Accel World

Dua puluh empat episode. Dua cour. Lumayan juga.

Jadi, aku coba memeriksa anime Accel World belum lama ini.

Yea, makan waktu agak lama. Belakangan aku kena sindrom di mana aku sulit dipuaskan hanya oleh satu hal.

Setelah kupikir, jangan-jangan itu alasan aku kesulitan ngedapetin cewek? Selama itu, yang kepikiran di kepalaku memang cuma soal gimana cara buat bisa ngedapetin harem ending. Namun akhirnya kedua puluh empat episode itu selesai kubereskan juga.

Err, gimanapun, selaku penggemar seri novel Sword Art Online karya Kawahara Reki, aku sedikit banyak memperhatikan Accel World juga. Dalam beberapa hal, mengingat keduanya banyak menyinggung tema dunia virtual, aku lebih menyukai seri Accel World ketimbang SAO. Alasannya? Mungkin karena implikasi ceritanya terhadap dunia nyata digambarkan lebih kompleks.

Lebih Cepat Lagi!

Konon masih memiliki kontinuitas dengan SAO, tapi berlatar lebih jauh di masa depan, Accel World berkisah tentang bagaimana seorang anak SMP pendek gendut bernama Arita Haruyuki, yang sebelumnya menjadi korban penindasan di sekolah, berkenalan dengan sebuah program game(?) misterius bernama Brain Burst, dan mengalami perubahan pada nasibnya.

Program ini ceritanya memiliki fitur untuk memungkinkan orang ‘mempercepat’ (mengakselerasi) kinerja otak mereka. Hal ini menjadikan otak mereka bisa mencerna impuls saraf jauh lebih cepat dari biasa. Sehingga dengan fitur ini, waktu bisa dibuat untuk seakan melambat (ibarat bullet time dalam film The Matrix). Jadi bayangkan saja kalau kau bisa memanfaatkan kemampuan ini untuk urusan kerja dan kuliah.

Tapi Accel World bukan cuma berkisah tentang kemampuan akselerasi otak ini.

Seri ini juga memaparkan dunia masa depan di mana augmented reality telah terhubung secara langsung dengan indera-indera persepsi manusia, melalui sambungan langsung ke sistem saraf lewat perangkat khusus bernama Neuro Link.

Di Accel World, ada perangkat-perangkat social camera yang ditempatkan di distrik-distrik umum, yang seakan memetakan bentang alam dan sekaligus menjaga keamanan warga biasa. Kamera-kamera ini seakan jadi meleburkan batas antara dunia nyata dan virtual lewat teknologi AR ini.

Manusia, dengan hanya menggerak-gerakkan tangan di udara, tanpa perlu ponsel maupun komputer, bisa mengirimkan mail ke orang lain, mengakses global net, menonton file media; singkatnya, dunia virtual secara harfiah benar-benar telah bertumpukan dengan dunia nyata. Pada jam istirahat, manusia bisa memindahkan kesadaran mereka ke semacam ‘dunia lain’ dengan hanya menghubungkan diri ke local network melalui voice command gitu. Di dunia lain itu, mereka bisa bersosialisasi, bermain game, dan sebagainya.

Sekitar lima belas tahun sebelum cerita dimulai, setiap anak yang terlahir mulai diberi implan Neuro Link (di sekitaran leher belakang mereka?) mengikuti semacam regulasi pemerintah.

Di ruang kelas SMP Umesato, Suginami, Tokyo, tempat Haruyuki bersekolah, murid-murid belajar dan menerima pelajaran melalui sistem virtual. Materi pelajaran yang dipampangkan lewat papan tulis dipampangkan secara virtual. Bahkan mereka yang matanya rabun dapat memanfaatkan fitur Neuro Link untuk mengatur apa yang mereka lihat sesuai kemampuan jarak pandang mereka.

Sebagai anak rendah diri yang hanya dibesarkan seorang ibu yang menjadi orangtua tunggal, Haruyuki merasa dunia nyata hanya memberinya penderitaan. Ia sedikit banyak menggunakan dunia virtual sebagai pelariannya. …Sampai kemudian ia bertemu seorang kakak kelas yang hanya dikenal dengan sebutan Kuroyuki-hime, ketua dewan siswa sekaligus siswi tercantik di sekolahnya, yang kemudian memberinya Brain Burst yang selanjutnya mengubah kehidupannya.

A New Challenger Has Appeared!

Brain Burst pada dasarnya semacam game fighting online. Di dalamnya, para penggunanya bertarung satu lawan satu dalam suatu arena virtual yang ‘agak’ disesuaikan dengan lingkungan dunia nyata tempat mereka berada.

