Kateikyoushi Hitman Reborn!

Ini sesuatu yang sebelumnya agak enggak kusangka sih. Tapi belum lama ini, aku membaca manga Katekyo Hitman Reborn! sampai tamat. Manga karya Amano Akira ini menjadi salah satu manga paling terkenal dari majalah komik Weekly Shonen Jump dari penerbit Shueisha semenjak pertengahan tahun 2004 sampai akhir 2012 lalu.

Alasan aku membahas manga ini adalah… gimana ya? Ini salah satu shonen manga paling aneh yang pernah kubaca. Tapi ‘aneh’ dalam artian tetap bagus. Emang bukan sesuatu yang punya potensi bakal disukai semua orang sih. Dan juga bukan sesuatu yang bakal kusebut mahakarya. Tapi aku enggak akan nyangkal gimana ada bagian-bagian dari manga ini yang bener-bener mendobrak batasan-batasan ‘keren’ sebuah shonen manga.

Jadi, seri manga ini awalnya bergenre komedi. Benar-benar jenis komedi episodik yang konyol dan absurd gitu. Mungkin agak kayak To-Love-Ru! tapi jauh lebih bersih dari fan service. Tapi sekitar sepertiga jalan, sesuatu terjadi. Genre ceritanya entah karena apa tahu-tahu berubah menjadi aksi, dan aksi-aksinya itu keren, dan maksudku di sini itu serius benar-benar kereeen.

Dying Will

Sawada Tsunayoshi adalah murid SMP yang payah.

Dia payah dalam hal pelajaran. Dia pemalas, tak punya tekad, sering ditindas di sekolah; lalu semua tim yang diikutsertainya dalam permainan olahraga pasti kalah.

Tapi kemudian datanglah ke rumah Tsuna sesosok(?) balita (bayi?) aneh berjas dan bertopi hitam bernama Reborn (dengan bunglon peliharaan ajaib bernama Leon) yang mengaku-ngaku sebagai hitman (pembunuh bayaran) sekaligus guru privat terbaik di dunia. Reborn mengatakan bahwa dirinya telah diutus untuk ‘memperbaiki’ Tsuna, dan dirinya kemudian membeberkan bahwa Tsuna merupakan keturunan terakhir (‘yang masih tersisa’) dari keluarga mafia ternama Vongola, dan dirinya akan dipersiapkan untuk dijadikan kepala keluarga Vongola yang baru, berhubung para kandidat lainnya sudah tewas terbunuh semua dalam perebutan kekuasaan antara satu sama lain.

Tentu saja, pembeberan ini membuat Tsuna ketakutan setengah mati. Tapi Reborn tak mau menerima alasan maupun penolakan. Baik suka atau tidak, Reborn mulai tinggal di rumah Tsuna. Kemudian dengan berbekal shinukidan (‘peluru penyesalan kematian’) yang dari waktu ke waktu ditembakkannya ke dahi Tsuna, Reborn mengajari Tsuna untuk membereskan masalah-masalahnya sendiri dengan cara ‘membunuh’ Tsuna untuk sementara waktu, membuatnya merasakan penyesalan pada saat maut menjelang, hingga akhirnya ia bangkit hidup lagi dalam keadaan hanya pakai baju dalam(!?) dengan tenaga dan antusiasme luar biasa untuk menuntaskan hal-hal yang disesalkannya saat menjelang ‘mati’ tersebut. (Ngerti leluconnya?)

Sepertiga awal cerita Reborn berkutat dengan episode-episode seperti ini. Agak seperti dalam Doraemon, Tsuna akan menghadapi kesulitan yang tak dapat diatasinya sendiri. Kemudian Reborn akan menembakkan shinukidan ke dahinya. Lalu Tsuna akan bangkit kembali dan menyelesaikan apa yang tadinya tak dapat diatasinya tersebut dengan tenaganya sendiri—tapi biasanya dengan efek yang agak-agak akan disesalinya.

Cerita semakin ramai dengan semakin banyak diperkenalkannya tokoh-tokoh (aneh) baru—banyak di antara mereka yang kenalan Reborn dan memiliki koneksi dengan mafia—yang mengisi kehidupan Tsuna sementara ia digembleng.

