Kare Kano

Kareshi Kanojo no Jijou, biasa disingkat Kare Kano, atau dikenal juga sebagai His and Her Circumstances (kira-kira berarti ‘keadaan si cewek dan keadaan si cowok’) merupakan salah satu seri shoujo pertama yang pernah kuikuti. Seri ini berawal dari manga yang dibuat oleh Tsuda Masami. Durasinya cukup panjang (21 buku), dan bertahun-tahun lalu (2007?) sudah diterbitkan sampai di sini sampai tamat oleh MnC. Genre ceritanya drama komedi romantis. Tapi seiring perkembangan cerita, entah disengaja atau enggak, muncul muatan psikologis lumayan banyak di dalamnya, yang secara menonjol bisa membuat ceritanya jadi lumayan gelap. Penerbit aslinya Hakusensha dan selama di Jepang diserialisasikan di majalah komik LaLa mulai tahun 1996.

Aku sendiri pertama kenal judul ini lewat tayangan animenya.

Animenya sendiri, yang keluar di sekitar tahun 1998 terbilang agak istimewa. Produksinya dilakukan oleh studio animasi Gainax dan disutradarai tak lain oleh Anno Hideaki yang saat itu telah terkenal sebagai sutradara anime Neon Genesis Evangelion (dan kemudian oleh Tsurumaki Kazuya, soal ini akan kubahas di bawah). Terkait dengan muatan psikologisnya tadi, ditemukan lumayan banyak elemen penyutradaraan yang serupa dengan yang ditemukan pada anime seri TV orisinil Evangelion. Cerita animenya sendiri dengan patuh lumayan mengikuti cerita di manganya, sehingga inti ceritanya, anehnya, menurutku enggak beda-beda amat; sekalipun dengan rasa dan nuansa Evangelion yang dimiliki di dalamnya.

“Catatan: Dalam beberapa detik lagi, bersiaplah buat ngebaca cepet, dan maksudku di sini bener-bener cepet.”

Cerita dibuka dengan diperkenalkannya kita terhadap dua orang siswa yang hanya dapat digambarkan sebagai murid teladan sekaligus idola sekolah: Miyazawa Yukino dan Arima Soichirou. Dua orang yang seakan ‘sempurna’ baik dalam hal penampilan, pergaulan, maupun nilai-nilai pelajaran ini merupakan siswa kelas satu baru di SMA mereka, yang seketika menarik perhatian dan kekaguman para siswa lain.

Walau begitu, di balik semua kesempurnaannya, Yukino sebenarnya orang yang manja, berantakan, serta keras kepala bila di rumah. Kesehariannya hanya dipakai untuk belajar habis-habisan demi mempertahankan nilai-nilainya. Bagi Yukino, memperoleh nilai bagus akan mendatangkan pujian dari lingkungannya, dan pujian-pujian dari orang-orang di sekitarnya ini yang ia merasa perlukan untuk ‘bertahan hidup.’

Walau demikian, meski telah berusaha keras, untuk pertama kali dalam hidupnya, Yukino mendapati dirinya tersingkir dari posisi rangking satu oleh Arima. Merasa kegagalannya memperoleh rangking satu sebagai celaan terhadap harga dirinya, Yukino (di belakang punggung semua orang) kemudian bersumpah untuk menjatuhkan Arima dan merebut kembali posisi rangking satu darinya.

Tapi kemudian, sesuatu yang tak ia sangka terjadi. Arima tiba-tiba saja menyatakan rasa sukanya terhadap Yukino.

Yukino, yang sama sekali tak memperhitungkan hal ini, pada awalnya mengira bahwa dengan berhasil membuatnya jatuh cinta, dirinya telah berhasil ‘menundukkan’ Arima. Tapi di saat yang sama, ia juga mulai ragu tentang apa sesungguhnya yang ia rasakan terhadap dirinya.

Sebuah omongan basa-basi dari Yukino secara konyol berujung pada bagaimana Arima kemudian mengetahui rahasia kelakuan Yukino yang sesungguhnya. Arima kemudian memanfaatkan pengetahuannya ini untuk memaksanya ikut membantu-bantu menangani urusannya di Dewan Siswa.

Hubungan di antara mereka menegang. Sebab Yukino merasa dimanfaatkan sekaligus dipermainkan.

Tapi pada titik ini pula, Yukino juga mulai menyadari bahwa Arima sendiri mungkin sebenarnya bukan pribadi seperti yang semua orang bayangkan…

Dari sana, hubungan antara keduanya, dan teman-teman mereka, kemudian bermula.

Aku Belum Mati Wooi!

Mungkin ini terdengar aneh. Tapi aku sempat lupa dengan keberadaan seri ini pada beberapa tahun terakhir. Padahal Kare Kano termasuk salah satu seri yang paling mempengaruhi pola pikirku dulu, dan sedikit banyak mengubahku menjadi aku yang sekarang.

