Kizumonogatari – IND (015)

Buat yang sudah nunggu, aku benar-benar minta maaf karena ngerjain ini butuh waktu lama.

Jadi, beberapa bulan terakhir aku terlibat dalam semacam ‘proyek’ gede, dan proyek itu menyita perhatian dan waktuku lebih banyak yang kusangka.  Keterlibatanku di proyek ini karena suatu alasan jadi ‘diputus’ begitu saja. Jadi, yea, lanjutan ceritanya agak enggak enak.

Tapi eniwei, aku jadi bisa melanjutkan proyek-proyek pribadiku. Jadi berikut ini lanjutannya.

Berhubung sudah Desember, sisa babnya akan kukebut.

015

“Yyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy-yahoo!”

Itulah… hal pertama yang diucapkan Kiss-Shot dalam wujudnya yang utuh.

Malam tersebut, sesudah Kiss-Shot bangun, kuserahkan ketiga potongan tubuh yang Oshino berikan padaku kepadanya—tentang jantungnya, Kiss-Shot sempat kebingungan, tapi lalu kujelaskan kebenaran dari masalah ini sejauh yang kupaham. Kiss-Shot, menanggapi semuanya dengan “Begitukah.” yang riang, dan kemudian menggigiti jantung berwarna merah tua itu seakan-akan itu sebuah apel.

Tata krama menyebutkan bahwa tak semestinya kita memperhatikan bila ada seorang perempuan sedang makan.

Maka dari itu, akupun melangkah keluar ke lorong.

Kemudian, sesudah beberapa lama—kudengar pekikan tawa penuh geli.

Itu merupakan… sebuah luapan kegembiraan dari lubuk hati yang terdalam.

Kubuka pintu dan kembali ke ruang kelas.

Kiss-Shot dalam wujudnya yang utuh tengah berdiri di sana.

Ini adalah sosok yang sama dengan perempuan yang kutemui hari itu di bawah lampu jalan.

Rambutnya yang keemasan.

Kuperhatikan kini lebih panjang, dan kini ditata dalam bentuk satu buntalan di tenguknya.

Bajunya yang manis—kuperhatikan badan Kiss-Shot lebih tinggi dariku.

Jujur saja, kupikir dirinya luar biasa cantik.

Bukan sekedar menarik, atau keren—kurasa seumur hidupku, mungkin saja, aku belum pernah menyaksikan seseorang secantik dirinya.

Tidak.

Bahkan hari itu pun, aku sebenarnya berpikir demikian.

Tak diragukan lagi—inilah wujud Kiss-Shot yang sesungguhnya.

Seperti inilah tampilannya dalam sosoknya yang utuh.

“Yahoooo! Beta telah pulih! Beta telah pulih!”

“… … … …”

Yah, andai saja dalam wujudnya yang utuh ini dirinya tak melakukan hal-hal seperti berlari dan melompat-lompat dalam ruang kelas sempit ini, kenangan yang kudapat dari kejadian ini pastinya bakal lebih berkesan. Bahkan, aku mungkin bakal merasa tergerak.

Ya, Kiss-Shot bersemangat.

Sama sekali tanpa perasaan perlu menjaga citra diri atau semacamnya.

“Kiss-Shot, ngomong-ngomong, kelihatannya tadi Oshino pergi lagi waktu hari masih siang.”

“Ya? Adakah yang salah soal itu?”

“Itu, soal jantungmu, kau tak marah soalnya?”

“Tidak apa. Kepadanya, beta berikan pengampunan—atau lebih tepatnya, peduli pun beta sebenarnya tak terlalu.”

Kyahahahaha. Kiss-Shot melepas tawa dengan suara indahnya yang sama sekali tak cocok dengan sikapnya sekarang, dan kembali berlarian sambil melompat-lompat.

Hmmm.

Bagaimanapun, aku tak menyadarinya sebelumnya di bawah cahaya lampu jalan itu, tapi… dada Kiss-Shot benar-benar besar.

Setiap kali ia melompat, keduanya bergoyang, bergoyang, bergoyang, bergoyang…

Aku sampai mendapat kesan kalau bagian depan gaunnya secara tiba-tiba bakalan robek.

Begitu rupanya. Jadi dari wujud kayak gitu (10 tahun) dia mengalami proses macam itu (17 tahun), dan akhirnya menjadi begini (27 tahun) ya?

Benar-benar sebuah misteri.

“… … … ..”

Kalau aku memohon padanya pada saat ia sedang menari-nari dengan gembira begini, bisa saja Kiss-Shot memberiku izin untuk menyentuh dadanya. Bukan berarti pikiran kotor macam begitu tak mengapung dalam kepalaku, aku hanya tak punya cukup keberanian untuk mengutarakannya.

Pada akhirnya, sikap enggak tahu malu seorang manusia tetap saja ada batasnya.

“Hm.”

Lalu tiba-tiba saja…

…gerakan Kiss-Shot terhenti. Ia terpaku.

Apa? Yang benar saja! Tadi pikiranku sempat terbaca olehnya?!

Seketika aku gelisah, lalu berkata, “A-ada apa? Ada yang salah?”

Aku bahkan merasa bagian dalam tenggorokanku sampai keluar saat aku mengatakan itu.

“… … … … …”

Kiss-Shot berdiri mematung untuk beberapa lama, dan itu memperkuat rasa gelisahku, hanya saja, sesudah beberapa saat…

“Hm? Ada apa?” tanyanya. “Apa engkau tadi sedang berbicara dengan bayanganku?”

“Ba-bayangan?”

“Asal engkau tahu, beta baru saja melakukan perjalanan mengitari Bumi sebanyak tujuh setengah kali.”

Memangnya kau cahaya?!

Yang benar saja. Itu satu tanggapan lelucon yang sulit kupercaya telah benar-benar kukeluarkan.”

“Beta hanya berkelakar. Bila beta sungguh telah mengelilingi Bumi sebanyak tujuh setengah kali, maka beta saat ini pasti berada di Brazil.”

Kiss-Shot tertawa kembali.

Wow, dirinya benar-benar sedang gembira.

“Ha ha. Rasanya benar-benar menakjubkan. Merasakan keutuhan dengan diri sendiri—wahai, pelayan.”

Sesudahnya, Kiss-Shot terus menari-nari selama sekitar dua jam. Tapi pada titik itu, luapan kegembiraannya akhirnya telah sedikit mereda, dan kata-kata itulah yang kemudian dilontarkannya.

