Hentai Ouji to Warawanai Neko

Mungkin… memang akunya yang lemah terhadap suaranya Tamura Yukari belakangan.

Hentai Ouji to Warawanai Neko, atau The “Hentai” Prince and the Stony Cat, diangkat dari seri light novel karangan Sagara Sou dengan ilustrasi buatan Kantoku. Seri komedi romantis (enggak biasa) ini diterbitkan sejak tahun 2010 melalui label MF Bunko J milik penerbit Media Factory. Adaptasi anime-nya yang berjumlah 12 episode dibuat pada tahun 2013 oleh J.C. Staff.

Ini sebenarnya bukan seri yang kupikir akan kuminati. Perkembangan animenya kuikuti sampai tuntas pada musim lalu. Tapi aku tak pernah merasa suka terhadapnya atau apa.

Alasan aku tertarik, pada awalnya, mungkin cuma karena lagu pembukanya saja. Aku beritahu saja ini di awal. Kalau kau ‘tahan’ terhadap lagu pembuka dan animasinya, ada peluang kau akan suka anime ini. Tapi sebaliknya, kalau kau tak tahan terhadap lagu ataupun animasinya, tak sanggup menyaksikan dosis keimutannya yang sengaja dibikin agak berlebih, lupakan saja. Kayaknya Ini bukan seri yang bakal kau suka.

Selebihnya, untuk kasusku sendiri, aku ternyata cukup suka dengan lagu pembukanya. Tapi aku setengah mati tak tahan terhadap lagu penutupnya.

…Jadi mungkin dampaknya fifty-fifty buatku.

(Sial, aku ingin ngomongin apa sih?)

Bicara soal serinya sendiri, aku tertarik karena begitu aku pertama kali melihatnya, yang pertama terlintas di pikiranku adalah kata-kata, “…Ini apaan?”

Anime ini enggak nampilin sesuatu yang gila atau dahsyat atau kontroversial gitu. Tapi seri ini serius kayak… bikin aku enggak bisa bertanya-tanya kalo ini anime soal apa. Kayak, sesuatu yang maksudnya enggak langsung bisa kupahamin gitu. Lalu ternyata, sesudah melihatnya sendiri, enggak kayak biasanya buat anime dalam genre kayak gini, ini memang bukan anime yang apa-apa yang terjadi di dalamnya bisa segampang itu dipahami.

Aku langsung dibuat penasaran oleh apa-apa yang terjadi di dalamnya. Ceritanya memang nampilin hal-hal imut, kayak segi cinta pertama segitiga. Ditambah dengan sedikit bumbu-bumbu supernatural. Tapi dengan cara yang aneh, ceritanya berkembang menjadi agak lebih dalam dan ruwet daripada itu. Mungkin jadi agak kayak cerita misteri…

Aku tahu kalau Ushiromiya Kyrie dari seri Umineko no Naku Koro Ni pernah mengatakan bahwa cerita-cerita misteri terbesar sesungguhnya adalah drama-drama cinta. Tapi sudahlah. Mari kita tak membawa bahasan kita ke arah sana.

…Enggak. Alasan aku ngatain itu bukan karena hingga sekarang aku masih juga single.

Siapa yang Kau Cintai Akan Mengubah Masa Depanmu

Henneko mengetengahkan seputar kehidupan remaja puber bernama Yokodera Youto.

Yokodera, singkat kata, memiliki otak yang mesum. Tapi kesadarannya akan pandangan orang lain terhadap dirinya—dalam hal ini, façade-nya—membuat dirinya kesulitan mengungkapkan hal ini. Apalagi setelah ‘Kotetsu no Ou’ (‘raja baja’), kakak kelas perempuan berdada besar yang menjadi kapten klub atletik yang diikutinya di sekolah, yang sehari-harinya luar biasa disiplin dan galak, menilai kerajinan Yokodera melakukan squat (persis di depan kaca jendela gedung kolam renang) membuatnya pantas dipandang sebagai kandidat kapten klub baru yang kelak akan menggantikan dirinya.

