Zetsuen no Tempest

Ada berita di ANN yang belum lama ini membuatku tertarik. Intinya, soal bagaimana manga berjudul Zetsuen no Tempest hasil kerjasama antara Shirodaira Kyou, Arihide Sano, serta Saizaki Ren, tak lama lagi akan diangkat menjadi sebuah anime oleh studio animasi BONES. Manga yang relatif baru ini terbit secara bulanan di majalah komik Monthly Shonen Gangan milik Square-Enix (uhukFullmetal Alchemistuhukuhuk).

Aku belum pernah mendengar tentang manga ini sebelumnya (walau salah seorang kenalanku yang memiliki koneksi di Elex pernah mengomentari soal bagaimana komik-komik yang diterbitkan mereka, entah karena kaitannya dengan perusahaan pembuat RPG ternama Square Enix atau bagaimana, selalu punya kualitas cerita di atas rata-rata), tapi penjelasan tentang genre manga ini membuatku tertarik. Zetsuen no Tempest merupakan suatu seri fantasi misteri.

Benar. Pikirkan baik-baik. Fantasi misteri. Kalau kau cuma mendengarnya semata, mungkin kau enggak akan merasa aneh. Tapi kalau memikirkan baik-baik sebuah cerita kayak begini seperti apa, atau bahkan mencoba menulisnya, kau sadar itu akan menjadi sebuah tantangan tersendiri.

Sementara judulnya kurang lebih berarti ‘angin besar pengabaian,’ dengan ‘zetsuen’ merupakan kanji kombinasi yang kurang lebih menyatakan kehancuran/kekeringan?/penelantaran/forsaken dari suatu taman; sementara ‘tempest’ dalam ceritanya sendiri kelak merujuk pada judul salah satu karya dramawan terkenal asal Inggris, Shakespeare.

Balik lagi ke soal pembahasan genre. Cerita fantasi misteri satu-satunya yang aku tahu cuma Umineko no Naku Koro ni. Dan seri tersebut dengan suatu cara yang aneh turut menjelaskan bagaimana genre misteri dan genre fantasi merupakan dua genre yang sebenarnya saling bertentangan. Penjelasannya… agak malas kusampaikan di sini. Tapi ingat saja kenyataannya seperti itu.

Tak bisa menahan rasa ingin tahuku, di waktu aku benar-benar senggang, aku memeriksa informasi tentangnya di web. Dan…

Oke. Kuakui. Aku keasyikan baca.

Lelaki yang Akan Menyelamatkan Dunia

Mulai dari yang gampang dulu.

Pertama aku memeriksa Zetsuen no Tempest, yang terpikirkan olehku adalah karya-karya awal duo pengarang komik fiktif Ashirogi Muto dari Bakuman. Zetsuen no Tempest beneran seperti sesuatu yang akan dibikin oleh mereka. Jenis komik yang cerita dan karakternya dibuat ‘dengan penuh perhitungan’ sesudah diskusi dan pikir panjang terlebih dahulu.

Lalu, sejalan dengan kecendrungan kualitas gambar seorang manga-ka muda,  artwork di Zetsuen no Tempest ini dihiasi oleh karakter-karakter berwajah tampan/cantik, yang menarik. Tapi dengan ekspresi yang masih belum terlalu bervariasi, serta fokus yang benar-benar lebih pada plot. Adegan-adegan aksinya pun relatif masih kaku dan belum terlalu indah pengkoreografiannya. Kemampuan penggambaran anatomi Shirodaira Kyou-sensei masih bisa lebih baik. Rasanya, beneran kayak membaca… apa itu judulnya? Money and Intelligence gitu. Tapi kau kayak bisa ngerasain potensi terselubung yang masih tertidur di dalamnya.

Soal ceritanya sendiri, Zetsuen no Tempest diawali dengan agak in medias res. Ceritanya juga lebih banyak digerakkan oleh dialog. Jadi kau perlu memberi perhatian agak lebih untuk bisa mencerna dan memahami apa-apa yang diceritakan di dalamnya.

