Robotics;Notes

Robotics;Notes adalah game ketiga dari rangkaian game visual novel seri science adventure yang dirilis melalui kerjasama antara Nitroplus dan 5pb.

Selaku penerus Chaos;Head dan juga Steins;Gate, ada lumayan banyak pengharapan dan perhatian yang diraih game ini bahkan saat masih digodok. Lalu, seiring dengan kesuksesan besar Steins;Gate, Robotic;Notes telah dipastikan akan dibuat adaptasi animenya bahkan sebelum gamenya sendiri pertama diluncurkan.

Animenya berdurasi 22 episode dan pertama tayang di blok Noitamina pada musim gugur tahun 2012. Produksi animenya dilakukan oleh Production I.G. (Anime Chaos;Head kalau tak salah dibuat oleh Madhouse, sedangkan anime Steins;Gate dibuat oleh White Fox), sehingga meski aku tak meragukan kualitas visualnya, sejak awal aku memang sudah dapat firasat aneh kalau adaptasinya mungkin takkan sebagus Steins;Gate.

Sebelumnya, aku bahkan enggak tahu apa-apa tentang ceritanya. Aku cuma tahu kalo temanya berhubungan dengan upaya buat sungguh-sungguh ngebikin sebuah robot raksasa demi menyelamatkan dunia(?!).

Berhubung aku memang penggemar anime-anime yang menghadirkan robot-robot raksasa, aku memutuskan untuk tetap memeriksanya, sekalipun hasil jadinya benar-benar melenceng dari segala pengharapanku semula.

Apa yang akan terjadi jika kau sungguh-sungguh berusaha membangun sebuah robot raksasa?

Berlatar tak terlampau jauh di masa depan, Robotics;Notes dibuka dengan bagaimana klub robotika di SMA Chuo Tanegashima terancam untuk dibubarkan. Ekskul ini di awal cerita hanya terdiri dari dua anggota, yakni ketuanya, seorang gadis penuh semangat bernama Senomiya Akiho; dan teman masa kecilnya yang cuek dan lebih tertarik melewatkan waktunya dengan bermain game daripada membantu proyek robot Akiho, Yashio Kaito.

Robotics;Notes berlatar di masa ketika ketinggian permukaan laut nampaknya telah meninggi, sepeda-sepeda motor listrik lebih banyak digunakan untuk menggantikan sepeda, serta sebagian besar orang hidup dengan memiliki perangkat tablet Poke-com yang menggantikan fungsi telepon genggam. Perangkat yang kelihatannya juga disebut Phone-droid ini bisa digunakan untuk browsing, melakukan video call, mengakses jejaring sosial,  bermain game, dan yang paling berkesan mengakses IRUO, semacam aplikasi pengenalan citra berbasis augmented reality, yang mana orang dapat membidik Poke-com mereka ke berbagai arah bagaikan kamera dan memperoleh berbagai informasi secara terinci. Di samping itu, perangkat bantu bionik yang ‘dipasangkan’ pada tubuh juga telah banyak digunakan di masyarakat, untuk membantu para manula yang telah melemah tubuhnya ataupun mereka yang sempat mengalami kelumpuhan anggota tubuh pasca terjadinya kecelakaan.

Kita kemudian dibeberkan tentang bagaimana klub robotika yang dikepalai Akiho ini mewarisi cita-cita sekaligus proyek jangka panjang para sempai mereka untuk membangun sebuah robot raksasa seperti di anime-anime. Robot raksasa yang hendak mereka bangun diberi nama kode Gantsuku-1, yang desainnya didasarkan atas Gunvarrel, sebuah anime super robot yang sempat sangat populer di masa silam. Proyek ini pertama dicanangkan oleh kakak perempuan Akiho, Senomiya Misaki, yang dulu bahkan pernah memimpin klubnya memenangkan kejuaraan robotika nasional Robo-One. Namun sesuatu di masa lalu nampaknya telah terjadi, sehingga Misaki kemudian mengabaikan proyek jangka panjang ini, dan hubungannya yang dulu dekat dengan Akiho dan Kaito kemudian menjadi renggang.

Dari sudut pandang Kaito, Robotics;Notes memaparkan berbagai suka duka yang para anggota klub robotika alami selama terlibat dalam proyek Gantsuku-1. Cerita pada awalnya membeberkan cara-cara yang harus Kaito dan Akiho temukan agar klub mereka dapat terus berjalan, dimulai dari pencarian anggota-anggota baru, pencarian sponsor, sampai memenangkan kejuaraan Robo-One untuk tahun tersebut.

