Working Man

…Ayo kita bahas Working Man karya Anno Moyoco. (Berjudul asli: Hataraki Man, dengan ‘hataraki’ akhirnya ‘kerja’.)

Ini salah satu seri lawas terbitan Level Comics yang karena suatu alasan dulu cukup rajin aku ikuti di seputaran tahun 2008. Ceritanya, dulu aku sedang memasuki tahap-tahap akhir masa kuliah dan segala urusan seputaran pergaulan dan kehidupan kampus mulai tergantikan dengan urusan TA dan sisa kredit kuliah. Aku ingat kalau saat itu aku merasa kalah pengalaman dunia nyata bila dibandingkan teman-temanku yang sudah wisuda dan kerja duluan. Makanya aku mulai mengikuti manga ini.

Aku awalnya beli buku pertamanya cuma buat baca-baca aja. Tapi aku keterusan mengikutinya. Soalnya, seakan sesuai dengan situasi para karakter di komik ini, kayaknya waktu itu aku lagi ngelaluin fase ‘rasanya aku sibuk tapi kerjaan engga beres-beres.’

Seperti yang judulnya indikasikan, manga ini merupakan manga tentang ‘dunia kerja.’

Buat yang belum tahu, Anno Moyoco-sensei juga adalah istri Anno Hideaki-sensei, yang paling dikenal sebagai sutradara seri Neon Genesis Evangelion. Selain Hataraki Man, Anno Moyoco-sensei telah banyak mengeluarkan komik-komik lain dengan tema berbagai macam (Happy Mania? Sugar Sugar Rune?). Ciri khas komik-komik beliau adalah penggambaran kepribadian karakter-karakter yang ‘kuat’ serta gaya gambar penuh garis meliuk yang kelihatan ‘seakan tak dibuat pakai penggaris tapi enggak tau gimana masih keliatan keren dan rapi.’

Oya. Walau sekilas terkesan seperti manga josei, ini aslinya diserialisasikan di majalah seinen. Tepatnya di majalah Weekly Morning punya penerbit Kodansha. Jadi pantas saja aku merasa enggak kesulitan baca.

Di samping itu, adaptasi animenya sempat pula dibuat oleh studio Gallop untuk slot tayang Noitamina pada musim gugur tahun 2006 (ya, itu masa-masa vakumku). Tapi adaptasi ini gagal kuikuti sama sekali. Jadi maaf karena belum bisa membahasnya sekarang.

Adaptasi dorama-nya juga sempat dibuat setahun berikutnya pada pertengahan 2007. Tapi soal itu pun, aku enggak tahu banyak. Jadi sori juga karena itu enggak akan kubahas.

“Kok pakai Man, sih?!”

Hataraki Man mengetengahkan seputar kehidupan Matsukata Hiroko, seorang perempuan berusia 28 tahun yang bekerja sebagai editor di redaksi sebuah majalah mingguan pria bernama Jidai. Lingkungan kerja Hiroko pada dasarnya adalah lingkungan ‘cowok’, dan entah karena itu atau alasan lainnya, dirinya semenjak pertama masuk telah berubah menjadi seorang cewek ‘perkasa’ yang teramat sangat workaholic.

Apabila keadaan memaksa, Hiroko secara luar biasa intens bisa menjadi teramat fokus dalam pekerjaannya—menyelesaikan porsi pekerjaan yang semula dikira takkan sempat diselesaikan sebelum deadline. Sampai-sampai Nagisa Mayu, teman perempuan Hiroko yang berusia 23 tahun dan menjadi juniornya, menyebut Hiroko punya mode superhero rahasia yang dinamainya ‘Working Man’ yang sedikit banyak kemudian menjadi julukannya.

Bersama Hiroko dan Mayu, hanya ada dua editor perempuan lain di lingkungan redaksi majalah Jidai: Kaiji Maiko yang berusia 31 tahun yang cantik, anggun, dan kelihatannya ‘dipuja’ oleh seluruh pekerja pria di redaksi; serta Nogawa Yumi, perempuan cantik berusia 26 tahun, yang berkebalikan dengan Hiroko, lebih banyak memakai sisi femininnya untuk bisa berinteraksi dengan lingkungan kerjanya.

Kebanyakan bab cerita Hataraki Man bersifat episodik dan berdiri sendiri. Walau memang ada suatu kesinambungan antar bab-babnya, ceritanya lebih banyak soal pengalaman-pengalaman Hiroko menghadapi berbagai jenis orang dan mengatasi berbagai perbedaan sifat dan pandangan demi terselesaikannya pekerjaan. Meski nuansanya serius, cerita-ceritanya relatif ringan, cenderung kocak, dan tak pernah sampai jadi gelap-gelap amat. Lalu pada setiap akhir bab, Hiroko selalu kayak menemukan suatu sisi lain dari rekan-rekan kerjanya yang tak disadarinya sebelumnya.

Bab-bab awal cerita misalnya, mengisahkan bagaimana Hiroko harus mendidik editor baru bernama Tanaka Kunio (22 tahun), yang punya filosofi kerja berbeda dari Hiroko (yang telah mendidikasikan hidupnya untuk pekerjaannya). Hiroko pada awalnya sempat ilfil dengannya. Tapi saat deadline mengejar, perbedaan cara kerja mereka enggak lagi jadi persoalan. Lalu belakangan Hiroko terkejut sendiri saat menyadari bagaimana Tanaka ternyata menaruh rasa hormat padanya.

