To Aru Majutsu no Index II

Aku mengikuti musim tayang kedua dari anime A Certain Magical Index belakangan, atau yang juga dikenal sebagai To Aru Majutsu no Index II. Aku agak enggak menyangka bakalan suka seri ini sampai segitunya. Memang ada banyak (banyak sekali) kelemahannya. Tapi aku sudah terlanjur cinta dengan para karakternya dan sudah agak terlalu gampang dibuat penasaran dengan perkembangan ceritanya.

Aku sengaja melihat animenya dulu karena aku punya perasaan seri novelnya bakal lebih memuaskan. Di samping itu, aku juga menonton dengan mengingat bagaimana adaptasi anime dari spin-off-nya, To Aru Kagaku no Railgun, belum lama ini juga dibuat lanjutannya.

Perang Rahasia

Musim tayang kedua ini mencakup bagian cerita ketika sang tokoh utama, Kamijou Touma, terlibat lebih jauh dalam segala intrik yang berlangsung di Academy City, terutama dengan bagaimana dirinya mulai diperhitungkan dalam perseteruan politik dari sisi dunia sihir, antara Roman Catholic Church dan British Anglican Church.

Dibuka di awal semester baru sesudah liburan musim panas, Touma (dan secara tak langsung, Index) kembali dihubungi oleh Stiyl Magnus, penyihir api utusan kelompok rahasia Neccessarius dan gereja Inggris, terkait hilangnya seorang biarawati dari pihak Gereja Roma bernama Orsola Aquinas, dan bagaimana itu terkait dengan metode yang konon telah diketemukannya untuk membuka sandi dari salah satu buku sihir terlarang: Book of Law.

Orsola didesas-desuskan diculik oleh para pendukung Gereja Amakusa di Jepang, dan pada waktu yang sama Book of Law dikabarkan juga telah hilang dari perpustakaan Gereja Roma. Insiden ini kembali memicu kegentingan antara kedua belah pihak, dengan diutusnya pasukan biarawati tempur yang dipimpin Sister Agnese ke Jepang. Lalu memperumit situasi adalah kedudukan Kanzaki Kaori, salah satu ‘Saint’ sekaligus anggota Neccessarius yang sebelumnya merupakan pemimpin Gereja Amakusa, yang kini terpaksa menyembunyikan diri.

Cerita kemudian berlanjut dengan pemulihan puing-puing superkomputer Tree Diagram yang disebut Remnant, yang telah dihancurkan Index tanpa sepengetahuannya di season pertama. Misaka Mikoto kembali bertindak sendiri dengan didorong oleh kekhawatiran kalau ini akan memicu dimulai kembalinya ekspresimen yang dulu melibatkan klon-klonnya dan Accelerator. Ini membuat Misaka harus berhadapan dengan Musujime Awaki, teleporter tangguh yang ditugasi untuk memindahkan data dari puing-puing tersebut, yang kemampuannya mengimbangi sahabat Misaka, Shirai Kuroko.

Bab tersebut kemudian disusul dengan berlangsungnya festival olahraga antar sekolah di Academy City, Daihaseisai, serta bagaimana Touma, Stiyl, dan teman sekelas Touma yang siscon dan berprofesi sebagai agen ganda, Tsuchimikado Motoharu, memperoleh informasi tentang adanya suatu transaksi berbahaya yang akan dilangsungkan selama festival ini. Apa yang terjadi kemudian membawa mereka berhadapan dengan seorang perempuan penyihir bernama Oriana Thompson, yang diduga membawa ancaman berupa sebuah pusaka ajaib yang secara seketika dapat membalikkan kekuasaan di Academy City.

Touma selanjutnya—tak seperti biasanya—memenangkan sebuah undian berhadiah untuk mengikuti liburan ke Italia. Tapi sejumlah hal terjadi dalam keberangkatannya bersama Index ke sana… yang kembali mempertemukannya dengan Orsola dan Sister Agnese.