Muncul murid pindahan Gokudera Hayato yang ke mana-mana selalu membawa bahan peledak seperti dinamit dan bom. Sebagai seseorang dari keluarga cabang Vongola, pada awalnya ia mempertanyakan kecakapan Tsuna untuk menjadi kepala Vongola, tapi kemudian ia berubah menjadi teman Tsuna yang paling setia. Lalu muncul Lambo, seorang balita lain, yang memandang dirinya sebagai saingan Reborn dan selalu berusaha mengalahkan yang bersangkutan—meski kalah melulu (dia punya benda ajaib bernama Bazoka 10-Tahun yang bila ditembak dengannya, posisinya bakal bertukar dengan dirinya dari masa 10 tahun yang akan datang—yang punya tampang jauh lebih keren). Muncul Yamamoto Takeshi, maniak baseball ceria dan populer yang secara mengejutkan berhasil ditolong Tsuna pada saat dirinya cedera. Lalu hadir pula Sasagawa Ryohei, kapten klub tinju yang selalu bersemangat, ekstrim, dan siap mati (karenanya shinukidan tak mempan padanya…)—yang rupanya juga adalah kakak lelaki dari gadis manis populer yang diam-diam Tsuna sukai, Sasagawa Kyoko.

Jumlah karakter yang muncul di seri ini benar-benar luar biasa banyak. Aku belum nyebutin Miura Haru (gadis eksentrik yang karena berbagai keadaan kemudian suka Tsuna), Bianchi (saudari tiri Hayato yang naksir Reborn, ahli ‘memasak’ racun), I-Pin (balita berbakat lain yang diutus dari China untuk mengincar nyawa Reborn) atau bahkan Dino (kepala keluarga mafia Cavallone yang merupakan orang lain selain Tsuna yang pernah hidup dalam gemblengan Reborn). Tapi jika ada satu hal positif dari seri ini, itu adalah bagaimana Reborn memperlakukan tokoh-tokoh sampingannya yang teramat banyak. Sedikit banyak semuanya bakal berperan lagi dalam cerita ke depan. Lalu ada satu kasus yang benar-benar mengejutkan di mana ada seorang tokoh teramat sampingan di bab-bab awal secara sangat keren berubah menjadi seorang tokoh yang teramat penting menjelang pertengahan seri.

Badai, Hujan, Petir, Kabut, Awan, Mentari, dan Langit

Konflik perebutan kekuasaan dalam keluarga Vongola baru mulai terbangun mulai buku kedelapan. Di sini ceritanya mulai berbau kayak seri-seri shonen aksi dengan banyak adegan pertarungan.

Tsuna, dengan kawan-kawan baru yang telah Reborn kumpulkan untuknya, harus berhadapan dengan geng Kokuyo pimpinan Rokudo Mukuro, yang ternyata merupakan buronan mafia, dan hendak membalas dendam terhadap kekuasaan mafia melalui Tsuna.

Selamat dari Mukuro dan para kroninya, Tsuna kemudian ditantang oleh tim pembunuh khusus keluarga Vongola, Varia, pimpinan Xanxus, anak angkat pemimpin Vongola yang kesembilan, dalam memperebutkan siapa sesungguhnya yang paling layak menjabat sebagai kepala keluaga Vongola yang baru. Di sinilah kita kemudian diperkenalkan kepada Cincin-cincin Vongola, yang menjadi pusaka yang  kemudian akan dipegang oleh Tsuna dan para pengawal pilihannya.

Twist terbesar seri ini terjadi pada babak cerita berikutnya, saat sebuah sosok misterius secara diam-diam mengirimkan Tsuna dan kawan-kawannya ke masa mendatang dengan menggunakan Bazoka 10-Tahun kepunyaan Lambo. Rupanya sebuah bencana besar akan menimpa dunia sepuluh tahun mendatang akibat kudeta atas kekuasaan dunia mafia yang dilakukan oleh seseorang bernama Byakuran, yang memimpin keluarga mafia Millefiore. Kekuatan misterius yang Byakuran miliki, serta bagaimana dirinya mengincar ketujuh Cincin Vongola yang ternyata merupakan satu set dengan pusaka-pusaka Trinisete yang berasal dari awal peradaban dunia, menandai warna cerita yang menjadi gelap, sekaligus menjadikan babak ini bagian cerita Reborn! yang paling berkesan.

Sesudah kembali ke masa lalu dan memperoleh kehidupan damai mereka untuk sementara waktu, Tsuna dan kawan-kawannya terancam bahaya saat konflik dengan keluarga mafia Shimon, yang konon menaruh dendam masa lalu terhadap Vongola, mengacaukan jalannya upacara pengangkatan Tsuna sebagai kepala yang baru. Persahabatan Tsuna dengan kawan-kawannya yang baru kemudian diuji demi menemukan kebenaran akan masa lalu Vongola.

