Umineko no Naku Koro ni Chiru (3)

Setelah agak lama, akhirnya aku cukup mood untuk membahas soal game-nya lagi.

Ceritanya benar-benar intriguing, bikin penasaran. Tapi di sisi lain, lumayan bikin depresi. Makanya aku agak menunda-nunda untuk mengulas tentangnya.

Mengikuti akhir dari episode keempat, Alliance of the Golden Witch, sejumlah pertanyaan baru mencuat tentang diri Battler. Soal siapa dirinya. Soal mengapa Beatrice mempertanyakan ‘kepantasannya’ untuk mengikuti permainan. Lalu soal motivasi Beatrice sendiri saat Battler akhirnya menyadari bahwa permainan mereka memang dirancang sedemikian rupa agar lambat laun dirinya bisa menang juga.

Meski konflik antara Beatrice dan Battler dikisahkan telah ‘tuntas,’ masih ada banyak sekali teka-teki mengenai insiden Rokkenjima yang tersisa. Pembahasan keempat episode core arc yang menutup kisah Umineko beranjak dari sana.

End

Di Purgatorio, Beatrice pada akhirnya ‘terbunuh’ sesudah Battler memojokkannya dalam putaran permainan mereka yang terakhir. Lalu yang tersisa dari dirinya, hanyalah ‘cangkangnya’ semata, yang bisu, lemah, sekarat, dan lambat laun akan sirna.  Dengan demikian, Battler secara resmi menjadi Game Master yang baru. Sesudah Battler, dalam segala kebimbangannya, berniat untuk memberikan kedamaian bagi Beatrice di akhir hayatnya, Bernkastel dan Lambdadelta mengambil alih papan permainan mereka untuk sementara waktu demi menuntaskan beberapa teka-teki yang belum mereka pastikan jawabannya.

Penuntasan teka-teki oleh Bernkastel dan Lambdadelta ini menjadi inti cerita dari episode kelima, yang dinamai End of the Golden Witch sesuai dengan keadaan Beatrice yang tengah menjelang akhir hayatnya. Battler yang asli (yang pemain, bukan pion) memegang peranan minor dalam episode ini. Lalu sebagai pemegang peran detektif, dimunculkan karakter baru Furudo Erika yang dari sudut pandang ajaib, merupakan pion yang dimasukkan Bernkastel; namun dari sudut pandang realita, merupakan seorang gadis yang terlempar dari sebuah kapal pesiar pada malam saat badai dahsyat yang menerpa Rokkenjima berlangsung.

Erika yang sangat cerdas namun tinggi hati dan keji memformulasikan teorinya sendiri mengenai kenyataan yang sesungguhnya dari rangkaian pembunuhan yang berlangsung di episode ini. Teorinya menyudutkan kedudukan Kinzo dan Natsuhi dengan cara yang tak sepantasnya, dan dalam suatu adegan keren ia beradu argumen dengan Battler versi pion mengenai apa sesungguhnya yang telah terjadi.

Tokoh baru lain yang muncul adalah Dlanor A. Knox beserta para bawahannya, semacam inquisitor yang memburu penyihir yang menjadi kaki tangan Erika si detektif dari sudut pandang ajaib. Keberadaannya menegaskan perbedaan sudut pandang investigasi Erika dibandingkan yang Battler pegang dulu. Erika memegang sudut pandang ‘misteri’ dibandingkan Battler yang memegang sudut pandang ‘anti fantasi.’ Intinya, ada semacam rangkaian aturan baku tentang bagaimana sebuah cerita misteri selayaknya disusun, yang memungkinkannya menjadi sesuatu yang bisa dipecahkan asal pembaca benar-benar berusaha, yang diburu implementasinya oleh Erika setiap kali adu argumen antar pemain berlangsung. Erika juga memiliki sesuatu yang disebut hak sebagai detektif, yang memungkinkannya memperoleh dan mengklarifikasi segala macam petunjuk yang ia inginkan dengan berbagai cara.

Hal-hal penting lain yang mencuat dalam episode ini (kalau tak salah) adalah kabar mengenai pernah munculnya seorang bayi misterius yang Kinzo minta untuk diasuh Natsuhi sembilan belas tahun sebelumnya, namun seakan wafat dalam suatu kecelakaan yang diwarnai suatu konflik emosi.

Akibat intervensi Battler di akhir cerita dan keputusannya untuk melangkah ke panggung sebagai Game Master yang resmi, konflik pada papan permainan di episode ini berakhir prematur. Jadi nasib akhir mereka-mereka yang tertinggal di Rokkenjima tak diketahui.

