Kizumonogatari – IND (011)

Maaf makan waktu lumayan lama.

Aku nyadar aku udah ngabisin waktu banyak banget buat nerjemahin ini. Padahal bulan Desember tahun 2011 lalu, aku dengan pedenya ngerasa ini bisa kuberesin dalam sebulan!

Gimanapun, maaf lagi buat terjemahannya yang jelek.

—————————–

011

Episode.

Lelaki yang mengenakan baju seragam berwarna putih dan bermata sipit; di bahunya ia memanggul sebentuk salib raksasa yang berukuran tiga kali tinggi badannya dan memiliki pangkat tiga bobot dari tubuhnya sendiri.

Dirinya… seorang pemburu vampir. Atau setidaknya, itu yang kudengar.

Dirinya memburu vampir dengan tujuan untuk mendapatkan uang. Kau bisa bilang kalau dirinya semacam pembunuh bayaran.

Kemudian, ditambah lagi, pada waktu yang sama… dirinya juga seorang separuh vampir.

Seorang pemburu dan sekaligus separuh.

Dari sudut pandang tertentu, dirinya terlihat tak lebih dari seorang anak muda biasa. Tapi sebaliknya, dirinya adalah seorang spesialis pengusiran vampir yang mencuri dari Kiss-Shot kaki kirinya. Inilah… Episode.

“…Kau terlambat.”

Tiga hari telah berlalu semenjak saat itu. Sekarang adalah bulan April tanggal 4.

Angka-angka sial yang berderet di tanggal itu secara tersamar memang membuatku merasa tak nyaman. Tapi aku mengeluh seperti apapun soal hal-hal di luar kuasaku, tetap saja tak ada yang bisa aku lakukan tentangnya.

Aku coba memeriksa jam tangan di pergelanganku, tapi kemudian kuingat bahwa aku tak memakainya. Kemudian aku berpikir untuk memeriksa jam di ponselku, tapi kemudian aku sadar kalau ponselku juga lupa aku bawa.

Menggelisahkan.

Sebagaimana yang sudah kukira, diriku sama sekali tidaklah tenang.

Yah, sudahlah—karena mau bagaimanapun juga, orang yang paling ingin kuhubungi sekarang, Oshino Meme, yang berlagak gelandangan itu, sejak awal memang tak mempunyai ponsel atau bahkan PHS.

Tapi juga, sebagaimana yang telah dikatakan oleh orangnya sendiri, kurasa Oshino memang payah bila urusannya berhubungan dengan benda-benda elektronik.

Bagaimanapun ponsel memang tak begitu berkaitan dengan urusan roh-roh dan fenomena ganjil.

Secara alami, untuk pertarungan kedua…  aku berhadapan dengan spesialis pengusiran vampir yang kedua, Episode.

Dalam tiga hari ini, aku mempertimbangkan berbagai hal—namun pada akhirnya kuputuskan untuk pergi dengan tangan kosong, serupa dengan keadaanku saat melawan Dramaturgie.

“Lebih baik bila kau tak membawa senjata.”

Aku mengikuti pendapatnya Hanekawa.

“Lagipula, senjata biasa takkan cukup kuat untuk tahan digunakan bersama kekuatan dahsyat yang kau punya, dan kalaupun ada senjata yang seperti itu, kalau kau berkeliaran sambil membawa-bawanya, lalu ada polisi tiba-tiba muncul dan menanyaimu, apa selanjutnya yang akan kauperbuat?”

“… … …”

Nah, kurasa pendapatnya yang satu itu ada benarnya juga.

“Yah, kalau kau mengatakannya begitu, kurasa para spesialis vampir itu pasti layak ditanyai oleh aparat juga.”

“Tapi mereka profesional, ‘kan? Bukannya mereka pastinya sudah terlatih buat menghadapi situasi-situasi macam begitu?”

“Uuuh…”

Memikirkannya lagi, Dramaturgie punya kemampuan untuk mengubah tubuhnya menjadi kabut.

Kurasa dia memang jago berpikir di luar kerangka berpikir kebanyakan orang.

Jadi sudah jelas karena aku tak datang bersenjata—aku merasa aku tak memanfaatkan pelajaran yang kudapat sesudah menantang kedua pedang melengkung yang dimiliki Dramaturgie dengan tangan kosong seperti sebelumnya. Tapi Hanekawa, aku benar-benar berhutang padanya, kemudian mengajari beberapa hal yang telah diperhatikannya dari pertarungan tersebut—hasil pengamatannya sendiri dari balik bangunan itu.

Intinya, Hanekawa berhasil menemukan kelemahan-kelemahan yang ternyata kupunya.

Lalu dengan memanfaatkan hasil temuannya tersebut, aku akan bertarung.

Seperti biasa, nasihat dari Kiss-Shot bisa dibilang hampir tak berguna. Berikut adalah ingatanku akan adegan saat Kiss-Shot memberikan nasihat tersebut.

“Jadi, dia seorang pemburu vampir dan sekaligus seorang separuh vampir? Aku bisa mengerti apa itu artinya sih. Tapi Kiss-Shot, apa tak ada informasi lain yang kira-kira lebih mendetail?”

Namun Kiss-Shot, dalam wujud sosoknya yang berusia dua belas tahun, menjawab begini terhadap pertanyaanku.

“Aku lupa.” katanya.

Dia bilang dia lupa…

Seperti biasa, Kiss-Shot membusungkan dada dengan sikap bangga—semata karena dirinya telah berubah dari gadis berusia sepuluh tahun ke gadis berusia dua belas tahun, dirinya benar-benar tengah menjalani masa ketika karakteristik-karakteristik seksual sekunder mulai tumbuh, jadi ‘pembusungan dada’ ini benar-benar terjadi, dan bukan cuma karena rasa bangganya belaka.

“Hm… Ingatan beta nampaknya… melemah. Pernahkah beta menyebut ini sebelumnya?”

“Itu kata-kata menarik…”

“Uhm. Tunggulah sebentar.”

Mengatakan itu, Kiss-Shot dengan kasar tiba-tiba saja mengaduk kraniumnya… maksudnya, bagian dalam kepalanya yang agak-agak lunak. Lalu dari dalam luka yang tercipta bukan hanya darah, melainkan juga cairan yang mungkin saja pelumas saraf tertumpah keluar dengan bunyi desingan.

“…!”

Enggakenggakenggakenggakenggakenggak!

Ini terlalu tak layak untuk dimasukkan ke versi anime.

Jari-jemarinya kemudian tampak tersangkut di urat-urat okulernya atau apa, karena mata kanan Kiss-Shot mulai menampakkan gerakan-gerakan liar yang pastinya membuatmu berpikir kalau mata itu telah dirasuki semacam iblis.

Kiss-Shot… secara harfiah sedang mengutak-atik isi otaknya.

Itu teknik yang… uh, sangat membantu ingatan.

“Uhm.”

Akhirnya, Kiss-Shot mengeluarkan tangannya yang berlumuran darah.

Dirinya tersenyum, wajahnya segar.

“Beta ingat.”

“Apa?”

Aku menyela, melihat betapa darah yang menempel di rambutnya bahkan telah mulai menguap juga.

“Apa yang kau ingat?”

“Terlihat jelas pula dari bagaimana Dramaturgie hendak menjadikan engkau rekannya, engkau bisa melihat bahwa dirinya bukan sedang memburu vampir karena membenci mereka. Tapi Episode berbeda. Dirinya memendam permusuhan terhadap kaum vampir.”

