Kizumonogatari – IND (END)

017

Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin.

Vampir yang legendaris.

Pemusnah kaii. Penguasa seluruh kaii.

Dirinya sesosok vampir.

Dengan rambut emas berkilau dan gaun musim panas yang cantik, vampir yang mempesona, sedemikian indahnya hingga darahmu sampai membeku—porsi eksposisi lebih dari ini kurasa tak diperlukan.

Cukup bila aku katakan—bahwa dirinya, yang padanya aku jadi bawahan, merupakan lawan terakhir yang harus kalahkan.

“Kiss-Shot…”

Aku singkirkan barikade yang telah kubuat dengan segenap tenagaku, dan kemudian aku membuka pintu baja dari gudang peralatan olahraga—di luar, mentari telah terbenam, dan di sanalah dirinya berada, di tengah lapangan olahraga.

Tanah di bawah kakinya telah retak.

Itu pasti dampak dari pendaratan yang ia lakukan.

Nyatanya, tubuhnya tenggelam sampai setumit ke dalam tanah lapangan.

Di punggung Kiss-Shot, sayap-sayap mirip sayap kelelawar itu tak ada—sebagai bawahannya, aku kemudian paham secara naluriah bahwa dirinya pastilah tiba dari reruntuhan gedung bimbel ke sini dengan satu lompatan jarak jauh tanpa lari pendahuluan.

Dirinya telah menanti sampai senja.

Dan kemudian dia… melompat ke tempat di mana aku berada.

Bagaimanapun, itu tetap saja menakjubkan. Walau untuk lompat jauh tanpa lari pendahuluan aku sempat bangga karena berhasil mencapai jarak 20 meter, Kiss-Shot dengan mudah mengungguliku dengan melompat sampai beberapa kilometer.

Tentu saja, pada waktu itu yang kupikirkan bukan soal mencetak rekor. Aku memang sepenuhnya hendak mendarat di tempat pasir, jadi aku tahu itu tak bisa digunakan sebagai perbandingan—tapi jika aku ditanya apa aku bisa melakukan sekali lompatan dari sini ke puing-puing bimbel, tak perlu dikata kalau aku sendiri bakalan ragu apa aku bisa.

Kututup pintu baja gudang alat olahraga dengan satu tangan ke belakang.

Aku tinggalkan Hanekawa di dalamnya.

Bagi Kiss-Shot, pintu tersebut bukan halangan yang sedikitpun akan menghambatnya—tapi bagaimanapun, dengan menutupnya, aku bisa merasa sedikit lebih tenang.

Jangan bersuara, demikian aku berbisik ke arah pintu.

Sesudahnya, aku mengambil satu langkah ke depan.

Menuju Kiss-Shot.

“… … … Yo.”

Sembari menyapanya dengan cara itu—aku semakin mendekat ke arahnya.

“Aku enggak menyangka kau yang bakal repot-repot mau datang kemari.”

Kupikir, itu tindakan awal paling tepat.

Sesuai dengan latar tempat dan waktu.

Tak seperti saat aku menghadapi Dramaturgie, Episode, dan Guillotine Cutter—tak ada Oshino di sini untuk melaksanakan perundingan.

Aku tak punya pilihan selain melakukan urusan negosiasi sendiri.

Tapi, kami berdua sama-sama vampir.

Penguasa dan pelayan—bawahannya.

Kenyataan bahwa dirinya muncul nyaris di waktu yang sama dengan senja bisa berarti bahwa semenjak Kiss-Shot memperoleh kembali wujudnya yang utuh, seluruh pergerakanku menjadi sesuatu yang terpantau dengan mudah olehnya.

Di mana aku berada.

Apa yang aku pikirkan.

Tak ada apapun lagi yang bisa kusembunyikan darinya.

Kiss-Shot menatap ke arahku dengan sorot mata yang lebih dingin dari biasanya—sebagai hal pertama yang dilakukannya, ia mengeluarkan kedua kakinya dari sepasang lubang yang dibuatnya di tanah lapangan. Kaki kanan terlebih dahulu, dan kemudian kaki kiri.

Sesudah itu…

“Sekali ini saja.”

Katanya.

“Pelayan. Saat mentari bersinar, beta pahami apa yang engkau rasakan—beta mengerti alasan kemarahan yang engkau tunjukkan. Beta menahan diri tidak tidur dan kemudian bercermin diri. Sepertinya beta telah bertingkah tanpa pertimbangan—beta sama sekali tak mempertimbangkan perasaan engkau sebagai bekas manusia. Dengan itu untuk sekali ini saja beta tundukkan kepala beta kepada engkau.”

“… … …”

“Kembalilah ke bawah beta.”

Kiss-Shot berkata.

Suaranya benar-benar teramat indah.

Suara yang mempesona—dia memikatku.

“Hiduplah bersama beta. Engkau selamatkan nyawa beta. Engkau orang yang tak biasa, tapi karena alasan ini beta rasa bisa hidup bersama engkau. Janganlah berubah kembali menjadi manusia—tidakkah engkau pernah berharap untuk menjalani keabadian bersama-sama?”

“… … Aku menolak.”

Kataku.

Aku balas menatap sorot mata Kiss-Shot yang dingin.

Aku perteguh tekadku—dan kemudian aku mengatakannya.

“Kau memakan manusia. Itu saja sudah cukup buatku.”

“Andai engkau sudah mengetahui hal itu—apakah engkau takkan selamatkan beta? Akankah engkau membiarkan beta tewas?”

“Kiss-Shot—aku sama sekali enggak tahu. Bukan…”

Aku menggeleng.

“Bukan itu. Aku tahu sejak awal—cuma aku menolak buat sadar. Aku ingin mati buatmu, kupikir—dengan kata lain, aku jadi seperti memberimu izin buat memakan seseorang. Tapi, aku tak menyangka sebagai akibatnya bakal ada orang-orang yang mati. Tindakanku mungkin mulia, tapi tindakanku bukan tindakan benar.”

Aku tak berkeberatan bila harus meninggal.

Tapi aku merasa buruk bila orang lain yang meninggal.

Kalau aku pikirkan lagi, cara pandang yang kupegang bisa jadi agak egois.

Kurasa tak mungkin ada orang normal yang bakal berpegang pada cara pandang macam begitu.

“… Sudah beta duga engkau akan berkata demikian.”

Kiss-Shot berkata dengan menampakkan senyuman.

“Beta justru berharap engkau akan berkata demikian.”

“Kiss-Shot…”

“Dengan begini, keraguan yang beta rasakan lenyaplah sudah—Pelayan. Walau beta sudah menduganya, sudah beta duga engkau manusia macam demikian.”

“Manusia macam apa?”

“Kebaikan yang engkau tunjukkan pada beta—hanya akan bertahan selama beta dalam kesulitan. Sudah beta duga.”

Beta sudah menduga engkau takkan tertarik lagi padaku begitu wujudku kembali seutuhnya.

Kata-kata Kiss-Shot itu bahkan lebih menyengat lagi.

“Engkau selamatkan beta bukan karena itu beta—engkau akan selamatkan siapapun asalkan siapapun itu berada dalam kesusahan.”

“… … …”

-Aku enggak berbuat sejauh ini buat semua orang kok.

-Aku berbuat semua ini karena ini kau, kau tahu?

Hanekawa dulu berkata begitu.

Tapi, aku sendiri, aku…

Seandainya yang harus kutolong bukan Kiss-Shot—maka pada waktu itu, aku…

“Maka, sudah beta rasa akhirnya akan begini. Di sisi lain, tahukah engkau, beta selamatkan engkau karena itu adalah engkau? Engkau telah mengorbankan nyawa yang engkau punya untuk beta, pasti akan beta sesalkan bila harus membunuh seseorang seberani engkau.”

“…Sesalkan ya.”

“Untuk segala kerja keras yang telah engkau lakukan untuk beta, sekali lagi, beta berterima kasih. Hei, mendekatlah, Pelayan. Dari raut wajahmu, nampaknya engkau sudah tahu, bukan? Persis sekali. Jika engkau membunuh beta—engkau akan akan bisa berubah kembali menjadi manusia, seperti yang engkau inginkan.”

“… … …”

Aku menelan ludahku.

Aku sekali lagi sadar kalau seluruh rencanaku telah terbaca—dan aku sadar seberapa besar beda kemampuan antara diriku dan dirinya.

Mencoba menghadapinya dengan cara seperti ini—rasanya berbeda.

Rasanya berbeda dibanding pola-pola situasi yang kutemui saat berhadapan dengan tiga orang itu—aku merasa seperti tertekan oleh rasa intimidasi yang kuat, dan sekaligus juga oleh perasaan yang memuncak.

Itu benar.

Perbedaan terbesarnya… adalah bagaimana pertarungan yang sebentar lagi akan kami lalui tak lain merupakan ‘pertarungan sampai mati.’

Pertarungan sampai mati kali ini bukan sesuatu yang terlarang.

Ditambah lagi—lawannya tak lain adalah sang Pemusnah Kaii.

“Jangan biarkan ini terlalu mengecewakan engkau, Pelayan.”

Kiss-Shot berkata.

Dirinya bahkan terlihat sedikit gembira.

“Beta berada pada kondisi terbaik beta semenjak 500 tahun terakhir—saat menghadapi tiga orang itu, bukan hanya kondisi buruk, beta juga lengah. Beta tak pernah menyangka jantung beta akan sampai tercuri, tapi… pada setingkat beta, memang jumlahnya tak pernah banyak…”

“…Banyak apa?”

“Kesempatan untuk bertarung serius.”

Berkata demikian—Kiss-Shot mengisyaratkan agar aku mendekat.

“Sebab terus terang, bahkan beta tak mempunyai bayangan akan seperti apa hasilnya nanti—namun berhubung engkau tanpa diragukan ialah yang terkuat di antara semua yang beta hadapi sejauh ini, tiada alasan bagi engkau untuk setengah-setengah. Pertarungan ini akan menjadi kenikmatan tersendiri bagi beta.”

“Mungkin sebaiknya kau tak terlalu banyak berharap.”

Aku mengumpulkan keberanianku dan langkah demi melangkah aku berjalan kepadanya.

Diriku dalam keadaan biasa pasti bakalan lebih memilih kabur—namun kali ini keadaannya berbeda. Di belakang punggungku, di dalam gudang peralatan olahraga, ada seorang sahabat yang teramat berarti bagiku. Di punggungku ada seseorang yang harus kulindungi—jadi aku tak bisa berbalik dan lari.

Aku harus menghadapinya.

Hanekawa, lihat saja aku.

Karena aku enggak boleh terlihat menyedihkan di hadapanmu.

“Gimanapun, aku memang bekas manusia—salah satu ‘bekas makanan’ buatmu.”

“…Santailah. Memang engkau akan beta bunuh dengan niat keji dan perasaan memusuhi, tapi walau demikian, akan beta beri syarat yang memperberat—apa lagi yang bocah itu bilang? Oh ya, pertarungan yang seimbang. Akan beta patuhi aturan itu.”

Jadi ini permainan.

Berkata demikian, Kiss-Shot melompat dengan ringan.

Saat berikutnya sesudah dirinya melompat, tiba-tiba saja ia telah berada di hadapanku—dalam posisi di mana kaki kami di depan satu sama lain saling bersilangan.

Dalam wujudnya yang utuh, tingginya melebihi badanku.

Dari sudut pandang itu, dirinya seakan tengah memandang rendah ke arahku.

“Takkan beta terbang ke udara. Takkan beta bersembunyi di balik bayangan. Takkan beta mewujud menjadi kabut. Takkan beta melebur menjadi kegelapan. Takkan beta melenyapkan diri. Takkan beta lakukan perubahan bentuk ke bentuk lain. Takkan beta gunakan kekuatan mata. Bahkan kekuatan penciptaan materi pun takkan beta pergunakan. Tak perlu dikata, beta juga takkan gunakan youtou Kokorowatari—pedang pemusnah kaii. Dengan kata lain, beta takkan mempergunakan kemampuan vampir aktif manapun—beta berjanji. Tentunya, engkau sendiri boleh menggunakannya—walau yang terbaik yang bisa engkau lakukan saat ini hanyalah mengubah bentuk ujung telapak tanganmu.”