“Sekali lagi, beta sampaikan rasa terima kasih pada engkau. Tentu sejak awal beta percaya engkau dengan lihai akan satukan kembali tungkai-tungkai yang beta punya. Tapi sampai bisa menemukan pula jantung yang bahkan beta tak sadari telah diambil, itu satu hal yang sepenuhnya tak beta sangka. Pada engkau, beta limpahkan segenap penghargaan yang bisa beta berikan.”

“Entah ya.”

Walau Kiss-Shot memberiku terima kasih dan pujian, aku tak bisa tak merasa resah karena suatu alasan.

Aku tetap tak bisa menyingkirkan perasaan kalau aku telah menjadi korban dalam suatu rencana besar.

Seperti telah dipermainkan—itulah yang kurasakan.

“Aku tak merasa telah melakukan apapun selain disuruh pergi ke sana terus ke sini—daripada mengumpulkan, aku lebih merasa seperti semuanya kemudian terkumpul dengan sendiri.”

Kalau kau tanya siapa yang layak mendapat ucapan terima kasih di sini, aku merasa yang pantas itu Oshino.

Tapi berhubung Oshino bisa marah kalau kuucapkan itu, maka terima kasih itu lebih pantas diberikan pada Hanekawa.

Hanekawa Tsubasa.

Kebetulan pula, malam ini ia tak datang.

Kami telah sepakat kalau pertemuan kami berikutnya adalah pada saat tahun ajaran baru dimulai.

Itulah yang telah kami putuskan bersama.

Yah, tentunya sesudah ketiga spesialis pembasmian vampir itu kukalahkan, aku tak merasa nyawa Hanekawa akan terancam lagi—tapi tetap saja kupikir bukan ide bagus bila ia kembali ke puing-puing bimbingan belajar ini.

Pada waktu itu, kupikir masih belum pasti juga apakah Guillotine Cutter akan mengembalikan lengan-lengan Kiss-Shot atau tidak.

Jadi walau kubilang saat pertemuan kami lagi adalah di awal tahun ajaran baru—tanpa kusadari, hari yang dimaksud ternyata tak lain adalah lusa.

Waktunya sudah sedekat ini lagi.

Dan pada saat kami bertemu lagi, aku… telah kembali menjadi manusia lagi.

Setidaknya pengharapanku begitu.

… … Sampai akhir Oshino secara terang-terangan menghindari Hanekawa dan kemudian pergi. Tapi di sisi lain, kurasa aku dapat kesan kalau Hanekawa sebenarnya ingin bisa bertemu dengannya. Setelah kuingat lagi sekarang—sepertinya aku lupa bertanya padanya soal ini.

Yah—sudah terlambat untuk mempermasalahkannya sekarang.

Lebih penting lagi…

“Kiss-Shot, aku minta maaf karena ngatain ini pas kamu lagi senang-senangnya. Tapi, kalau bisa, aku ingin bisa kembali jadi manusia secepatnya.”

“Ah, tentu saja. Tenang, beta takkan mengabaikan permintaan engkau untuk kembali jadi manusia. Tapi pelayanku, sebelumnya, tidakkah lebih baik kita berbincang sebentar?”

“Berbincang?”

“Hanya sedikit lepas kangen—hah, bukan macam itu. Hanya saja ada yang beta perlu sampaikan terlebih dahulu sebelum berubahnya engkau kembali menjadi manusia.

Nada bicara Kiss-Shot sepenuhnya tenang.

Sorotan dari sepasang matanya sekali lagi terasa dingin.

Nampaknya, dirinya telah memasuki mode serius kembali.

“Oke, boleh.”

“Baiklah. Kalau begitu, mari kita berganti tempat?”

“Bukan di sini?”

“Di manapun boleh, tapi mari kita cari yang lebih bersuasana.”

Mari kita ke atas, adalah apa yang Kiss-Shot katakan.

Sebagaimana yang telah disuruh, aku keluar ruangan kelas, dan menapaki tangga—sepertinya hujan telah mereda, tapi malam telah tiba, jadi setinggi apapun kami pergi, tak ada resiko bagi kami untuk menghablur.

Kiss-Shot mendahuluiku dalam perjalanan menuju tangga, dan pada akhirnya kami naik sampai ke lantai empat.

Kiss-Shot memilih ruangan tempat aku dan Oshino berada pada siang hari sebelumnya.

Aku sempat yakin kalau Kiss-Shot akan mengajakku berbicara di sini, tapi dirinya terlihat tidak puas, dan akhirnya…

“Tidakkah lebih baik kita ke yang lebih tinggi dari ini?”

…menjadi apa yang dikatakannya selanjutnya.

“Bangunan ini enggak punya jalan buat ke atap kan? Tanda-tanda petunjuk tangga darurat juga enggak ada.”

Aku berkata, dan hanya…

“Hmm.”

…dikeluarkan oleh Kiss-Shot saat ia mengarahkan kedua matanya ke arah langit-langit.

Krak.

Begitu saja, sebagian langit-langit ruangan tersebut terhempas ke luar.

Sisa-sisa serbuk beton berhamburan, tapi dirinya, tanpa mempermasalahkan semua itu, berkata…

“Ikuti beta, pelayan.”

…dan  (seakan ini alami) dari bagian gaunnya yang terbuka seperti di dadanya, tumbuhlah sepasang sayap mirip sayap kelelawar(!), yang ia kibaskan, dan Kiss-Shot pun terbang menuju lubang yang telah dibukanya di langit-langit dengan hanya tatapannya saja.

“… … …”

Tidak, sudah ada terlalu banyak hal gila untuk bisa aku tanggapi.

Ekologimu benar-benar penuh lubang.

Maksudku, tatapan mata Kiss-Shot saja punya kekuatan destruktif! Ini sama sekali terlalu beda dari tatapan keji yang Episode punya!

Ini bahkan melampuai kemampuan perubahan wujud Dramaturgie.

Dirinya bahkan bisa menumbuhkan sayap.

Aku mencoba melakukan hal yang sama juga, tapi terlepas dari segala khayalan gila soal tumbuhan yang kuperoleh sampai selama ini, aku tak pernah membayangkan bisa mempunyai sayap, jadi tentu saja itu bukan sesuatu yang berhasil kulakukan.

Aku melakukan satu lompatan biasa, kemudian melewati rongga beton yang telah Kiss-Shot ciptakan.

Maksudku, bahkan satu lompatan seperti ini saja sudah hebat, ‘kan?

Puing-puing, atap dari bangunan bimbel itu—tak ada penjabaran yang lebih tepat selain kami sungguh-sungguh berada di bubungan atap.

Di atap itu…

…Kiss-Shot sedang menantiku dalam posisi jongkok.

