Somedays’ Dreamers – The Magic in Me

Pada tahun 2004-an, ada seri anime berjudul Mahou Tsukai ni Taisetsuna Koto – Someday’s Dreamers (judul aslinya kira-kira ‘apa yang penting bagi seorang penyihir’), yang tentangnya pertama kubaca di Animonster. Anime yang juga dikenal oleh para fans sebagai Yume Mahou keluaran J.C. Staff ini dibuat berdasarkan karya manga berjudul sama buah pena Norie Yamada yang menjadi pembuat cerita.

Ceritanya berlatar di dunia modern kontemporer di mana penyihir merupakan  profesi sehari-hari, yang digeluti oleh mereka yang memiliki bakat untuk melakukannya. Ada semacam asosiasi sihir yang jasanya dapat disewa untuk membantu mengatasi permasalahan orang. Lalu plot utamanya tentang seorang gadis remaja polos bernama Kikuchi Yume, yang pergi ke Tokyo dari kotanya yang terpencil, demi menjalani masa pelatihannya sebagai penyihir di bawah asuhan penyihir handal namun tertutup, Oyamada Masumi.

Seri ini bergenre drama sehari-hari. Garis besarnya tentang bagaimana Yume belajar lebih banyak tentang kehidupan serta dunia selama ia tinggal di kota besar ini, Dia juga perlu belajar dari berbagai pengalamannya selama masa pelatihan tentang apa sesungguhnya hal terpenting yang seorang penyihir harus miliki (jawabannya: ‘hati’).

Aku sedang suka-sukanya terhadap anime-anime drama pada masa itu. Karenanya, anime berdurasi sekitar 12 episode itu langsung kuikuti dari awal sampai akhir. Desain karakternya (terutama desain karakter Yume) menjadi hal pertama yang menarik perhatian. Tapi nuansa latarnya yang magis, visualisasi yang dipenuhi efek khusus yang keren pada masanya, serta musik latar yang beneran enak dan kebanyakan dilandaskan dari alat-alat musik tiup, benar-benar menjadikan seri anime ini salah satu favoritku.

Terlebih anime ini merupakan ‘ekspansi’ dari cerita manga aslinya, dengan dunia lebih kaya serta tokoh-tokoh yang benar-benar jauh lebih banyak. Seperti soal bagaimana Yume diceritakan mengusung nama besar ibunya yang legendaris, adanya tokoh-tokoh lain yang seperti Yume menjalani pelatihan bersamanya (tapi dengan guru pembimbing yang berbeda), cara kerja asosiasi yang menerapkan cincin dan perlambang binatang sebagai metode identifikasi penyihir, dan sebagainya.

Mereka yang mengharapkan drama penuh konflik mungkin takkan terlalu menyukainya. Tapi mereka yang bisa menikmati cerita-cerita drama kehidupan sehari-hari, kurasa bisa benar-benar suka.

Manga-nya sendiri yang hanya terdiri atas dua buku. Sempat diterbitkan di sini oleh mnc pada pertengahan tahun 2000-an. Tapi aku tak terlalu bisa merekomendasikannya, karena aku agak gimanaa gitu dengan kualitas terjemahannya waktu itu.

Tapi pada tahun 2009, mnc secara agak mengejutkan menerbitkan sekuel seri ini,  Someday’s Dreamers – The Magic in Me, atau yang di luar negeri juga dikenal sebagai Someday’s Dreamers – Spellbound. Berjudul asli Mahou Tsukai ni Taisetsuna Koto – Taiyou to Kaze no Sakamichi (subjudul kali ini berarti ‘bukit angin dan matahari’), ceritanya masih ditulis oleh Norie Yamada dengan artwork garapan Kumichi Yoshizuki.

Ini adalah sekuel dalam arti sesungguhnya; bukan cuma cerita sempilan pendek yang berakhir dengan kurang memuaskan.

Err, aku agak lupa seri ini terdiri atas berapa buku. Soalnya, sudah terbit lumayan lama (mudah-mudahan mnc masih ngebuka layanan pemesanan). Mungkin tiga atau empat? Tapi pengemasan dan kualitas terjemahannya termasuk yang lumayan (ada sejumlah cacat pada layouting-nya, tapi ya sudahlah).

Aku bahkan sampai ngerasa sayang ngebuka plastiknya karena ngerasa kualitas kertas di dalamnya bakalan rusak.

Soalnya, terlepas dari kualitas ceritanya sendiri, gaya gambar Kumichi-sensei itu di samping enak dilihat, punya pemaparan nuansa yang kuat sih.

Yokohama-Nagasaki

Ceritanya berlatar di kota pelabuhan Nagasaki.

Matsuo Nami, siswi kelas 3 SMA Nagasaki Ryokunan, akibat sebuah kecelakaan yang agak enggak enak, bertemu untuk pertama kalinya dengan murid pindahan Tominaga Ryuutarou, dan semenjak hari itu, terpikat padanya.

Nami adalah gadis penyuka fotografi yang mewarisi bakat sihir dari ayahnya yang merupakan penyihir profesional. Tapi Nami kurang piawai menggunakan sihirnya, dan merasa amat sangat tidak percaya diri kalau misalnya selepas sekolah setahun lagi nanti, dirinya harus terjun ke profesi yang sama seperti ayahnya.

Di masa-masa ketika ia banyak disibukkan oleh pikiran-pikiran tentang masa depan itu, Nami bertemu Tominaga, seorang pemuda yang… tertutup, keras, namun tampan dan lumayan gampang disalahpahami akibat sikapnya yang menjaga jarak.

