Rinne no Lagrange

Ada tiga hal yang mencolok saat aku pertama mendengar tentang LagRin:

  1. Latarnya di sebuah kota pantai tenang bernama Kamogawa
  2. Ini anime robot raksasa yang mengetengahkan tiga orang cewek sebagai tokoh utama
  3. Dibuat lewat kolaborasi antara dua studio animasi Xebec dan Production I.G., dengan para insinyur dari produsen mobil Nissan

Soal tiga orang cewek yang menjadi tokoh utama itu, aku seketika teringat akan anime mecha legendaris yang kental dengan semangat feminismenya, Gunbuster. Lalu dalam perkembangan lebih lanjutnya, aku mengetahui soal bagaimana lagu pembuka pertama seri ini diaransemen oleh musisi jazz Ramus Faber, yang waktu itu belum kukenal tapi ternyata sangat terkenal dalam kalangan-kalangan tertentu (yang begitu didengar oleh temanku langsung dihebohkan dengan penuh antusias). Lalu lagu-lagunya dinyanyikan pula oleh Nakajima Megumi yang menyuarakan Ranka dari Macross Frontier!

Jujur saja, ada banyak hal menarik yang kemudian kuketahui tentang Rinne no Lagrange – Flower declaration to your heart, atau yang juga dikenal dengan judul alternatifnya:  Lagrange – The Flower of Rin-ne.

Anime ini pertama keluar pada musim dingin di awal tahun 2012, dan secara agak mengejutkan berakhir agak menggantung untuk dilanjutkan pada season keduanya, yang mengudara di musim panas pada tahun yang sama. Sutradaranya adalah Sato Tatsuo, yang buat yang belum tahu, pernah terlibat dalam seri-seri kombinasi sci-fi dan drama keseharian sejenisnya, seperti Stellvia, Moeretsu Pirates, dan Kidou Senkan Nadesico.

Keseharian Kamogawa

Lebih gampang kalau aku langsung ke inti ceritanya.

Seorang gadis remaja enerjik bernama Kyouno Madoka terlibat dalam suatu konflik antar galaksi tatkala ia ‘dimintai tolong’ oleh seorang gadis aneh bernama Lan untuk melindungi Bumi dari serbuan alien dengan menjadi pilot sebuah robot raksasa.

Robot raksasa ini ternyata adalah sebuah senjata kuno misterius yang belum lama ini digali dari masa lalu, Vox Aura, yang belakangan dinamai Madoka sebagai Midori. Desainnya benar-benar keren, dengan bentuk ramping dan aerodinamis berwarna hijau dengan kemampuan untuk berubah bentuk menjadi kapal.

Pihak yang bertanggung jawab terhadap penggalian ini adalah sebuah organisasi bernama Novusmundus, yang rupanya untuk beberapa lama telah menjalin kontak dengan orang-orang planet lain.

The catch is… Madoka adalah siswi di sebuah SMA putri di Kamogawa yang merupakan anggota tunggal Klub Jersey, yang pada dasarnya merupakan organisasi ekskul satu orang yang tugasnya menolong orang lain—termasuk klub-klub ekskul lain—dengan pakaian jersey, celana training dan jaket olahraga. Jadi, memang sudah menjadi ‘tugas kesehariannya’ untuk membantu orang. Cuma permintaan untuk memiloti sebuah robot raksasa jelas bukan permintaan yang ia sangka akan pernah ia dapatkan.

Klub Jersey ini Madoka warisi karena alasan-alasan pribadi dari Nakaizumi Youko, kakak sepupunya yang kini bekerja sebagai arkeolog. Youko mengetahui rahasia tentang Vox Aura, dan semula menentang keras keputusan Madoka untuk memilotinya. Tapi akhirnya ia setuju dengan syarat agar Madoka juga melanjutkan hidup sehari-harinya dan tak terikat di Novusmundus.

Sesuai yang diperkirakan, Lan yang ramping dan pemalu dan tak terlalu paham tentang adat istiadat Bumi ternyata merupakan seorang ‘putri’ dari planet lain. Ia dan wakil-wakil lain dari planetnya datang ke Bumi dan ditampung oleh organisasi Novusmundus—yang punya markas terapung bernama Pharos di laut—untuk menemukan kebenaran tentang peninggalan pusaka-pusaka Vox di Bumi. Lan sendiri ternyata merupakan pilot sebuah Vox lain, yakni Vox Lympha yang berwarna biru, yang belakangan ia beri nama Orca.

Lan kemudian menjadi teman dekat Madoka dan bahkan ikut bersekolah dengannya. Terutama setelah munculnya seorang murid pindahan bernama Muginami. Muginami sekilas tampil dalam keseharian Madoka sebagai gadis cantik yang agak-agak ‘lamban.’ Tapi sebenarnya ia memiliki niat tersembunyi untuk menyusup ke Pharos dan mencuri unit Vox terakhir, yakni Vox Ignis yang berwarna jingga (yang belakangan Muginami namai Hupo).

Muginami ternyata sama-sama alien seperti Lan, namun dirinya berasal dari pihak yang bertentangan dengan pihak Lan. Itu pula alasan mengapa meski ia mengakrabkan diri dengan Madoka, Muginami menyimpan sedikit antipati terhadap Lan.

Ternyata dulu suatu bencana besar pernah terjadi di masa kuno Bumi, yang membuat sebagian besar penduduknya, yang memiliki peradaban lebih canggih dari sekarang, untuk hijrah ke luar angkasa. Para penduduk yang hijrah ke luar angkasa ini rupanya adalah cikal bakal dua negara Le Garrite tempat Lan berasal, dan De Metrio tempat Muginami berasal. Sedangkan manusia Bumi di masa kini adalah keturunan dari mereka yang bertahan untuk tak hijrah.

