Kizumonogatari – IND (012)

…Aku benar-benar enggak ada maksud apa-apa saat menerjemahkan bab ini.

Mohon jangan berprasangka yang aneh-aneh.

(Sori lama. Beneran sedang banyak ngebenahin diri belakangan.)

—————–

012

Mungkin penyebabnya karena perbedaan ukuran potongan kaki kiri yang dimulai dari pangkal paha dengan ukuran potongan kaki kanan yang hanya dari lutut. Perubahan Kiss-Shot sesudah memakan kaki kirinya sendiri itu dramatis. Aku memang dikejutkan oleh pertumbuhannya dari wujud 10 tahun ke wujud 12 tahun—tapi kali ini, sekalipun semenjak awal aku tahu tubuhnya akan berubah, aku tetap saja terkejut.

Begitu ia memperoleh kaki kirinya kembali, Kiss-Shot dalam sesaat saja sudah menyamai tampilan usiaku.

Tujuh belas tahun.

Bahkan dirinya mungkin telah menjadi lebih tinggi dariku.

Jelas, dalam interval antara usia 10 tahun dan 17 tahun, manusia biasa pun mengalami perubahan teramat besar pada penampilan mereka, dari masa ‘periode karakteristik seksual sekunder’ sampai ke ‘periode pertumbuhan’—untuk memberi contoh konkrit dalam hal ini, ukuran dada Kiss-Shot benar-benar jadi luar biasa.

Jika dirinya terus membusungkan dada sembari mengayunkan apa yang menempel padanya seperti sebelum ini, maka efeknya pasti luar biasa.

Bahkan dandanannya pun menjadi sedikit lebih dewasa, pada waktu yang sama, rancangan bajunya berubah menjadi sesuatu yang lebih chic. Rambutnya memanjang lebih jauh, dan ia satukan dalam sebuah kuncir.

Hasil akhirnya benar-benar mengesankan.

Sebab bagaimanapun tampilan awalnya, Kiss-Shot bagaimanapun juga telah berusia 500 tahun semenjak awal.

“Hmph.”

Kiss-Shot nampak puas.

Dirinya memang sudah terlihat begitu semenjak kaki kanannya kuperoleh kembali, tapi Kiss-Shot memang menampakkan kesan puas ini setiap waktu, dan karena ia tak pernah menyembunyikan rasa senangnya, bahkan aku, yang secara praktis bertindak sebagai ‘kaki tangannya’, menjadi ikut senang melihatnya.

Karena aku jadi merasa hasil kerjaku benar-benar berarti.

“Beta merasa keadaan badaniah beta telah jauh lebih baik—dapat engkau katakan, keabadian beta telah hampir kembali lagi.”

“Begitu ya. …Kalau begitu, buat pertarungan berikutnya, bisa kalau yang maju kau saja?”

“Sayangnya tidak, sebab nampaknya kekuatan-kekuatan vampir yang beta punya masih belum dapat beta gunakan. Yang beta maksud, lebih sulit bagi beta untuk mati dibandingkan sebelumnya. Mungkin beta sanggup menandingi Dramaturgie, tapi dalam keadaan beta sekarang, mengatasi Episode pun beta takkan sanggup.

Kiss-Shot, bagaimanapun juga, mengutarakan itu dengan nada sungguh-sungguh.

“Apalagi jika yang beta hadapi sebagai lawan adalah Guillotine Cutter.”

“… … … …”

Perkataanmu masih tetap sama—begitu pikirku saat itu.

Semenjak itu…

Pertama-tama, aku mengantar Hanekawa, yang luka-lukanya telah pulih, kembali ke rumahnya. Kupikir paling baik jika dirinya pulang sembari Oshino masih mengawasi Episode.

Bahkan, kenyataannya, untuk suatu alasan Oshino seakan enggan untuk bertemu Hanekawa (semenjak hari pertama, berkat serangkaian kebetulan luar biasa, Oshino maupun Hanekawa belum sekalipun pernah bertemu—mengingat rasanya tak mungkin bagi Hanekawa untuk lari darinya, pastilah Oshino yang menghindari Hanekawa dalam kasus ini) atau setidaknya, itulah yang kurasa—Hanekawa sendiri tampaknya menyadari hal ini, dan menerima doronganku untuk akhirnya pulang.

Sampai jumpa besok, katanya.

Dan ia pun pulang.

Sesudahnya, kesadaran Episode pulih kembali, kemudian dia, Oshino, dan aku bersama-sama memperbaiki lapangan olahraga yang jelas-jelas rusak berat. Kami mengubur kembali lubang-lubang di lapangan yang telah tercipta akibat tusukan salib raksasa Episode dengan kerja berat, selanjutnya kami pulihkan isi bak pasir kembali seperti semula, ditambah lagi sisa-sisa serpihan tubuh Hanekawa yang tersebar (jelas saja, tak peduli berapa lama kami menunggu, tak kunjung lenyap juga) selanjutnya kami buang (kami sempat berdebat a lot soal ini, tapi akhirnya kami putuskan buat menyatukan semuanya dan menguburkannya di taman bunga, ‘Makam Pii-chan’ adalah tulisan yang kami bubuhkan pada papan kayu penanda yang kami pasangkan di sana. Idenya sebenarnya berasal dari Oshino Memem. Aku sendiri merasa membuat penanda makam berbentuk salib yang dibuat dari ranting kayu agak berlebihan, sekalipun dimaksudkan untuk lelucon), yah, aku tak bisa bilang kalau segala sesuatu secara persisnya kembali seperti semula, tapi pembersihan yang cukup baik agar orang-orang biasa tak menyadarinya telah tuntas dilakukan.