Menjelang akhir cerita, barulah keterlibatan berulangkali Touma dalam penggagalan rencana sejumlah tokoh dari Gereja Roma akhirnya secara nyata membuatnya diburu. Academy City kemudian diserang secara terang-terangan oleh Vento of the Front, salah satu anggota dari kelompok terkuat dari Gereja Roma, God’s Right Seat. Namun sebagai antisipasi serangan tersebut, penguasa sesungguhnya dari Academy City, Aleister Crowley, menjalankan rencana disrupsi partikel AIM-nya melalui sosok FUSE Kazakiri Hyouka, untuk mendatangkan kembali (menciptakan?) sesosok ‘malaikat’ ke dimensi ini. Rencana ini memerlukan keterlibatan Misaka Last Order yang berada di bawah perlindungan Accelerator, dan akhirnya membawa Accelerator berhadapan kembali dengan Kihara Amata, peneliti yang menjadi musuh lamanya, beserta kelompok pemburu Hound Dog yang dipimpinnya.

Ini Pasti Enggak Cuma Aku Aja ‘Kan?

Mungkin ini cuma perasaanku, tapi meski secara teknis musim tayang kali ini lebih baik dibandingkan musim tayang lalu, secara konten kayaknya ada lebih banyak hal yang questionable di dalamnya. Seru sih. Cuma ada beberapa hal dalam ceritanya yang terus terang agak menggangguku.

Ide tentang peseteruan antar gereja itu kupikir merupakan isu yang agak sensitif. Makanya aku agak kaget dengan betapa blak-blakannya itu semua diangkat. Tapi yang membuat aku lebih kaget lagi adalah saat aku (baru dengan telatnya) sadar akan konsep ‘sihir itu dikembangkan oleh gereja.’ Uh, maksudku, ahahaha… bukannya itu agak ‘bertentangan’ dengan konsepsi awal kita di sejarah?

Di samping itu, mungkin akibat banyaknya tokoh perempuan yang menjadi antagonis kali ini, serta bagaimana Sister Agnese dan kawan-kawan biarawatinya beraksi di episode-episode awal musim ini, aku merasa adegan-adegan kekerasan terhadap perempuannya agak berlebih. Aku meringis berulangkali setiap ada adegan saat tinju Touma mengenai muka, karena ngerasa justifikasi dalam ceritanya enggak sepenuhnya tersampaikan secara baik. Maksudku, aku saja yang biasanya agak tolerir dalam hal ini ngerasa kayak begini. Apalagi yang pernah terlibat dalam urusan KDRT. (Soal desain para biarawatinya, sori, aku juga enggak mau komentar.)

Tapi terlepas dari semuanya, musim tayang kali ini (yang dibagi per ‘babak’ seperti musim sebelumnya) masih tetap menghadirkan apa-apa yang membuat Index seru. Tempo cerita yang terus menanjak, adegan-adegan pertarungan yang intens, serta perkembangan-perkembangan plot yang tak tertebak (walau mungkin yang terakhir ini karena cara perkembangannya yang terlalu tiba-tiba juga sih).

Bicara soal karakter-karakter baru, di samping yang telah disebut di atas, mereka meliputi: Fukiyose Seiri, teman sekelas Touma yang sering mengambil alih peran ketua kelas dari Aogami Pierce, dan menjadi seorang gadis yang lagi-lagi tertarik padanya; Uiharu Kazari, partner Kuroko di kesatuan Judgment, yang secara resmi mendapat peran bicara pertamanya di seri ini; Itsuwa, gadis dari Gereja Amakusa yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada Touma (nanti menurut cerita di novel-novelnya konon memainkan peranan besar); keberadaan God’s Right Hand sendiri yang memiliki kemampuan tempur istimewa; serta Laura Stuart, archbishop dari Gereja Inggris yang merupakan atasan langsung Stiyl dan kawan-kawannya. Walau ada nuansa kalau masih ada ‘lebih’ dari yang ditampilkan, menurutku mereka tampil agak ‘seadanya’ di seri ini. Bahkan karakter-karakter baru yang menjadi antagonis tak dipaparkan motivasinya secara gamblang. Aku juga terus terang agak kecewa dengan bagaimana sejumlah karakter dominan dari To Aru Kagaku no Railgun tak tampil dalam seri ini (seperti Saten Ruiko, yang dalam seri tersebut hampir selalu terlihat bersama Uiharu). Tapi di sisi lain, banyak karakter lama yang ditampilkan kembali dan berperan dengan cara mereka masing-masing.

