Aquarion Evol

Aku sudah melihat gelagatnya dari pertengahan seri. Tapi akhir cerita Aquarion Evol jujur saja membuatku mual.

Uuurgh. Aku enggak enak ngomong gini. Tapi terlepas dari segala keanehannya, aku dulu beneran suka seri pendahulunya. Seri sepanjang 26 episode keluaran Satelight ini pada dasarnya merupakan sekuel dari seri super robot Sousei no Aquarion yang sempat menarik perhatian nyaris separuh dekade sebelumnya. Lalu itu alasan utama kenapa aku ngikutin Aquarion Evol.

Sousei no Aquarion waktu itu merupakan seri mecha yang lumayan memukau bahkan sampai sekarang. Desain mechanya  cukup gila. Karakterisasinya enggak lazim. Ceritanya juga pada beberapa titik agak bernuansa filosofis. Oh ya, dan  musiknya. Sayang, akhir cerita Sousei no Aquarion agak menggantung. Makanya pas pertama tayang, Aquarion Evol menuai pengharapan lumayan besar.

Tapi… gimana ya?

Intinya gini deh. Sousei no Aquarion dulu dibuat sebagai homage terhadap anime-anime super robot jadul. Namun dalam sebuah polling yang belum lama ini diadakan di sebuah situs anime mecha terkenal, Aquarion Evol yang menjadi sekuelnya menjadi seri mecha yang paling kurang digemari di antara tiga seri mecha yang tengah tayang di musimnya (kalah dari Gundam AGE dan Eureka Seven AO).

Jadi, kayak, kerasa gitu gimana penekanan terhadap aspek mechanya agak ngilang. Makanya, bagiku agak aneh Aquarion Evol melenceng dari konsep pendahulunya dengan terlalu menekankan pada aspek karakternya daripada mechanya. Cerita di sekuelnya ini jadi jauh dari elemen-elemen yang biasanya ada dalam cerita-cerita super robot.

Kalau aku boleh mengeluh:

  • Dunia dalam bahaya, tapi para tokoh utamanya nampak lebih dirisaukan soal cinta daripada kematian.
  • Ancaman perang di depan mata, tapi anehnya, enggak ada sedikitpun upaya negosiasi yang digambarkan pernah dilakukan antara kedua belah pihak.
  • Enggak ada tokoh berdarah panas (kecuali, mungkin satu, tapi dia aneh).
  • Seorang tokoh ‘mentor’ yang hadir kembali dari Sousei no Aquarion—yang meski dengan cara agak aneh, di seri sebelumnya memberi pencerahan dan kontribusi nyata dan berarti bagi para tokoh—kini tampil semata-mata sebagai ORANG ANEH doang.

Bagiku, hasilnya jadi… aaargh.

Jadi, kalau Sousei no Aquarion agak terlalu gampang ditanggapi serius sementara kenyataannya, seharusnya enggak. Aquarion Evol itu kebalikannya. Sekeras apapun kau berusaha, ceritanya emang susah ditanggapi secara serius.

Bukan berarti kau perlu menanggapi ceritanya secara serius juga sih.

Tapi ada satu keunggulan utama Aquarion Evol dibandingkan seri sebelumnya. Meski premisnya sama-sama aneh, cerita dan karakter Aquarion Evol lebih gampang dimengerti. Jauh lebih gampang dimengerti. Selebihnya, ceritanya menurutku lumayan kalah berbobot. Terutama kalau kita menilainya sebagai sebuah anime super robot.

Cinta Kini Dilarang!

Aquarion Evol berlatar 12.000 tahun sesudah masa Sousei no Aquarion. (Buat kalian yang mungkin lupa, 12.000 tahun itu lama siklus buat ‘kelahiran kembali’ yang dikisahkan di seri pendahulunya.)

Umat manusia yang hidup di planet Vega secara teratur terancam oleh kedatangan mecha-mecha raksasa Abductor yang konon berasal dari planet Altair, yang menculik populasi wanita dari planet Vega. Satu-satunya yang memiliki kapasitas mencegah terjadinya hal ini adalah organisasi Neo-DEAVA yang menaungi manusia-manusia berkemampuan khusus yang disebut Element, untuk menggerakkan robot raksasa Aquaria yang merupakan hasil kombinasi dari tiga pesawat Vector yang mereka miliki.