Mengingat sifat rahasia dari program Brain Burst, bila ada sesama Burst Linker—pengguna aplikasi Brain Burst—muncul di jaringan tempat kau terhubung, maka kau bisa memilih namanya lewat matching list dan menantangnya untuk bertarung. Tapi identitas mereka yang sesungguhnya di dunia nyata takkan ditampilkan. Jadi benar-benar seperti suatu dunia rahasia yang hanya diketahui segelintir orang.

Brain Burst dibuat sedemikian rupa oleh suatu penciptanya yang misterius agar ter-uninstall secara otomatis apabila penggunanya membocorkan keberadaan aplikasi tersebut ke seorang yang non-pengguna. Untuk mengundang pemain baru, seorang Burst Linker hanya bisa dengan menyalin program aplikasi Brain Burst ke Neuro Link orang bersangkutan—tanpa boleh mengatakan apa-apa—dan melihat sendiri apa orang tersebut menginstall Brain Burst atau tidak.

Sebenarnya, ada konsekuensi lebih besar dari tindakan membocorokan rahasia ini sih. Tapi itu nanti terungkap seiring perkembangan cerita.

Begitu Brain Burst sukses terinstalasi dalam Neuro Linker seseorang (konon ada keadaan yang membuat jenis-jenis orang tertentu tak bisa menginstalnya), sebuah Duel Avatar akan dibentuk berdasarkan analisa terhadap kepribadian dan ingatan penggunanya(!). Duel Avatar ini yang nanti menjadi ‘badan’ sang pengguna program, yang dengan segala kelebihan, kekurangan, dan kemampuannya; kemudian digunakannya dalam kasoku-sekai, ‘dunia lain’ di mana mereka kemudian bertarung.

Pertarungan antara pengguna Brain Burst berlangsung dalam suatu dunia virtual di mana waktu sedetik di sana sebenarnya adalah seperseribu(!) detik dari waktu di dunia nyata. Mengaplikasikan secara langsung kemampuan percepatan otak, mereka yang memiliki Brain Burst dapat menghabiskan waktu teramat lama di ‘dunia yang dipercepat’ ini, sampai mereka bahkan bisa kehilangan korelasi mereka akan apa yang terjadi di dunia nyata dan mengalami perubahan pada kepribadian mereka. (Selama ini berlangsung, tubuh mereka di dunia nyata seakan membeku, sementara mereka bergerak di dunia virtual ini dengan Duel Avatar masing-masing.)

Setiap pertarungan antar Burst Linker ini diberi waktu, dengan semua Burst Linker lain yang berada di wilayah sekitar dapat menjadi penonton pertarungan. Si pemenang akan mendapatkan poin sebagai hadiah, sedangkan dia yang kalah akan kehilangan poin. Poin-poin inilah yang dipakai untuk level up sekaligus juga yang jadi ‘bayaran’ yang setiap Burst Linker harus berikan setiap kali mereka hendak ‘memperlambat waktu di dunia nyata.’

Rinciannya lebih rumit dari itu sih, sebab ‘melambatkan waktu di dunia nyata ini’ ada beberapa jenis. Mulai dari yang paling dasar, dengan hanya avatar online mereka saja yang bebas bergerak (di dunia virtual ‘tiruan’ yang dapat dijelajah, terbentuk berkat implementasi social camera di atas) sementara tubuh asli mereka ikut membeku; sampai yang paling canggih dengan bayaran poin paling mahal, untuk menggerakkan tubuh nyata dengan kecepatan tinggi sesuai perlambatan waktu ini. Tapi intinya kurang lebih begitu.

Burst Linker yang sampai kehilangan seluruh poin mereka, sampai benar-benar nol, juga akan mengalami uninstall paksa dari program Brain Burst mereka. Jadi dalam setiap pertarungan, ada resiko nyata yang benar-benar mereka pertaruhkan.

Ceritanya, Kuroyuki-hime kemudian membantu Haruyuki mengatasi masalah penindasan yang dialaminya. Sebagai balasannya, Haruyuki, dengan Duel Avatar-nya yang baru, bersedia membantu Kuroyuki-hime di kasoku-sekai. Terutama karena setelah menjelma menjadi Burst Linker Silver Crow, Haruyuki segera menimbulkan sensasi karena kemampuan khususnya untuk ‘terbang’ belum pernah dimiliki Burst Linker manapun sebelum dirinya…

Wake up your brain!

Sejujurnya, yang benar-benar ‘kena’ buatku dari Accel World adalah penggambaran karakter Haruyuki. Dari pengecut, pasrah, dan cengeng, Haruyuki berubah jadi orang yang sanggup bangkit dan melakukan sesuatu buat dirinya dan sekelilingnya. Penggambarannya itu segitu alaminya sampai kelihatan keren.

Oke. Mungkin enggak segitunya sih.