Oya, ada satu adegan bagus saat orangtua Touma dan ibu Misaka, Misaka Misuzu, pertama saling berkenalan.

Di samping itu, meski rasanya agak mengecewakan karena Misaka tak berperan sepenting dalam ceritanya di Railgun, tetap menarik menyaksikan bagaimana perkembangan hubungannya dengan Touma membuatnya menjadi semakin tsundere. (Kuroko akhirnya menjadi karakter yang lebih banyak nge-rage-nya karena hal ini. Tapi apa boleh buat kalau memang perkembangannya begini.)

Kegelapan

Walau penyampaian ceritanya lagi-lagi tak benar-benar bisa dibilang menghanyutkan, Index II secara pas ditutup dengan pemaparan tentang bagaimana dunia telah di ambang perang. Para orangtua yang mengkhawatirkan keselamatan anak-anak mereka mulai mengungsikan banyak siswa dari Academy City. Kemudian suatu pihak bayangan yang diwakili Unabara Mitsuki (gadungan) merekrut Accelerator, Musujima Awaki, dan Tsuchimikado ke dalam suatu kelompok rahasia bernama GROUP yang langkah-langkah awalnya adalah menangani kelompok Skill Out.

Yang bikin terasa istimewa adalah hal-hal kecil dalam ceritanya begitu. Seperti bagaimana tampil kembalinya Hyouka menandai babak akhir cerita seperti halnya di musim tayang lalu. Atau bagaimana karakter sampingan seperti Mitsuki (gadungan) yang dulu menyusahkan Touma dengan rayuannya terhadap Misaka kini hadir kembali sebagai karakter misterius yang tujuannya tak tertebak. Kihara Amata, yang diperlihatkan memiliki rasa permusuhan luar biasa dalam terhadap Accelerator, juga nampaknya memiliki hubungan dengan ‘Kihara’ yang menjadi pihak antagonis di Railgun.

Jadi, kalau kau bisa masuk ke dalam ceritanya, walau aku enggak akan menyebutnya memuaskan, emang segalanya luar biasa menarik gitu.

Secara teknis, kayaknya ada sedikit kecendrungan buat kualitasnya untuk naik turun. Secara visual, aku agak merasa desain karakternya kadang punya lebar bahu agak terlalu sempit sehingga berkesan dengan kepala besar. Tapi dari segi sisanya, kurasa tak apa-apa. Audionya masih oke. Lagu pembuka ‘No Buts!’ berirama cepat tapi anehnya tak sepenuhnya bisa kusukai. Tapi secara garis besar benar-benar tak ada masalah.

Soal eksekusinya, aku dengar memang ada sejumlah adegan penting terkait karakter yang terlewat dalam animenya? Tapi nanti aku bandingkan dulu dengan buku-bukunya deh. Selebihnya, gaya pengarahannya konsisten dari awal sampai akhir, dan aku lumayan suka dengan gimana pembangunan suasananya lebih baik pada beberapa bagian.

Yah, sebagai penutup, aku tak yakin apa ini seri yang akan kurekomendasikan ke banyak orang. Bahkan mereka yang menyukai season pertamanya mungkin akan agak bermasalah dengan cerita pada season ini. Kecuali kalau kau benar-benar suka seri Index, kurasa baru Index II ada layaknya kau perhatikan.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir; B+


About this entry