“… … …”

Dan bahkan itu sesuatu yang bisa kulakukan cuma karena Hanekawa sedang disandera—sekarang sesudah aku merasa lebih dekat ke sisi manusiaku dibanding sebelumnya, tentunya akan lebih sulit bagiku untuk hanya sekedar merubah bentuk ujung jemariku.

Mungkin akan berbeda andaikata aku punya kekuatan spiritual Dramaturgie, atau mungkin sekedar lebih banyak pengalaman—tapi aku memang masih baru dalam hal ini, dan keduanya memang tak kupunya.

“Secara semestinya, sebagai tuanmu, beta sampai derajat tertentu mampu mengendalikan tindakan-tindakanmu, tapi… beta takkan lakukan hal itu. Beta berjanji untuk tak melakukan tindakan rendah seperti itu. Ini akan menjadi pertarungan yang sepenuhnya didasarkan pada keabadian—jadi pengalaman bertarung takkan dibutuhkan. Pertarungan sampai mati sambil berdiri pada jarak ini—dengan begini, maka ini akan jadi pertarungan seimbang antara engkau dan beta, bukan?”

“… … Kau membosankan.”

Aku berkata.

Dekat dengannya, aku melotot ke arah wajahnya.

“Jadi ini yang kau lakukan saat kau hendak serius. Atau mungkin itu berarti kau memang lengah? Iya, ‘kan?”

“Lengah? Sayangnya beta tak cukup bodoh untuk sampai lengah saat menghadapi bawahan beta sendiri—Tapi jika beta tak memberi kesempatan menang maka permainan ini takkan menarik, bukan? Beta akan serius. Akan tidak mengasyikkan bila pertarungan sampai ditinggalkan di tengah jalan.

Kemudian ia meratakan kedua telapak tangannya membentuk sikap memotong.

Dengan kedua belah tangannya yang kini bagaikan pedang—pada jarak teramat dekat ini, ia bersiap memulai pertarungan.

Aku meniru sikapnya.

Pada kasus ini, telapak tangan terbuka diratakan dalam bentuk potongan lebih baik dibandingkan kepalan.

Sebab dengan tenaga yang dimiliki vampir, baik kepalan maupun potongan memiliki rentang kekuatan yang sama. Dengan demikian, lebih baik menggunakan potongan ketimbang pukulan karena sifatnya yang lebih fleksibel.

“… … …”

Aku periksa sekelilingku.

Walau aku bilang matahari telah terbenam, malam masih belum terlampau larut. Walau mungkin tak ada orang lain di sekolah, tapi sejauh apapun sekolah ini dari bangunan-bangunan rumah yang lain, bisa jadi masih ada saksi mata di sekitar sini.

Kalau kami tak menuntaskan pertarungan ini secara cepat…

Namun, persis tatkala aku berpikir demikian…

“Engkau berani sekali untuk mengalihkan mata saat aku berada di depanmu, Pelayan.”

Kiss-Shot berkata.

“Tak usah engkau cemas. Tiga orang tersebut sudah tidak lagi ada di sini—sedangkan orang biasa tak sanggup mendekat padaku bila aku berada dalam kekuatan penuh. Andaikata ada seseorang yang melihat pun, baginya di akhir beta hanya akan terlihat sebatas rumor.”

“…Rumor ya.”

Gosip jalanan. Legenda urban. Informasi dari mulut ke mulut.

Menyebut rumor sebagai rumor—bicaralah tentang iblis maka iblis itu sendiri akan muncul.

“Walau—makanan jalan yang engkau tempatkan di pondok di belakang sana berbeda, bukan?”

“…Kiss-Shot, aku punya satu hal terakhir yang mau kutanyakan padamu.”

“Ooh. Boleh, kenang-kenangan untuk dunia berikutnya—akan beta jawab semuanya. Tanyakan saja.”

“Manusia bagimu itu apa?”

“Makanan.”

“Begitu.”

Itu jawaban yang teramat cepat.

Aku berhasil menyingkirkan sisa keraguanku yang terakhir.

“Aku ingin dengar kamu mengatakannya—aku ingin dengar itu dari mulut kamu sendiri!”

Kemudian aku bergerak—lalu Kiss-Shot juga bergerak.

“Akan kucabut nyawamu, Tuan!”

“Waktunya mati, Pelayan!”

Bahkan mungkin itu pun sebenarnya telah disengaja untuk menciptakan pertarungan seimbang—membuat seakan kami bergerak di waktu bersamaan, Kiss-Shot sebenarnya membiarkanku mengambil gerakan pertama.

Serangan memotongku mengenai wajah Kiss-Shot dalam sebuah ayunan horizontal—bagian atas kepalanya langsung terlepas, dan langsung terhempas ke belakang bersama gulungan rambutnya yang keemasan.

Lalu seakan dirinya sendiri menantinya, serangan memotong Kiss-Shot menghantam kepalaku. Walau itu gerakan memotong yang sama, tingkat kekuatannya berbeda—bila dibandingkan dengan tinju Dramaturgie yang sebelumnya kuterima, titik benturannya lebih kecil, tapi tenaganya jauh lebih terpusat.

Kepala kami berdua sama-sama terlempar ke udara.

Dalam situasi normal, ini saja pasti sudah menandai akhir.

Namun… aku maupun Kiss-Shot sama-sama bukanlah manusia.

Kami monster.

Sekalipun kepala kami terhempas, sekalipun otak kami sampai dilumatkan, tak peduli dengan batas waktu lima menit itu, gangguan terhadap kesadaran dan cakupan pandang kami hanya akan berlangsung selama sesaat—dan selanjutnya semuanya akan kembali seperti semula.

Tak ada satupun dari kami berdua yang telah terluka.

“Hyaha!”

Kiss-Shot… tertawa.

“Ha! Haha! Ahaha! Hahaha! Ahahahahaha!”

Seakan bergetar dirinya menghasilkan suatu irama tersendiri—dirinya tertawa dengan penuh kegembiraan.

“Hebat sekali—ini pastilah pertarungan maut terhebat antar sesama vampir manapun yang pernah ada! Lagi, lagi, lagi—Pelayan!”

“Diaaaam!”

Serangan-serangan tebasan kami berajutan dengan satu sama lain.

Tak terbatas pada kepala. Serangan-serangan kami juga menyasar ke badan serta tungkai.

Setiap tusukan dan potonganku menembus Kiss-Shot.

Setiap tusukan dan potongan Kiss-Shot menembusku.

Kami terus dengan brutal saling menembus dan melubangi satu sama lain.

“… …!”

Tentu saja, ini tak berarti sensasi kami terhadap rasa sakit sampai dimatikan.

Rasa sakit itu masih ada di sana.

Jika otak yang dihancurkan maka pikiran yang terhenti, jika paru-paru yang dihancurkan maka nafas yang terhenti, dan jika jantung dihancurkan maka aliran darah yang terhenti.

Walau aku berubah menjadi vampir…

…itu bukan berarti tubuhku secara fisik telah berubah.

Kemampuan pemulihan, kekuatan penyembuhan, keabadian.

Cuma itu saja yang pada akhirnya menonjol.

Tapi… itu semata sudah cukup.

“Woooooooooooh!”

“Haha! Berteriaklah lagi! Beta suka raungan-raungan jantan!”

Dengan dadanya, seperti yang sudah diduga, bergoyang dengan keras—walau serangan-serangan yang dilepasnya semakin ganas seiring dengan waktu—Kiss-Shot terbahak dalam tawa yang keras.

Bahkan Kiss-Shot pastinya juga merasakan sakit.

Sama sekali tak mungkin sensasinya terhadap rasa sakit hilang.

Namun tak ada satupun hal itu yang terpancar darinya, dirinya bahkan tak menggertakkan gigi atau menjerit seperti yang kulakukan.

Tak peduli di manapun ia dihancurkan…

Tak peduli itu otaknya, paru-parunya, atau jantungnya yang hancur, dirinya tetap tertawa keras seakan-akan tak peduli.

Dengan sorotan mata dingin, tapi dengan ekspresi senang.

Sebuah tawa yang bagaikan hantu.

“S… Siaaaal!”

“Hei hei, masih terlampau awal buat kata itu, Pelayan—seakan engkau getir akan sesuatu dalam kondisi-kondisi seimbang ini!”

Jadi dirinya memang telah terbiasa dengan rasa sakit… rupanya.

Rasa sakit yang dialaminya saat tubuhnya dicabik-cabik pastinya sebuah sensasi yang telah terbiasa dirasakannya semenjak zaman dahulu kala.

Jika begitu…

Selama 500 tahun ini…

Pertumpahan darah macam apa sebenarnya yang telah ia lalui?

Garis-garis batas antara kehidupan dan kematian macam apa saja yang telah ia lintasi?

Sebuah perbedaan antar pengalaman—ini perbedaan dalam pengalaman bertarung!

“OOOOOOH!”

Tapi!

Aku sedang menutupi perbedaan dalam hal pengalaman dengan tekad—dalam adegan satu ini!

“Ayo, ayo, berteriaklah! Perdengarkan aku teriakan perang!”

“Jangan sombong dulu, Kiss-Shot!”

“Jika beta pikir engkau yang terakhir memanggil beta demikian, beta akan menyesal untuk berpisah!”

Ini pertarungan yang tanpa arti.

Tak peduli berapa banyak darah tertumpah atau berapa banyak urat tertebar, segalanya langsung menghablur sebelum sempat menyentuh tanah, dan menghablur saat beregenerasi kembali.

Pada akhirnya, tak ada luka apapun yang ditimbulkan.

Aku bisa saja mati karena syok akibat rasa sakit—atau mungkin saja aku memang sudah mati akibat syok itu namun keabadian vampir menghidupkanku kembali.

Tapi… rasanya ganjil.

Kami berdua sama-sama abadi.

Tapi Kiss-Shot mempunyai daya serang yang lebih besar.

Sekedar ini saja masih belum aneh.

Namun, aku keheranan dengannya—jujur saja, aku tak merasa serangan-seranganku punya cukup kekuatan penghancur untuk menyakiti Kiss-Shot sampai sedemikian. Dalam hal itu saja, aku pikir aku pasti kalah jauh dibandingkan Kiss-Shot—tapi kenyataannya, setiap seranganku menghancurkan tubuhnya tanpa banyak reaksi kejutan.

Rasanya tak jauh berbeda dari melumat tahu.

“Hahahahaha! Haha! Ahahahahaha!”

Dengan pipi yang telah berlubang, dengan wajah tersenyum bagaikan kuchisake-onna… Kiss-Shot menjawab pertanyaanku.

Tuan dan bawahan.

Dirinya bisa melihat apa yang aku pikirkan…

“Terus terang saja, pelayan—daya pertahanan vampir sama sekali tidak tinggi! Tentu saja, tak bisa dibandingkan dengan kaum manusia yang para vampir makan, tapi… bagaikan berbanding terbalik dengan kekuatan serangnya yang luar biasa, daya pertahanannya rendah! Jika daya serangnya adalah 100, maka nilai maksimum daya pertahanannya akan antara 10 sampai 20 secara rata-rata! Pelayan, apa engkau paham mengapa bisa demikian?”

“… … …!”

Kiss-Shot memulihkan bahkan gaunnya—sebab gaun itupun tercipta melalui kehendaknya. Namun aku tak bisa melakukan hal yang sama—pakaianku hanya pakaian biasa.

Dari pinggang ke atas aku sudah nyaris tak mengenakan apa-apa.

“Karena keabadiannya itu setara dengan nilai daya pertahanan!”

“Tepat sekali!”

Kiss-Shot berkata.

“Jadi dalam pertarungan ini tak usah kau bertahan dari serangan-serangan beta—konsentrasi saja pada serangan-serangan milik engkau sendiri, dan hancurkan tubuh beta!”

“Apa kau masokis?!”

“Beta takkan menyangkal!”

Terkadang tebasan kami akan bertumbukan.

Saat itu terjadi, tangankulah yang kemudian hancur.

Dalam pertarungan ini tak ada kesempatan untuk tipuan remeh—dan pada sisi lain, tak ada kesempatan bahkan untuk serangan terencana juga.

Ini akan berlangsung sampai ada yang keabadiannya habis saja.

Atau pikiran salah satu dari kami runtuh.

Kupikir ini pertarungan semacam itu—tapi bukan juga.

Bukan, kebenarannya sama sekali berbeda.