Oshino dan Episode—keduanya kemudian meninggalkanku sesudah itu. Mereka pergi bersama, ke suatu tempat.

“Aku kalah.”

Episode berkata, seraya pergi.

“Sial, apa-apaan tuh—aku pasti malas-malasan kelamaan. Bisa-bisanya aku kalah sama amatiran macam kamu…”

“… … …”

“Jangan melotot begitu. Aku minta maaf buat Nona itu. Aku lebih panasan dari seharusnya. Lagian—kuakui saja, melawan bawahan si Penakluk Fenomena Ganjil itu kerjaan brutal, tahu. Aku enggak boleh lengah bahkan terhadap orang biasa pun—walau ujungnya aku kalah juga, jadi jelas itu enggak bikin aku tambah baik. Tapi inget aja, kau enggak mungkin ngelawan Guillotine Cutter dengan tipuan murahan kayak gitu. Aku mungkin gila, tapi gilanya dia di tingkat yang sama sekali beda.”

Episode pada akhirnya, sesuai yang telah dijanjikan—meski, pertarungan kami kehilangan artinya semenjak Hanekawa menyelonong ke tengah-tengahnya, Episode menyerang Hanekawa yang muncul, dan aku sempat mencoba membunuh Episode, jadi apa yang terjadi tak benar-benar bisa dikatakan sesuai yang dijanjikan—mengembalikan kaki kiri Kiss-Shot.

Pada fajar tanggal 5 April, seperti beberapa hari sebelumnya, Oshino kembali dengan membawa tas perjalanan berisi kaki kiri Kiss-Shot.

Kiss-Shot memakannya dengan segera.

Seakan dia sudah kelaparan dan bernafsu untuk makan.

Kemudian dia berubah menjadi wujud 17 tahun.

“Guillotine Cutter…”

Pria dengan tatanan rambut ala landak yang berpakaian seperti pendeta katolik.

Hanya dia satu-satunya dari mereka… yang tidak menggunakan senjata.

“…Sebenarnya dia orang macam apa sih? Sepertinya kau dan Episode sama-sama waspada terhadapnya.”

“Maka begitu, beta akan menjelaskan.”

“Penjelasanmu biasanya agak tersamar. Maksudnya biasanya baru aku ngerti belakangan. Kasih saja aku penjelasan singkat. Aku siap dengarkan.”

Matahari tanggal 5 April sudah mulai terbit.

Selama kami tetap berada di ruangan lantai dua puing-puing bimbingan belajar ini, kami tak perlu khawatir soal cahaya matahari, tapi aku tetap ingin dengar penjelasannya dari Kiss-Shot sebelum ia tertidur.

Sebenarnya, aku juga mengantuk sih.

Ngomong-ngomong, Oshino meninggalkan tas perjalanannya dan pergi keluar lagi. Dia pergi untuk negosiasinya yang terakhir—meski dia agak licik, kurasa dia bisa dibilang pekerja keras juga.

Yah, bagaimanapun, toh aku membayar tarifnya.

Jadi tentu saja dia mesti mengerjakan bagian pekerjaannya juga.

Tapi, aku benar-benar jadi bertanya-tanya soal kapan sebenarnya dia tidur…

“Engkau bertanya tentang hal ini, namun jika beta jelaskan secara menyeluruh, dari minus sampai ke plus, tetap tiada makna praktis yang akan engkau dapatkan.”

“Tapi itu enggak berarti informasinya jadi enggak berarti ‘kan? …Dan lagian, bukan dari ‘minus’ tapi dari ‘1’, dan bukan dari ‘plus’ tapi dari ‘10’.”

Lalu aku bilang:

“Guilotine Cutter… berarti buat saat ini, aku bisa menganggap kalau dia benar-benar manusia?”

“Benar. Dirinya bukanlah vampir seperti halnya Dramaturgie, dan bukan pula separuh vampir seperti halnya Episode. Dirinya sepenuhnya, secara pasti, adalah seorang manusia biasa.”

“Aku tak yakin apa dia benar-benar manusia biasa sih.”

Dia juga tak terkesan seperti seorang yang ‘sepenuhnya.’

Dia seperti orang yang tidak patut digambarkan dengan kata-kata tersebut.

“Hmm. Mungkin itu benar.”

Kiss-Shot kemudian bilang:

“Dirinya adalah… seorang pendeta.”

“Hah? Tunggu, jangan bilang kalau dia sekarang ada hubungannya dengan semacam kesatuan khusus agama Nasrani.”

“Nyaris, tapi jauh dari situ.”

Kiss-Shot menggelengkan kepala seakan mengejek.

…. Saat aku dihadapkan dengan sosoknya yang berwujud 10 atau 12 tahun, sewajarnya, aku tak merasakan apa-apa. Tapi, bila dihadapkan pada wujudnya sekarang yang terlihat memiliki usia sama denganku, untuk suatu alasan, kehadirannya membuatku gugup.

Kiss-Shot cantik bagaikan boneka.

… … Dia seperti seorang peragawati dari negara asing.

Atau mungkin malah aristokrat abad pertengahan yang sosokya cuma bisa dilihat di film-film.

“Bagaimana cara beta ungkapkan dalam bahasa negara ini… hmm, terjemahan harfiah mungkin akan mencukupi.”