Mungkin ini terkait juga dengan bakat Kawahara-sensei dalam membuat karakter-karakter antagonis yang benar-benar terasa kebrengsekannya.

Sehubungan dengan itu, aku sempat agak hilang minat terhadap seri ini saat ceritanya berfokus pada aspek gaming-nya daripada karakternya. Tapi itu enggak berlangsung lama, karena sisi bagus seri ini segera back on track sesudahnya.

Jadi ceritanya, semakin tinggi level seorang Burst Linker, semakin banyak poin yang mereka perlukan untuk level up. Lalu besarnya poin yang dapat dimenangkan bergantung pada perbedaan level kita dengan level lawan. Kuroyuki-hime tidak lain adalah Burst Linker legendaris bernama Black Lotus, salah satu ‘Raja’—satu dari sekian sedikit Burst Linker veteran yang telah mencapai Level 9.

Para Raja ini mampu memiliki ‘pengikut’ dan membentuk kelompok-kelompok mereka sendiri gitu yang disebut Legion (mirip guild kalau dalam MMORPG). Lalu setiap Legion ini bersaing dengan satu sama lain untuk berebut pengaruh di dunia yang dipercepat.

Namun ternyata, bagi para Burst Linker yang telah mencapai level 9, ada perubahan aturan berdampak fatal yang kemudian mengubah banyak sekali hal. Ternyata, kekalahan sekali saja bagi seorang Raja berakibat pada ter-uninstall-nya Brain Burst bagi mereka. Sementara di sisi lain, untuk mencapai level maksimal, yaitu level 10, poin yang didapat dari seseorang yang ‘setara’ dengan mereka akan diperlukan.

Dengan besarnya resiko yang dipertaruhkan, semacam status quo pada akhirnya terjadi antara para Raja dan Legion masing-masing. Padahal, telah beredar desas-desus bahwa tujuan sebenarnya dibuatnya Brain Burst serta siapa pengembangnya hanya akan diperlihatkan kepada mereka yang telah mencapai level 10.

Sebagian besar Burst Linker, dengan kekhawatiran bahwa Brain Burst akan berakhir begitu ada yang mencapai Level 10, lebih menyetujui status quo ini ketimbang konflik antar Raja. Tapi Black Lotus tak bisa menerima kestagnanan ini. Ia akhirnya melakukan sesuatu yang membuatnya secara harfiah diburu oleh para Raja lain, baik di dunia nyata maupun di dunia yang dipercepat.

Hanya sesudah pertemuannya dengan Silver Crow, Black Lotus kemudian menampakkan diri kembali di dunia Burst Linker. Itu dilakukannya sekaligus dengan pernyataan kebangkitan kembali Legion hitam miliknya, Nega Nebulous, dengan Haruyuki sebagai pengikut setianya, yang bermarkas di wilayah Suginami.

Ada banyak persoalan seputar hubungan antar manusia yang diangkat dalam Accel World. Terutama karena Brain Burst dapat digunakan para Burst Linker untuk mengatasi berbagai tantangan kehidupan di dunia nyata. Terlebih dari itu, untuk suatu alasan, kelihatannya hanya mereka yang memiliki semacam ‘trauma masa lalu’ saja yang dapat menginstal Brain Burst.

Dalam hal ini, dituturkan bagaimana Haruyuki menghadapi dampak penindasan yang dulu dialaminya; soal keretakan hubungan persahabatan lamanya dengan dua sahabat masa kecilnya, Kurashima Chiyuri yang dianggapnya terlalu perhatian padanya, dan Mayuzumi Takumu, murid atletis yang telah menjadi pacar Chiyuri; serta bagaimana ia membantu Kuroyuki-hime mengatasi trauma-trauma pribadinya sendiri.

Meski anime ini jelas belum menutupi seluruh cerita yang tertuang dalam seri novelnya, sampai masa tayangnya berakhir, tema utama dari seri ini tetap lumayan tersampaikan dengan baik.

Kecendrungan buruk Kawahara-sensei dengan penggambaran sifat para karakter ceweknya yang ‘aneh’ agaknya, sayangnya, masih ada (dan kayaknya tim produksi agak ngedukung beliau dalam aspek ini). Tapi kayak biasa, aku bertahan ngelewatin itu. Apalagi dengan gaya khas beliau dalam membuat plotnya tak tertebak di bagian-bagian yang paling tak terduga.

It’s a Burst of Sensation

Bicara soal teknis, mengingat wujud setiap Duel Avatar yang agak kayak berlapis logam, waktu aku dengar Accel World dianimasikan, aku sangka render 3D seperti yang Sunrise gunakan di Tiger & Bunny akan ada lagi. Tapi ternyata enggak juga.