Barulah sesudah itu semua, Tsuna akhirnya akan mengetahui apa sesungguhnya Reborn dan para Arcobaleno—bayi-bayi lain seperti dirinya. Dalam pertandingan ini, Tsuna harus bertanding dengan orang-orang terdekat dengannya saat sosok misterius yang mengatur penciptaan para Arcobaleno akhirnya tampil kembali. Kemudian di ujung pertempuran, Tsuna dan kawan-kawannya mengetahui apa sesungguhnya Vindice, para pengawas dunia mafia yang selama ini mengamati jalannya pertarungan mereka…

7-7-3

Satu aspek menarik dari Reborn! adalah bagaimana gaya dan proses bertarung di tiap babak berbeda dari satu sama lain. Pada dasarnya, seluruh adegan pertarungan didasarkan pada kekuatan dying will flame yang menyala dari tubuhnya tiap kali Tsuna ditembak dengan shinukidan.  Api ini ada berbagai jenis, dan dari yang selalu ‘mengamuk’ setiap kali sesudah ditembak Reborn, Tsuna kemudian mulai bisa mengendalikan kadar api yang dilepasnya, membuatnya memasuki hyper mode, yang mana dari seorang yang payah dirinya menjelma menjadi karakter dingin yang beneran keren.

Selain Tsuna, teman-temannya pun menggunakan api ini. Dan adegan-adegan pertarungan di Reborn! memiliki keunikan khas karena semuanya didasarkan pada penggunaan api ini dengan berbagai cara melalui beragam peralatan yang ajaib.

Memasuki babak masa depan, diperkenalkan penggunaan senjata-senjata kotak, yang akan memunculkan binatang-binatang super dengan kekuatan api ini saat digabungkan dengan cincin. Pada babak konflik dengan keluarga Shimon, diperkenalkan cambio forma di mana para binatang kotak itu ‘menyatukan’ kekuatan dengan para penggunanya. Terasa bahwa para karakternya (yang jumlahnya banyak) seiring dengan waktu terus bertambah kuat. Tapi bagaimana setiap pertarungan jadi hanya bergantung pada semakin bertambahnya power level (seperti pada Dragon Ball) benar-benar tak begitu terasa.

Walau menjadi sarat aksi, Reborn! tak pernah sampai sepenuhnya kehilangan sisi komedinya. Dengan petualangan Tsuna dan kawan-kawan ke masa depan sebagai pengecualian, secara berkala masih kerap ada bab-bab lucu yang ditampilkan. Pada awalnya aku memang tak terlalu terkesan dengan semua komedi yang ditampilkan. Tapi aku mesti akui kalau makin ke belakang selera humor Amano-sensei benar-benar semakin bagus.

Sejujurnya, meski demikian, adegan-adegan tempur di Reborn! memang bisa agak berkepanjangan. Bukan membosankan sih. Cuma, satu hal seru langsung disusul dengan hal seru lain, sama sekali tanpa jeda istirahat. Tapi kecendrungan ini lumayan berkurang begitu memasuki bab-bab akhir.

Lalu mempertimbangkan jumlah karakter dan nada ceritanya, plotnya tak bisa benar-benar dikatakan ‘wah’ atau ‘keren’ sih. Seringkali perkembangan ceritanya memang tertebak. Tapi karena suatu hal, tetap saja perkembangannya menarik buat diikuti.

Lalu adegan-adegan aksinya itu murni keren. Entah pada kemampuan koreografi Amano-sensei atau pada cara beliau menggambar sorot mata para karakternya, saat lagi keren, Reborn! benar-benar bisa sekeren-kerennya sebuah shonen manga.

Aku juga pernah dengar komentar yang bilang kalau Reborn! bisa diumpamakan sebagai shonen manga yang lebih diperuntukkan bagi cewek, dengan banyaknya karakter cowok keren di dalamnya. Dan dalam beberapa hal, kurasa ini emang benar.  (Walau di konsepnya yang paling awal, kudengar kalau Amano-sensei membuat ceritanya lebih buat pembaca seinen.)

Eniwei, aku rada heran soal gimana seri ini masih belum dilisensi di Indonesia juga. Mungkin karena ide-ide soal mafia dan mesti ditembakinnya peluru ke kepala? (Aku ngerasa ide ini aja yang jadi alasan kenapa Reborn! dibikin lebih ke komedi di awal-awal sih.)

Akhir ceritanya bukan akhir yang ngasih kepuasan atau gimana. Tapi berhubung kita lama-lama emang ngerasa sayang ama para karakternya, titik-titik saat ceritanya beneran jadi bagus kerasa kayak ngelebihin bagian-bagiannya yang agak nyebelin. Enggak heran seri ini bisa terkenal.

EDIT

Seri ini akhirnya sudah dilisensi oleh mnc. Yay!


About this entry