Dalam suatu penugasan lain, Hiroko harus bekerjasama juga dengan fotografer Sugawara Fumiya (32 tahun), yang lebih kayak paparazzi ketimbang fotografer biasa. Setelah begadang setengah mati untuk mengejar bukti rumor suatu skandal, Hiroko tercenung dengan bagaimana pembawaan kasar Sugawara menutupi kesukaan diam-diamnya dalam memotret pemandangan langit.

Kedua atasan Hiroko, kepala editor Umemiya Tatsuhiko (45 tahun) dan editor meja Narita Kimio (39 tahun), adalah orang yang terkesan malas dan sekaligus terkesan seksis. Namun di balik semuanya, kenyataannya memang dirinya seorang pemimpin bertanggung jawab yang akan bertindak untuk menutupi kesalahan-kesalahan bawahannya.

Tema berulang dalam seri ini adalah bagaimana kehidupan Hiroko segitu tersita atas pekerjaannya. Setiap hari ia pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi, dan pada beberapa titik ia mulai mempertanyakan soal kenapa sebenarnya dirinya melakukan ‘semua ini’. Terutama saat cara hidup Hiroko juga menuai keretakan hubungannya dengan pacarnya, seorang pegawai kontraktor Yamashiro Shinji (28 tahun) yang tak kalah sibuknya dari Hiroko, sekalipun keduanya (kayaknya) murni saling mencintai.

Nasib para karakternya enggak pernah sampai bikin aku penasaran atau gimana. Enggak ada drama tragedi atau cinta segitiga pelik. Nuansanya—kayak yang belakangan aku ketahui setelah aku beres kuliah—beneran persis kayak suasana kehidupan kerja kantoran biasa. Kamu disuruh atasan ngerjain sesuatu. Kamu nemu keadaan enggak ideal yang bikin kamu males. Kamu maksain ngelakuin apa yang kamu bisa. Kamu mulai nyadarin hal-hal yang sebelumnya enggak kamu sadarin. Lalu tahu-tahu aja, kerjaan beres. Meski prosesnya bisa bener-bener nyebelin. Semua juga terasa membosankan dan udah kayak rutinitas gitu. Tapi rasanya aku susah berhenti baca. Karena, mungkin aku juga sebenarnya penasaran, apa ada sesuatu yang ‘lain’ di balik semua ini atau enggak.

Rasanya kayak, sekali baca, aku enggak akan langsung begitu ngerti. Tapi pas aku coba dengan hati-hati perhatikan lagi, ada hal-hal yang bikin aku ngerasa ‘Ooh gitu toh.’ selagi baca.

Mungkin juga itu salah satu bukti kemampuan Moyoco-sensei dalam mengamati orang dan kehidupan. Tapi sebenarnya aku enggak tahu juga.

“Kenapa enggak bikin sendiri aja?”

Bicara soal pengeditan dan translasinya, enggak ada yang bermasalah dari hasil editan dan translasi Level (kayak biasa!). Memang pada beberapa titik aku perlu mikir soal konteks percakapannya sedang ke mana sih. Tapi secara umum aku beneran menikmati manga ini. Walau ceritanya agak dewasa, kayaknya enggak ada satupun panel yang memerlukan sensor atau gimana kok.

Kalau ada satu hal yang mungkin dikeluhkan, maka itu soal gimana status manga ini telah agak menggantung semenjak sekitar tahun 2008.

Buku keempatnya (eh, atau kelima? Keenam? Uh, koleksiku ke mana ya?) berakhir pada bab ketika Hiroko memutuskan pulang ke rumah orangtuanya sesudah begitu banyak hal yang dilaluinya dalam hidup. Di sana, ia bertemu ayahnya, yang dengannya Hiroko merasa kayak selalu punya jarak. Lalu buku itu ditutup dengan adegan terpananya Hiroko soal usulan ayahnya untuk berhenti sekalian dari tempat kerjanya dan memulai usaha penerbitannya sendiri.

Aku bertanya ke seorang temanku yang bekerja sebagai editor di Level. Lalu sesudah bertanya-tanya, memang status manganya kayak gitu. Enggak berlanjut, tapi juga enggak dinyatakan tamat. Ceritanya berakhir di adegan yang pas sih. Tapi rasanya agak aneh. Tanpa ada kesimpulan apapun gitu (bukan berarti itu perlu sih). Dan aku ampe sekarang masih ingin tahu soal apakah Hiroko akan berakhir kembali dengan Shinji atau enggak.

Terlepas dari itu, manga ini kayak penghibur buat orang-orang menengah ke atas yang kayak ngalamin kondisi tempat kerja kayak gini.

Aku enggak tahu persis orang-orang kayak gimana yang bakal menyukai Working Man sih. Apalagi enggak banyak yang bisa dikatain sebagai fanservice buat manga seinen ini. Tapi ini seri yang bagus. Seriusan. Kalau bukan karena seri ini, mungkin aku enggak akan jadi orang yang tahan ngadepin situasi-situasi nyebelin di tempat kerjaku kayak sekarang.

Jadi hei, kalau ada orang Level yang baca ini, aku ucapin makasih lagi karena udah nerbitin.

Thanks.


About this entry