“Terjemahan harfiah?”

“Guilotine Cutter adalah seorang paus dari suatu agama baru tak bersejarah tertentu.”

“P-Paus?”

Jadi dia orang penting!

Seorang paus di usia semuda itu—karena dirinya manusia, maka pastinya usianya sesuai dengan penampilannya, ‘kan?

“Agama tersebut tiada memiliki nama—kelompoknya merupakan organisasi yang bahkan beta pun tak tahu secara baik. Namun, ada satu hal yang beta perlu sampaikan secara jelas. Berdasarkan doktrin agam tersebut, keberadaan fenomena-fenomena ganjil merupakan suatu hal yang tak boleh diakui.

“Oh…”

Sebuah agama baru yang ‘tak bersejarah’ ya?

Namun Kiss-Shot telah hidup semenjak 500 tahun lalu. Jadi bicara secara kasar, kita tak bisa begitu saja menerima acuannya terhadap waktu. Dia mungkin masih akan menyebutnya sebagai suatu agama baru sekalipun agama itu sudah berdiri semenjak zaman Perang Dunia II.

Aku jadi penasaran soal berapa nomor odinal yang Guillotine Cutter miliki sebagai paus.

Tak mungkin dia paus generasi pertama ‘kan?

“Guillotine Cutter secara pribadi menjalankan kewajiban agama tersebut untuk menghapuskan fenomena-fenomena ganjil yang tidak semestinya ada. Atau, dengan kata lain, Guillotine Cutter, di samping menjadi paus, sekaligus juga menjadi komandan dari apa yang engkau akan sebut sebagai ‘kesatuan khusus’.”

“Begitu.”

“Dirinya adalah komandan bayangan tim rahasia yang melayani umbra divisi keempat dari kesatuan penjagaan khusus kegelapan.”

“Terjemahannya terlalu harfiah.”

Tolong terjemahkan dengan cara lebih halus lagi.

Duh, ini benar-benar klise.

“Bagaimanapun… di akhir, dirinya tetap seorang manusia. ‘kan? Terlepas dari tipuan-tipuan macam apa yang dia gunakan, dia bukan tandingan bagi seorang vampir, ‘kan?”

“Dirinya adalah seorang ‘manusia’ yang bukanlah vampir maupun separuh vampir, sekaligus seseorang yang dipekerjakan untuk menjalankan keahliannya, yakni pembasmian vampir. Ini adalah kenyataan yang perlu engkau perhatikan secara baik—kedua belah tanganku sampai dirampas oleh orang itu, bukan begitu?”

“Aku tahu.”

Dramaturgie; kaki kanan.

Episode; kaki kiri.

Guillotine Cutter; lengan kanan dan kiri.

Secara sederhana, perolehannya adalah dua kali perolehan yang lain.

“Walau pada waktu itu beta memang lengah, pada saat yang sama, keadaan tubuh beta juga sebenarnya sedang tak begitu baik.”

Kiss-Shot beralasan dengan cara yang sedikit tersamar.

Yah, aku tak akan menanggapinya untuk sekarang ini.

“Jika kita sebut Dramaturgie beraksi karena tuntutan pekerjaan, dan Episode bergerak karena dorongan perasaan pribadi, maka Guillotine Cutter berburu vampir lebih karena keyakinan yang dianutnya. Mungkin beta berkata begini untuk diri beta sendiri, namun iman adalah sesuatu yang menyusahkan.”

Pekerjaan. Perasaan pribadi. Lalu keyakinan.

Hmm—mesti kuakui kalau keyakinan memang sesuatu yang lebih menyusahkan daripada perasaan pribadi.

“Hei, jadi apa yang mesti aku lakukan?”

“Menanglah. Segalanya kuserahkan padamu.”

“… … … … …”

Mungkin Kiss-Shot memang vampir legendaris atau semacamnya, tapi mendobrak segala sesuatu yang menghalangi jalanmu bagaimanapun juga adalah seseorang yang berlebihan. Demikian pikirku saat itu.

Namun Kiss-Shot, begitu mengatakan semua itu, langsung telentang di atas dipan meja dan langsung terlelap di sana begitu saja.

Uhmmmm.

Karena wujudnya menyerupai seorang gadis yang sebaya denganku, dan penampilannya bisa dibilang cukup cantik, jika aku dihadapkan begitu saja pada sosoknya yang sedang tidur, maka akan jadi susah bagiku untuk berbuat apa-apa.

Aku bahkan merasa kalau dirinya sedang merayuku.

Aku bahkan merasa kalau tidak melakukan apa-apa sekarang justru merupakan tindakan yang tidak sopan.

Aku bahkan merasa kalau aku benar-benar berpikir terlalu berlebihan tentang ini.

Apa yang kualami adalah suatu spiral delusi yang seakan tiada akhir.

“… … … Terserahlah.”

Sudah fajar; mungkin sebaiknya aku mencoba tidur juga.

Bagaimanapun, memikirkan siasat tempur yang nantinya akan kugunakan sudah terbukti tidak banyak gunanya. Aku memahami hal tersebut dari kasusku yang terakhir dengan Episode. Siasat tampur yang kupikirkan secara setengah-setengah malah hanya akan semakin membingungkanku seandainya gagal.

Aku harus bisa fleksibel dalam pertarungan-pertarunganku.

Sekalipun menuntut hal ini dari diriku mungkin memang terasa terlalu berlebihan.