“Permusuhan? Kenapa? Bukannya setengah bagian dirinya itu vampir? Yah, karena kerjanya memburu vampir, aku yakin dia bukan teman, tapi…”

“Berkenaan kaum separuh vampir—karena jumlah mereka semenjak awal memang tak banyak—tiada kesimpulan yang dapat beta tarik. Namun pada sebagian besar kasus yang terjadi, kesemuanya membenci vampir.”

“Kenapa?”

“Sederhananya, alasannya tiada lain karena separuh manusia adalah keberadaan yang takkan pernah diterima di dunia vampir. Di sisi lain pula, itu juga bukan berarti di dunia manusia orang seperti dirinya bisa diterima juga, bukan? Dengan demikian—dirinya membenci darah vampir yang ia miliki.”

“Bukannya itu berarti dia membenci manusia juga?”

“Dirinya mungkin memang tidak menyukai mereka, namun apa ada artinya membenci orang-orang yang lebih lemah darimu sendiri?”

Kiss-Shot mengatakan itu dengan mudahnya.

“Walau dirinya berdarah separuh, kekuatannya jauh melampaui kekuatan manusia biasa. Terlebih dari itu, Episode nampaknya memiliki kebencian yang teramat besar terhadap kaum vampir. Beta tak mengetahui bagaimana dirinya dibesarkan—yah, mungkin cara dirinya dibesarkan memang lebih baik kita tiada tahu. Namun pastinya, beta pikir dirinya tidak akan begitu saja menyerah. Berlainan dari Dramaturgie, Episode melakukan tugasnya lebih karena dorongan pribadi daripada tanggung jawab pekerjaan.”

“Haaaah…”

Jadi dia tak punya keterikatan terhadap profesionalisme seperti Dramaturgie ya?

“Separuh vampir, sebagai ganti karena memiliki keabadian yang lebih lemah dari kaum vampir—memiliki keunggulan karena tidak mempunyai kelemahan-kelemahan yang dipunyai vampir. Mereka dapat berjalan di bawah matahari; mereka juga bahkan mempunyai bayangan.”

“Eeh…. mereka punya bayangan?”

“Dengan kata lain, bila yang kita bicarakan adalah soal kesataraan, sebagai ganti kerena hanya setengah kekuatan vampir yang mereka punya, mereka dihilangkan dari segala kelemahan mereka.”

“Aaah…”

Begitu ya.

Memang masih tergantung sih… tapi tidak memiliki kelemahan memang membuatnya menjadi ancaman yang patut diperhitungkan.

“Oke. Kalau begitu, apa yang bisa kulakukan agar menang?”

“Umm… lakukan saja yang engkau biasa?”

“… … …”

Terima kasih atas kepercayaanmu yang berlebihan terhadap saya.

Dengan begitu—akhirnya malam dari hari yang dijanjikan telah tiba.

Selama waktu tiga hai ini, yang kulakukan cuma membaca komik. Memandangnya dari sudut pandang eksternal, mungkin aku terlihatnya memang seperti bermalas-malasan, atau sekurangnya aku merasa kalau aku tak melakukan apa-apa, tapi apa boleh buat—boleh dibilang aku membaca semua seri komik dari geenre Gakuen Inou Batoru di semua majalah komik terkemuka.

Benar-benar misterius. Tapi bila kau didorong karena kebutuhan, tak peduli semenarik apapun komiknya, tanganmu akan menggerakkan halaman-halamannya secara lamban… Bahkan hari ini pun, setiap hari semenjak itu Hanekawa akan terus datang ke reruntuhan gedung bimbel tak lama sesudah terbenamnya matahari untuk mengantarkan buku-buku komik padaku, jadi aku benar-benar tak pernah merasa apa yang kubaca sudah cukup.

Aku bahkan sudah mendapatkan kartu buku lagi, tapi pada akhirnya mungkin lebih baik jika aku tak keluar tempat ini sesering itu.

Atau setidaknya, itulah yang Oshino katakan padaku.

Pada malam tanggal 1 April, persis sesudah Hanekawa pulang ke rumah, Oshino muncul kembali. Persis pada saat itu ia pulang. Aku bahkan sempat berpikir untuk memperkenalkan Hanekawa kepadanya. Tapi berhubung Oshino secara jelas memilih untuk muncul persis pada saat Hanekawa baru pulang, aku putuskan bahwa mungkin sebaiknya aku tak bertanya lebih lanjut soal hal ini.

“Aku bicara dari sudut pandang netral, tapi itu ide bagus. Nona Ketua Murid benar-benar cerdas.”

Sesudah aku berbicara soal ide membaca komik itu, Oshino kemudian berkata.

“Tapi, aku rasa lebih baik kau tak pergi ke mana-mana selain untuk keperluan duel.” lanjutnya kemudian. “Karena ada kemungkinan mereka akan membidikmu pada saat-saat itu.”

“Eh, tapi… bukannya semestinya ini sudah tercakupi dalan negosiasi-negosiasimu?”

“Kunci kesuksesan sebuah negosiasi justru adalah dengan tidak memberi lawan kesempatan apapun, tahu. Aku tak merasa mereka akan mengganggumu. Tapi aku yakin kau tak akan suka bila mereka terus menguntit.”

“Tapi walaupun mereka menguntit, tempat ini tetap takkan ketahuan, kan?”

Medan pelindung temapt ini memastikan bahwa hanya penghuninya, aku, Kiss-Shot, kemudian orang yang membuatnya sendiri, Oshino, bisa masuk. Kalau aku tak salah, dirinya sendiri yang bilang bahwa inilah keefektifan dari medan pelindung ini.

“Yah, aku cukup percara diri dengan kemampuan medan pelindung ini. Tapi aku hanya ingin meminimalkan jumlah kemungkinan yang dapat terjadi.”

“Jumlah kemungkinan…”

“Nona KM akan datang lagi besok, ‘kan? Kalau kau ingin menambah jumlah variasi komik yang kau baca, coba sekalian kau tanyakan itu padanya. Ah, aku rasa sehubungan ada medan pelindung ini, sekalipun dirinya pernah kemari dua-tiga kali, tetap ada kemungkinan dirinya bisa tersesat. Jadi tak ada pilihan selain membuat medan pelindungnya bekerja buat dia juga.”

“Ta-Tapi…”

“Tentu saja, mengingat aku tak bisa menolongmu, kau bisa bilang seandainya Nona KM tamat, maka kau akan harus mengandalkan teman-temanmu yang lain.”

Aku tak punya teman-teman yang lain.

Aku tak punya pilihan selain mengandalkan Hanekawa.

“Ah, kalau kau sudah beres baca itu, pinjamkan ke aku juga dong.”

Kemudian sesudah mengutarakan permintaan menyebalkan itu, Oshino kemudian pergi.

Dia baru saja pulang, dan sekarang sudah pergi lagi…

Tapi sebenarnya, orang ini tidurnya kapan?

Aku sering melihatnya rebahan dan bermalas-malasan, tapi setelah memikirkannya lagi, aku tak sekalipun pernah melihatnya tidur—mungkinkah dirinya memang bekerja sebegitu kerasnya untuk urusan negosiasi-negosiasi ini?

Kalau memang benar begitu, maka sekurangnya yang bisa kulakukan adalah meminjamkannya komik.