Pertarungan tak berarti ini kemudian kusadari tak lain hanyalah perkelahian pendahuluan—bagi Kiss-Shot, ini tak berbeda dari sebuah permainan. Bagiku, ini bukan permainan, tapi sesuatu semacam babak persiapan dari sesuatu yang lebih besar.

Aku mengetahuinya.

Aku berhasil memikirkannya.

Dan… aku merasakannya.

Sebuah cara untuk membunuh Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Teknik yang bisa kugunakan untuk membasminya.

Kini sesudah aku saling bertatap muka dengannya…

…aku bisa memahaminya secara naluriah.

Aku tak tahu apakah itu naluriku sebagai manusia atau vampir, yang pasti aku merasakannya.

Kalau aku memikirkannya, hal ini kudengar dari Kiss-Shot sendiri—maka ide ini pasti sesuatu yang benar bisa kugunakan.

Apa yang harus kulakukan sudah jelas.

Namun… kesempatan buatku melakukannya tak ada.

Karena teknik yang akan kugunakan untuk membasmi Kiss-Shot adalah teknik yang sama dengan yang akan Kiss-Shot gunakan untuk membasmiku.

Untuk alasan tersebut, pertarungan ini hanyalah sebuah kegiatan pengisi waktu luang bagi dirinya.

Semacam permainan.

Tentunya… Kiss-Shot sanggup membunuhku kapan saja. Tentu saja, sikapnya yang sekarang bukan karena dirinya lengah—melainkan karena dirinya ingin menikmati kesempatan menggunakan kekuatan penuhnya sedikit lebih lama.

Karena itu… jika Kiss-Shot menunjukkan celah…

Sembari menunggu celah itu… aku akan harus terus melanjutkan pertukaran serangan antara kami.

Aku masih harus terus melanjutkan pertandingan kematian dan penghidupan kembali yang tak berarti ini.

“Haha, aku suka ini, Pelayan! Kekuatan tekad yang engkau punyai boleh juga! Walau engkau memiliki kekuatan sebagai bawahanku, biasanya vampir baru takkan mempertaruhkan hidupnya sampai sejauh ini!”

“Ini semua karena pengaturan ini! Baguslah kalau kamu suka!”

“Justru karenanya maka ini sayang! Engkau bisa saja menjadi sebuah legenda seperti halnya beta!”

“Legenda? Yang benar saja—ngebayangin ada orang asing tahu namaku saja sudah bikin aku merinding!”

“Beta merasa persis seperti itu!”

Percakapan di tengah pertarungan maut.

Percakapan sembari kami mencacah satu sama lain.

Kemarin… perbincangan yang kami lalui di atas puing-puing gedung bimbel sama sekali berbeda. Perbincangan yang kali ini kasar, tak tentu, dan murni spontan.

Aku tak punya kendali diri untuk tertawa.

Kiss-Shot tertawa, tapi wajahnya sama sekali berbeda dari wajah tersenyumnya semalam; aku tak bisa merasakan adanya keakraban sama sekali.

Bahkan saat kami saling terhantam ke belakang…

Kedua kaki kami tetap berpijak dengan diam.

Ini adalah neraka regenerasi.

Walau tubuh ini diremukkan hingga serpihan-serpihan kecil, dengan tiupan angin segala kerusakan akan terpulihkan dan semuanya akan kembali lagi seperti semula, untuk kemudian diremukkan lagi, dipulihkan lagi, lagi dan lagi sampai tubuh ini diremukkan ke serpihan yang lebih kecil lagi, dan akan terus diremukkan sampai selamanya—neraka yang macam itu.

Ini salah satu dari Delapan Neraka Besar.

Maka tanpa diragukan ini, di sini dan sekarang—adalah neraka.

“Omong-omong, biar beta beritahukan satu hal—Pelayan! Walau mungkin ini tiada artinya berhubung kita akan berpisah di sini…!”

“Ya?!”

“Dramaturgie, Episode, Guillotine Cutter pastinya, dan semua spesialis pembasmian vampir yang hingga sekarang mencoba membunuh beta—bahkan bocah dengan kemeja menyolok itu juga tak tahu, tapi sebenarnya beta dulunya manusia!”

Kiss-Shot… berkata sembari tertawa.

Dia mengatakannya saat lehernya melakukan pemulihan dari torehan tebasan.

“Seorang bekas manusia—dengan kata lain beta sama dengan Dramaturgie dan engkau!”

“A-Ah? Jadi kau bukan vampir asli?!”

Aku sempat diyakinkan dengan hal ini.

Tapi setelah memikirkannya lagi—tak sekalipun Kiss-Shot pernah menyatakan hal tersebut.

“Beta telah melupakan masa tatkala beta masih manusia—beta rasa telah dilahirkan dalam keluarga baik! Bangsawankah? Gaun ini nampaknya adalah peninggalan dari zaman itu… ha! Yah, untuk vampir di atas usia 300 tahun, sudah tak ada lagi bedanya antara vampir asli maupun bawahan!”

“Hei—maksudmu apa?”

“Tidak, beta hanya melupakannya setelah sekian lama—beta mengingatnya kembali setelah obrolan dengan engkau! Bahkan beta pun di awal sempat ragu memakan manusia!”

“Jadi!”

“Engkau pun!”

Kiss-Shot untuk sesaat menghentikan rangkaian serangannya.

Lalu berkata.

“Jika engkau memakan manusia satu saja—maka engkau takkan lagi merasakannya sebagai sebuah dosa!”

“… … …”

Aku menghentikan seranganku, menyamainya.

Seluruh luka yang kami derita langsung terpulihkan seutuhnya dalam sekejap mata.

“Bahkan Dramaturgie, meskipun dahulunya manusia… terlebih selaku pembasmi vampir—memangsa manusia pula. Tahukah engkau akan hal ini? Walau yang dimakannya hanya pelanggar kelas berat yang disediakan oleh aliran kepercayaan Guillotine Cutter.”

“Tetap salah jika mereka dimakan hanya karena mereka kriminal… apalagi kalau mereka diadili berdasarkan aliran kepercayaan Guillotine Cutter.”

“Benar. Namun kriteria soal apa yang boleh atau tidak dimakan tidak terbatas pada manusia. Seseorang tiada boleh memakan daging sapi, tiada boleh memakan daging babi, tiada boleh memakan daging paus, tiada boleh memakan daging anjing—ini bukan sekedar mengenai Guillotine Cutter semata, bahkan di antara sesama manusia terdapat perbedaan dari segi budaya. Apalagi beta sebagai vampir Pemusnah Kaii. Dalam sebulan beta diharuskan untuk memangsa satu manusia—dalam setahun paling banyak 12 manusia. Bahkan bila menghitung dalam rentang 500 tahun, maka jumlahnya hanya 6000 insan. Mengacu pada sejarah, seberapa besarkah angka tersebut? Seberapa banyak manusia yang telah manusia sendiri bunuh sampai sekarang ini?”

“… … Itu cuma sofisme.”

“Beta sama sekali bukanlah ancaman terhadap keberadaan dunia. Pengaruh yang beta punyai terhadap dunia justru teramat kecil. Dan engkau berkata bahwa beta harus mati semata karena manusia yang beta makan?”

Kiss-Shot berkata.

“Adalah nafsu manusia yang justru merupakan keserakahan yang terbesar.”

Jika aku tak makan, maka aku akan mati.

Bukan hanya vampir, bahkan manusia pun seperti itu.

Bukan hanya manusia, bahkan hewan pun seperti itu.

Bahkan tumbuh-tumbuhan yang kerap kukhayalkan bisa menjadi—juga seperti itu.

Selama kesemuanya bukan zat anorganik…

Selama kesemuanya bukan bebatuan atau logam…

…Maka pada suatu titik, akan ada kehidupan yang harus dikorbankan.

“Bukan itu masalahnya, Kiss-Shot.”

Aku berkata.

“Seperti yang kau bilang. Yang kukatakan adalah—matilah karena kau memakan manusia.”

“… … …”

Kiss-Shot menanggapinya dengan ooh.

Dan—dirinya perlahan menyipitkan sorot matanya yang dingin.

“Kiss-Shot, aku manusia.”

“Begitu rupanya. Beta sendiri adalah vampir.”

Dan pertarungan pun dimulai kembali—atau seharusnya begitu.

Pertarungan maut dan penghidupan kembali yang seharusnya kembali berlangsung—namun pada saat tersebut…

Dari punggungku…

Dari belakang…

“Tolong tunggu sebentar!”

Ada suara bergema.

Bergema di lapangan olahraga SMA Naoetsu.

Itu jelas suara Hanekawa—sesudah aku mengatakannya, kurasa sebelumnya sempat ada bunyi pintu besi gudang peralatan olahraga saat dibuka.

“A-Araragi, ada sesuatu yang aneh!”

Mendengar itu dari Hanekawa di belakangku, kupikir justru kau yang aneh di sini.

Kenapa kau keluar dari gudang di saat seperti ini? Apa kamu enggak kenal takut? Bahkan aku yang punya tubuh abadi bisa paham alasannya, dengan berdiri di depan Kiss-Shot seperti ini saja takkan aneh jika jantungmu sampai meletus—bukannya aku bilang Kiss-Shot punya kekuatan mata yang bisa menghancurkan beton hanya dengan dipandang saja?

Kalau begitu—kenapa kamu menampakkan diri?!

“Hanekawa! Sembunyi!”

Mengetahui resikonya, aku menoleh ke belakang.

“Jangan—Lari! Lariii! Jangan diam saja! Pergi sejauh mungkin!”

“I-Ini bukan seperti yang kau pikir, Araragi…”

Hanekawa… terlihat terganggu.

Bahkan saat aku menyakitinya, bahkan saat Episode melukai punggungnya, bahkan saat Guillotine Cutter menyanderanya, Hanekawa yang tetap menampakkan ketenangan dalam segala situasi—kali ini tampak terguncang.

“Araragi, ada sesuatu yang aneh dari tadi. M-Mungkin ada satu hal penting yang luput kita sadari…”

Luput kita sadari?

Masih… ada sesuatu yang belum kita pahami?

Tak mungkin, tak mungkin ada.

Tak ada satupun hal yang belum…

“Engkau… berisik!”

Kiss-Shot berteriak.

Bahkan Kiss-Shot pun terguncang.

Itu jelas sebuah reaksi yang tak kusangka.

Walau aku baru sekali melihat Kiss-Shot dalam keadaan emosi—saat aku masih manusia, dan untuk sesaat aku hendak menelantarkannya.

Aku membuat keputusan yang tepat.

Dirinya… terguncang.

Dirinya menangis, memohon, meminta maaf…

“Jangan bersikap seolah engkau tahu semuanya, dasar makanan jalan!”

Kiss-Shot melotot.

Lalu dengan hanya itu saja…

Pintu besi dari gudang alat olahraga di belakang Hanekawa diterbangkan ke udara.

Kekuatan mata.

Tak seperti waktu aku menendangnya hingga terbuka, kini sudah tak lagi mungkin untuk memperbaikinya. Pintu besi gudang peralatan olahraga mengkerut seperti saat kau meremas aluminium foil, dan kemudian ditembakkan hingga ke dalam gudang.

Bahkan tanah di sekeliling Hanekawa langsung seketika retak.

Apa yang ada di sekitar dan di belakang Hanekawa… baru saja terhapuskan.

Hanya dengan dilihat.

Yang dilakukannya hanya melihat.

Sang vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin—sang Pemusnah Fenomena Ganjil!

“…Ah.”

Tentu saja bahkan Hanekawa untuk sesaat menelan kembali kata-katanya.

Tapi aku melihatnya.

Aku… terlanjur melihatnya.

Aku tahu bahayanya.

Hanekawa Tsubasa.

Aku tahu dirinya takkan berhenti kalau hanya dari itu.

Dirinya dengan teguh, kuat; balas melotot ke arah Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

“Heart-Under-Blade, mungkinkah kau…”

“Dasar manusia! Jangan ikut campur!”

Sekali lagi Kiss-Shot memandang Hanekawa.

Memandang saja.

Kekuatan mata—kekuatan mata seorang vampir. Namun!

–Ada celah!

Berhubung hanya pertarungan maut yang tanpa arti, pada mulanya Kiss-Shot tak menghadirkannya—tapi sekarang di titik ini dia memunculkan celah!

