Sword Art Online

Sebelum musim tayang baru, baiknya aku menuntaskan pembahasan soal ini.

Aku sudah beberapa kali bahas seri novelnya. Tapi untuk kali ini, akan kubahas versi anime Sword Art Online.

Anime ini diangkat dari seri novel hit karangan Kawahara Reki yang diterbitkan ASCII Media Works. Novelnya terbit di bawah label Dengeki Bunko setelah sebelumnya sukses sebagai web novel. Produksi animenya dilakukan oleh studio A-1 Pictures dengan durasi total 25 episode, dan ditayangkan pertama kali pada paruh akhir tahun 2012.

Berlatar beberapa waktu di masa depan (tahun 2022-2024), SAO  berkisah seputar permainan VMMORPG (game online virtual) bernama Sword Art Online yang telah memerangkap jiwa-jiwa para pemainnya dalam suatu permainan hidup-mati. Permainan ini secara misterius diciptakan seorang ilmuwan jenius bernama Kayaba Akihiko, yang juga telah menggagas konsol permainan generasi terbaru fenomenal NerveGear di mana permainan ini dimainkan. Tokoh utamanya adalah seorang pemuda penyendiri (solo player) bernama Kirito, yang menjadi satu dari sekitar enam ribu orang yang masih bertahan hidup dalam dunia virtual ini.

Porsi besar ceritanya memaparkan hubungan Kirito dengan Asuna, wakil komandan dari guild terkuat, Knights of Blood, yang juga merupakan salah satu yang tercantik sekaligus terkuat dari sejumlah kecil pemain wanita yang ada. Pertemuan mereka seakan mengubah takdir Kirito, yang pada akhirnya menjadikannya pahlawan yang akan menuntaskan SAO sekaligus membebaskan mereka semua.

Tersesat di Kedalaman Mimpi

SAO itu pertama terbit tahun… 2009 kalau enggak salah. Aku mulai membaca terjemahan novel-novelnya pada tahun 2010 di situs Baka-Tsuki, dan seri itu benar-benar berkesan buatku.

Alih-alih plotnya, yang menonjol dalam novel-novel SAO adalah pemaparan rinci tentang dunia dan karakternya. Seperti ada temanmu yang bercerita soal game bagus, dan mendengarnya kau jadi ingin main juga. Makanya, saat adaptasi anime untuk SAO (bersama Accel World, seri novel Kawahara-sensei yang lain) diumumkan pada musim gugur tahun 2011, ada banyak sekali perhatian tentang hasil visualisasinya.

Studio animasi A-1 Pictures dikenal sebagai studio yang piawai menangani anime dari berbagai macam jenis. Mulai dari Ookiku Furikabute (tentang bisbol) hingga Senkou no Night Raid (tentang perang di Asia Pasifik). Tapi seri keluaran mereka yang paling mendekati penggambaran dunia fantasi sebelum SAO setahuku cuma Fractale. Makanya, aku sempat merasakan keskeptisan soal bagaimana hasil akhirnya.

Tapi adaptasi anime SAO belakangan terbukti sukses besar. SAO mungkin menjadi anime paling populer di sepanjang tahun 2012. Versi anime ini yang melambungkan ketenaran seri SAO, serta membuka jalan bagi perilisannya di berbagai media lain, terutama game adaptasi SAO pertama, Sword Art Online: Infinity Moment buatan Banpresto, yang belum lama ini juga sukses besar. (Buat yang mau tahu, game ini menyajikan penuntasan 25 lantai sisa dari SAO. Tapi soal itu mending kubahas di lain waktu.)

Pada awalnya, aku tak terkejut dengan perkembangan ini. Maksudku, aku sendiri sadar materi asli di novel-novelnya memang sekeren itu.