Anggota-anggota baru mereka kemudian meliputi:

  • Hidaka Subaru, alias Mister Pleiades, adik kelas Akiho dan Kaito yang lebih ahli tentang robotika dari sangkaan orang karena alasan pribadi.
  • Frau Koujiro, alias Furugouri Kona, murid pindahan hikkikomori yang ternyata adalah programmer game Kill-Ballad (sejenis Virtual On) yang selalu dimainkan Kaito di Poke-comnya. Menyimpan rahasia besar di masa lalunya yang terkait proyek jangka panjang klub robotika.
  • Junna Daitoku, gadis pemalu anggota klub karate yang kemudian Akiho mintai jadi model pergerakan robot-robotnya, yang ternyata adalah cucu Doc, kakek-kakek penggemar rock yang merupakan pemilik toko langganan tempat klub robotika membeli komponen-komponen robot mereka.

Tapi, sesudah itu semua, ceritanya benar-benar berkembang ke arah yang enggak disangka-sangka.

Tunggu, arah perkembangannya mungkin tertebak sih. Tapi cara ke sananya itu…

Bullet Time

Pada suatu titik, kita kemudian mengetahui bagaimana pada waktu kecil, baik Kaito maupun Akiho dulu pernah terlibat dalam suatu insiden misterius di kapal pesiar Anemone. Pada insiden ini, seluruh penumpang kapal tersebut tiba-tiba saja kehilangan kesadaran dan bahkan jatuh ke dalam koma. Insiden ini kalau tak salah diduga terpicu oleh fenomena solar flare di matahari yang menimbulkan terjadinya suatu anomali elektromagnetik. Sebagai dampak kejadian ini, Akiho dan Kaito kemudian menderita sesuatu yang disebut Elephant-Mouse Syndrome, yang pada saat sedang kambuh, mengakibatkan persepsi waktu terasa melamban bagi Kaito dan sebaliknya terasa dipercepat bagi Akiho.

Dalam upaya mereka menemukan cara untuk menyelamatkan klub mereka, Kaito secara tak sengaja berpapasan dengan Airi—sesosok gadis hantu kecil yang seakan-akan hidup dalam sistem IRUO. Airi jadi semacam sosok yang hanya bisa dilihat dan didengar melalui perangkat Poke-com masing-masing orang gitu, dan sehari-harinya ia menginformasikan pada orang-orang yang ditemuinya tentang perkiraan cuaca sehari-hari.

Melalui pertemuannya dengan Airi, Kaito turut menyadari adanya sejumlah rahasia masa lalu yang mungkin saja tersembunyi di kotanya sendiri, yang berkaitan dengan fenomena-fenomena misterius yang terjadi di dunia maya, dengan insiden kapal Anemone, dan mungkin saja dengan proyek jangka panjang klubnya sendiri.

Seiring dengan kemajuan proyek robot raksasa mereka, semakin banyak pula rahasia aneh yang terungkap oleh Kaito yang tampaknya berhubungan pula dengan sesuatu yang dirahasiakan Misaki.

Semuanya ternyata terhubung dengan sebuah konspirasi jangka panjang yang direncanakan oleh sesuatu yang disebut Committee of 300 untuk sungguh-sungguh menghancurkan dunia. Lalu satu-satunya orang yang berhasil mengungkap hal ini, seseorang bernama Kimijima Kou, ternyata telah lama meninggal karena terbunuh, dan hanya jejak pesan-pesan rahasianya semata yang tertinggal untuk ditelusuri Kaito dan dibuktikan kebenarannya.

Tapi apa yang kemudian Kaito temukan ternyata tetap lebih mengejutkan dari yang ia kira…

Lebih ke Drama Daripada Misteri

Robotics;Notes dipaparkan dengan alur yang sangat luar biasa lamban. Ini sesuatu yang membuatku skeptis pada awalnya, apalagi dengan jumlah episode yang lebih sedikit dibandingkan adaptasi seri-seri pendahulunya. Tapi seiring perkembangannya, aku mulai nyadar bahwa ‘kelambatan’ ini memang diperlukan, sebab segala sesuatunya memang perlu diceritakan secara runut.

Pastinya, sekalipun aspek misterinya tetap ada, kelambatan ini menghadirkan nuansa yang sama sekali berbeda dibandingkan Chaos;Head maupun Steins;Gate. Bila tokoh utama pada kedua seri tersebut secara berkelanjutan dihadapkan pada suatu situasi genting, Kaito berusaha menangani sesuatu yang kalau ‘dibiarkan’ juga mungkin dirinya takkan mengalami masalah.