Dan Hanekawa sendiri adalah orang yang benar-benar baik. Keesokan harinya, tanggal 2 April, saat dia datang kembali ke ruruntuhan tempat bimbel, aku mengajukan permintaan itu, dan dengan jawaban segera dia mengambil perannya sebagai ‘orang yang berurusan dengan belanja’, dan semenjak hari itu, hingga kini, yakni tanggal 4 April, untuk tiga hari berturut-turut Hanekawa membelikan komik-komik hasil rekomendasinya dan komik-komik hasil permintaanku juga.

Dia benar-benar terlalu baik.

Hari ini pun aku akhirnya keluar lagi sesudah tiga hari dan…

“Semoga berhasil.”

…dia menyemangatiku dengan kata-kata penyemangat itu.

Kata-kata yang sederhana, tapi benar-benar terasa menghangatkan hati.

“Serius… sesudah aku kembali ke bentuk manusiaku lagi, apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya ya.”

Tapi…

Kali itu, perkiraanku agak meleset.

Tentang kekuatan yang dimiliki oleh gadis bernama Hanekawa Tsubasa itu.

Dan saat itu aku masih belum paham… akan betapa besarnya bahaya yang telah dilibatkan pada titik ini.

“Mungkin dia sekarang sudah pulang?”

Saat aku menggumamkan sesuatu yang terdengar malas seperti itu, jika aku memandang semuanya kembali berdasarkan perkembangan-perkembangan yang kemudian terjadi sesudahnya, akhirnya, Episode muncul.

Dia muncul di tanah lapangan olahraga SMA Swasta Naoetsu.

Dengan samaran kabut, akhirnya dia muncul.

“… … …”

Seorang pemburu vampir.

Seorang separuh vampir.

Dia yang tak mempunyai kelemahan-kelemahan yang dimiliki vampir.

Namun…meski dilemahkan sampai separuhnya, segala kemampuan yang dimiliki seorang vampir masih tetap dia miliki.

Seorang lelaki yang mempunyai imaji garis tipis—dan pandangan mata tajam dan sipit.

Seragam berwarna putih.

Dia terlihat benar-benar muda—tapi salib raksasa yang dia panggul di bahunya dengan satu tangan seakan membantah kesan ini.

Dengan senyuman tipis seperti yang dimilikinya pada hari itu, dirinya kemudian memberiku sorot mata tajam.

Episode.

Orang yang telah mengambil kaki kiri Kiss-Shot.

“Apa-apaan tuh?” Dia tiba-tiba berkata.

Bahkan tanpa meminta maaf karena telah datang terlambat.

“Sumpah. Itu bikin aku ketawa. Bos Dramaturgie malah balik diusir oleh bocah kayak kamu. Dari semua musuh yang dia punya. Dasar, sudah benar-benar lengah—makanya aku benci vampir. Terserah kalau mereka pemburu vampir juga. Padahal begitupun aku masih ngasih hormat ke Bos Dramaturgie. Cuma ke dia seorang…”

“… … …”

Dirinya dipenuhi amarah dan rasa permusuhan.

Di atas itu semua, dirinya memandangku secara rendah.

Yah, jika dirinya memang membenci vampir dan manusia, maka bekas manusia sepertiku yang baru saja diubah menjadi vampir pastilah tipe orang yang paling dia benci.

“Jadi? Sebaiknya kamu kuapain nih, bocah?”

“… … Kamu bilang… mau kamu apain?”

“Ini pertarungan—tapi aku harus bertarung melawanmu dalam hal apa? Aku enggak masalah dengan hal-hal yang enggak keras. Aku merasa kalau kalau gimanapun juga aku enggak mungkin kalah melawan orang-orang macam kamu.”

“Maafkan aku.” Itu yang kubilang. “Terlepas dari menjadi bawahannya Kiss-Shot, aku benar-benar cuma orang biasa. Malah, mungkin sebenarnya aku agak bodoh. Aku cuma terserah bagaimana maunya para vampir dan pemburu vampir. Di samping itu, aku tak yakin aku bisa mengalahkanmu dalam sesuatu selain adu batu-gunting-kertas.”

“Ya ampun. Itu… apa-apan tuh?”

Aku serius ketawa sekarang, itulah yang dikatakan Episode.

“Secara enggak keduga, kau ciut juga ya? Aku pernah berburu vampir-vampir bekas manusia, tapi… semuanya lebih terbawa keadaan dibanding kamu. Mereka semua kira kalau mereka semua jadi sakti. Jadi hebat. Cuma karena mereka jadi bisa ngisap darah kayak nyamuk, mereka sok bangga kayak sudah jadi presiden. Sumpah, apa-apaan tuh?”

“… … … …”

Aku tak tahu sekeras apa dia berusaha agar logatnya terdengar lokal, tapi orang dengan salib berbahaya seperti dia terus-menerus mengulang frasa ‘apa-apaan tuh?’ tak bisa tak terdengar agak aneh.

Aku jelas tak tahu apa yang dia sendiri pikir tentangnya sih.

“Yah, mereka semua sih langsung kukasih pelajaran. Tapi kamu… kayaknya kamu enggak butuh digituin ya? Kerjaanku jadi lebih ringan. Karena itu, buat hari ini, biar kau kukasih ‘layanan khusus.’”

Episode bilang seraya menutup sebelah matanya.

Tindakan yang mungkin baginya adalah semacam kedipan.

“Kubunuh kamu sedemikian rupa agar efek sampingmu tak sampai berlangsung.”

“…Rasanya aku pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya.”

“Itu perkataan khasku. Bikin kamu ketawa ‘kan? Ntar kalau kamu coba-coba meniruku, pastikan kamu menirunya dengan benar.”

Mengucapkan ini… Episode menawarkan sebelah tangannya dari sisi yang tak memanggul salib.

Ajakan untuk berjabat tangan?

Ajakan untuk berjabat tangan sebelum bertarung?

Di luar dugaan, orang ini sopan.. sembari berpikir demikian, aku beranjak untuk meraih tangannya, tapi dalam sekejap itu, Episode tiba-tiba menggerakkannya…

…dan mengubahnya ke bentuk gunting.

“Sip, aku yang menang.”

“… … …”

“Sekarang udah kebukti kalau kamu juga enggak bisa ngalahin aku dalam batu-gunting-kertas. Jadi kutaklukkan baik dengan vampir dan pemburu vampir.”

“Oshino memang bukan jenis orang yang gampang kuhadapi.” Aku berkata. “Tapi sekarang jelas kalau kau jenis orang yang aku benci.”

“Ya ampun. Kalau kamu sudah ngomong gitu buat orang-orang kayak aku, kamu enggak akan tahan ngelawan Guillotine Cutter. Bahkan akupun enggak sebanding dengan kelicikannya dia. Yah, karena malam ini sudah jelas kamu kalah melawanku, kamu untung karena jadi enggak usah ngelawan dia.”

“Kau benar-benar pede ya?”

“Kamu boleh ngomong gitu.”

Tapi, kemudian dia juga berkata.

“Aku setuju soal tuh orang, Oshino Meme, dia beneran orang brengsek dan licik. Sumpah, apa-apaan tuh? Gara-gara dia ngebuat siasat macam-macam—baik itu dengan vampir bekas manusia atau vampir asli, aku belum pernah melakukan pertarungan yang adil dan seimbang kayak sekarang.”