Tentu saja, tak seperti aku, bahkan saat berhadapan denganku Kiss-Shot juga memiliki peluang untuk melihat ke arah lain—namun sekarang berbeda.

Sekarang berbeda.

Dirinya terguncang—dan tengah menatap ke Hanekawa.

Dia penuh celah.

“…Kiss-Shot!”

Aku meneriakkan namanya…

Aku melentingkan diriku di antara dirinya dan Hanekawa.

Aku menerima serangan kekuatan matanya secara penuh.

Lalu saat sekujur tubuhku terhempas ke belakang…

Aku…

…menggigit…

…pangkal lehernya.

Aku menggigit… dengan sepasang gigi yang dipanjangkan—dengan taring.

“… … …!”

Inilah teknik untuk membasmi Kiss-Shot.

Inilah teknik untuk membasmi vampir.

Inilah teknik yang digunakan seorang vampir untuk membasmi vampir lainnya—

Kalau kau memikirkannya, ini memang teramat sederhana dan jelas.

Naluri mengajarkannya padaku.

Tak jelas apakah itu naluriku sebagai manusia atau vampir—namun…

Kiss-Shot mengatainya di awal.

Sebelum menghadapi Dramaturgie, aku menerima dari Kiss-Shot sebuah masukan yang tak bisa dikatakan sebuah masukan…

–Setidaknya…

–Pastikan agar orang itu tak sampai menghisap darahmu.

Jika ada vampir yang darahnya sampai dihisap vampir lain…

…maka keberadaannya akan lenyap.

Pada waktu itu aku sama sekali tak memiliki dorongan untuk menghisap darah—tapi sekarang berbeda.

Kini aku… lapar.

Ciprat.

Aku menghisap darahnya.

Aku menusukkan sepasang taringku ke kulit putihnya yang lembut.

Cara untuk menghisap darah—aku memahaminya tanpa ada seorangpun yang mengajarkannya padaku.

Tak diragukan, ini tak jauh berbeda dibanding saat orang-orang memakan hidangan.

“Guh…”

Kiss-Shot mengerang.

Bahkan jika darah yang tertumpah beregenerasi—darah yang dihhisap takkan bisa kembali.

Karena penyerapan energi ini.

Hanya bekerja untuk kaii melawan kaii lain.

Karena mereka tak dihitung bahkan sebagai hidangan.

Walau mereka tak lebih dari hidangan, mereka bahkan juga bukan hidangan.

Ini tak lain hanyalah… pemusnahan kaii/fenomena ganjil.

Aku membuat perisai menggunakan tubuhku untuk melawan kekuatan matanya—seharusnya dampaknya tak sampai mengenai Hanekawa. Jika aku terus menghisap Kiss-Shot seperti ini—jika aku sampai berhasil mengeringkan setiap tetes darahnya keluar, seperti yang Kiss-Shot lakukan padaku pada hari itu…

“Ha.”

Kiss-Shot…

…sementara terjengkang ke belakang—bertumpu padaku dari atas—namun…

Dirinya masih tetap tertawa.

“Haha! Hahaha! Hahahaha! Ahahaha! Hahahahahaha! Haha! Hahahaha! Ha! Hahahahaha! Hahah! Ahahaha! Ahahahahahahahahahaha-!”

Jadi dirinya akan meninggal dengan cara tertawa ya.

Itu pun boleh juga.

Darahnya…

Darah Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade… memiliki kelezatan yang tiada bandingannya.

Tak peduli berapa jumlahnya… aku merasa bisa meminumnya untuk selamanya.

Aku berharap untuk bisa meminumnya untuk selamanya.

Senikmat itu rasanya.

Kiss-Shot.

Dengan begini, tanpa sedikitpun rasa kepuasan, atau perasaan pencapaian apapun, aku akan membasmimu di sini sekarang juga—

Kau akan kubunuh.

Nyawa yang telah kuselamatkan—akan aku bunuh.

Karena itu tanggung jawabku—sekalipun aku berubah kembali menjadi manusia berkat kematianmu, aku takkan merasakan sedikitpun rasa kepuasan atau pencapaian apapun juga—maka itu lebih dari sekedar sebuah konsekuensi belaka!

“…Eh?”

Lalu tiba-tiba.

Tiba-tiba saja, mendadak, aku berpikir ulang.

Sesuatu yang luput kusadari?

Apa sebenarnya yang tengah gagal kusadari?

Aku tengah gagal menyadari hal sedemikian penting yang membuat Hanekawa sampai belari keluar gudang peralatan olahraga—kira-kira apa hal tersebut?

Dan kenapa pula Kiss-Shot sampai terguncang? Kenapa pula dirinya begitu marah oleh omong kosong dari dia yang disebutnya ‘makanan jalan’?

Dirinya memiliki kendali diri begitu besar sebelumnya.

Di samping itu, aku mendengarnya.

–“Jangan bersikap seolah engkau tahu semuanya…”

–“Dasar bocah.”

Benar juga.

Kalimat itu pernah dikatakannya ke Oshino—tapi soal apa lagi?

Aku ingat.

—“Aku punya minat terhadapmu, Heart-Under-Blade… “

–“Araragi, yang menjadi bawahanmu… “

–“rela kau bantu demi bisa berubah kembali jadi manusia.”

“…!”

Aku…

…langsung mendorong jatuh Kiss-Shot, dan berakhir di atasnya—dan tanpa berpikir, secara refleks aku langsung berdiri. Secara alami, aku menarik keluar taringku dari lehernya… dan kemudian…

Aku menatap ekspresi wajahnya.

Aku melihatnya.

Sorot mata Kiss-Shot yang dingin, sementara tetap dingin berubah menjadi hampa, pupil matanya seakan berkabut… dan bahkan bibirnya berkerut.

“Ada apa… Pelayan?” Kiss-Shot berkata. “Beta masih punya… separuh darah beta yang masih tersisa.”

“… … … …”

“Kini sesudah engkau menghisap begitu banyak darah dari beta, beta tidak lagi sanggup bergerak. Namun jika engkau tak bergegas, beta akan segera pulih, engkau tahu?”

Keadaannya persis seperti yang dikatakannya.

Kini dirinya tak mampu bergerak, tapi kelak bisa segera pulih, persis seperti yang dikatakannya.

Tapi… lebih penting lagi.

Aku ada sesuatu yang perlu kutanyakan padanya.

Walau pertanyaan terakhir yang ingin kutanyakan sesuatu yang harusnya sudah kutanyakan—masih ada sesuatu yang tetap harus kutanyakan.

Itu…

Kemungkinannya, itu juga bukan sesuatu yang semestinya kutanyakan sih.

“H-Hei… Kiss-Shot…”

“Ada apa?”

“Dengan cara apa…

…kau sebelumnya berencana…

…mengubahku kembali menjadi manusia?”

Kiss-Shot dengan kasar menanggapi pertanyaanku dengan decakan di mulut.

“Peduli apa engkau akan hal tersebut sekarang?”

“Aku peduli. Buatku ini penting.”

“Makanan jalan itu. Seharusnya sejak awal dia diam saja.”

Kiss-Shot mengutuk Hanekawa.

Dan kemudian ia menutup mulut.

Lalu Hanekawa yang dikutuknya itu… dengan langkah lamban, berjalan ke arahku dan Kiss-Shot. Walaupun dirinya telah mengenakan sweater seragam dan syalnya kembali, menilai dari guncangan dada yang seakan memiliki efek suara boingboing di latar belakang, tampaknya ia tak memiliki cukup waktu untuk mengenakan bra-nya kembali.

Tanpa terganggu, Hanekawa mendekat.

Kemudian ia berbicara.

“Heart-Under-Blade.” Dirinya berucap dengan nada penghormatan. “Apa semenjak awal kau telah berencana untuk wafat di tangan Araragi?”

“… … …”

“Agar dirinya bisa diubah kembali menjadi manusia?”

Aku gagal menyadarinya.

Andai ini tak terjadi—misalnya, andai aku tak menjadi saksi saat Kiss-Shot menyantap Guilloltine Cutter…

Dengan cara apa dirinya berencana mengubahku kembali menjadi manusia? Di samping metode yang telah Hanekawa teliti tersebut, metode apa lagi yang bisa dipakai?

Aku bahkan sama sekali tak memikirkannya.

Aku sepenuhnya… gagal menyadarinya.

Dan…

“Jangan omong kosong, makanan jalan—seakan buktinya ada saja.”

“Kalau begitu, tolong beritahu bagaimana kau berencana untuk mengubah Araragi kembali menjadi manusia. Aku telah menelitinya, dan untuk cara untuk mengubah seorang vampir kembali menjadi manusia, aku tak menemukan adanya cara lain.”

Tak ada lagi.

Tak ada lagi pilihan selain membunuh sang tuan.

Tak ada lagi pilihan selain memutus hubungan tuan dan bawahan.

“Hah! Itu memang fakta yang telah diketahui—hanya saja semenjak awal beta tak pernah berniat mengubah pelayan ini kembali menjadi manusia. Beta membohonginya agar ia kumpulkan kembali tungkai-tungkaiku yang hilang. Akan beta beri kebohongan macam apapun demi memperoleh kembali wujud beta yang utuh—untuk alasan itu beta mengubahnya menjadi bawahanku. Jujur saja, semuanya sepenuhnya dilakukan karena keadaan.”

“Bukan. Kau membuatnya mengumpulkan bagian-bagian tubuhmu yang hilang karena jika ia membunuhmu dalam wujudmu yang tak sempurna, dirinya juga tak akan kembali menjadi manusia, bukan? Jika kau tak dibunuh dalam wujudmu yang utuh, maka tak akan ada artinya…”

Waktu itu…

Kiss-Shot begitu bergembira bukan karena telah memperoleh wujud utuhnya kembali—namun karena dirinya telah memenuhi prasyarat untuk mengubahku menjadi manusia kembali—jadi?

“Sampah. Itu sama sekali tak benar.”

“Lalu… kalau begitu kenapa kau kemari?”

Hanekawa berbicara dengan Kiss-Shot dengan ketenangan mutlak.

Sang pemangsa dan mangsa.

Terlepas dari keberadaan satunya yang lebih tinggi dan satunya yang lebih rendah, mereka berbicara secara normal.

“Araragi mempunyai alasan untuk melawanmu. Tapi sebaliknya, kau tak punya. Kau menutup-nutupinya dengan alasan-alasan seperti untuk memamerkan kekuatan penuhmu dan hal-hal lain sepertinya—tapi kenyataannya kau datang kemari hanya agar bisa terbunuh oleh Araragi, bukan? Hanya itu alasannya, bukan? Dengan membuat pertarungannya menjadi pertarungan yang adil… dengan sengaja Araragi kau panas-panasi.”

“Ha, Hanekawa…”

“Araragi, diamlah.”

Hanekawa dengan tegas memerintahku.

Kemudian ia meneruskan perkataannya.

“Tentunya, tak ada landasan atau bukti apapun soal ini. Aku cuma tak bisa tak merasa ada sesuatu yang aneh dari beberapa waktu lalu…

…karena kau tak membunuhku yang menganggu pertarunganmu…

…aku mengerti. Kau…”

Walau Kiss-Shot meledakkan sekeliling Hanekawa dengan kekuatan mata vampirnya, Hanekawa sendiri dibiarkan tak terluka.

Walau Episode dengan tanpa ampun melontarkan salibnya ke Hanekawa yang dengan cara serupa ikut campur dalam pertarungannya—Kiss-Shot, yang memandang Hanekawa sebatas sebagai semacam makanan bekal, sama sekali tak menyerangnya.

Dia hanya mengancamnya.

“Kau sudah berencana untuk mati.”

“…Semestinya engkau tak berkata apa-apa.”

Kiss-Shot…

…mengulang kata-kata yang sama seperti sebelumnya.

“Lalu sesudah mengatakannya, apa yang engkau rencanakan? Sesudah mengatakannya, engkau pikir bawahanku akan jadi sanggup membunuhku?”

“Eh?”

“Sebagai penguasa, beta memahami sepenuhnya pelayanku—dia seorang tolol yang akan menolong vampir sekarat. Andai ia tahu apa yang si bocah sebut sebagai ‘keinginanku’, apa menurutmu dia masih akan sanggup menghisap darahku?”

