Kizumonogatari – IND (016)

Waktu aku beres nerjemahin bagian ini, aku ngerasa kayak telah ngelewatin sebuah garis finis.

016

Pada waktu seperti sekarang, aku benar-benar tak punya tempat lain untuk bisa pergi—pulang ke rumah, jelas saja, merupakan pilihan yang tak mungkin. Di sisi lain, kalau aku berasumsi ada bangunan terbengkalai lain seperti puing-puing bimbel itu, aku tak lagi punya cukup semangat untuk pergi mencarinya.

Aku dikejar waktu.

Fajar semakin dekat bersama setiap jam—dengan segera aku dapati diriku tersudut.

Lalu pada akhirnya…

Aku menusukkan tak satu tangan, melainkan keduanya ke dalam otakku, mengutak-atik isinya hanya karena aku merasa perlu, berpikir demi bisa berpikir—lalu kemudian kupilih tempat berteduh sementara di gudang peralatan olahraga di SMA Naoetsu.

Tempat berteduh sementara—maksudnya benar-benar untuk berteduh sementara.

Namun, gudang peralatan olahraga yang tak berjendela ini ditutup dengan pintu baja yang tampaknya cocok untuk melindungi aku, seorang vampir, di waktu siang hari. Aku memilih tempat tersebut dalam keputusasaan, dan aku takkan bilang kalau tempat ini pilihan yang buruk. Pada hari aku bertarung dengan Dramaturgie, aku pantang menyerah dan berhasil memperbaiki pintu baja ini dengan menggunakan tenaga semata. Sekarang, kupikir aku benar-benar bersyukur karena telah memperbaikinya—tunggu, aku malah tidak berpikir.

Keadaanku sekarang terlampau susah kusyukuri.

Semua pemahamanku salah sama sekali.

“W… wwwwwwWwwwWwWwwwww…”

Gigiku tak bisa berhenti bergemertak.

Badanku tak bisa berhenti menggigil.

Kenapa…

Kenapa…

Kenapa aku tak menyadarinya?

…Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade adalah vampir.

Vampir.

Lemah terhadap sinar matahari.

Tidak menyukai salib.

Tidak menyukai peluru perak. Tidak menyukai air suci. Tidak menyukai bawang putih.

Tidak menyukai racun.

Akan mati bila ada pasak dipaksa menembus jantungnya.

Tak memiliki bayangan, tidak memiliki pantulan di cermin.

Taring.

Tubuh yang abadi. Kekuatan pemulihan diri yang nyaris tanpa batas.

Mata yang dapat melihat dengan baik di malam hari.

Kemampuan perubahan wujud.

Kekuatan penyembuhan di dalam darah.

Dan… dirinya memakan manusia.

“wwWWWW… Waaaaaaaaaaaaaaaaah!”

Aku berteriak, berteriak, dan berteriak.

Tapi yang kurasakan hanya buncahan penyesalan yang terus membesar.

Aku tusukkan tanganku kembali ke kepala, aku kembali mengutak-atik otakku—di mana aku salah, dengan cara apa aku salah, bagaimana bisa semuanya malah menjadi begini—secara berulang aku tak dapat berhenti memikirkannya.

Tapi…

Pastinya di satu titik aku telah salah…

“Wwww… wwwwwwwwww.”

Bagi vampir, manusia adalah makanan.

Untuk makhluk-makhluk yang derajatnya lebih tinggi seperti mereka, makhluk-makhluk derajat rendah seperti manusia, dalam piramida makanan, berada pada tingkatan lebih bawah.

Itu kan…

Itu sesuatu yang semestinya telah kupahami sejak awal ‘kan?

Tapi kenyataannya… dia sempat mencoba membunuhku ‘kan?

Dia mencoba memakanku ‘kan?

Dia mencoba meminum darahku ‘kan?

Seperti aku manusia yang tak berharga.

Sejak awal, bahkan aku pun…

…aslinya, tak lebih dari makanan baginya.

Sekalipun dia mengajakku untuk mengobrol.

Sekalipun aku dengan seenaknya berpikir bahwa kini kami telah memiliki hubungan.

Pada akhirnya, tetap sama—aku tetap saja makanan.

“.. … …”

Bagi Kiss-Shot, manusia manapun…

Manusia manapun sama saja.

Oke, dirinya memiliki pandangan tinggi terhadap kemampuan Oshino.

Tapi kemampuannya juga hanya sebatas ini.

Atau mungkin sekarang ini aku sedang membahas sesuatu yang tak terlalu kupahami juga—begitu aku bahkan berpikir, tapi tetap saja, manusia adalah manusia.

Makanan adalah makanan.

Bahkan Oshino memahami hal itu.

Buktinya—begitu Kiss-Shot kembali utuh dan memperoleh kembali kekuatan vampirnya—dirinya meninggalkan tempat itu.

Lalu…

Kalau aku coba mengingat secara baik—Kiss-Shot hampir tak berbicara dengan Hanekawa. Kiss-Shot bahkan seakan tak menyadari kalau dia ada—jauh malah.

Itu dia.

Bagi Kiss-Shot, Hanekawa tak lebih dari sekedar makanan.

Hanekawa tak diperlakukannya sebagai temanku.

Hanekawa sedang diperlakukannya sebagai ‘makanan jalan’ punyaku.

Makanan jalan buatku, seorang vampir.

Atau mungkin, seandainya Kiss-Shot bertemu dengan Hanekawa sesudah Kiss-Shot memperoleh kemampuan menghisap darahnya kembali, Hanekawa malah akan menjadi korban pertama dari kemampuannya… kurasa.

Seperti Guillotine Cutter.

Hanekawa bakal bisa dicacah sampai potongan-potongan kecil dan kemudian dimakan.

“Mereka bilang kalau rasa tubuh pendeta tidak enak… tapi kenyataannya dia boleh juga. Beta tak pernah merasa punya kesukaan atau ketidaksukaan khusus, tapi ‘penyedap rasa terbaik adalah lapar’ adalah pepatah yang teramat benar.”

“Jangan…”

Kepada wanita yang secara menggairahkan menggunakan lidahnya untuk membersihkan mulut dari darah dan daging yang menempel padanya—berusaha memanggil keduanya—aku mencoba berkata.

Keberanianku…

…sekaligus rasa takutku.

Berusaha memanggil keduanya, aku berkata:

“…J-Jangan… makan manusia.”

“Hm?”

Kelihatannya dia benar-benar tak mengerti.

Kiss-Shot memiringkan kepalanya jauh-jauh ke sisi.

“Tapi Pelayan, jika beta tak memakan manusia, beta akan tewas.”

Benar.

Dia benar.

Itu alasan yang luar biasa sederhana untuk dimengerti.

Bahkan untuk kesederhanaan pun ada batasnya.

Dan untuk alasan satu itu, Kiss-Shot sama sekali tak mempunyai masalah—dirinya bahkan takkan mencoba memperdebatkan rinciannya denganku, bekas manusia yang ingin kembali menjadi manusia sesudah ini.

Kiss-Shot memandangnya seperti pengetahuan umum.

Bahkan bagi dirinya ini memang pengetahuan umum.

Untuk waktu yang teramat lama—Kiss-Shot telah memakan mereka.

Dirinya telah memakan manusia.

Secara berkelanjutan, dirinya telah terus memakan mereka.

Vampir.

Bawahan yang pertama—lalu bawahannya yang kedua.

Hidup sepanjang 500 tahun, semestinya orang yang pernah darahnya pernah dihisap olehnya bukan hanya kami berdua—tapi dengan pengecualian kami berdua, sisa orang yang pernah menjadi korbannya pastinya telah dicincang sampai kecil dan kemudian dimakan tanpa menyisakan tulang dan daging, persis seperti itu.

Itulah cara pemenuhan gizinya pada saat dirinya tak menciptakan bawahan.

Dalam cerita-cerita yang banyak tersebar…

Tatkala seorang vampir mengisap darah, orang-orang yang diisap darahnya akan berubah menjadi vampir tanpa kecuali—kelihatannya, cerita-cerita itu tak sepenuhnya salah. Sesudah pengisapan darah, jika tak diatasi, maka semua korbannya akan menjadi vampir.

Bahkan jika darah yang diisapnya hanya setitik saja.

Seseorang yang menjadi korban akan selalu—berubah menjadi vampir.

Dan cara  mengatasi hal tersebut—adalah dengan menghabiskan tubuh sang manusia korban tanpa menyisakan sedikitpun daging. Dengan itu, vampir bersangkutan akan memperoleh nutrisi lebih besar—dan mayat orang yang telah diisap darahnya akan dicegah dari berubah menjadi vampir.

Prosesnya berlangsung terus seperti itu.

Karena aku hanya sampai dihisap darah saja—aku berubah menjadi vampir.

Lalu Guillotine Cutter…

Mengingat dia makanan… dagingnya dihabiskan sampai tak bersisa.

Tapi tak hanya Guillotine Cutter seorang, dalam 500 tahun terakhir, Kiss-Shot secara berkelanjutan telah melakukan ini.

Ini suatu hal yang alami.

Karena memikirkannya saja dirasa tak perlu—tanpa menyadarinya, tanpa pernah mau menyadarinya, aku secara terang-terangan telah menutup mataku dari kenyataan ini.

Tak salah lagi.

Sejak awal aku memang tak mengerti apa-apa.

Bahkan tatkala aku pertama bertemu dengannya di awal, bahkan pada saat dirinya berada di ambang kematian, kenapa bisa aku sampai mau menolong Kiss-Shot yang sekarang—aku tak memahami apapun semenjak awal.

Mengapa dirinya tak sanggup memperoleh pertolongan.

Rasanya aku benar-benar tak paham.

Kenapa manusia yang bisa dimakan—bisa sampai menolong sang vampir.

Sang pemangsa dan yang dimangsa.

Padahal hubungan sebenarnya yang kami punya sama sekali tak lebih dari itu.

“W-wwwww… waaaa.”

Guillotine Cutter.

Dia memang pria yang keji.

Dia pria yang penuh yang perhitungan dan licik, seseorang yang menjadi aib umat manusia.

Tapi…

Dia bukan orang yang sampai pantas dibunuh.

Walau Hanekawa sampai diberi pengalaman buruk olehnya—di akhir, semuanya memang salahku.

Karena aku seorang vampir.

Guillotine Cutter…

Untuk alasan apapun, untuk cara apapun yang dipakainya, apa yang ingin dilakukannya hanyalah membasmi sang monster.

“Enggak… aku enggak mau mikirin ini lagi… enggak! Aku enggak mau berpikir! Aku enggak mau berpikir lagi!”

Dengan cepat kucabut tanganku dari dalam otakku—kemudian serta merta kepalaku kupegang.

“Aaaaa.”

Tapi, tetap saja otakku tak berhenti berpikir.

Bukan hanya Guillotine Cutter.