Tapi sejujurnya, secara pribadi, episode-episode awal animenya lumayan kurang dalam banyak hal. Desain karakter animenya, misalnya. Aku tahu alasannya mungkin untuk kepraktisan. Tapi desain karakter di animenya kehilangan sisi ‘tajam’ dan ‘keren’ yang ada pada ilustrasi-ilustrasi orisinil buatan abec. Ada kesan… ‘imut’ yang menurutku tak seharusnya ada, dan itu hal paling pertama yang menggangguku.

Kelemahan berikutnya yang kutemukan terdapat pada pemaparan premis SAO sendiri. Pada novel-novelnya, penggambaran dunia kastil raksasa melayang Aincrad, yang menjadi latar permainan, sejak awal terasa seperti sesuatu yang mencengangkan sekaligus bikin stres.

Maksudku, belum apa-apa sudah terasa overwhelming gitu.

Nah, nuansa khas yang yang membuat novel-novel SAO terasa menarik itu yang tiba-tiba saja seakan absen dalam animenya. Premis ceritanya jadi sedikit kurang meyakinkan.

Faktor kontribusi terjadinya hal ini mungkin kebijakan untuk memaparkan cerita SAO secara kronologis sih. Jadi, pada awalnya, novel pertama SAO sendiri sudah memaparkan awal cerita sekaligus penuntasan Aincard. Sedangkan novel keduanya pada dasarnya adalah kumpulan cerita pendek yang berlangsung pada titik-titik waktu berbeda di Aincrad, sebelum dan pada saat cerita di novel pertamanya berlangsung.

Adaptasi animenya memilih untuk mengabaikan pemaparan alur maju-mundur ini. Seluruhnya jadi digantikan dengan alur maju.

Kasusnya mungkin jadi mirip adaptasi film-film layar lebar Berserk yang baru. Atau kayak kalau kau memaksakan diri menonton anime Fate/Zero sebelum Fate/stay-night.

Biasanya alur maju-mundur digunakan agar kejadian-kejadian yang terjadi lebih dahulu justru jadi bisa dimaknai belakangan.  Lalu hal itu yang kayak jadi berdampak pada pembangunan setting di SAO. Kesulitan-kesulitan yang ditemukan dalam cara permainan SAO (adanya pertaruhan nyawa, adanya sistem permainan yang berbeda dari MMORPG pada umumnya, dsb) seakan jadi gagal terpaparkan di episode-episode awal. Kita paham kalau SAO mempertaruhkan nyawa. Tapi alasan kenapa hal itu menjadi such a big deal menjadi kurang tersampaikan.

Hal lain yang mungkin berpengaruh terhadap pengambilan pendekatan ini adalah reboot dari bab Aincrad di novel-novel SAO sendiri, lewat diterbitkannya seri relatif baru Sword Art Online: Progressive. Subseri ini menceritakan ulang sejumlah kisah yang terjadi dalam masa cerita buku satu dan buku dua SAO, namun kali ini secara kronologis. Di dalamnya, terdapat beberapa perbedaan dibandingkan apa yang terdapat pada versi web novel aslinya, dan mungkin itu jadi berdampak pada pembentukan struktur cerita di animenya. (Contoh hal ini adalah dimasukkannya sebagian episode Aria in the Starless Night yang tidak termasuk bagian seri novel utamanya ke dalam cerita di anime.)

Tapi begitu semua episode awal yang ‘tanggung’ ini terlewati–kurang lebih saat plot utama di buku satu SAO dimulai pada episode delapan–para staf seakan menemukan kembali arah mereka. Saat bab Aincrad berakhir dan bab Fairy Dance (yang mengetengahkan VMMORPG baru ALfheim Online atau ALO yang dikembangkan dari teknologi SAO) dimulai, aku akhirnya merasa para pembuatnya managed to do it right.