Merasa tertekan oleh kepalsuan yang ia perlihatkan, Yokodera kemudian curhat soal hal ini pada sahabatnya, Ponta. Di luar dugaan, Ponta kemudian meminta Yokodera untuk datang ke rumahnya agar ia bisa mewarisi koleksi buku porno yang telah Ponta kumpulkan! Ponta rupanya telah menghilangkan sifat mesumnya, dan kini ingin mengabdikan hidupnya untuk urusan kemanusiaan anak-anak terlantar korban perang di seluruh dunia!

Yokodera bertanya tentang bagaimana Ponta berhasil melakukan ini. Ponta kemudian bercerita soal patung kucing Warawanai Neko (the Stony Cat, kadang disebut juga sebagai Nekogami alias ‘Dewa Kucing’), yang terletak di bukit dengan satu pohon di tepi kota mereka. Patung kucing itu konon dapat mengabulkan permohonan siapapun yang berdoa di sana, dengan mengambil suatu barang persembahan tertentu sebagai imbalan.

Malam harinya, Yokodera memutuskan untuk mencoba sendiri kemujaraban patung kucing tersebut.

Di sana, Yokodera kemudian berjumpa  Tsustukakushi Tsukiko, gadis mungil yang ternyata merupakan adik kelasnya. Tsukiko rupanya juga ingin memohon pada Nekogami agar dirinya dijadikan orang yang tak terlampau mudah menunjukkan perasaannya.

Bersama, keduanya menyampaikan permohonan mereka. Lalu…

Intinya, ada resiko tertentu yang tak mereka sangka yang harus mereka bayar.

Menjadi Anjing

Nekogami rupanya mengabulkan permohonan dengan ‘mengambil’ apa yang tak diinginkan dari diri orang yang memohon. Nekogami kemudian (dengan agak seenaknya) ‘memberikan’ apa yang tak diingini tersebut pada orang lain yang dirasa memerlukan apa yang tak diinginkan itu.

Semenjak ia memohon agar kepalsuannya dilepas, Yokodera mendapati dirinya tak lagi mampu menahan mulut dan isi pikirannya sendiri. Dalam sekejap, ia menjadi orang yang gampang kelepasan bicara soal apapun yang dipikirkannya tentang diri cewek. Walau dia jadi orang yang lebih jujur sih, kemesumannya langsung dikenal seantero sekolah sehingga akhirnya dirinya dikenal dengan sebutan Hentai Ouji.’

Gara-gara hal ini pula, Yokodera, gara-gara kelepasan bicara, menjadi terlibat dengan gadis cantik yang dikenal sebagai semacam ‘nona besar’ yang sulit didekati di sekolahnya, Azuki Azusa.

Tsukiko sendiri, yang sebelumnya cengeng dan agak emosional, berubah menjadi perempuan dengan mimik muka dan suara yang teramat, sangat datar. Agak sulit untuk memahami apapun yang Tsukiko rasakan. Bila ia menjerit, maka pekikan “Kyaa~” yang dilepasnya secara refleks akan dilepasnya dengan nada teramat, sangat datar. Walau demikian, dalam sisi-sisi lain, dirinya tak banyak berubah. Dirinya masih gadis mungil yang gemar makan seperti sebelumnya.

Demi bisa membatalkan permohonannya, Yokodera perlu menemukan kepada siapa Nekogami memberikan kepalsuannya itu. Lalu ia perlu mendorong orang bersangkutan untuk menyampaikan permohonan mereka sendiri pada Nekogami agar kepalsuan tersebut dilepas.

Cerita bertambah rumit saat patung Nekogami didapati ternyata tak hanya sekedar satu. Seiring dengan berkembangnya hubungan antar tokoh, muncul tanda-tanda bahwa Yokodera mungkin telah terlibat dalam urusan patung kucing ini jauh lebih lama dari yang ia duga.