“Apa saja persyaratannya?”

“Okeh. Jika aku menang, kamu akan katakan di mana Heart-Under-Blade berada. Jika dalam kemungkinan kecil kamu kalahkan aku, akan aku balikin kaki kiri gadis itu. Maksudmu persyaratan macam begini?”

“Iya. Persis.”

“Tapi ngomong-ngomong, memang kamu paham arti persyaratan-persyaratan ini?”

Episode melanjutkan ucapannya dengan muka menyeringai tatkala aku mengangguk.

Kamu enggak boleh membunuh… dalam pertarungan ini. Agar aku memperoleh tempat Heart-Under-Blade berada darimu, kamu enggak bisa aku bunuh. Kalau kamu mau mendapatkan kaki kiri gadis itu, maka kamu juga enggak bisa bunuh aku. Memang kayaknya kasar, tapi tindakannya ini bikin garis jelas kalau pertarungan ini enggak akan sampai mati. Beneran tindakan yang layak buat saat-saat damai.”

“… … …”

Permainan.

Oshino menyebut semua ini dengan cara demikian.

Ini bukan pertarungan maut, melainkan permainan.

“Dan… kayak yang sudah kamu bilang. Dramaturgie, Guillotine Cutter, terus aku juga, kami semua profesional. Kamu enggak punya kesempatan menang sama sekali melawan kita kecuali melakukannya dengan cara ini. Si brengsek Oshino itu benar-benar memilihkan metode yang memberimu kesempatan.”

…Itu sungguhan?

Soal keseimbangan itu?

Orang yang tampangnya selalu main-main itu… dia benar-benar sudah memikirkannya sejauh ini, dan menyiapkan pertarungan macam ini?

Layanan negosiasinya yang… netral.

Dua juta yen. Itu yang dimintanya.

“Yah, jelas saja, kalau saja aku tahu di mana Kiss-Shot Acerola-Orion Heart-Under-Blade berada, kamu dan perempuan itu, bersama, coba tebak… aku bunuh kalian berdua sedemikian rupa agar efek samping kalian enggak sampai berlangsung, tahu.”

Episode tertawa.

“Asal tahu saja, aku enggak akan main-main ngelawan kamu. Aku enggak suka menindas yang lemah. Tapi aku suka menindas si tokoh jahat.”

“Yang jahat di sini itu aku?”

“Ya, iya dong. Kamu yang monster.”

“… Bukannya kamu…”

Bukannya kamu juga sama?

Tapi aku tak bisa mengatakan itu.

Bagaimanapun juga… dirinya cuma seorang separuh.

“Eh? Bukannya kamu… apa? Kalau ada yang mau kamu omongin, cepat bilang.”

“Enggak. Lupakan. Tak ada apa-apa lagi yang perlu aku katakan. Ayo mulai.”

“Sip. Kita beresin ini.”

Dengan demikian, perkenalan pun berakhir.

Berlainan dengan saat aku berhadapan dengan Dramaturgie, kali ini justru akulah yang menyerang duluan—bahkan, yang bisa kupikirkan cuma bagaimana cara melakukan langkah pertama.

Kenyataannya, memang aku tak punya pengalaman bertarung apa-apa.

Kalau aku mau berada dalam posisi bertahan, aku belum apa-apa pasti sudah gemetaran, dan aku takkan mungkin mengerti lagi apa-apa yang berlangsung di depan mataku. Maka setidaknya, sebaiknya aku langsung meluncurkan diriku ke posisi menyerang.

Dengan gerakan yang pernah kulihat daam komik yang kubaca, aku melesat ke depan dan melepaskan tinju yang padanya kupertaruhkan seluruh berat badanku. Namun seranganku itu hanya memotong udara.

Atau lebih tepatnya—memotong kabut.

Pada detik itu, Episode mengubah badannya menjadi kabut—sudah jelas tak mungkin bagiku untuk memukul kabut. Aku terbawa oleh lengan yang padanya kuberikan seluruh bobot tubuhku dengan pose yang aneh, dan aku terjungkal ke depan.

Ini gawat, serangan balasan darinya pasti akan terjadi. Aku cepat berjaga, namun, karena dirinya telah berubah menjadi kabut, maka sebaliknya, Episode pun tak bisa menyerang.

Episode, yang telah berubah menjadi kabut bersama salib besar yang ia bawa…

“Maaf ya, tapi dalam hal tenaga fisik, aku jelas kalah darimu, wahai bawahan Pemusnah Fenomena Ganjil—aku enggak punya niat melawanmu dalam pertarungan jarak dekat.”

Begitu katanya, saat masih dalam wujud kabut—dia pun memulihkan kembali tubuhnya di suatu tempat yang berjarak agak jauh dariku.

Bahkan salibnya pun terbentuk kembali.

Karena salib itu turut berubah menjadi kabut… apa salib itu juga merupakan bagian dari tubuhnya, seperti pada kasus Dramaturgie?

Tidak, aku salah… kalau aku memang harus mengatakannya, dia menangani salib itu dengan cara yang sama dia menangani pakaiannya.

Persis seperti pakaian Dramaturgie dan Kiss-Shot pula.

Pasti itu.

“… … Terus apa yang akan kau lakukan dari jarak sejauh itu?”

“Aku lakukan ini!” kata Episode…

…dan ia pun melontarkan salib raksasa itu ke arahku.

Begitu saja.

Berbeda dari saat aku melawan Dramaturgie, Episode tak mempunyai pose melempar atau apa. Dengan tenaga kasarnya, Episode melontarkan salib itu begitu saja.

“W… whoa!”

Itu benar-benar tak kusangka.

Jangan bilang kalau dia sering melempar-lempar salib, yang tingginya tiga kali tinggi tubuhnya—yah, sebelumnya aku memang nyaris melempar roller, tapi ini kan–seorang pemburu vampir yang melempar-lempar salib?!

Orang ini tak punya ketaatan beragama sama sekali!

Aku memang sudah menduga kalau salib itu senjata—tapi aku yakin semenjak awal kalau dia akan menggunakannya seperti kampak…!

“…Agh!”

Pada saat terakhir… aku berhasil menghindarinya.

Aku menghindar, kemudian aku memaki dalam hati.

Aku bodoh. Kapan sih aku akan belajar? Sebenarnya aku bahkan tak perlu menghindari serangannya! Bagaimanapun, dengan kekuatan pemulihan diri yang kumiliki semenjak aku dijadikan bawahan Kiss-Shot, aku pasti akan bakalan pulih dalam sekejap mata—sejak awal aku sudah berpikir untuk memanfaatkan kekuatan itu secara sepenuhnya! Mungkin ini hanya pola berpikir dengan akal sehat yang masih kupunya dari waktu aku menjadi manusia, tapi aku menghindari serangan itu secara refleks. Alasannya, lebih karena aku bisa melihat serangannya secara jelas lewat mata vampirku sih…

Namun kali ini, rupanya tindakan yang tak kuniatkan itu berakhir sebagai berkah.

Salib yang kupikir berhasil kuhindari itu ternyata menggores bahu kananku… kemudian bahu kananku itu, sekejap kemudian, seketika menyala oleh letupan api.

Bahuku terbakar.

Dalam sekejap… bahuku sudah lenyap dan tak ada lagi.

Kasusnya persis sama tatkala aku terkena sinar matahari.

“S-Salib itu…!”

