Amagami SS+

…Emang memerlukan waktu lama, tapi belum lama ini, aku akhirnya melihat sendiri episode terakhir dari Amagami SS+.

Meski masih didasarkan pada game Amagami keluaran Enterbrain, seri ini merupakan sekuel sekaligus ekspansi dari seri anime pendahulunya, Amagami SS. Jadi materi yang ditampilkan di sepanjang penayangannya benar-benar adalah materi cerita baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Seperti yang judulnya implikasikan, Amagami SS+ membeberkan kesudahan kisah cinta Tachibana Junichi dengan masing-masing gadis yang dapat dipilihnya dalam masing-masing character arc. Dipadatkan durasinya menjadi hanya 13 episode dari seri sebelumnya yang 26, ditambah dengan tim penulis yang sama tapi sutradara baru, aku terkesan dengan peningkatan kualitas cerita yang dihadirkan dalam seri ini tanpa hilangnya ciri-ciri khas yang ada dari pendahulunya. Seperti yang bisa tertebak, masing-masing gadis mendapat porsi cerita sebanyak dua episode, dan episode terakhir seperti sebelumnya disisakan sebagai episode spesial untuk adik perempuan Junichi, Tachibana Miya.

Eniwei, pada titik ini, anime Amagami SS itu sudah seperti semacam kawan lama bagiku. Kayak, seseorang yang aku enggak akan sanggup hadapi kalau mesti ketemu tiap hari, tapi bakal bisa selalu kuajak hang out dan have fun bila cuma ketemu sesekali sesudah waktu lama.

Jadi, yea, aku perlu waktu agak lama buat menyudahinya. Tapi bagusnya, ada semacam closure yang dihadirkan oleh setiap bab dalam seri ini. (Ditambah pula dengan porsi fan service khasnya seperti biasa.)

Boku no Kokuhaku

Inti cerita buat masing-masing bab kurang lebih sebagai berikut:

  • Ayatsuji Tsukasa; Mengisahkan kelanjutan hubungan Junichi dan Ayatsuji sesudah mereka naik kelas. Berlatar pada masa pemilihan ketua Dewan Siswa yang baru di musim semi, dengan Ayatsuji sebagai salah satu kandidatnya dan Junichi sebagai wakilnya. Sekilas idenya terkesan biasa. Tapi penyampaiannya yang lebih berat ke drama memberi kesan lumayan baik. (Apa boleh buat, mengingat adegan Junichi dan Ayatsuji di masa depan justru menjadi penutup seri pendahulunya.) (Sial! Aku agak berharap kakak perempuan Ayatsuji bakal muncul kembali!)
  • Sakurai Rihoko; Menyajikan akhir cerita cinta Junichi dan Rihoko yang berakhir sangat menggantung di seri sebelumnya. Berlatar di musim gugur(?), Rihoko dengan ditemani Junichi telah menjadi ketua Klub Teh. Tapi hubungan mereka—bagi keduanya—seakan masih berjalan di tempat. Masih dengan kelucuan-kelucuan Rihoko yang khas, tapi dengan sisi serius baru yang membawakan bab dengan tamat paling memuaskan di seri ini.
  • Nanasaki Ai; Salah satu bab dengan nuansa cerita terberat. Berlatar di musim dingin, mengisahkan masa-masa down Nanasaki pada saat ia harus menghadapi tuntutan performanya di Klub Renang, sementara Junichi tengah tersita waktunya dengan belajar untuk ujian akhir. (Iya, walau begitu, bab Nanasaki tetap masih jadi yang menghadirkan adegan-adegan paling mendebarkan di sepanjang seri ini.)
  • Tanamichi Kaoru; Berlatar di musim panas, mengetengahkan perjalanan wisata berdua Junichi dan Kaoru pada saat liburan sekolah. Hasil kerja keras mereka dalam bekerja sambilan terbayar sudah. Tapi perjalanan mereka tidak berlalu dengan tanpa masalah… Secara mengejutkan bab ini mengeksplorasi sisi Kaoru yang lebih ceria.
  • Nakata Sae; Mengisahkan bagaimana Junichi berusaha mendukung Sae-chan yang telah terpilih sebagai ketua panitia persiapan festival sekolah yang berikutnya. Berlatar menjelang musim dingin dan natal. Masih menghadirkan kostum-kostum untuk Sae kenakan, serta suara narator yang sama seperti pada bab pendahulunya.
  • Morishima Haruka; Berlatar menjelang masa kelulusan, memperkenalkan karakter baru, Jessica, yang merupakan kerabat Haruka yang teramat sangat mirip dengannya; serta bagaimana sisi enggak tahu malu Junichi muncul kembali dalam adegan lamaran yang menutup character arc terakhir dalam seri ini.

Plus

Sisi bagus lain dari seri ini adalah bagaimana hampir semua karakter pendukung dari seri pertama disempatkan untuk tampil kembali; ditambah beberapa karakter baru yang kehadirannya lebih untuk menggerakkan cerita.

Dari segi teknis, seri ini masih menghadirkan kualitas presentasi yang sama, kalau enggak lebih, dari pendahulunya kok. Yang paling berkesan buatku meski semua materi ceritanya baru, di samping memperkenalkan sisi lain masing-masing gadis yang agak luput dikenalkan pada seri pertama, seri ini membawa kita kembali ke kedamaian dan keramaian kota Kibitou. Mulai dari sekolahnya, taman bermainnya, bukaan dekat lautnya, lalu rumah Junichi serta Miya. Kau tahu gimana ‘latar’ dalam dating sim menjadi salah satu aspek desainnya yang terpenting? Kota Kibitou yang ada dalam game-nya berhasil disajikan secara pas dalam bentuk anime.

Nyanyian Azusa yang menghiasi pembuka dan penutup seri ini membawakan nuansa romansa dan sentimentil yang pas. Walau aku tetap bakal bilang seri ini lebih berat buat penonton cowok daripada ceweknya sih. Apalagi dengan penyampaian ceritanya pada episode terakhir.

Aku skeptis apa dalam waktu dekat bakal ada seri romansa (buat cowok) yang sebaik ini lagi. Kurasa itu alasan mengapa aku memperhatikan seri ini. Aku enggak selalu tahan menontonnya emang. Tapi saat aku bisa, kurasa aku selalu menemukan apa yang ingin kudapatkan kok.

(Ah, sudah mau Natal dan akhir tahun lagi ya?)

Penilaian

Konsep: A; Visual: A; Audio B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-


About this entry