM maupun UNSF sebenarnya tak ingin ia dukung. Namun dirinya tak memiliki pilihan karena sebagai pengganti jantung Dingo yang hancur, Ken rupanya telah menghubungkan tubuh Dingo ke sistem pendukung kehidupan Jehuty, sehingga yang berfungsi sebagai ‘jantung’ Dingo adalah sistem Jehuty sendiri, membuat Dingo secara harfiah akan kehilangan nyawanya bila ia sedikit saja meninggalkan Jehuty.

Dingo akhirnya berangkat ke Mars di bawah pengawasan jarak jauh Ken dan dukungan A.D.A..

Sepanjang perjalanannya, Nephtis, yang seakan-akan tak bisa hancur, kembali membayangi-bayangi Dingo, dan terus mengupayakan kehancuran Jehuty sesudah mengetahui aktifnya Jehuty kembali.

Sebagian besar konflik The 2nd Runner pada dasarnya berpusar pada transportasi sebuah senjata bernama Vector Cannon dari pasukan UNSF, yang akan diperlukan untuk menembus medan energi yang melindungi Aumaan.

Di Mars, Dingo turut berjumpa dengan Leo Stenbuck, yang telah tumbuh menjadi remaja yang lebih matang. Kini Leo menggunakan LEV Vic Viper yang dapat berubah bentuk menjadi pesawat dan memiliki kemampuan untuk mengimbangi Orbital Frame. Meski pada awalnya sempat saling berhadapan, Leo menjadi salah satu kontak Dingo di UNSF yang secara berkala mengabarinya dengan perkembangan terakhir perang.

Di sepertiga akhir permainan, barulah Dingo berjumpa kembali dengan Ken yang menyusulnya ke Mars, yang membantunya menemukan jejak Lloyd, seorang ilmuwan BAHRAM yang telah lama mengasingkan diri, yang konon mengetahui metode untuk ‘menyempurnakan’ Jehuty agar dapat mengimbangi Anubis.

Namun Lloyd, yang menggunakan Orbital Frame Inhert, rupanya tak sudi membantu mereka begitu saja. Alasan utamanya adalah karena ia terlebih dahulu harus menguji kemampuan Dingo sebagai runner. Sebab peluang mereka semua untuk selamat hanya ada jika Dingo terbukti mampu mengimbangi kemampuan Nohman; yang baru dimengerti Dingo setelah Lloyd membeberkan bahwa tujuan di balik Proyek Aumaan sebenarnya bukanlah untuk menaklukkan Bumi, melainkan untuk penghancuran seluruh isi tata surya.

That’s Why We Hesitate

Menggantikan mode-model 3D yang digunakan dalam game pertama, The 2nd Runner menampilkan porsi-porsi ceritanya dalam bentuk segmen-segmen anime 2D yang membuat hasil akhirnya jadi benar-benar keren.

Penceritaannya, sebenarnya, masih tak bagus sih. Karakterisasinya terbatas dan ada sejumlah adegan dialog yang kalau diperhatikan sebenarnya terasa agak-agak aneh. Tapi plotnya, yang dipenai Shuyo Murata, benar-benar seru. Serupa dengan game pertama, ada lumayan banyak hal menarik yang diangkat. Kali ini lebih banyak seputar pengorbanan dan persahabatan, dan enggak terlalu berusaha untuk menggali apa-apa yang takkan sempat dicakupinya.

Salah satu aspek cerita yang menonjol, dan menjadi semacam teka-teki berkelanjutan bagi seri ini, adalah soal sifat mineral Metatron yang menjadi sumber konflik dalam cerita. Para karakter antagonis seakan mulai menganut nihilisme kalau mereka terekspos terlalu lama terhadap mineral ini. Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan pula soal apakah Metatron hanya bahan tambang semata atau sebenarnya ‘hidup’ dan memiliki ‘kemauan.’