Maksudku… bukankah benda itu juga salah satu kelemahan yang dimiliki vampir?

Bahkan akupun sudah tahu kalau cuma sebatas itu!

Episode memanggulnya seakan itu hal yang biasa. Terlalu biasa. Terlebih dari itu, kejanggalan hal itu justru menjadi titik buta yang telah disiapkannya. Dalam hal ini, dirinya begitu tak terganggu oleh kenyataan bahwa aku menyadarinya, sehingga aku bahkan tak berpikir bahwa kenyataan salib itu ada merupakan suatu fakta penting.

Begitu rupanya.

Sebagai separuh vampir, Episode tak mempunyai kelemahan-kelemahan yang dimiliki kaum vampir—dengan kata lain, dia tak merasakan dampak dari salib-salib terhadap vampir.

Salib itu.

Salib raksasa itu.

Lalu senjata itu, terlihat seakan tak ada yang istimewa darinya. Namun jika aku menyentuhnya secara langsung, nampaknya akan ada semacam efek yang akan terlepas.

Efek menakjubkan seperti itu.

Kulit yang melepuh itu—sebagai tambahan, tidak pulih secara otomatis.

Yah, mungkin bukannya tak pulih sih—tapi pemulihannya berlangsung dengan luar biasa lamban. Bahkan dengan kekuatan pemulihan diri yang dimiliki oleh seorang bawahan Kiss-Shot, efeknya benar-benar tak bisa mengimbangi.

Ini bahaya—dampaknya lebih berbahaya dibandingkan waktu terkena sorot matahari.

Aku tersentuh olehnya saja, dan aku akan langsung terkena dampaknya secara seketika.

Lalu hanya karena tergores saja… keadaanku sudah langsung seperti ini.

Bagaimana kalau aku menerima serangan tadi secara langsung?!

“Eh…?”

Pada saat aku mengkhawatirkan tentang lukaku, sekali lagi Episode telah berubah wujud menjadi kabut—dan dalam wujud kabut ini, dirinya telah berpindah tempat.

Aku yakin dia akan langsung mendekatiku untuk menyerang. Namun, seperti yang sebelumnya dikatakannya, Episode sama sekali tak mendekat. Berbicara soal ke mana dirinya lenyap, rupanya ia kini berada di tempat sasaran lemparan salib raksasanya itu sesaat lalu.

Sesudah menggores tepi bahuku, salib itu menusuk permukaan lapangan olahraga dengan ujung sepanjang sepuluh meter sampai ke separuh panjangnya. Episode memulihkan tubuhnya di dekat sana—dan kemudian ia mencabut kembali salib raksasa itu.

“Setelah kupikir sekarang, waktu kamu melawan Bos Dramaturgie, kamu juga melemparin segala macem benda dari jauh. Ide bagus, aku juga, waktu melawan orang-orang kayak dia, memakai siasat yang sama… kayak gini!”

Mengatakan itu—dia melemparkan salibnya untuk kedua kali.

Diarahkan padaku.

Kali ini, aku menghindarinya secara sempurna. …Namun, meski benar aku berhasil menghindarinya, aku tak bisa santai. Butuh waktu beberapa lama bagiku untuk memahami rencana perang macam apa yang Episode persiapkan untukku, namun kini aku mengerti segala detilnya.

Dalam pertarunganku yang sebelumnya melawan Dramaturgie, Hanekawa memperhatikan adanya dua kekurangan.

Yang pertama…

“Jika lawanmu melakukan hal yang sama denganmu, apa yang akan kau lakukan?”

…adalah ini.

“Dengan kekuatan fisik besar yang dimiliki seorang pria besar, jika dia balas melemparimu dengan peluru atau roller, apa yang akan kau lakukan?”

Dan kemudian… itulah yang kedua.

“Hal paling menakutkan dari mengandalkan serangan-serangan jarak jauh, lebih dari apapun juga, adalah kehabisan amunisi. Karena kau melemparkan senjatamu… sekalipun keranjangnya penuh dengan bola, kupikir keputusanmu buruk jika kau melemparinya tanpa berpikir.”

Apa yang Episode lakukan sekarang melawan seorang vampir sepertiku pada dasarnya terbebas dari dua kelemahan itu.

Pertama, caranya melepaskan salib itu.

Sekeras apapun aku berusaha, aku takkan mungkin balas melemparinya dengan salib yang sama—bagaimana bisa aku balas melempari sesuatu yang kusentuh saja tak bisa?

Saat aku menyentuhnya akan menjadi saat bagian tubuh yang menyentuhnya melepuh.

Ditambah lagi, dirinya tak perlu khawatir soal kehabisan amunisi.

Dengan berubah menjadi kabut… dia akan bisa mengambil lagi salib yang baru dilemparkannya itu.

“…Separuh vampir.”

Dia tak terancam dengan sentuhan salib.

Dia dapat merubah tubuhnya sendiri menjadi kabut.

Dia memanfaatkan segala keunggulan yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya—heh, dia bahkan memanfaatkan semua kelemahan yang aku punya!

“Apa-apaan tuh!”

Seakan mendukung proses berpikirku, sekali lagi dirinya memulihkan tubuhnya di dekat salib yang tertancap di tanah.

Kemudian dengan sekuat tenaga, ia kembali mencabutnya.

“Akan kucukur kamu sampai habis kayak gini! Aku mohon ya, tolong jangan sampe jantungmu sendiri yang langsung kena. Soalnya aku kan enggak bisa membunuhmu, tau-uuu!”

Sembari berbicara, ia melepaskan serangan kejutan.

Aku bisa menghindarinya—mungkin ini karena, seperti yang dikatakannya, aku melebihinya dalam hal kekuatan. Bahkan kekuatan lengan seorang separuh vampir dapat menghasilkan kecepatan yang besar, dan ini bukan sesuatu yang dapat kulampaui dengan ketajaman mata dan kekuatan fisik mentah yang kumiliki sebagai vampir murni semata.

Walau memang… kalau terus begini keadaannya, dia benar-benar akan ‘mencukurku’ sampai mati.

Tak ada kartu lain yang bisa kumainkan. Bahkan dalam buku-buku Gakuen Inou Batoru yang kubaca selama tiga hari ini, tak ada perkembangan cerita macam begini!

Aku berbalik.

Seperti yang kuperkirakan, salib itu kini tertancap di dalam tanah.

Bentuknya persis… seperti penanda kuburan.

Ada salib yang kini tertancap di lapangan olahraga!

Dan kemudian di dekat sana, wujudnya kemudian membentuk.

“Sebaiknya kau menyerah saja… walau dalam kasusku, besok pun kamu tetap akan kubunuh. Kamu boleh mikir kalau pikiranku cuma sejalan, kamu boleh mikir kalau aku enggak punya cara bertarung lain, tapi aku enggak peduli, kubunuh kamu dengan teknik yang sama dengan yang kupakai sekarang… karena yang namanya vampir enggak berdaya dalam ngelawan salib!”

“… … …”

Dirinya sungguh-sungguh… seorang profesional.

Walau tindakan-tindakannya lebih didasari oleh motif-motif pribadi, dirinya juga, seorang profesional.

Kuperhatikan luka bahu yang kuterima di awal pertarungan. Lukanya masih belum sepenuhnya pulih—aku terus merasakan rasa sakit tajam darinya.

Aku tak punya rencana.

