Fafner: Heaven and Earth

…Ada sesuatu yang aneh denganku.

Belum lama ini aku nyadar kalau aku bisa memandang sesuatu yang kebanyakan orang anggap ‘enggak bagus’ sebagai sesuatu yang ‘bagus.’ Film layar lebar Gundam F91, misalnya. Buat kebanyakan orang, kudengar itu movie yang enggak terlalu berkesan. Tapi mungkin karena pernah dengar soal bagaimana film tersebut direncanakan sebagai seri TV sebelumnya, aku kayak bisa langsung memahami apa maksud pembuatnya dalam setiap adegan di film tersebut. Makanya, sebagai akibatnya, aku kayaknya termasuk di antara sekian sedikit orang yang memandang Gundam F91 ‘berkesan.’

Atau mungkin itu juga ada kaitannya dengan sudut pandangku sebagai orang yang hobi menulis.

Tapi terlepas dari itu, aku berkesempatan menonton film layar lebar Soukyuu no Fafner: Heaven and Earth belum lama ini. Film layar lebar tersebut merupakan instalasi terkini dari seri mecha Soukyuu no Fafner: Dead Agressor, atau yang dikenal juga sebagai Fafner in the Azure (‘Fafner di langit biru’) sesudah OAV Fafner: Left or Right yang keluar sejak… buset, kapan ya? Lebih dari beberapa tahun lalu?

Buat yang bener-bener enggak tahu, seri keluaran studio animasi XEBEC sekaligus buah pena penulis Ubakata Tow (beliau juga menulis Towa no Quon, Mardock Scramble, serta beberapa skenario untuk seri Ghost in the Shell) ini sebenarnya pertama muncul sekitar tahun 2002. Jumlah episodenya pertama-tama ada sekitar 25, dengan episode terakhir berdurasi satu jam. Aku ingat jelas, soalnya kemunculan seri ini di waktu yang kurang lebih sama dengan masa penayangan pertama Kidou Senshi Gundam SEED. Seri ini sempat mencolok karena desain karakternya, seperti Gundam SEED,  juga dikerjakan oleh Hisashi Hirai. Sehingga seri ini sayangnya sempat mendapat citra kurang berkesan sebagai ‘anime mecha tiruan Gundam SEED’ meski konon proyek pengerjaannya dimulai sebelum masa pengerjaan Gundam SEED.

Dari segi ceritanya sendiri, nuansa Fafner sebenarnya lebih dekat ke Evangelion daripada Gundam sih.

Inti ceritanya seputar bagaimana sekelompok anak remaja di sebuah pulau bernama Tatsumiya tiba-tiba mendapati bagaimana pulau mereka yang terpencil sebenarnya merupakan salah satu benteng pertahanan terakhir umat manusia melawan serangan makhluk asing Festum yang telah menghancurkan sebagian besar peradaban. Anak-anak tersebut kemudian mendapati bahwa mereka bukan anak-anak ‘alami’ dan sejak awal memang telah dibentuk untuk mengemudikan mecha-mecha Fafner untuk melawan para Festum.

Heaven and Earth sendiri merupakan sekuel pertama seri ini, dan pertama keluar pada bulan Desember tahun 2010. Sedangkan Left or Right merupakan prekuel berupa episode TV spesial berdurasi satu jam yang ditayangkan bulan Desember tahun 2005, yang berlatar beberapa waktu sebelum seri TV-nya. Jadi baru sekitar sepuluh tahun sesudah seri pertamanya berakhir kita mengetahui kelanjutan nasib para tokohnya.

Kawan Lama

Sejujurnya, aku belum pernah menonton seri Fafner yang asli ataupun menonton Left or Right. Bukannya tak mau sih. Hanya belum pernah berkesempatan menontonnya saja. Tapi dalam tahun-tahun terakhir ini aku sempat membaca sejumlah ulasan dan ringkasan cerita tentangnya.

Tema yang diangkatnya agak abstrak, jadi ini bukan sesuatu yang bisa langsung ngeh di pikiran kebanyakan orang. Di sisi lain, tema abstrak yang diangkatnya itu agak membuatnya mungkin terasa terlalu dramatis bagi kebanyakan orang.

Bicara tentang Festum, wujud mereka adalah seperti raksasa-raksasa cahaya. Mereka berupaya ‘mengasimilasi’ makhluk-makhluk hidup apapun yang mereka temui, secara seketika mengubah mereka menjadi seperti gumpalan-gumpalan kristal (kalau enggak salah belum lama ini ada seri mecha lain yang menampilkan semacam proses serupa?), sembari mengajukan pertanyaan khas mereka yang maknanya menjadi teka-teki di sepanjang seri: “Apa kau di sana?” Seiring perkembangan cerita, wujud mereka berevolusi menjadi makin padat dan kompleks hingga menyerupai bentuk mecha-mecha Fafner yang digunakan untuk melawan mereka.