Di bawah cahaya bintang di malam hari—gambaran melankolis seorang gadis yang sedang duduk mengandung semacam daya tarik ajaib. Walau aku tak paham alasannya, secara aneh aku tiba-tiba merasa tegang.

Aku tak tahu kenapa.

Aku gemetar dan tanpa sadar mengkerut.

Wujud sempurna—dada sempurna.

Keberadaan yang lengkap.

Serta—sebuah keberadaan yang superior.

Aku… merasa dirinya sedang membuatku menyadari bahwa aku bukanlah apa-apa selain bawahan dan pelayannya.

“Hm?”

Tiba-tiba, Kiss-Shot memandang ke arahku.

“Apa yang dikau lakukan? Kemarilah.”

“…Iya.”

Sebagaimana yang diperintahkan—aku duduk di sebelah Kiss-Shot.

Aku melakukannya, dan secara tak terduga aku menerima sundulan kepala.

Kiss-Shot yang melakukannya.

“Ap-apa yang kau lakukan?

“Apa yang engkau takutkan? Engkau pelayanku yang berharga. Beta takkan memakanmu.”

“B-Benar juga…”

Kata-katanya seakan menusuk hatiku.

Memang benar, sesudah aku melihat Kiss-Shot tertawa dengan cara seperti itu, aku merasa tolol karena sampai mengkerut.

Berpikir begitu, sikapku segera berbah santai.

“Nah, sekarang, apa sebaiknya yang perlu kita bahas?”

“Bukannya tadi kau bilang ada sesuatu yang kau bicarakan?”

Sesuatu soal mengubahku kembali menjadi manusia.

Itu yang kau katakan tadi.

“Pilihan kata-kata beta kuranglah tepat. Bukannya ada sesuatu yang ingin beta bicarakan, yang beta inginkan hanyalah berbicara dan berbicara tentang apapun boleh.”

“Kau mengatakan sesuatu yang aneh.”

Kalau begitu, mari kita mengobrol.

Aku tak yakin kapan, tapi aku ingat pernah diberitahu soal ini oleh Hanekawa.

Walau dirinya seorang vampir, Kiss-Shot tetap seorang perempuan, kurasa?

Mungkin tak heran bila dirinya suka mengobrol.

Jadi ini seperti semacam perayaan untuk memperingati pemulihannya.

“Apa ini sesuatu yang aku perlukan agar kau bisa mengembalikanku jadi manusia?”

“Ini memang sesuatu yang diperlukan. Oleh beta.”

“Hmmm. Tapi kau sudah hidup selama 500 tahun kan? Mestinya kau ada banyak kisah yang bisa diceritakan.”

“Kesempatan macam ini tak sering terjadi.” Kiss-Shot menanggapi kata-kataku. “Karena sepanjang waktu beta lebih banyak bertarung sampai mati dengan orang-orang seperti mereka bertiga itu—lalu sebelum beta sadari, beta telah diakui sebagai legenda. Yah, orang seperti bocah itu memang langka…”

“Bocah? …Oshino?”

“Bisa mengambil jantungku tanpa beta sendiri menyadarinya merupakan prestasi langka. Tak hanya tak dilumpuhkan… beta bahkan tak ingat kapan kami dulu bersimpangan jalan.”

“Aku juga penasaran dia sebenarnya siapa.”

“Siapa tahu? Sebab bagaimanapun, andaikata bocah itu mengabdikan dirinya untuk urusan pembasmian vampir, bahkan betapun akan dibuat gemetar olehnya. Untung saja dia oportunis yang lebih memilih bersikap netral.”

“Oportunis…”

Aku bahkan sempat berpikir kalau itu cara yang terlalu kasar untuk menggambarkan dirinya, tapi secara tak terduga, sebutan itu terasa cukup pas untuk Oshino. Seandainya aku katakan soal ini padanya, aku yakin dia malah akan membangga-banggakannya dengan tawa riang.

“Jadi apa yang terjadi kali ini boleh dikata cukup menggairahkan—namun, pada dasarnya, 500 tahun itu merupakan 500 tahun yang membosankan. …Benar juga, berbicara soal hal-hal yang sebaiknya kubicarakan, beta rasa beta perlu bercerita soal orang itu.”

“Orang itu?”

“Beta pernah jelaskan kalau engkau merupakan pelayan kedua yang beta pernah ciptakan, bukan? Maka dari itu, yang beta maksud tak lain ialah pelayan pertama beta tersebut.”

“Yang pertama…”

Sebentar.

Kalau tak salah… ini cerita tentang kejadian 400 tahun lalu, ‘kan?

“Ah, ya. Kalau enggak salah kau pernah mengatakannya. Aku pelayan yang kedua sesudah masa 400 tahun—aku ingat aku mendengar sesuatu yang seperti peluang ke Koshien.”

“Koshien?”

“Err, lupain. Tadi cuma perumpamaan. Yang lebih penting, jadi orang macam apa yang menjadi bawahanmu yang pertama? Aku ingin dengar.”

“Ya. Akan beta ceritakan.”

“Jadi dia orang yang mirip denganku?”

“Mengapa engkau berpikir demikian?”

“Er, itu karena…”

Aku belum menceritakannya.

Uh, Oshino tak sedang ada di sini sih, jadi kurasa tak apa-apa.

“…Sebenarnya, aku dengar soal ini dari Oshino. Ada dua makna dari dihisapnya darah oleh seorang vampir, jadi bila darahmu dihisap, itu tak berarti kau akan langsung berubah menjadi vampir.”

“Hm.” Kiss-Shot mengernyit. “…Jangan salah sangka. Bukan berarti beta berusaha menyelamatkan nyawamu—engkau beta ubah menjadi bawahanku semata-mata untuk mengumpulkan kembali tungkai-tungkai beta yang hilang. Sekarang, hal ini bisa beta beberkan. Tapi andai beta katakan itu dari awal, engkau belum tentu akan mau membantu, maka dari itu beta berbohong.”

“Oshino bilang kau pasti akan mengatakannya dari awal kalau begitu.”

“… … …”

Kiss-Shot terdiam. Dan pada akhirnya tak mengatakan apa-apa lagi.

Apakah itu karena perkataanku tepat atau malah sama sekali meleset… aku tak bisa memastikan.

“Gi-gimanapun, aku penasaran apakah aku mirip dengannya atau enggak… soalnya gimanapun juga, jumlah orang yang pernah kau pilih buat jadi pelayanmu sejauh ini baru dua.”

“Dirinya tak punya kemiripan apapun denganmu selain dari suku bangsa.”