Bahkan hari ini pun, sesudah matahari terbenam, Hanekawa akan datang kemari—ada sesuatu yang perlu kukatakan padanya. Sampai waktu itu tiba, aku akan istirahat dan memastikan diriku siap. Yah, tubuh vampir konon memang dengan sendirinya ‘memastikan agar kondisi tubuh tetap sehat’, jadi sekalipun tanpa tidur pun, mungkin keadaanku tetap bakal siap. Tapi kalau harus kukatakan, kurasa ini hubungannya lebih pada bagaimana aku menjaga kondisi mental daripada fisikku.

Hari ini sudah tanggal 5 April lagi.

Liburan Musim semi, seperti yang mungkin bisa kau lihat, sudah hampir berakhir.

Aku benar-benar jadi berpikir apakah aku benar-benar akan bisa berubah kembali jadi manusia sebelum tahun ajaran baru sekolah dimulai. Seandainya tahun ajaran baru nanti terlanjur dimulai dan aku masih belum berhasil membereskan semua persoalan ini juga, kurasa alasan seenaknya seperti ‘melakukan perjalanan pencarian jati diri’ takkan mungkin bisa diterima sebagai alasan absenku. Saat memikirkan itu semua akhirnya aku tertidur.

Walau legenda menyebutkan kalau vampir biasa tidur di dalam peti mati—seperti halnya Kiss-Shot dan Oshino, aku justru tertidur di atas dipan yang tersusun atas meja.

Dan kemudian, saat aku terbangun, hari sudah kembali malam.

Aku tak bermimpi.

Untuk suatu alasan, nampaknya kaum vampir tak pernah bermimpi.

Memikirkannya baik-baik, aku memperhitungkan bahwa sesudah aku menjadi vampir, aku telah tidur selama 12 jam setiap hari. Karena sebagai vampir rasanya begitu sulit melakukan apa-apa saat matahari masih keluar, maka apa boleh buat.

Yang namanya tidur juga membesarkan anak.

Kiss-Shot juga masih tertidur. Maksudku, bukan berarti Kiss-Shot dibesarkan lewat tidur juga. Namun keadaan saat aku terbangun dengan seorang gadis pirang cantik tertidur di sisiku, dengan suatu cara tertentu, rasanya lebih mencengangkan dibandingkan saat Kiss-Shot masih terlihat seperti anak kecil.

Nampaknya Hanekawa… masih belum tiba.

Bahkan Oshino pun masih belum kembali.

Karena Oshino mengerti kalau Hanekawa akan datang, jika dirinya memang benar sengaja berusaha menghindari Hanekawa karena suatu alasan tertentu, untuk sementara waktu kurasa dirinya memang takkan kembali.

Ini bukan untuk tujuan gladibersih sih, tapi aku menunggu Hanekawa dengan membaca ulang komik Gakuen Inou Batoru yang baru Oshino kembalikan sesudah ia membacanya secara singkat.

Aku telah menghabiskan lima buku saat Hanekawa akhirnya muncul.

Aku tersesat, itu katanya.

Menyingkirkan lampu senter yang dibawanya, Hanekawa duduk di salah satu kursi.

Hari inipun, dirinya mengenakan seragam sekolah.

Karena blus dan sweater sekolahnya robek dalam serangan Episode semalam, aku secara diam-diam agak berharap bisa melihat Hanekawa dalam pakaian biasanya kali ini. Tapi entah bagaimana, harapanku sepertinya terkhianati.

“Dasar pengkhianat.”

“Hm? Eh? Kenapa?”

“Enggak, aku cuma bicara pada diriku sendiri.”

Atau mungkin lebih tepatnya, aku sedang berbicara secara egois.

Jadi Hanekawa masih punya stel baju seragam cadangan, ya?

Bagaiamanapun, aku memang pernah dengar kalau baju-baju seragam pada siswi perempuan memang lebih gampang rusak.

“Hanekawa, luka di perutmu sudah baikan?”

“Walau dibilang luka juga, bekasnya bisa dibilang sudah hampir tak ada.”

“Sungguh? Masa, coba kulihat.”

“Apa maksudnya dengan ‘coba kulihat’?”

Ah, dia marah.

Aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, sih.

Tapi, aku memang sudah memastikan keadaannya kemarin malam. Jadi kalau Hanekawa sendiri bilang keadaannya sudah baik, maka mungkin memang sudah tak ada masalah.

Lukanya dirawat dengan memakai darah vampir.

Aku sesudahnya khawatir kalau aku melakukan itu, maka akan ada resiko Hanekawa nantinya berubah menjadi vampir. Tapi saat aku menanyakannya pada sang spesialis, Oshino, kelihatannya tak ada yang perlu kutakutkan.

Perubahan menjadi vampir dan keabadian nampaknya digerakkan oleh suatu sistem berbeda. Atau malah, mungkin sejak awal memang tak ada kaitannya sama sekali. Yang satu bukanlah hasil sampingan dari yang satunya. Keduanya sama sekali terpisah.

“Jika bisa dipakai untuk menyembuhkan luka orang, kalau begitu kurasa kekuatan vampir tidak sepenuhnya jahat. Yah, tapi memang sih, kalau aku tak sampai berubah menjadi vampir, mungkin luka sebesar itu takkan kau dapat sejak awal sih.”

“Benar juga sih.”

Ahaha, tawa Hanekawa.

Sesudah itu, ia melirik Kiss-Shot yang masih terbaring di atas meja-meja yang terbaris.