Dramaturgie. Episode.

Bahkan mereka, yang telah kembali ke tempat asal mereka masing-masing, bermaksud membasmi vampir—lalu yang mencegah mereka dari melakukan itu tak lain adalah aku.

Bagaimanapun juga.

Aku mengambilnya dari mereka—tungkai-tungkai yang telah dengan susah payah mereka peroleh dari Kiss-Shot. Lalu, sesudah semua ini, aku bahkan membiarkan vampir legendaris itu kembali ke wujudnya yang asli.

Aku bahkan belum memperhitungkan soal nasib Guillotine Cutter di sini.

Jika semenjak sekarang ada manusia lain yang dimakan Kiss-Shot—pada saat dirinya makan lagi, maka tak lain itu akan menjadi tanggung jawabku.

Jika Hanekawa dimakan.

Jika kedua adikku dimakan.

Jika kedua orangtuaku dimakan.

Itu semuanya… tak lain akan menjadi salahku.

Semua semata-mata karena aku menyelamatkannya.

Bukan hanya dengan tungkai-tungkai atau jantungnya saja.

Sejak awal, pada hari paling pertama, pada waktu itu…

Di bawah lampu jalan itu, seandainya aku tak menolong Kiss-Shot… andai aku biarkan saja dia, maka ceritanya pasti sudah akan berakhir pada saat itu juga.

Tapi pada waktu itu, aku tidak mengabaikan Kiss-Shot—dan aku kurang lebih bisa mengerti mengapa itu bisa terjadi, itu semata-mata kelemahan dari hatiku sendiri.

Ini berbeda dari ‘kekuatan’ yang dimiliki Hanekawa.

Kelemahan macam ini tak ada kemiripannya sama sekali dengan kebaikan hati Hanekawa yang bahkan bisa membuat Oshino resah, dan bahkan membuatku berpikir kalau dirinya pun menakutkan.

Itu semua semata demi kepuasan diri, bukan pengorbanan diri.

Karena seseorang bisa menjalani hidup tanpa berpikir panjang—itu tak berarti dirinya pun bisa mati tanpa berpikir panjang.

Aku dimakan oleh seekor vampir dan kemudian tewas dengan cara itu.

Apa aku sempat berpikir tentang bagaimana perasaan adik-adikku seandainya mendengar ini?

Apa aku sempat berpikir apakah mereka akan menangis?

“…Uooorgh.”

Entah bagaimana aku berhasil menahan rasa mual yang tiba-tiba bangkit.

Aku bahkan berhasil menghalau keluarnya air mata.

Aku bertahan, karena jika bendungan air mataku itu sampai bocor aku pun tak tahu apa yang bisa sampai terjadi—aku takut aku bisa kehilangan kendali atas diriku sendiri.

Untuk sekarang…

Aku perlu mempertahankan sedikit kendali diri yang masih kumiliki sekarang.

Dengan Kiss-Shot, situasinya berubah menjadi pertengkaran, suatu adu kata yang di dalamnya aku tak paham lagi apa yang sedang kukatakan—pada akhirnya aku dengan tergesa keluar bangunan bimbel tanpa tahu harus pergi ke mana lagi.

Dan akhirnya aku sampai di gudang peralatan olahraga ini.

Satu-satunya tempat gelap yang aku punya dalam ingatanku.

Di luar, matahari pasti telah terbit—walau liburan, orang-orang dengan kegiatan klub mungkin masih akan tetap datang ke sekolah, tapi untungnya hari ini adalah hari liburan terakhir. Segala kegiatan klub ekskul pasti dihentikan untuk hari ini.

Aku tak perlu khawatir adanya anggota salah satu klub olahraga yang tiba-tiba membuka pintu gudang ini.

Tapi tentu saja, buat berjaga-jaga, aku membangun benteng penghalang dari dalam.

“Ini salahku.”

Pikiranku…

…Terucap dari dari sudut mulutku, bahkan tanpa aku sadari.

“Ini salahku jika sesudah semua ini, ada orang-orang… yang terus dimakan.”

Oleh vampir satu itu… yang tak bisa dihentikan oleh siapapun.

Oleh vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin.

Oleh Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade!”

“Ini semua salahku… salahku! Salahku!”

Kalau aku memikirkannya…

Oshino pasti sudah menduga perkembangan ini akan terjadi.

Semenjak awal, dia bilang bahwa semuanya adalah tentang keseimbangan, tapi pada saat dia mencuri jantung Kiss-Shot di awal, dia pasti tak menerima permintaan dari siapapun—karena tiga orang pembasmi vampir itu baru ditemuinya kemudian.

Kalau begitu, yang dilakukannya waktu itu murni atas keputusannya sendiri.

Sebuah tindakan yang berlainan dari pekerjaannya yang biasa.

Sebuah perantaraan antara kita dan mereka.

Itu kalau kubilang… keputusannya untuk mencuri jantung Kiss-Shot adalah tindakan yang dilakukannya dari sisi manusia.

Oshino tak sampai melakukan pembasmian terhadapnya.

Karena doktrin yang Oshino pegang semata adalah untuk mendatangkan ‘keseimbangan’.

Seorang oportunis—aku ingat Kiss-Shot mengatai Oshino demikian.

Lalu keseimbangan yang telah dengan susah payah Oshino datangkan—malah aku hancurkan.

Jika Kiss-Shot menciptakan seorang bawahan adalah kenyataan tak terduga, adalah kenyataan tak terduga pula adanya manusia yang bersedia menolong Kiss-Shot yang tengah sekarang.

Itu gagasan konyol dariku, tindakan konyol yang kulakukan.

Tak ada seorangpun yang sampai menyangka.

Aku menggagalkan usaha keras tiga pembasmi itu.

Aku bahkan mengembalikan jantung yang telah Oshino curi.

Aku yang pada akhirnya membuat semua ini jadi rumit ‘kan?

Seakan-akan ada seseorang yang memang telah merencanakan semua ini ‘kan?

Hal-hal konyol apa yang kukatakan? Orang yang merencanakan, yang menyebabkan semua ini terjadi, pada akhirnya adalah aku sendiri. Keadaan semua ini, dalam segala aspek, secara utuh dan menyeluruh—sepenuhnya adalah salahku.

Tindakanku yang gegabah.

Ini bayaran yang mesti kutanggung akibat kelemahan hatiku untuk tak mau mengabaikan seorang vampir yang tengah sekarat.

Guillotine Cutter tewas.

Dia tewas, dimakan.

Kepalanya dikunyah, otaknya dimakan bersama tengkoraknya—kini, tak mungkin dirinya bisa pulih kembali. Bahkan dengan menggunakan darah vampir—tak mungkin dia akan bisa pulih lagi.

Dia sudah mati.

Kematian.

Tak ada yang bisa kulakukan untuk memperbaikinya.

“Kenapa semua ini…”

Dan Guillotine Cutter bukanlah akhir, melainkan awal. Bagi sang vampir, Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, ini tak lain hanyalah sebuah awal yang baru.

Mulai sekarang, dirinya, secara rutin akan memerlukan waktu-waktu makan ini.

Rutinitas itu merusak.

Rasanya, aku pernah mendengar seseorang mengatakan sesuatu seperti itu.

Kini, aku takkan bisa menghentikannya lagi—titik penting dari segitiga itu, Guillotine Cutter, telah dimakan, apalagi sejak awal ketiganya bersama bukanlah tandingan baginya.

Dramaturgie juga.

Episode juga.

Tak peduli apakah itu untuk tugas atau dorongan pribadi, mereka takkan bertarung dengan Kiss-Shot sesudah dirinya memperoleh kembali wujudnya yang asli—berpikir demikian, aku mulai terkesan oleh besarnya kekuatan keyakinan Guillotine Cutter yang pergi menghadapinya sendirian.

Dia bukanlah pria yang pantasi dikagumi.

Tapi tetap saja, yang diperlihatkannya adalah kekuatan seorang manusia.

Sekalipun ditentang—dirinya tak gentar.

Orang yang gentar—tak lain adalah aku.

Oshino Meme—Oshino yang berhasil mencuri jantung dari Kiss-Shot tanpa disadari, mungkin bisa menghentikan Kiss-Shot, tapi mungkin juga tidak.

Keseimbangan telah dikacaukan.

Permainan telah berakhir.

Timbangan, juga, telah miring ke satu arah.

Umat manusia telah kalah.

Mereka telah kalah… oleh Kiss-Shot.

Dan juga, pada titik ini, muka macam apa yang bisa kutunjukkan? Tolong hentikan Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Tak mungkin aku bisa mengatakan itu.

Sekalipun mulutku dibelah, tak mungkin aku akan bisa mengucapkan itu.

“…Aku tak tahan lagi.”

Liburan musim semi kali ini…

Aku tak pernah berpikir kalau semua yang terjadi selama liburan musim semi ini salah. Aku mengalami banyak kendala, tapi memandang lagi ke belakang, aku tak benar-benar merasa kalau ini liburan yang buruk—mestinya ini tak menjadi liburan musim semi yang buruk, namun nyatanya…

…Ini liburan musim semi terburuk di sepanjang hidupku.

Ini neraka.

Ini lelucon yang bagaikan neraka.

Aku tak lebih dari orang tolol yang tak menyadari apa-apa.

“Aku benci ini.”

Namun…

Di dalam diriku… masih tersisa satu hal yang masih membara.

Lewat penyesalan dan introspeksi diri, entah bagaimana aku telah memalingkan mata—dan kini aku menyadari suatu kenyataan mengerikan.

Walau, pada titik ini aku takkan bisa memalingkan mata lagi.

Benar juga.

Ini, pun, sudah terlalu jelas.

“Aku benci ini, tapi, aku, juga..”

Ini terlampau jelas sampai membuatku pusing.

“Bahkan aku, juga… seorang vampir.”

Sekeras apapun aku takut, benci, dan menjauhi vampir—kenyataannya tetap adalah kalau aku juga salah seorang dari mereka.

Tepat sekali.

Kata-kata Oshino kini terasa membebaniku.

Membebani dalam hatiku.

Membebani… dalam perutku.

–Ooh ya.

— Araragi, aku tanyakan ini karena sekedar ingin tahu,

— tapi belakangan, apa kau tak pernah merasa lapar?

“… … …!”

Aku memang… mulai lapar.

Sekarang aku mulai lapar.

–Yah.

–Aku cuma merasa sudah waktunya kau mulai merasa lapar seputaran ini.

–Bagaimanapun, waktu dua minggu telah berlalu lagi.

“Sial, sial, sial , sial, siaaaaaaal!”

Pada saat ini, aku masih bisa menahannya.

Ini cuma sedikit rasa lapar.

Tapi—jika memang perkataan Oshino saat itu untuk memperingatkanku soal keadaan sekarang—cepat atau lambat, aku juga bakal ingin mengisap darah seseorang.

Aku bakal merasakan dorongan untuk mengisap darah.