Aku berusaha mengembalikan topik pembicaraan seperti sebelumnya sembari mengira kalau mestinya aku diam saja, tapi Kiss-Shot dengan datar mementahkan perkiraanku.

“Pria yang menjadi bawahanku yang pertama itu seorang kesatria… seseorang yang padanya pantas kupercayakan punggungku. Sungguh seorang kesatria yang sejati.”

“Uuuh… aku tak yakin apa aku sanggup jaga punggungmu.”

Paling-paling yang aku bisa cuma menjaga rumahmu.

Tapi sebenarnya, menjaga itupun mungkin aku tak sanggup.

“Yah, gimanapun, kejadiannya 400 tahun lalu ‘kan? Tak seperti sekarang, semua pria di masa itu sedikit banyak pastilah seorang kesatria.”

“Pandangan engkau terhadap sejarah nampaknya penuh bias dan distorsi.”

“Err…”

Sejujurnya aku tak mahir dalam sejarah dunia.

“Tidak, tunggu, gini, entah gimana aku ini orang yang punya sifat begini, jadi, kau tahu, aku bukan orang yang jago dengan cara berpikir hysteric.”

“Beta baru tahu ada makna kedua dari kata hysteric dalam arti yang bersejarah.”

Kini terungkap pula kalau aku tidak terlalu pandai berbahasa Inggris.

“Walau begitu, sudah cukup lama semenjak kali terakhir beta ke negeri ini. Jelas tampak negeri ini kini telah menjadi damai—hanya negeri ini semata yang tampak terpisah dari sisa dunia yang lain.”

“Maaf kalau aku ketagihan terhadap perdamaian.”

Aku tak yakin apa aku perlu minta maaf soal ini sih.

Namun begitu, jelas kalau aku bukanlah seorang kesatria.

Sebanyak apapun aku bersikap seperti dalam Gakuen Inou Batoru, aku tetap orang biasa luar dan dalam—tak peduli aku seterampil apapun sebagai vampir, aku tak lebih kuat dari anak SMP yang mengayun-ayun pisau roti.

Kiss-Shot pastinya kecewa.

Terlebih lagi bila pelayan pertamanya memang orang keren yang hebat.

“Tapi, kenyataan aku diubah jadi bawahan, baik itu karena kau khawatirkan aku, atau agar aku bisa kumpulkan tungkai-tungkai itu, pada akhirnya itu tetap tindakan yang dilakukan karena keadaan darurat… Jadi pada akhirnya aku enggak benar-benar merasa perlu ada kemiripan antara aku dan pendahuluku. Tapi tadi kau bilang aku dan dirinya berasal dari suku bangsa yang sama?”

“Benar.”

“Jadi dia ras mongoloid? Atau benar orang Jepang? Ah, itu pasti enggak mungkin. Berarti dari Asia daratan?”

“Bukan. Dirinya orang Jepang.”

Kiss-Shot mengucapkan sesuatu yang tak kuduga.

“Dirinya seorang pria yang kutemui saat kusia-siakan masa mudaku dengan berkeliaran di sepenjuru dunia. Kebetulan beta pelajari bahasa Jepang di masa itu pula—walau pemakaian kosa katanya telah berubah jauh semenjak saat itu.”

“Jepang 400 tahun lalu…”

Berarti itu periode Edo? Atau bukan ya?

Sial. Aku juga tak jago dalam pelajaran Sejarah.

Tepatnya, aku tak jago dalam apapun selain matematika.

“Jadi, dia bukan kesatria. Tapi lebih tepatnya, seorang samurai…”

“Hm? Ah, beta rasa kata-katamu benar.”

Kiss-Shot mengangguk.

“Bagaimanapun, dirinya lelaki yang kuat.”

“Hmmm. Kalau begitu, bukannya lebih baik kalau kau panggil dia saja? Kalau dia bilang dia bawahanmu, itu berarti juga semacam pelayan ‘kan? Kalau memang begitu, kau juga tak perlu sampai mengambil resiko dengan mempertaruhkan segalanya padaku…”

“Tidak mungkin. Sebab dirinya sudah mati.”

Kiss-Shot menyela perkataanku.

Secara harfiah, kata-katanya tersebut praktis menyela perkataanku.

“Soal itu, pun, sebenarnya sebuah cerita lama… Ingatkah engkau? Pernah beta berkata kalau dalam pertarungan, beta terkadang menggunakan katana.”

“Hm?”

Apa iya dia pernah memberitahuku hal ini?

Ah, iya, kapan ya, kalau tak salah ini sesuatu yang sempat disinggungnya saat kami membahas bilah-bilah panjangnya Dramaturgie. Kalau tak salah Kiss-Shot sempat mengatakan sesuatu soal menghasilkan sebilah pedang dengan kekuatan penciptaan materi.

Aku sama sekali lupa tentang hal itu.

…Tapi aku lega aku bisa ingat hal itu tanpa harus mengutak-atik isi otakku lagi.

“Katana yang kusebutkan waktu itu, adalah peninggalan darinya.”

Katanya.

Kiss-Shot kemudian menusukkan tangan kanannya ke dalam perutnya sendiri. Tangannya menembus kain bajunya, jemarinya melubangi organ-organ dalamnya dengan mudah.

Dan kupikir semuanya bisa berakhir tanpa aku harus mengutak-atik isi otakku…

Tanpa mempedulikanku yang tecengang, Kiss-Shot menarik keluar tangan kanannya dari dalam perut—yang kini memegangi sesuatu yang terlihat seperti pegangan sebilah pedang.

Terlebih lagi, bentuk pegangan itu… itu pegangan pedang Jepang?

Tebakanku ternyata sama sekali tak salah.

Pedang yang Kiss-Shot cabut dari dalam perutnya sendiri, dengan panjang total sekitar dua meter, rupanya adalah sebilah oodachi.

Youtou, ‘Kokorowatari’, bilah pedang kelas pertama dari seorang ahil pedang yang tak bernama, meski nampaknya pada masanya dirinya cukup dikenal. Yah, beta tak terlalu memahaminya secara baik, asal pedang ini bisa dipakai memotong saja sudah cukup.”

“Eeh…”

Sesudah luka besar di perut Kiss-Shot mulai pulih—aku mulai bisa memperhatikan katana yang dicabutnya secara seksama. Ukurannya panjang… tapi walau panjang, ukurannya tak lebih panjang dari pedang-pedang melengkung Dramaturgie. Meski begitu, walau pasangan flamberge yang Dramaturgie gunakan memiliki bentuk dengan kualitas artistik, pedang-pedang Jepang memiliki daya tarik unik mereka tersendiri.