Aku teringat soal seri ini sesudah menulis soal Evangelion tempo hari. Lalu kalau mengingat lagi apa yang disampaikan dalam seri itu sekarang, jujur saja aku merasa agak terbebani. Soalnya Kare Kano memaparkan orang-orang muda yang menjalani hidup mereka secara penuh dan akhirnya berhasil mewujudkan mimpi-mimpi mereka setelah melampaui berbagai rintangan. Baru di usia sekarang aku menyadari betapa hebatnya tokoh-tokoh di seri ini, dan terus terang saja, itu menyebalkan.

Itu teramat sangat luar biasa menyebalkan.

Bicara soal ceritanya sendiri, ada lumayan banyak hal yang tak disangka di dalamnya sih. Kemudian tokoh-tokohnya bertambah, kemudian ceritanya terus berkembang dan berkembang. Sehingga walau sempat ke mana-mana untuk mengklarifikasi hal-hal tertentu tentang tokoh-tokoh lain di sekitar Yukino dan Arima, semuanya akan kembali berpusar pada mereka berdua, dan cerita berakhir dengan lumayan memuaskan lewat pemaparan nasib mereka sekitar 15 tahun sesudah pertemuan pertama keduanya.

Kembali bicara soal cerita, Arima, seperti Yukino, rupanya sama sekali jauh dari imej sempurna yang orang-orang lain bayangkan terhadapnya. Arima rupanya diangkat anak oleh pamannya sendiri, sesudah kekacauan hubungan yang terjadi antara ayahnya yang meninggalkannya dan ibunya yang abusif.

Masa lalu yang dialami Arima dulu itu bener-bener enggak enak. Dan karenanya wajar sekaligus aneh saat Arima secara perlahan menjadi semakin dingin dan posesif.

Sial. Kayaknya aku mending enggak bicara lebih banyak. Soalnya kayaknya sayang bila ceritanya ku-spoiler.

…Aku berusaha mikir apakah memang akunya yang mungkin terlalu lebay dalam menanggapi isi ceritanya. Tapi kurasa enggak. Aku memang jarang mengikuti perkembangan seri-seri shoujo. Tapi kayaknya memang hingga sekarang aku belum pernah nemuin yang seri shoujo lain yang nampilin kebagusan perkembangan cerita serta bobot karakter seperti Kare Kano.

Cerita Kare Kano itu sebenarnya… gelap. Beneran bisa gelap. Kaitannya ke soal gimana para karakternya bersama-sama berusaha melepas diri dari ikatan dan kekangan masa lalu.

Sempat ada kabar kalau Tsuda-sensei merasa kurang sreg dengan bagaimana adaptasi animenya dipaparkan. Tapi kalau melihat cerita Kare Kano secara menyeluruh, aku enggak heran soal gimana orang-orang di Gainax kemudian jadi menghadirkan ceritanya ala Evangelion.

Maksudku, bahkan dalam surat-surat pembaca yang diterima Tsuda-sensei, konon ibu-ibu yang baca Kare Kano sampai merasa bisa lebih memahami situasi anak-anak remaja mereka ketimbang sebelumnya.

Bicara soal animenya, adaptasinya lumayan keren. Agak abstrak sih, dan pada beberapa titik lumayan mengganggu. Tapi enggak bisa dipungkiri lumayan menarik. Eksekusinya lebih diberatkan di dialog, dan sempat apa yang ditampilkan lebih kayak simbolisme-simbolisme gitu. Jumlah kata-kata yang mengalir bisa lumayan ramai. Tapi eksekusi adegan-adegan komedinya benar-benar pas. Penggambaran adegan penentuan saat Arima mengetahui rahasia Yukino benar-benar klasik dan patut dikenang. Animenya memaparkan cerita dari buku 1 hingga 7, dan berakhir lumayan menggantung di saat sedang ramai. Total episodenya sendiri padahal sebanyak 26.

Hal-hal yang membuat Kare Kano patut diingat:

  • Pero-pero
  • Komedinya
  • Adanya karakter yang sepenuhnya berhasil merubah dirinya yang gemuk dan pendek menjadi kurus dan tinggi
  • Kerealistisan kasus-kasus yang mungkin terjadi di dalamnya
  • Akhir cerita yang bisa bahagia

Akhir kata, sebenarnya aku ingin menulis lebih banyak tentang seri ini. Terutama soal karakter-karakter lain yang muncul. Tapi di sisi lain aku ngerasa itu enggak akan banyak gunanya. Soalnya, bila situasi yang berlangsung antara Arima dan Yukino tak cukup buat membuatmu tertarik, maka kemungkinan besar apa yang berlangsung sesudahnya juga enggak akan kau pandang menarik.

Soal animenya, kemungkinan yang suka Evangelion bakal tertarik untuk melihat alur pemaparannya juga sih. Tapi animenya, dalam jangka panjang, bisa terasa agak “Uuh…” karena kita agak enggak jelas bakal diseret ke mana. Ini terutama terasa pada episode-episode ke sananya, saat Anno-sensei memilih berhenti menjadi sutradara (kemungkinan karena ungkapan kurang sregnya Tsuda-sensei). Tapi sekali lagi, ini seri yang menarik.

Sesuatu yang mungkin ingin kau lihat saat kau ingin berpikir ulang soal apa-apa yang terjadi di masa lalu.

Penilaian (untuk anime)

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B+; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: B


About this entry