Valvrave the Liberator

Berhubung sifatnya sebagai anime mecha, aku mengikuti perkembangan Kakumeiki Valvrave belakangan.

Dikenal juga dengan judul Valvrave the Liberator (‘Valvrave, sang pembebas’), anime ini merupakan keluaran studio animasi Sunrise dengan penayangan pertama pada musim semi tahun 2013, dengan season pertama berjumlah 12 episode.

…Sebelum aku mulai, ada baiknya aku menyebut satu kata yang sebenarnya sudah lebih dari cukup buat menggambarkan Valvrave bagi kebanyakan orang. Oke, mungkin sebenarnya tiga kata sih. Tapi maksudku, kurang lebih gini…

Kata tersebut adalah “Dafuq.

Makna kata tersebut dalam bahasa Jawa kira-kira adalah “(kata makian) Opo iki rek?!”

Valvrave bertempo cepat, berkarakter banyak, dan punya perkembangan cerita yang ‘enggak terlalu’ bisa diterima semua orang. Entah karena perkembangan situasi dan karakternya yang dinilai absurd, foreshadowing yang kurang, atau adanya plot hole yang dirasa tak terjelaskan, dan sebagainya.

Berhubung penulis skenarionya adalah Okouchi Ichiro, yang sebelumnya menangani Code Geass dan… uh, Guilty Crown, sebenarnya ini bukan hal yang mengejutkan sih. Mungkin hal-hal tersebut malah bisa dipandang sebagai ciri khas beliau. Tapi, tetap saja. Soalnya, ekspektasi orang saat pertama mendengar tentang promo Valvrave adalah ‘anime aksi mecha klasik’ baru. Apalagi mengingat reputasi panjang Sunrise sebagai produsen anime-anime bergenre mecha, terutama dengan baru berakhirnya Kidou Senshi Gundam AGE belum lama ini.

Valvrave memang dimulai dengan gaya anime mecha tipikal. Tapi berbagai twist yang dimasukkan ke dalamnya membuat ceritanya kayak… gimana ya? Bukan klasik sih. Mungkin bisa diterima atau enggaknya kurasa tergantung kau jenis orang macam apa.

Terlepas dari itu, Valvrave tetap saja menjadi seri yang menarik perhatian. Sutradara yang menanganinya adalah Matsuo Kou (beliau yang dulu secara luar biasa apik menangani adaptasi anime Kurenai), dan desain karakter orisinilnya yang menurutku terbilang benar-benar keren dibuat oleh manga-ka D.Gray-man, Hoshino Katsura.

Bukan Aku

Cerita Valvrave berlatar jauh di masa depan.

Berkat penemuan teknologi Dyson Sphere (semacam rangka bola yang tersusun atas ‘modul-modul’ kecil berbentuk hexagon, di mana kota-kota dibangun), sebagian besar umat manusia di Bumi telah bertempat tinggal di luar angkasa.

Pada zaman ini, terdapat dua negara superpower yang bersaing dalam memperebutkan pengaruh mereka di dunia, yakni Dorssia Military Pact Federation (Dorushia Gunji Meiyaku Renpou) yang militeristik dan memiliki nuansa Jerman kental, serta Atlantic Ring United States (ARUS) yang unggul secara ekonomi. Di tengah dua negara ini, terdapat negara netral kecil namun makmur bernama JIOR—yang memiliki nuansa sangat mirip Jepang.

Di Module 77 yang bertempat di Dyson Sphere milik JIOR, Tokishima Haruto, seorang murid SMA di Perguruan Sakimori yang terletak di modul tersebut, tengah mempertanyakan kembali hubungannya dengan teman semenjak kecilnya yang cantik, enerjik, dan sangat populer, Sashinami Shouko.

Merasa tak mampu memendam perasaannya lebih lama, atas dukungan dari beberapa teman dekatnya, Haruto yang semula ‘lembek’ dan tak merasa perlu bersungguh-sungguh akhirnya membulatkan tekad untuk menyatakan perasaannya pada Shouko.