Bagaimana kita menjelajahi Mars dan melewati berbagai fasilitas menggunakan Jehuty benar-benar keren. Lalu dalam porsi permainannya sendiri, kini kita tak hanya sekedar harus mengalahkan sebanyak mungkin musuh dalam waktu secepat mungkin. Kerap ada sasaran-sasaran lain selain menghancurkan musuh yang harus dilakukan di tiap segmen, seperti sasaran-sasaran khusus yang harus kita utamakan atau hal-hal tertentu yang harus kita lindungi, mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya tak kita kira dengan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk menaklukkan musuh.

Di penghujung permainan, bahkan ada perang terbuka antara pasukan Raptor tak berawak BAHRAM melawan tentara Phantoma milik UNSF. Lalu kita berada di tengah medan pertempuran untuk mendukung rekan-rekan seperjuangan kita dan menolong mereka-mereka yang nyawanya sudah mau habis.

Seiring perkembangan cerita, wujud Jehuty juga perlahan berubah. Sesudah kita menamatkan permainan sekali, kita dapat mengulang permainan dengan menggunakan wujud Jehuty yang berbeda (walau memilih wujud kuat ternyata juga ada konsekuensinya) dengan pilihan Subweapon yang telah komplit.

Bicara soal desain, ciri khas desain Shinkawa-san adalah bentuk-bentuk mecha yang ramping dan struktur permukaan yang berpori; sehingga hampir setiap mecha di seri Z.O.E. terkesan organik dan nyaris kayak makhluk hidup. Jehuty di game kedua mengalami sedikit perubahan desain dari sebelumnya, menjadi berwarna putih dengan tekstur hijau. Anubis—mengikuti inspirasinya—memiliki bentuk pelindung kepala yang menyerupai kepala anjing, dan bersenjatakan tongkat dan dilindungi lapisan sayap yang sebenarnya merupakan deretan Vector Trap, membuatnya terlihat benar-benar intimidatif.

Ardjet dan Nephtis sama-sama menjadi mecha dengan desain yang ‘feminin.’ Aku suka bagaimana Ardjet dapat melepas modul-modul dari balik jubahnya yang kemudian bersatu membentuk arus sinar panjang (desainnya agak mengingatkan pada Vierge di Xenogears). Sedangkan Nephtis, di balik bentuknya yang ‘cantik’ (agak mirip Neith di game pertama, dengan perbedaan mencolok adanya semacam lingkaran cahaya di belakang kepalanya), tampil sebagai karakter ‘Terminator’ yang benar-benar seakan tak terkalahkan. Nephtis dilindungi semacam medan energi yang membuatnya kebal terhadap segala serangan normal Jehuty, dan karenanya Dingo—dengan dibantu saran-saran A.D.A., harus menemukan cara-cara kreatif untuk mengatasinya di setiap kesempatan.

Desainer favoritku dari waralaba Shin Megami Tensei keluaran Atlus, Kazuma Kaneko; agak mirip pada kasus Devil May Cry 3 buatan Capcom, yang padanya beliau mendesain wujud Devil Trigger bagi dua karakter Vergil dan Dante; turut menyumbang desain berupa Orbital Frame Inhert yang digunakan Lloyd. Itu satu mecha yang berbeda sendiri di seri ini karena cara pakainya yang tak biasa. Bentuknya agak unik karena hanya berwujud hitam seperti bayangan dengan sebuah patung sebagai kepala. Tapi kurasa itu juga yang membuatnya keren.

Meski cakupannya tak luas, ada nuansa yang benar-benar kuat pada desain dunia maupun karakternya. Makanya aku lumayan bersyukur karena telah memilih untuk mencoba memainkan game ini.

Time For Awakening

Lebih banyak seputar dunia Z.O.E. memang dipaparkan dalam material-material suplemennya sih, yang mencakup dua anime, sebuah buku material, dan game The Fist of Mars yang telah kusebutkan di atas.

Ada suatu kejadian penting yang disebut Insiden Deimos, yang berulangkali disebutkan dalam setiap cerita, tentang kehancuran stasiun ruang angkasa Deimos di orbit Mars yang di dalamnya Orbital Frame paling pertama yang diciptakan, Idolo, pernah diaktifkan. Rincian insiden ini dipaparkan dalam OAV Zone of the Enders: 2167 Idolo yang berlatar lima tahun sebelum game pertama dan dirilis pada paruh awal tahun 2001. Karakter utama seri ini adalah Radium Lavans, runner dari Idolo; beserta Dolores Hayes, kekasihnya yang merupakan salah satu peneliti; serta rekannya sesama runner penguji, Viola Gyune.

