Utsuro no Hako to Zero no Maria, buku 5-6

Jadi, setelah sekian lama tak mengikuti perkembangannya (juga berhubung Mikage Eiji yang menjadi pengarangnya sibuk mengerjakan sejumlah proyek lain), kemarin aku akhirnya mengikuti kelanjutan cerita Utsuro no Hako to Zero no Maria di situs Baka-Tsuki. (Sebenarnya, aku sedang ada dinas ke luar kota, dan aku bosan di jalan. Tapi sudahlah.)

Waktu sudah berlalu agak lama semenjak kali terakhir aku membaca buku-buku sebelumnya. Tapi Mikage-sensei seperti yang ditulis di catatan akhirnya turut menyadari hal ini, dan karenanya mencoba memastikan agar semua narasinya bisa terikuti dengan baik.

Eniwei, aku ingat jelas bagaimana ceritanya berkembang ke arah yang benar-benar gelap pada dua buku sebelumnya (buku keempat ditutup dengan sebuah adegan pembunuhan). Lalu tren ke arah gelap itu berlanjut di dua buku ini.

Aku agak sempat malas membaca berhubung adanya tren gelap ini. Tapi rasa keingintahuanku akhirnya tak bisa ditahan, dan akupun membaca terjemahan bahasa Inggrisnya hingga tamat.

Dua buku yang mengetengahkan penultimate arc dari seri ini mengisahkan bagaimana Oomine Daiya, yang telah memperoleh Kotak-nya sendiri dari 0, berupaya mewujudkan keinginannya untuk merevolusi dunia untuk suatu alasan yang benar-benar pribadi.

Tentu saja, upayanya ini ditentang oleh sahabatnya, Hoshino Kazuki, yang menentang segala bentuk penggunaan Kotak demi apa yang diyakininya adalah terbaik bagi kekasihnya, Otonashi Maria. Sehingga dimulailah babak baru sebuah mind game yang menjadi ciri khas seri ini, kali ini antara dua tokoh utama, Kazuki dan Daiya.

Daiya menemukan dirinya terjebak di sebuah Kotak lain berbentuk kompleks bioskop yang diciptakan secara khusus untuk menghancurkan Kotak miliknya. Dengan kekuatan Kotak yang Daiya punyai, Daiya mencoba memberontak dengan menggunakan bantuan para pengikutnya sebelum kekuatan Kotak berbentuk bioskop itu menghancurkan mental sekaligus tekadnya.

Singkat kata, buku 5-6 dari seri Hakomari mengingatkan kembali akan segala alasan yang menjadikan orang bisa menggemari seri ini. Ceritanya masih berbasiskan karakter, dalam sebuah dunia kontemporer yang digambarkan kelabu dan suram, yang menghadirkan suatu adu pikiran pelik penuh muslihat dan teka-teki antara para pemain utamanya.

Kehadiran Daiya di sini sebagai tokoh utama lain selain Kazuki menjadi daya tarik lebih dari dua buku ini. Konfrontasi di antara mereka digambarkan secara bolak-balik dengan cara yang benar-benar seru. Intinya, karakter Daiya akhirnya memperoleh spotlight yang sejak awal memang pantas didapatkannya. Bisa dibilang dirinyalah bintang sesungguhnya dari cerita di dua buku ini. Lalu cerita yang dihadirkannya memang benar-benar menjadi tulang punggung persahabatan dari buku-buku sebelumnya.

Hubungan masa lalunya dengan Kirino Kokone dan Usui Haruaki, serta bagaimana teman-teman barunya, Kazuki, Maria, dan Mogi Kasumi kemudian hadir dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya. Tokoh-tokoh lama seperti Shindou Iroha dan Yanagi Yuuri menemukan kembali ingatan mereka akan Kotak dan turut berperan kembali.

Maria, dan alter egonya, Otonashi Aya, di sisi lain memperoleh sedikit porsi back seat. Karakternya tidak ditampilkan semenonjol sebelumnya. Tapi ada alasan untuk hal ini. Sebab rahasia sesungguhnya terkait hubungan antara 0 dan dirinya akhirnya dibeberkan pada kedua buku ini.

Sedangkan Kazuki mengalami perubahan karakter drastis sehubungan dengan terungkapnya perannya sesungguhnya terkait Maria…

Lalu semuanya berakhir dengan begitu menggantung, untuk diselesaikan pada buku ketujuh yang direncanakan akan menjadi klimaks sekaligus akhir seri ini.

Menurut pendapatku, ceritanya cukup memuaskan. Walau seperti biasa ini masih menjadi seri yang takkan dengan gampang kurekomendasikan pada orang lain. Ini cerita yang beneran gelap, dan mungkin akan agak ‘kontaminatif’ bagi orang-orang lembut yang belum terbiasa dengan cerita-cerita beginian.

Tapi sesudah membaca dua buku ini, aku bisa bayangkan begitu buku ketujuhnya keluar, pengumuman untuk adaptasi animenya mungkin bakal keluar juga. Sebab konflik dan teka-teki yang dihadirkan di seri ini memang seseru itu sih. Adegan-adegan konflik fisiknya sedikit. Tapi ada perang urat saraf dan psikologis serta tebak-tebakan yang memikat dari awal sampai akhir.

Tanpa anime-pun, ini salah satu seri ranobe terjemahan Baka-Tsuki yang kurasa akan banyak dikenang.

Aku dan banyak orang harus kembali bersabar menanti keluarnya (terjemahan) buku terakhirnya.


About this entry