Sakamichi no Apollon

Ada semacam stagnasi yang melanda dunia kebudayaan visual modern Jepang pada tahun-tahun belakangan. Banyak yang kayaknya setuju tentang hal itu. Ditandai dengan kerinduan orang akan hal-hal lama; buktinya ada di banyaknya seri remake yang bermunculan belakangan (mulai dari Sailor Moon sampai Jojo’s Bizzare Adventure. Terus Space Battleship Yamato dan Lupin the 3rd. Maksudku, bahkan seri anime balapan liar Initial D yang telah dibuat sampai bermusim-musim itu konon akan dibuat ulang?).

Tapi pada musim semi tahun 2012 lalu… aku sempat lupa tentang hal ini. Pengharapanku terhadap anime-anime baru yang muncul di waktu itu rasanya enggak seburuk itu. Aku sibuk belakangan, jadi detilnya mungkin aku sudah tak lagi ingat. Tapi rasanya, ada lumayan banyak seri yang bikin saya ‘Hooo!’ pada musim itu dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Salah satunya, seri drama kehidupan dan persahabatan Sakamichi no Apollon (‘Apollo tanjakan’, yang mengacu pada tanjakan yang para karakter utamanya harus lalui setiap kali ke sekolah, serta Apollo di sini mengacu pada sesuatu yang pernah dialami oleh salah satu karakter utamanya), atau yang juga dikenal dengan judul Kids on the Slope (‘anak-anak di tanjakan’).

A girl’s husky voice goes well with jazz

Berjumlah hanya 12 episode dan berlatar di paruh akhir dekade 1960-an, diangkat dari manga berjudul sama karya Kodama Yuki , seri yang diwarnai nuansa musik jazz kental ini menandai kerjasama kembali antara dua nama besar: sutradara Watanabe Shinichiro (yang memang hobi memainkan musik dalam seri-seri besutannya; semisal Samurai Champloo dan Michiko e Hatchin) dan komposer Kanno Yoko (yang benar-benar dikenal karena aransemennnya). Kerjasama  mereka sebelumnya adalah dalam seri anime lain yang kental dengan nuansa musik jazz dan sekaligus’ meledak’ juga: Cowboy Bebop.

Aku juga kurang tahu, mengingat aku sendiri belum lahir pada masa ini. Tapi konon, dekade 1960an merupakan zaman yang ditandai dengan perubahan-perubahan besar. Perubahan-perubahan ini terutama pada budaya dan tatanan sosial masyarakat. Orang-orang sepenuhnya mulai pulih dari trauma-trauma semasa Perang Dunia, ekonomi mulai tumbuh, musik rock mem-booming, idealisme-idealisme baru mulai bermunculan. Kalian yang dulu suka membaca 20th Century Boys mungkin bakal punya bayangan.

Ini berlaku bukan cuma di satu-dua tempat saja lho. Tapi di seluruh dunia. (Di Indonesia juga. Tapi yea, ada insiden PKI.)

Makanya, kebagusan anime ini mungkin belum bisa dihargai oleh mereka-mereka yang belum agak berusia. Maksudnya, mereka-mereka yang belum merasakan pahit manisnya garam kehidupan (aku jadi ngerasa agak tua bila mengatakan ini, tapi…). Makanya lagi, aku enggak akan merekomendasikan anime ini kalau kau masih remaja. Atau seenggaknya, bukan penggemar drama-drama kehidupan.

Tapi biar kukatakan di awal. Seri ini bagus.

Luar biasa beneran bagus.

Kanno Yoko yang menangani musiknya. Jadi enggak ada keraguan apapun soal bagaimana musik ditangani di seri ini. Ini penting, terlebih mengingat bagaimana musik jazz berperan penting dalam kehidupan kedua tokoh utamanya.

Tapi yang membuatnya luar biasa itu eksekusinya.

Pada setiap adegan ketika ada musik dimainkan, animasinya benar-benar mengikuti gerakan tangan para pemainnya. Maksudnya, tangan para pemain dalam menekan tuts piano, menabuh drum, itu disesuaikan dengan ritma dan irama yang keluar. Dan aku yang sudah terlalu terbiasa dengan penggunaan frame-frame diam untuk adegan-adegan musik (seperti pada kebanyakan adegan di adaptasi anime Nodame Cantabile), enggak pernah ngebayangin kalau gerakan-gerakan sederhana ini bisa jadi sesuatu yang begitu luar biasa keren dalam bentuk anime.

Di samping itu, seri ini turut menampilkan visualisasi wilayah Sasebo di paruh akhir tahun 1960an dengan teramat luar biasa detil. Jalanan-jalanan yang terkesan lebar, orang-orang berjalan kaki, alam yang masih kaya dan burung-burung liar yang berterbangan di langit yang masih bebas polusi. Rasanya seperti foto-foto hitam putih lama dihidupkan dan diwarnai kembali. Bahkan hingga kau merasa sungguh-sungguh bisa hidup di sana.

