Date A Live

Ini terdengar agak memalukan. Tapi belum lama ini aku mengikuti musim tayang pertama dari anime Date A Live sampai tamat.

Seri ini diangkat dari light novel berjudul sama karya Tachibana Koushi dengan ilustrasi buatan Tsunako. Animenya sendiri dibuat oleh studio AIC PLUS+, berdurasi 12 episode, dan pertama ditayangkan pada musim semi tahun 2013.

Aku pertama mendengar tentang seri ini pada tahun 2011. Padahal seri ini sendiri pertama berjalan pada bulan Maret tahun 2011 di majalah Dragon Magazine terbitan Fujimi Fantasia Bunko. Waktu itu, aku pikir, apa pengumuman kemunculan anime buat seri ini enggak terlalu cepat?

Tapi kalau kupikir lagi, mungkin juga akunya yang salah tahun. Mungkin justru seri ini pertama kudengar tahun 2012.

Sudahlah.

Terlepas dari itu, inti cerita seri ini adalah seputar bagaimana dunia yang agak di masa depan terancam oleh bahaya akibat gempa angkasa (space quake) yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Yang kebanyakan orang tak tahu, fenomena gempa angkasa ini sebenarnya disebabkan oleh makhluk-makhluk yang disebut Seirei (Spirit)—sebutan untuk makhluk-makhluk humanoid perempuan yang nampaknya muncul dari dimensi lain dengan kekuatan supernatural teramat sangat dahsyat yang menyebabkan kehancuran dan kerusakan ke manapun mereka pergi.

Ditambah lagi, suatu perang rahasia sebenarnya selama ini berlangsung antara para Seirei dan pasukan pemburu khusus Seirei yang disebut AST (Anti-Spirit Team) dari Japan Ground Self Defense Force (JGSDF). Pasukan ini terdiri atas gadis-gadis muda yang menggunakan unit-unit peralatan baju khusus canggih Realizer yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan secara nyata apa yang ada di pikiran. Namun, meski diyakini memiliki potensi untuk mengimbangi kekuatan para Seirei, sejauh ini perang yang mereka canangkan selalu berat sebelah dengan mereka di sisi yang kalah.

Kenyataan tentang semua ini baru diketahui oleh sang tokoh utama, seorang remaja lelaki bernama Itsuka Shidou, tatkala dirinya dengan panik berusaha mencari adik perempuannya semata wayang di usia SMP, Itsuka Kotori, yang tiba-tiba tak dapat dihubunginya sewaktu panggilan untuk evakuasi gempa angkasa berlangsung.

Namun pada kenyataannya, Kotori sebenarnya adalah pemimpin kapal induk Fraxinus yang menjadi markas organisasi rahasia Ratatoskr yang bertujuan untuk menangani masalah Seirei secara alternatif tanpa melibatkan perlawanan!

Sekali lagi.

Namun pada kenyataannya, Kotori sebenarnya adalah pemimpin kapal induk Fraxinus yang menjadi markas organisasi rahasia Ratatoskr yang bertujuan untuk menangani masalah Seirei secara alternatif tanpa melibatkan perlawanan!

Sejujurnya, waktu aku pertama mengetahui ini, reaksiku seketika adalah, “A… APAAAA?!?”

Lalu kunci dari rencana mereka tak lain berada di tangan Shido.

Bagaimana rencananya?

Shido hanya perlu melewatkan waktu bersama para Seirei demi bisa mengajarkan pada mereka arti kehidupan dan kasih sayang.

Save the World

Terus terang, waktu aku pertama mendengar tentang Date A Live (judulnya kelihatannya merupakan pelesatan dari ungkapan ‘dead or alive’), aku benar-benar terkesan pada premisnya. Seri ini secara kocak jelas-jelas memasukkan berbagai hal yang lazimnya cuma kau temukan dalam game-game dating sim, tapi kini dengan keselamatan seisi dunia sebagai taruhan.

…Enggak, kalau kau berusaha mencari saran nyata soal bagaimana cara PDKT ke cewek, aku enggak yakin kamu bakal menemukannya di seri ini sih. Ujung-ujungnya, dalam perkembangannya, Date A Live juga seakan menjadi sebuah seri harem seperti kebanyakan anime sejenisnya. Tapi ada plot yang lumayan menarik dari premis Date A Live. Belum lagi ada adegan-adegan pertempuran menghebohkan antara para Seirei melawan AST.

Secara garis besar, elemen-elemen ceritanya lumayan absurd. Tapi menurutku ini tetap seri menarik yang dengan agak tongue-in-cheek menampilkan banyak hal mengejutkan dari tipikal latar harem yang biasa kita lihat.

