Jinrui wa Suitai Shimashita

Mungkin enggak ada gunanya aku mengatakan ini, tapi sebagai penulis, aku sempat tertarik dengan apa yang namanya visual novel. Bukan apa-apa ya. Cuma, dengan kesederhanaan fitur, media visual novel itu bisa mendatangkan pengalaman memasuki dunia lain yang sedikit beda dengan apa yang dihadirkan lewat film atau buku. Argh, gimana mengatakannya ya?

Yah, sebut saja, di samping fitur keinteraktifannya, plus ditambah adanya gambar dan suara, kita enggak pernah benar-benar bisa yakin kapan cerita yang kita baca dalam sebuah visual novel bakalan berakhr. Soalnya enggak ada indikasi berapa jumlah halaman tersisa, berapa sisa durasi waktunya, dan sebagainya.

Yah, lalu, pada masa-masa aku sedang meneliti perkembangan visual novel yang bagus dari Jepang tersebut (situs VNDB lumayan banyak membantu buat hal ini; asal tahu saja, ada banyak judul yang ditampilkan di dalamnya yang bersifat NSFW), tentu saja aku sampai pada berbagai rekomendasi judul visual novel yang dianggap yang terbaik sepanjang masa.  Salah satunya, yang dipandang temanku sebagai VN terbaik favoritnya, adalah Cross Channel, dan itulah kali pertama aku mengenal nama Romeo Tanaka.

Aku enggak bisa ngebayangin isi kepala Tanaka-sensei saat beliau menulis naskah Cross Channel itu gimana. Cerita dan gaya narasinya itu… beneran aneh. Inti ceritanya tentang sekelompok remaja yang diasingkan dari masyarakat di dalam sebuah kota terpencil akibat ketidakmampuan mereka untuk beradaptasi dalam lingkungan sosial. Lalu karena suatu alasan misterius, ingatan mereka sesudah waktu seminggu akan selalu d-reset ulang. Lalu ceritanya, sebagian dari mereka yang tergabung dalam klub penyiaran berupaya memperbaiki menara pemancar yang rusak untuk sekedar bisa mengetahui masih adakah orang-orang lain yang tersisa di dunia selain mereka. Tokoh utamanya itu seorang karakter cowok yang meski maksudnya mungkin baik, tingkat kemesuman otaknya sudah benar-benar di luar nalar. Dan mungkin karena aku belum cukup bisa sabar atau gimana, aku tak tahan membaca VN itu sampai selesai.

Lalu pada musim panas 2012 ini, anime Jinrui wa Suitai Shimashita (‘umat manusia telah mengalami kemunduran’) yang diangkat dari seri novel karya Tanaka-sensei mengudara. Lalu untuk beberapa lama aku tak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Di akhir, aku tetap bersyukur karena bertahan mengikutinya sih.

Maksudku di sini, aku beneran bersyukur.

Itu Terlalu Negatif

Di masa depan, peradaban manusia telah kehilangan kejayaannya. Apa yang tersisa di dunia hanyalah puing-puing dari segala prestasi yang dulu umat manusia capai. Teknologi dan ilmu pengetahuan secara berangsur menghilang. Namun demikian, walau populasi mereka sudah tidak lagi sebanyak dulu, walau hidup harus mereka jalani dengan serba keterbatasan, manusia di zaman ini telah hidup dalam kedamaian.

Mungkin premis yang mengingatkanku akan Yokohama Kaidashi Kikou menjadi daya tarik utama seri ini bagiku. Tapi fokus cerita ini sebenarnya bukan berbagai persoalan zaman. Melainkan kaum peri, yang pada suatu ketika tiba-tiba saja muncul, dan diyakini hadir di Bumi untuk menggantikan manusia sebagai ‘umat manusia yang baru’ …

Kaum peri ini… kecil. Sebesar, mungkin, ibu jari. Pakaian mereka cerah. Wujud mereka imut. Mereka tak menampakkan diri kepada semua orang. Tapi saat mereka menampakkan diri… yah, intinya, fenomena-fenomena yang mereka timbulkan menjadi hal paling awal yang tampak sih. Dan fenomena-fenomena yang kumaksud di sini adalah berbagai tingkah dan ulah yang mereka lakukan. Karena mereka sangat suka bergembira (di samping kue-kue dan makanan manis), jadi ide baru apapun yang terlihat menggembirakan bagi mereka dengan cepat akan menyebar sebagai semacam tren yang muncul secara seketika. Lalu mereka didukung oleh kemampuan dan teknologi membangun yang sudah di luar daya pemahaman manusia—seperti sihir! Dan, yea, fenomena-fenomena yang mereka ciptakan acapkali menimbulkan kehebohan.

Karena itu, organisasi PBB mewadahi secara khusus orang-orang yang dipandang bisa berhubungan baik dengan mereka, yang pada dasarnya menjadi duta antara kaum manusia dan peri.

Tokoh utama cerita ini adalah seorang gadis yang menjadi salah satu duta itu. Bersama kakeknya yang menjadi atasannya, beserta seorang anak lelaki handal namun sangat pendiam yang menjadi asistennya, berbagai pengalaman bersama kaum peri mereka alami—yang sedikit banyak memberikan banyak renungan tentang sifat dan arti keberadaan manusia di muka bumi.

OMG, Rotinya! Rotinyaaaaa!

Sial. Susah menggambarkan seri ini secara baik.

