Sword Art Online – Alicization Beginning

Siapapun juga, pada titik ini, pasti sudah mulai bisa melihat pola perkembangan cerita Sword Art Online.

Game pertama yang berlatar di kastil terbang Aincrad berhasil dituntaskan. Tapi serangkaian misteri terkait maksud dan tujuan Kayaba Akihiko dengan segala penelitiannya masih tersisa. Jadi tak mengherankan bila cerita kemudian dibawa ke sebuah latar baru yang masih berhubungan dengan SAO. Pertama adalah ALO. Lalu selanjutnya adalah GGO. Kemudian dengan dua latar ini, ada beberapa novel baru berhasil dikeluarkan. Lalu, yah, ceritanya masih terus berlanjut.

Meski mungkin terdengarnya inane, hasilnya sebenarnya lumayan menghibur sekaligus intriguing bila disajikan dalam bentuk novel kok. Tema novel-novel SAO secara perlahan bergeser dari pembahasan soal ‘penuntasan’ masing-masing game, ke sesuatu yang lebih ‘dalam’ daripada itu.

Semua game-nya benar-benar menjadi sesuatu yang tak lebih dari sekedar ‘latar’ saja. Novel ketujuh, Mother’s Rosario, paling jelas menggambarkan pergeseran ini. Tapi, sesudah GGO, ayolah, siapa sih yang enggak mikir, “Oke, game baru apa lagi yang bakal nongol nih?”

Dan di sinilah sang pengarang, Kawahara Reki,  melempar sebuah curveball lewat novel kesembilannya, Sword Art Online – Alicization Beginning. Buku ini menjadi pembuka dari bab Alicization yang akan berdurasi sekurangnya tiga buku, dan hasil akhirnya benar-benar keren.

Masa Kecil yang Hilang

Aku enggak nyadar persisnya kenapa, tapi aku sudah punya perasaan aneh kalau buku kesembilan SAO ini bakal keren dari awal. Alasannya kenapa, sebelumnya aku tak punya bayangan. Tapi saat melihat bagaimana separuh buku ini hanyalah merupakan ‘prolog’ dan bab paling pertama buku ini dimulai agak tak jauh berbeda dengan sebuah novel fantasi, aku enggak bisa enggak mikir, “Damn! Ini sepertinya bakal keren. Aku mesti baca semuanya sekaligus. Enggak bisa kalau cuma setengah-setengah begini!”

Aku mikir kayak gitu, dan makanya lagi-lagi aku telat mengetahui kalau terjemahan bahasa Inggrisnya di Baka-Tsuki sudah tuntas.

(Sebenarnya alasan kenapa aku jarang nulis belakangan bukan cuma itu sih. Tapi aku akan ceritain soal itu dalam tulisan lain lagi.)

Tiga orang anak usia sebelas tahun yang hidup di Desa Rulid; Eugeo, Kirito, dan Alice dikisahkan adalah tiga teman sepermainan semenjak kecil.

Eugeo dan Kirito baru menerima Tugas Keramat mereka, yakni menjadi penerus penebangan pohon raksasa Gigas Cedar yang berada di utara desa. Pohon ini menjadi penyebab mengapa tanah-tanah di sekitar pohon tersebut tidak cukup subur untuk dijadikan lahan pertanian.

Lalu Alice adalah putri kepala desa yang sehari-hari mengantarkan makan siang untuk mereka berdua. Alice sendiri cukup sibuk dengan Tugas Keramatnya sendiri, yakni persiapan dan pendidikan untuk menjadi penerus kepala desa yang baru.

Bab pembuka Alicization Beginning mengisahkan persahabatan yang telah lama ada antara ketiga anak itu, sekaligus awal perpisahan di antara mereka.