Namun persis beberapa detik sebelum kata-kata itu keluar dari mulut Haruto, sesudah ia membawa Shouko ke kuil yang dikabarkan dapat mewujudkan cinta abadi bagi siapapun yang menyatakan perasaan mereka di sana, tentara Dorssia tiba-tiba menyerang. Sasaran utama mereka ternyata adalah Module 77 tempat sekolah Haruto dan Shouko berada.

Rupanya, tersembunyi di bawah tanah Perguruan Sakimori, terdapat sebuah fasilitas penelitian rahasia yang mengembangkan teknologi senjata terbaru berbentuk robot humanoid raksasa yang disebut sebagai Valvrave. Fasilitas penelitian ini yang menjadi apa yang dicari oleh tentara Dorssia, yang berhasil ditemukan berkat kejeniusan salah satu anggota tim tentara remaja yang disusupkan ke sana, L-Elf Karlstein.

Ditelan amarah dan frustrasi saat mengira Shouko tiba-tiba tewas begitu saja di depan matanya, Haruto, yang menemukan salah satu unit Valvrave yang terluncur ke permukaan, kemudian menggunakan senjata tersebut untuk membalas tentara Dorssia yang telah menyerang sekolahnya dan mengusir mereka dari Module 77.

Bukan Nol

Premis cerita Valvrave sangat bernuansa Gundam, dan aku sendiri sempat menganggapnya terlalu klise untuk ditonton kalau bukan karena eksekusi adegan-adegannya yang benar-benar bagus.

Ada satu adegan di mana Shouko, di tengah pelajaran sekolah pada episode pertama, diam-diam menyusup di antara meja-meja kelas hanya agar bisa berbicara empat mata dengan Haruto. Satu adegan itu saja kayak secara efektif bikin kita langsung ngeh akan seberapa dalam rasa suka Haruto terhadap Shouko, sekalipun terhadap keduanya kita sebagai penonton mungkin belum terlalu suka-suka amat.

Tapi, kayak yang aku bilang, ceritanya kemudian dibikin berkembang jauh lebih jauh dari itu.

Alasan kenapa seri ini di awal-awal begitu detil menggambarkan Perguruan Sakimori sebagai latar terungkap sesudah lewat serangkaian pertimbangan politik, Module 77 memisahkan diri dari JIOR dan menyatakan kemerdekaannya(!). Hampir semua orang dewasa di Module 77 tewas dalam serangan Dorssia, dan sisa manusia yang ada hanya para pelajar yang terdapat di Perguruan Sakimori. Merekalah yang kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah ‘negara’ yang bisa dipandang setara dengan Dorssia maupun ARUS. Kepemilikan mereka atas Valvrave, yang notabene merupakan sebuah senjata jenis baru, menjadi kartu negosiasi yang mereka gunakan untuk hal tersebut.

Pembeberan latar cerita ini sekilas bikin aku wow gitu. Dari hanya sebuah sekolah, tiba-tiba ada seisi kota yang hanya tinggal puing-puing yang kemudian dijelajahi para murid, beserta ruang-ruang bawah tanah yang menyusun kerangka Module 77. Ada jalanan-jalanan lengang dan supermarket-supermarket kosong yang bisa diambil isinya tanpa masalah gitu, berhubung keadaannya memang darurat perang.

Tapi sudahlah. Bahasanku malah jadi melompat.

Singkat kata, ada dua hal penting dari episode satu Valvrave yang menjadi tonjolan perhatian utama: adanya semacam program komputer pemandu pada sistem operasi Valvrave (lengkap dengan maskot(?) gadis kecil cantik yang loli) yang secara menakutkan, dengan gaya kayak kalau kalau kita mau menginstalasi program komputer, menyatakan bahwa pemakai sistem harus ‘menanggalkan kemanusiaan’ mereka terlebih dulu sebelum Valvrave dapat digunakan. Lalu yang kedua, di penghujung episode pertama, L-Elf yang kembali menunjukkan kelihaiannya saat dengan tepat menebak di mana Haruto akan mendarat, menyerang Haruto setelah dirinya turun dari Valvrave dan dengan darah dingin langsung menembakinya sampai mati.