Bagaimanapun juga, kecuali jika ini pertarungan yang dituntaskan secara cepat, rasanya tak akan ada cara buatku yang tak berpengalaman untuk menang melawan musuh yang berpengalaman seperti dirinya—walaupun, dalam pengaturan seperti ini pun—kenyataannya memang aku tak bisa berbuat apa-apa.

Dengan begitu, keadaanku benar-benar terpojok.

Sekalipun aku lari ke bangunan gudang yang nyata-nyata padat, dengan lawan yang berwujud kabut, tak ada gunanya aku melemparinya dengan peluru ataupun roller. Serangan balasan macam apa yang bisa kulancarkan terhadap lawan yang tak bisa dikenai dengan serangan fisik?

Akibat panik yang menyerang, sekujur badanku menjadi kaku. Jika aku seperti ini, aku takkan sanggup menghindari serangan berikutnya yang akan Episode lancarkan. Aku mendapatkan kesimpulan yang anehnya terasa tenang ini. Lalu pada saat itulah, itu kemudian terjadi.

“A-Araragi!”

Teriakan itu… mencapai telingaku.

Halusinasi pendengaran sekeras ini jelas tak mungkin—memandang ke arah dari mana suara itu terdengar, melihat sosok siapa yang hadir di sana… oh, seandainya masih belum cukup jelas dari mendengar suaranya, sosok itu adalah Hanekawa Tsubasa.

Dia muncul dari belakang bangunan itu.

Persis hari itu, apa dirinya memang… bersembunyi di sana?

Ini konyol—Hanekawa mestinya berada di rumahnya, tapi…

“Kau jangan menyerah dulu! Lawanmu itu kabut, karena itu…!”

Seakan mengabaikan kebingunganku, Hanekawa membentuk tangannya seperti megafon di depan mulutnya, dan terus berteriak ke arahku.

“Karena dirinya kabut, makanya… dengan kata lain…”

“…Apa-apaan tuh.”

Lelaki itu berkata.

Episode, tanpa keraguan, melempar kembali salib raksasa yang telah dipersiapkannya untukku… ke arah Hanekawa.

Eh?

Apa?

Kenapa… dia melakukan itu?

“Ha… HANEKAWAAAA!”

Refleks yang Hanekawa miliki sama sekali tak lemah, setidaknya begitulah yang kudengar.

Dirinya seorang murid teladan.

Bahkan nilai-nilai olahraganya saja dapat dikatakan luar biasa—walau semua ini masih dalam lingkup batasan normal manusia.

Dirinya tak bisa dibandingkan dengan vampir, tentunya.

Ataupun juga dengan separuh vampir.

Dengan ketajaman pandangannya dan kekuatan mentah yang ia miliki, sekalipun dirinya saat tersentuh salib itu takkan tersulut atau melepuh, tetap tak ada keraguan kalau salib raksasa itu sebuah bongkahan perak tebal.

Punggung Hanekawa yang lunak…

…jelas takkan memberinya pertahanan sama sekali.

“… … … …!”

Aku mengumpulkan segenap kecepatan berlariku dan melesat ke tempat Hanekawa berada. Bagi indera-inderaku, hanya perlu sesaat—bahkan kenyataannya, sebelum Hanekawa jatuh terlentang di atas tanah, aku telah berhasil menangkapnya.

Namun…

Pada akhirnya… aku tetap saja terlambat.

Baju seragam Hanekawa tetap saja terkoyak, kulitnya juga terkoyak, otot-ototnya terkoyak, tulang-tulang selangkanya terkoyak, organ-organ dalamnya terkoyak—aliran darah berwarna merah terang memancar keluar tanpa akhir—tanpa berhenti.

Lukanya terlalu besar, menghentikan pendarahannya jelas tak mungkin.

Tentu saja—serpihan-serpihan uratnya yang tersebar, ataupun darah yang terus mengalir, tidak menguap dan kembali ke dirinya begitu saja.

Kesemuanya membanjiri lapangan olahraga sebagaimana mestinya.

Tanpa terburu.

Warna merah itu… warna merah itu seakan tenggelam.

“Ha… Hanekawa, Hanekawa, Hanekawa, Hanekawaa!”

“…Ehehehe.”

Hanekawa.

Dirinya… tetap tertawa seakan sedang tersipu seperti itu.

Dalam keadaan seperti ini.

Seakan-akan dia malu karena organ-organ dalamnya tanpa sengaja telah terlihat olehku.

Dia bersikap seakan tersipu.

“Araragi… suaramu terlalu keras…”

“… … …!”

“Pon-ponselmu…”

Rona wajah Hanekawa secara berangsur semakin memburuk.

Tapi bahkan itupun tak ia biarkan merusak wajahnya yang sedang tersenyum.

Dia tak melepaskan senyumannya dan melanjutkan perkataannya.

“Kau lupakan ponselmu. Aku… menyusul buat mengantarnya…”

“Per-persetan soal ponselku!”

Aku menangis.

Walau Hanekawa  memahami hal itu—ponsel dan sebagainya, untuk Hanekawa itu semua tak lebih dari alasan.

Aku yakin Hanekawa pada dasarnya hanya khawatir.

Tanpa pulang ke rumah, dirinya menyusulku kemari.

Kemudian, saat dirinya tak lagi tahan untuk hanya menonton, dirinya pun keluar.

Tak mungkin dia tak menyadari betapa besar bahaya dari tindakannya itu!

“Tenangkan… dirimu… lawanmu itu kabut.”

Walau tanah di bawah kami secara berangsur terus diwarnai merah—bagaimanapun, nada suara Hanekawa tetap terdengar tegas.

“Kabut adalah, dengan kata lain, hanya air.”

“…? …Ha-Hanekawa?”

“Araragi.”

Dengan nada tegas seperti itu—secara perlahan dirinya menutup mata.

“Berapa rekormu dalam ujian lompat jauh?”

Aku bisa merasakan berat badannya.

Seakan mengikuti kata-katanya barusan, mendadak saja badan Hanekawa terasa berat. Sekalipun darahnya mengalir begitu banyak—hanya dengan kehilangan kesadaran semata, tubuh manusia kemudian berubah menjadi begitu berat.

Kalau kehilangan kesadaran saja terasa begini…

…bagaimana jadinya saat seorang manusia kehilangan nyawa?

“Ha… apa-apaan tuh? Kamu mau bikin aku nunggu berapa lama?”

Aku menatap.

Episode telah mengambil kembali salib raksasanya yang menembus Hanekawa. Dirinya menghadap ke arahku, dan dirinya telah bersiap.

“Kalau kau terus berdiri di sana, badan cewek itu bakal semakin terluka loh.”

“Kau… kau…”

“Asal tahu saja, kamu orang yang melanggar perjanjian terlebih dahulu—wahai bawahan Pemusnah Fenomena Ganjil. Seharusnya pertarungan ini satu lawan satu. Tapi, berhubung aku juga ikut campur dengan pihak luar, boleh dikata kita impas.”

“Hanekawa… dia cuma orang biasa.”

Dia di luar hitungan!

Memang apa salah yang telah Hanekawa lakukan?

“Terhadap orang biasa, kau–!”

Dan di samping itu…

Apa bahkan manusia pun… merupakan musumu?

Bukankah yang kau benci—adalah musuhmu?

Bukan hanya vampir, tapi bahkan manusia…!