Seiring dengan berakhirnya episode-episode awal, kau benar-benar kehilangan bayangan soal ke mana sebenarnya seri ini mau dibawa. Ceritanya jadi lebih kayak drama slice-of-life daripada misteri sains fiksi. Kamu kayak, beneran bisa kehilangan motivasi buat nonton gitu. Lalu hingga akhir, karena kaitannya dengan tempo cerita dan pembangunan suasana, seri ini tak benar-benar bisa dibilang berakhir sebagai sesuatu yang ‘seru.’

Kita kayak susah merasakan emosi apa-apa dari menonton ini. Lebih banyak datarnya.

Mungkin kaitannya ada pada hal teknisnya juga sih. Pada banyak bagian, meski kadar dramatisasinya cukup pas, aku benar-benar merasa kalau sorotan kameranya benar-benar kurang dinamis. Mungkin ada kontras yang berusaha diciptakan antara antusiasme Akiho dan kedataran sikap Kaito, tapi tetap jadinya kita sulit ‘masuk.’ (Siapa sih, art director-nya?)

Tapi perkembangan ceritanya itu seriusan gila-gilaan.

Seriusan, ada banyak sekali hal yang terjadi dalam cerita. Sehingga terkadang kita terasa kesulitan mengikutinya, sekalipun para pembuat sudah berusaha sebaiknya agar semuanya gampang dicerna dan bisa tersampaikan secara mudah.

Untung perkembangan ceritanya berbobot dan memang para karakternya menarik dan terasa hidup. Di samping itu, aspek-aspek sains fiksinya memang benar-benar memikat.

Mungkin karena memang sudah terlanjur mengikuti keseharian mereka, kita berhasil dibuat merasakan semacam kepedulian dan simpati terhadap Kaito dan kawan-kawannya. Lalu murni kita jadi sedikit ingin tahu apa di akhir cerita mereka beneran berhasil membangun robot raksasa mereka atau tidak.

Misterinya itu juga untungnya adalah jenis yang bertambah ‘aneh’ saat semakin dalam ditelusur. Ada beberapa perkembangan cerita yang serius bikin aku membelalakkan mata.

Salju

Robotics;Notes adalah jenis seri yang kayaknya lebih mending dimainin game-nya daripada ditonton animenya, tapi bukan cuma karena alasan game-nya lebih bagus dari anime. Anime Robotics;Notes itu sama sekali enggak jelek. Cuma game-nya yang kayaknya terlampau bagus untuk diangkat sebagai anime. (Walau belakangan kudengar narasi di gamenya agak bertele-tele sih.)

Ada banyak sekali detil menarik yang kayaknya jadi dipotong atau dipersingkat, mengakibatkan beberapa hal hingga akhir kerasa kayak enggak terjelaskan. Itu juga yang kayaknya mengakibatkan masalah tempo. Tapi para pembuatnya, akibat keterbatasan waktu, kelihatannya memilih untuk memasukkan hal-hal yang pentingnya saja, dan hal-hal penting tersebut itu yang pada akhirnya berusaha mereka tampilkan sebaik-baiknya. (Walau sekali lagi, kudengar narasi di gamenya beneran bertele-tele.)

Dengan begitu, kesan terakhirku terhadap seri ini berakhir agak… uh, campur aduk.

Ini sebenarnya bukan judul yang akan kurekomendasikan jika kau bukan penggemar cerita-cerita macam begini. Tapi kalau kau sempat merasakan antusiasme terhadap Chaos;Head, lalu merasakan juga antusiasme terhadap Steins;Gate, aku tak bisa tak merasa ada baiknya kau memeriksa Robotics;Notes. Soalnya cerita( dan konspirasi)nya pada beberapa titik emang terkait. (Tennoji Nae, gadis kecil putri Mr Brown di Steins;Gate, tampil sebagai karakter dewasa yang berperan lumayan penting di seri ini, tepatnya saat proyek Akiho dkk mulai melibatkan JAXA(!).)

Satu hal lain yang sungguh-sungguh kupelajari dari seri ini adalah bagaimana kau benar-benar enggak akan bisa nebak kehidupan akan mempersiapkanmu buat apa. Di balik segala kebingungan, kemarahan, keputusharapan yang mungkin pernah kau rasain, pasti ada sesuatu di ujung jalan yang akan harus kau perjuangin.

Apalagi, saat pertaruhannya juga melebihi segala yang kau bayangin…

Adegan saat robot raksasa mereka beneran jadi dibuat itu beneran kerasa keren.

(Maksudku, itu robot raksasa, man! They literally made a giant frickin’ robot!)

Penilaian

Konsep: S; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: A; Eksekusi B; Kepuasan Akhir: B


About this entry