Kalau aku hrus mengatakannya, untuk Kiss-Shot, dengan rambut pirang dan gaun yang dikenakannya, sebilah katanya berkesan tidak cocok dengannya—salah, sejak awal, tak peduli setajam apa sebilah pedang, apa mungkin ada senjata yang dapat menandingi tenaga super yang seorang vampir punyai?

“Jangan bergerak.”

Tiba-tiba saja, Kiss-Shot mengayunkan pedang itu, Kokorowatari.

Sekilas ayunan tersebut terlihat seperti gerakan mengibaskan debu dari permukaan pedang—namun kenyataannya bukanlah seperti itu.

“Hei…”

“Jangan bergerak. Saat ini, engkau baru saja terpotong oleh beta.”

“E-Eeeh?”

“Apa engkau merasakan sakit?”

“Eh? Enggak…”

“Hmmm. Itu berarti kemahiranku sama sekali belum berkurang. Kini engkau boleh bergerak lagi. Lukamu telah mulai pulih kembali.”

“A… Apa ini… kebohongan lain macam yang keliling dunia dalam tujuh setengah kali putaran tadi? Tadi kau bilang pulih, tapi pakaianku kan tak bisa pulih.. memang kau tadi memotong di mana?”

“Perut, secara melintang, beta juga memotong pula sesuatu yang beta tak tahan.”

“Tak tahan?”

“Jangan cemaskan soal pakaian. Ketajaman yang Kokorowatari miliki sangatlah asli—sampai ke taraf apabila bagian-bagian terpotongnya dibiarkan beberapa lama, maka setiap potongannya akan tersambung kembali. Tapi agar hal tersebut terjadi, semua kembali pada kemahiran beta semata tentunya.”

“… … …”

Kelihatannya benar.

Tapi serius…?

“Tapi, bagaimana bisa pedang itu bisa kuat digunakan olehmu—maksudku, tak sampai hancur oleh tenagamu? Bukannya itu aslinya memang hanya pedang biasa?”

“Alasannya adalah walau asal-usulnya seperti yang kau bilang, ini bukanlah ciptaan yang asli. Dengan menggunakan yang asli sebagai material mentah, bawahanku yang pertama menciptakan wujudnya yang ini dengan menggunakan darah dagingnya sendiri. Terlebih, aku betalah yang mewarisinya. Namun, berhubung pedangnya sendiri terlampau tajam, tak peduli berapa kali digunakan untuk memotong, ketajamannya akan tetap sama. Dengan demikian, boleh dikata ini katana yang lebih pantas dipakai untuk memotong Kaii—fenomena ganjil.”

“Pemotong… Kaii ya?”

“Tepat sekali. Berhubung Kokorowatari cukup sulit untuk diucap, lawan-lawan beta menyebutnya sebagai Pemusnah Kaii. Jadi Pemusnah Fenomena Ganjil aslinya bukanlah julukan beta, melainkan sebutan untuk pedang ini.”

Sembari berbicara—Kiss-Shot mengembalikan pedang tersebut ke dalam tubuhnya lagi.

Kesannya seolah dirinya sedang melakukan seppuku.

Sekali lagi, dirinya abadi.

Namun katana itu… menurut Kiss-Shot merupakan peninggalan bawahan pertamanya yang harusnya memiliki keabadian yang sama.

Bawahannya yang pertama… sudah terlanjur wafat.

“Seorang vampir yang abadi wafat… itu berarti dia tewas karena dibasmi ‘kan?”

Dramaturgie, Episode, dan Guillotine Cutter—orang-orang seperti mereka pastinya pernah ada sekitar 400 tahun sebelumnya juga.

Namun…

“Salah.”

Kiss-Shot berkata.

“Dirinya adalah orang yang takkan bisa dibunuh oleh siapapun.”

“Lalu kenapa?”

Sekalipun dirinya abadi…

…dengan cara apa dirinya akhirnya meninggal?

“Bunuh diri.”

Kiss-Shot menjawab dengan datar.

Dengan sorot mata dingin—memandangi kota di bawah sana.

“Itulah penyebab dari 90% kematian vampir setiap waktu: alasan yang lazim.”

“… … …”

“Di sisi lain, 10% sisanya terjadi akibat tindakan pembasmian vampir yang secara berkelanjutan terus terjadi—penyebab kematian sisanya adalah hal-hal seperti salah perhitungan.”

“Bunuh diri? Kenapa?”

“Kebosanan mematikan manusia, bukankah ada pepatah yang menyebut begitu?”

Kebosanan—mematikan manusia.

Walau ada orang-orang di dunia ini yang bisa sampai mati karena perasaan bersalah… aku tak bisa menyangkal kalau kebosanan juga bisa mematikan.

“Memang bergantung pada keadaan dan zaman, tapi, baik apakah seseorang merupakan vampir asli atau sebelumnya adalah manusia, dalam sebagian besar kasus, kelihatannya sebagian besar vampir, sesudah hidup selama 200 tahun, akan mulai menginginkan kematian.”

“Tapi… dengan cara apa mereka bisa bunuh diri? Bukannya mereka abadi?”

“Seperti yang engkau lakukan di hari pertama, melempar diri ke bawah sorot cahaya mentari adalah langkah yang tercepat—yah, kurang lebih bisa diumpamakan seperti melompat dari bibir tebing.”

“Jangan mengumpamakannya semudah itu dong…”

Tapi kurasa—kenyataannya mungkin memang benar seperti itu.

Dirinya pasti memiliki keinginan untuk mati, Kiss-Shot mengatainya padaku waktu itu.

“Kalau beta asumsikan bahwa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, maka itu adalah kenyataan bahwa yang dipilihnya ialah kematiannya sendiri, hanya beberapa tahun sesudah perubahannya menjadi vampir—walau dalam rentang waktu sempit itu, sisanya tak banyak yang berubah.”

Karena dia melakukannya di depan mataku.

Dia melempar dirinya ke bawah terik matahari.

Dengan sengaja, seraya pamer.

Kiss-Shot menggumam.

“Semenjak itu—tak pernah beta menciptakan seorang bawahan lain, sampai engkau.”

“…Apa tak sekalipun kau bosan?”

Aku bertanya.

Walau mungkin itu sesuatu yang tak semestinya kutanyakan.

“Kau tak cuma pernah hidup 200 tahun. Kau bahkan—sudah hidup 500 tahun.”

“Tiada mungkin beta tidak bosan.” Kiss-Shot menjawab, tanpa mengumpat. “Selama ini yang beta lakukan hanya bermalas-malasan.”