Meski sebenarnya lebih menampilkan suatu ensemble cast, dengan tokoh lumayan banyak, apalagi mengingat jumlah episodenya hanya 26, tokoh sentral seri ini adalah Makabe Kazuki, seorang pemuda ramah yang meski tak menonjol di antara teman-temannya, menyembunyikan tekad dan ketabahan yang luar biasa. Dirinya mengemudikan Fafner Mark Elf, dan sebagai ‘putra’ Makabe Fumihiko, komandan organisasi ALVISS yang merupakan wujud pulau Tatsumiya sesungguhnya,  menjadi yang pertama di antara teman-temannya yang direkrut sebagai pilot Fafner.

Sebagian besar seri ini juga menampilkan hubungan persahabatan Kazuki dengan Minashiro Soushi, sahabat lamanya yang baru kembali dari luar pulau. Ada suatu porsi masa lalu di antara mereka yang tak bisa diingat Kazuki. Lalu pertanyaan-pertanyaan mencuat tentang apa dan siapa sebenarnya Soushi karena dirinya menjadi satu-satunya orang yang mampu mendukung Kazuki dan para pilot Fafner melalui aplikasi semacam media pembantu bernama Siegfried System, yang menguras nyawa dan kekuatan mentalnya setiap kali dipakai.

Terungkap seiring perkembangan cerita, hakikat kaum Festum, kenyataan tentang hilangnya ibu Kazuki, pembeberan bahwa Pulau Tatsumiya merupakan pulau buatan, serta kenyataan bahwa ada semacam makhluk hidup yang menjadi ‘sumber tenaga’ bagi pulau tersebut. Terungkap pula bahwa pulau tersebut selama ini menyembunyikan diri bukan hanya untuk berlindung dari serangan Festum, melainkan juga untuk bersembunyi dari pengawasan kelompok-kelompok manusia lain yang hendak menggunakan teknologi di Tatsumiya untuk kepentingan perang antara mereka sendiri.

Mata yang Memandang

Klimaks seri TV Fafner ditandai dengan gagalnya pencapaian kompromi antara manusia dan Festum, sesudah upaya susah payah untuk menjalin komunikasi dengan mereka berhasil dilakukan (lagi-lagi, kayaknya belum lama ini ada anime mecha lain yang mengangkat tema kayak gini deh).  Ceritanya sendiri berakhir dengan perpisahan antara Soushi dan kawan-kawannya, dengan janjinya pada Kazuki kalau suatu saat kelak, mereka pasti akan bertemu kembali.

Rinciannya sebenarnya lebih ribet dari itu sih. Dengan banyaknya korban teman Kazuki (sesama tokoh utama) yang jatuh secara tragis, intervensi semena-mena dari pihak Neo U.N., serta penyelesaian masalah-masalah pribadi dan antar individu di antara keluarga para tokoh utama. Tapi konflik yang dipaparkan dalam seri TV Fafner kurang lebih berakhir seperti itu.

Heaven and Earth berlatar sekitar tiga tahun sesudah berakhirnya seri TV, menggambarkan bagaimana perdamaian yang akhirnya telah kembali ke Tatsumiya kemungkinan terusik seiring dengan kemunculan sebuah kapal hitam asing. Kazuki, yang semenjak berakhirnya konflik di seri TV, secara perlahan telah memudar penglihatannya (meski dia berusaha menyembunyikan kenyataan tersebut dari teman-temannya yang lain), mulai memperoleh visi-visi tentang Soushi. Visi tentang Soushi itu menyatakan akan datangnya seorang utusan baru dari pihak Festum (Kurusu Misao) yang mungkin akan merupakan ‘harapan terakhir mereka.’

Berhubung aku tak mengikuti seri TV-nya secara benar, mungkin ada detil cerita yang luput kuperhatikan atau pahami. Jadi aku enggak begitu bisa menyampaikan sinopsisnya. Tapi aku benar-benar menyukai nuansa yang dibawa movie ini.

Aku pernah dengar gosip kalau cerita di paruh awal seri TV-nya agak berantakan, dan baru menjadi bagus semenjak Ubakata-sensei terlibat pada paruh akhir pembuatan. Sayangnya, awal pertamanya yang agak kurang itu yang membuat kebagusan seri ini gagal terlihat saat seri ini pertama tayang.

Gimana bilangnya ya.