Secara teknis, kualitas presentasinya termasuk biasa-biasa saja, baik dari segi visual maupun audio. Desain karakternya terlihat menarik dalam ilustrasi awal di novelnya, tapi menurutku kurang terbawa ‘wah’-nya dalam bentuk anime. Terutama untuk ukuran anime harem. Namun walau begitu, mungkin karena pembawaannya, ada yang terasa kayak ‘baru’ di seri ini gitu.

Ini semuanya konyol dan enggak guna-guna banget buat diikuti. Tapi rasa penasaran mengalahkanku, dan aku akhirnya mengikuti keseluruh episode musim tayang pertama seri ini sampai akhir. Lalu lama-lama, aku beneran berhasil dibuat ketawa dengan aspek-aspek komedi yang seri ini punya.

…Sial, aku jadi malu sendiri.

Save My Heart

Target pertama Shido adalah Seirei bernama kode Princess yang belakangan dinamainya Yatogami Tohka. Tapi cerita semakin berkembang dengan kemunculan Seirei-Seirei yang lain, yang biasanya melibatkan twist-twist agak mengejutkan berkenaan sifat-sifat dan kemampuan mereka yang berkaitan dengan perkembangan cerita.

Sedikit memperumit situasi Shido adalah kehadiran Tobiichi Origami, teman sekelas Shido yang cantik, bintang kelas, dan selalu berekspresi datar, yang sejak awal karena suatu alasan telah memendam rasa suka terhadap Shido, namun menyembunyikan jati diri sebagai salah satu anggota AST. Origami rupanya dilanda dendam terhadap para Seirei, karena mengingat di tangan salah seorang Seirei-lah kedua orangtuanya dahulu tewas.

Season pertama anime Date A Live merangkum cerita dari buku pertama sampai keempat. Terlepas dari segala kekonyolan dan keabsurdannya, plotnya terkadang-kadang bisa menjadi menarik dengan cara-cara agak tak disangka.

Bagaimana Shido ternyata memiliki kemampuan untuk menyegel kekuatan para Seirei masih menjadi pertanyaan. Demikian pula soal masa lalu dan latar belakang keluarganya bersama Kotori.

Di pertengahan cerita, muncul anggota AST khusus bernama Takamiya Mana—satu-satunya anggota AST yang pernah mengalahkan Seirei—yang menyatakan diri sebagai adik perempuan sesungguhnya dari Shido, namun ia tak bisa memastikan fakta tersebut karena ia telah kehilangan ingatannya. Lalu dari sana muncul pula indikasi bahwa ada kemungkinan ingatan masa lalu yang Shido dan Kotori miliki sama-sama bukanlah ingatan asli.

Beberapa Seirei lain yang muncul selain Tohka meliputi Yoshino, seorang gadis kecil pendiam yang sebelumnya kesepian. Kekuatannya berupa boneka kelinci raksasa berkekuatan es yang ia sebut sebagai Yoshinon.

Selain dirinya, hadir pula Tokisaki Kurumi, seorang Seirei yang tiba-tiba muncul sebagai murid pindahan di SMA Raizen tempat Shido bersekolah. Kurumi kemudian terungkap sebagai Seirei yang di masa lalu menjadi buruan Mana… dsb dsb.

Memang tak begitu berbobot. Tapi untuk ukuran anime sejenisnya, cerita dan perkembangan karakternya termasuk menarik. Ada lumayan banyak karakter yang diperuntukkan untuk faktor komedi di sini. Ada beberapa perkembangan yang mungkin bagi beberapa orang menganggu. Tapi sejak awal ini memang bukan seri yang terlampau serius. Ada suatu narasi dramatis aneh yang berubah-ubah di awal pembuka setiap episode yang hampir selalu membuatku ngakak karena kekonyolannya. Kualitas fanservice-nya juga tak sampai sebagus itu. Ada satu karakter yang dari awal hingga akhir kelihatannya selalu hanya mengatakan satu hal saja. Kota Tengu dan SMU Raizen yang menjadi latar terkesan seakan dicomot dari sebuah dating sim. Ada semacam tim pendukung melalui radio ala Metal Gear Solid yang mendukung Shido dari balik layar terkait pilihan-pilihan jawaban yang harus ia ambil di setiap misi kencannya bersama masing-masing Seirei. Lalu ada suatu rincian ekstensif tentang kekuatan para Seirei yang sebenarnya cukup menarik kalau dibahas.

Maksudku, ini kayaknya contoh anime yang berhasil lebih karena konten ketimbang aspek presentasinya. Lalu kenyataan itulah yang kurasa ‘menang’ dari Date A Live.

Season keduanya sudah dikonfirmasikan ada. Sehingga walau ditutup dengan cukup lumayan, ceritanya masih akan berlanjut.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: C; Audio: B-; Perkembangan: B-; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: C+


About this entry