“… …”

“Malas, malas—tiada satupun kegiatan yang bisa diperbuat. Andai beta melakukan sesuatu, sebagai tanggapan atas kegiatanku, para pembasmi vampir pasti akan bergerak dan mulai menguntiti beta ke manapun beta pergi—seperti tiga orang itu yang mengikutiku kemari pada saat beta berwisata.”

“Berwisata.”

Semula, aku sempat berpikir kalau itu mungkin bohong.

Tapi aku berubah pikiran dan sesudah kupikirkan lagi, sangat mungkin yang benar adalah sebaliknya.

Jika sebelumnya, di negeri ini, bawahan pertamanya ia ciptakan…

“…Namun, engkau sama sekali tak membosankanku, pelayan. Engkau—setiap hal yang engkau laksanakan dapat dikata adalah gila.”

Mungkin engkau satu-satunya orang di sepanjang sejarah yang menawarkan lehernya sendiri pada seorang vampir—Kiss-Shot tertawa seakan terhibur.

Untuk penampilannya yang sudah dewasa, caranya tertawa sangatlah kekanak-kanakan.

“Bahkan sampai memanggiliku Kiss-Shot tiba-tiba.”

“Ah, soal itu, aku sebenarnya tak sempat tanya, tapi ternyata semua orang kelihatan kaget saat aku melakukannya. Bahkan Oshino. Apa itu sesuatu yang mestinya enggak boleh kulakukan?”

“Tiada satupun orang bodoh di dunia ini yang akan berani memanggil seorang vampir menggunakan nama aslinya.”

“Nama asli? Itu seperti nama pertama?”

“…Menjelaskannya saja tolol. Yah, dunia.. bukan, zamannya sekarang mungkin berbeda—bukan hanya beta. Bahkan tiga orang itu. Beta pastinya kolot dan memiliki selera pakaian yang ketinggalan zaman. Andai beta ingin bisa pas dengan zaman ini, mungkin beta harus mulai berpakaian seperti si bocah itu.”

“Mau berpakaian seperti gaya Oshino? …Jangan. Gaya baju mentereng begitu tak sepatutnya menjadi cita-cita.”

“Ini lebih dari sekedar cita-cita, melainkan fakta.”

Yah, terserahlah, kata Kiss-Shot.

“Hanya sebatas ini yang bisa beta obrolkan. Selebihnya, beta ingin mendengar kisahmu sendiri. Dikau telah hidup selama 17 tahun, bukan? Tidak mungkin engkau hidup sepenuhnya dengan bermalas-malasan. Cobalah ceritakan pada beta sesuatu yang menarik.”

“Whoa.”

Itu cara bercerita yang terlalu merendah!

Menyampaikan cerita menarik dengan cara seperti itu sepertinya bakal sulit.

“E-Errr… kalau begitu, gimana kalau kita coba satu cerita konyol pendek biasa. Dulu ada orang, yah, dia pemuda baik-baik, tapi dia punya masalah ketergantungan terhadap alkohol. Kalau cuma sebatas itu saja, itu cuma masalah pribadi, dan dia merasa dia tetap bebas melakukan apapun yang dia mau, tapi sayangnya pada suatu hari pas dia mengemudi dalam keadaan mabuk, dia menabrak seorang gadis kecil yang sudah mengangkat tangan saat lampu berubah hijau. Karena sedang mabuk, dia tak sadar kalau dia menubruk seseorang, dan keesokan harinya, di tempat parkir apartemennya, baru dia sadar ada darah menempel di bemper mobilnya, kemudian barulah dia sadar soal kejadian itu. Di koran, orang itu kemudian tahu kalau nama gadis yang ditabraknya adalah ‘Rika-chan’. Seyogianya, pria tersebut harusnya menyerahkan diri, tapi dirinya merasa tersiksa. Seharusnya tak ada saksi mata, karenanya ia merasa tak apa jika ia diam saja… Sembari memikirkan itu, tahu-tahu hari menjadi malam. Persis saat itu, tiba-tiba saja telepon kabel apartemen itu menerima panggilan. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku ada di depan apartemenmu.’ Sesudah bilang begitu, telepon lalu ditutup begitu saja. ‘Rika-chan?! Tak mungkin!’ Si pemuda seketika terguncang. Namun, itu jelas suara seorang anak-anak. Itu suara yang berdesis seakan keteloran. Jangan bilang itu gadis yang kutabrak, yang seharusnya mati…? Lalu pada saat itu dia menerima telepon kedua. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku sudah sampai lantai pertama.’ Kamar yang ditempati pemuda itu berada di lantai kelima! ‘Rika-chan’ pasti tengah menuju ke sana. Berasumsi demikian, pria yang sebelumnya terguncang sekarang menjadi ketakutan. Apalagi sesudah ada telepon ketiga. ‘Aku Rika-chan. Sekarang aku sudah ada di lift.’ hei, jangan curang!”

“… … …”

Sambutannya tak begitu baik.

Apalagi bila dibandingkan dengan seberapa lama aku berbicara.

Cara penyampaian yang banyak mengingatkanku akan pendongeng, tapi mungkin di akhir aku malah jadi lebih menyebalkan dari yang kusangka.

“Hm. Tak harus yang seperti itu. Cerita-cerita lucu yang biasa saja boleh.”

“Guh…!”

Harga diriku terluka!

Walau pada dasarnya aku lebih banyak berperan sebagai tsukkomi

“Oke, kalau gitu, bagian kedua!”

“Oooh.”

“Professor Clark dulu berkata—‘Boys be anchovy!’”

“… … …”

Kiss-Shot bahkan tidak tersenyum.

Bahkan lelucon satu kalimat pun tak berguna.

“Kalau begitu bagian ketiga! Aku ingat yang satu ini karena omongan soal sejarah dunia tadi keluar, akan kuceritakan cerita kegagalanku sendiri!”

“Aku mau dengar!”

“Pada ‘ABCD’ di ‘blokade ABDC’ yang mengepung Jepang sebelum Perang Dunia II, pertanyaan soal nama masing-masing negara yang menyusun blokade tersebut ditanyakan dalam ujian. Untuk pertanyaan itu, aku menjawab ini! ‘A itu Amerika, B itu Britania Raya, C itu China, lalu… D itu Jerman!”

“… … …”

Kiss-Shot sedikit memiringkan kepalanya ke sisi.

Dirinya bahkan tak tertawa mendengar kisah kegagalanku.