“Ah, ternyata benar. Heart-Under-Blade benar-benar jadi tumbuh.” kata Hanekawa. “Wow, dia bahkan jadi secantik ini. Ciri-ciri khasnya masih tampak… tapi kalau begini, dia jadi terlihat seperti orang yang sama sekali beda.”

“Bahkan cewek juga mikir begitu?”

“Kurasa semua orang bakalan berpikir begitu… walau tatanan rambutnya jadi dikuncir, bahkan saat tidur, ia tak melepasnya.”

Hmmm. Hanekawa bersenandung pelan.

Kelihatannya sesuatu baru saja terpikirkan olehnya.

Yah, jika dipikir baik-baik, mungkin perempuan memang akan lebih sensitif terhadap keadaan tubuh perempuan lainnya.

Sesudah ini, Hanekawa melewatkan beberapa waktu dengan berpikir. Namun di akhir, dirinya tetap tak mengatakan apa-apa. Dia mengalihkan pandangannya dari Kiss-Shot kembali ke arahku, dan mengulurkan sesuatu dari dalam tas yang dibawanya.

“Nih, Araragi. Aku membawakan Coca-Cola.”

Dia mengeluarkan minuman yang dibelinya dari mesin penjual otomatis yang berada di sekitar sini dan mengulurkannya dengan tangan terentang.

Aku menerimanya.

“Ah, terima kasih.”

“Kebetulan, kalau buatku sih Diet Coke.”

“Hah?”

“Karena otot-ototmu sekarang bisa membesar secara spontan, enggak peduli berapa banyak kalori yang kau konsumsi, sepertinya kau enggak perlu akan jadi gendut, Araragi. Sebagai perempuan, terus terang aku jadi agak iri.”

“Entah ya. Kalau harus kubilang, rasanya bahkan lebih seperti aku yang enggak punya nafsu makan. Seperti aku sendiri yang enggak lagi peduli soal apa aku perlu makan atau enggak.”

Sekalipun Kiss-Shot tak makan banyak.

Kurasa perumpamaannya lebih seperti daripada kau makan karena merasa lapar, kau makan lebih karena hidangan yang ada di hadapanmu terlihat mewah dan lezat.

“Makanan kaum vampir itu darah, bukan?”

“Iya, darah.”

“Ngomong-ngomong, apa kau punya semacam dorongan untuk menghisap darah?”

“Hm? Enggak, kalau soal itu, kurasa enggak.”

Sekalipun aku seorang vampir.

Sepertinya Kiss-Shot yang sekarang juga tak memiliki kemampuan untuk menghisap darah. Kalau tak salah, Oshino sempat bilang begitu. Aku jadi bertanya-tanya, apa mungkin itu berarti aku juga tak punya?

Sejauh ini aku belum pernah memikirkannya.

“… … … Apa kau tahu di mana perbedaan rasa antara Diet Coke dan Coca Cola, Hanekawa?”

“Aku tahu.”

“Aku kurang begitu tahu.”

“Uhm… sejujurnya, aku pernah memikirkan tentang hal ini.”

“Hm?”

“Soal pengembangan produk baru. Ada satu perusahaan minuman yang berhasil memproduksi Diet Cola yang rasanya sama persis dengan Coca-Cola.”

“Hoo.”

“Masalahnya cuma warna kemasannya hawaii biru.”

“Kalau gitu, itu bukan Coca-Cola!”

Ujung-ujungnya aku malah tertawa.

Itu memang agak lucu sih.

Kemudian… sesudah tertawa selama beberapa lama, aku menghela nafas.

Ketua kelas dari segala ketua kelas.

Murid teladan.

Nilai-nilai unggulan.

Hanya kesan-kesan itulah yang kupikirkan bila aku mau bicara tentang Hanekawa Tsubasa sebelumnya. Dulu, kupikir dirinya orang berpikiran sempit dan kaku. Si ketua kelas egois yang maunya menang sendiri. Tapi sesudah berbicara langsung dengannya, ternyata dirinya orang yang tidak seperti itu sama sekali.

Bercakap-cakap dengannya menyenangkan, dan dirinya selalu memikirkan kepentingan teman-temannya terlebih dahulu.

Dan bahkan, kemarin, dia sampai harus melewati semua itu.

Namun belum sekalipun dia menyalahkanku.

Semenjak bulan April dimulai, setiap hari, dirinya selalu menyempatkan diri bertemu denganku. Jika tak begitu, mungkin, sudah sejak dulu aku memilih untuk menyerah.

Kekhawatiran apakah aku akan bisa menjadi manusia kembali. Kekhawatiran apakah aku akan bisa menandingi para spesialis pembasmi vampir. Begitu aku lengah sedikit, rasanya semua kecemasan itu dapat menyerangku sewaktu-waktu.

Bagi Kiss-Shot, vampir yang dari sananya secara terbuka sudah membanggakan diri sebagai sosok terkuat, mungkin ini sesuatu yang agak susah dipahami, dan Oshino bahkan sepertinya tak peduli sama sekali tentang hal itu—tapi Hanekawa melenyapkan segala kecemasanku begitu saja.

Ini tidak cuma terkait dengan apa yang terjadi kemarin malam semata.

Seberapa besar aku telah ditolong Hanekawa.

Diselamatkan olehnya.

Kukira aku sudah sadar semenjak awalnya, sampai peristiwa konyol kemarin malam itu terjadi. Rasanya seperti aku bahkan tak bisa merasakan seberapa besar kebaikan yang telah diberikannya bagiku.

Karena itulah…

Aku harus bicara pada Hanekawa.