“I-Iya… tapi…”

Hanekawa kehilangan kata-kata.

Kiss-Shot dengan dingin memandang ke arahnya.

Dengan sorot mata kosong—dia memandang Hanekawa dengan dingin.

“Beta pikir yang tersulit… ialah bagaimana membuatnya mau membunuhku. Itulah yang beta rasa paling mengganggu. Karenanya, beta tak menyinggung soal bagaimana caranya sampai saat terakhir. Beta pikir tiada pilihan lain yang beta punya selain membohonginya… Namun walau tak disangka, berkat Guillotine Cutter, apa yang beta perlukan secara kebetulan terpenuhi. Jika ia bisa sedemikian marahnya hanya akibat beta makan satu orang, maka tiada alasan bagi beta untuk merasa khawatir tentangnya.”

Itu, katanya.

Kiss-Shot, dengan matanya itu memandang ke arahku.

“…Beta bisa terbunuh oleh engkau asalkan berperan sebagai musuh, sang tokoh jahat. Tiada alasan bagimu untuk mengetahui maksud beta.”

“Kenapa…”

Aku bergumam.

Aku kebingungan… yah, tapi…

Itu sebuah fakta yang dengan penjelasan itu semuanya akhirnya cocok.

“Kenapa… kau sampai berbuat seperti itu…”

“Pelayan.” Kiss-Shot berkata. “Beta tengah mencari tempat untuk wafat.”

“Tempat untuk wafat…”

Alasan kematian 90% vampir pada setiap waktu.

Bunuh diri.

Kebosanan… membunuh sang vampir.

Kebosanan… yang teramat luar biasa.

“Itulah alasan mengapa beta datang ke negara ini. Semenjak bawahan pertama beta meninggal, tak pernah beta kembali ke tempat ini lagi. Alasannya juga bukan buat berjalan-jalan.”

“T-Tapi kau…”

Tak mau mati.

Itu yang dikatakannya… sembari menangis.

Jantungnya telah dicuri. Tungkai-tungkainya telah direnggut.

Dirinya meski nyaris berhasil lolos hidup-hidup.

“Beta pikir sudah waktunya beta mati. Itulah rencana beta.”

Namun, Kiss-Shot juga berkata.

“Namun di akhir, beta merasa takut untuk mati.”

“… … …”

“Beta takut untuk lenyap sesudah hidup sepanjang 500 tahun. Beta takut, takut untuk menghilang. Beta tak tahu harus bagaimana. Lalu engkau melintas di waktu itu. Beta memohon engkau untuk menolong beta.”

“Aku… menolongmu.”

Hal gilanya adalah kenyataan bahwa aku sama sekali tak berpikir apa-apa.

Aku tak memikirkan apa-apa tentang konsekuensinya ataupun masa depan.

Alasannya cuma…

…Aku tak ingin melihat… wajahnya yang berurai air mata…

Aku tak tahan melihatnya.

“Untuk kali pertama dalam hidup beta, beta ditolong oleh orang lain.”

“… … …”

“Baik mereka manusia ataupun vampir, tiada ada yang pernah menolong beta. Saat menghisap darahmu, beta bertanya pada diri sendiri tentang apa sebenarnya yang tengah beta lakukan. Karenanya—walau beta meminum darahmu, beta tak sanggup memakan lebih jauh lagi. Kemudian engkau kujadikan bawahanku. Bawahan kedua yang pernah beta punyai seumur hidupku.”

Karena engkau tak kunjung juga membuka mata, beta pikir engkau akan kehilangan kendali atas diri sendiri—Kiss-Shot berkata.

Dengan pengawasan berlanjut di sepanjang waktu.

Dia merawatku.

“Namun, entah bagaimana, akhirnya engkau membuka mata. Beta pikir, andai engkau memang berkeinginan menjadi vampir, maka itupun tak apa—tapi engkau, seperti yang telah beta kira, berkeinginan untuk kembali menjadi manusia. Sementara engkau tak sadarkan diri, beta dengan muram terus memikirkannya. Pada saat itulah, beta memutuskan.”

Kiss-Shot berkata, dengan nada pasrah, namun suara kuat…

“Beta akan mati untukmu.”

“…Untukku…”

“Engkau akan membunuhku, engkau akan kembali menjadi manusia, dan kali ini, beta akan wafat. Beta rasa telah akhirnya menemukan tempat untuk wafat. Tempat yang telah beta cari semenjak 400 tahun sebelumnya.”

“400 tahun sebelumnya…”

Itu… bawahannya yang pertama.

Kiss-Shot berkata.

Soal mengubahnya kembali menjadi manusia.

–di masa itu, masih tak mungkin bagiku untuk mengubah seseorang kembali menjadi manusia—

tapi kali ini, jika bisa, beta hendak belajar dari pengalaman tersebut.

“Beta tak sanggup meninggal dunia untuknya. Beta tak sanggup menawarkan padanya kematianku sendiri. Beta tak dapat mengembalikannya menjadi manusia. Karenanya…”

“Untukku.”

Demi mengubahku kembali menjadi manusia.

Demi menolongku.

Dirinya hendak mengorbankan nyawanya.

“Jadi, jangan congkak, Pelayan. Semenjak awal ini memang adalah tanggung jawabku. Andai beta tak bersikap sedemikian tak patutnya maka seluruh kejadian ini mungkin takkan terjadi, dan jika engkau tak menyelamatkan beta, waktu itu pastilah beta telah mati.”

“… … …!”

Eh?

Itu… tunggu sebentar.

Apa-apaan situasi ini—tak mungkin.

Pada titik ini—soal mentalku…

Aku bisa atasi soal mentalku—

Walau aku baru mengatakannya beberapa saat lalu!

“…Kenapa? Apa engkau menangis?”

“Ah….”

Sekarang sesudah aku menyadarinya—kedua pipiku basah.

Kenapa?

Karena walau memang itu kenyataannya—itu tak berarti apa yang harus kulakukan jadi berubah ‘kan?

Walau dirinya berkeinginan untuk mati untukku…

…Bukankah ada orang yang pernah dimakan olehnya?

“Engkau sungguh cengeng, pelayanku. Menyedihkan sekali.”

“Bu-Bukaan. Ini bukan tangisan. Ini.”

Ini, menurutku.

“Ini… darah.”

“Ooh.”

“Darah yang mengalir…”

Bagaimana keadaan bisa menjadi begini?

Kiss-Shot adalah vampir.

Dirinya memakan Guillotine Cutter.

Dirinya telah memakan 6000 orang sejauh ini.

Tapi…

“…Bahkan darahmu juga mengalir…!”

Kita sama-sama hidup.

Karenanya jadi sama saja.

Apa yang aku lakukan.

Apa yang telah coba dilakukannya.

Apa yang aku mencoba lakukan.

Bukankah semuanya sebenarnya persis sama…?!

“Sungguh, ikut campurmu tak diperlukan, makanan jalan.” Kiss-Shot berkata. “Dan beta telah berencana untuk terbunuh begitu menunjukkan celah di saat tepat—tapi sudahlah. Pelayan, kini yang harus engkau lakukan hanyalah membunuhku.”

“I-Itu…”

Soal mental…

Soal mentalku…

“Jika engkau urung membunuh beta, maka mulai esok beta akan memakan 1000 orang per hari. …Jika beta berkata begitu, maka engkau tak mempunyai pilihan lain selain membunuh beta, bukan? Sebagai bukti bahwa ini bukan hanya gertakan, akan beta mulai dengan memangsa makanan jalan itu, akankah engkau setuju?”

“.. … … …”

“Lebih baik bila engkau sendiri yang memetik nyawa yang telah engkau selamatkan. Ini yang namanya.. tanggung jawab, bukan?”

“Kiss-Shot…”

“Engkau adalah orang kedua yang memanggil beta dengan nama itu. Dan engkau juga akan menjadi yang terakhir.”

Aku memandang Hanekawa untuk memohon pertolongan.

Hanekawa… hanya menggigit bagian bawah bibirnya, sayangnya, dan terlebih lagi juga tak mengatakan apa-apa. Seakan mengisyaratkan besarnya keputusasaan dari situasi saat ini.

Bahkan Hanekawa pun tak tahu harus melakukan apa.

Ya.

Kenyataannya persis seperti yang Kiss-Shot bilang.

jika keadaan begini, Hanekawa tak perlu sampai berlari ke luar gudang untuk mengungkapkan apa yang Kiss-Shot sembunyikan dalam pikirannya—pada akhirnya, apa yang harus kulakukan sama sekali tak berubah, dengan cara ini situasinya hanya akan bertambah buruk.

Namun.

Andai aku tak mengetahuinya… dan terus menyimpan salah paham terhadap Kiss-Shot… tanpa mampu merasakan penyesalan sama sekali…

Seakan aku tak lebih baik dari monyet, aku akan kembali menjadi manusia.

Apa kau akan percaya?

Di akhir… hanya keinginanku saja yang akan terpenuhi.

Takkan ada yang bahagia.

Aku akan memaksa Kiss-Shot menanggung segalanya.

“Ayo.”

Kiss-Shot tertawa.

“Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo. Ayo—bunuh aku, Pelayan.”

“…Siaaaaaal!”

Jadi dia sedang mencari tempat buat mati?

Bunuh diri?

Itu… Itu cuma pelarian!

Itu bukti kau sedang lari dari isi hatimu sendiri!

Tak peduli semulia apa kau coba bersikap, perasaanmu yang sesungguhnya… tak lain adalah apa yang aku dengar hari itu, di bawah lampu jalan!

Tidak, tidak, tidaaak…

beta tak mau tewas, beta tak mau tewas, beta tak mau tewas!

Tolong beta, tolong beta, tolong beta!

beta tak sudi hilang, tak sudi lenyap! Tidaaak!

Seorangpun, siapapun, siapapun jua…

Maaf…

“Oshinooooooooo!”

Aku…

Memandang ke arah langit, aku kemudian berteriak sekuat tenaga.

Dengan kapasitas paru-paru vampir, aku meneriakkannya sekuat tenaga.

“Oshino Meme!”

Dan… kupanggil nama orang itu.

Nama orang dengan kemeja aloha, yang berkesan sembrono dan kurang ajar.

Itu nama orang yang memahami segalanya semenjak awal tapi memilih untuk tak berkata apa-apa—dirinya dengan tak tahu malunya hanya tutup mulut dengan sebatang rokoknya yang tak menyala.

“Aku tahu kau sedang mengawasi dari suatu tempat—jangan berlagak dan cepat kemari! Brengsek, aku ada pekerjaan buatmu!”

Hanekawa memandangku dengan terkejut.

Kiss-Shot memandangku dengan terkejut.

Tapi aku tak memperhatikan pandangan mereka—aku terus berteriak.

“Oshino! Aku tahu kau di sini—dengan sudut pandang netralmu, enggak mungkin kamu enggak mengawasi tempat ini sekarang! Aku sudah paham semua ucapanmu! Aku enggak sedang mencari penjelasan lagi! Jadi ke sini! Aku sudah ngerti apa yang telah kulakukan. Aku sudah ngerti sepenuhnya soal apa yang kau bilang kalau aku di sini bukan korban, tapi pelaku! Jadi ayo ke sini… Oshino Meme!”

“…Aku bisa dengar kamu walau kau tak teriak-teriak begitu.”

Selalu dengan sikap yang ringan—Oshino kudapati tengah duduk di atap gudang peralatan olahraga.

Dia sedang duduk bersila, menyandarkan dagu di salah satu tangannya.

Terlihat teramat gusar.

Sudah berapa lama… atau mungkin memang dirinya tiba-tiba saja muncul di sana.

“…Oshino.”

“Hahhaa, semangat sekali kau Araragi—apa sesuatu yang baik terjadi?”

“Aku punya kerjaan buatmu.”

Aku mengulang.

Aku melotot ke arah Oshino—dan aku mengulanginya.

“Lakukan sesuatu.”

“Yakni?”

Dengan senyum masam, Oshino melompat turun dari atap gudang peralatan olahraga—dirinya memiliki postur tubuh yang membuatmu tak mengira kalau refleksnya sebenarnya bagus, tapi dirinya mendarat mulus, bahkan tanpa perlu membengkokkan lutut.

Dan kemudian dirinya dengan ceria mendekat ke arah kami.

“Permintaanmu terlalu tersamar.”