“Um, kalau aku mesti jelaskan lucunya di mana, itu karena aku menebak B itu Britania Raya, tapi karena suatu alasan, aku membaca D dalam huruf romaji… apalagi Jerman ada di pihak Axis kan?”

Aku menjelaskan leluconku sendiri.

Kemudian sebagai tanggapannya, Kiss-Shot berkata.

“…Blokade ABCD itu apa?”

“Kau bahkan tak punya pengetahuan umum yang dipunyai manusia biasa!”

Ini cara menyedihkan untuk salah menangkap sebuah maksud.

Sesudahnya, pada akhirnya…

Jarum jam melewati angka tengah malam, dan tanggal berganti ke 8 April—yang merupakan hari terakhir liburan musim semi di SMA Swasta Naoetsu. Aku dan Kiss-Shot masih tetap mengobrol di atas atap puing-puing bimbel.

Aku sempat merasa sorot mata dingin Kiss-Shot dipenuhi niat untuk menembaki semua cerita pendek yang aku bawa, tapi separuh jalan kami sama-sama gembiranya sampai-sampai segala sesuatu hal terasa lucu, dan apapun yang kami katakan sama-sama membuat kami tertawa.

Aku merasa ini obrolan yang sama sekali tak berarti.

Aku merasa ini obrolan yang penuh kepura-puraan.

Tapi… mungkin saja…

Kalau aku mengenang kembali liburan musim semi ini, kenangan terbaik yang tersisa, yang pastinya takkan bisa kulupa, adalah hari ini, saat ini, di tempat ini, ketika aku melewatkan waktuku dengan mengobrol bersama Kiss-Shot.

Semua semata karena hanya di kesempatan ini aku tertawa.

“Kalau begitu.”

Walau dirinya tertawa begitu banyaknya sampai menangis, sembari mengusap matanya yang tak pernah kehilangan sorot dinginnya—Kiss-Shot berdiri.

“Waktunya telah tiba—akan kuubah engkau kembali menjadi manusia.”

“Ah, iya.”

Benar juga.

Sial, aku bahkan sampai lupa.

Apa mungkin aku sampai lupa pada hal sepenting itu… aku sampai terkejut oleh diriku sendiri.

Aku melewatkan terlalu banyak waktu bersenang-senang.

Bagaimanapun—kesenangan kami sedang di puncak-puncaknya.

“Ngomong-ngomong… apa pelayan pertamamu tak pernah berkeinginan buat kembali jadi manusia?”

“…Hm, alasannya rumit.”

“Rumit, katamu?”

Kau memakai bahasa Jepang yang rumit.

“Bagaimanapun, di masa itu, masih tak mungkin bagiku untuk mengubah seseorang kembali menjadi manusia—tapi kali ini, jika bisa, beta hendak belajar dari pengalaman tersebut. Jadi, apa engkau siap?”

“Err… mungkin karena tadi aku tertawa kebanyakan, tapi sekarang aku sedikit lapar. Bisa aku keluar makan dulu? Karena makanan yang terakhir kalau enggak salah sudah kadaluwarsa, apa aku bakal terlambat kalau aku beli sesuatu dulu?”

“Hm? Benar, tentunya betapun yang baru saja kembali ke wujudku yang utuh pun merasakan lapar—tapi apa engkau tak dapat lagi menahannya?”

“Ah, sedikit.”

“Apa engkau ingin membawa makanan jalan?”

“Makanan jalan?”

Maksudnya apa?

Mungkin itu semacam ungkapan yang sudah ketinggalan zaman.

“Yah, ini malam terakhirku sebagai vampir. Ini titik di mana aku punya sedikit keraguan tentang itu. Apa ada sesuatu yang ingin kau makan?”

“Beta tak punya kesukaan atau ketidaksukaan khusus.”

“Uhhhhmmm…”

Yah, gimanapun, pada jam segini, minimarket 24 jam pastinya buka, jadi sejak awal pun pilihanku sebenarnya tak banyak.

“Kalau begitu, baik. Lakukan apa yang kau mau, pelayanku. Akan beta terima harapanmu untuk bisa menjadi pelayanku sedikit lebih lama—beta akan bersiap-siap sekarang di lantai kedua.”

“Oke.”

Dan sesudah itu dikata…

Perbincangan kami di atas atap kemudian berakhir.

Walau hanya minimarket 24 jam yang masih buka, tetap saja jarak yang kutempuh untuk membeli sesuatu tetaplah jauh—perjalanan bolak-balik dari puing-puing bimbel ini bisa mencapai satu jam.

Kalau aku menempuhnya tanpa memakai kecepatan berlari vampir sih.

Tapi, di sisi lain, aku juga tak merasa ingin cepat-cepat.

Sebaliknya, dengan sengaja aku berjalan pelan-pelan.

Hmph.

Menyusahkan.

Akan kuubah engkau kembali menjadi manusia—katanya.

Sejujurnya, aku tak bisa menyangkal kalau dikatakan seperti dengan begitu ringannya tak membuatku tak sedikit resah.

Aku ini memang pengecut sekaligus penakut.

Tapi… bagian soal ‘punya sedikit keraguan tentang itu’ yang kukatakan pada Kiss-Shot, itu kebohongan yang kubuat di tempat. Tentu saja, aku tak mau menjadi pelayan Kiss-Shot untuk waktu yang lebih lama lagi. Itu sih sudah tak perlu lagi dibahas.

Aku cuma….

…benci perpisahan.

“…Uhmmmmm…”

Mungkin… kasusnya sama juga untuk Kiss-Shot, mungkin.

Mungkin sebenarnya dia ingin membahas sesuatu soal kembalinya aku menjadi manusia.

Tapi pada akhirnya pembahasan soal itupun tak ada.

Kenyataannya.. dia sungguh-sungguh hanya ingin berbicara denganku.

Untuk bersenang-senang.

Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade.

Vampir berdarah besi, berdarah panas, berdarah dingin.

Vampir legendaris.

Pemusnah Kaii.

“Pastinya nanti… dirinya akan pergi ke suatu tempat.”

Aku telah kumpulkan kembali setiap bagian tubuhnya yang hilang.

Dirinya takkan punya alasan untuk tinggal lagi di kota ini—bukan, negara ini, untuk waktu lebih lama lagi.

Berwisata—itu katanya.

Kalau aku pikirkan kembali tentang pelayannya yang pertama, pastinya ini semacam napak tilasnya menyusuri tempat-tempat kenangan—hanya saja, sejauh kenangannya semata, yang terjadi adalah kenangan buruk yang dimilikinya malah diperkuat.