Ada sesuatu yang harus kukatakan padanya.

“Hanekawa.”

“Hm?”

“Mungkin sebaiknya kamu tak datang ke sini lagi.”

“…Hmm.”

Hanekawa, dengan wajah tersenyum—bangkit berdiri dari kursinya dan beranjak mendekatiku.

“Yah, sudah kupikir kau akan mengatakan itu.”

“Tolong, jangan sampai terluka—yang kali ini bakalan berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Tapi di yang waktu sebelum-sebelumnya juga aku sebenarnya tak mau kau sampai terlibat… serius, waktu itu aku kelewatan saat perasaanku enggak bisa kutahan. Bahkan sekarangpun aku masih menyesal karena bisa sampai semarah itu waktu itu. Tapi kali ini berbeda.”

“…Berbeda bagaimana?”

“Kemarin, waktu salib Episode sampai melubangi punggungmu… aku lepas kendali. Kupikir, seluruh darah di kepala sampai berhenti… seakan mati.”

“Kepalaku?”

Kepalaku.”

Walau tubuhku saat ini abadi—kupikir, aku sudah mati.

Rasa sakitnya seakan lukanya sampai kurasakan sendiri.

“Apa sebelumnya aku pernah bicara soal ketahanan seorang manusia?”

“… … …”

“Luka yang kau alami waktu itu terasa seperti dialami olehku sendiri. Bukan—rasanya mungkin malah lebih sakit dibanding kalau aku yang mengalaminya sendiri. Hanekawa, aku…”

Aku berkata.

Semenjak kemarin malam, aku sudah memikirkan tentang berbagai cara untuk bisa mengatakannya. Namun pada akhirnya, aku cuma bisa mengatakannya secara terang-terangan dan langsung.

“Aku tak mau kembali jadi manusia kalau bayarannya aku sampai harus memanfaatkanmu.”

“…Memanfaatkanku?”

Hanekawa berkata dengan sedikit nada keheranan.

“Tapi Araragi, aku takkan membiarkanmu sampai memanfaatkanku.”

“Tapi apa kau bahkan mikir soal apa yang sedang kau lakukan sekarang? Ini Libur Musim Semi yang berarti, dan kamu sekarang menghabiskannya untuk kepentingan orang kayak aku—kamu bahkan sempat sekarat! Apa kamu bahkan mikir soal kamu lagi ngapain? Se… sedikitpun?”

Seakan baru diberitahu soal suatu hal tak terduga, Hanekawa menggelengkan kepalanya dengan keras.

“Aku kehilangan ingatan dan tak bisa mengingatnya dengan jelas, tapi alasan aku sampai hampir mati itu salahku sendiri, ‘kan? Karena itu, sebenarnya, kau tak perlu sampai harus menyelamatkanku, Araragi.”

“Kamu sama sekali enggak introspeksi kalau begitu.”

Aku mengerti kalau Hanekawa bersungguh-sungguh saat mengatakan ini.

Aku mengerti kalau dirinya tak ingin membuatku sampai khawatir.

Ini bukan sikap munafik.

Dirinya sungguh-sungguh adalah orang baik.

Namun—karena itu pula dirinya menjadi seseorang yang begitu kuat.

Serta karena alasan ini pula, dirinya berada dalam bahaya.

“Entahlah.”

“… … …”

“Kalau misalnya aku berada dalam situasi yang sama, aku enggak yakin apa aku bakalan sanggup menyelamatkanmu. Maksudku, seandainya kita bertukar posisi, aku tak cukup percaya diri kalau aku bakal melakukan apa yang kamu lakukan. Di depan orang seberbahaya itu, aku takkan punya cukup keberanian buat merelakan tubuhku yang bahkan tak abadi. Tapi kamu bisa melakukannya seolah itu hal mudah.”

Aku mencoba untuk memilah kata-kata yang bisa kugunakan secara hati-hati, tapi… sia-sia saja.

Aku tak bisa memilahnya.

Cuma ada satu kata yang pada akhirnya sanggup kugunakan untuk menggambarkan Hanekawa.

“Kamu menakutkan.”

“… … Menakutkan, kamu bilang.”

“Jujur saja, kamu membuatku ingin menjaga jarak” Kubilang saja, dengan pandangan tertunduk ke bawah. “Tolong jangan sakit hati. Maksudku bukan begitu, tapi aku tak bisa mengerti mengapa kau berbuat segitu banyak untukku. Aku cuma teman sekelas yang baru belakangan ini saja kau ajak bicara. Aku enggak ngerti kenapa kau bisa berbuat sejauh ini buatku. Kau jadi tampak seperti orang suci.”

Orang suci.

Atau setidaknya, ibu dari salah seorang dari mereka.

“Tapi sikap pengorbanan dirimu itu terlalu sulit buatku. Aku bahkan enggak punya cukup kesanggupan buat menanggungnya. Ini bukan masalah apa kau bisa disembuhkan atau enggak—kalau aku berpikir soal bagaimana kau bisa sampai terluka untukku saja… tubuhku takkan sanggup bergerak. Itu yang kutakutkan. Aku takkan bisa melawan Guillotine Cutter seperti ini.”

“Apa yang kulakukan bukan pengorbanan diri.”

Pada titik ini, Hanekawa…

…berbicara dengan nada yang mengandung sedikit amarah.

“Ini bukan pengorbanan diri.”

“Kalau bukan, lalu apa?”

