Kami-sama no Memo-chou

Aku belum lama ini membaca seri ranobe Kamisama no Memochou (atau Heaven’s Memopad, kurang lebih berarti ‘buku notes Tuhan’) karangan Sugii Hikaru yang telah diterjemahkan lumayan jauh di Baka-Tsuki.

Buat yang belum yang tahu, ini semacam seri misteri detektif yang mengetengahkan seorang siswa SMA bernama Fujishima Narumi dan pengalaman-pengalamannya bersama Biro Detektif NEET yang dipimpin seorang gadis kecil semi-hikkikomori yang dikenal dengan nama Alice. Sebagian besar ceritanya berlatar di kota Tokyo kontemporer, dan ceritanya banyak mengangkat soal berbagai fenomena masyarakat urban.

Sejak dulu aku memang agak lemah dengan cerita-cerita misteri. Lalu aku terkesan karena alur ceritanya bisa sedemikian berbeda dibandingkan anime-nya yang sebagian episodenya sempat kutonton.

Bagaimana mengatakannya ya? Pastinya, cerita KamiMemo sebenarnya bukan cuma soal misteri, tapi juga lebih banyak soal kehidupan. Terlepas dari segala lelucon tsukkomi-nya, ceritanya mengangkat sejumlah tema berat yang enggak sepenuhnya nyaman buat diangkat. Khususnya, tentang kaum NEET (‘not under education, employment, or training’; istilah buatan buat menyebut orang-orang muda usia kerja yang ‘pengangguran’); orang-orang muda yang berada di usia kerja tapi tak bekerja ataupun bersekolah. Narumi, yang menjadi tokoh utamanya, saking belum tahunya dia soal cita-cita dan masa depannya sendiri, dan juga karena kecendrungannya buat bersikap introvert, dengan separuh bercanda tapi juga serius sudah ‘divonis’ oleh Alice dan teman-temannya kalau dirinya sudah ‘ditakdirkan’ jadi NEET. Lalu Alice, seperti yang kubilang sendiri, adalah gadis hikkikomori jenius yang asal-usulnya bisa dibilang misterius.

Aku lumayan terkesan dengan bagaimana dunia urban dipaparkan di KamiMemo. Meski fenomena orang-orang yang mengidap sindrom antisosial sebenarnya sudah menarik perhatian di Jepang semenjak… kapan? Awal abad 21? Bahasan buku ini benar-benar berkembang lebih jauh dari itu. (Yang pasti aku ingat betapa aku mudah terpikat oleh seri-seri dengan tema macam NHK no Youkoso!) Ini beneran suatu tema cerita yang mudah menarik perhatianku.

Lalu (terjemahan) KamiMemo tahu-tahu saja hadir dan mengangkat dua tema favoritku sekaligus.

Jelas saja aku enggak bisa enggak mulai baca.

(Enggak. Jangan bandingin seri ini dengan Gosick. Premisnya mungkin mirip, tapi jenis ceritanya beda jauh.)

It’s the NEET thing to do.

Sebenarnya, selain dari yang sudah kusinggung di atas, agak susah menjabarkan daya tarik seri ini di mana. Satu hal yang sekilas tak penting bisa secara intrinsik terhubung dengan hal lain. Inti seri KamiMemo pada dasarnya adalah tentang hubungan keseharian yang terjalin antara Narumi dengan orang-orang dari Biro Detektif NEET, serta kasus-kasus yang mereka hadapi. Tapi ada bahasan-bahasan yang menyinggung seputar takdir dan arti hidup juga. Sehingga terkadang bahasannya bisa terasa benar-benar pribadi…

Cerita dibuka dengan perkenalan pertama antara Narumi dengan Shinozaki Ayaka, teman sekelasnya yang perempuan yang merupakan anggota satu-satunya dari Klub Berkebun.

Ayaka ternyata mengajak Narumi bicara karena Klub Komputer yang hanya beranggotakan Narumi, seperti halnya Klub Berkebun yang hanya beranggotakan Ayaka, terancam untuk dibubarkan. Dan hanya bila mereka kemudian bergabung dengan klub satu sama lain klub keduanya akan bisa terselamatkan.

Narumi, akibat seringnya ia berpindah sekolah, adalah seseorang yang mengalami kendala dalam bergaul dan merasakan kesulitan untuk bisa membaur dengan orang lain. Sehingga langkah awal Ayaka untuk mendekatinya, mengajaknya bicara, dan kemudian menjadi temannya, secara harfiah kemudian menjadi pemicu rangkaian peristiwa besar dalam hidupnya.

Ayaka ternyata bekerja sambilan di sebuah kedai ramen (yang rasanya enggak begitu bisa dibilang enak) milik seorang perempuan muda ‘perkasa’ yang dipanggil Min-san (yang hobi dan cita-citanya yang sebenarnya adalah membuat es krim; dengan es krim buatannya yang benar-benar enak). Lalu di bangunan milik Min ini, ternyata tinggal pula seorang gadis bernama Alice yang mengepalai Biro Detektif NEET. Bangunan Min ini ternyata adalah markas yang menjadi tempat mangkal dari para anggota biro detektif tersebut.

