Boku ha Tomodachi ga Sukunai

Ini memang lumayan telat, tapi beberapa waktu lalu aku akhirnya menonton episode terakhir dari seri komedi(?) Boku wa Tomodachi ga Sukunai ( atau Haganai, dengan ‘wa’ bisa juga dibaca ‘ha’; ‘aku tak punya banyak teman’). Aku sempat tertunda menontonnya karena… suatu alasan yang kini aku telah lupa. Dan aku mesti akui hal menarik tentang anime ini yang tak kutemui di seri-seri lain adalah gimana meski seluruh episodenya dibuka dengan konyol dan penuh… uh, tawa, secara konsisten pula tiap episodenya, terutama di paruh akhir, selalu berakhir dengan nuansa agak down.

Bukan maksudnya kualitasnya jadi buruk. Tapi kayak, dari tren positif yang cenderung naik, akhir episode-episodenya ujung-ujungnya dibikin enggak happy-happy amat.

Eniwei, buat yang belum tahu, seri yang diangkat dari ranobe karya Hirasaka Yomi dan ilustrasi karya Buriki ini mengisahkan murid baru blasteran Jepang-Inggris, Hasegawa Kodaka—yang gara-gara warna rambut pirang alaminya tapi tampangnya yang murni Jepang, kerap dijauhi orang karena disangka ‘berbahaya.’—saat pindah ke sekolah barunya, St Chronica’s Academy dan bertemu dengan seorang gadis manis, namun jutek, yang sama-sama tak punya teman seperti dirinya, Mikaduki Yozora, yang akhirnya mengajaknya membentuk klub ekskul baru Rinjin-bu (klub tetangga) yang pada dasarnya bertujuan untuk melatih mereka dalam berteman.

Lalu si gadis populer kaya dan cantik yang juga merupakan putri pemilik sekolah, Kashiwazaki Sena, ikut bergabung dengan mereka (dengan penuh pertarungan), beserta sejumlah orang tak punya teman lain. Secara menyeluruh, mereka adalah:

  • Kusunoki Yukimura: murid cowok(?) penggemar Kodaka yang berharap bisa jantan seperti idolanya dan menyangka sebelumnya selalu di-bully. (yang dimanipulasi sedemikian rupa oleh Yozora untuk kemudian mengenakan baju maid)
  • Takayama Maria: gadis jenius berusia 10 tahun yang merupakan suster sekaligus guru dan kemudian dijadikan guru pembimbing klub (memiliki masalah dalam berteman juga karena lidah tajamnya)
  • Shiguma Rika: gadis jenius lain yang merupakan seorang penemu, yang sebelumnya mengurung diri di dalam labnya pada setiap jam pelajaran (memiliki kecendrungan fujoshi)
  • Hasegawa Kobato: gadis SMP manis yang merupakan adik perempuan Kodaka (sulit berteman juga karena memiliki fanatisme terhadap hal-hal gothic)

Setiap episode mengetengahkan berbagai upaya mereka untuk menumbuhkan rasa pertemanan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan orang normal (yang biasanya berakhir dengan kegagalan). Lalu ada juga subplot tentang bagaimana Kodaka dan Yozora sebenarnya pernah saling mengenal sebelumnya, namun bukan dengan cara yang Kodaka sangka.

Secara umum, hasil akhirnya buat anime sejenisnya lumayan bagus. Eksekusinya lumayan lain dari yang lain. Fanservice memang banyak, tapi daripada membahas soal lekuk tubuh, fokusnya agak lebih ke bentuk wajah dan mata? Argh, entahlah.

Aku mesti agak berjuang buat menamatkan seri ini. Karena sejujurnya, ini bukan seri yang biasanya kusukai. Tapi aku lumayan terkejut dengan efeknya dalam mengurangi stres. Dan sesudah menontonnya sendiri, aku jadi bisa mengerti mengapa seri ini bisa populer.

Aku merasa seri ini agak otaku-ish, jadi mungkin aku takkan merekomendasikannya ke penonton awam. Tapi bagi yang suka, aspek presentasinya lumayan bagus, meski sisi musiknya mungkin agak perlu waktu sampai kebiasa. Adaptasi anime ini keluar pada musim gugur tahun 2011 lalu dengan Saito Hisashi sebagai sutradara. Daya tarik lain yang seri ini punya bagiku agak terdapat pada latar sekolah dan kotanya, yang sesuai temanya, agak mengingatkanku akan latar-latar cerita sebuah dating sim.

Terlepas dari semuanya, musim tayang keduanya sudah dipastikan bakalan ada untuk tahun depan, menyusul akhir yang agak menggantung di episode 12.

Apa aku akan mengikutinya? Yah, kita lihat saja nanti.

Penilaian

Konsep: C; Visual: B+; Audio: B-; Perkembangan: B-; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B


About this entry