Memanggil Seseorang di Dunia Nyata Dengan User Name Mereka Kurang Sesuai Sopan Santun

Beralih ke soal teknis, aku kecewa dengan bagaimana jurus-jurus pedang di SAO kurang mendapat sorotan dalam versi anime ini. Dalam novelnya, setiap jurus pedang di SAO mempunyai nama dan efek khas dan dijabarkan dengan cukup lumayan. Dari sana, aku kemudian tersadar bagaimana secara umum, aspek gameplay dari SAO memang kurang begitu gamblang dijabarkan. Adegan-adegan pertempurannya sendiri memang terpaparkan dengan lumayan baik. Aksinya masih terbilang seru. Keganasan pertarungan-pertarungan yang harus Kirito lalui masih lumayan tergambar. Tapi bagiku, tetap serasa ada sesuatu yang sedikit hilang kalau dibandingkan dengan adegan-adegan di novelnya.

Selain adegan aksi, ada beberapa adegan lain (lagi-lagi di episode-episode awal) yang sempat bikin aku mengernyit. Bukan karena ‘jelek,’ tapi mungkin lebih karena seharusnya bisa dieksekusi dengan lebih baik lagi.

Tapi itu hanya ada di beberapa episode awal. Ada perbaikan signifikan yang tampak di episode-episode selanjutnya yang cukup membuatku bersyukur.

Soal visual, penggambaran dunianya bagus. Beneran bagus. Cuma, dari seluruh lantai yang Aincrad miliki, hanya segelintir yang pada akhirnya benar-benar tergambar. Mungkin ini menjadi isu lain yang mengecewakan bagi beberapa orang. Tapi kekurangan ini diimbangi di duaperlima akhir cerita, lewat penggambaran dunia dongeng Alfheim yang lumayan memikat.

Dari segi audio, aku sempat lupa kalau yang menangani soundtrack-nya adalah Kajiura Yuki (Beliau pernah menangani soundtrac k untuk anime bertema serupa, yakni .hack//sign). Gaya musiknya lumayan berbeda dibandingkan musik beliau sebelumnya. Tapi gubahan-gubahan beliau tetap cocok dan menggerakkan hati.

Lebih lanjut soal eksekusi, ada perbedaan tone yang lumayan terasa dengan masuknya cerita ke bab Fairy Dance. Di samping pergantian latar cerita dari SAO ke ALfheim Online, karakter Kirigaya Suguha, alias Leafa, turut ditonjolkan sebagai heroine menggantikan Asuna. Ada subplot yang berlangsung di dunia nyata juga. Tapi yang patut dipuji adalah bagaimana semua transisi itu dilakukan dengan bagus.

Ada satu bagian cerita favoritku dari novelnya yang sayangnya terpotong untuk versi anime (tepatnya saat Kirito dan Leafa harus melalui detour melalui ‘dunia bawah’ sebelum bisa sampai ke kota Aln, di mana mereka menemukan mekanisme jalan pintas yang melibatkan monster, sekaligus penemuan sebuah dungeon rahasia). Tapi sekali lagi, eksekusi cerita di bab Fairy Dance terbilang benar-benar bagus jadi ketiadaan bagian tersebut buatku tak terlalu kentara.

Seluruh theme song SAO terbilang cocok dengan nuansa yang A-1 Pictures coba bawakan. Tapi lagu ‘Overfly’ yang dibawakan oleh Haruna Luna sebagai lagu penutup kedua seri ini perlu kusebutkan secara khusus karena kebagusannya dalam memaparkan nuansa dunianya, terutama terkait perkembangan karakter yang dialami Suguha.

(Perlu kusebutkan bahwa belakangan aku telat sadar bagaimana fokus yang diberikan terhadap detil dunia ALO ini agak kurang dibandingkan SAO. Jadinya, mungkin wajar bila mereka yang tahu SAO hanya dari animenya agak ilfil dengan bagian kedua ini.)

Bicara soal kekurangannya, beberapa kelemahan pada versi novelnya secara lucu masih terbawa ke versi anime. Perkembangan hubungan antara Kirito dan Asuna masih agak aneh. Elemen-elemen berbau ‘dewasa’ di novelnya tetap masih dimasukkan (meski sudah agak diperingan). Lalu ada sejumlah aspek sains fiksinya yang akan dipertanyakan oleh beberapa orang. Tapi semuanya masih terasa dalam batas yang bisa diterima.