Meski seakan tak menjelaskan banyak hal, episode ini terbilang ‘menyegarkan’ karena memperkenalkan kita pada cara berpikir semestinya yang diperlukan untuk memecahkan misteri yang berlangsung di Rokkenjima. Maksudnya, kayak, baru pada episode ini, kita benar-benar jadi memahami sepenuhnya tentang apa-apa sesungguhnya yang berlangsung dalam cerita gitu.

Di episode ini diperkenalkan juga ‘kebenaran emas,’ jenis kebenaran baru yang Battler dapat gunakan, yang bisa menjadi kebenaran paling kuat atau paling lemah, bergantung dari skenario yang berlangsung saat itu, perlambang akan pemahaman Battler atas seluruh isi permainan Beatrice.

Dawn

Episode keenam yang bertajuk Dawn of the Golden Witch pada dasarnya mengetengahkan debut Battler sebagai Game Master yang baru dari papan permainan. Dalam cerita baru yang dirajutnya ini, rangkaian pembunuhan yang berlangsung di Rokkenjima dari sudut pandang ajaib terjadi karena perjuangan kedua pasangan Shannon dan George beserta Jessica dan Kanon untuk mendapatkan cinta mereka masing-masing melalui suatu acara turnamen yang diatur oleh pasangan demon yang sempat muncul di penghujung episode sebelumnya, Zepar dan Furfur.

Furudo Erika tampil kembali sebagai detektif dalam episode ini, sebagai seseorang yang diselamatkan dari badai. Sebagai pion Bernkastel, ia melakukan segala cara untuk mengacaubalaukan kebenaran yang telah dipersiapkan Battler, memojokkan kedudukannya sebagai Game Master dengan suatu kegagalan logika di dalam skenario cerita, akibat tindakan Erika yang sama sekali tak disangka.

Harapan akhir bagi Battler jatuh pada sosok Beatrice ‘baru’ yang Battler ciptakan dari peraturan papan permainan. Beatrice yang masih kekanak-kanakan ini berusaha mewujudkan perannya sebagai penyihir dari Rokkenjima, dan menjadi lawan yang harus Erika hadapi dalam konfrontasi di penghujung episode.

Sama seperti episode kelima, seluruh misteri seakan terjawab sebelum cerita berakhir. Karenanya, permainan tak terselesaikan, dan nasib akhir mereka yang berada di Rokkenjima tak terungkap di akhir episode.

Episode ini berakhir dengan dikukuhkannya Battler sebagai Game Master baru dengan Beatrice sebagai pasangannya.

Hal paling mencolok yang perlu diperhatikan di seri ini adalah sifat dari hubungan Kanon-Jessica serta Shannon-George, yang tak bisa ada tanpa hancurnya yang lain.

Hal menarik lain di episode ini adalah realita tentang sisi nyata Ange sesudah pengorbanannya di episode keempat, serta pertemuannya di dunia nyata masa depan dengan penulis misterius Hachijou Toya, yang nampaknya bertanggung jawab atas segala rangkaian teori ‘kuat’ mengenai misteri yang berlangsung di Rokkenjima, dan juga mungkin merupakan alter ego dari sesosok penyihir lain, Featherine Augustus Aurora, yang dulunya menjadi atasan Bernkastel.

Karena bentuk beserta perkembangan ceritanya, episode ini bisa dikatakan merupakan yang paling kontroversial di sepanjang seri. Tapi secara pribadi, meski sempat beberapa kali enggak yakin, pada akhirnya ini menjadi episode favoritku di sepanjang Umineko.

Requiem

Episode ketujuh bertajuk Requiem of the Golden Witch, karena berlatar di suatu kepingan dunia paralel di mana Battler tidak datang ke Rokkenjima, dalam suatu acara keluarga di mana ‘kepergian’ Beatrice diperingati oleh seluruh keluarga Ushiromiya. Di dunia yang bersangkutan, bayi misterius dari sembilan belas tahun lalu diterima oleh Natsuhi dan tumbuh menjadi Ushiromiya Lion, pewaris kedudukan kepala keluarga Ushiromiya sah berikutnya sesudah Kinzo. Semua ini berlangsung dalam suatu papan permainan tiruan yang telah dipersiapkan Bernkastel dan dimainkannya di hadapan Featherine. Untuk peran detektif, inquisitor serupa Dlanor, tokoh baru  bernama Willard H. Wright, secara paksa dilempar ke dimensi ini, untuk bersama Lion menuntaskan seluruh misteri Beatrice yang sesungguhnya.