Para pihak yang bertentangan ini rupanya sama-sama mengincar pusaka-pusaka Vox untuk mengakhiri peperangan, lewat pasukan-pasukan mecha Ovid mereka masing-masing. Hanya saja, ada suatu legenda tentang kehancuran besar-besaran tentang ketiga Vox di masa lalu, yang dibawa kedua belah pihak ke luar angkasa. Ketakutan bahwa setiap Vox tersebut yang awal mulanya menciptakan kehancuran besar di Bumi itulah yang kemudian menciptakan semacam status quo genting, dengan Kamogawa sebagai latarnya.

Tiga Kursi

Mungkin ini agak susah dibayangkan. Tapi meski premisnya agak ngebingungin, LagRin nyaris tak menonjolkan sisi fantastisnya. Meski ada adegan-adegan pertempuran dan konflik, ceritanya lebih berpusar pada hubungan persahabatan antara tiga sekawan Madoka, Lan, dan Muginami saja.

Nuansanya agak-agak ke arah yuri, jadi… terus terang, aku sempat agak kesulitan mengikuti seri ini. Di samping itu, daya tarik seri ini dari segi cerita lebih ke situasional daripada karakter. Sehingga saat situasinya mulai ‘tenang,’ daya tariknya buatku jadi agak hilang.

Sejalan dengan itu semua, tetap ada sejumlah ‘tanda-tanda’ yang kemudian tersebar di sepanjang cerita sih. Dan kurasa ‘tanda-tanda’ itulah yang akhirnya membuatku penasaran tentang seperti apa seri ini akan berakhir. (Di samping aku ingin tahu bagaimana seri ini kira-kira bisa diimplementasikan dalam sebuah game Super Robot Wars.) Ada adegan-adegan kilas balik singkat yang menggambarkan bahwa De Metrio bukan kesatuan yang utuh. Muncul pertanyaan-pertanyaan tentang apa motif pemicu peperangan ini sesungguhnya. Lalu menjelang akhir, ada teka-teki tentang hadirnya sosok seorang gadis misterius bernama Yurikano di dalam benak Madoka. Hadir pula ketua Novusmundus, seorang gadis mungil bangsawan bernama Astaria, yang terlepas dari semua ke-loli-annya, mengindikasikan bahwa dirinya bukan manusia biasa. Tentu saja semuanya berbalik ke bagaimana hubungan semua ini dengan ketiga Vox dan kekuatan terpendam yang mereka punya.

Berhubung Bumi dan Le Garrite beraliansi, sebagai orang yang berasal dari pihak berseberangan, ada cukup banyak konflik yang melanda Muginami sih. Terutama setelah ia terpaksa mengkhianati(?) kakak laki-lakinya, Villagulio, yang menjadi tokoh antagonis paling menonjol di seri ini (tapi dia pun tak bisa dikategorikan sebagai tokoh jahat). Tapi inti ceritanya benar-benar lebih ke keseharian Madoka dkk dalam Klub Jersey dan bagaimana persahabatan mereka bisa terbangun.

Sekali lagi, porsi keseharian dan kehidupan sekolahnya JAUH lebih banyak dari yang mungkin kau perkirakan. Meski kau tertarik, mungkin kau bakal sulit buat ‘tahan’ menonton ini. Soalnya kayak, rasanya kayak ada sedikit sekali ‘kemajuan’ yang terjadi. Tapi kalau kau bisa menangkap betapa banyaknya ‘tanda-tanda’ bakal terjadinya sesuatu di sana-sini, mungkin kau bakalan ingin tahu juga soal season 2-nya bakal kayak apa.

Maru!

Membahas teknisnya, LagRin sama sekali bukan seri yang buruk. Baik visual maupun audionya lumayan. Hanya saja mungkin yang bisa membuat aneh adalah cara penggambaran latar di beberapa adegan. Paling mencolok, penggambaran langitnya terlihat agak aneh. Rasanya jadi kontras dengan bawaan ceria yang seri ini coba usung.

Kalau kau suka seri-seri lain yang pernah disutradarai Sato-sensei, ada peluang kau juga bisa menikmati ceritanya sih. Masalahnya adalah baik adegan aksi, drama, ataupun intriknya sama-sama tak terlalu menonjol. Plotnya tak benar-benar bisa dibilang menarik. Di samping itu, cerita LagRin terpotong menjadi dua segmen. Berakhir pada bagaimana Madoka dan kawan-kawannya terpaksa berpisah, seiring dengan datangnya armada kapal utama pimpinan Dizelmine, kakak lelaki Lan. Sehingga ada rasa kurang memuaskan yang dihadirkan pada season pertama.

Makanya, itu alasan utama kenapa seri ini bukan sesuatu yang akan kurekomendasikan ke kebanyakan orang sih. LagRin tak begitu terasa seperti anime mecha. Perasaan kita masih belum begitu tergerak. Kita masih dibiarkan bertanya-tanya tentang apa-apa sesungguhnya yang telah terjadi. Kita juga mungkin masih belum sepenuhnya ngeh soal situasi perpolitikan yang dipaparkan dalam seri ini. Semua karena aspek kesehariannya itu yang begitu ditonjolkan dan menyita sebagian besar perhatian kita.

Tapi setelah kulihat sendiri, season 2-nya lebih menjanjikan. Serius.

Itu alasan kenapa aku menulis ini sekarang.

Tapi kuceritakan lebih banyak soal itu di lain waktu.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: B; Audio: B+; Perkembangan: C; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B-


About this entry