“Akan kubayar pakai uang.”

“Ini bukan masalah uang.”

“Jadi masalahnya apa?”

“Masalahnya masalahmu sendiri.”

Jangan seenaknya.

Oshino berkata seakan-akan dirinya menolak.

Kenyataannya, dirinya memang menolak.

“Yo, Nona KM.”

Dan kemudian Oshino mengangkat sebelah tangannya kepada Hanekawa.

“Senang bisa mengenalmu, kurasa.”

“…Iya.”

Hanekawa menjawab dengan anggukan kepala.

“Salam kenal. Saya Hanekawa.”

“Aku senang aku mampir ke kota ini buat jaga-jaga, walau urusan dengan Heart-Under-Blade sudah usai. Dengan begitu aku jadi berkesempatan buat bisa mengenalmu.”

“…Saya dari awal dapat kesan kalau Anda kurang suka padaku sih.”

“Tak mungkin. Tak mungkin aku bisa tak suka pada seorang gadis. Aku peringatkan ya, kalau kau dengar sesuatu yang aneh dari si Araragi, maka itu pasti kabar palsu.”

Dasar tak tahu malu.

Oshino memberikan sebuah kebohongan yang terang-terangan.

“Kenyataannya kau memang luar biasa. Walau kau tak punya kaitan apa-apa dengan kaii, kau sampai kena dampak sebegitu besarnya. Siswi SMA zaman sekarang memang bersemangat ya, memang ada hal baik terjadi ya?”

“Bukan berarti saya tak punya kaitan apa-apa dengan semua ini.” Hanekawa berkata dengan ketegasan. “Masalah Araragi berarti masalahku juga.”

“Wuaa, itu namanya persahabatan.”

Oshino melepas tawa terbahak-bahak.

Itu sikap menyebalkan disengaja yang jelas-jelas seakan mengejek orang.

“Ataukah itu karena semangat muda?”

“Bocah.” Kiss-Shot berkata pada Oshino. “Jangan turut campur. Kita sudah memiliki perjanjian.”

“Aku tak ingat pernah membuat perjanjian denganmu, Heart-Under-Blade—aku cuma ingin semuanya bisa berakhir dengan yang terbaik buat setiap orang. Hanya saja lebih baik untukku jika kau memilih mati agar Araragi bisa kembali jadi manusia. Untukku—dengan kata lain, untuk manusia.”

Oshino berkata.

Itu benar.

Tentunya itu juga benar untuk Guillotine Cutter juga.

Aku pikir aneh dirinya dengan mudah mau mengembalikan kedua lengan Kiss-Shot. Namun, bila aku tak salah ingat, Oshino berkata kalau dia sudah menjelaskan garis besar masalahnya pada Guillotine Cutter—Oshino memberitahunya bahwa aku berkeinginan untuk berubah kembali menjadi manusia, dan Kiss-Shot menerima keinginan itu.

Karena itu Guillotine Cutter mengembalikannya.

Oshino dengan begitu mewujudkan sebuah kompromi.

Dengan begitu Oshino membujuknya—dengan alasan tersebut, Guillotine Cutter sepakat.

Jika begitu kasusnya, sekalipun kedua lengan itu dikembalikan olehnya, dirinya tetap tak melanggar doktrin yang dianutnya sendiri.

Dia akan tetap bisa memiliki nama baik sebagai pendeta tinggi.

Dan lagi, karena aku telah berbicara panjang lebar dengan Kiss-Shot, lalu pergi ke minimarket, dengan penyesalan karena akan berpisah dengan Kiss-Shot—aku malah mengulur-ulur waktu. Tapi peduli berapa banyak waktu berlalu, aku belum berusaha membunuh Kiss-Shot.

Maka Guillotine Cutter mengira bahwa dirinya telah ditipu oleh Oshino. Kemudian dirinya memasuki puing-puing bangunan bimbel kami seorang diri.

Bahkan pelindung yang Oshino pasang tak lagi mampu menyembunyikan keberadaan Kiss-Shot dalam wujudnya yang utuh.

“Jadi, walau segala sesuatunya berjalan kurang lebih seperti yang kukira… Nona KM benar-benar melakukan sesuatu yang tak perlu. Akan lebih baik andai Araragi tetap sama sekali tak tahu apa-apa.”

“Saya…” Hanekawa berkata tanpa gentar sama sekali. “Saya rasa Anda salah.”

“Ya ampun. Dasar dadanya. Kalau cuma karena dada saja aku harus salut.”

“A-Apa?”

Hanekawa cepat-cepat menutupi dadanya

Goyang, goyang.

Oshino menatap Hanekawa.

“Ah, aku salah. Dasar nyalinya. Kalau cuma karena nyali saja aku harus salut.”

Dan tertawa.

Seakan itu mungkin saja.

Yang barusan tadi jelas-jelas pelecehan seksual.

“Bagaimanapun, pidato murid teladan memang mengagumkan ya? Yah, Nona KM, jadi menurutmu apa yang harus kita lakukan terkait situasi ini?”

“…Itu sesuatu yang ditentukan oleh Araragi sendiri.” Demikian Hanekawa menjawab teguran Oshino. “Sebab jika tidak, mengakhiri semuanya tanpa mengetahui apa-apa itu terlalu kejam.”

“Kau dengar dia, Araragi. Aku lagi digalakin saat ini—kebaikan berlebih Nona KM memang beneran keji. Dia benar-benar abnormal. Bisa-bisanya dia menaruh kepercayaan sebegitu gedenya ke kamu.”

“… … …”

“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Oshino menghadap ke arahku.

Seperti biasa, di mulutnya tergigit sebatang rokok yang tak menyala.

“Aku cuma ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri kesudahan dari festival—kau telah berusaha sedemikian jauh, menggapai sedemikian dekat, tapi buat berjaga-jaga aku bakalan coba mendengar. Apa kerjaan yang kau punya buat spesialis sepertiku. Soal biaya, oya, itu bakal menggantikan pembebasan lima juta yen yang kukasih buatmu.”

Oshino berkata, dengan seringai lebar.

“Lalu, keinginamu?”

“…Aku ingin kau memberitahuku cara agar semua orang bahagia.”

Aku mengungkapkannya ke dalam kata-kata.

Sebuah harapan dari lubuk hatiku yang terdalam.

“Sebuah cara agar semua bisa berakhir tanpa ada seorangpun yang tak bahagia.”

“Memangnya bisa?”

Kamu tolol, apa? Oshino terang-terangan mengangkat bahu.

“Yang namanya kemudahan itu ada batasnya. Itu tema yang ditulis oleh anak-anak SD sekarang di mata pelajaran budi pekerti. Itu tak realistis.”

“Oshino, aku…”

“Tapi.”

Dia mengeluarkan rokok itu dari mulitnya, dan mengembalikannya ke dalam saku.

Oshino Meme kemudian menatap Hanekawa, Kiss-Shot, lalu aku secara bergantian… dan berkata:

“Ada satu cara untuk membuat semua orang menjadi tidak bahagia.”

Dengan cepat dia menjelaskannya pada kami yang kebingungan dengan kata-katanya.

“Dengan kata lain, aku bicara soal menyebarkan ke semua orang beban ketidakbahagiaan yang diakibatkan oleh situasi ini—tak ada seorangpun yang harapannya akan terkabul. Tapi kalau kau tak masalah dengan itu, cara seperti itu memang ada dan berlaku juga.”

“…. … …”

Semua orang akan menjadi tidak bahagia—semua akan dibebani dengan ketidakbahagiaan.

Menyebarkan.

Membagi—beban yang ada.

Ini jelas bukan sesuatu yang bisa dibebankan kepada hanya satu orang.

“Konkritnya… yah, Araragi, kau harus sampai benar-benar nyaris membunuh Heart-Under-Blade. Sampai semua karakteristik dan kemampuan istimewanya sebagai vampir nyaris hilang—tapi pastikan agar dia tak sampai mati. Buatlah Heart-Under-Blade lebih sekarat dari sebelumnya. Sedemikian sampai dirinya tak lagi punya bayangan dari sosoknya dahulu, atau bahkan hingga namanya pun tak bersisa. Jadikan dia keberadaan yang lebih rendah, pseudo-vampir serupa manusia—entitas yang takkan memakan manusia selapar apapun dirinya.”

Dan kemudian, Oshino melanjutkan.

“Araragi, kau takkan lagi bisa kembali jadi manusia—tapi kau tetap akan menjadi sesuatu yang sangat mendekatinya. Kau akan menjadi pseudo-manusia serupa vampir. Sejumlah karakteristik dan kemampuan vampir akan bersisa—tapi aku takkan bisa secara tegas menyebutmu sebagai manusia. Tapi kau akan teramat jauh dari sifat seorang vampir dan teramat dekat dengan sifat seorang manusia. Secara alami kau juga akan sangat berbeda dari para separuh vampir. Jadilah makhluk tak jelas macam ini. Ini akan cocok buatmu.”

“C-Cocok buatku, kau bilang?”

“Tentunya, kau juga takkan sanggup memakan manusia tak peduli selapar apapun kau. Tapi… dengan menyelesaikan segala sesuatunya begini, mengesampingkan Araragi, Heart-Under-Blade bisa kelaparan sampai mati bila tak secara teratur diberi gizi. Kau akan harus secara terus menerus memberi Heart-Under-Blade darahmu. Gizi satu-satunya yang dapat diberikan untuk mempertahankan hidup Heart-Under-Blade, begitu dirinya diubah menjadi keberadaan macam itu, hanyalah darah dagingmu sendiri. Kau akan harus mencurahkan sepanjang hidupmu untuk Heart-Under-Blade, dan Heart-Under-Blade akan harus melewatkan sisa hidupnya berada dekat denganmu.”

“Jadi…” Hanekawa memotong. “Dengan kata lain, kita, para manusia…”

“Ya. Lupakan soal pembasmian vampir yang berbahaya. Lupakan soal penghapusan menyeluruh dari sang Pemusnah Fenomena Ganjil, vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin, dan juga bawahannya. Jika ia kehilangan kekuatan sebanyak itu, orang-orang seperti Dramaturgie dan Episode pun takkan sanggup menemukan tempat keberadaan Heart-Under-Blade. Walau begitu, resikonya tetap ada. Ancaman berubahnya Heart-Under Blade dan Araragi kembali menjadi vampir dan memakan orang akan bertahan pada tingkatan yang tetap takkan bisa diabaikan…”

Jika aku melakukan itu…

Maka semua orang akan menjadi tidak bahagia…

Tak ada harapan siapapun yang menjadi kenyataan…

Kiss-Shot takkan sampai mati.

Aku takkan berubah kembali menjadi manusia.

Kedua orang vampir bisa sama-sama bertahan hidup.

“…Jangan bercanda, bocah!” Kiss-Shot berteriak di bawahku.

Dia meninggikan suaranya.

Aku sudah menghisap separuh darahnya—tak mampu bergerak, yang sanggup dilakukannya hanyalah berteriak dengan cara seperti itu.

“Memang apa yang dimengerti bocah yang belum hidup sepersepuluh usiaku?! Jangan bicara seolah itu hal gampang—beta tak sudi hidup dalam keadaan seperti itu! Mempermalukan ada batasnya—beta menolak hidup dengan menanggung malu seperti itu! Tempatku adalah untuk tewas di sini! Akhirnya beta menemukannya—akhirnya beta bisa wafat! Beta… akan mati untuk pelayan beta! Biarkan beta mati untuknya! Bunuh, ayo bunuhlah aku! Cepat bunuhlah aku! Aku tak mau lagi hiduup!”

“Itu alasan kenapa kau akan tak bahagia. Harapan dan keinginanmu takkan terkabul. Walau yang menentukan pada akhirnya tetap adalah Araragi. Ya, persis seperti yang Nona KM bilang.”

“Pelayan!”

Seakan Oshino tak layak bicara dengannya, Kiss-Shot mengalihkan pandangan matanya ke arahku.

“Seperti yang kubilang, jangan termakan omongan bocah itu! Beta sudah tak sudi lagi untuk hidup.”

“…Tapi, aku…”

Lalu tanpa keraguan, aku memutuskannya.

Ini jelas merupakan tanggung jawabku.

Aku berpikir keras tentang segala konsekuensinya… dan kemudian mengatakannya.