Ada dua jenis Aquaria: Aquaria tipe M yang dihasilkan dari kombinasi tiga pesawat Vector yang dipiloti laki-laki, dan Aquaria tipe F yang dihasilkan dari kombinasi tiga pesawat Vector yang dipiloti perempuan. Namun rupanya, apabila Vector yang dipiloti lelaki dan perempuan bergabung, wujud sesungguhnya yang terlarang dari robot raksasa ini akan terkuak, yakni Aquarion, mechanical angel legendaris yang disebut-sebut dalam Buku Bintang Kembar yang konon menerakan sejarah alam semesta.

Hal ini terkuak saat seorang remaja baik hati/rendah diri/pemalu bernama Amata Sora terlibat dalam kekacauan yang berlangsung akibat para Abductor. Amata berusaha melindungi seorang gadis bernama Mikono Suzushiro yang kebetulan baru ditemuinya.

Amata kemudian menggunakan kekuatan Element yang selama ini disembunyikannya, yakni kemampuan untuk menciptakan sepasang sayap cahaya dari kedua kaki, demi menyelamatkan Mikono. Upayanya ini kemudian membawanya ke kokpit salah satu Vector, dan… yah, hal-hal kemudian terjadi.

Mikono, yang manis namun sangat rendah diri, rupanya anak bungsu dari keluarga Suzushiro yang senantiasa menghasilkan keturunan Element berkualitas. Namun tak ada kekuatan Element yang tampak dalam diri Mikono. Karenanya, ia sering bimbang soal dengan kelompok mana ia semestinya berada.

Sesudah semua yang terjadi, Amata dan Mikono tetap saja kemudian direkrut masuk ke dalam Neo-DEAVA, di mana mereka dididik bersama remaja-remaja Element lainnya untuk belajar mengendalikan kekuatan mereka, dan menggunakannya bersama Aquarion untuk menyelamatkan dunia.

Dunia yang Berjalan Terbalik

Sebagian besar durasi Aquarion Evol menyoroti perkembangan hubungan Amata dan Mikono, beserta teman-teman mereka dalam lingkungan baru ini. Secara garis besar, seluruh karakternya menarik. Cuma… ada terlalu banyak hal yang buatku membuatnya jadi… agak gimanaa gitu, terutama dari segi penggarapan ceritanya.

Ada Zessica Wong, gadis tomboi seksi yang seiring dengan waktu, mendapati dirinya jatuh hati terhadap ketulusan Amata. Kekuatan Element yang dimilikinya adalah kemampuan untuk mendistorsi/memelintir.

Ada Cayenne Suzushiro, lelaki maskulin yang merupakan kakak Mikono. Sangat protektif terhadap adiknya. Kekuatan Element miliknya adalah semacam kemampuan penglihatan untuk meramal kejadian-kejadian buruk.

Ada Shrade Elan, lelaki rupawan pecinta musik yang merupakan sahabat Cayenne, namun tengah digerogoti penyakit misterius. Nyawanya akan berkurang setiap kali kekuatan Element dahsyatnya yang berkaitan dengan musik digunakan.

Ada Andy W. Hol, pemuda riang yang langsung akrab dengan Amata, dan memiliki kemampuan untuk menciptakan lubang-lubang.

Ada MIX, gadis galak yang taat pada tata tertib, yang memiliki kemampuan untuk menutupi rongga-rongga.

Lalu ada Yunoha Thrull, gadis pemalu yang memiliki kemampuan untuk membuat dirinya transparan.

Awalnya, cerita berfokus pada bagaimana murid-murid Element ini mengatasi kecanggungan hubungan cewek-cowok yang kini diperbolehkan di Neo-DEAVA. Sebelumnya, interaksi antara kedua jenis kelamin ini dilarang karena berpotensi membuat Aquarion hilang kendali. Makanya, hubungan cinta itu dilarang. (Ahaha, ya ya.)

Lalu konflik terjadi dengan berbagai macam karakternya. Terutama dengan munculnya sesosok musuh liar bernama Kagura, yang untuk suatu alasan secara ganas terus memburu Mikono.