“Kepuasanku semata.” Hanekawa menjawab dengan nada pelan. “Araragi, kau salah paham. Aku bukan orang sebaik itu, dan aku juga tidak kuat. Aku cuma melakukan apa-apa saja yang ingin kulakukan saja. … … Malah, kupikir tak ada orang lain yang berpikir lebih egois tentang dirinya melebihi aku.”

“… … …”

“Seandainya saja kau tahu diriku yang sesungguhnya, Araragi, kupikir kau akan sangat, sangat kecewa.”

Aku merasa susah kalau kau punya kesan yang sebegitu salah terhadapku.

Hanekawa tertawa.

“Aku sebenarnya licik, tak mau kalah. Cukup buat sampai membuatmu jaga jarak, pastinya.”

“… … …Kau enggak mungkin serius.”

“Aku serius. Itu semua benar. Bahkan saat bersamamu seperti sekarang, aku cuma melakukan apa-apa yang ingin kulakukan saja. Karenanya, ini bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan.”

“Hanekawa…”

“Tapi.” Hanekawa menepukkan kedua telapak tangan ke depan dadanya. Dan seperti itu, dengan kedua telapak tangan masih terhubung, “Jika kehadiranku sampai menyulitkanmu bergerak, maka ini bisa jadi kasus aku di mana aku salah menempatkan prioritas.”

Itu katanya.

‘Kau sudah punya cukup banyak komik Gakuen Inou Batoru, Araragi. Kini, telah tiba waktunya bagiku untuk pensiun dari tugas harian membeli. Sekalipun kau membaca lebih banyak lagi pun, saya yakin dampaknya hanya akan membuatmu terlalu percaya diri. Jadi benar, mungkin memang sudah tak ada lagi yang bisa kulakukan buatmu lagi.”

“Salah, ada sesuatu yang bisa kau lakukan.”

Aku berkata, menatap tegas ke wajah Hanekawa.

Aku berkata, menatapnya dengan pandangan mata yang tak goyah.

“Tunggu.”

“…”

“Pas tahun ajaran baru nanti, di sekolah kita. Tunggulah aku.”

Itu susah, kurasa.

Aku tak paham seberapa banyak kecemasan dan derita yang dilibatkan dalam menunggu seseorang yang mungkin takkan pernah kembali.

Sesudah ini, aku akan melawan spesialis pengusiran vampir yang paling berbahaya di antara ketiga orang itu, sosok yang diwaspadai oleh semuanya, dan seandainya aku bisa menaklukkan rintangan satu inipun, aku masih belum yakin apa aku sungguh bisa kembali berubah menjadi manusia lagi—tapi walau begitupun, aku masih berharap kau mau menungguku, Hanekawa.

“Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku harap kelak aku masih berkesempatan buat bicara denganmu.”

“… … Oh.”

Aku tak tahu kenapa, tapi tiba-tiba saja Hanekawa melangkah mundur satu langkah.

Sorot matanya terlihat bahagia.

“Pipipi, pipipi, pipipi.”

“Ngh? Bunyi apa itu.”

“Itu bunyi detak jantung.”

“Hah? Detak jantung cewek juga ada efek suaranya?”

Bunyinya mirip alarm jam weker!

“Wuaa, itu nyaris, hampir saja aku jatuh cinta.”

“Haha. Kau bisa saja jatuh ke yang lain—seperti sumber air panas atau ladang minyak.”     *lagi-lagi ini lelucon homofon yang enggak dapat diterjemahkan*

Wuah, itu megah.

Hanekawa pasti kaya.

“Kau pasti selalu pakai teknik itu buat merayu cewek.”

“Hah? Eh, enggak. Kok kamu ngomong gitu? Dan lagi, sejak awal aku hampir enggak pernah bicara sama cewek.”

“Bicaramu seperti perayu ulung. Ditambah lagi waktu itu kamu beli buku nakal itu.”

“Ugh…!”

Bukan, kalau itu sih karena aku laki-laki.

Habisnya, aku tak tahan lagi.

“Ya ampun.”

Berkata demikian.

Hanekawa kemudian melakukan peregangan sebisanya. Sesudahnya, ekspresi wajahnya tampak yakin, dan lalu dalam keadaan itu dia memasukkan kedua belah tangannya ke tepi berlipat dari rok seragamnya.

Aku sempat mengira kalau sekali lagi dirinya akan membuka roknya untukku, tapi, bagaimanapun juga, Hanekawa takkan mungkin melakukan sesuatu yang begitu tidak memiliki keterkaitan logis.

Tapi ternyata, ia kemudian melepaskan celana dalamnya.

Dia menurunkan celana dalam merah muda dengan tali-tali hiasan yang mengitari tepiannya, dan sementara ia berhati-hati agar bagian karet elastisnya tak berhubungan dengan bagian bawah sepatunya, Hanekawa melepas celana dalamnya dari kedua belah kaki.

Kurasa tak perlu dikata kalau aku langsung membeku.

Ternyata apa yang diperbuatnya adalah sesuatu yang sangat-sangat tidak memiliki keterkaitan logis.

“Mm… nih.”

Sementara wajahnya jelas-jelas merah padam karena rasa malu, Hanekawa kemudian mempersembahkan celana dalam yang telah dibentuknya hingga menjadi bulatan kecil itu kepadaku.

“Untuk berbicara seperti halnya dalam adegan-adegan klimaks Gakuen Inou Batoru.” Masih dalam keadaannya yang malu-malu, Hanekawa berkata lagi. “Biar sekarang ini kupinjamkan padamu. Berjanjilah di tahun ajaran baru nanti kau akan mengembalikannya padaku.”