Seorang tokoh baru bernama Clair Vaux Bernardus dihadirkan Bernkastel dan tampil sebagai ‘pembaca’ bagi Lion dan Willard, serupa dengan peran Ange bagi Featherine di episode sebelumnya. Terungkap nama Yasu, anak misterius yang hilang dari sembilan belas tahun lalu; masa lalu Kinzo dan asal usul emas yang dimilikinya; serta yang paling menyakitkan, kenyataan tentang siapa sesungguhnya Beatrice, nasib malangnya, dan kebenaran tentang sosoknya yang Rosa dulu pernah temui dan mengakibatkan kematiannya.

Ada lebih banyak pengungkapan dalam cerita ini dibandingkan misterinya. Dan meski beneran enggak enak, sebagian besar teka-teki soal motif dan sebagainya benar-benar tertuntaskan meski enggak secara langsung di episode ini. (Kita perlu memilah sendiri mana yang ‘ajaib’ dan mana yang ‘nyata.’)

Namun, di epilog Tea Party, secara agak mengejutkan, porsi cerita lebih banyak tiba-tiba disodorkan. Sesudah akhir cerita yang seakan tertuntaskan, Ange beserta Lion secara paksa dipertemukan oleh para penyihir di dalam suatu teater untuk menyaksikan kebenaran sesungguhnya yang sangat mungkin terjadi (dan amat sangat enggak enak) berkenaan insiden Rokkenjima dari sudut pandang ‘nyata.’

Perlu diperhatikan siapa saja yang tampil secara langsung di epilog ini dan siapa saja yang tidak, karena itu menjadi petunjuk paling besar seandainya kau tak memahami tanda-tanda terselubung dalam narasi Clair. (Episode ini menekankan bagaimana dari sudut pandangnya, seorang pencerita bebas memilih untuk menceritakan dan juga tidak menceritakan apapun yang ia mau.)

Twilight

Episode kedelapan yang menjadi penutup dari seluruh misteri ini, Twilight of the Golden Witch, berlatar di dunia di mana Battler masih berkuasa sebagai Game Master dan penguasa teritori bersama istrinya, Beatrice. Sosok kecil Ange yang menangis karena ditinggalkan keluarganya, kemudian Battler ajak ke masa itu, dalam suatu realita alternatif di mana Ange ikut menghadiri pertemuan keluarga yang berlangsung di Rokkenjima pada tahun 1986.

Namun acara bahagia yang semestinya mengakhiri seluruh konflik antar masing-masing anggota keluarga Ushiromiya itu diwarnai kegentingan, saat Bernkastel menginvasi keping dunia itu sebagai Game Master lain, dan menantang Battler dan Beatrice untuk satu duel adu kecerdasan yang terakhir.

Nasib akhir dari seluruh anggota keluarga Ushiromiya dapat kita tentukan di episode ini, bergantung pada sudut pandang mana yang mau kita dukung: apakah ‘nyata’ atau ‘ajaib.’ Hubungan antara nyata dan ilusi, antara sebab dan akibat, dibaurkan sepenuhnya pada episode ini, dan berujung pada pembeberan mencengangkan sekaligus menyakitkan tentang nasib akhir Battler dan Yasu yang sesungguhnya.

Ada kebenaran lain yang diperkenalkan di episode ini, yakni kebenaran ungu, yang pada dasarnya merupakan kebenaran yang akan sepenuhnya benar selama orang yang menyatakannya benar, tapi sepenuhnya salah bila orang yang menyatakannya sebenarnya adalah pembohong.

Kesan Akhir

Aku… sejujurnya enggak yakin mesti mengatakan apa begitu aku tuntas mengikuti seri ini.

Umineko jelas bukan seri yang cocok untuk semua orang. Bahkan sekalipun sebelumnya kau menyukai Higurashi.

Gimana ya. Meski ada sisi-sisi konyolnya dan agak susah dipercaya, pembawaan teramat serius yang seri ini punya beneran bisa mengubahmu dan mengubah cara pandangmu terhadap dunia.

Ini sesuatu yang agak susah kujelaskan. Apalagi tanpa memberikan spoiler.

Sori aku mengakhiri tulisan kali ini secara menggantung. Otakku udah kelanjur panas. Tapi mungkin nanti aku akan memberikan kesimpulan yang lebih gamblang.


About this entry