Evangelion: 3.33 – You Can (Not) Redo

Agak perlu waktu lama, tapi aku akhirnya berkesempatan menonton ini.

…Walau mungkin, sebenarnya bukan masalah ‘kesempatan’ buat nontonnya sih. Tapi lebih ke waktu yang tepatnya aja. Soalnya seri ini dari dulu merupakan jenis yang terlalu sayang buat enggak dihargai bila kita enggak menontonnya dalam kondisi hati yang tepat.

Gimanapun, ini adalah episode ketiga dari proyek Rebuild of Evangelion, alias versi layar lebar baru dari waralaba Shin Seiki Evangelion yang juga dikenal dengan nama Neon Genesis Evangelion. Judul resmi untuk keluaran BD-nya adalah Evangelion: 3.33 You Can (Not) Redo atau Evangelion Shin Gekijou-ban: Q (Quickening).

Ini masih merupakan penceritaan ulang dari seri anime yang mencapai status ‘legendaris’ semenjak tahun 1996 dulu.  Seperti dua movie pendahulunya, episode kali ini, dengan dukungan dari banyak sekali pihak, dibuat oleh studio Khara dengan staf yang masih sama seperti sebelumnya, dan dirilis pertama kali di layar lebar menjelang akhir tahun 2012. Anno Hideaki masih menjadi kepala sutradara.

Dunia Berwarna Merah

…Aku agak enggak yakin bagaimana cara terbaik memaparkan sinopsisnya. Tapi kayak biasa, aku coba saja.

Ikari Shinji terbangun 14 tahun sesudah upayanya menyelamatkan Ayanami Rei dari penyerangan Angel (Shitou) ke Geofront di akhir film yang kedua. Namun ia terbangun di sebuah dunia yang tak ia kenal. Seluruh permukaan dunia, kini tak hanya lautnya, telah berwarna merah darah. Hampir seluruh peradaban manusia hancur. Namun dirinya, sebagaimana para pilot EVA lain, entah bagaimana sama sekali tak menua.

Shinji kemudian mendapati bahwa meski organisasi NERV telah dibubarkan(?), tengah berlangsung konflik panjang antara mereka dan sebuah organisasi bernama WILLE, yang dipimpin oleh Katsuragi Misato. WILLE bertujuan untuk memusnahkan sisa unit Evangelion yang dimiliki oleh NERV, dan mereka bermarkas di sebuah kapal udara bernama Wunder yang menggunakan ‘inti’ dari EVA Unit 01 yang dulu dipiloti Shinji.

Kebingungan dan dimusuhi karena suatu alasan yang tak ia pahami, Shinji mempertanyakan perannya di tengah konflik ini. Apa sesungguhnya yang terjadi? Ke mana perginya Ayanami? Meski Shinji lega karena mendapati Shikinami Asuka Langley masih hidup, apa yang telah terjadi pada mata kiri Asuka?

Seakan menjawab segala pertanyaan dan keresahannya, Nagisa Kaworu tiba-tiba hadir. Dirinyalah yang sesuai perintah ayah Shinji, Ikari Gendou, akan menjadi partner Shinji dalam mengemudikan EVA Unit 13 yang baru. Namun jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya tersebut mungkin bukan sesuatu yang Shinji akan dapat terima.

Gerbang

Pada titik ini, cerita film layar lebar ini sudah berbeda sama sekali dari seri TV-nya. Perbedaannya begitu kontras dan sekilas terasa asing, sehingga agak mengherankan karena perbedaan ini tak ditampilkan dari awal film layar lebar pertamanya.

Tapi, dari aspek teknis, film ini kayak biasa benar-benar memukau. Adegan pengambilan kembali Shinji yang dilakukan oleh Asuka dengan EVA Unit 02-Dash dan Makinami Mari Illustrious yang menggunakan EVA Unit 08 (yang berwarna pink?!) kelihatannya akan menjadi adegan klasik. Latarnya di luar angkasa, terdiri atas beberapa babak, dan diwarnai ramainya komunikasi antar operator dan diselingi nyanyian iseng Mari. Penataan suaranya juga benar-benar baik. Pemilihan musiknya yang bervariasi kelihatannya dimaksudkan untuk pemberian efek dramatis. Kurasa dari banyak segi, feel yang disampaikan dalam film ini kena, dan feel tersebut belakangan kusadarin merupakan feel khas yang dimiliki anime Evangelion.