Dan aku bakal berkeinginan untuk memakan manusia.

Karena… aku juga sebenarnya pun telah berubah menjadi monster.

Karena aku telah jadi makhluk yang derajatnya lebih tinggi.

“Sial!”

Bawahan yang pertama…

Aku tak mungkin bisa tahu dulunya dia orang macam apa—tapi kurasa alasannya bunuh diri sesudah hanya beberapa tahun ada kaitannya dengan ini. Walau mungkin aku dan dia jenis orang yang berbeda, situasi yang kami hadapi sama. Dia tak tahan dengan kenyataan bagaimana diirinya telah direndahkan menjadi monster—salah, dirinya tak tahan dengan kenyataan bagaimana dirinya telah diangkat menjadi monster. Pastinya, Kiss-Shot nampaknya tidak memahami perasaan tersebut, tapi—semestinya, ini bukan sesuatu yang tak dapat diketahui olehnya.

Itu perasaan manusia.

Dan kemudian, 400 tahun sesudah itu.

Bahkan aku, bawahannya yang kedua—harus menjalani pengalaman yang sama.

“Ha… hahahahaha”

Akhirnya, ada tawaku yang keluar.

Yang bisa kulakukan hanya tertawa.

Kalau kau memikirkannya baik-baii, ini cerita yang lumayan lucu.

Dan sejauh cerita-cerita lucu yang aku tahu, ini termasuk salah satu yang paling bagus.

Sesudah semua putar-memutar yang memusingkan ini, pada akhirnya, aku sampai menyadari bahwa sejak awal pemahamnku salah—kalau aku bayangkan cerita ini punya pemirsa, aku pastilah jadi tokoh utama yang sangat kocak.

Bahkan ketololan pun ada batasnya.

Aku pasti terlihat sebegitu tololnya sampai-sampai terasa lucu.

“Apa yang sekarang bisa kulakukan tentang ini—aku enggak punya pilihan selain mati.”

Itu…

Tak mengherankan, merupakan jawaban yang paling mudah terpikirkan olehku.

Sudah tak ada artinya lagi.

Pada titik ini…

Pada titik ini aku tak yakin apa aku mau berubah kembali menjadi manusia.

Dengan kesalahan yang telah kuperbuat, aku tak seegois itu sampai bisa menerima kepentinganku saja yang dikabulkan—itu salah.

Mungkin itu kedengarannya memang keren, tapi…

…Sejujurnya, niatanku sama sekali tak sebaik itu.

Aku cuma… takut.

Aku takut bahwa saat aku berubah menjadi manusia, Kiss-Shot akan memakanku.

Itu sudah jelas.

Aku tak posisiku jatuh dalam rantai makanan.

Tapi di saat yang sama, aku tak tahan untuk terus menjadi vampir.

Aku tak sudi mengisap darah dan memakan orang.

Bahkan tubuh abadi yang kupunya ini sekarang terasa memuakkan.

Maka dari itu…

“Aku tak punya pilihan lain selain mati.”

Bukan untuk mati tanpa pikir panjang—tapi untuk mati dengan selayaknya dan semestinya.

Bagaimanapun ini memang penyebab kematian 90% vampir sepanjang waktu.

Memang berbeda dari kematian akibat rasa bosan sih.

Tapi rasa bersalah memang bisa membunuh—maka dari itu…

Seperti bawahan yang pertama, aku hanya bisa memilih mati—hanya itu jalan yang masih tersisa bagiku pada titik ini.

Tapi, soal itu—kalau memang begitu kenapa pula aku bersembunyi di gudang dengan cara begini? Kenapa aku mencoba bertahan hidup di siang hari dengan melakukan ini?

Ya, misalnya…

Misalnya, aku lepaskan bentengan yang kubuat, membuka pintu besi ini, dan menghempaskan badanku ke lapangan olahraga—dengan itu, bukannya aku akan bisa mati?

Keinginan untuk mati—itu yang dikatakan Kiss-Shot.

Tentu saja ada kekuatan penyembuh yang dimiliki bawahan Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade, jadi jika aku hempaskan tubuhku ke bawah sinar matahari, kemungkinannya aku takkan mati semudah itu—hanya akan terjadi siklus penghabluran dan pemulihan, akan tetapi…

Aku semestinya bisa mati sebelum matahari terbenam.

Jika aku melepas pakaianku, berdiri telanjang, berjemur di tengah matahari, maka tentunya—di sepanjang hidupku, ini akan menjadi upaya pertama dan terakhirku untuk tampil nudis.

Bukan Kaii-king, tapi streaking.

Sudahlah, itu lelucon buruk.

Tapi justru karena itu pula aku paling pantas menjadi tsukkomi.

“… …Ya ampun.”

Kegagalan macam apa ini.

Serius, kegagalan macam apa ini.

Kukira bakal lebih baik—aku kira keadaan benar-benar sedang membaik.

Tapi, kenyataannya memang seperti ini.

Konyol ‘kali.

Tak ada pilihan lain yang kupunya selain mati.

“…Ah, iya.”

Aku baru sekarang memutuskannya.

Tapi seakan aku tiba-tiba kerasukan sesuatu, suatu ketenangan aneh kemudian melandaku.

Aku merasa perlu menelpon ke rumah.

Aku sama sekali tak terpikir soal ini sebelumnya, tapi aku bilang pada keluargaku kalau aku pergi dari rumah untuk melakukan perjalanan pencarian jati diri—tentu saja, kenyataannya tak seperti itu, aku cuma tersesat dan berputar-putar saja.

Tapi kenyataannya—bukannya memang lebih baik aku menghubungi mereka?

Dengan cara bagaimana aku kemudian memberitahu kalau aku akan mati? Aku jelas-jelas takkan bisa mengungkapkan alasannya. Tapi kalau itu kasusnya, aku bahkan jadi berpikir kalau mungkin lebih baik membiarkan segala sesuatunya tetap seperti ini; sang kakak lelaki hilang pada saat sedang melakukan perjalanan pencarian jati diri.

Aku tak tahu akan seperti apa tanggapannya, tapi mengesampingkan kedua orangtuaku, bagi kedua adikku, mungkin ini bakal menjadi semacam lelucon—anak yang kabur dari rumah.

Bukan kabur semata, tapi benar-benar kabur.

Yah, kalau seperti itupun kurasa boleh juga.

“Tapi aku ingin bisa bicara dengan… Hanekawa.”

Dan ada sesuatu yang harus kukatakan padanya.

Hanekawa juga sudah terpengaruh dan terseret ke dalam semua ini, jadi tak mungkin aku tak memberitahukannya soal sesuatu seperti ini—sayangnya, karena cahaya matahari, pada saat ini aku tak mungkin menghubunginya dari gudang peralatan olahraga yang telah kupakai untuk bersembunyi dari Kiss-Shot ini.

Aku bahkan sudah terlanjur menghapus nomor ponsel dan alamat e-mailnya.

Persis di hadapan matanya.

Aku waktu itu benar-benar melakukannya untuk menyakitinya.

Semenjak itu, walau aku kemudian bisa berbicara dengannya lagi—aku tak meminta alamat kontaknya kembali karena sulit. Walau itu kesulitan canggung yang hanya dirasakan olehku—pada titik ini aku benar-benar menyesal telah melakukan itu.

Pengecut sekaligus penakut macam apa sebenarnya aku ini.

Walau aku lumayan dalam matematika, itu tak berarti aku jago dalam hitung-menghitung; aku tak sanggup mengingat barisan 11 digit angka, dan tak perlu kusebut bagaimana aku payah dalam mengingat alamat-alamat e-mail alfabetis. Seandainya aku sempat menghubunginya sekali saja, maka pasti nomornya akan tercantum dalam catatan panggilan, tapi—sekalipun aku tak menghubunginya, dan diapun tak menghubungiku. Kalau dipikir sekarang, aku pun tak memberitahunya nomor telepon dan alamat e-mail punyaku.

Dia masih belum punya alamat kontakku.

Andai saja aku memberitahukannya waktu itu.

…Andai saja aku memberitahukannya waktu itu… apa?

Apa Hanekawa kemudian akan meneleponku sekarang juga?

Tolol sekali.

Bahkan Hanekawa pun takkan bisa melakukan hal seperti ESP macam itu—tak mungkin perkembangan segampang itu bisa benar-benar terjadi.

Jika Tuhan memang segampang itu, aku takkan harus bersusah-susah mengalami kesulitan macam ini—aku takkan sampai bersalah akibat kegagalan macam ini.

Sementara aku berpikir tak ada gunanya aku berusaha, untuk saat ini, meski sekedar untuk melihat sekarang jam berapapun, aku keluarkan ponselku dari dalam saku.

Jam menunjukkan pukul 5 sore.

Tampaknya aku telah mengasingkan diriku di sini selama lebih dari 12 jam—rasanya benar-benar tak nyata. Namun, sekalipun waktu yang tak berhubungan ini memasuki jarak pandangku, memasuki cakupan pemahamanku, dampaknya hanya sebatas itu.

Mengesampingkan hal tersebut, aku membuka catatan alamat kontakku untuk sebuah upaya yang aku tahu akan sia-sia—namun kenyataannya ternyata tak sia-sia, apa yang kulihat memberi jantungku kejutan yang sama kerasnya seperti hantaman benda tumpul.

Di sana…

Tercantum nama Hanekawa Tsubasa.

“… Itu berarti…”

Kukeluarkan sebuah suara.

Terlepas apakah itu akibat kerendahan diriku pribadi atau akibat situasiku saat ini, aku sungguh-sungguh merasa tergerak—aku tak pernah membayangkan diriku bisa sedemikian merasa tergeraknya hanya dari melihat layar dingin sebuah ponsel.

Walau aku kira tak ada alasan bagiku untuk bisa bersyukur…

Walau aku kira ini liburan musim semi yang sebegitu buruknya…

“Jangan seenaknya pegang-pegang ponsel orang tanpa izin…!”

Kesempatan untuk itu memang selalu dia punyai.

Bisa saja terjadinya adalah waktu pertarunganku dengan Episode, saat dia mengantarkan ponsel untukku di lapangan olahraga, kejadiannya bisa kapan saja. Aku pada dasarnya teramat santai dengan pengelolaan ponselku, aku bahkan tak memasang kata sandi untuk menguncinya.

Itu karena aku hampir tak menyimpan informasi pribadi apapun di dalamnya—namun…

…Di dalam catatan alamat yang sebelumnya kosong…

…Kini terekam, sekali lagi, nama Hanekawa Tsubasa.

Beserta nomornya—dan alamat e-mailnya.

“… … …”

Aku kemudian berpikir, ini saja sudah cukup.

Aku merasa ingin berbicara pada Hanekawa, ada hal-hal yang ingin kukatakan padanya, tapi sebagian diriku yang lain juga merasa bahwa jika aku tak dapat berbicara dengannya, maka mengetahui alamat kontaknya ada lagi di ponselku saja sudah cukup.