Maka dari itu, segala elemen jazz yang mewarnai kehidupan para tokohnya (dengan lagu-lagu yang sungguhan ada), yang serasa bisa melarutkan segalanya and in the end make things feel all right, benar-benar bisa terasa.

Animasi lagu pembukanya itu juga luar biasa. Kalau kalian ada waktu, sekaligus berminat dengan anime ini, kusarankan untuk mencarinya di YouTube.

Lalu soal ceritanya sendiri…

Hmm. Apa kalian tahu bagaimana rasanya punya sahabat sejati?

Someday My Prince Will Come

Fokus cerita Sakamichi no Apollon terdapat pada persahabatan antara tiga orang remaja, dua cowok dan satu cewek—khususnya pada dua cowok itu: Nishimi Kaoru, Kawabuchi Sentaro, dan Mukae Ristuko. Aku agak enggak yakin gimana cara aku bisa ngejelasin ceritanya secara menarik. Soalnya alur plotnya sendiri lumayan tipikal. Tapi eksekusinya itu yang beneran bagus.

Kaoru adalah remaja lelaki bertubuh lemah, yang berasal dari keluarga kaya raya, namun sedikit bermasalah. Ia dititipkan di rumah keluarga paman dan bibinya, karena suatu alasan. Lalu meski ia pandai mengikuti pelajaran dan sangat berbakat dalam musik—dalam hal ini, piano—Kaoru merasa kesulitan menjalin ‘koneksi’ dengan sekelilingnya. Dan ini membuatnya menjadi orang sinis sekaligus penyendiri dan agak-agak pemarah.

Namun segala sesuatunya berubah tatkala ia berkenalan dengan Sentaro. Berandalan separuh bule berbadan sangat besar yang ditakuti oleh anak-anak lain itu ternyata tak sesangar reputasinya. Dan mereka menemukan banyak kecocokan dalam diri satu sama lain. Lalu hubungan yang terjalin antara mereka berdua itu akhirnya jadi mengubah banyak hal.

Satu-satunya orang selain Kaoru yang sepenuhnya menyadari hal ini adalah Ritsuko, gadis ketua kelas alim dan manis yang telah menjadi tetangga sekaligus teman sepermainan Sentaro semenjak kecil. Ritsuko pada awalnya terkesan sebagai karakter sampingan dalam persahabatan mereka. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, besarnya arti kehadiran mereka dalam cerita semakin lama semakin terasa.

Koneksi antara Ritsuko, Sentaro, dan Kaoru mulai terjalin saat Kaoru mulai terbawa dalam dunia jazz yang ditekuni Sentaro—yang ternyata mendalami drum. Lalu secara berkala, mereka mulai sering berlatih bersama di studio musik di ruang bawah tanah rumah Ritsuko yang kebetulan merangkap sebagai toko rekaman piringan hitam. Bapak Ritsuko sebagai pemilik toko kadang ikut nimbrung sebagai pemain bas.

Lalu, yeah, cerita kemudian bergerak dari sana sekaligus juga dari banyak tokoh lain di sekeliling mereka.

Melodi Tanjakan

Yaps, di awal-awal, ceritanya memang cenderung sendu. Dan malah agak suram arahnya. Tapi secara mengejutkan, secara berangsur nuansanya semakin optimis seiring dengan semakin dalamnya persahabatan yang terjalin antara Kaoru dan Sentaro. Sekalipun, peristiwa-peristiwa hidup yang mereka hadapi semakin ke sini terkesan semakin berat.

Aku katakan lagi. Cerita ini, terus terang saja, agak susah ‘dimasuki.’ Kau butuh sedikit energi dan kemauan untuk bisa menikmatinya. Tapi begitu kau kenal dengan para karakternya dan terbiasa melihat pemandangan kehidupan di tahun 1960-an, kau bakal agak susah menyingkirkan pikiranmu soal bagaimana kelanjutan nasib para tokohnya. Mulai dari pertama mereka saling mengenal, berhadapan dengan berbagai kejadian dalam kehidupan, jatuh cinta dengan orang pilihan mereka masing-masing, dan bagaimana musik jazz yang pertama mereka dengar lewat album-album piringan hitam bisa membalut segalanya.

Di akhir seri, tempo ceritanya yang luar biasa bagus, beserta pengemasannya yang padat, beneran memberi akhir yang memuaskan untuk sebuah anime dengan hanya 12 episode. Aku bersyukur karena telah mengikutinya. Dan yea, aku pada akhirnya enggak terlalu mempermasalahkan gimana seri ini segitu berbedanya dari Cowboy Bebop kok.

(Manganya sudah diterbitkan di sini oleh Elex btw)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: S; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+


About this entry