Alice sehari-hari mengurung diri di kamarnya dengan hanya ditemani layar-layar komputernya yang menyala sekaligus, belasan boneka yang disimpannya di sana, serta berkaleng-kaleng minuman ringan Dr. Pepper yang merupakan minuman favoritnya. Di sana, ia memandu ‘rekan-rekannya’ dalam menangani berbagai kasus yang mereka terima. Rekan-rekannya tersebut antara lain:

  • Tetsu, seorang bekas petinju muda yang dulu pernah bersekolah di SMA Narumi. Kini sedikit ketagihan dengan dengan judi dan berkelana. Tangguh, dan punya koneksi dengan kepolisian setempat. (Aslinya bernama Ichinomiya Tetsuo.)
  • Shosa (‘Mayor’), seorang mahasiswa dengan penampilan seperti anak SD yang sering bolos kuliah. Tapi dirinya seorang maniak hal-hal berbau kemiliteran dengan pengetahuan ekstensif soal senjata, spionase, dan pelacakan. (Nama asli: Mukai Hitoshi.)
  • Hiro, seorang host tampan dan perhatian yang hidup dengan mengandalkan pemberian pacar-pacarnya. Tapi terlepas dari bawaannya untuk jadi ‘penjahat kelamin’, memiliki jaringan komunikasi dan informasi yang sangat luas. (Nama aslinya Kuwabara Hiroaki.)
  • Yondaime, alias Hinamura Souichirou, yang merupakan pewaris dari geng yakuza Hirasaka-gumi, yang meski punya tampilan sangar, karismatik, serta puluhan pengikut, adalah orang yang sebenarnya sangat pandai menjahit (boneka).

Dari Ayaka, komplikasi situasi yang bahkan enggak dipahami oleh Narumi sendiri kemudian membawanya ke tengah-tengah biro detektif tersebut. Lalu entah bagaimana, dirinya kemudian memperoleh kepercayaan Alice dan merasa menemukan tempat untuk dirinya sendiri di tengah-tengah mereka.

Separuhnya Lagi Lumayan Perih

Garis besar ceritanya ya kurang lebih kayak begitu. Aku benar-benar enggak bisa jelasin lebih rinci dari ini. Satu, karena bakal spoiler. Dua, karena ceritanya emang enggak cocok buat semua orang.

Ini seri misteri, tapi bukan misteri kayak Kindaichi atau Conan. Miripnya mungkin lebih kayak ke novel-novel detektif populer zaman dulu? Eniwei, kalau kau tipe yang cocok dengan ceritanya, kau bakal ngerasa bahwa setiap cerita yang Narumi tuturkan adalah ‘cerita pribadi’-nya dia. Meski ceritanya bersifat episodik, setiap bab dalam ceritanya menuturkan satu demi satu babak pencarian jati diri Narumi dalam menjadi lebih dewasa—dan semua balik terkait dengan hal-hal yang dipandangnya penting. Makanya setiap ceritanya bisa terasa benar-benar ‘berarti.’

Judulnya mengacu kepada salah satu perkataan Alice—yang secara abnormal menyalahkan ketidakmampuannya sendiri atas berbagai kemalangan di dunia—soal bagaimana setiap hal tak tertuntaskan di dunia pada akhirnya hanya akan jadi catatan kaki kecil dalam buku notes Tuhan. Ada banyak cara pandang kehidupan yang menarik di seri ini. Soal bagaimana kita mesti menerima ketidakmampuan kita. Soal bagaimana kita tetap harus bertindak sekalipun tindakan kita mungkin takkan ada artinya.

Versi animenya yang dibuat studio J.C. Staff termasuk lumayan keren. Sebagian besar cerita diangkatnya dari empat buku pertama. Tapi berhubung ada porsi cerita orisinalnya, serta urutan penceritannya berubah, impact-nya terasa lumayan beda karena urutan pengenalan kita terhadap karakter-karakternya juga berbeda.

Yea, ini seri yang ceritanya lumayan character-driven.

Mungkin lumayan jelas, tapi meski kita sudah ‘kenal’ siapa-siapa saja tokoh utama di seri ini, kita tetap masih belum terlalu tahu tentang siapa sesungguhnya diri mereka. Terutama Alice, dan ini jadi salah satu daya tariknya juga. Terutama dengan bagaimana para karakter yang terlibat di dalamnya sendiri juga enggak terlalu ngemasalahin hal itu.

Eniwei, ini cerita yang keren dan berarti buatku. Nuansanya agak melankolis. Lalu perkembangan ceritanya mungkin agak perih. Tapi sekali lagi, ini sesuatu yang enggak bisa enggak kuhargai karena apa-apa yang diangkat di dalamnya kerasa ‘berarti.’

Dan yea, itu bukan cuma karena ilustrasi karakter manis bikinan Mel Kishida di dalamnya.

(Waktu kutulis seri ini sudah terbit sekitar delapan buku oleh ASCII Media Works di bawah bendera Dengeki Bunko. Mungkin ceritanya masih bakal berlanjut.)


About this entry