Fanbase untuk seri novel SAO sebelumnya sudah lumayan besar. Jadi dengan hasil sekarang yang bisa memuaskan para penggemar kasual (sepertiku) saja, hasil akhirnya sudah jadi prestasi besar.

Satu keunggulan dari perombakan urutan penceritaannya adalah bagaimana kita dimudahkan dalam mencerna sejumlah detil plotnya (seperti soal karakter Kibaou dan kudeta yang dilakukannya). Jadi pada akhirnya, kurasa perombakan urutan cerita ini mendatangkan sisi baiknya juga.

Perbedaan lainnya lagi pada adaptasi animenya adalah pada peningkatan signfikan dari jumlah pemain wanitanya (meski jumlah cowok tetap lebih banyak). Tapi yang satu ini kurasa hal minor dan bisa jadi hanya perasaanku.

Progress

SAO itu kusukai karena penggambarannya soal ‘menerima keadaan’ dan ‘menghadapi kenyataan.’ Seberapa sering dalam hidup kita langsung menerima kesusahan yang harus dilalui, tanpa mencari-cari alasan atau melarikan diri?

Akhir kata, versi anime SAO dalam banyak arti memang layak untuk terkenal.

Baik secara sadar atau enggak, ada nilai-nilai di dalamnya yang memang patut dipikirkan atau direnungin. Bab Fairy Dance merupakan salah satu bagian cerita terbaik dari novelnya. Jadi aku enggak tahu apakah season keduanya (bila dibuat) akan bisa menyaingi kualitas season yang ini. Tapi lebih baik itu dipikirkannya nanti.

Toh, bagaimanapun juga, pada saat tulisan ini kubuat, perjalanan Kirito melintasi dunia-dunia virtual dalam novel-novelnya pun masih belum sepenuhnya berakhir.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A+

Edit 13 Jan 2014

Sword Art Online: Extra Edition merupakan episode khusus berdurasi dua jam yang ditayangkan pada pergantian tahun 2013-2014. Episode ini memaparkan ringkasan cerita season pertama SAO melalui dialog penuh kilas balik yang berlangsung antara Kirigaya Kazuto dan si pegawai pemerintahan, Kikuoka Seijurou. Di samping ringkasan cerita tersebut, ada juga sedikit cerita sampingan soal bagaimana kawan-kawan Kirito melatih Suguha berenang.

Musim tayang kedua SAO yang akan berlatar di MMORPG baru, Gun Gale Online, turut diumumkan di akhir penayangannya dan dijadwalkan untuk mulai tayang pada pertengahan 2014.

Sedikit tambahan lagi, belum lama ini aku nyadar soal gimana bagi sebagian (kebanyakan?) orang, episode-episode cerita yang berlatar di SAO dinilai lebih bagus ketimbang yang di ALO. Secara pribadi, aku berpendapat sebaliknya. Tapi mungkin juga aku merasa begini karena sebelumnya sudah tahu cerita lengkap dari novelnya, sehingga yang lebih kuperhatikan itu kualitas teknis adaptasinya aja.

(Ada porsi cerita ALO yang memang tak muncul di animenya, yang memang tak berdampak pada pencarian Kirito atas Asuna, tapi memberi indikasi lumayan mendalam soal bagaimana ALO yang dikembangkan perusahaan RECTO Progress—salah satu divisi dari perusahaan RECTO milik keluarga Asuna yang dikelola tokoh antagonis Sugou Nobuyuki—punya sisi ‘tersembunyi’ di balik permukaannya, seperti halnya SAO.)

Intinya, yang ingin kukatakan: Sword Art Online telah jadi seri yang secara umum memang disukain orang. Tapi alasan mereka suka atau enggak sukanya itu sangat berbeda-beda. Jadi kalau misalnya kau penggemar baru dan mau mencoba masuk ke seri ini, inget-inget aja soal itu dan jangan terlalu mengkhawatirin pendapat orang lain.


About this entry