“…Tunggu bentar. Di komik pertama yang kamu belikan untukku, aku yakin memang ada adegan kayak gitu. Tapi kalau aku tak salah ingat, kalau enggak salah benda yang digunakannya itu kalung yang dipakai oleh si tokoh utama wanita.”

“Tapi aku enggak memakai kalung.” Hanekawa berkata, bergerak-gerak dengan gelisah dan memastikan roknya tetap menutup ke bawah.

“Araragi, kau suka celana dalam perempuan, bukan?”

“… … … …!”

Kalau itu sih, takkan mungkin kusangkal!

Takkan mungkin ku…sangkal?!

Sebab menyangkalnya akan merubah landasan dari identitas Araragi Koyomi sendiri, makanya hal tersebut tak dapat kubantah?!

Dengan demikian, Araragi Koyomi takkan berkata tidak!

Hei, tunggu duluuu!

“E-Err…”

“Ah, tapi kalau misalnya kau tak mau…”

“Bukan, aku enggak bilang kalau aku enggak mau. Ini bukan masalah apakah aku menginginkannya apa enggak. Uh. Coba kita lihat, tadi kamu bilang kalau aku boleh mengembalikannya nanti sesudah tahun ajaran baru dimulai?”

Sementara aku masih sedikit terkejut karena celana dalam perempuan bisa menjadi begitu kecil saat dilepaskan, dengan rasa tegang luar biasa, aku mengambil kain itu.

Suatu kehangatan lembut dengan segera mengisi telapak tanganku.

“…Maaf. Tapi ini aku enggak yakin apa aku akan bisa mengembalikannya.”

“E-Eh?”

“Malah, kayaknya buat selamanya ini enggak akan kukembalikan. Ini akan kuwariskan ke keturunanku sebagai harta karun pusaka keluarga Araragi.”

“Hentikan itu!”

“Celana dalam ini untuk selamanya akan berpisah dari badanmu.”

“Aku tak bisa percaya ini!”

“Aku takkan pernah mengembalikan celana dalam ini, tapi sebagai gantinya.”

Aku berkata.

Aku lalu memasang pose keren.

“Aku pasti akan melunasi hutangku. Kapanpun kau memerlukannya, sekalipun mungkin aku pada waktu itu enggak bisa apa-apa, aku pasti akan berada di sana untukmu—membayar hutang budi yang kupunya padamu mulai hari ini akan jadi tujuan hidupku.”

“Sudahlah. Kembalikan saja celana dalamku.”

Tak peduli sekeren apapun kata-kataku, efeknya ternyata tak ada.

Hmmmm.

Kata-kata semata ternyata memang benar-benar tak berguna.

Hanekawa berkata.

“Sesudah ini aku harus pulang dalam keadaan commando, apalagi dengan rok berpengamanan rendah ini… Araragi, dibandingkan apa yang mesti kulalui sekarang, pastinya mengalahkan orang bernama Guillotine Cutter itu bakal lebih mudah, bukan?”

“Kau benar.”

Tak peduli seberapa sulit pertarungannya nanti—

Kalau berpikirnya seperti itu, aku benar-benar tak bisa membantah lagi.

Pastinya ini takkan terlalu berbeda dari sebuah kemenangan yang mudah.

“Kalau begitu, selamat berjuang.”

“Selamat berjuang.”

Ayo kita bertemu lagi di tahun ajaran baru.

Tersenyum, kami saling mengadu kepalan tangan masing-masing.

Tahun ajaran baru seusai liburan musim semi.

Aku benar-benar berharap di waktu itu aku bisa bertemu dengan Hanekawa.

Aku benar-benar berharap di waktu itu kami berdua akan sekelas lagi.

Aku…

Aku rasanya berhasil memperbarui tekadku untuk menjadi manusia kembali.

Lalu dengan kenangan perpisahanku dan Hanekawa masih segar di kepala, sekitar tiga jam sesudah ia pulang ke rumah, pada saat Kiss-Shot akhirnya membuka mata, Oshino kemudian pulang ke reruntuhan bangunan bimbingan belajar—tak seperti biasanya, ekspresi mukanya terlihat genting.

“Maaf, aku mengacau.”

Kemudian dengan nada suara yang sesuai dengan ekspresi wajahnya yang genting tersebut, Oshino juga berkata:

“Nona KM telah diculik.”

Catatan:

Dijelaskan ‘dari 1 sampai 10’; semacam ungkapan bahasa Jepang untuk penjelasans secara menyeluruh. Susah nemu padanannya dalam bahasa Indonesia. Leluconnya di sini adalah karena dalam bahasa Jepang, penulisan buat ‘1’ menyerupai tanda minus dan penulisan buat ‘10’ menyerupai tanda plus.

Tidur 12 jam setiap hari. Ceritanya sedang berlangsung di musim semi, jadi siang hari berlangsung sedikit lebih lama.

Diet Coke, kalo-kalo ada yang enggak paham karena di Indonesia enggak lazim, adalah varietas Coca-Cola yang memakai semacam pemanis buatan lain sebagai pengganti gula. Zaman sekarang peranannya kayaknya lebih banyak tergantikan oleh Coca Cola Zero yang enggak memakai pemanis sama sekali.

Commando – aku enggak yakin ini istilahnya berasal dari mana. Tapi maksudnya, berpakaian tanpa dalaman.


About this entry