…Tentu saja, hal pertama yang terlintas adalah pertanyaan-pertanyaan: Siapa orang-orang ini? Apa ini sebuah game baru? Tapi kalo ini emang game baru, sepertinya kali ini ada sesuatu yang beda. Lalu, apakah Kirito di sini sama dengan Kirito yang telah dikenal oleh semua penggemar SAO?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul seiring dengan penjelasan tentang berbagai konsep dunianya.

Setiap orang di dunia ini dikisahkan memiliki Tugas Keramat mereka masing-masing, yang ditetapkan saat mereka dianggap dewasa; dan ketetapan akan tugas ini tak dapat diganggu gugat. Ada Axiom Church yang mengatur segala seluk beluk kehidupan dunia. Ada perbatasan di utara yang konon tak boleh dilewati seorang manusia pun. Ada kitab peraturan dan undang-undang yang tak boleh dilanggar. Lalu konon ada Dewa Kegelapan Vector yang menguasai wilayah di luar perbatasan itu, yang pengaruh buruknya secara konstan terus tertahan agar tak sampai melewati perbatasan itu.

Tugas penebangan pohon raksasa yang diemban Eugeo dan Kirito itu telah dilaksanakan secara turun-temurun selama berpuluh tahun. Dengan kapak dari bahan tulang naga yang juga telah diwariskan turun-temurun, Eugeo dan Kirito secara bergantian menebasi pohon itu; menorehkan sedikit tambahan pada luka lama yang telah diberikan pada batang pohon sangat besar itu oleh para pendahulu mereka.

Tugas ini diyakini takkan pernah terselesaikan dalam masa hidup Eugeo dan Kirito, akibat kemampuan pemulihan diri yang Gigas Cedar miliki. Sebagian kerusakan yang berhasil mereka timbulkan pada batangnya akan terpulihkan sebagian pada keesokan hari.

Lalu dijelaskan bahwa setiap benda yang ada di alam ini memiliki ‘Nyawa’, yang dapat terukur dan terkuantifikasi, yang rentangnya akan mencapai puncaknya pada paruh baya sebelum berangsur menurun saat seseorang tua. Bahasan paling menarik perhatian di antara mereka adalah bagaimana keduanya sebenarnya tak ingin terus-terusan menjalani seluruh hidup mereka dengan cara seperti ini.

Kemudian, ‘sesuatu’ terjadi.

Barulah sesudah itu kita masuk ke ‘prolog’ kedua, kembali ke sudut pandang narasi Kirigaya Kazuto, saat ia menjelaskan suatu konsep yang memberi petunjuk sekaligus framing story dari prolog yang pertama.

Aku benar-benar tak mau spoiler apa-apa sesudah ini. Karena konsep bab Alicization ini menurutku benar-benar keren.

Ada begitu banyak konsep dan tema dari kesadaran serta dunia virtual yang diceritakan dalam buku ini. Dan kitanya emang agak nelen ludah karena sampai separuh buku ini, masih belum benar-benar jelas apa persisnya yang terjadi. Tapi hasil akhirnya keren kok. Konsep dunia baru ini (yang memang bernama, tapi namanya belum mau kusebutin karena terkait dengan ceritanya) benar-benar memikat. Menurutku ini bahkan mungkin jadi awal dari bagian cerita SAO paling keren sejauh ini.

Sisi buruknya, novel ini berakhir dengan menggantung. Tapi ngegantungnya itu memuaskan, dengan ngasih harapan teramat besar. Ada lumayan banyak tokoh baru yang akan diperkenalkan mulai titik ini. Ah, dan bener juga. Mulai buku ini, tokoh Kikuoka Seijurou yang menjadi benefactor Kazuto dalam kasus-kasus terdahulu akan mendapatkan porsi peran yang lebih besar.

Running

Aku masih belum nemu waktu untuk mulai membaca buku berikutnya. Aku benar-benar banyak kerjaan belakangan ini. (Di samping kelemahan Kawahara-sensei dalam menampilkan sifat karakter-karakter perempuannya masih tampak dan kadang bikin aku males.) Tapi ntar begitu beres baca, akan aku coba ulas.


About this entry