Dipaparkan bagaimana Idolo dikembangkan di puncak-puncaknya masa permusuhan antara orang-orang Bumi dan Mars. Orbtal Frame ini ternyata memiliki kemampuan yang jauh melampaui mesin manapun yang dimiliki BAHRAM atau UNSF pada masa itu.

Di saat yang sama, dikisahkan kalau hal-hal aneh mulai terjadi seiring dengan pengujiannya. Terutama terkait bagaimana mesin ini seakan mempengaruhi sifat Radium dan berdampak pada hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya.

Puncak cerita terjadi saat agen-agen UNSF berhasil menyusup ke dalam fasilitas pengujian dan menyandera para peneliti, di antaranya Dr. Rachel Links, peneliti utama Idolo. Dolores mengorbankan nyawanya untuk melindungi Rachel, dan pada titik itulah Idolo seakan mengambil alih kesadaran Radium dan membuatnya lepas kendali, menimbulkan kehancuran besar-besaran bagi sekelilingnya.

Kisah ini turut memaparkan awal mula fatalisme yang melanda Viola, yang sesudah kehilangan teman-teman lainnya dalam misi-misi BAHRAM lalu, akhirnya kehilangan teman terakhir yang diam-diam dicintainya dalam insiden ini. Merasa kehilangan alasan untuk hidup, Viola hidup sebagai prajurit yang berupaya menemukan tempat untuk bisa mati.

Zone of the Enders: Dolores, I merupakan anime seri TV yang menjadi semacam sekuel bagi 2167 Idolo. Berjumlah 26 episode dan dirilis pada pertengahan akhir tahun 2001, ceritanya berlatar lima tahun sesudah 2167 Idolo, dan menempatkan separuh ceritanya beberapa lama sebelum game pertama, dan separuh ceritanya lagi beberapa lama sesudahnya.

Ceritanya mengetengahkan pengalaman-pengalaman seorang pengantar barang sekaligus veteran perang bernama James Links, yang melakukan perjalanan panjang untuk mempersatukan keluarganya yang terpecah belah, pada saat ia menemukan sebuah Orbital Frame misterius bernama Dolores, alias Isis, di dalam kompartemen kargo yang harus diantarkannya ke Bumi.

Menyadari bagaimana Orbital Frame tersebut kemungkinan berhubungan dengan penelitian yang dulu dilakukan mendiang(?) istrinya, Rachel Links (karakter yang sama dari 2167 Idolo), James berupaya memperbaiki pula hubungan dengan kedua anaknya yang telah dewasa, Leon (cowok, bekerja sebagai programmer, agak cenderung cari aman) dan Noel (perempuan, bekerja sebagai pekerja konstruksi, tomboi dan perkasa), seraya menelusuri jejak istrinya yang hilang. Di saat yang sama, James juga berusaha memahami apa persisnya Dolores, program AI teramat canggih di dalam Orbital Frame temuannya, yang cerdas, kekanakan, dan memiliki rasa ketergantungan besar aneh terhadap James yang dianggapnya sebagai ‘paman.’

Tokoh antagonis dalam seri ini adalah pengusaha misterius Napth Pleminger, yang sesungguhnya adalah seorang pemimpin militer tinggi BAHRAM, yang tak bisa menerima eksistensi Dolores karena suatu alasan di masa lalu. Karakter-karakter lainnya meliputi perwira Bumi Baan Dorfloum yang rasis dan agak kurang waras yang dengan keras kepala terus mengejar James dan keluarganya; serta Rebecca Hunter, remaja perempuan asuhan Napth yang telah didoktrin untuk memusuhi orang-orang Bumi sejak kecil, dan karenanya mengalami perasaan campur aduk sesudah ia diselamatkan James. Karakter Nohman turut tampil sebagai cameo dalam seri ini, di mana dirinya tampil dengan menggunakan Orbital Frame besar Selkis tak lama sebelum keberhasilannya memperoleh Anubis.