Walau begitu, tetap tak seharusnya kau turut memperhitungkan Hanekawa—detik saat dia kehilangan kesadaran, dengan nada yang tetap tegas hingga akhir, dia memberiku saran yang artinya sayangnya masih tak aku pahami juga sampai seka…

“… … …!”

Ah. Bukan.

Salah! Sekarang aku mengerti.

Jadi begitu… ini satu lagi chi no ri yang telah Oshino sebutkan. Keunggulan medan.

Aku tarik kembali apa yang kukatakan barusan. Hanekawa benar-benar patut Episode perhitungkan.

Dengan ini, aku bisa menang!

“Oooooooooooo!”

Berteriak dengan seluruh tenaga—aku mulai berlari.

Aku telah meletakkan tubuh lunglai Hanekawa dengan lembut di atas lapangan olahraga, lalu aku langsung mempraktekkan, tanpa keraguan, siasat yang kuperoleh berkat petunjuknya.

Posisi Episode saat ini dan ‘tempat itu’ membentuk satu garis lurus. Di atas garis itu, aku menghentikan kakiku. Kemudian, persis pada waktu yang sama, Episode melontarkan salib raksasa itu ke arahku. Sempurna—tidak, belum.

Kalau salib itu gagal kuhindari, maka semua persyaratan agar siasatku berhasil akan gagal kupenuhi!

Aku tak melompat, aku langsung berjongkok di tempat itu juga—kemudian saat salib raksasa itu melintas di atas kepalaku, menyeret bersamanya beberapa utas rambutku.

Dan akhirnya salib itu pun tersangkut di ‘tempat itu.’

“Apa? Apa? Mestinya kamu marah sekarang tapi pada akhirnya kamu cuma bisa lari? Hah! Kamu payah dan payah! Apa-apaan tuh!”

Episode segera merubah tubuhnya menjadi kabut dan mengejar salibnya.

Namun, aku juga tak bermaksud untuk berdiam di titik itu terlalu lama—dari kedudukan berjongkok itu, aku jadikan kedua lututku pegas, dan aku melompat secara seketika!

Dengan kejutan itu, lapangan olahraga—tidak hanya melesak, namun juga sampai retak.

Aku benar-benar harus meratakannya lagi sesudah ini semua nanti.

Namun, aku tak bisa mempermasalahkan soal itu sekarang. Ini pertama kalinya aku berusaha mempertahankan posturku di tengah udara. Ternyata memang agak susah.

Kekuatan lompatan vampir.

Secara vertikal, mungkin aku melompat setinggi 20 meter.

Lalu ke depan—sekitar 20 meter.

Persis ke tempat yang kusasar.

Aku mendarat di ‘tempat itu.’

‘Tempat itu’—seperti halnya gudang peralatan olahraga, mengingat aku telah bersekolah di tempat ini selama dua tahun dan menerima pelajaran olahraga secara teratur, tak mungkin aku tak tahu tentang ‘tempat itu.’

Yakni—terpasang di salah satu ujung lapangan, kotak pasir untuk lompat jauh.

Di sanalah aku mendarat.

Olahraga atlektik lompat jauh.

Walau tanpa lari pendahuluan.

Aku bahkan tak membutuhkannya.

Padahal jelas ini gerakan untuk lompat jauh.

Aku mendarat persis di sebalh salib yang kini tertancap jauh di dasar kotak pasir—kemunculan Episode di kotak pasir itu sesudah berubah menjadi kabut, sekali lagi, nyaris seketika.

“Ha! Apa-apaan tuh! Itu tenaganya hebat, tapi enggak mungkin tendangan kayak gitu bisa melukai kabut!”

Masih berwujud kabut, Episode tertawa.

Tapi itu bukan keadaan yang patut baginya untuk tertawa, sebenarnya.

“Kabut itu tak lebih dari air.”

Kubilang.

“Kalau pasir di sini kusebarkan, menurutmu apa yang bakalan terjadi?”

Lari lompat jauh—saat kau mendarat, pasirnya akan tersebar ke mana-mana.

Walau itu akan terjadi dengan lari lompat jauh biasa—ini lari lompat jauh yang dilakukan seorang vampir. Pasir yang tersimpan dalam kotak pasir akan tersebar sepenuhnya—ini sungguh pendaratan yang seintens itu.

Sebagaimana yang kuduga.

Episode… menampilkan sosoknya…

…dengan cara yang sama seperti bagaimana darah Hanekawa kemudian diserap oleh permukaan tanah lapangan olahraga. Episode tak memaksudkannya demikian, yang terjadi sebenarnya persis hanyalah fenomena fisika biasa.

Wujudnya kini nampak.

“Ap… Ap…!”

“….Ooooo!”

Pada kesempatan yang muncul saat Episode kebingungan, aku langsung menabrak tubuh langsingnya—selagi pasir masih berceceran dari langit, segera ketekan tubuh Episode ke bawah dengan seluruh berat tubuh yang aku punya.

Meski telah ditindih seperti ini, Episode masih bertahan dan memberontak—tapi aku terus menekannya ke bawa dengan tenaga semata.

Kemudian dengan tenaga semata pula, lehernya kucekik.

Episode takkan bisa mengubah badannya menjadi kabut untuk beberapa lama.

Jika demikian—dengan tenagaku, akulah yang menang.

Aku.

Aku. Aku. Aku. Aku.

“… … … … …!”

Aku akan bunuh dia!

Ada aku yang lain dari suatu tempat, dari suatu tempat lain yang bukan tempat ini, yang tengah mengamati diriku yang isi kepalanya tengah kosong.

Sepenuhnya kosong.

Kenyataan bahwa aku telah berubah menjadi seorang vampir, dengan lawanku seorang separuh vampir, kaki kiri Kiss-Shot, segalanya—semuanya lenyap begitu saja dari dalam kepalaku.

Yang tersisa hanya…

Yang tersisa hanya organ-organ dalam Hanekawa.

Di dalam kepala yang sepenuhnya kosong itu, aku terus mencengkramnya—karena itu.

Karena aku, dia…

Cuma dia—yang harus—kubunuh…

“Cukup.”

Terasa sebuah tepukan.

Pada detik itu—ada tepukan ringan yang mendarat di bahku.

“Kalau kau melakukan lebih dari ini—maka kemanusiaanmu benar-benar akan hilang lho.”

“… … … …!”

Tanpa meleas tanganku dari leher Episode, aku memandang ke balik bahu—sosok yang berada di sana adalah pria dengan kemeja aloha, Oshino Meme.

Sementara pasirnya terus menghujan ke bawah… dirinya hanya berdiri di sana, seakan itu memang hal yang sudah seharusnya.

“A-Ah…”

Bahkan pada waktu itupun dengan Dramaturgie—dia pasti mengawasiku dari suatu tempat, itu katanya. Karenanya, dia pun pasti sebelumnya melakukan hal yang sama sekarangpun juga. Aku sama sekali melupakan tentang ini—tapi, bukan itu masalahnya!

“Ka-Kau! Semestinya kau bisa hentikan Hanekawa!”

“Tak usah teriak, Araragi. Kau ini bersemangat sekali. Apa ada hal baik terjadi?”

Bahkan dalam situasi seperti itu—Oshino melepas tawa yang renyah.

Dirinya menampakkan wajah tersenyum yang terus terang saja menyebalkan.

“Tapi, walau kau bersemangat sekalipun, sori, kau sedang berada di tengah pertandingan. Lihat, dia pingsan.”

