Time of Eve

Aku menonton Eve no Jikan sama sekali tanpa pengharapan apa-apa.

Aku sudah lama dengar, di salah satu forum anime yang dulu kerap kukunjungi, tentang bagaimana film ini bagus. …Aku tahu bagus. Aku tahu ini tentang robot. Aku juga tahu kalau ujungnya happy ending. Lalu aku juga tahu kalau film ini meraih sejumlah penghargaan. Tapi sebenarnya, aku benar-benar tak tahu apa-apa tentang film ini sebelum aku menontonnya.

Biar aku nyatakan ini di awal dulu: ini salah satu anime sains-fiksi terbaik yang pernah kutonton.

Aku katain sains-fiksi dalam arti paling dasar. Kayak, sains-fiksi Isaac Asimov gitu. Aku merasa perlu menyebut namanya karena tiga hukum robotika yang beliau cetuskan dalam karya-karyanya menjadi tema yang diangkat dalam film ini.

Ceritanya, di masa depan tatkala android telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sebagai pembantu dalam berbagai lapangan kerja. Wujud mereka sudah nyaris tak lagi dapat dibedakan dari manusia. Mereka dicirikan oleh lingkaran cahaya holografis khas yang terpasang di atas kepala mereka, serta wajah tanpa ekspresi yang disertai dengan suatu pola interaksi tanya-jawab unik yang mereka lakukan dengan pemilik mereka.

Lalu, ada dua orang siswa SMA: Rikuo dan Masaki. Rikuo, seorang anak berkacamata yang agak grouchy dan dulu pernah hobi memainkan piano, sedang dibingungkan oleh perilaku android rumah tangganya yang perempuan, Sammy, yang dipandangnya belakangan bertingkah tak biasa. Pemeriksaan terhadap log-nya membuat Rikuo mengetahui bahwa di sela-sela waktu saat ia keluar rumah untuk berbagai keperluan, Sammy secara berkala mengunjungi suatu bangunan tertutup, yang ternyata adalah sebuah kafe misterius bernama Time of Eve.

Meminta Masaki untuk menemaninya ke tempat tersebut, Rikuo dan Masaki kemudian mendapati kalau di kafe ini ada peraturan mutlak bahwa manusia dan android harus diperlakukan sama. Rikuo dan Masaki berkenalan dengan barista kafe tersebut, seorang perempuan muda bernama Nagi. Lalu lewat pengenalan terhadap karakter-karakter lain yang kerap berkunjung ke sana, cerita kemudian semakin berkembang.

Mungkin aku lebih baik enggak cerita lebih jauh dari ini. Soalnya gimana kita memahami apa-apa yang terjadi di sana adalah daya tarik terbesar yang anime ini punya. Bahasan utama soal bagaimana perlakuan manusia—dalam hal ini, Rikuo dan Masaki—terhadap android diangkat (Rikuo di awal cerita memperlakukan Sammy seperti ‘peralatan’ biasa), beserta spekulasi soal mana sebenarnya pengunjung kafe yang manusia dan mana yang android (para android mematikan lingkaran cahaya di kepala mereka), lalu kajian menarik tentang intepretasi tiga hukum robotika, dan tentunya tema klasik tentang bagaimana android—robot—bisa memperoleh kesadaran mereka sendiri.

Eksekusi anime ini benar-benar luar biasa keren, sampai-sampai tema-tema sains-fiksi lama di atas bisa kembali dibuat hingga terasa segar. Ada banyak seiyuu ternama yang berperan dalam anime ini. Lalu meski latarnya enggak pernah jauh-jauh dari kafe, sekolah, rumah, dan jalan, terasa kayak ada begitu banyak yang berhasil dipaparkan soal dunianya di dalam durasi terbatas anime ini. Satu hal yang menarik—dan masih langka bahkan buat ukuran anime zaman sekarang—adalah bagaimana sudut pandang kamera dan tempo musik dimainkan secara luar biasa apik di anime ini, dengan cara-cara yang benar-benar enggak biasa.

…enjoying yourself in the Time of Eve.

Anime ini digagas dan disutradarai oleh Yoshiura Yasuhiro, berawal sebagai ONA (2008-2009) yang di-stream di Yahoo! Japan dan Crunchyroll., tapi kemudian dirilis sebagai satu film layar lebar penuh yang menyatukan episode-episode ONA di atas (2010). Pengeditan versi layar lebarnya benar-benar bagus, sehingga setiap penggal cerita terasa benar-benar berkesinambungan.

Masih ada lumayan banyak pertanyaan yang belum terjelaskan di anime ini. Meliputi sebuah kejadian di masa lalu yang berkaitan dengan Komite Etika Robot—yang menentang kesamaan perlakuan robot dengan manusia, seseorang bernama Shiotsuki, memori seorang android yang secara misterius bisa berada di android lain, tentang bagaimana sebenarnya seorang pengunjung bisa sampai terbawa ke Time of Eve yang letaknya terselubung, dan tentunya soal identitas Nagi sendiri.  Tapi sempat disebutkan bahwa Eve no Jikan yang ada sejauh ini barulah season pertamanya. Dikatakan bahwa akan ada season kedua. Bahkan di akhir cerita, Rikuo sebagai narator mengatakan masih ada banyak sejumlah hal lain yang kemudian terjadi. Cuma sayangnya hingga kini masih belum ada kabar perkembangan lebih lanjut.

Aku merasa agak sayang karena ini. Mengingat betapa simpatiknya karakter Rikuo dan Sammy.

Aku jadi tertarik melihat beberapa media Eve no Jikan lain, meliputi komik dan novel. Kurasa kau bakalan sangat suka anime ini bila kau termasuk penggemar berat sains-fiksi atau drama.

Akan kukabari kalau aku menemukan hal-hal menarik lain.

Penilaian

Konsep: A; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: A; Eksekusi: S; Kepuasan Akhir: A+


About this entry