Dolores, I terbilang enggak biasa buat sebuah seri mecha. Tapi itu kurasa bukan cuma karena tokoh utamanya yang berstatus om-om. Tema ceritanya yang tentang broken home dan permusuhan rasial mestinya agak berat. Tapi selama perjalanan James dengan Dolores, kayaknya sering sekali ada hal aneh terjadi yang kemudian James temui dan harus atasi. Agak susah juga mencerna apa yang tengah terjadi di dunianya secara serius pada beberapa titik. Aksi adegan-adegan mechanya masih terbilang keren, dengan segala kekhasan Z.O.E.. Tapi sebagian orang mungkin akan berharap lebih pada premis dan ceritanya.

Meski begitu, dikombinasi dengan 2167 Idolo, kudengar Dolores, I tetap menjadi tontonan yang lumayan. Terutama dengan mengingat bagaimana kemungkinannya takkan mungkin ada lagi seri mecha sejenisnya sesudahnya.

Zone of the Enders: The Fist of Mars, berlatar di antara game pertama dan kedua, kembali mengangkat konflik rasial antara kaum Ender dan manusia Bumi yang berlangsung sepenuhnya di Mars pada tahun 2173.

Ceritanya mengetengahkan remaja yatim piatu rendah diri bernama Cage Midwell yang secara kalut terseret ke dalam konflik di Mars sesudah kapal transportasi tempatnya bekerja, Bonaparte, meledak di luar angkasa oleh sebab-sebab misterius. Bersama sahabat dekat sebayanya yang bernama Ares Enduwa, yang tampan, teramat cerdas, dan menjadi satu-satunya orang yang Cage percaya; serta seorang gadis misterius yang kehilangan ingatan yang belakangan diketahuinya bernama Myona Alderan; Cage menjadi runner sebuah LEV misterius yang ternyata tersimpan di dalam ruang kargo Bonaparte yang telah dipercayakan oleh Myona untuknya sebelum gadis tersebut kehilangan ingatan (dan berubah kepribadiannya).

Di LEV tersebut, terdapat program A.I. yang tak kalah misteriusnya bernama Pharsti. Seiring perkembangan cerita, LEV tersebut kemudian terungkap sebagai Orbital Frame Testament, yang memiliki hubungan misterius dengan Orbital Frame hitam yang Cage yakini bertanggung jawab atas kehancuran Bonaparte, Iblis.

Sesudah ditawan oleh pasukan UNSF karena dipandang sebagai imigran gelap (dan sebenarnya hendak diinterogasi terkait kasus Bonaparte), Cage dan kawan-kawannya kemudian ditolong oleh grup BIS, salah satu kelompok perlawanan yang menentang UNSF di Mars, yang dipimpin mantan tentara bernama Deckson Geyse, yang juga menampung remaja-remaja lain yang terlantar akibat perang seperti mereka.

Tak memiliki tempat lain untuk kembali, Cage dan kawan-kawannya kemudian membantu BIS dalam berbagai aksi perjuangan mereka untuk memerdekakan Mars. Selain BAHRAM, saingan mereka yang kerap menjalankan aksi mereka secara ekstrim, musuh utama BIS adalah pemerintahan UNSF yang dipelopori penelitian Deezel Zephyrs dan kesatuan khusus Acemos pimpinan Bolozof Velasgo sebagai tangan kanannya.

The Fist of Mars mungkin merupakan cerita yang paling ekstensif mengekspansi dunia Z.O.E., dengan pemaparan lumayan mendetail tentang para karakter, terminologi teknologi, serta situasi perpolitikan yang terjadi di dalamnya. Ceritanya dibagi per babak hingga menyerupai anime berdurasi 26 episode, dengan setiap babak terdiri atas satu bagian pertempuran yang diapit oleh dua segmen cerita; ditambah sesi Intermission di antaranya, yang padanya kita menyimpan permainan dan meningkatkan kemampuan unit-unit kita. Ketimbang Z.O.E., format permainannya menjadi teramat sangat mirip sebuah game SRW.