Walau tak mungkin aku bisa membiarkannya tak tahu apa-apa…

Aku juga merasa tak ingin mengatakan apa-apa pada dirinya juga.

Karenanya—berbicara soal perkembangan yang gampang, bagiku mungkin malah lebih mudah sepert itu.

Tapi tak mungkin.

Kalau keadaannya ternyata begini, apa yang mesti kulakukan sudah terputuskan.

Malah—kali ini aku memutuskannya sendiri.

Aku mengirim e-mail pada Hanekawa.

Karena jika menelepon, aku merasa bisa menangis.

Kira-kira apa ya yang dilakukan Hanekawa pada hari terakhir liburan musim semi—belajar di perpustakaan? aku tak tahu di mana letak perpustakaan, tapi jika memang begitu, ada kemungkinan ponselnya sedang dimatikan.

Yah, apapun deh.

Mari kita sabar menunggu saja balasannya.

Aku berpikir demikian, tapi jawaban darinya ternyata datang segera.

Aku memeriksanya, dan jam aku menerima balasannya sama persis dengan jam aku mengirimnya. Bahkan tak ada perbedaan semenit.

Sulit dipercaya…

Itu jawaban yang dikirim dalam maksimum 60 detik.

Aku kira itu pasti jawaban yang pasti sangat sederhana, tapi saat aku memeriksa isinya dan, dengan diawali dengan ‘Kepada Yth’ dan diakhiri dengan ‘Hormat saya.’, ternyata itu sebuah surat pribadi yang utuh.

Luar biasa.

Aku tahu anak-anak cewek cenderung mengetik e-mail secara cepat, tapi…

Setelah kupikir lagi, pada hari upacara penutupan tahun ajaran, bahkan pada saat ia mendaftarkan alamat kontaknya ke dalam ponselku, pergerakan jemari Hanekawa luar biasa cepat… sekali lagi, luar biasa.

Itu aku mesti bilang, aku tak tahu karena aku lebih sering mengirim pesan kepada keluargaku sendiri, tapi surat tadi ditulis dengan ungkapan sangat merendah… kupikir e-mail memang dimaksudkan untuk dipakai secara lebih praktis.

Bagaimanapun, meringkas isi surat yang aku terima dari Hanekawa, intinya adalah, “Aku akan segera datang, jadi tunggulah aku.” Pada akhirnya aku tak bisa mengungkapnya secara baik, dan aku hanya memberitahukan garis besar masalahnya padanya saja, dan sebagaimana yang kukira dari Hanekawa, dia bisa menebak keseluruhan situasinya hanya dari itu.

Sungguh.

Walau mungkin aku akan lebih senang jika Hanekawa, dan bukan aku, yang bertemu Kiss-Shot. Berbicara tentang sesuatu justru bisa membuat sesuatu itu terjadi ‘kan? Walau aku dan Hanekawa memiliki perhatian yang sama terkait vampir—vampir yang akhirnya ditemui Hanekawa itu aku, dan vampir yang akhirnya aku temui adalah Kiss-Shot.

Sebuah pikiran mendadak terlintas di kepala.

Kiss-Shot menjadi bahan pembicaraan di antara anak-anak perempuan—kalau begitu, dengan Hanekawa sebagai pengecualian, apa mungkin ada gadis-gadis lain, termasuk murid-murid dari sekolah-sekolah lain, orang selain aku, yang juga telah berjumpa dengan Kiss-Shot?

Dan jika ada, apa yang terjadi pada mereka?

Apa Kiss-Shot hanya berlalu melintasi mereka begitu saja?

Ataukah Kiss-Shot mengisap darah—dan kemudian memakan mereka juga?

Kalau hal seperti itu terjadi semata-mata karena sebuah pembicaraan, maka ini pastinya akan menjadi masalah serius, kurasa; tapi di sisi lain, jika badan si korban dimakan secara utuh, tanpa meninggalkan jejak atau bukti, sekalipun itu kemudian dibahas oleh keluarganya, atau seisi kelasnya, tetap saja itu akan jadi sebuah cerita yang sulit tersebar di kalangan umum.

Perjalanan pencarian jati diri atau kabur dari rumah—

Mungkin di akhir, alasan menghilangnya si korban akan disimpulkan sebagai sesuatu macam itu.

Walau kalau jumlah orang yang menghilang banyak, cakupan kasusnya takkan terbatas sebesar itu—mungkin ini berkaitan dengan tingkat kekuatan sang vampir, tapi nampaknya Kiss-Shot tak memerlukan ‘makanan’ dalam jumlah besar… bagaimanapun, segalanya tetap saja hanya kemungkinan.

“Dua minggu, kata Oshino. Kalau begitu, bagi Kiss-Shot, satu orang per bulan mungkin takkan cukup… jadi, kalau menghitung Guillotine Cutter, jumlah korban Kiss-Shot sampai sejauh ini sekitar dua-tiga orang…?”

Walau yang menjadi inti masalah di sini bukan jumlah korbannya…

Jika memang begitu kasusnya—tetap saja keberadaan Kiss-Shot belum akan ketahuan.

“…Perasaan apa ini, aku masih merasa ada sesuatu yang luput kuperhatikan…”

Gagal untuk memperhatikan….

Atau membiarkan ada yang tak tuntas.

Kini sesudah aku menghubungi Hanekawa, mestinya tak ada lagi yang tak tertuntaskan, kupikir demikian—kemudian…

Pada detik itu, Hanekawa tba.

Bunyi ketukan seseorang pada pintu besi dari luar gudang peralatan olah raga.

Tok tok.

“Ada kiriman siswi.”

“… … …”

Tidak, aku tak bisa tertawa.

Bukan itu cara kau menunjukkan perhatian.

Bagaimanapun, kusingkirkan barikade bentengan yang kubuat (dengan kekuatan fisik vampir, menyusun maupun membongkarnya merupakan hal mudah), dan sesudah aku bilang pada Hanekawa untuk masuk dengan memiringkan badan, membiarkan pintu setertutup mungkin, aku menempel di dinding agar tak sampai terkena sinar mentari yang akan ikut masuk bersama terbukanya pintu. Senja telah berlangsung, tapi tetap saja cahaya matahari masih tersisa.

Nanti aku akan berjemur di bawah sinar mentari.

Nanti aku akan mandi matahari seluruh tubuh.

Tapi itu baru akan kulakukan sesudah aku berbicara dengan Hanekawa.

Hanekawa, bahkan hari inipun, tetap mengenakan baju seragam sekolahnya.

Gadis ini benar-benar tak ingin memperlihatkanku pakaiannya pada hari-hari biasa… atau mungkin dia tak suka aku melihat pakaian-pakaiannya… tapi aku sama sekali tak punya masalah tentang hal ini sih.

Hanekawa tersenyum riang.

Itu wajah tersenyumnya yang biasa.

Itu juga, mungkin, adalah caranya menunjukkan perhatian.

“Apa-apaan ini?”

Sebagai tambahan, sementara aku berusaha membarikade pintu besi itu lagi, Hanekawa mengatakan itu ke punggungku dengan suara yang teramat ceria.

“Kelihatannya dengan lihai aku telah dikurung di gudang alat olahraga. Kalau begini apa yang mesti kuperbuat kalau Araragi berbuat mesum?”

“…Mesum?”

Gadis ini…

Apa dia memandangku sebagai seorang penyakitan? Yah, mungkin aku memang banyak memperlihatkan sisi itu, tapi aku jelas bukan jenis orang yang menyukai obrolan-obrolan macam ini.

Aku lebih seperti gentleman.

“Senter, on.”

Dia menyalakannya, kemudian menaruhnya di atas kuda-kuda lompatan. Berhubung itu senter dengan bentuk kotak, senter itu tak terguling. Sesudah itu, Hanekawa duduk di atas matras. Akupun kemudian duduk di hadapannya.

“Ah, kau langsung di depanku, kau sedang berusaha mengintip celana dalamku.”

“Kau benar-benar salah paham tentang aku orang macam apa.”

Aku berkata demikian pada Hanekawa yang sudah bersiap-siap untuk menarik ujung roknya, tak sanggup menahannya lagi.

“Jika, misalkan, di depan mataku, ada gadis telanjang, dan gadis itu menyuruh agar jangan melihat, maka aku adalah lelaki yang sanggup untuk tak melihat!”

“Itu sih biasa.”

“Guh….!”

Serius?!

Semenjak kapan standar akal sehat dunia berubah?

“Er, Hanekawa, kau cuma belum tahu aku sebenarnya se-gentlemen apa.”

Gentlemen itu bentuk yang dipakai kalau makna katanya majemuk.”

Hanekawa meralat.

“Yah, tapi kalau benar begitu, aku jadi ingin segera lihat.”

“Kau ingin segera lihat apa?”

“Nanti begitu tahun ajaran baru dimulai, aku jadi akan bisa melihat sisi gentle Araragi sebanyak yang aku mau, ‘kan?”

“… … …”

Itu… kalau bisa…

Intuisimu benar-benar terlalu bagus.

Walau dalam surat aku tak menyebut apa-apa soal itu—dan walau niatku adalah menutupinya hingga akhir.

Karena aku tahu Hanekawa akan menghentikanku apapun yang terjadi.

“Karenanya, kau tak boleh mati.”

“…Hanekawa.”

“Kau tak boleh mati.”

Katanya.

Menembus kegelapan, dirinya jelas tengah melihat ke arahku.

“Berpikir seperti itu adalah bukti kalau kau sedang lari dari hatimu sendiri.”

“…Kamu luar biasa.”

Aku bercermin pada kata-kata Hanekawa, dan sesudahnya aku mengatakan apa yang kupikirkan, sebagaimana yang kupikirkan.

“Kamu luar biasa. Saat kamu di depanku… aku selalu terasa seperti orang yang benar-benar enggak berarti. Mungkin seandainya aku tak bertemu denganmu, aku sudah mati lebih awal, mungkin. Ada banyak kejadian di mana itu mungkin saja terjadi.”

“Itu kenapa aku bilang kamu tak boleh mati—dengarkan kata-kataku, Araragi.”

“Semuanya salahku.”

Kataku.

Itu saja sudah terdengar seperti sebuah pengakuan dosa.

“Ini semua terjadi karena sikap sembronoku—waktu itu, waktu Kiss-Shot meminum darahku, itu bukannya aku enggak mikir keadaan bakal kayak gini—ini sesuatu yang pastinya bakal aku pahami andai saja waktu itu aku sedikit mikir. Sengaja memberi darah kita ke vampir, itu apa-apaan—tapi padahal aku…”

Kenyataan bahwa dirinya—memakan orang.

Kenyataan bahwa kelak bakalan ada korban.