Dalam perkembangan cerita, muncul juga Jin, anak lelaki terakhir dari Altair, yang sesudah kekalahannya dalam pertempuran, mencoba menyusup ke Neo-DEAVA sebagai murid pindahan, dan ia mengalami kepanikan karena tak pernah menjumpai perempuan sebelumnya. Melalui Jin, Amata dan kawan-kawannya kemudian mengetahui kenyataan tentang wujud musuh mereka yang sebenarnya.

Menjelang akhir cerita, diperkenalkan Izumo, pemimpin kaum Altair yang menanggung beban untuk menjaga kelangsungan planetnya. Lalu di sisi Izumo, hadir Mikage, sosok misterius di Altair yang seakan memiliki kekuatan tanpa batas, dan terus memanipulasi tokoh-tokoh lain untuk berperan sesuai keinginannya.

Di pihak Neo-DEAVA, pria misterius bernama Fudo ZEN tampil untuk memimpin anak-anak muda ini menuju kemenangan.

Semakin dekatnya Amata dan kawan-kawannya akan makna sesungguhnya perjuangan mereka, semakin dekat pula Amata akan jawaban atas misteri hilangnya orangtuanya.

Misteri Lubang Pada Donat

Daya tarik pertama yang Aquarion Evol miliki adalah kekuatan interaksi antara tokoh-tokohnya. Episode-episode awalnya dipenuhi komedi tentang cowok dan cewek yang baru saling mengenal (yang sedikit banyak mengingatkanku pada seri anime mecha lawas Vandread), dengan berbagai karakter yang penuh warna dan menarik (dan fanservice).

Hal ini didukung oleh kualitas desain dan visualnya. Desain karakternya menurutku kalah ‘berkarakter’ dibandingkan seri sebelumnya. Tapi desain dunia dan lainnya benar-benar wah. Markas Neo-DEAVA yang menyerupai bangunan tua besar beneran keren desain interiornya. Lalu kota Neo Kowloon dan Neo Venezia juga tampil sebagai latar yang cantik di seri ini. Visualnya yang terang dan tajam menunjang sejumlah adegan keren yang berlangsung dalam seri. Ada adegan-adegan yang berhubungan dengan gedung-gedung pencakar langit, kompleks permesinan yang rumit, sampai kota-kota tua yang telah hancur akibat bencana.

Cuma, menilik dari ceritanya secara menyeluruh, seindah apapun tampilan dunianya dan semegah apapun musiknya, hasilnya tetap kurang berkesan kalau ceritanya… apa ya?

Ada banyak orang yang suka sih. Tapi aku sendiri merasa ceritanya agak pointless buat diikutin. Beberapa episode awalnya lebih dari lumayan kalau cuma sekedar buat hiburan. Tapi episode-episode ke depannya agak berat dinikmati karena perkembangan dan eksekusi ceritanya yang… konyol dan keju. Intinya, yah, itu, terlalu susah aku tanggapi serius. Jadinya buatku mungkin itu mengacaukan suspension of disbelief.

Adegan-adegan aksi mechanya juga buatku kurang cukup seru.

Tetap ada beberapa perkembangan yang menarik, seperti seputar penjelasan soal apa sesungguhnya yang terjadi di klimaks Sousei no Aquarion, bagaimana misteri yang ada terhubung dengan hasil pertempuran 12.000 tahun sebelumnya, serta hubungan terselubung antara Kagura dan Amata. Tapi sekali lagi, sekeras apapun aku berusaha… aku… enggak… bisa menanggapi seri ini secara serius!

Intinya: aku kecewa.

Mungkin ini karena statusku sebagai penggemar anime mecha juga.

Jadi bagi kalian penggemar berat anime mecha yang memutuskan untuk mengikuti seri ini, pastikan kau tak membawa pengharapan terlalu besar. Mungkin kalian akan bisa menikmati setiap episodenya. Tapi aku enggak yakin kalian akan mendapat kesan mendalam yang bagus darinya.

Tunggu, jangan salah. Tetap ada kemungkinan kalian bisa menyukai seri ini kok. Jadi, seenggaknya, dicoba lihat dulu saja.

Penilaian

Konsep: D+; Visual: A; Audio: A; Eksekusi: C-; Pengembangan: C-; Kepuasan Akhir C-


About this entry