Touch

Aku membaca sampai tamat manga bisbol Touch (‘sentuh’, atau ‘sentuhan’, bisa juga mengacu kepada nama sang tokoh utama) karya Adachi Mitsuru belum lama ini (dan mungkin manga bisbol bercampur romansa pertama yang beliau buat). Dari dulu aku memang telah menjadi semacam(?) penggemar karya-karya beliau. Jadi saat mendengar tentang bagaimana karya bulanan terbarunya yang masih diserialisasikan, Mix, terkait erat dengan Touch, aku menyempatkan diri untuk membacanya.

Pada kesempatan yang berbeda, aku pertama membaca Touch saat ada sahabatku sendiri merekomendasikannya (walau dia sendiri belum membacanya sampai tamat), dan dia mengatakan padaku bagaimana ini salah satu manga langka yang secara aktual menggambarkan makna sesungguhnya dari kerja keras. Dan secara mengejutkan, kenyataannya memang demikian.

Karya Adachi-sensei favoritku kurasa tetap adalah H2.  Tapi membaca Touch, sebuah karya klasik yang pertama diserialisasikan di majalah Weekly Shonen Sunday milik penerbit Shogakukan dari tahun 1981 sampai 1986, dengan jumlah total 26 buku, aku kurang lebih bisa memahami mengapa seri ini dipandang begitu legendaris. (Anime-nya yang diproduksi Group TAC berdurasi sampai 100 episode lebih lho.)

Seri ini berawal dari hubungan cinta segitiga antara tiga orang sahabat masa kecil: si kembar Uesugi Tatsuya dan Uesugi Kazuya, serta anak tetangga sebelah rumah mereka yang cantik, Asakura Minami. Di awal cerita, Tatsuya digambarkan sebagai seorang pelajar SMA yang pemalas dan agak seenaknya. Intinya, dia berkebalikan dengan adik kembarnya, Kazuya, yang pekerja keras, cerdas, serta andalan tim bisbol di sekolah mereka, SMA Meisei, untuk bisa sampai ke turnamen bisbol nasional di Koshien; dan berbeda pula dengan Minami yang cantik, populer, dan dikenal sebagai murid teladan. Baik Tatsuya maupun Kazuya semenjak dulu menyukai Minami, cerita ini dibuka dengan pemaparan kehidupan dan perasaan masing-masing dari mereka.

Tapi, pada sepertiga awal cerita ini, ada suatu hal terjadi yang kemudian membuat ceritanya benar-benar berkembang menjadi lebih dari itu.

Aku bener-bener enggak bisa masuk ke detilnya, karena akan beneran mengindikasikan semacam spoiler. Dan jadinya aku juga enggak begitu bisa menyebutkan soal para karakter lainnya yang berperan.  Walau tak sampai menampilkan lika-liku perasaan sebergejolak karya-karya Adachi-sensei sesudahnya, Touch menampilkan dinamika kehidupan dan tamat yang benar-benar memuaskan. Pemaparan ceritanya masih mirip gaya khas di kebanyakan komik Adachi-sensei. Tapi Touch relatif lebih ‘langsung’ dan tak seabstrak karya-karya beliau yang lebih ke sini. Gaya gambar dan desain karakternya jelas masih belum sematang sekarang. Namun karakterisasi beliau masih tetap bagus. (Ngomong-ngomong, Touch sudah diterbitkan oleh Elex di sini. Aku belum baca Slow Step, tapi kayaknya karya-karya Adachi-sensei selalu berhasil diterjemahkan Elex secara baik.)

Apa ya?

Bukan keren, menghanyutkan atau gimana sih. Tapi kayak kita benar-benar jadi suka terhadap semuanya, dunia dekade tahun 80an dan segala isinya, karena alasan-alasan yang sederhana.

Persaingan antar individu dalam klub bisbol, usaha keras untuk menjadi lebih baik, usaha-usaha untuk menarik perhatian orang yang disukai, sampai hal-hal berat seperti memaafkan dendam masa lalu dan orangtua yang sama sekali enggak guna.

Aku agak sayang dengan gimana ada karakter-karakter penting di awal cerita yang kemudian absen di paruh akhir. Tapi sekali lagi, ceritanya memuaskan. Ini seri yang pantas masuk jajaran salah satu seri yang legendaris. Ini kayak pertanda sebuah zaman.

Yah, begitulah.

INTINYA, kalau kalian ingin merasakan kepuasan saat Mix (berlatar kalau enggak salah 26 tahun sesudah Touch) suatu waktu diterbitkan sampai tamat di sini nanti, kalian bener-bener mesti baca dulu Touch sampai tamat. Ada begitu banyak referensi terselubung dalam Mix yang mengacu terhadap Touch, dan itu yang membuat kepuasan membaca dan mengantisipasi cerita Mix semakin bertambah.


About this entry