“Aku mau kau tetap hidup.”

“… …”

Aku…

…perlahan mengusap lembut rambutnya.

Rambutnya yang keemasan.

Rambutnya yang begitu lembut dan halus.

Itu… ya.

Itu jelas tanda kepatuhan.

“Aku enggak akan cuma mengatakan ini sekali. Aku akan bungkukkan kepala enggak peduli berapa kali pun. Jadi jangan coba mencari kematian yang keren—hiduplah walau repot buatku. Jangan cari lagi tempat buat mati. Carilah tempat buat hidup.”

Kiss-Shot… menampakkan ekspresi wajah yang penuh keputusasaan.

Namun dirinya tak mampu bergerak.

Dirinya bahkan tak mampu memberontak.

Dirinya berurai air mata…

Dengan air mata yang begitu mirip dengan darah, dirinya hanya bisa terus memohon.

“Beta… Beta mohon…. beta mohon, pelayanku. Dengan cara apapun… dengan cara bagaimanapun, bunuhlah beta. Bunuhlah beta, kembalilah jadi manusia. Tolonglah…”

“Maaf, Kiss-Shot.”

Aku menyebut namanya.

Nama yang mungkin takkan kugunakan untuk memanggilnya lagi.

“Aku takkan membantu.”

Maka demikianlah libur musim semiku berakhir.

Libur musim semi yang persis seperti neraka.

Dan juga libur musim semi terakhirku sebagai murid SMA—dengan akhir buruk tragis yang padanya tak ada kebahagiaan ataupun keselamatan, tirainya akhirnya tertutup.

Catatan:

kuchisake-onna: hantu perempuan Jepang yang punya ujung-ujung mulut tersayat.

Delapan Neraka Besar: maaf, aku kurang tahu istilah tepatnya; tapi ini sesuatu dari ajaran Buddha.

[kanji kedua dari ‘nyali’ adalah ‘(buah) dada’, jadi ini lagi-lagi lelucon soal salah tulis/baca]

018

Penutupnya…

Atau lebih tepatnya, kelanjutan cerita sesudah itu…

Keesokan harinya, sesudah waktu teramat lama aku dibangunkan dari atas kasur oleh kedua adik perempuanku, Karen dan Tsukihi, dan kemudian berangkat ke sekolah. Sang kakak lelaki akhirnya pulang ke rumah setelah sebuah perjalanan pencarian jati diri yang berlangsung selama dua minggu dan kedua orangtuanya sama sekali tak mengatakan apapun yang istimewa, sementara kedua adik hanya menanggapi dengan tertawa terbahak-bahak. Berhubung kenyataannya aku memang melakukan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, dan hanya bisa ditertawai, aku rasa aku hanya bisa setuju dengan mereka.

Bagaimanapun, mulai hari ini dimulailah tahun ajaran yang baru.

Aku menuju ke sekolah dengan naik sepeda. Sudah dua minggu berlalu semenjak terakhir kalinya aku naik sepeda. Aku rasa kau takkan mungkin bisa sampai lupa caranya naik sepeda hanya akibat merasakan sedikit neraka.

Kemudian begitu tibanya aku di sana…

…di gedung olahraga, pengelompokan kelas yang baru diumumkan.

“Ooh.”

Sebuah keajaiban terjadi. Namaku dan nama Hanekawa tercantum pada papan yang sama. Yah, keajaiban mungkin kata yang berlebihan untuk mengungkapkan itu, tapi aku memang sedikit senang. Itu sebuah emosi yang tak kurasakan pada pergantian kelas di tahun kedua. Aku tak tahu apa sifat asli dari emosi tersebut, tapi aku senang mulai kini kami duduk di kelas yang sama.

Di antara kerumunan siswa yang berlari untuk memeriksa kelas baru mereka, aku menemukan Hanekawa dan kemudian aku memanggilnya. Berhubung gambaran sosok murid teladan seperti dirinya terbilang langka, bahkan di sekolah seperti SMA Naoetsu, aku bisa menemukannya dengan mudah.

Dia telah mengubah gaya rambutnya.

Tepatnya, dia hanya memisahkan satu kepangnya menjadi dua bagian ke dua sisi, tapi dengan itu saja kesan yang dimilikinya berubah cukup banyak.

“Oh, Araragi… heei.”

Hanekawa memiliki tampilan lelah di wajahnya.

Bahunya turun, dan tampaknya dia lesu dan kecewa.

Tak pernah ada orang yang begitu murung akibat dimulainya tahun ajarab baru.

“A-Ada masalah, Hanekawa?”

Kenapa?

Apa mungkin dia tak senang karena kini kami di kelas yang sama?

Aku langsung diserang perasaan seakan aku hendak diadili, tapi kelihatannya masalahnya ternyata bukan itu.

“Ah.”

Hanekawa menarik lengan baju kemeja seragamku dan membawaku keluar gedung olahraga. Lalu seperti yang kukira, ia membawaku ke sebuah tempat di mana kami berdua bisa berbicara secara pribadi.

“Aku lupa mengambil bra-ku di gudang alat OR!”

Dia mengeluh.

“Ooh.”

“Kalau sekarang, pasti sudah ada orang yang menemukannya…”

Kami berusaha menyelesaikan pemberesan lapangan olahraga sebaik yang kami bisa, sebatas yang bisa dilakukan, tapi tak ada lagi yang bisa kami lakukan soal pintu besi gudang peralatan yang sudah diremas dan digumpakan seperti aluminuim foil oleh kekuatan mata vampir, jadi kami membiarkannya saja seperti itu dan pulang ke rumah. Aku lihat masih belum ada orang yang bergerak menuju arah lapangan olahraga, tapi pintunya sama sekali menghilang, jadi dilihat dari sudut manapun, pasti nanti akan ada keributan soalnya. Tentunya, wilayah di sekitar gudang juga akan diperiksa.

Nampaknya itu yang membuat Hanekawa tertekan.

“Walau keadaannya memang enggak memungkinkanku buat ngasih perhatian, buatku, ini bakal jadi kesalahan terbesar seumur hidup… sekaligus juga aib terbesar seumur hidup.”

“Tenang saja, Hanekawa.”

“…? Kenapa?”

“Aku sudah mengambilnya.”

“Apa kau bilang?!”

“Aku takkan biarkan dirimu menanggung rasa malu.”

“Dalam keadaan kayak semalam kamu masih sempat-sempatnya mengambil?!”

“Hei, jangan bicara semenyedihkan itu dong. Sejak libur musim dimulai, aku enggak pernah berpikir, sekalipun enggak, buat memberi prioritas terhadap apapun selain pakaian dalammu lho.”

“Jangan kasih aku alasan macam itu!”

“Dan karenanya, di kamarku, sekarang ada satu set, atas dan bawah.”

“Tolong kembalikan!”

Kami mengobrol.

Berhubung masih ada waktu sampai bel berbunyi, aku dan Hanekawa berbincang-bincang sedikit untuk mengisi waktu. Tentunya topiknya berhubungan dengan vampir. Hanekawa mengajarkanku sesuatu dari pengetahuan luas tentang vampir yang kini dimilikinya.

“Yah, ini hanya teori.” Hanekawa berpendapat. “Vampir menghisap darah manusia—namun implikasinya berbeda dari apakah mereka menghisapnya untuk makanan atau karena untuk menciptakan bawahan.”

“Iya. Aku agak lupa apa aku dengar langsung darinya atau dari Oshino, tapi kalau tak salah aku pernah dengar soal itu.”

“Makanan ya, makanan, tapi menciptakan bawahan sepertinya dipandang sebagai sesuatu yang mirip kegiatan seksual.”

“Ke-Kegiatan seksual?”

“Aku serius.” kata Hanekawa. “Ada yang bilang kalau nafsu makan dan nafsu seksual mirip satu sama lain. Di sisi lain, kalau kita mengikuti alur berpikir itu, bukannya jadi jelas mengapa seorang vampir tak mau membuat bawahan banyak-banyak? Dalam 500 tahun—dia hanya punya dua. Aku tak tahu soal bagaimana pandangan vampir terhadap kesucian, tapi dalam hal ini kupikir dia seorang perempuan yang punya kehormatan.”

“Kehormatan?”

“Aku merasa bawahannya yang pertama sebenarnya adalah kekasihnya.”

Aturan untuk tak menciptakan bawahan.

Itu penjelasan yang sebelumnya aku terima.

Vampir… yang memiliki kehormatan.

Sekalipun mereka di ambang maut, mereka tak terdorong untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dengan menciptakan bawahan baru… begitu bukan?

Jadi…

…dalam rangka apa seorang bawahan baru biasanya diciptakan?

Itulah pertanyaannya.

“…Tapi bukankah yang satu manusia dan satunya lagi vampir?”

“Makanya dia mengubahnya menjadi bawahannya, ‘kan? Keberadaan separuh vampir bisa jadi bukti adanya ‘hubungan-hubungan’ macam itu… walau kurasa situasinya agak berbeda dalam hal ini. Bagaimanapun, itu semua cuma sebatas dugaan. Tapi mungkin karena alasan ini dia mencoba memperbaiki apa yang diputuskannya pada waktu itu. Mungkin… sebagai semacam bentuk penebusan dosa.”

“Penebusan dosa…”

Dia tak sanggup mengubah bawahan pertamanya menjadi manusia kembali.

Karenanya, dia menambahkan bawahan kedua, aku, sesudah yang pertama.

Kemungkinan begitu.

“Dia tak sudi terbunuh oleh ketiga pembasmi vampir itu—jadi apa yang dimaksudkannya soal gimana dia akhirnya telah menemukan tempat untuk meninggal, mungkin, adalah kenyataan dia telah bertemu denganmu. Waktu dia bertemu… dengan bawahannya yang kedua.”

“Tempat untuk… meninggal, ya.”

“Kalau kita pikirkan, pada waktu dia kehilangan kekuatan vampirnya sesudah mengubahmu jadi bawahannya—pada waktu itu dia juga kehilangan kemampuannya untuk menghisap darah. Mungkin di waktu itu dirinya sudah bersiap untuk jadi kelaparan hingga mati. Berhubung bila vampir tak bisa menghisap darah, maka dirinya akan mati.”

“Ya… itu benar.”

“Tapi untuk mengubahmu kembali menjadi manusia, dia tak bisa membiarkan dirinya kelaparan sampai mati.”

“…. … Malam kemarin, di awal dia mengajakku untuk hidup bersamanya untuk selama-lamanya… aku tak punya bayangan soal apa kira-kira yang akan dilakukannya seandainya aku mengiyakan ajakannya itu.”

“Yah, bukannya persis itu yang bakal terjadi?”

“Persis ya.”

“Walau tak ada seorangpun yang bisa hidup sendiri, ada dua orang yang bisa.”

“… … …”

“Dua orang lebih baik daripada satu, hanya kalian berdua lebih baik daripada bertiga… mungkin begitu. Sesuatu semacam itu.”

Apa ya kira-kira, kata Hanekawa.

Entah ya, jawabku.

“Bekas luka.”

“Hm?”

“Ada bekas luka yang tertinggal.”

Hanekawa berkata sembari mengamati leherku.

Di belakang leher, tertera bekas sepasang taring.

“Apa? Jadi kerahnya masih belum menutupinya ya?”

“Hmm. Mungkin aku menyadarinya karena sebelumnya memang sudah tahu tentangnya.”

Melipat lengannya, Hanekawa memeriksa bekas luka itu dari berbagai sudut.

“Tapi lagipula, ada juga jam-jam pelajaran olahraga ‘kan? Araragi, mungkin lebih baik jika rambutmu kau panjangkan sedikit lagi.”

“Begitu ya… aah, perawatannya bakal repot.”

“Jadi di akhir, ada berapa bagian vampir yang tertinggal di tubuhmu?”

“Mungkin masih harus diuji, tapi… kelihatannya, kemampuan tubuhku buat sembuh dari luka lebih meningkat. Lalu rasanya kalau aku gosok gigi, aku semakin susah mengalami gusi berdarah.”

“Waah, contohnya rendah hati sekali…”

“Yah, pokoknya semacam itu. Memandangnya secara positif, pada akhirnya aku memang berhasil kembali berubah jadi manusia, tapi dengan satu-dua efek samping… Mungkin begitu, kalau aku boleh ngomong.”