Tapi kejutan-kejutan(?) yang telah seri ini persiapkan masih belum berakhir sampai di sana…

Kontrak

Secara teknis, seri ini benar-benar bagus sih. Meski pembawaan ceritanya bisa bikin orang merasa enggak nyaman, secara visual dan audio, ini seri yang termasuk wah.

Desain-desain mecha Valvrave juga termasuk unik. Hasil karya tim gabungan orang-orang yang pernah terlibat dalam desain mecha Gundam dan Fafner (dua nama yang menonjol adalah Washio Naohiro dan Okawara Kunio) menampilkan ciri yang khas, walau mungkin enggak cocok dengan sebagian orang, lengkap dengan adegan-adegan mecha yang dirender mulus dan mengalir enak dilihat..

Seiring perkembangan cerita, terungkap bahwa unit Valvrave yang tersembunyi di Module 77 ternyata lebih dari satu. Kesemuanya memiliki bentuk bulky yang sama, namun dibedakan oleh warna masing-masing, serta jenis arnamen yang dimilikinya. Seluruh armamen yang masing-masing Valvrave ini punyai termasuk unik untuk ukuran anime mecha. Maksudku, tak sekedar terbatas pada pedang dan senapan saja.

Valvrave Unit 1 (nama kode: Hito) yang digunakan Haruto punya warna merah dan kesan kekar gitu, dengan semacam sayap yang agak mirip bentuk kupu-kupu. Senjata utamanya adalah sebilah katana yang bisa digunakan bersama senapan multiguna keren yang berukuran lumayan besar.

Sedangkan Valvrave Unit 4 (nama kode: Hinowa, meski belakangan disebut juga Carmilla) yang berwarna hijau misalnya, memiliki Multi-Leg Spine yang terhubung ke ruas punggungnya seperti kaki-kaki laba-laba, memungkinkannya bergerak lincah dengan kecepatan tinggi serta dipersenjatai dengan Spindle Knuckle yang menyerupai cakram.

Bentuk-bentuk dan kemampuan mereka yang berbeda-beda memberikan semacam nuansa segar dan unik yang belum pernah kulihat dalam anime-anime mecha lain sebelumnya.

Namun ciri khas sesungguhnya dari unit-unit Valvrave adalah adanya efek solid afterglow. Jadi, ‘jalur lintasan cahaya’ sesudah masing-masing mecha ini bergerak dapat ‘memadat’ menjadi kaca yang dapat dipecahkan gitu, dengan warna padatan ini sesuai dengan warna masing-masing Valvrave. Keberadaan ‘jalur lintasan padat’ ini berdampak pada cara-cara Valvrave digunakan, karena di samping menjadi landasan pendorong tambahan di luar angkasa bagi Valvrave, juga dapat menjadi halangan bagi pergerakan mecha-mecha lawan.

Seluruh Valvrave juga punya batas waktu akibat panas yang menumpuk seiring dengan penggunaannya gitu. Apabila panas ini memuncak, unit-unit Valvrave secara tiba-tiba dapat berhenti bergerak.

Hanya Valvrave Unit 1 saja yang memiliki keunggulan seiring penumpukan panas ini, dengan aktifnya semacam senjata sinar pemusnah massal Harakiri Blade begitu tumpukan panas ini mencapai maksimal (kau akan ngerti kenapa namanya begini sesudah melihat sendiri).

Desain-desain mecha Valvrave yang unik diimbangi dengan desain-desain mecha  pihak Dorssia, yang di awal cerita sama sekali tak humanoid. Bentuk mecha Waffe mereka lebih mirip balok-balok persegi yang dapat menyatu, dan juga dapat dipiloti oleh manusia maupun secara otomatis.

Untuk tim elit yang digawangi kawan-kawan L-Elf, terdapat mecha-mecha Annihilator yang mirip pesawat-pesawat udara berlengan. Aplikasi mecha-mecha tersebut lumayan mengangkat alis, karena menghadirkan cara pemakaian yang lumayan beda dari seri mecha manapun yang pernah kulihat.