“Eh?”

Sesudah Oshino mengatakannya, aku kemudian sadar.

Episode telah menampilkan bagian putih matanya. Dengan cepat aku melepas tanganku dengan kebingungan. Cengkramanku rupanya sampai menimbulkan bekas-bekas jemari di dasar lehernya.

“E… Eh?”

Apa yang barusan sedang kulakukan?

Apa tadi aku… sungguh sedang berusaha membunuhnya?

Dirinya, seorang separuh vampir… seorang separuh manusia?

Tapi—tapi, Hanekawa…

Hanekawa.

“Hanekawa!”

“Ah, iya, aku melihatnya.”

“Bisa-bisanya kamu cuma melihatnya—mestinya kamu hentikan dia!”

“Itu tak tercakup oleh ongkosmu. Aku dikontrak untuk negosiasi dengan tiga spesialis dalam pengusiran vampir—lebih dari itu, biayanya akan bertambah. Aku sama sekali tak punya perhatian dengan orang-orang biasa.”

Dua juga…

Biaya kompensasi.

Keseimbangan.

“Kalau begitu, bilang sejak awal! Kalau kau bilang begitu…”

“Kau bisa saja membayarkan bagian biayanya, seharga dua juta yen lagi, misalnya?”

“Dua juga? Tiga juta pun aku mau!”

“Woah, itu jumlah yang besar.”

“Oshino, ini bukan waktunya main-main!”

“Ini bukan main-main, ini tawar-menawar, Araragi. Dan dengan tiga juta ten, negosiasi ini tuntas.” Oshino menjawab tanpa kebimbingan.

“Kuberi kau petunjuk, kalau begitu. Pakai kepalamu sedikit, Araragi. Tubuhmu yang abadi itu memangnya kau pakai buat apa?”

“Hah?”

“Yah, seperti yang kau bilang, hanya karena ada seorang manusia yang ambil bagian dalam perkelahian antara seorang vampir dan seorang separuh vampir, itu masih tak layak jadi alasan untuk membunuh orang. Itu namanya berlebihan—karenanya, dengan tambahan biaya itu, maka aku akan memberitahu satu hal baik. Ini bukan kasus di mana kau tak harus mencekik siapapun—coba ingat semuanya lagi.”

“Ingat, kau bilang…”

Apa?

Bahkan aku tak punya waktu untuk memikirkan jawaban pertanyaan ini.

Seperti yang Kiss-Shot perlihatkan padaku sebelumnya, aku meratakan permukaan tanganku, aku tusukkan ke dalam dahiku…

Peduli setan jika adegan ini tak layak ditunjukkan dalam anime!

Kemudian seketika aku ingat.

Karakteristik khusus yang dimiliki para vampir—aku segera mengetahui apa yang harus kulakukan. Langsung di tempat, dengan tangan masih tertanam ke dalam otak—kutinggalkan Oshino dan Episode, dengan sekuat tenaga aku berlari ke tempat Hanekawa terbaring.

Lima menit.

Jika oksigen tak mengaliri otak selama lima menit, maka otak akan berhenti bekerja—berbicara sebaliknya jika aku sampai di sana tepat waktu, sekalipun jantungnya telah berhenti, maka Hanekawa mungkin masih bisa diselamatkan.

Diselamatkan.

Bahkan tiga menit pun belum berlalu semenjak saat itu.

Aku keluarkan tanganku dari dahi—lalu kuteteskan darah yang menempel di tanganku ke lubang yang menganga di punggung Hanekawa itu, ke dalam luka yang teramat besar itu.

Aku sebelumnya sempat mendengarnya dari Kiss-Shot.

Di dalam darah para vampir, terkandung suatu efek penyembuh—dan dalam kasus ini, darahnya adalah darah milikku sendiri, bawahan dari Kiss-Shot, sang Vampir Berdarah-Logam, Berdarah-Panas, Berdarah-Dingin.

Jelas saja, karena darah vampirku menguap langsung di tempat luka itu berdarah, aku harus terus menciptakan luka-luka baru di tubuhku, satu sesudah yang lainnya, agar darahku dapat terus mengalir—dan aku berhasil.

Di depan mataku sendiri—hasilnya sudah terlihat.

Luka di tubuh Hanekawa sudah mulai pulih lagi.

Organ-organ dalam Hanekawa mulai terpulihkan, tulang-tulangnya terpulihkan, urat-uratnya terpulihkan, kulitnya terpulihkan—pada akhirnya, tanpa meninggalkan satupun bekas luka—dirinya sepenuhnya telah terpulihkan.

Daripada pemulihan—kesannya lebih seperti pembalikan waktu.

Aku coba sentuh dia dengan lembut.

Aku coba menyentuh penggung Hanekawa yang baru pulih.

Pucat dan melekuk dengan perlahan, bagian tubuh yang nampaknya telah kurus selama bertahun-tahun—sama lembut, bahkan terlihat mengkilat, seandainya kau tekan sepertinya bisa rapuh, namun jelas bahwa semua itu nyata.

“…A-aaaa.”

Dalam satu tarikan nafas.

Emosi yang sebelumnya kutahan setengah mati akhirnya terlepas.

Dalam sekejap mata, nafasku terpenuhi kembali.

“Ha-Hanekawa!”

Aku memeluk perutnya dengan penuh semangat.

Walau seandainya aku dekap dia dengan sepenuh kekuatan vampirku dan mematahkan tubuh kurusnya, maka aku akan harus mengulangi semua upayaku lagi.

“…Araragi.”

Demikian ujar Hanekawa yang baru pulih kesadarannya.

Tunggu—mungkin kesadarannya sendiri sudah pulih beberapa lama sebelum itu.

“Kenapa kau sedang mengusap-usap pipimu ke perutku seakan perutku suatu hal yang teramat berarti buatmu?”

“Eh…”

“Ditambah lagi, apa baju seragamku yang robek ini juga karena ulahmu?”

Ada kasus-kasus ketika orang-orang yang baru tersadar kembali mengalami kesulitan untuk mengingat apa yang terjadi persis sebelum mereka kehilangan kesadaran.

Sepertinya hal serupa juga baru terjadi pada Hanekawa.

Bukan cuma seragammu, bahkan organ-organ tubuhmu juga ikut tercabik lho.

“Hanekawa, tolong.”

Aku bilang padanya, tanpa mengubah posisi, dengan kepala masih terkubur ke perutnya.

Aku ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar masih hidup.

“Biarkan aku tetap begini sedikit lebih lama lagi.”

———————-

Catatan:

Soal angka sial yang berderet pada tanggal, di Jepang (dan juga China), angka 4 dipandang sebagai angka sial dan perlambang kematian. Hubungannya terdapat pada salah satu cara pelafalannya yang serupa dengan cara melafalkan kata untuk ‘mati’.

PHS… aku lupa kepanjangannya. Tapi mereka yang suka Final Fantasy VII pasti tahu.

Aku beneran enggak ngerti soal kalimat-kalimat khas Episode ini. Referensi yang satu ini lolos dari pengetahuanku.

Sebenernya ‘apa-apaan tuh’nya si Episode di versi Jepangnya adalah ungkapan ‘itu konyol banget!’-nya gadis-gadis muda di Jepang sono, yang agak merendahkan orang lain. Tapi aku engga nemu padanan bagus yang bisa kupake di sini.


About this entry