Jadi kayak ada semacam nuansa melankolis dan beban masa lalu yang menghantui para tokoh utamanya gitu. Latar Pulau Tatsumiya yang indah dan damai sebenarnya menyembunyikan rentetan teknologi super canggih di baliknya (seperti ruang-ruang perlindungan bawah tanah, persenjataan misil dan perisai yang mampu mencuat ke permukaan jalanan, ruang CIC yang terlihat mencekam, dsb). Idenya mirip dengan keadaan Shin Tokyo 3 di Evangelion. Tapi apa ya? Latar Pulau Tatsumiya terasa lebih ‘berarti’ gitu. Kayak, ini tuh ‘rumah’ bagi para tokoh utamanya. Sesuatu yang secara turun-temurun sudah mereka miliki. Kesan sentimentil ini diperkuat dengan visi-visi akan masa lalu, masa depan, dan orang-orang yang telah tiada, serta fenomena-fenomena misterius lain yang mungkin hanya dapat dilihat oleh satu orang dan mungkin juga tidak. Ini pula yang menjadi alasan kenapa terkadang para tokohnya merasakan dorongan untuk bertindak yang tak terlalu bisa dipahami para karakter lain.

Para karakternya memiliki sisi emosional mereka masing-masing. Mungkin di awal, terasa lebay gitu. Tapi kalau diamati dan dicerna, mungkin saja kondisi emosional mereka memang ‘masuk’ ke dalam latar certa. (Di samping membuat ceritanya sendiri makin ramai.)

Tapi terlepas dari apakah kamu bisa mencerna ceritanya atau tidak, ada satu alasan kenapa semua penggemar anime mecha tak boleh melewatkan movie ini.

ADEGAN-ADEGAN AKSI MECHA-NYA SUPER KEREEEEEEEEEN!

Ini mungkin adalah adegan-adegan mecha dengan koreografi paling keren yang pernah kulihat sejauh ini. Lalu ya, aku membandingkannya juga dengan beberapa seri mecha baru yang keluar belakangan.

Soal mecha-mecha Fafner itu… apa ya? Kesemuanya terlihat enggak mengesankan dalam keadaan diam. Karenanya mungkin ide tentang pembuatan plamo-nya kurang begitu mengundang. Tapi pada saat dianimasiin, dalam keadaan bergerak, dengan armamen mereka yang teramat bervariasi itu, hasil akhirnya benar-benar memukau.

Tak ada desain mecha yang ‘baru’ di seri ini. Tapi tetap luar biasa bisa melihat lagi aksi Fafner Mark Sein yang digunakan Kazuki. Fafner Mark Nicht yang menjadi duri-dalam-dagingnya juga muncul kembali. Namun kini tercipta sepenuhnya dari Festum, dan kali ini dikemudikan oleh Kurusu Misao sendiri. Satu desain yang mungkin bisa disebut ‘baru’ paling hanya Zero Fafner berukuran besar yang sebenarnya merupakan prototipe dari model-model Fafner yang muncul sesudahnya, yang dikemudikan bersama oleh kakak beradik (ya, mereka kakak beradik) Nishio Rina dan Nishio Akira, dua karakter yang kini telah dewasa. (Dua karakter lain yang digambarkan telah dewasa dan kini aktif sebagai pilot Fafner bersama para tokoh utama lama adalah Tatekami Seri dan Douma Hiroto. Tapi mungkin aku salah. )

Para penggemar romens, mungkin bakal kecewa. Enggak ada cerita cinta yang dipaparkan di seri ini. (Walau para fujoshi mungkin bakal melihat sesuatu dari hubungan Kazuki dan Soushi, keduanya setahuku straight. Keduanya suka Toomi Maya.)

Tapi secara umum, movie ini termasuk berakhir memuaskan. Adegan-adegan aksinya keren. Kegentingan yang penuh pertanyaannya jelas. Serta ketakutan terhadap ancaman kematian sesudah para pilot duduk di kokpit Fafner masih terasa. Dengan banyaknya karakter, mungkin terkesan sebagian besar di antara mereka kurang mendapat sorotan. Tapi untuk ukuran anime Fafner, kenyataan bahwa mereka masih baik-baik saja dan bisa menjalani hidup dengan normal sebenarnya sudah menyiratkan banyak hal.

Ini bagus. Kurekomendasikan untuk penggemar anime mecha manapun.

Terlebih, dengan diumumkannya sekuel berupa seri TV baru Fafner setelah sekian lama. Judulnya sejauh ini disebutkan sebagai Fafner in the Azure: Dead Aggressor: -EXODUS-, dan dijadwalkan tayang pada perempat ketiga tahun ini. Ceritanya konon akan berlatar tiga tahun sesudah movie ini. Tapi detil lebih lanjut mungkin akan kukabari nanti.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A+; Audio: B; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A


About this entry