Soal audio, ini termasuk seri yang tak ada masalah. Duo Angela memainkan jenis musik yang banyak mengingatkan ke saat band mereka sepuluh tahun lalu pertama tampil. Sementara nyanyian T.M. Revolution, yang kali ini dipadu dengan suara Mizuki Nana, juga agak mengingatkan kembali pada Gundam SEED pada tahun 2002 dulu. Lagu pembuka ‘Preserved Roses’ yang mereka bawakan termasuk lumayan menarik perhatian. Terlebih dengan bagaimana pilot-pilot andalan dari pihak lawan, yang turut dipimpin seorang komandan misterius dengan mata tertutup sebelah bernama Cain (baca: ‘kayin’), juga berjumlah lima orang remaja seperti halnya skuadron Athrun Zala di Gundam SEED dulu. Tampang-tampang mereka dengan cara serupa juga banyak ditonjolkan dalam animasi lagu pembuka maupun penutup.

Bersama L-Elf, mereka adalah: A-Drei (rekan baik L-Elf, ada indikasi dirinya seorang pangeran), H-Neun (seorang perayu, tapi mungkin juga mata-mata pihak lain), X-Eins (pandai, ahli siasat, dan sangat menghormati Cain), dan Q-Vier (paling muda, bertampang seperti anak-anak, tapi yang paling suka dan paling bernafsu untuk membunuh). Cuma kuperhatikan, mungkin juga karena banyaknya karakter yang berperan, peranan yang mereka tampilkan tak semenonjol itu.

Bicara soal karakter, satu lagi yang menonjol dari Valvrave adalah banyaknya karakter yang terlibat di dalamnya. Sebagian besar dari mereka adalah teman sekolah Haruto sih. Tapi pada awalnya, tak jelas peran mereka apa. Lambat laun, melalui berbagai interaksi, kita melihat situasi antara mereka berkembang semakin kompleks, walau mungkin bukan dengan cara yang kau suka sih.

Eniwei, beberapa karakter lain yang berperan meliputi:

  • Rukino Saki; seorang penyanyi idola yang menjaga jarak dari hubungannya dengan orang, dan perlahan menjadi sinis dan dingin semenjak karirnya ditahan. Ia menjadi salah satu karakter terpenting di seri ini, seiring dengan perkembangan yang ia alami serta hubungan aneh yang kemudian terjalin antara dirinya dan Haruto. Ia menjadi salah satu saksi ‘perubahan’ yang dialami Haruto semenjak Valvrave digunakan.
  • Inuzuka Kyuma; seorang kakak kelas yang dapat diandalkan, dan selalu berusaha mencari cara untuk menghasilkan uang demi menggapai cita-citanya. Ia juga menjadi salah satu saksi perubahan yang dialami Haruto.
  • Sakurai Aina; gadis baik hati dan pemalu yang juga menjadi salah satu saksi perubahan Haruto. Berkat dirinya, Haruto menemukan cara untuk menghadapi perubahan yang terjadi dalam dirinya.
  • Nobi Marie; sahabat baik Shouko yang pendiam dan dewasa, walau penampilannya lebih seperti anak-anak.
  • Otamaya Yuusuke; pemimpin Klub Budaya yang tahu banyak tentang mesin, dan karenanya banyak diandalkan terkait urusan-urusan teknik Module 77.
  • Yamada Raizou; alias Thunder, pemimpin geng berandalan di Sakimori, yang kemudian bernafsu untuk membalas dendam pada Dorssia atas kematian sahabat baiknya, Nobu.
  • Renboukoji Satomi, pemimpin Dewan Siswa Sakimori yang metodis, agak tinggi hati, namun kaku dalam menghadapi situasi-situasi genting.
  • Ninomiya Takahi; gadis cantik pemimpin Klub Olahraga yang telah terpilih sebagai Miss Sakimori dua kali berturut-turut, yang sedikit banyak mempengaruhi pendapat badan siswa.
  • Renboukoji Akira; adik perempuan Satomi yang berdiam di suatu sudut sekolah sebagai hikkikomori, namun memiliki keahlian luar biasa dalam melakukan hacking.