Jantungnya dicuri, tungkai-tungkai tubuhnya dicuri.

Lalu bawahan kedua yang diciptakannya dalam putus asa hanyalah orang biasa-biasa saja.

Bahkan bawahannya tersebut bilang kalau dia ingin berubah kembali menjadi manusia.

Walau dia juga bilang orang bersangkutan itu tidak sampai membuatnya bosan sih.

“Dia sempat ditawari jadi dewa, tapi dia menolak… berbeda sama sekali dari Guillotine Cutter.”

Begitu Kiss-Shot meninggalkan negara ini…

… dirinya akan keliling dunia lagi mungkin.

Bukan, mengingat dia berbicara seakan dirinya banyak berpergian di masa mudanya, kurasa hari-hari begini dirinya malah jarang pergi ke mana-mana.

Lagipula, apa Kiss-Shot bahkan bisa naik pesawat—yah, mungkin dirinya tinggal perlu menumbuhkan sayap dan selanjutnya terbang di udara. Tubuhnya benar-benar praktis.

Tapi, jelas tak ada kesedihan dari perpisahan yang mungkin terjadi.

Sederhananya, apa yang menjadi ikatanku dengan Kiss-Shot hanyalah kenyataan tentang bagaimana aku menjadi vampir, jadi aku agak sedikit takut berpisah dengan status itu.

Aku merasa bisa memahami tanpa keraguan alasan mengapa Oshino, yang berkesan sembrono itu, tak pernah mengucapkan sepatahpun kata perpisahan.

“Yah, habis mau gimana lagi.”

Kalau kau bertemu, suatu saat kelak kau pasti berpisah.

Itulah hidup.

Walau bagi Kiss-Shot dua minggu ini tidak lebih dari serangkaian kenangan buruk, memandang lagi ke belakang sekarang, mungkin ini bukan liburan musim semi yang seburuk itu.

Mungkin ini memang bukan liburan musim semi yang seburuk itu.

Wah, aku benar-benar bisa sampai berpikir demikian.

“Oke!”

Aku ingin melanjutkan kegembiraan di atap tadi, melanjutkannya dengan semacam acara perpisahan. Ingin membuatnya seberkesan yang aku bisa, aku habiskan seluruh uang yang kupegang di minimarket, menghabiskannya untuk kue dan berbagai manisan lainnya, lalu dengan langkah cepat kembali ke puing-puing bangunan bimbel.

Dalam perjalanan kembali…

…sementara aku memikirkan kata-kata perpisahan apa yang pada akhirnya akan aku ucapkan pada Kiss-Shot, aku turut mempersiapkan tekadku—dan akhirnya aku tiba di ruang kelas yang biasa di lantai kedua.

Tanggal hari itu adalah 7 April.

Jam saat itu adalah pukul 2 dini hari.

“Aku kembali.”

Dengan perasaan itu, aku membuka pintu kelas dengan sikap seriang mungkin.

Kiss-Shot sedang menghabiskan sebuah kudapan ringan.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Grauk grauk, nyam nyam, kletuk kletuk.

Yang dimakannya adalah… sesosok manusia.

“…Eh?”

Kantong belanjaan minimarket yang kubawa seketika terlepas dari tanganku.

Mendengar bunyi jatuhnya kantong itu, Kiss-Shot memutar kepalanya ke arahku.

Sementara tangannya…

…tengah memegang kepala seorang manusia yang sudah separuh termakan.

“Ah, Pelayan—tak disangka, kau cepat. Tapi bukankah pernah beta bilang, tidaklah sopan memandang seorang perempuan yang sedang makan.”

Aku mengenali kepala itu.

Itu kepala salah seorang dari ketiga spesialis pembasmian vampir itu.

Satu-satunya manusia di antara mereka.

Itu kepala Guillotine Cutter.

Tubuhnya, dagingnya telah tercacah hingga kecil—dirinya telah dipotong-potong sampai ke ukuran cukup kecil agar cukup mudah untuk dimakan.

Bagaikan seekor ikan… yang disajikan secara utuh.

“Dia tiba-tiba saja muncul saat beta menunggu engkau—nampaknya medan pelindung yang terpasang tak sanggup menyembunyikan kekuatan penuh beta. Namun, berhubung beta lapar, dia datang di saat tepat. Dia cemilan bagus.”

Itu katanya.

Kiss-Shot menggerakkan kepalanya seakan sedang mencari-cari seseorang di belakang bahuku.

Kemudian dirinya memiringkan kepala, tampak heran.

“Apa? Makanan jalan yang berkacamata dan berkepang itu tak engkau bawa bersamamu?”

Catatan:

hysteric: histeris

Koshien: stadion bisbol ternama di Jepang di mana tim-tim bisbol SMA terbaik se-Jepang bertanding dua kali setahun (kalau enggak salah). Araragi memakai perumpamaan ini untuk mengingat betapa jarangnya Kiss-Shot mengubah seorang manusia untuk menjadi pelayannya, sama kayak betapa kecilnya peluang sebuah tim atau orang untuk berkesempatan bermain di Koshien.

Youtou: istilah yang digunakan untuk menyebut pedang yang memiliki semacam aura supernatural di sekelilingnya. Pedang yang Kiss-Shot cabut adalah pedang dari jenis ini.

Kokorowatari: penyilang hati; ini nama pedang yang Kiss-Shot cabut.

seppuku: variasi harakiri di mana seseorang dalam posisi bersimpuh memotong perutnya sendiri, kemudian ada ‘asisten’ yang kemudian memenggal kepala yang bersangkutan pada saat yang bersangkutan tertunduk

Lelucon soal cerita di lift itu… kayaknya ini referensi terhadap sesuatu, tapi saya enggak yakin apa.

tsukkomi: semacam orang wajar yang menanggapi lelucon dalam komedi manzai, yang dijalankan oleh dua orang.

Boys be anchovy: harusnya boys be ambitious. …Perasaan aku pernah membahas soal ini.

Blokade ABCD: kepanjangan ABCD, dalam bahasa Inggris, yakni: American, British, Chinese, Dutch. Dalam bahasa Jepang, masing-masing jadi ‘Amerika’, ‘Igirisu’, ‘Chuugoku’, ‘Oranda’. Araragi salah menjawab dengan mengira kalau D itu kependekan dari ‘Doitsu’ yang merupakan bahasa Jepang untuk Jerman. Kata ‘Igirisu’ dan ‘Oranda’ berasal dari lafal Portugis ‘Inglês’ dan ‘Holanda’, sementara ‘Doitsu’ berasal dari bahasa Belanda, ‘Duits’


About this entry