“Hmmm… efek samping ya?”

“Yah, apakah aku sekarang ini benar-benar manusia atau bukan—cuma dengan bisa berada di bawah matahari seperti ini, aku merasa seperti dunia telah berubah jauh.”

“Kau optimis.”

Hanekawa bersikap malu-malu.

Bahkan wajah tersenyum Hanekawa… seperti yang kuduga, bila dilihat di bawah cahaya matahari, terlihat menyilaukan sepanjang waktu.

“Yah, kalau ada sesuatu lagi yang membuat kau risau, katakan saja ya. Nanti kau kuizinkan memijat bahuku sebanyak yang kau mau.”

“Baiklah. Nanti begitu aku ingin memijatnya, aku akan bilang. Demi bisa membuat Hanekawa merasa nyaman, aku sudah meneliti bermacam hal sebelumnya, dan akan kusiapkan hatiku juga, dan jadi pada kesempatan berikutnya, aku pasti akan berhasil memijatnya.”

“… Ka-Kau lagi bicara soal bahuku, ‘kan?”

“Hm? Eh, ah… ya.”

“Itu jawaban yang ambigu.”

Hanekawa tersenyum pahit.

Bagaimanapun…

Hanekawa menawarkan tangan kanannya padaku dan berkata.

“Akhirnya aku bisa sekelas denganmu, Araragi. Aku mesti ambil kesempatan ini untuk merahibilitasimu dengan benar.”

“Merahibilitasi? Maksudnya?”

“Merahibilitasi? Cara menulisnya sama seperti ‘membangkitkan’.”

Bukannya kata itu jadi cocok buat Araragi yang abadi?

Demikian Hanekawa berucap.

“Tolong bantuannya untuk setahun ke depan ya, Araragi.”

“Ya. Termasuk buat setahun, tolong urus aku buat seterusnya juga.”

Walau pastinya seterusnya itu akan lebih pendek dari selamanya.

Tapi, tetap saja, tolong urus aku buat seterusnya juga.

Aku menjabat tangan Hanekawa.

Itu pastinya sebuah jabatan antar sesama sahabat.

Dan kemudian kami masuk ruang kelas, dan menerima dari wali kelas kami gambaran umum tentang materi pelajaran di sepanjang tahun ajaran baru, dan sepanjang caturwulan baru… yah, itu hal biasa yang diadakan setiap tahun. Lalu besok kami akan memilih pasangan ketua kelas, jadi aku disuruh untuk mempertimbangkan siapa calon yang kira-kira sesuai. Tentu saja aku memilih Hanekawa—sedangkan untuk laki-lakinya, aku tak peduli.

Dan kemudian, pulang sekolah…

Aku pergi ke reruntuhan gedung bimbingan belajar itu sendiri.

Aku berangkat setelah memberitahu Hanekawa. Aku bahkan terpikir untuk pergi berdua bersamanya. Tapi ini tanggung jawabku, dan tanggung jawabku seorang.

Dua puluh menit dengan menggunakan sepeda—dan akhirnya aku tiba di tempat tersebut.

Aku sudah menganggap tempat ini tidak seperti milik orang lain tapi nyaris seperti rumahku sendiri. Aku lewati lubang di pagar kawatnya dan memasuki halaman dalamnya. Tapi, kalau aku memikirkannya sekarang, aku bisa bilang ini kali pertama aku mengamati bangunan ini baik-baik pada waktu siang.

Kalau aku memandangnya di bawah cahaya matahari—keadaannya lebih bobrok dari yang kusangka.

Keadaannya sudah busuk dan rusak.

Keadaannya seolah bangunannya sendiri tengah sekarat.

Bila dilihat dengan mata manusia, kesan itulah yang tampak.

Aku menurunkan pandanganku dan memasuki bangunan terbengkalai itu—kemudian kutapaki anak-anak tangga menuju ke atas.

Lantai kedua—aku melewatinya.

Tempat yang kutuju adalah lantai keempat.

Dia tak lemah lagi terhadap sinar matahari.

Karena dia bukan lagi seorang vampir.

Aku memeriksa ruangan yang langit-langitnya berlubang, tapi tak ada siapa-siapa di dalamnya. Aku membuka pintu ke ruang kelas berikutnya—kelihatannya bahkan pintu itu pun kini rusak—dan kudapati Oshino ada di dalam.

“Yo. Kau lambat, Araragi—aku sudah menunggu dari tadi.”

Oshino menyapaku dengan nada ceria.

Seperti biasa, dirinya mengenakan kemeja aloha.

Dengan berbaring di dipan yang dibuatnya menggunakan meja, dilihat seperti apapun, dia jelas tak sedang menungguku. Tapi kalau aku balas menanggapi setiap hal kecil yang dikatakannya pun kurasa takkan ada gunanya.

“Hahhaa. Baju seragam itu cocok buatmu, Araragi. Kau jadi terlihat sangat berbeda.”

“Begini-begini juga, aku tetap anak sekolahan tahu.”

“Ah, bener juga. Aku dengan cerobohnya lupa. Kau memang sempat jadi tokoh utama Gakuen Inou Batoru.”

“Aku tak tahu lagi apa hal seperti ini benar-benar terjadi. Itu benar-benar sesuatu dari masa lampau.”

Dan lagian, bukan karakterku buat jadi karakter utama.

Aku juga tak cocok menjadi penjahat, apalagi monster.

Saat ini aku cuma anak sekolahan biasa.

Sebagaimana aku tampak… sebagaimana aku terlihat, seorang anak sekolahan.

Walau meski sedikit aku bisa punya kekuatan super.

“Begitu ya. Nona KM hari ini tak bersamamu ‘kan?”

“Ya. Aku sendirian. Atau emang lebih baik kalau aku datang berdua?”

“Faktanya, kalau dalam kasus ini sih, itu takkan ada bedanya.”

Walau, Oshino melanjutkan.

“Kalau aku boleh bicara karena aku peduli, sebaiknya kau sangat berhati-hati soal si Nona KM. Araragi… jangan sekalipun lepasin pengawasanmu darinya. Gadis itu agak terlalu… berbahaya. Kali ini, kita semua… termasuk kamu dan aku, sama-sama dijadiin mainan olehnya. Seandainya gadis itu kelak menjadi pusat sebuah masalah, jujur saja, bahkan aku pun enggak punya bayangan soal apa yang bakalan terjadi.”

“Yah, kau enggak usah katain lagi.” Aku menjawab. “…Sebab dia temanku.”

“Begitu ya. Yah, ini tak begitu berarti sebagai layanan purnajual, tapi aku jadi kuatir soal apa yang bakalan terjadi padamu, jadi buat sementara aku putuskan buat tinggal di gedung ini buat beberapa lama—aku sudah mencari sekeliling, tapi pada akhirnya bekas gedung bimbel ini jadi tempat paling enak buat ngelewatin waktu. Kalau ada apa-apa yang terjadi, konsultasikan saja padaku.”

“Konsultasi padamu biayanya mahal.”

“Bukan biayanya mahal. Tapi kompensasinya sewajarnya.”

Ia berkata.

Oshino kemudian menunjuk ke sudut ruang kelas dengan rokoknya yang tak menyala.

“Baiklah, ayo kita lakukan buat yang pertama kali.”

Di salah satu sudut ruang kelas…

…Ada seorang gadis pirang.

Dia duduk sembari memeluk lututnya.

Dirinya terlihat berusia delapan tahun—seorang gadis yang benar-benar kecil.

Bukan berusia 27 tahun.

Bukan berusia 17 tahun, bukan berusia 12 tahun, bukan berusia 10 tahun—melainkan gadis kecil pirang berusia delapan tahun.

Dengan raut wajah resah—dirinya memandang ke arahku.

“…Aku…”

Sebaiknya aku menyebut dia bagaimana?

Dia bahkan bukan bayangan dari jati dirinya yang sebelumnya, dirinya bahkan tak memiliki nama.

Semacam puing-puing dari segala yang dulu membentuk wujudnya.

Apa yang masih tersisa dari sesosok iblis cantik.

Dan…

Bagiku, sebuah keberadaan yang takkan sanggup kulupakan.

“Aku… benar-benar minta maaf.”

Aku mendekat padanya.

Kemudian aku rendahkan pergelanganku untuk menyamai tinggi badan si gadis yang sedang duduk, dan aku mendekapnya.

“Kalau kau mau membunuhku, silakan bunuh aku kapan saja.”

Dirinya tak mengatakan apa-apa.

Dirinya tak sudi berbicara denganku lagi.

Lalu seakan kesal, dirinya juga menunjukkan sedikit keengganan—tapi segera ia menjadi penurut, dan tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia mengigit leherku.

Ada sedikit rasa sakit.

Dan kemudian kurasakan semacam euforia yang menyebar ke sekujur tubuhku.

“Aku masih tak merasa kalau itu hal yang benar lho.” Oshino berkata dari belakangku dengan nada suara biasa. “Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai sifat egois manusia. Rasa jijik yang kau rasakan terhadap si vampir yang memakan manusia bisa dibilang sama dengan keterasingan yang kau rasa sehabis lihat kucing kesayanganmu memangsa tikus. Dan kau lalu memilih untuk mempertahankan si vampir seakan-akan dia binatang peliharaanmu. Untuk menyingkirkan taringnya, menumpulkan kuku-kukunya, merusak pita suaranya, sekalian mengebirinya, ‘kan? Kau, yang sebelumnya diperlakukan sebagai peliharaan, kini balik memperlakukan tuanmu sebagai peliharaan. Itu persis yang sedang terjadi sekarang. Kalau kau memikirkannya… ini sama sekali bukan cerita bagus.”

“… … … …”

“Si manusia yang hendak membuang nyawanya buat si vampir, dan si vampir yang mau membuang nyawanya buat si manusia. Itu ibarat kau cuci darah pakai darah—tapi yang namanya darah pasti membekas. Berhubung ini kerjaan, aku tak bermaksud buat ikut campur atau bagaimana, tapi… berhubung aku punya peran di dalamnya, kalau kau suatu saat merasa lelah atau jijik atau gimana dengan urusan ini, kasih tahu saja Araragi.”

“Aku tak akan pernah merasa jijik.”

Aku menjawab, sembari si gadis menghisap darahku.

“Karena aku melakukan sesuatu yang memang kusukai.”

“Kalau suatu saat kau suka, kalau begitu?”

Demikian balasan tak nyambung yang Oshino berikan.

Sementara aku memunggunginya, aku… mendekap ringan tubuh kecil dan tak berdaya gadis yang dengan segala tenaganya masih tetap bisa remuk dengan kekuatan fisik seorang manusia.

Kami, yang telah melukai satu sama lain, kini saling menjilat luka satu sama lain.

Kami, yang telah sama-sama menjadi barang rusak, kini saling memerlukan satu sama lain.

“Kalau besok kau mati, maka hidupku juga bakal hanya sampai besok—jika hari ini kau hidup, maka aku juga, akan hidup buat hari ini.”

Maka aku bersumpah dengan suara keras.

Dan dimulailah cerita tentang barang-barang rusak ini.

Merah saat basah dan hitam begitu kering, ini sebuah kisah tentang darah.

Kisah tentang bekas luka berharga yang untuk selamanya takkan pernah pulih…

Aku tak akan pernah menceritakannya kepada siapa-siapa.

Catatan:

‘Merehabilitasi’ tertulis mirip dengan ‘membangkitkan’; lalu dalam bahasa Jepang, ‘abadi’ memiliki makna yang agak sama dengan undead (mati tapi hidup), jadi permainan katanya adalah bagaimana Hanekawa mulai saat itu akan ‘membangkitkan/merehabilitasi’ Araragi yang sempat ‘mati’.

Adegan percakapan terakhir antara Araragi dan Hanekawa, ada beberapa hal yang jadi agak lost-in-translation bagi beberapa orang. Mudah-mudahan semuanya berhasil kumasukin.

Sekedar catatan, kata ‘kizumono’ yang ada judulnya katanya tidak hanya berarti ‘barang rusak’ atau ‘bekas luka’, melainkan juga mengacu pada seorang perempuan yang telah kehilangan… err, kesuciannya. Secara kompleks sepertinya ini mengacu kepada bagaimana Kiss-Shot berperilaku. Tapi aku juga enggak sepenuhnya paham soal ini.

Fin


About this entry