Mungkin ini karena akunya yang telah dewasa, atau akunya yang telah tahu lebih banyak tentang Evangelion dibandingkan dulu, atau mungkin memang karena arahan film ini yang lebih jelas, tapi cerita yang disampaikan dalam film-film Rebuild of Evangelion ini terasa jauh lebih mudah diikuti dan dipahami dibandingkan cerita dalam seri TV-nya yang orisinil.

Di saat yang sama, ini cerita asing dengan makna dan perkembangan yang sama sekali berbeda. Walau memang di sana-sananya, tema dan nuansanya kembali mirip seperti konsepnya yang semula (soal bagaimana Shinji berusaha melakukan apa yang lingkungan harapkan darinya, bagaimana dirinya merasa terasing, bagaimana dirinya merasa ditolak, bagaimana dirinya frustrasi oleh kesalahan dan keadaan enggak berjalan sesuai keinginannya; sama sekali ‘enggak keren’ tapi memang dimaksudkan buat ‘enggak keren’, btw) ini sama sekali enggak kayak seri Evangelion yang para penggemar lamanya telah kenal. Jadi buat orang-orang yang baru tertarik akan seri ini tapi tak yakin harus memulai dari mana (berhubung kondisi seri TV orisinilnya yang… kayak gitu), dan ingin lebih paham apa-apa saja sesungguhnya yang membuat seri ini terkenal itu apa,  mungkin lebih kusarankan untuk mulai membaca adaptasi manga karya Sadamoto Yoshiyuki.

Ngomong-ngomong soal itu, manganya itu kayak reintepretasi ulang dari seri TV dan sangat ngikutin konsep awalnya, hanya saja dengan pemaparan yang lebih lugas. Memang butuh waktu lama banget sih, tapi kalau aku enggak salah manganya belum lama ini akhirnya tamat di Jepang (kalau enggak salah, tahun bulan lalu?). Manganya di sini sudah diterbitkan oleh MnC. Tapi berhubung di sini sudah diterbitkan sejak lama banget (edisi pertama terbit di sini tahun 2002? Sementara di Jepang tahun… 1994?), kalau enggak malas mengubek-ubek koleksi lama di taman-taman bacaan, mungkin perlu memakai fitur pemesanan. Mungkin suatu waktu ntar akan kubahas secara khusus.

(Walau lebih gampang dimasuki, manga-nya masih mengandung muatan-muatan sensitif seperti nudity dan religi. Jadi inget-inget aja soal itu.)

Everybody Finds Love… In the end.

Akhir kata, aku lumayan menikmati film ini. Dalam artian, lebih karena aku enggak bisa benci sih. Alur umumnya memang lebih jelas. Tapi masih ada banyak teka-teki yang belum terjelaskan di dalamnya.  Hal-hal kecil kayak gini, terutama yang meliputi soal perkembangan karakternya, yang agak bikin film ini terasa gimanaa gitu.

Asuka, misalnya, enggak dapat banyak waktu tayang di film kedua. Sehingga dia kayak menghilang sebelum hubungannya dengan Shinji dan Rei terbangun secara jelas. Peranan Mari di seri film ini juga masih ambigu.

Visualnya luar biasa keren sih. Adegan-adegan aksinya seru dan lumayan enak dilihat. Desain mecha unit-unit Eva yang baru serta pesawat Wunder lumayan mengangkat alis.

Sebagian besar adegan di film ini memaparkan dunia yang benar-benar telah sepi dan dipenuhi hal-hal yang agak grotesque. Dengan beberapa cara, sejumlah adegannya juga jadi terasa seperti sebuah adegan teater di panggung daripada sebuah film layar lebar, dengan gambar latar belakang yang dinamis. Karenanya, film ini benar-benar unggul dalam efek dramatis.

Dengan segala kesulitan produksi yang seri TV-nya dulu sempat alami, aku jadi ngerasa Rebuild of Evangelion menjadi cara pembuatnya untuk menyampaikan apa-apa yang dulu gagal disampaikan lewat cerita aslinya, yakni soal harapan di ujung beban tanggung jawab dan keputusasaan berkepanjangan.

Menonton film ketiganya ini, aku jadi nyadar soal gimana sudah begitu lama semenjak ada anime yang memaparkan pendewasaan karakter sedemikian dalam sampai-sampai kita membutuhkan fokus untuk mencernanya gini. Terakhir kali, kayaknya itu pas aku melihat Eureka Seven yang pertama.

Film keempatnya, yang konon adalah yang terakhir, kabarnya akan keluar di penghujung tahun ini. Jadi kurasa enggak akan lama sampai kita bisa melihat penutup cerita ini. Mudah-mudahan saja hasilnya memuaskan.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A-


About this entry