Aku enggak mau terlalu banyak memberi spoiler tentang plotnya. Tapi pada dasarnya, di dunia Zetsuen no Tempest ini, ada kaum penyihir yang memuja dan menjaga sesuatu yang disebut Pohon Awal Mula. Konon, segala sesuatu yang ada di muka Bumi berawal dari pohon ini. Dan pohon yang kurang lebih bisa dianggap dewa ini ceritanya tengah ‘tertidur’ di suatu tempat, sesudah konfrontasinya dengan Pohon Zetsuen yang konon berkecendrungan untuk menghancurkan segala-galanya.

Kaum penyihir yang menjaga pohon ini tak lain adalah kelompok yang dikenal sebagai Klan Kusaribe, dan segala sihir yang mereka gunakan ditarik berdasarkan aturan yang ‘ditetapkan’ pohon tersebut. Lalu intinya, sesuatu terjadi di Klan Kusaribe ini sehingga salah satu petinggi mereka, Kusaribe Samon, melakukan semacam kudeta dan menjalankan suatu ritual magis bersama pengikutnya untuk mengumpulkan benih-benih Pohon Zetsuen yang tersebar di seluruh Jepang.  Tindakannya ini memicu serangkaian fenomena alam aneh di tempat-tempat yang dilewati benih-benih raksasa yang melayang tersebut. Salah satu di antara fenomena aneh ini munculnya sesuatu yang disebut Wabah Logam, yang akan mengubah segala makhluk hidup yang terjangkitinya menjadi logam, dan telah memakan korban yang tak lagi terhitung jumlahnya.

Pemerintahan sudah tak lagi mampu menyembunyikan fenomena ini lewat karantina-karantina dan penyegelan yang mereka lakukan. Namun, penyelidikan yang dilakukan oleh ‘penyelidik sukarelawan’ (agen khusus?) Evangeline Yamamoto memberi petunjuk akan adanya seorang remaja misterius yang mungkin tahu kebenaran semua fenomena aneh ini: seorang anak lelaki bernama Fuwa Mahiro.

Tokoh utama Zetsuen no Tempest sendiri adalah sahabat lama Mahiro, seorang remaja pendiam bernama Takigawa Yoshino. Satu bulan penuh sudah berlalu semenjak Mahiro meninggalkan sekolah dan menghilang. Yoshino secara pribadi berpikir bahwa kepergian Mahiro mungkin berkaitan dengan insiden pembantaian seluruh keluarganya oleh seorang pembunuh misterius yang berlangsung satu tahun sebelumnya.

Mahiro kemudian dikonfrontasi Evangeline pada saat tengah mengunjungi makam keluarga Fuwa. Kemudian mereka menjadi saksi langsung terjangkitnya kota mereka oleh Wabah Logam serta kebangkitan salah satu benih pohon Zetsuen yang mengerikan dari bawah laut.

Saat itulah, Mahiro muncul kembali, dan menyelamatkan Yoshino dari penyerangan Evangeline. Lalu kepada Yoshino, Mahiro membeberkan bahwa dunia saat ini berada di ambang kehancuran akibat ulah sekelompok penyihir tolol yang melakukan sebuah ritual tolol untuk membangkitkan suatu hal tolol yang tak boleh dibangkitkan. Tapi Mahiro menenangkannya, karena ia juga menyatakan diri sebagai lelaki yang akan menyelamatkan dunia.