Itu semua sama sekali tak kupikirkan—sekalipun aku sempat terpikir tentangnya pun, pikiran itu pasti telah lolos dari kepalaku begitu saja. Bahkan sesudahnya, tak peduli saat aku diubah menjadi vampir dan harus menghadapi serangkaian persoalan—aku punya banyak waktu untuk merenungkannya.

Tapi tidak.

Sejak awal, aku sudah mengatakannya.

Pada hari upacara penutupan semester, aku berkata pada Hanekawa.

Akulah yang mengatakannya.

Kalau darahmu sampai dihisap—kau pasti akan dibunuh.

Persis seperti itu.

Guillotine Cutter juga darahnya sampai dihisap.

Lalu dia kemudian terbunuh.

Dia mati.

Aku tak memahami apa yang semestinya kupahami.

“Gara-gara aku, ada orang sampai mati.”

“Itu bukan salahmu. Dan lagi… bagi vampir… bagi seseorang seperti Nona Heart-Under-Blade, ini sesuatu yang teramat sangat alami, ini tak jauh berbeda dari bagaimana kita memakain sapi dan babi.”

“… … …”

Kalau aku tak makan, aku akan mati.

Itu hal yang sama dengan yang dia katakan.

“Tapi… dia bahkan mengira kau makanan jalan-ku. Dia tak memandang kamu sebagai bagian kelompoknya.”

“Tapi kasusmu merupakan pengecualian.”

Penyelamat nyawa.

Kami telah menyelamatkan nyawa satu sama lain.

Aku menyelamatkan Kiss-Shot—

Lalu Kiss-Shot menyelamatkan aku.

Kalau memang begitu kasusnya, mungkin saja kami mempunyai hubungan saling percaya.

Tapi, itu…

“Itu jadinya seperti menyayangi sapi yang jinak… atau gini, kalaupun bukan sapi, bukannya ada juga… anjing pintar atau monyet yang jenius?”

“Apa kau sedang membicarakan hewan peliharaan?”

Hanekawa menyelaku.

Itu dia.

Secara pasti, bahkan Oshino—mengatakan hal yang sama.

Rasa sayang terhadap hewan peliharaan.

“Tapi baginya, itu alami—termasuk bagian yang tentang aku.”

“Ya. Karenanya, Kiss-Shot tak jahat. Akulah yang jahat di sini. Aku jahat—dan bukan orang lain.”

“Kau benar.”

Oshino bahkan mengatakan itu.

Setiap orang memiliki definisi kebenaran mereka sendiri-sendiri—itu katanya.

Maka dari itu, Oshino…

Dengan keras kepala dia memilih untuk mengambil kedudukan netral.

“Aku tak pernah memikirkannya—Dramaturgie, Episode, Guillotine Cutter. Mereka bertiga—mereka mewakili ‘kebenaran’ umat manusia.”

“Waktu itu, posisimu sebagai vampir—jadi itu bukan sesuatu yang bisa dihindari. …Dan lagi, kau terlalu menyederhanakannya.”

“Aku merasa makin susah kalau kau mengatainya begitu. Ujung-ujungnya aku jadi musuh seluruh manusia.”

“Kalau begitu, apa kau jadi menyerah buat kembali jadi manusia?”

Hanekawa berkata.

Itu bukan suara yang mengandung nada menuduh—tapi bagi aku yang saat ini, itu sebuah pertanyaan tegas yang perlu dijawab.

“Apa itu berarti kau telah melepas kemanusiaanmu? Bukannya kau bilang ingin berubah lagi jadi manusia? Kau ingin kembali ke kenyataan ‘kan?”

“Ada korban sekarang. Terlalu egois kalau cuma keinginanku seorang yang dikabulkan.”

“Kalau kau bilang egois, bukannya kau yang sekarang juga egois?”

“Eh?”

“Karena…”

Seakan ia hendak memastikan posisi kacamatanya sendiri, sesudah mengambil nafas pendek—Hanekawa berkata:

“Kau ingin melarikan diri, mengabaikan semua masalah yang terlanjur kau buat.”

“…Bukan.”

Bukan itu, aku coba bilang, tapi aku tergagap dengan kata-kataku.

Hanekawa menambahkan.

“Baik hati maupun tubuhmu sekarang sedang mencoba melarikan diri.”

“… … ..”

“Sesudah ini, kau akan mencoba melarikan diri. Akibat semua kesalahanmu, kau akan mencoba me-reset kembali semuanya seperti semula. Dan berhubung enggak ada tombol reset dalam kehidupan nyata—kau memutuskan untuk melepas saja colokan listriknya. Apa aku salah?”

“…Kau salah.”

Kau salah.

Aku berpikir begitu.

“Bukannya aku ingin lari, malah aku ingin bertanggung jawab! Seenggaknya yang bisa kulakukan buat menebus kesalahanku adalah dengan mengakhiri nyawa yang abadi ini.”

“Itu cuma bakal menambah dosa-dosamu yang sudah ada.”

Hanekawa berkata.

“Bunuh diri itu sebuah dosa.”

“Apa? Apa… Hanekawa, apa kau penentang keputusan orang untuk bunuh diri?”

“Aku tak bermaksud untuk demikian, tapi dalam hal ini, aku yakin pastinya sama.”

“Sama?”

“Sama-sama merasa buruk jika ada orang yang mati.”

Menjelaskan implikasinya, Hanekawa melanjutkan.

“Walau kau sendiri tak keberatan bila harus mati—kamu merasa buruk bila orang lain mati.”

“… …. ….”

“Tak peduli orang seperti apa dia.”

“…Apa kau membicarakan Guillotine Cutter?”

Aku mencoba mengenang dirinya.

Walau, aku berinteraksi dengannya hanya beberapa kali.

“Walau ada orang-orang yang sepantasnya mati—tapi tak ada orang yang kematiannya tak berdampak ke orang lain. Itu menurutku. Itu definisi yang kubuat. Dan mengacu ke itu, aku memang sudah jadi manusia yang pantas mati.”

“Saat ini kau bukan sedang jadi manusia.”

“Itu cuma alasan.”

“Aku bakal mencari alasan seperti bagaimanapun kalau itu demi teman.”

“Hanekawa.”

Aku berkata.

Tak perlu dibahas lagi, kalau aku sebut soal ini ke Hanekawa, aku pasti akan memperoleh semacam protes dan dibujuk sebaliknya, kurasa…

Tapi pada akhirnya aku tetap mengatakannya.

“Memang saat ini aku bukan seorang manusia. Aku vampir. Karena itu, seperti Kiss-Shot, bahkan aku juga akan memakan manusia.”

“… … …”

“Aku sudah coba membayangkannya… memikirkannya saja sudah membuatku mual. Aku tak sudi hidup kalau bayarannya aku harus sampai makan orang.”

Karenanya, aku tak lagi punya pilihan selain mati, kataku.

Andai aku tak bisa berubah lagi jadi manusia—maka tak ada pilihan buatku selain mati.

“Beda denganmu, aku ini lemah, jadi kalau aku tak mati sekarang, aku pasti bakal menunda-nundanya terus—cepat atau lambat aku bakal tak sanggup menahan rasa laparku lagi.”

Makanan jalan.

Kata-kata Kiss-Shot.

“Hanekawa—cepat atau lambat kau pun cuma bakal kulihat sebagai makanan.”

Itu menakutkan.

Walau jenazah Guillotine Cutter juga menakutkan—Kiss-Shot menyebut Hanekawa seperti itu lebih menakutkan lagi.

Kesadaran seperti itu…

Akal sehat seperti itu, cepat atau lambat akan menjadi akal sehatku juga.

Jika akal sehat yang kupunya selama jadi manusia menghilang—yang tersisa dan kuperoleh adalah akal sehat vampir.

Tanpa ragu aku hanya akan memandang Hanekawa sebagai makanan.

Aku akan berkeinginan untuk memakannya.

“Kalau begitu, jangan makan.”

Hanekawa.

Namun, tanpa protes apapun yang aku bayangkan—tanpa menjatuhkanku, dia berkata demikian dengan nada tenang.

“Araragi, kau boleh memakanku.”

“…Kau ngomong apa?”

Aku benar-benar tak mengerti.

Bukan apa yang sedang dikatakannya, melainkan perasaannya.

“Kalau aku tak bisa mati untuk kepentingan orang lain, maka orang lain itu masih tak bisa kusebut teman.”

“…Eeeh?”

Seperti yang kuduga, definisi yang Hanekawa pegang benar-benar terlalu serampangan.

Siapa yang bisa tahan dengan definisi seperti itu untuk dirinya sendiri?

“Persis begitu. Bukannya sudah pernah kukatakan. Andai kau tahu aku yang sesungguhnya, kau pasti akan kecewa.”

Hanekawa berkata dengan senyuman di wajah.

“…Makhluk apa kau sebenarnya?”

“Hmm? Aku temanmu. Itu yang aku bayangkan, setidaknya.”

“Dengan hanya segitu, apa normal kau melibatkan diri sejauh ini? Bagaimana bisa kau melakukan begitu banyak hal buat orang sepertiku? Atau kau reinkarnasi kucing yang pernah kutolong waktu SD, teman masa kecilku yang tiba-tiba pindah, rekan seperjuangan dalam kehidupan yang telah lampau, orang semacam itu?”

“Sama sekali bukan.”

“Kuharap demikian.”

Ngomong-ngomong, belum pernah ada kucing yang kutolong.

Tak ada teman masa kecilku yang tiba-tiba pindah.

Lalu aku tak tahu apapun soal kehidupan-kehidupan yang pernah lampau.

“Aku pernah menyinggung soal ini sebelumnya, tapi—gimana bisa kau melakukan semua ini buatku yang baru kau temui? Jika kau lakukan ini buat semua orang, badanmu pasti enggak akan cukup.”

“Aku enggak berbuah sejauh ini buat semua orang kok.”

Hanekawa berkata.

“Aku berbuat semua ini karena ini kau, kau tahu?”

“Walau kau berbuat semua ini, aku masih di bawah umur, jadi aku enggak akan bisa jadi penjamin hutangmu lho.”

“Eeh, aku tak pernah berencana begitu kok.”

“Bahkan kalaupun aku sudah dewasa, pasti aku jadi pengangguran, jadi aku tetap takkan bisa jadi penjaminmu.”

“Itu masalah berbeda, tapi kuharap kau akan bisa dapat kerja.”

“Berkata begitu tetap enggak membuatnya lebih mudah!”

“Yah, memang jelas keadaannya bagimu enggak mudah, tapi…”

Pada dasarnya, Hanekawa melanjutkan.

“Jika aku hanya perlu menolongmu, maka satu badan saja sudah lebih dari cukup.”

“…Apa maksudmu kau sendiri enggak keberatan kalau harus mati?”

“Aku tak mau mati, tapi kau sudah menyelamatkan hidupku dua kali—jadi seandainya aku memang berakhir dimakan olehku, kurasa mungkin aku takkan mengeluh.”