Sekali Lagi…

Henneko adalah jenis cerita yang sebenarnya lebih enak dibaca daripada ditonton. Ini paling terlihat jelas kalau kau memperhatikan adegan-adegan dialognya sih. Apa yang para karakternya ucapkan (dan lakukan) itu kerap begitu konyolnya sehingga terasa agak unreal bila melihatnya dihidupkan secara langsung. Karakterisasinya juga sebenarnya termasuk agak mengikuti stereotip. Tak ada satupun karakternya yang benar-benar terasa wajar. Walau dalam kasus Henneko, itu sebenernya bukan hal buruk sih.

Apa ya?

Pertama, mungkin karena temponya juga, apa-apa yang terjadi dalam ceritanya agak susah diikuti. Kalau kita membaca dan mengkaji pilihan kata yang Tsukiko gunakan, kita bisa mengerti apakah ia sedang marah, sinis, atau sedih. Namun bila kita mendengar dan melihatnya sendiri, mungkin ada hubungannya dengan pola kerja otak kita atau gimana, tapi apa yang tersirat pada akhirnya tak langsung menempel di kepala kita. Hal yang sama juga… agak berlaku pada karakter lainnya. Cara mereka menungkapkan pikiran dan perasaan mereka begitu ala light novel-nya, sehingga jadinya itu benar-benar aneh.

Intrik cerita yang tersamar serta perkembangan-perkembangan situasi yang nyata-nyata ajaib dan aneh (seperti terjadinya badai tiba-tiba karena ada yang memohonnya) juga agak gampang membuat perhatian kita teralih. Terlebih dengan gimana kekuatan Nekogami bisa sampai mempengaruhi ingatan dan sifat orang.

Tapi kalau dibalik, justru itu juga yang membuat seri ini menarik sih.

Bicara lagi soal karakternya, mereka semata karakter-karakter yang luar biasa aneh dan ajaibnya. Tapi ada daya tarik aneh yang mereka punya sehingga kita tak sampai segitu terganggunya oleh mereka.

Beralih ke soal hal teknisnya, dengan warna-warninya yang cerah, seaneh apapun dunia dan karakternya, ini termasuk salah satu seri yang terbilang enak dipandang. Kualitas visualnya cukup konsisten dari awal hingga akhir. Aku lumayan terkesan dengan nuansa kota kecil yang berhasil dipaparkannya. Maksudku, perkembangan cerita di seri ini begitu anehnya, sehingga rasanya menakjubkan melihat latar kota ini secara wajar bisa terlihat ‘masuk.’ Secara audio, sebenarnya tak ada masalah sih. Tapi aku memang agak merasa hasilnya bisa lebih baik lagi. Atau mungkin juga itu karena dengan porsi cerita yang mau dicakup, temponya memang perlu agak dikebut. Sehingga waktu pembangunan suasana dan sebagainya jadi kurang.

Akhir kata, yah, pendapatku kira-kira seperti tadi.

Aku tak yakin ini akan menjadi seri yang akan kurekomendasi sih. Tapi ini seri yang menarik. Benar-benar menarik. Kadar fanservice-nya ada, walau mungkin buat standarku agak enggak terlalu kentara. Dengan kata lain, seri ini enggak separah bayanganku semula. Tapi tetap saja bagi sejumlah orang mungkin enggak cukup nyaman buat dilihat.

Kalau kau tertarik pada cerita-cerita bertema aneh dan sekaligus dengan perkembangan cerita yang agak di luar dugaan, mungkin kau bisa suka pada Henneko. Tapi buat selebihnya, yah, mungkin kau akan lebih nyaman jika membaca daripada menonton. Kalau kau suka pada konsepnya, dan tak terlalu bermasalah dengan banyaknya hal-hal tak masuk akal di dalamnya, lalu mengikutinya hanya sekedar untuk menikmatinya belaka, maka mungkin kau bakal suka. Ada hal-hal ‘dalam’ yang berusaha disampaikan dalam seri ini. Jadi seenggaknya seri ini kelihatan jelas punya ‘hati’ yang mempertahankannya agar enggak jadi buruk-buruk amat.

Eniwei, ranobe-nya konon masih berlanjut. Jadi mungkin pandapatku di masa depan bakal berubah.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: B; Audio: C+; Perkembangan: B+; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C+


About this entry