Penyihir yang Terdampar di Pulau Terpencil

Meski adegan-adegan aksi dan pertarungannya ada, Zetsuen no Tempest benar-benar lebih berat ke intrik, strategi, dan adu siasatnya. Ini sejalan dengan sistem sihirnya yang unik dan menyangkut ‘sifat’ dari Pohon Awal Mula. Rasanya benar-benar lebih kayak apa yang biasanya kau bakal temuin dalam Detective Conan atau Kindaichi. Dan maksudku di sini bukan adegan-adegan aksi ajaib yang terkesan ‘enggak nyambung’ kayak di Umineko, tapi benar-benar adegan-adegan aksi murni yang berhubungan dengan jalan ceritanya. (Mungkin memang belum setegang level Hunter x Hunter atau Jojo’s Bizzare Adventure sih. Tapi ini saja sudah menarik.)

Tentu saja aspek misteri dan perang urat saraf itu takkan berhasil dalam jangka panjang tanpa karakter-karakter yang ‘dalam.’ Hampir semua karakter dalam Zetsuen no Tempest memiliki sisi tersembunyi yang secara lihai tak diperlihatkan sebelum waktunya tiba. Para karakternya memang terkesan tak wajar dan agak dibuat-buat sih. Tapi enggak bisa disangkal kalau kesemuanya di atas kertas beneran ‘menarik.’

Mahiro yang bisa dibilang agak self-centered dan bahkan tega, dikisahkan sebulan sebelumnya kebetulan(?) menemukan sebuah botol terapung di laut. Botol tersebut berisi surat dari seorang gadis bernama Kusaribe Hakaze, tuan putri dari klan Kusaribe, penyihir terkuat di dunia yang secara langsung ‘dilindungi’ oleh kekuatan Pohon Awal Mula.

Hakaze merupakan halangan terbesar Samon dalam menjalankan rencananya. Karena itu, Hakaze diasingkan ke suatu pulau terpencil di mana ia dilucuti dari semua kekuatan sihir yang ia miliki (anggota Klan Kusaribe tak bisa membunuh secara langsung karena bertentangan dengan sifat Pohon Awal Mula yang memberikan kehidupan, dan alasan Hakaze tak bisa menggunakan sihirnya berhubungan dengan cara sihir klan Kusaribe bekerja). Tak punya pilihan, karena dirinya berada di pulau terpencil yang entah berada di mana, Hakaze kemudian mengandalkan Mahiro untuk menghentikan rencana Samon dengan memanfaatkan kekuatan pusaka-pusaka sihir buatan Hakaze yang sebelumnya telah ditinggalkan dan disembunyikannya di berbagai tempat untuk keadaan darurat. Hakaze berkomunikasi dengan Mahiro melalui sebuah boneka kayu yang telah dipersiapkannya. Lalu Mahiro menyetujui permintaan Hakaze, dengan kesepakatan bahwa Hakaze kelak akan membantu Mahiro menemukan pembantai keluarganya melalui kekuatan sihir.

Yoshino, sahabat Mahiro, turut terseret ke dalam semua ini, tatkala ia bersama Evangeline terselamatkan dari bencana Wabah Logam berkat kekuatan pusaka yang dibawa Mahiro. Demi membantu Mahiro, Yoshino turut serta dalam perjalanan panjang melintasi Jepang demi menghentikan kebangkitan Pohon Zetsuen. Namun dirinya pun sebenarnya digerakkan oleh suatu alasan pribadinya sendiri.

Mewarnai perjalanan mereka, adalahh kutipan-kutipan dari berbagai lakon Shakespeare yang kerap dibacakan oleh Aika, mendiang adik perempuan Mahiro yang turut meninggal dalam insiden yang menewaskan keluarganya.

Bagaimana semua ini berhubungan dan saling terkait benar-benar menjadi daya tarik manga ini.

Manga ini memang masih punya banyak kelemahannya. Penggambaran karakternya bisa agak-agak aneh. Tapi kalau misalnya seri ini diadaptasi ke bentuk anime dan semua kekurangannya bisa diperbaiki, aku rasa ini akan jadi tayangan yang luar biasa menarik.

Begitu manga ini secara legal diterbitkan di sini, siapapun tolong kabari. Karena aku benar-benar takkan keberatan untuk mulai mengoleksinya.


About this entry