Nami tak mengira kalau Tominaga yang suka mengendarai sepeda motor ternyata murid baru yang ditempatkan di kelasnya. Lalu terlepas dari anjuran teman-teman sekelasnya yang lain, dan tanpa mempedulikan kemungkinan reaksi negatif dari Tominaga sendiri, Nami nekat untuk secara berkala mengajak Tominaga bicara agar bisa mengenal lebih jauh tentangnya.

Cerita seri ini pada dasarnya berkutat seputar terjalinnya hubungan antara mereka Nami dan Tomonaga dalam setahun terakhir mereka di SMA. Ceritanya lumayan mengangkat keseharian, dengan bumbu-bumbu drama lumayan banyak. Sebab di samping Nami dan Tominaga, diangkat pula bagaimana keadaan orang-orang di sekeliling mereka berdampak pula pada hubungan antara keduanya.

Enggak seperti Yume Mahou, ada subplot tentang cinta remaja yang lumayan rumit di seri ini. Ceritanya tak berakhir terlalu jauh dari kualitas drama romansa yang kerap kau temui dalam seri-seri dorama Jepang. But, it works.  Dan meski aku sempat dibuat tersendat dan mengernyit di beberapa bagian, aku lumayan menikmati seri ini dari awal sampai akhir.

Karakterisasinya mungkin enggak kuat. Tapi stok karakternya lumayan banyak (meski agak terkesan dimasukkan terlalu tiba-tiba secara sekaligus ke dalam cerita, ditambah dengan pacing yang agak bermasalah.).

Ada Hide, adik lelaki Nami, yang tanpa sepengetahuannya, diam-diam bekerja sambilan di tempat pembuatan kapal dan ternyata berteman dekat dengan Tominaga yang menjadi rekan sekerjanya; Mitsuaki, teman sekelas Nami yang atlet dan diam-diam selama ini menjadikan Nami sebagai sumber semangatnya; Rieko, gadis tomboi dan dewasa yang diam-diam menyukai Mitsuaki, Chika, sahabat dekat Nami yang lembut dan pendiam, yang tanpa disangka, memendam perasaan kuat terhadap Nami sendiri; Kouhei, yang juga suka fotografi, namun memendam rasa suka terhadap Rieko; lalu Kayoko, gadis rupawan di sekolah yang untuk suatu alasan terkesan selalu memusuhi Nami, dan menjadi semacam saingannya saat dirinya pun mulai bisa akrab dengan Tominaga.

Yah, dalam setahun itu, ceritanya, ada banyak hal yang berpusar di sekeliling Nami. Dan semuanya kayak… secara berulangkali, memunculkan keadaan di mana Nami dituntut memakai sihirnya untuk memperbaiki keadaan, sekalipun kegagalannya yang berulang membuatnya merasa semakin tak berdaya.

“Kenapa dia… menyukaiku? Lalu kenapa aku…”

Aku sering merasa kalau aku orang yang socially awkward. Tapi bahkan dari sudut pandangku sebagai orang kayak gitu, aku merasa para karakter di seri ini agak… gimana ya? Agak-agak ‘tolol’ dan enggak semestinya bersikap demikian? Tapi mungkin aku ngomong begini karena faktor usiaku pas baca juga sih.

Perkembangan mereka sebagai karakter terkesan agak dibatasi oleh durasi, dan makanya enggak memberi dampak secara maksimal. Tapi kedua karakter utamanya, Tominaga dan Nami, mendapat porsi sorotan yang lumayan pas kok.

Lalu mungkin karena faktor gaya narasinya atau gimana (kelemahan Kumichi-sensei?), tapi cerita seri ini memang sangat ‘Jepang’. Maksudku, ceritanya jadi sedikit terkesan aneh sesudah diterjemahkan. Kayak, lebih cocok dituturkan dalam bentuk anime atau dorama gitu. Tapi mending soal itu enggak usah terlalu dipermasalahkan.

Klimaks seri ini mulai terbangun saat seiring dengan makin dekatnya Nami dengan Tominaga, Nami makin mengetahui perihal beban masa lalu pahit yang diusung Tominaga, bersama adik perempuannya yang masih kecil, Sumomo.

Akibat kecelakaan lalu lintas yang menghilangkan nyawa ibu mereka di masa lalu, Sumomo yang trauma kehilangan suaranya. Saat Tominaga di akhir tahun membuat keputusan untuk sekali lagi meninggalkan segalanya, Nami yang sebelumnya peragu akhirnya menyadari kalau waktu yang dimilikinya untuk menuntaskan perasaannya semakin terbatas. Lalu jawaban pertanyaan tentang apa yang  bisa ia lakukan bagi orang yang dikasihinya akhirnya ia temukan pada bakat sihirnya yang terpendam, yang selama ini tidak sanggup ia andalkan.

Penyelesaiannya mungkin terkesan agak mengulang penyelesaian di Yume Mahou. Tapi elemen remajanya memberinya kesan yang agak segar.

Di samping itu, Yume dan Oyamada juga tampil sebagai cameo di seri ini. (Walau dengan cara yang agak terkesan maksa sih.) Dan, yeah, itu jadi sedikit fanservice bagi penggemar seri yang pertama.

Terlepas dari segala kelemahannya, ini lagi-lagi menjadi sebuah seri yang cukup kusukai. Dampaknya buatku tak sebesar dibanding waktu aku menonton anime Yume Mahou dulu. Tapi, yah, aku tetap lumayan menikmatinya.

Kurasa ini kurekomendasikan hanya kepada mereka yang menggemari drama-drama kehidupan macam begini. Bagi penggemar drama-drama romansa berat, hmm, mungkin enggak dulu deh.

(Aku beneran mesti mulai ngumpulin wallpaper seri ini.)


About this entry