Walau begitu, visualisasinya sama sekali enggak buruk kok. Adegan-adegan pertarungannya fluid dan cukup enak diikuti. Dramatisasi pada beberapa bagian kayaknya kurang pas. Tapi aku susah bayangin hasil akhir animenya lebih baik dari ini.

Aku benar-benar suka dengan bagaimana Tokyo masa depan di seri ini digambarkan. Baik dalam bentuk penggambaran sekolah Haruyuki, gedung apartemen tinggi yang dihuninya bersama Takumu dan Chiyuri, sampai interior rumahnya yang cantik.

Visualiasi Brain Burst memang agak tak seperti yang semula kubayangkan sih, dengan life gauge berkesan heavy metal dengan motif api dan rantai. Tapi lama-lama aku terbiasa, dan aku kemudian mikir, ‘Ini boleh juga kok.’

Walau aku ngerti perasaan kalo anime-nya pasti kerasa kalah keren ketimbang isi novelnya, sebenarnya, aku tetap agak ngerasa kalau adaptasi ke bentuk anime Accel World masih lebih berhasil ketimbang SAO. SAO itu agak… bikin mereka yang sebelumnya udah nikmatin cerita dalam novelnya merasa ‘kurang’ atau ‘terasing’. Tapi anime Accel World, mungkin juga karena Sunrise yang bikin, kerasa kayak ‘boleh juga’ buat aku yang udah lumayan baca novelnya. Kejutan-kejutan dunia nyatanya kerasa kurang ngejutin bila dibandingkan dengan di novel. Mungkin karena masalah durasi. Tapi secara umum animenya seenggaknya tetap masih bisa kusukai.

Accel World itu tetap sesuatu yang agak… geekish. Arah perkembangannya juga gaje. Jadi mungkin itu alasan kenapa seri ini kalah terkenal dibanding SAO. Tapi penanganan karakter-karakternya, yang jumlahnya lebih banyak dan bervariatif, menurutku lebih baik. Lalu, meski awalnya gaje, saat ceritanya berkembang, perkembangannya memang menarik. Apa yang kurasa kudapat setelah menontonnya terasa kayak jauh lebih banyak dari yang sebelumnya kusangka. (Soal ini mungkin cuma aku doang sih.)

Karakter Kuroyuki-hime, yang stoic dan ‘dingin’ dalam keadaan biasa, tapi bisa bersikap menggoda bila urusannya menyangkut Haruyuki, menjadi salah satu sorotan yang agak unik buat seri ini.

…Oke, sebenarnya biasa saja sih.

Mungkin yang merasa begitu juga cuma aku saja.

Jadi kurasa ini  emang seri yang agak hit or miss, suka apa enggaknya benar-benar tergantung kamu. Apalagi terkait dengan sejauh mana kau bisa suka (ato ngetawain) sifat cengeng Haruyuki sendiri. Tapi kalau kamu termasuk orang yang bisa ngeh sama Accel World, kayaknya kamu bakal jadi orang yang benar-benar suka.

Selain visualisasi dunia virtual yang detil dan memikat, aspek audio seri ini benaran keren. Semua lagunya, yang kebanyakan punya warna techno, beneran enak didengar. May’n beserta Kotoko sama-sama menyumbang lagu. Para seiyuu pun beneran menampilkan hasil kerja bagus. Ini seri yang lumayan unggul dari segi audio juga.

Akhir kata, kalau kau seorang gamer, pengkhayal teknologi, atau penasaran soal perubahan, atau bahkan sekedar suka melihat karakter-karakter brengsek yang benar-benar bersikap brengsek, ada kemungkinan lumayan kau bakal menikmati Accel World. Meski 24 episode ini hanya mencakup cerita dari buku 1 sampai buku 4, dari 14 buku yang sudah terbit (tepatnya, sampai akhir konfrontasi panjang dengan Dusk Taker), perkembangan ceritanya lumayan kok. Selebihnya, berhubung temanya geekish dan enggak umum, apalagi para karakter cewek kadang ditampilkan agak… yah, kurang riil? Palingan kau hanya bakal berpikir dua kali dalam mempertimbangkan untuk mengikutinya.

Pastinya, kalau kau ingin sesuatu yang ‘lebih’ sesudah SAO, coba periksa Accel World.

Di awal, mungkin kau takkan bisa terlalu serius menanggapinya. Tapi kalau kau bertahan, mungkin kau bakalan terkejut.

(Belakangan ini terbit pula kisah spin off Accel World, yakni Accel World/Dural: Magisa Garden. Ceritanya berlatar setahun sesudah awal cerita Accel World, dan mengetengahkan karakter baru Chigira Chiaki di sekolah baru Akademi Putri Seibi. Mungkin ini kapan-kapan akan kuulas juga.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: B+; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-


About this entry