Dua orang dewasa tersisa hanyalah guru fisika Kibukawa Takumi yang terkesan penyendiri serta guru bantu Nanami Rion, yang berusaha sebisanya untuk mewakili para murid.

Selebihnya, ada banyak elemen lain yang mungkin mengingatkan orang pada seri-seri lawas seperti Gundam SEED dan Code Geass dulu. Seperti mecha utama berjumlah lima, bagaimana cerita jadi berfokus pada hubungan yang terjalin antara Haruto dan L-Elf misalnya, lalu elemen-elemen cerita terlantarnya sekelompok remaja yang jadi waspada terhadap kehadiran orang dewasa, seperti pada Infinite Ryvius atau Starship Operators. Hanya saja, hasil perpaduannya terasa agak aneh gitu. Seperti ada sesuatu yang melenceng.

Tapi sekali lagi, mungkin itu cuma aku, dan belum tentu orang lain juga merasakannya.

Jauh dan Lebih Jauh Lagi Di Masa Depan

Mungkin kalian sudah nyadar. Tapi Valvrave satu lagi seri yang sedikit banyak memberikan perasaan campur aduk.

Ceritanya sendiri memang seru sih.

Ada banyak sekali hal yang seri ini berusaha angkat, namun cakupan seri ini mungkin agak terlampau luas untuk bisa dilingkupi. Adegan-adegan mechanya walau tak mengecewakan sebenarnya juga tak bisa dikatakan banyak porsinya juga. Tempo ceritanya cepat dan perkembangannya hampir selalu terjadi dengan agak tiba-tiba. Sehingga pada akhir cerita,  anehnya, kita malah merasa situasinya hanya bertambah rumit sementara keadaan para tokoh utama sendiri belum beranjak ke mana-mana.

Aku merasa kayak… ada semacam keenggajelasan di seri ini. Sehingga apa yang terjadi hanya terjadi begitu saja tanpa proses yang jelas. Mayat-mayat para korban penyerangan Dorssia misalnya, seakan hilang begitu saja tanpa ditangani. Padahal mereka berada di suatu lingkungan terisolir di ruang angkasa. Lalu sejumlah pembeberan dan perkembangan ceritanya (seperti soal penggunaan media sosial melalui semacam internet, serta soal pembentukan pemerintahan baru itu, misalnya) mungkin bakal terasa terlalu dibuat-buat bagi beberapa orang.

Ada… satu adegan benar-benar kontroversial di sepertiga akhir seri, yang bukan hanya seakan terjadi tanpa alasan, tapi juga karena maksud yang menurutku tak benar-benar jelas. Apalagi dengan tamat season 1 ini yang menggantung.

…Yah, intinya, perkembangannya agak ‘parah.’ Walau mungkin belum sampai ke tingkat yang menyamai Guilty Crown sih.

Tapi sekali lagi, Valvrave seru. Kau melihat salah satu adegan di episodenya secara acak saja, kau bisa tiba-tiba ingin tahu ini anime tentang apa. Di antara tiga seri mecha yang muncul pada musim semi lalu, Valvrave termasuk seri dengan adegan seru paling banyak, sekalipun dengan proses terjadi yang agak-agak sulit dipercaya.

Aku agak terkejut karena kelanjutannya ternyata dijadwalkan untuk bulan Oktober, dan bukannya langsung berlanjut sebanyak 20-an episode. Sepertinya nuansa season keduanya akan sangat berbeda dibandingkan yang pertama. Terutama dengan bagaimana adanya segmen-segmen yang sepertinya berlatar sesudah semacam time skip, yang berlatar teramat jauh di masa depan, lama sesudah masa hidup Haruto dan kawan-kawannya usai. Yah, pokoknya bahasannya sudah tentang adanya semacam galactic empire.

Mungkin nanti di masa depan, aku bakal agak berubah pikiran tentang seri ini. Tapi untuk sekarang, pendapatku adalah seperti ini.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: C+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B-


About this entry