Mungkin aku bakal bilang rasanya sakit sih.

Hanekawa berkata begitu dengan teramat riang.

Lalu walau aku tak diprotes atau dimarahi…

…Kudapati aku tak lagi bisa berkata-kata.

Dia benar-benar… menakjubkan.

Jujur, kata-kata semata tak bisa menggambarkan kehebatan Hanekawa.

“Karena itu, kau tak boleh mati.”

Hanekawa berkata sekali lagi.

“Jangan mati.”

“…Lalu gimana soal tanggung jawab?”

Aku… tanpa bermaksud, bertanya.

“Aku orang yang menyembuhkan Kiss-Shot yang sekarat—aku yang mengumpulkan semua potongan tubuhnya lagi, lalu aku juga kembalikan lagi jantungnya tanpa diminta. Gimana dengan tanggung jawab ini? Kalau kita sebut mati adalah tindakan melarikan diri, maka jika aku tak mati aku tak bisa bertanggung jawab ‘kan?”

“Jadi apa itu berarti kau bakal bisa bertanggung jawab bila kau mati?”

“Entahlah.”

Segalanya bagiku sudah berakhir.

Pada titik ini, sudah tak ada lagi yang bisa kulakukan—aku takkan sanggup menggeser timbangannya lagi.

Tak ada seorangpun yang bisa menghentikan Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade yang telah pulih sepenuhnya. Adalah tanggung jawabku dia sampai pulih—dan tanpa terhentikan dia akan kembali memakan orang.

Dengan cara yang sama dengan yang telah dilakukannya sampai saat ini.

Mulai sekarang ini telah menjadi tanggung jawabku.

“Guillotine Cutter tak punya banyak pilihan—dalam rentang waktu aku pergi beli sesuatu di minimarket, seperti cemilan antara waktu makan, dia dicincang dan kemudian dimakan. Bahkan Dramaturgie dan Episode, yang sudah kembali ke tempat asal mereka masing-masing, takkan sanggup melawannya. Jika aku coba pikirkan lagi kemungkinannya, mungkin masih ada Oshino—tapi dia tak mau terlibat kalau tak ada hubungannya dengan mendatangkan keseimbangan. Dia punya prinsip tegas—urusan Kiss-Shot buatnya sudah berakhir. Di samping itu, bahkan Kiss-Shot mulai sekarang takkan membiarkan jantungnya dicuri lagi dengan mudah. Sudah enggak ada lagi yang akan bisa menghentikan dia sekarang.”

“Termasuk juga kamu?”

Hanekawa berkata, menyela.

“Tak bisakah kau… menghentikannya? Atau lebih tepatnya… bukannya hanya kau sekarang yang bisa menghentikannya?”

Itu…

…benar-benar kata-kata yang tak kuduga.

Dan itu benar-benar sesuatu yang luput kusadari.

“Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade… vampir berdarah besi, berdarah panas, dan berdarah dingin, ‘kan? Dan kau bawahannya satu-satunya. Kalau kita berpikir sebaliknya, bukannya itu juga berarti hanya kau seorang yang bisa menghentikannya?”

“…Ah.”

Apa yang gagal kusadari…

…dan apa yang kuabaikan…

…ternyata itu.

Kenapa aku tak menyadari hal sesederhana itu? Jika Dramaturgie, Episode, Guillotine Cutter, maupun Oshino tak bisa melakukannya…

Maka aku, Araragi Koyomi, yang telah mengumpulkan dari mereka berempat kaki kanan, kaki kiri, kedua lengan, dan jantung, tak punya pilihan selain melakukannya.

Itulah yang harusnya kulakukan.

Itulah… tanggung jawabku.

Mengesampingkan apa yang bisa dan tidak bisa kulakukan.

Benar, aku telah membuat kekacauan besar.

Tapi aku masih malah… tak berbuat apa-apa!

Aku… akan membasmi Kiss-Shot.

Kuutarakan dengan kata-kata.

Kata-kata itu berhubungan erat dengan perasaanku yang sesungguhnya.

Benar.

Itu sesuatu… yang hanya aku yang bisa lakukan.

Aku akan hentikan… Pemusnah Kaii itu!

Kalau itu yang harus kulakukan… maka aku tak punya pilihan selain melakukannya!

Di dalam kepalaku, aku merasakan sesuatu berbunyi—aku merasakan roda-roda gigi di dalamnya bergerak.

“Ekspresi wajahmu sudah berubah.”

Dan.

“Mumpung kita membahasnya, aku mau beritahu sesuatu yang baik, Araragi.”

Hanekawa berkata, meneruskan kata-katanya dengan penuh ketegasan.

“Mungkin bisa jadi hal buruk sih.”

“Hm? Baik atau buruk? Bicaranya jangan penuh teka-teki begitu.”

“Untuk kau yang sekarang, mungkin akan menyusahkan, tapi untukmu sesudah beberapa lama, akan jadi menguntungkan.”

“Jadinya malah tambah tak jelas, tapi…”

“Kemarin, aku pergi ke perpustakaan—aku meneliti sedikit. Pada malam kemarin lusa kau mengalahkan Pak Guillotine Cutter dan mengumpulkan bagian-bagian tubuhnya… yah, kau tak benar-benar memperoleh jantungnya, tapi dengan itu kau dibilang bisa kembali jadi manusia. Tapi… aku kemudian cemas.”

“Cemas?”

“Aku cemas soal apakah Heart-Under-Blade benar-benar akan mengubahmu kembali jadi manusia.”

Walau aku tak meragukannya, kata Hanekawa.

“Jadi, aku memperhitungkan kemungkinan seandainya dia tak mengubahmu kembali jadi manusia—dan aku meneliti apakah ada metode lain yang bisa mengubahmu kembali jadi manusia.”

Dengan kata lain…

Hanekawa meneliti… sebuah metode untuk mengembalikan vampir ‘mantan manusia’ yang telah digigit seorang manusia dan dijadikan bawahannya untuk kembali jadi manusia…

“…Apa metode semacam itu benar-benar ada?”

“Ada. Tapi cuma satu.”

Hanekawa mengangguk.

“Saat seorang pelayan, yang biasanya mematuhi tuannya, melukai sang tuan, maka pada saat itu, hubungan tuan dan bawahan antara mereka akan runtuh, dan kondisi penghambaan sang pelayan akan berakhir.”

“…? Aku tak paham maksudnya, tapi…”

“Dengan kata lain, selama kau mengalahkan Heart-Under-Blade—tak peduli apapun keinginannya, maka kau akan kembali menjadi manusia.”

“Itu…”

Aku…

Semula aku… begitu terkejut dengan aturan sederhana itu.

“Itu… benar?”

Runtuhnya hubungan tuan dan bawahan antara mereka.

Bahkan sekarang, aku bisa bilang hubungan itu sudah mulai runtuh—dan dengan memberikannya dorongan terakhir…

…Aku akan bisa kembali jadi manusia.

Jadi begitu rupanya.

“Aku menemukan penjelasan yang sama dalam beberapa buku, jadi kurasa infonya dapat dipertanggungjawabkan—buatmu yang tak ingin kembali jadi manusia, dan ingin mati, ini mungkin menyusahkan, tapi ini tak bisa dihindari. Karena hanya kau seorang yang bisa mengalahkan Heart-Under-Blade.”

“…Itu memang menyusahkan.”

Ya.

Sebab bagaimanapun juga, jika kau sudah bersiap dengan baik maka kau tak perlu lagi kuatir, ya?

Itu sesuatu yang tak yakin bisa kuungkap sebagai sesuatu yang sepele macam membunuh dua burung dengan seekor batu. Itu benar-benar…

“Itu benar-benar… menyusahkan. Semuanya benar-benar berjalan seperti yang kau pikirkan.”

“Ini yang kusebut akal bulus. Kalau aku boleh mengatakannya sendiri—kupikir rasanya seperti bermain kotor.”

“Kau… benar-benar tahu segalanya.”

“Aku tak tahu segalanya. Aku cuma tahu apa yang kutahu.”

Araragi, kata Hanekawa.

“Dengan begini kau tak punya pilihan selain kembali lagi jadi manusia, bukan? Karena tak mungkin lagi, pada titik ini, bisa kau biarkan Heart-Under-Blade begitu saja.”

“Tak mungkin aku…”

“Atau kau mau melarikan diri?”

Hanekawa mengatakan itu sebagai penuntas.

“Kalau kau masih bilang ingin lari, aku… akan menghentikanmu dengan segenap tenagaku.”

Aku agak berharap kau beri aku sedikit kesempatan beristirahat.

Tentu saja tanggung jawab akan bersisa—tanggung jawabku karena telah menyebabkan semua masalah ini tetap tersisa, dan itu bukan sesuatu yang akan pernah menghilang.

Tapi…

Masalah ini… bisa dibereskan.

Kalau aku bisa melakukannya, maka aku tak memiliki pilihan selain melakukannya.

Lebih baik dari kematian sederhana.

Lebih baik dari kematian mudah, ini sungguh menjadi suatu penebusan.

Sekali lagi kutatap Hanekawa.

Dan sekali lagi aku berpikir betapa dirinya luar biasa.

Sampai beberapa waktu lalu, yang kupikirkan hanyalah soal mati—apapun yang kukatakan, yang kupikirkan hanyalah soal bagaimana aku bisa menghukum diriku sendiri, akan tetapi aku berbicara dengan Hanekawa sebentar, dan sebelum kusadari, pikiran itu bahkan sudah kusingkirkan.

Aku berpikir bahwa aku belum boleh mati sebelum aku bicara dengan Hanekawa—tapi sebaliknya, justru karena aku bicara dengan Hanekawa, aku tak lagi boleh mati.

Hanekawa pastinya takkan membiarkanku mati sekalipun sesudah aku membasmi Kiss-Shot dan kembali lagi menjadi manusia. Hanekawa akan melakukan seribu satu siasat, dan dia takkan membiarkanku melakukan hal itu, kurasa.

Aku benar-benar baru mendapatkan teman yang menyusahkan.

Sekaligus… aku baru mendapatkan teman yang sangat baik.

“Kalau begitu, maka masalahnya adalah… apakah aku akan bisa mengalahkan Kiss-Shot atau tidak.”

Vampir yang kedudukannya paling dekat dengan Kiss-Shot.

Itu pastinya aku… tapi, walau begitu, perbedaan kedudukan kami sebagai pelayan dan tuan bisa berakibat fatal. Memulai revolusi bagaimanapun juga sama sekali bukanlah hal mudah.

“Aku setuju. Walau aku menyusun rencana—itu tak berarti tak ada celah di dalamnya. Kemungkinan kau kalah akan menjadi hasil terburuk, setidaknya bagiku. Kau mati seperti yang kau inginkan—lalu sang Kaii, Heart-Under-Blade, tetap hidup… dengan aku dimakan olehnya. Dia memandangku sebagai makanan jalan, jadi mungkin dia mengingat wajahku.”