Meski bernuansa dongeng fantasi, ada terlalu banyak hal yang—sekilas—keji dan agak terlalu berlebihan yang ditampilkan di dalamnya (walau ditampilkannya juga secara main-main).  Maksudku, meski maksudnya komedi ada elemen-elemen absurditas dan satir di dalamnya! Makanya (kayak Cross Channel juga) ini jelas bukan sesuatu yang bakalan bisa disukai semua orang. Tapi berbeda dari Cross Channel, aku bisa suka seri ini. Karena… gimana ya? Mungkin karena aspek-aspek khusus dewasanya berkurang? Mungkin karena seri ini memang lucu dan menyentuh hati dengan cara yang sama?

Aku juga sebenarnya enggak yakin.

Soalnya daripada isi ceritanya sendiri, bagaimana ceritanya disampaikan adalah apa yang membikin cerita ini jadi bagus. Para tokohnya enggak benar-benar dibeberkan namanya. Dan kita lebih mengenal mereka karena tampang dan sifatnya daripada karena nama mereka sendiri (seperti si Aku yang menjadi tokoh utama, si Kakek, lalu si Asisten, dsb.). Tapi kita bisa menyukai mereka semua. Tokoh Aku yang membawakan cerita ini beneran gampang kusukai. Komentar-komentar pesimis cerdasnya yang ia selipkan dalam narasi dia kerap bikin aku ngakak. Lalu kaum peri (yang dilahirkan tanpa nama, namun masih punya kemampuan ajaib buat saling membedakan satu sama lain) semuanya benar-benar imut dan menggemaskan (walau mereka sebenarnya enggak kalah pesimisnya dibanding si tokoh utama, mereka selalu digambar dengan senyuman lebar). Salah satu kekonyolan cerita ini adalah bagaimana suatu fenomena aneh bisa terjadi semata-mata karena dorongan keinginan mereka untuk bisa makan yang manis-manis. Di samping itu, alur cerita ini juga kerap maju-mundur, dan memberikan pemahaman lebih dalam terhadap dunianya dengan cara yang sebelumnya tak terbayangkan.

Seri novelnya masih terus berlanjut, tapi animenya diakhiri dengan kesan lumayan kuat. Ada beberapa episode yang tingkat aneh-nya terlampau sukar diikuti orang-orang awam sih. Tapi begitu kau bisa melewati episode-episode itu, sisa episode terakhirnya (bagiku, seenggaknya) beneran luar biasa.

Dengan Ini Secara Resmi Aku Menjadi Penggemar Nakahara Mai

Bicara soal hal-hal teknis, visualisasi latar seri ini dikhususkan berbentuk 2D dengan gaya menyerupai lukisan-lukisan cat air. Pewarnaannya karena itu jadi terkesan terbatas, dan anime ini dari awal sampai akhir (kecuali di episode-episode tentang manga) benar-benar terkesan seperti buku gambar bergerak. Mungkin perlu sedikit waktu buat membiasakan gaya gambar ini sih. Tapi alasan mengapa gaya gambar ini dipilih bisa kupahami. Dan aku enggak bisa habis pikir gimana visual di episode-episode terakhirnya bisa memukauku sekalipun dengan hanya gaya gambar kayak begini.

Para karakternya enggak terlalu digambarkan seperti itu sih. Kesemuanya, baik yang utama maupun sampingan, digambar dengan cara lumayan normal. Semua desain karakternya cukup bisa berkesan tanpa terlalu menonjol, terlebih bila melihat gimana mereka semua pada dasarnya adalah orang-orang biasa.

Soal audionya, damn, aku enggak menyadarinya di awal, tapi aku beneran harus mengakui kalau itu bagian terbaik seri ini. Soalnya, tanpa pengisi suara dan BGM-nya yang bagus ini, seri ini enggak akan ada apa-apanya. Susah menjabarkannya. Mungkin karena seri ini secara menyeluruh bukan jenis yang akan langsung kau suka, but the kind that kinda grows on you. Lagu pembuka dan penutupnya juga bukan jenis yang menonjol pada awalnya.

Singkat kata, sang sutradara, Seiji Kishi, beneran berhasil dalam segala aspek di seri ini. Aku sebelumnya merasa tempo penceritaannya cenderung bermasalah bagiku, menilai dari Angel Beats! dan Persona 4 The Animation yang juga disutradarainya dulu. Tapi dengan ini, aku harus mengakui kalau dia beneran salah satu sutradara anime paling menonjol saat ini. Nama-nama lain yang kurasa layak diingat adalah Uezu Makoto sebagai penulis skenario dan Sakai Kyuuta sebagau sutradara animasi utama.

Bicara sedikit soal publikasinya, seri novel Jinrui pertama terbit tahun 2007 di bawah bendera Gagaga Bunko-nya Shogakukan dan hingga kini masih berlanjut. Ilustratornya sempat berganti dari Yamasaki Tooru ke Tobe Sunaho pada tahun 2011, dan gambar Tobe-sensei yang kemudian dijadikan acuan untuk desain anime ini. Lalu sekurangnya sudah ada tiga adaptasi manga oleh sejumlah pengarang berbeda. Tapi soal ini, kurasa aku tak akan bahas lebih banyak.

Seri ini… kusuka karena mengingatkanku akan besarnya arti rasa syukur dan kerja keras. Serius, dalam satu dan lain hal, semua tokoh di seri ini pekerja keras, dan sebagai seorang pemalas sejati yang punya pandangan hidup tak kalah pesimisnya dari mereka, sifat mereka benar-benar membuatku tergugah.

Jadi mungkin di akhir, pada akhirnya seri ini kusuka karena memang cocok dengan kepribadianku saja.

Penilaian

Konsep: B+; Visual B+; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A


About this entry