Hal unik yang dimiliki The Fist of Mars adalah fitur untuk mengatur secara manual manuver unit-unit kita, memungkinkan kita untuk membidik sendiri lawan-lawan serta bermanuver untuk menghindar, namun fitur ini terus terang saja membuat permainan ini menjadi terlalu gampang. Tanpa fitur ini, permainannya lebih menantang—walau di satu sisi juga membuatnya lebih monoton. Terlebih dengan grafis yang tak benar-benar bisa dibilang mengesankan, sekalipun desain karakter dan mechanya terbilang lumayan.

Terlepas dari semuanya, ceritanya terbilang menarik. Hubungan antara Cage dan Ares mungkin memang agak bisa diibaratkan seperti hubungan Ikari Shinji dan Nagisa Kaworu di Neon Genesis Evangelion. Tapi sisa elemen ceritanya adalah elemen-elemen cerita seru yang lazim ditemukan dalam kebanyakan seri aksi mecha. Jumlah tokoh-tokohnya banyak, dan sedikit banyak masing-masing dari mereka memainkan peranan lumayan besar dalam cerita. Ada tema-tema konspirasi, ada adegan-adegan demonstrasi massa, lalu ada teknologi-teknologi baru yang etika aplikasinya dipertanyakan. Pada satu titik, ceritanya akan bercabang, yang akan menentukan nasib akhir Myona dan siapa lawan terakhir yang harus dihadapi dalam permainan ini.

Ada beberapa bagian plot yang seakan dibiarkan menggantung atau terkesan dibuat ‘ada hanya karena ada’ (seperti soal peranan perwira wanita Amante Furlair dan keberpihakannya yang sesungguhnya di paruh akhir cerita). Jadi meski mungkin hanya sebatas ‘lumayan’, The Fist of Mars tetap menjadi salah satu game yang memiliki cakupan cerita paling menonjol di konsol GBA.

Buku material yang kusebutkan di atas sebenarnya hanya sedikit memaparkan apa-apa yang berlangsung dalam jeda waktu antara game Z.O.E. pertama dan kedua aja sih. Garis besarnya meliputi tercatatnya ayah Leo sebagai salah satu korban tewas sewaktu ia keluar bunker perlindungan dalam upayanya mencari Leo di Antilia, suatu tindakan yang sama sekali tak Leo sangka karena buruknya perlakuan kedua orangtuanya terhadapnya; wafatnya Rock Thunderheart, yang melatih Leo dalam menggunakan Vic Viper, tak lama sesudah keputusan Leo untuk mengabaikan Jehuty; serta bagaimana Elena akhirnya tumbuh menjadi semacam mentor bagi Leo.

It’s Now or Never

Sejauh ini, masih belum ada kepastian jelas soal kelanjutan franchise ini. Walau desas-desus tentang akan dikembangkannya Zone of the Enders 3 terus timbul tenggelam dan memang ada kalangan fans yang menggemari seri ini.

Belum lama ini, sempat dikeluarkan Zone of the Enders HD yang merupakan kompilasi HD dari kedua game pertamanya untuk X360 dan PS3 (game keduanya sempat punya masalah frame rate sebelum diperbaiki dengan tambahan patch); sesuatu yang sempat disambut dengan perhatian (karena gameplay The 2nd  Runner memang seru). Tapi lebih dari itu, masih belum ada apa-apa lagi.

Jujur saja, aku bisa agak mengerti kalau para pengembang di Konami agak malas mengembangkan sekuel bagi game ini. Soalnya, penggarapan dunianya memang agak berantakan. Mungkin karena game ini semula lebih didesain untuk sesuatu yang seperti arcade? Nuansa cerita untuk tiap medianya tetap terkesan lumayan beda. Lalu melihat filosofi Kojima-san yang gemar menyatukan aspek-aspek penceritaan dalam permainannya, tak heran bila beliau lebih memilih mengerjakan proyek-proyek lainnya yang lebih besar.

Yah, aku juga tak segemar itu terhadapnya. Tapi aku takkan bisa menyangkal bagaimana seri ini sudah cukup berkesan untuk bisa dikenang.


About this entry