“Kau punya persiapan buat mengatasi itu?”

“Hm? Tidak. Aku belum memikirkannya sejauh itu.”

Hanekawa menggelengkan kepala dengan wajah resah.

“Dirinya mempunyai garis keturunan yang khusus, bukan? Entah mengapa, Heart-Under-Blade rasanya kurang sesuai dengan kesan vampir-vampir yang sudah ada. Seperti yang kau dan Oshino bilang, keabadiannya begitu tinggi, sampai segala kelemahannya tak llagi tampak sebagai kelemahan lagi.”

“Kalau kita berasumsi kalau pada dasarnya aku sama dan dia—maka masalahnya hanya sebatas panjang karir saja…”

“Lalu ada juga soal mental.”

“Soal mental?”

“Soal apakah kau bisa mengalahkan Heart-Under-Blade yang telah hidup bersamamu sepanjang liburan ini, Araragi.”

“…”

Dirinya telah merawatku.

Mengawasiku dengan penjagaan konstan.

Untuk menyelamatkanku agar tak sampai terbakar matahari, dirinya telah mengorbankan tubuhnya sendiri.

Dan… dia telah menjadi penyelamat hidupku.

Nyawa yang dengan mudah kucoba buang…

Dirinya tak sampai menghisapnya untuk dirinya sendiri.

Mungkin apa yang dirasakannya lebih mirip dengan rasa sayang yang manusia miliki terhadap binatang…

Tapi tetap saja.

Misalnya adalah waktu kami berada di atap itu.

Kami tertawa bersama, saat itu.

“…Aku bisa atasi soal mental itu.”

Dengan segenap tekad, aku mengatakannya.

“Aku pasti akan bisa membasminya.”

“Ya.”

Hanekawa mengangguk.

Walau nampaknya masih ada hal-hal yang ingin dikatakannya, Hanekawa memutuskan untuk membiarkannya tak terkatakan.

Sebagai gantinya—dia berkata, “Yah, kalau begitu. Tentu saja, aku akan menolong. Aku juga punya tanggung jawab sebagai penyusun siasatmu ‘kan? Kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan, jangan segan-segan untuk bilang ya.”

“Jangan segan-segan… ya.”

“Ahahaha, walau aku bilang begitu, bantuan yang kubayangkan bukan hal-hal yang nakal sih.”

Walau yang ditambahkannya hanya sebuah alinea, Hanekawa benar-benar sedang berusaha merubah suasana, tertawa riang dengan cara seperti itu—tak mungkin.

Karenanya ini pasti kesalahpahaman… ya ampun, bukannya cara bicara tadi semacam petunjuk untuk dengan lihai mengarahkan percakapan kan?

Kenapa dia malah mencoba membantuku dengan mengangkat topik ini?

Bantu aku dengan menyiapkan hal-hal seperti rencana perang dong!

Serius, hal-hal konyol apa yang sedang kau katakan pada Araragi Koyomi yang gentleman ini? Jangan segan-segan, apanya!

“Hanekawa.”

“Ya?”

Tatkala Hanekawa sedikit memiringkan kepalanya ke sisi, aku berkata dengan cara sesopan mungkin, “Bolehkah aku menyentuh dadamu?”

“… … …”

Ekspresi wajah Hanekawa membeku dengan kepala masih dimiringkan.

Bagaimanapun, dirinya mempertahankan wajah tersenyumnya.

Udara berat seketika memenuhi gudang olahraga.

Apa yang bisa kulakukan bila ada atmosfer seberat ini….

“Dadamu.”

“Aku mendengarmu.”

Uhhmmm, Hanekawa kemudian menatap ke atas, kemudian ke bawah.

Selanjutnya dia melihat ke arahku lagi.

“Kenapa kau membutuhkannya?”

“Aku membutuhkannya dengan segala cara.”

Aku berkata.

Aku pasang ekspresi wajahku yang paling serius.

“Kau tak melihatnya sih. Seperti apa Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade dalam wujudnya yang sesungguhnya.”

“Hm? Yah… berhubung aku sudah melihat wujud usia 12 dan 17 tahunnya, bukan berarti aku tak bisa membayangkan wujud 27 tahunnya.”

“Sepertinya wujud aslinya melebihi bayanganmu.”

Aku berkata, sembari mengangkat jadi telunjukku.

“Dia punya buah dada yang jauh melebihi bayanganmu.”

“…Buah dada.”

“Aku khawatir aku kalah jika perhatianku sampai teralihkan oleh besarnya dadanya itu. Dadanya itu pasti akan bergoyang berulangkali di tengah-tengah pertarungan. Karena itu aku ingin jalani latihan terkait hal itu untuk berjaga-jaga.”

“Ooooh.”

Hanekawa mengerang.

“Itu alasan yang lebih tolol dari bayangan…”

“A-Apa itu enggak masuk akal?”

“…Hmmmmm.”

Hanekawa tanpa suara memejamkan mata dan menyatukan kedua belah alisnya seakan sakit kepala.

“…Boleh kalau begitu.”

“Hah?! Serius?!”

Kenapa?

Apa dirinya mengakui kalau beberapa bagian argumenku memang masuk di akal?

“Tunggu sebentar.”

Katanya.

Pertama Hanekawa melepas ikatan syal yang dikenalannya dan melepas sweater seragamnya—kemudian ia mengeluarkan tepi blus yang dimasukkannya ke dalam rok. Sementara aku kebingungan dengan apa yang sedang dilakukannya, Hanekawa juga memutar kedua lengan ke belakang badannya dan memasukkan kedua belah tangannya ke dalam blus.

Beberapa detik berlalu.

Dari dalam blusnya, Hanekawa melepaskan bra yang sudah tak terkait. Dengan tangan terlatih, Hanekawa kemudian melipatnya, dan kemudian ia menyembunyikannya di bawah matras yang sedang ia duduki.

Selanjutnya, dia memandangku.

“Oke, sentuhlah.”

“… …. … …!”

Aku tak meminta sebanyak ini!

Apa-apaan situasi ini?!

Aku belum mempersiapkan hatiku!

Dia-Dia tak perlu sampai harus melepasnya!

Dia tak perlu sampai melepas apapun!

“E-Eeeeeeh?”

Lagipula, apa-apaan ini?

Entah bagaimana, pada detik ia melepas sweater sekolahnya dan melepaskan baju dalamnya, rasanya, kedua buah dadanya seakan mengembang… apa ini ilusi optis?

Tak mungkin, kekuatan mata vampir kebal terhadap ilusi.

Hanekawa sekarang, setidaknya, sejauh yang bisa kulihat dari blus, takkan kalah dari Kiss-Shot, tidak, dirinya mungkin memiliki dada yang tak mungkin bisa dibandingkan.

Apalagi, bentuknya juga luar biasa.

Walau Hanekawa telah melepas pakaian dalamnya dan semestinya keduanya telah kehilangan tumpuannya, keduanya seakan-akan menentang hukum alam—kenyataannya seolah Hanekawa bisa melawan tarikan gravitasi sembari mempertahankan wujudnya sebagai manusia!

Ini benar-benar jauh melebihi bayangan.

Tentu saja, aku merasa Hanekawa memenuhi kelayakannya, dan karena itu aku membuat permintaan itu, tapi tetap saja, sudah tak sopan bagiku untuk mengatakan bahwa semuanya adalah untuk latihan.

Hanekawa Tsubasa.

Dirinya bisa bertanding seimbang melawan Kiss-Shot seorang diri.

Sama sekali tak terbayangkan Hanekawa punya dada seperti ini!

T-tapi…?

Berdiri, Hanekawa berjalan ke arahku (dan setiap langkahnya memperlihatkan gerakan yang jauh melampaui bayanganku, jadi kupejamkan mataku, dan aku tak bisa bergerak, seakan-akan lumpuh), dan segera dirinya duduk di hadapanku—meluruskan lengannya di kedua sisi, dengan keras ia menarik otot-otot punggungnya, dan lewat satu tarikan ia membusungkan dadanya ke arahku.

Dalam postur begini, dadanya kelihatan bertambah besar saja.

Tak diragukan ini bisa dibilang membusungkan dada.

Terlebih, karena kain blusnya cukup tipis, gambaran menyeluruh dari dada Hanekawa boleh dibilang hanya segaris tipis dari keeksplisitan.

“Araragi.”

“Eh? Ah, apa?”

“Berhubung kau akan memijatnya, pastikan kau memijatnya secara benar, ya.”

“Y-Ya?”

“Kupikir kau memijatnya sekurang-kurangnya enam puluh detik.”

“E-enam puluh detik…”

Tak mungkin.

Tantangannya terlampau tinggi!

Apa maksudnya dengan memijat secara benar?

Sebelum aku sadar, urusannya sudah berubah dari menyentuh menjadi memihat.

Sial, sekarang aku enggak bisa lagi bilang kalau ini cuma lelucon…

Apa yang sedang kulakukan pada temanku yang berharga?

“Melakukannya jangan setengah-setengah!”

“S-siap Bu!”

Sebagaimana diperintah, aku mempersiapkan kedua belah tangan secara refleks.

Aku mempersiapkannya, tapi lebih dari itu, aku tak sanggup bergerak.

Bagaimanapun, akibat kekuatan genggaman tangan yang dipunyai vampir, aku sebenarnya tak bisa tak setengah-setengah, tapi aku tak tahu kekuatan sebesar apa yang bisa kuberikan. Maksudnya, aku bahkan tak tahu apa aku harus memulainya dari atas atau bawah… dan aku sama sekali tak punya bayangan soal apa yang harus kulakukan sesudah gerakan yang pertama.

Jelasnya, keduanya takkan muat dengan tanganku saja…

Karena itu aku ragu untuk bergerak dari depan.

Mungkin bisa coba dari samping—tidak, tidak.

Uh, ada hal lain yang lebih penting di sini.

“H-Hei, Hanekawa.”

“Hm? Ada apa?”

“Bisa kau berbalik?”

Aku berkata dengan suara yang tahu-tahu saja memelan.

“Sulit melakukannya kalau harus sambil melihat wajahmu.”

Dengan hanya cahaya senter, mungkin Hanekawa tak bisa melihatku secara jelas, tapi sebagai vampir aku bisa melihat ekspresi wajahnya secara sempurna.

Wajahnya benar-benar sudah merah.

Dirinya sedang menggigit bibirnya.

Ini sulit.

“… … …”

Tetap tak bersuara, Hanekawa tiba-tiba mengangguk dengan patuh, kemudian menghadap ke arah berlawanan.

Aku bisa melihat akar kepang rambutnya.

Aku tak pernah memperhatikannya sebelumnya, tapi rambutnya benar-benar indah… sama sekali tak ada tanda-tanda kerusakan. Kurasa dia secara teratur merawatnya.

