Hanbun no Tsuki ga Noboru Sora

Aku mulai aktif mengikuti segala perkembangan anime semenjak tahun 1999. Tapi sempat ada periode ketika aku berhenti melakukan hal tersebut, dan periode itu adalah sekitar tahun 2007-2008. Dan makanya, semua anime yang keluar di seputaran tahun itu, bahkan hingga sekarangpun, bagiku selalu terasa seperti anime ‘baru.’

Salah satu anime tersebut adalah drama roman Hanbun no Tsuki ga Noboru Sora (‘menatap langit dengan bulan separuh’) yang aslinya keluar di tahun 2006 hasil buatan Group TAC (sebuah studio yang sayangnya sudah enggak ada lagi semenjak tahun 2010; karya menonjol mereka yang lain meliputi Grappler Baki, Gilgamesh, Gakuen Alice, serta Captain Tsubasa), dan didasarkan pada seri ranobe karangan Hashimoto Tsugumu dengan ilustrasi buatan Yamamoto Keiji.

Mungkin perlu kusebutin kalau aku banyak memikirkan tentang kehidupan pada tahun-tahun itu (sejujurnya, sampai sekarang mungkin masih sih). Dan menonton anime ini bisa dibilang salah satu upayaku dalam menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku waktu itu.

…Atau, mungkin juga enggak.

Aku agak lupa, soalnya kejadiannya sudah lama. Tapi perasaan, aku memang belum tahu apa-apa tentang cerita anime ini tatkala memutuskan untuk menontonnya deh.

Kutipan-kutipan Akutagawa Ryunosuke

HanTsuki adalah sebuah drama romansa sederhana antara dua orang pasien remaja yang dirawat di sebuah rumah sakit. Premisnya lumayan biasa; tentang bagaimana si cowok jatuh hati pada si cewek, yang kesehatannya digerogoti sebuah penyakit, dan tentang segala dilema mereka dalam menerima kenyataan itu Temanya yang sederhana membuat ceritanya tak ngejelimet, tapi cukup efektif, bahkan sampai membuatnya sampai diangkat menjadi seri drama TV sekaligus film layar lebar.

Tapi kalau aku memperhatikannya lebih dalam, cara HanTsuki mengolah unsur-unsur ‘berarti’ dalam ceritanya adalah apa yang membuatnya lumayan istimewa. Bagaimana si cowok yang mengidap Hepatitis A, Ezaki Yuucihi, berkembang dari orang yang sepenuhnya tak menonjol menjadi seseorang yang berjuang demi sesuatu yang dianggapnya berarti. Bagaimana si cewek, Akiba Rika, yang menderita katup jantung lemah, terikat dalam pengasingan dan keputusasaannya melalui buku-buku Akutagawa yang sering ia baca. Bagaimana kenalan dan kerabat mereka di rumah sakit itu telah begitu lama terbiasa menjalani ‘kehidupan’ yang mendekatkan mereka pada kematian. Lalu segala bayangan tentang apa-apa yang dipunyai oleh orang normal terhadap itu semua.

Plotnya sendiri benar-benar biasa saja. Ini sepenuhnya cerita tentang mereka dan orang-orang di sekitar mereka. Tapi dengan penuturannya yang enggak buruk, dampaknya bisa lumayan efektif bagi kalian-kalian yang memiliki sentimentalisme tinggi.

Visualisasinya tak istimewa. Tapi lagu-lagu temanya yang bernada sendu dan dibawakan oleh Nobuko lebih dari cukup berhasil untuk mengguratkan kesan bagi pemirsa yang memang mengikutinya. …Hmm, atau memang akunya saja yang terlalu lemah ya? Yah, eniwei, seri inipun enggak memberiku jawaban yang aku cari. Tapi kurasa seenggaknya ini nunjukin bahwa jawaban itu biasa ada, asalkan aku enggak menyerah dalam menemukannya saja.

(Ada beberapa episode yang arah perkembangan ceritanya agak dipaksakan sakit sih. Tapi moga-moga itu enggak terlalu jadi masalah.)

Penilaian

Konsep: C; Visual: C; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi B+; Kepuasan Akhir: A


About this entry