“Ugh… …”

Ah, tapi sekarang malah lebih sulit.

Berhubung Hanekawa telah membalikkan badan, sekarang aku harus melingkarkan tanganku ke depan badannya, tapi dalam kasus ini kedua lengannya yang terapit lurus ke badannya sedikit merintangi jalan…

“A-Angkat tanganmu ke atas kepala.”

“Memang ini senam radio?”

Meski berkata begitu, Hanekawa tetap mengangkat kedua lengannya.

Dengan begini, celah sudah terbuka.

Kemudian aku menyelipkan kedua lengan ke bawah kedua ketiaknya itu—jelasnya, sesudah sejauh ini, kedua tubuh kami sudah nyaris bersentuhan. Sebenarnya, karena Hanekawa menghadap arah satunya, jika aku menyentuh dadanya, tentunya aku akan terkesan seperti sedang memeluknya dari belakang…

Bahkan mengukur jarak pun sulit—haruskah aku menyilangkan lengan? Jangan, bukannya lebih mudah untuk menggenggam jika aku melanjutkannya secara normal.

Kubuka jari-jemariku.

Hanekawa masih belum bergerak sama sekali dari beberapa saat lalu—tapi dari belakang bisa kupahami bahwa dirinya gugup. Namun, aku sendiri jelas gugup juga.

Jantungku berdebar.

“K-Kau takkan marah sesudahnya?”

“Tenang saja. Aku takkan marah.”

“Sungguh?”

“Sungguh.”

“…Oke kalau begitu, kalau-kalau saja kau mengajukan persidangan nanti, tolong sekarang bilang, ‘Araragi, kumohon mainkanlah buah dadaku yang tak ber-bra.”

Krak!

Aku mendapat kesan kalau aku mendengar bunyi itu.

Itu pastilah bunyi urat nadi Hanekawa menyembul keluar. Atau itu otot wajahnya yang menyembul.

“A… A-Araragi, k-kumohon, m-mainkan b-buah d-d-dadaku yang tak ber-bra.”

“Enggak. Enggak bisa kalau dikatakan dengan suara pelan. Itu membuatmu terkesan seolah kau membencinya dan aku sedang memaksamu melakukannya melawan kemauanmu. Kamu mesti mengatakannya dengan suara lebih lantang apa yang kau ingin aku lakukan, atas keinginanmu sendiri.”

“Araragi! K-Kumohon mainkanlah buah dadaku yang tak ber-bra!”

“…Sungguh suatu kehormatan buah dadaku bisa dipijat oleh Araragi.”

“S-Sungguh suatu kehormatan… buah dadaku bisa dipijat oleh Araragi…”

“Um… Aku menumbuhkan buah dada yang lezat ini semata agar bisa dipijat Araragi.”

“Aku menumbuhkan b-buah dada yang lezat ini semata agar bisa dipijat Araragi.”

“Serius. Meski tak terlihat begitu, tapi kau memang benar-benar orang mesum, Hanekawa.”

“…Ya, saya sangat mesum, maafkan saya.”

“Kau enggak perlu sampai meminta maaf. Tak peduli semesum apapun kau, itu tak berarti bakal ada orang yang sampai terganggu dengannya.”

“I-Iya juga, ehehe.”

“Kalau begitu, konkritnya, dengan cara apa buah dada dari sang ketua kelas yang mesum dan serius bisa dibilang lezat?”

“Aku bisa bangga d-dengan ukurannya, dan kelembutannya… dan ketiadabandingannya saat dipegang!”

Aaah.

Aku paham, sekarang aku mengerti.

Selama pubertas, bahkan akupun mengalami kebingungan umum tentang untuk tujuan apa aku dilahirkan ke muka bumi… tapi kini, di usia tujuh belas tahun, akhirnya telah kutemukan jawaban dari pertanyaan itu.

Aku telah menemukan pencerahan.

Aku hidup selama ini semata-mata untuk hari ini.

Manusia bernama Araragi Koyomi dilahirkan ke dunia ini semata-mata untuk melalui pengalaman yang terjadi hari ini… tunggu, itu salah. Ini sudah bukan lagi dalam cakupan pribadiku semata.

Tentunya dunia ini sendiri ada semata-mata agar aku bisa sampai mengalami apa yang kualami hari ini.

Mulai titik ini, apapun yang akan tercatat dalam sejarah dunia sudah sama sekali tak penting lagi!

“Walau begitu, normalnya enggak mungkin seseorang boleh memijat buah dada temannya!”

Aku kabur.

Akulah orang yang akhirnya angkat tangan, aku mengambil tiga langkah mundur dan mulai menangis.

Itu sebuah postur yang teramat mirip dengan sebuah sujud.

“Enggak mungkin! Hal seperti itu enggak terjadi! Enggak terjadii!”

“…Pengecut.”

Hanekawa mengatakan itu dengan nada suara teramat rendah.

Bahkan tanpa menoleh ke arahku.

Bahkan tanpa melihat posturku yang sedemikian dekatnya dengan sebuah sujud.

“Pengecut. Pengecut. Pengecut pengecut pengecut pengecut.”

“Aku memang pengecut. Aku memang ciut. Aku minta maaf. Apapun yang kau katakan, aku tak punya kata-kata untuk membalasnya. Tolong maafkan aku. Ini salahku. Aku terbawa suasana. Aku malah memanfaatkan kebaikanmu Hanekawa, tapi berkat keterlibatanmu juga, aku akhirnya sadar.”

“Kamu kira akan kubiarkan semuanya berakhir begini? Kamu pikir sebesar apa tekad yang harus kukumpul untuk bisa duduk di sini seperti ini?”

“Eng-engga, orang sepertiku sama sekali enggak mungkin punya bayangan, tapi mumpung kita membahasnya, aku mau saja dengar sebesar apa tekad yang kau perlukan.”

“Jujur, kupikir ini takkan berakhir dengan hanya pijatan semata… Ah, jadi begitu rupanya, pengalaman pertamaku akan kudapatkan di atas matras di dalam gudang olahraga.”

“Bukannya agak terlalu cepat buat punya tekad semacam ituuu?!”

“Yah, tapi hal-hal seperti itu terjadi.”

“Terjadi apanyaaa!”

Perempuan zaman sekarang memang percaya diri, tapi… dalam keadaan gimanapun juga!

“Dan lagi, sesudah kau dengan jahatnya menggoda dan mempermalukanku, kau bahkan tak menyentuhku seujung jari pun….!”

“Itu alasan kenapa aku sekarang meminta maaf, tahu.”

“Jadi kalau kau minta maaf, masalahnya selesai. Huh. Jadi aku ada dalam posisi di mana kalau kau meminta maaf, aku wajib memaafkanmu. Huh.”

“Aku tahu ini tak bisa dimaafkan, tapi tolong maafkan aku, wahai ketua kelasku yang cantik dan berkacamata!”

“…Ini kali pertama ada seseorang yang begitu membodohiku.”

“Gyaaaaa!”

Apa ini soal dadanya?

Atau soal kacamatanya?

Atau soal ketua kelasnya?

“Araragi… apa aku sebegitu tak menariknya?”

“…. …. …. ….!”

Hentikan hentikan hentikan hentikaaaaan!

Berhentilah menindasku dengan kata-kata seindah itu!

“I-I-Itu karena bila aku pijat dadamu dalam situasi begini, mungkin aku akan menyesalinya seumur hidup!”

Aku juga mungkin akan menyesal karena tak memijat dadamu.

Tapi aku lebih memilih menyesal tak memijat dadamu daripada menyesal karena telah memijat dadamu!

“K-Kalau begitu, buat gantinya, boleh aku memijat bahumu?”

“Bahuku?”

“Ya. Bahumu. Aku ingin memijat bahumu.”

“… …Baik, sepakat.”

Akhirnya kita sampai ke persetujuan.

Aku lalu memijat bahu Hanekawa.

Pijat pijat pijat pijat.

Whoa, bahunya tak kaku sama sekali.

Aku dengar bahwa mereka yang bermata rabun lebih gampang mengalami pegal bahu… dia memang gadis yang sehat. Dengan cara begini, bahkan aku, yang bukan ahli pijat, bila memijatnya, rasanya sama sekali takkan enak.

Tentu saja dirinya tak memiliki urat sama sekali di bagian ini.

Aku bisa jelas merasakannya dari bentuk tulang-tulangnya—apa ini tulang dada?

Uh… sudah.

Tunggu tunggu, masih belum.

Pijat pijat pijat pijat.

Enam puluh detik berlalu dengan cara seperti itu.

“S-Sudah. Terima kasih.”

Ditambah memijat bahunya, aku juga berakhir dengan berterima kasih padanya.

Aku benar-benar karakter yang begitu pelayan.

“Apa itu cukup.”

“Y-Ya. Lanjutannya nanti saja di internet.”

“Seperti bisa saja kau memijat di internet.”

“Ka-Kalau gitu, lanjutannya nanti di tahun ajaran baru.”

“Ya. Itu lebih baik.”

Hanekawa mengangguk.

Kedua kepang rambutnya bergoyang pada saat yang sama.

“Kau sudah sampai sejauh ini dengan seorang gadis.”

Sementara aku melepas kedua tanganku dari bahunya, Hanekawa bangkit dan berjalan ke mana ia sebelumnya berada di matras, tapi ia tak duduk, melainkan berbalik ke arahku sembari berdiri.

“Jadi jangan bilang kau akan kalah ya.”

“Aku takkan.”

Kurasa sekarang sudah waktunya aku kembali ke cara bicaraku yang semula, kelihatannya aku selalu memakai ekspresi sopan dengan Hanekawa selama ini.

Tapi, bukan cuma saat ini.

Aku bisa mengucapkannya secara jelas.

“Aku enggak akan kalah.”

Aku berhasil mengucapkannya.

“Sekalipun harus merelakan dadamu sebagai bayarannya!”

“Sebenarnya, bagian itu lebih baik dibiarkan tak dibahas.”

Sepertinya jenis semangat yang kami berdua rasakan sedikit berbeda.

Hanekawa berkata, “mengesampingkan itu.” dan berdehem sekali.

Dan sesudahnya ia berkata.

“Yang kali ini adalah pertarungan terakhir.”

“Ya. Ini bakal jadi tirai penutup dari Gakuen Inou Batoru.”

Persis sesudah aku mengatakan itu.

Di luar gudang peralatan olahraga… terdengar bunyi menggelegar.

Catatan:

kuda-kuda lompatan: … ini terjemahannya apa ya? Itu loh, kotak persegi yang suka yang dilompatin dalam cabang olahraga senam.

bukan jadi manusia: soal perkataan Hanekawa pada Araragi, dalam bahasa Jepang, kata ‘ningen’ dapat diterjemahkan sebagai ‘orang’ maupun ‘manusia’

senam radio: kuasumsikan semua orang sudah tahu ini apa.


About this entry